Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Pairing: Naruto x Tsunade
Rating: T
Genre: Romance/hurt/comfort
Setting: canon (Naruto Shippuden)
Note: Cerita pesanan dari Dsevenfold. Semoga sesuai dengan harapanmu.
Rabu, 21 Oktober 2015
.
.
.
FEELING
By Hikari Syarahmia
.
.
.
Chapter 2. Ada apa dengan Naruto?
.
.
.
Chapter sebelumnya:
Insiden yang menjadi awal dari kisah cinta yang tidak terduga di antara dia dan Naruto nantinya. Kisah itu akan dimulai sebentar lagi. Semua ini akan menggemparkan seisi desa. Tengok saja tanggal mainnya.
.
.
.
TAP! TAP! TAP!
Tampak Naruto dan Sakura berjalan di koridor kantor Hokage. Mereka berjalan beriringan. Atas perintah langsung dari Hokage kelima yang disampaikan secara perantara melalui Shizune, Naruto dan Sakura diminta untuk langsung menemui sang Hokage. Ada sesuatu hal yang penting ingin dibicarakan oleh sang Hokage.
Hanya keheningan yang didapatkan di antara Naruto dan Sakura. Mereka terdiam tanpa saling berbicara antara satu sama lainnya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Terutama Naruto sendiri.
Di antara pikiran yang bermain-main di benaknya kini, ada perasaan enggan untuk tidak bertemu dengan sang Hokage kelima. Mengingat insiden memalukan waktu itu, membuat perasaan Naruto tidak menentu. Antara tidak ingin bertemu atau ingin bertemu dengan Tsunade. Naruto masih memikirkan perasaan bersalah itu. Hingga ia mulai merasakan sebuah perasaan aneh yang muncul di hatinya. Antara perasaan bersalah dan perasaan suka. Apa? Perasaan suka?
Ya, Naruto telah memikirkan hal ini matang-matang sejak dua tahun belakangan ini. Perasaan bersalah yang melahirkan perasaan lain. Dia tidak pernah mengutarakan maksud perasaan ini pada orang lain. Hanya pada dirinya sendiri. Perasaan ini diyakininya dan telah menemukan jawabannya. Dia menyukai Hokage berumur setengah abad itu.
Memang terdengar sangat aneh jika menyukai wanita yang sudah berumur. Apalagi umurnya masih belasan tahun. Tapi, mau bagaimana lagi? Dia sudah terlanjur menyukai sang Hokage. Walaupun umurnya sudah tua, namun penampilannya masih seperti wanita muda. Apalagi Tsunade memiliki kemampuan untuk meregenerasi sel-sel yang ada di dalam tubuhnya sehingga dia bisa mengubah penampilannya seperti gadis remaja berumur belasan tahun. Bahkan bisa mengubah dirinya seperti anak kecil.
Naruto terus memikirkannya dalam diam yang tak berujung. Hingga tidak ada kesempatan baginya untuk berbicara dengan Sakura. Tanpa disadarinya juga, langkahnya pun telah mencapai di tempat yang dituju yaitu ruang kerja sang Hokage.
Sakura yang duluan memegang gagang pintu tersebut, ia menoleh ke arah Naruto yang sedang melamun.
"Naruto, ayo kita segera masuk ke ruang Hokage!" kata Sakura.
Naruto tersentak. Lamunannya buyar seketika.
"Eh, uhm iya, Sakura! Kamu saja duluan yang masuk! Aku belakangan nanti," jawab Naruto tersenyum kikuk.
Sakura mengerutkan keningnya.
"Kenapa aku duluan yang masuk?" tanya Sakura heran."Kita berduakan yang disuruh menemui nona Tsunade? Naruto, kamu aneh sekali."
Naruto masih saja tersenyum kikuk.
"Tidak ada apa-apa kok. Kamu saja yang duluan masuk," pinta Naruto sekali lagi.
