The Hunger Games Wedding

Pair: Katniss Everdeen - Peeta Mellark

Rated: T+

Copyright: Suzanne Collins.

...

Cerita ini terjadi sesudah perang antar pemberontak dan Capitol. Kelanjutan dari Mockingjay. Kelanjutan hubungan dari Katniss Everdeen dan Peeta Mellark. Enjoy. Review-nya sangat diharapkan.

...

Aku mematut-matut tubuhku yang terbalut gaun berwarna seputih mutiara. Tak bisa menahan diri untuk tidak terus-terusan memandang kearah refleksi seorang gadis yang tampak samasekali bukan diriku.

Sang Mockingjay yang Terbakar bertransformasi menjadi Merpati anggun yang siap untuk mengangkasa.

Merpati putih. Lambing kesucian dan perdamaian.

Meski itu tak sepenuhnya benar. Merpati satu ini telah menghilangkan nyawa beberapa orang, walau pada saat itu tindakan tersebut memang perlu.

Effie dan tim persiapanku juga tampak puas dengan hasil kerja mereka. Tapi aku lebih dari puas. Mereka sudah sering memermakku sedemikian rupa namun kali inilah yang terbaik. Tidak ada tanda bahwa calon pengantin ini dulunya adalah seorang petarung yang tubuhnya carut-marut terkena api dan sabetan pisau.

Segala keanggunan yang terpancar dari diriku ini tampak seperti seorang putri raja yang penuh tata karma dan sopan santun. Semoga saja saat di altar nanti aku tak tersandung hak sepatuku.

Octavia membetulkan letak bulu mataku sekali lagi sebelum akhirnya berkata, "Kurasa sudah cukup begini. Kau mau dandanan sederhana dan tidak seheboh kami, kan?"

Effie berjalan memutariku. Matanya bergerak dari ujung kaki ke ujung rambut. Ia menjentikkan jari, "Perfect, Honey. Kurasa kita tidak mau mempelai prianya menunggu terlalu lama, bukan?"

Oh. Aku terharu mendengarnya. Tim persiapanku tampak begitu antusias menghadapi pernikahanku. Gaun yang kukenakan ini rancangan Tigris, yang dengan sukarela mengajukan diri demi membuatnya.

Tentu saja hasilnya tidak sesempurna gaun-gaun buatan Cinna, namun ini lebih dari cukup. Bordiran mutiara di segala sisi dan potongan leher simetris yang menonjolkan bahuku tampak manis dengan padanan kalung berlian berbentuk Mockingjay. Ciri khasku.

Aku meminta Tigris membuat gaun dengan taburan mutiara karena benda itu adalah hadiah pertama—dan yang termanis—yang Peeta berikan padaku. Tigris juga merancang tuksedo Peeta yang hingga saat ini belum kulihat. Aku dan Peeta sengaja tidak saling bertemu sejak satu minggu sebelum hari H karena kami ingin membuat semacam kejutan.

Memikirkannya membuatku merasa mulas. Bukan karena aku gugup akan menatap matanya sekali lagi dalam situasi yang amat sakral ini. Aku justru mengkhawatirkan hal-hal lain.

Bagaimana jika pada saat tiba gilirannya untuk mengucap janji suci—sumpah setia diantara kami berdua—lantas ingatan-ingatannya yang dulu sempat dipermak Capitol timbul lagi? Bagaimana jika antek-antek Capitol yang tidak sepenuhnya setuju akan perdamaian dan pemberontakanku muncul dan memporak-porandakan pestaku? Bagaimana jika aku tak bisa fokus dan bicaraku jadi gugup?

Namun yang terpenting, bagaimana bisa aku berhadapan dengan Gale yang akan menjadi best-man dan menerima kotak cincin darinya?

Aku tidak sanggup melihat sinar matanya redup lagi karena kepedihan yang kutimbulkan padanya.