Kerutan di kening lebar Sakura semakin bertambah banyak. Dia tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Naruto sekarang. Naruto tampak semakin aneh dan selalu banyak alasan jika menemui sang Hokage kelima. Itu sudah diperhatikannya sejak lama, sewaktu Tsunade sudah dilantik menjadi Hokage kelima.
Kini kecurigaannya terhadap sikap aneh Naruto mulai tercium, tapi itu baru samar-samar. Sakura belum mengetahui apa sebabnya. Namun, yang pasti dia akan menuruti apa yang diinginkan oleh Naruto.
"Ya, sudah. Jika itu maumu," Sakura menghelakan napasnya dan segera membuka pintu ruang Hokage tersebut.
KRIEEET!
Sakura yang masuk duluan ke ruang Hokage. Sementara Naruto masih diam berdiri di dekat pintu itu, dengan ribuan rasa kepanikan yang memuncak di dalam hatinya.
'Aku belum siap untuk bertemu dengan Tsunade sekarang. Aku masih merasa bersalah dengan apa yang terjadi waktu itu. Aku masih merasa canggung. Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?' batin Naruto kacau di dalam hatinya sendiri.
Kemudian adegan tertancap di dalam ruang Hokage, di mana Sakura sudah berhadapan dengan Tsunade.
Wanita berambut krem itu melipat tangan di atas meja sembari menatap Sakura dengan intens.
"Sakura? Di mana Naruto?" tanya Tsunade dengan perasaan yang sangat berdebar-debar. Ia berusaha bersikap santai meskipun perasaannya saat ini tidak menentu sekarang.
Sakura tersentak.
"Oh iya, Naruto. Dia menunggu di luar, nona Tsunade."
"Suruh dia masuk sekarang. Ada hal yang penting mau aku bicarakan pada kalian berdua."
"Baik, nona Tsunade. Tunggu sebentar, aku akan memanggilnya sekarang."
Tsunade mengangguk cepat.
"Ya."
Segera saja Sakura pergi keluar lagi. Ia membuka pintu.
"Naruto, cepat masuk ke dalam. Nona Tsunade memintamu untuk menemuinya sekarang. Kamu ...," perkataan Sakura terputus begitu saja saat menyadari lawan bicaranya sudah tidak ada lagi di tempatnya berdiri.
SIIING!
Hening.
Sakura cengo sebentar. Sedetik kemudian, dia kaget setengah mati dengan emosi yang naik secara mendadak.
"AKH! NARUTO! DIA MALAH KABUR! DASAR, NARUTO NO BAKA!" teriak Sakura yang sangat menggelegar dan mengguncang tempat itu. Siapa saja akan pingsan ketika mendengarnya.
Jadi, si bocah berambut pirang itu kemana sekarang? Tiada yang tahu.
.
.
.
Ya, di sinilah Naruto sekarang. Tepatnya di atap rumahnya sendiri.
Setelah berpikir keras sebelum masuk ke ruang Hokage, Naruto memutuskan untuk tidak menemui sang Hokage karena hatinya belum siap untuk bertemu dengan sang Hokage. Apalagi sang Hokage adalah orang yang disukainya. Akhir-akhir ini dia menyadari sendiri bahwa sesungguhnya dia menyukai sang Hokage.
Naruto duduk di atap rumahnya dengan pikiran yang tidak menentu. Rambut dan pakaiannya berkibar-kibar dimainkan angin sepoi-sepoi. Dia masih berkutat dengan alam pikirannya. Sebuah penyesalan, perasaan bersalah dan perasaan yang senang. Entahlah keadaan hati seperti ini sungguh mengganggu dirinya. Terlebih bayang-bayang insiden memalukan waktu itu terus menjelma di memori otaknya. Antara tidak menerima, menerima, dan membuang jauh-jauh perasaan itu. Naruto berharap bisa memutar waktu kembali ke masa di mana ia bertemu dengan Tsunade untuk pertama kalinya. Dia akan berusaha menghindar saat terjadi insiden memalukan itu. Lalu pasti hidupnya tidak dibayangi oleh wajah Tsunade sampai umurnya menginjak lima belas tahun sekarang.
Tapi, sekarang wajah Tsunade sangat mengganggu alam pikirannya. Sungguh mengganggu dirinya. Dapat terlihat jelas dari tingkah dan ekspresi wajah yang berubah-ubah. Dimulai dari wajah yang kusut, kadang-kadang tersenyum tidak jelas begitu seperti orang gila dan kadang-kadang membayangkan sesuatu yang tidak-tidak dengan wajah yang kemerahan.
"AAAAARGH! APA YANG KUPIKIRKAN SIH? KENAPA AKU BERPIKIR SEPERTI ITU? SADAR, NARUTO! SADARLAH! INGAT, UMURMU DENGAN DIRINYA ITU BERAPA? APALAGI KAMU MASIH SEORANG GENIN, TIDAK MUNGKIN KAMU MENYUKAI SEORANG HOKAGE! NARUTO, KAMU MEMANG SUDAH GILA KARENA MENYUKAI WANITA TUA SEPERTI TSUNADE!" teriak Naruto yang sangat frustasi sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Dia benar-benar masih dalam keadaan sangat terguncang akibat insiden memalukan itu.
Naruto terus merutuki dirinya sendiri hingga tanpa disadarinya, ada seorang pria berambut putih datang menghampirinya. Pria berambut putih dan mengenakan topeng hitam ini keheranan saat melihat Naruto berbicara sendiri sambil mengacak-acak rambutnya.
"Hai, Naruto!" sapa pria berambut putih itu.
Naruto tersentak kaget. Kedua matanya membulat sempurna. Dia berhenti mengacak-acak rambut pirangnya. Segera saja ia menoleh ke arah asal suara.
Tampak pria berambut putih sudah berdiri tepat di sampingnya. Naruto sangat mengenalinya.
"Gu-Guru Kakashi!" seru Naruto tertawa senang. Begitu juga dengan Kakashi. Kakashi tersenyum simpul di balik topeng kain hitam yang menutupi hidung dan mulutnya.
"Apa kabar, Naruto?" tanya Kakashi.
"Aku baik-baik saja, guru," jawab Naruto menyengir lebar."Kalau kabar guru?"
Kakashi ikut duduk di samping Naruto.
"Ya, seperti biasa. Seperti yang kamu lihat," Kakashi menatap Naruto dengan intens.
"Hehehe, aku mengerti," Naruto tertawa kecil.
"Ngomong-ngomong selama dua tahun ini, kamu kelihatan sedikit berbeda. Hm ... Mungkin dari segi penampilan. Ya, aku akui penampilanmu jauh lebih baik dibanding yang dulu."
Kakashi tetap tersenyum di balik topeng hitamnya. Naruto juga tersenyum. Tapi, mendadak senyuman itu menghilang dari wajah Naruto.
SIIIING!
Tempat itu menjadi hening sebentar. Mereka terdiam diiringi terpaan angin yang memainkan rambut dan pakaian mereka. Mereka memilih memandang ke arah lain dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sedetik kemudian, suara Naruto yang memecahkan keheningan itu.
"Guru, aku ingin menanyakan sesuatu pada guru?"
Kakashi menoleh ke arah Naruto.
"Mau tanya apa?"
Naruto memasang wajah yang sedikit kusut. Dia tetap memandang ke arah depan sana.
"Apakah guru pernah mengalami yang namanya jatuh cinta pada wanita yang lebih tua?"
Spontan, pertanyaan Naruto itu cukup mengagetkan Kakashi. Kedua mata sayu Kakashi membulat sempurna.
Tapi, dengan sikap yang wibawa dan tenang, Kakashi berusaha untuk menutupi kekagetannya itu. Ia menutup matanya sebentar. Ia memegang dagunya dengan tangan untuk berpikir sejenak.
"Hm ... Jatuh cinta pada wanita yang lebih tua? Hm ... Aku rasa aku belum pernah jatuh cinta pada wanita yang lebih tua. Bahkan sampai sekarang pun, aku belum pernah mengalami yang namanya jatuh cinta. Tapi, aku mempunyai tipe gadis yang kusukai. Hm, kurasa begitu."