Meskipun aku yakin ia mulai melupakanku secara perlahan. Paling tidak, menggeser posisiku sebagai orang yang dulu dicintainya dan mengukuhkanku hanya sebagai sahabat baiknya. Kurasa itu lebih baik dibanding jika ia benar-benar berniat melupakanku.

Bagaimana jika ia lepas kendali dan menghajar Peeta ditengah pernikahan kami?

Kurasa, aku akan berurusan dengannya jika ia benar-benar melakukan itu. Berani-beraninya ia menyakiti calon suamiku. Kalau memang ia berniat mengacau, kenapa tidak ia tarik saja keliman rambutku? Atau menyandung kakiku?

Oh, Katniss! Berhentilah meracau..

Aku menurut saja ketika Venia menuntun tanganku sementara Octavia mengangkat ekor gaunku agar aku bisa melangkah keluar rumah dan masuk ke mobil. Effie sudah lebih dulu pergi.

Pembacaan janji suci akan dilakukan di gereja di pusat kota. Oh ya, tebak siapa yang akan jadi pengiring pengantinku?

Karena aku dan Peeta sudah tidak punya keluarga kandung yang tersisa—kecuali ibuku, tentunya—dan ayah yang seharusnya mendampingi anak perempuannya berjalan di altar, maka tugas kehormatan itu jatuh kepada Haymitch.

Jangan tanya bagaimana penampilannya kali ini. Sepertinya ia hendak mengalahkan ketampanan pengantin pria dengan tuksedo hitam dan dasi kupu-kupu yang tampak amat rapih untuk ukuran Haymitch. Dan ia cukup waras untuk tidak menenggak alkoholnya untuk sementara waktu.

Sedan hitam mewah yang membawaku melaju dalam kecepatan sedang. Seisi kota nyaris kosong. Itu karena aku memang mengundang mereka di acaraku, karena aku ingin berbagi kebahagiaan dan makanan gratis.

Beberapa menit kemudian, mobil ini berhenti tepat di depan pintu gereja. Tiba-tiba sensasi aneh mendera tubuhku lagi. Jantung dan perutku mendadak bekerjasama membuat perasaan tidak nyaman. Aku gemetar. Tapi ini bukan saatnya pingsan atau mundur dan bersembunyi di balik selimut.

Aku harus menghadapinya.

Lagipula, itukan cuma Peeta. Cuma Peeta dan bukannya Mutt aneh yang haus akan darahku.

Aku menghitung sampai tiga dan mengatur napasku sebelum turun dari mobil. Oke, Katniss, senyum.. senyum.. tenang..

Haymitch mengapit lenganku dan menyuruhku untuk menatap lurus dengan posisi tegak. Tanganku yang satunya memegang serumpun bunga Primrose putih. Penghormatan lain bagi adikku tersayang.

Octavia memegangi ekor gaunku. Aku melangkah sedikit demi sedikit. Dan ketika langkahku mulai melewati pintu gereja, musik mulai mengalun lembut.

Aku memfokuskan pandanganku pada altar. Disana berdiri seorang pendeta dan lelaki yang beberapa saat lagi akan resmi menjadi suamiku. Meskipun aku kepingin sekali menengok ke kiri dan ke kanan demi melihat siapa saja tamu yang datang pada saat itu.

Selain seluruh warga 12, aku mengundang para pemenang. Teman-teman lamaku. Juga beberapa orang yang kukenal baik dari Capitol, termasuk Plutarch dan undangan kehormatan bagi Presiden Paylor. Namun sepertinya, mereka terlalu sibuk merevisi undang-undang untuk menghadiri pernikahanku.

Sekilas aku melihat siluet Annie, istri Finnick yang kini sudah jadi janda. Kudengar ia sudah melahirkan dan bayinya laki-laki. Mungkin aku dan Peeta akan menjenguknya nanti setelah pernikahan ini.