Sambil manggut-manggut, Kakashi menjawab pertanyaan Naruto itu. Naruto sendiri mendengarnya dengan baik. Ia melirik ke arah Kakashi di saat Kakashi terus melanjutkan pembicaraannya.
"Aku memang belum pernah mengalami yang namanya jatuh cinta. Tapi, aku rasa kalau jatuh cinta pada wanita yang lebih tua itu tidak ada salahnya. Cinta itu tidak mengenal usia, ras, jabatan, pangkat, asal usul dan apa saja. Cinta itu adalah anugerah terindah yang diberikan untuk manusia. Cinta itu buta dan tidak akan pernah mati diterjang badai sebesar apapun itu. Ya, seperti itulah yang kuketahui," Kakashi manggut-manggut sambil melirik ke arah Naruto lagi."Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Naruto sedikit tersentak. Lantas ia tersenyum cengengesan lagi.
"Hehehe, tidak ada. Aku hanya ingin tahu saja. Begitulah," ujar Naruto menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Timbul tanda tanya besar di atas kepala Kakashi. Ia heran melihat sikap aneh yang ditunjukkan oleh Naruto. Tidak seperti biasanya.
Tanpa bertanya lebih jauh lagi tentang rasa penasarannya, Kakashi dan Naruto terlibat dalam pembicaraan tentang topik lain. Hingga mereka menyadari ada seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Ternyata kamu sudah pulang, Naruto," sahut seseorang itu. Membuat Naruto dan Kakashi menoleh ke arah asal suara itu.
JREEENG!
Tampaklah seorang laki-laki berambut raven. Kedua mata hitam kelam seperti kegelapan malam. Kulit yang putih. Dia adalah ...
Naruto sangat mengenalinya. Pasalnya dia adalah teman dan rival Naruto sejak kecil. Dia juga termasuk dalam kelompok 7 yang dibimbing Kakashi. Naruto sangat senang berjumpa dengannya.
"UCHIHA SASUKE!"
"Hei, Naruto! Apa kabar?"
.
.
.
Di jalan desa yang sepi dan hening. Di dua sisi jalan dikelilingi oleh pagar kayu yang disusun dengan rapi. Terlihat di ujung jalan sana, Naruto dan Sasuke sedang berjalan dengan santainya.
Mereka terdiam sejenak setelah membicarakan sesuatu. Kakashi tidak tampak bersama mereka. Karena Kakashi memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Jadi, tinggallah Sasuke dan Naruto yang memulai pertemuan setelah berpisah selama dua tahun.
Ya, sejak peristiwa saat Sasuke dibawa lari oleh empat ninja suruhan Orochimaru. Naruto dan teman-temannya berusaha mati-matian untuk merebut Sasuke kembali. Mereka mengalahkan empat ninja tersebut dan satu ninja lainnya yang bernama Kimimaru. Hingga pada akhirnya Naruto berhasil membawa Sasuke pulang kembali ke desa Konoha. Dia telah menepati janjinya kepada Sakura untuk bisa menyelamatkan dan membawa Sasuke pulang ke desa Konoha.
Setelah Sasuke keluar dari rumah sakit akibat insiden dibawa lari oleh empat ninja suruhan Orochimaru, Sasuke sadar juga dan memutuskan untuk tetap tinggal di desa Konoha. Saat menyadari betapa gigihnya usaha dan perjuangan Naruto untuk menyelamatkannya sampai mengorbankan nyawa sekalipun. Sasuke menganggap Naruto adalah sahabat terbaik yang pernah dia temukan selama hidupnya. Hingga dia dan Naruto tidak pernah saling bertengkar lagi. Apalagi dia dan Sakura juga sudah berpacaran sekarang.
Kini kehidupan Sasuke cukup aman dan tenteram. Tanpa ada rasa dendam terhadap Kakaknya yaitu Uchiha Itachi. Perasaannya jauh lebih tenang karena berkat dukungan dari orang-orang yang sangat mempercayainya yaitu Sakura dan Naruto. Dia hidup diliputi dengan rasa aman dan tanpa tekanan meskipun masih ada ancaman yang akan selalu mengintainya.
Dua lelaki itu terus berjalan dalam diam. Naruto yang sibuk dengan lamunannya tentang Tsunade. Sedangkan Sasuke yang terus memandang lurus ke depan. Hingga Sasuke menyadari ada sesuatu yang mengganjal pada diri Naruto.
Biasanya jika berjalan bersama atau sekedar berkumpul bersama, biasanya si Uzumaki ini yang paling berisik. Terus berkicau ria di sepanjang perjalanan dan Sasuke hanya bergumam "hn" saja untuk menanggapi semua kicauan Naruto itu. Tapi, sekarang suasananya agak hambar. Apa yang telah terjadi hingga Naruto mendadak diam begitu?
Karena penasaran itu, mendorong Sasuke menanyakannya pada Naruto.
"Hei, Naruto!"
"Hm? Apa?" jawab Naruto tanpa menoleh ke arah Sasuke.
"Apa yang kamu pikirkan sekarang?" tanya Sasuke hati-hati.
"Tidak ada," jawab Naruto singkat.
Sasuke melirik ke arah Naruto.
"Apa benar?"
"Ya."
"Kamu pasti bohong."
"Aku tidak bohong."
"Jadi, apa yang membuatmu menjadi diam begitu?"
Naruto menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Sasuke.
Lalu Naruto menoleh ke arah Sasuke. Cengiran lebar terkembang di wajah tampan Naruto.
"Hehehe, tentu saja. Tidak ada apa-apa kok. Tidak ada yang kupikirkan. Aku baik-baik saja," Naruto tertawa menyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Sasuke menatap Naruto dengan serius. Raut wajah Sasuke amat datar.
"Kamu pasti bohong. Kamu pasti menyembunyikan sesuatu dariku," ucap Sasuke dengan tatapan yang penuh selidik."Tingkahmu semakin aneh saja. Ada apa dengan dirimu, Naruto?"
Naruto tetap saja tertawa cengengesan. Ditambah dengan kemunculan seseorang yang tiba-tiba disertai suara keras yang memekakkan telinga.
"NARUTO! TERNYATA KAMU DI SINI RUPANYA! AKU MENCARIMU KEMANA-MANA, TAHU! PADAHAL KITA BERDUA HARUS MENEMUI HOKAGE KELIMA. KALAU TIDAK ...," sembur seorang gadis yang tiba-tiba muncul seperti hantu begitu dan berjalan cepat menuju Naruto. Tapi, omelannya terhenti begitu saja ketika mendapati Sasuke yang juga bersama Naruto. Raut muka gadis berambut merah muda itu berubah menjadi merona merah ketika mengetahui Sasuke juga ada di sana.
"Sakura ...," kata Sasuke mengangkat salah satu alisnya. Dia sungguh kaget melihat tampang Sakura yang sangat mengerikan seperti monster begitu.
"Hehehe, ternyata ada Sasuke-kun di sini," ujar Sakura tertawa malu-malu dengan semburat merah di kedua pipinya. Sikapnya menjadi lembut ketika di dekat laki-laki yang dicintainya ini yaitu Sasuke.
Sementara Naruto telah memasang wajah pucatnya karena Sakura telah menemukan dirinya. Gawat, pasti Sakura marah besar sekarang setelah mengetahui ia kabur dari kantor Hokage.
Segera saja Naruto menyelinapkan dirinya untuk segera kabur di saat Sakura dan Sasuke berbicara. Dia mulai melangkah mundur.
"Maaf, semuanya! Aku permisi pergi dulu. Sampai nanti!" Naruto langsung berbalik badan dan segera berlari kencang meninggalkan mereka berdua.
Sasuke dan Sakura terperanjat mendengarnya. Mereka menyadari Naruto sudah pergi.
Sakura naik pitam lagi. Wajahnya memerah padam. Segera saja dia mengejar bocah berambut pirang yang sangat menyebalkan baginya.
"NARUTO NO BAKA! TUNGGU! MAU KEMANA KAMU LAGI, HAH? DASAR, MENYEBALKAN!" jerit Sakura sangat keras menggelegar.
Membuat Sasuke sweatdrop melihat ulah mereka berdua. Sasuke hanya diam terpaku di tempatnya berdiri sekarang. Tanpa ikut bersama mereka.
"Dasar, mereka berdua masih saja tidak berubah. Masih kekanak-kanakan seperti dulu. Aaaah, mereka memang selalu saja begitu," gumam Sasuke pelan.
Tatapannya terus diarahkan pada Sakura dan Naruto yang saling kejar-kejaran di ujung jalan sana. Hingga Naruto menghentikan larinya sejenak, saat bertemu dengan segerombolan para remaja seumuran dengannya. Sakura juga menghentikan langkahnya ketika mendapati orang-orang yang sangat dikenalnya, menghadang perjalanan Naruto.
Tentu saja Naruto juga mengenal mereka. Pasalnya mereka adalah teman-teman seangkatannya saat di Akademi Ninja dahulu itu.
Sebut saja dari kelompok bimbingan Sarutobi Asuma yaitu Nara Shikamaru, Akamichi Chouji dan Yamanaka Ino. Lalu kelompok bimbingan Yuhi Kurenai yaitu Inuzuka Kiba dan Aburame Shino. Tapi, ada satu lagi anggota kelompok bimbingan Kurenai yang sudah meninggal dunia saat bertarung melawan kakak sepupunya di ujian Chuunin yaitu Hyuga Hinata. Hinata meninggal dunia akibat pertarungan melawan kakak sepupunya yang bernama Hyuga Neji. Hinata meninggal di usia muda. Kini hanya tinggal Kiba dan Shino yang dibimbing oleh Kurenai. Hanya tinggal mereka berdua.
Naruto sangat senang bisa bertemu lagi dengan mereka. Saat bersamaan, Shikamaru menyapa Naruto dengan sikapnya yang serius.
"Halo, Naruto! Akhirnya kamu kembali lagi ke desa ini setelah dua tahun lamanya. Aku senang bisa bertemu lagi denganmu, sobat," sapa Shikamaru yang sedikit tersenyum.
"Makanya kami datang kemari bersama-sama untuk menyambut kepulanganmu, Naruto. Shikamaru yang mengajak kami semua untuk menemuimu," sambung Kiba dengan tawanya yang lebar. Disertai gonggongan dari anjing putih besar yang bernama Akamaru. Kiba duduk santai di atas punggung anjing kesayangannya itu.
"Iya, hari ini kami akan mengajakmu makan bersama sebagai acara sambutan atas kepulanganmu ke desa tercinta ini," tambah Ino yang juga tersenyum senang."Shikamaru yang mentraktir kita semua."
"Ya, itu benar," Shikamaru manggut-manggut.
"Ayo, kita makan!" Chouji sangat bersemangat.
Semuanya sangat antusias kecuali Shino. Naruto terpana saat mendengarnya. Ternyata dia mempunyai teman-teman yang sangat baik dan perhatian terhadapnya. Sungguh momen yang sangat mengesankan.
"Teman-teman ...," Naruto tersenyum dengan kedua mata biru yang berkaca-kaca. Dia tidak sanggup mengatakan apapun lagi saking terharunya mempunyai teman-teman yang begitu perhatian padanya.
Ino, gadis berambut pirang diikat ponytail itu melambai-lambaikan tangannya ke arah Sakura yang mematung tak jauh dari Naruto.
"Sakura!"
Sakura menyadari Ino yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Ayo, ikut bersama kami! Kita rayakan kepulangan Naruto sambil makan-makan bersama. Ajak juga Sasuke-kun ya!" lanjut Ino lagi.
Sakura hanya tersenyum kikuk.
"Tapikan aku sedang ..."
"Hm, boleh juga. Acara makan-makan bersama untuk menyambut kepulangan Naruto. Aku mau ikut bersama mereka," tiba-tiba ada yang menyela perkataan Sakura. Sakura menoleh.
Rupanya Sasuke. Ternyata dia tidak pergi dan malah mengikuti ketika ada teman-teman yang menghadang perjalanan Naruto. Sakura sedikit salah tingkah saat tangannya juga digenggam oleh Sasuke.
"Wah, ada Sasuke-kun juga rupanya di sini!" Ino kegirangan sambil melambaikan tangan ke arah Sasuke."Hai, Sasuke!"
Sasuke hanya tersenyum simpul ke arah Ino.
Teman-teman memperhatikan Ino, Sakura dan Sasuke sebentar. Lalu Shikamaru yang memulai pembicaraan lagi.
"Hm, tampaknya teman-teman seangkatan kita sudah berkumpul semuanya. Sasuke juga ada. Ayo, kita segera pergi!" Shikamaru yang berjalan duluan.
Diikuti oleh Chouji.
"ASYIK! MAKAN! MAKAN!" Chouji sangat senang.
Kemudian disusul oleh semuanya kecuali Sasuke dan Sakura.
"Anggap saja ini adalah kencan. Kitakan jarang bepergian bersama seperti ini. Itu betulkan Sakura?" tutur Sasuke tanpa melihat ke arah Sakura.
Wajah Sakura memerah sedikit.
"I-iya, itu betul."
"Ayo, kita jalan! Mereka sudah pergi duluan dari kita."
Maka Sasuke menarik tangan Sakura dengan cepat. Sambil berjalan beriringan, mereka saling menunjukkan perasaan suka mereka karena mereka sudah menjadi sepasang kekasih sekarang.
Sejenak Naruto menoleh ke arah Sasuke dan Sakura. Sambil berjalan bersama teman-temannya, dia merasa heran mengapa Sasuke menggenggam tangan Sakura begitu eratnya. Hm, sungguh mencurigakan, pikir Naruto.
"Naruto, apa kamu tidak mengetahui sesuatu yang terjadi di antara Sasuke dan Sakura?" sahut Kiba yang berjalan di samping Naruto. Seakan-akan Kiba mengetahui apa yang dipikirkan oleh Naruto sekarang.
Naruto melirik ke arah Kiba.
"Memangnya ada apa dengan mereka berdua?"
Kiba berbisik ke telinga Naruto.
"Sasuke dan Sakura sudah berpacaran lho."
Naruto sungguh kaget mendengarnya.
"Eh, sejak kapan?"
"Itu sejak ..."
Kiba bercerita tentang apa yang terjadi di antara Sakura dan Sasuke selama Naruto pergi bersama Jiraiya. Naruto mendengarnya dengan baik.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Chapter 2 update!
Hm, maaf ya jika di chapter 1-nya sangat membosankan karena saya mengambil alur yang sama di canonnya. Tapi, itu hanya tahap pengenalan awal di mana konflik akan dimulai. Lalu ada juga yang beranggapan Naruto di dalam fic ini nggak keren, ya saya hanya menampilkan bagaimana karakter Naruto seperti sifat aslinya di canon. Naruto yang kita kenal memang seperti itukan? Jadi, saya berusaha untuk membuatnya agar sama seperti sifat aslinya di canon. Mungkin karena untuk pertama kalinya saya membuat pair Naruto x Tsunade. Memang agak sulit mendapatkan feel-nya. Namun, yang pasti ini adalah permintaan dari reader yang merequest fic ini. Saya akan berusaha untuk membuatnya sebaik mungkin dan tetap akan saya lanjutkan sampai tamat.
Di fic ini, saya buat Sasuke tidak kabur dari desa Konoha. Karena Naruto berhasil menyelamatkannya sebelum Kimimaru datang. Ya, akhirnya Sasuke menjadi sahabat baik buat Naruto.
Terima kasih atas perhatianmu setelah membaca chapter 2 ini.
Sampai jumpa di chapter 3. Dua chapter lagi akan tamat.
Salam
Hikari Syarahmia
Berminat mereview?
Kamis, 22 Oktober 2015