Haymitch bertingkah sangat waras hari ini. Aku bahkan tak yakin dia ini asli. Ia tampak jauh berwibawa dan bijaksana tanpa pengaruh alkohol.

Akhirnya, aku tiba di depan altar.

Gale ada disana. Tampak semanis biasanya. Tak kusangka ia akan melempar senyum bersahabat yang selama ini kukenal. Aku lega. Akhirnya ia mengikhlaskanku.

Tapi perhatianku kini tidak sedang terpusat padanya.

Aku menundukkan wajah, mengatur ekspresiku sebelum akhirnya memberanikan diri menatap Peeta, yang sudah sedari tadi menatapku.

Kalau aku boleh pingsan, aku ingin pingsan saat ini juga.

Ini Peeta-ku? Setampan inikah ia? Atau selama ini aku terlalu buta untuk menyadarinya?

Aku menahan senyumku agar tidak lepas menjadi tawa.

Tampaknya, Peeta juga melakukan hal serupa karena ia langsung memalingkan tatapannya dariku dan memasang tampang sok serius.

Pendeta mulai membacakan khotbahnya. Para tamu langsung terdiam ketika ia akhirnya menyatukan tanganku dan tangan Peeta. Aku langsung meremasnya kuat-kuat seperti yang dulu pernah kulakukan di parade sebelum Hunger Games dimulai.

Kami saling berhadapan. Terpaksa harus menatap mata satu sama lain. Aku harus menahan diriku agar tidak terus-terusan tersenyum.

"Saudaraku, Peeta Mellark. Apakah kau bersedia menerima wanita di depanmu ini—Katniss Everdeen—sebagai istri dan ibu dari anak-anakmu kelak? Menghabiskan sisa hidup dalam susah dan senang bersama hingga maut memisahkan?" Suara pendeta itu tedengar berat dan tenang.

Peeta menjawab dengan lugas, "Aku bersedia. Dalam keadaan apapun. Aku berjanji akan menjaga dan mencintainya sepenuh hati. Mengasihi dan melindunginya."

Aku merasa jantungku nyaris copot mendengar ketegasan dalam suaranya. Aku tahu ia akan menepati janji itu. Pendeta itu beralih menatapku.

"Apakah kau, Katniss Everdeen, bersedia menerima Peeta Mellark sebagai suami dan ayah dari anak-anakmu kelak?"

Aku mengangguk. Tak pernah kurasakan semantap ini dalam berbicara. Aku tak tahan lagi. Aku ingin menangis.

"Aku bersedia. Dengan sepenuh hati. Dalam kondisi apapun. Aku akan.. mencintainya hingga akhir hayatku."

Suaraku bergetar. Genggamanku pada tangan Peeta menguat.

Tapi aku sudah tidak kuat lagi. Pertahananku bobol dan butiran air mata jatuh ke pipiku.

Tepat ketika pada akhirnya pendeta itu berkata, "Semoga Tuhan memberkati pernikahan ini. Melimpahkan semua kuasa-Nya. Peeta Mellark, kau boleh mencium istrimu, Katniss Mellark."

Katniss Mellark. Katniss Everdeen-Mellark. Perpaduan dua nama yang indah. Air mataku turun semakin deras.

Peeta merengkuh wajahku dan menghapus air mataku sebelum akhirnya menciumku. Ciumannya lembut seperti biasa. Namun ada perasaan lain dalam ciuman itu. Kemenangan.

Aku tak pikir panjang dan membalas ciuman itu. Inilah yang kuinginkan. Anak lelaki dengan roti itu kini jadi milikku sepenuhnya. Aku baru sadar setelah selama ini bahwa aku sungguh-sungguh sayang Peeta Mellark. Terlalu sayang sampai-sampai aku mencintainya. Aku mencintainya.

Akhirnya, setelah beberpa menit ciuman yang kurasa amat lama, Peeta melepaskan pagutan bibirnya dan tersenyum padaku seperti yang selama ini ia lakukan. Senyuman favoritku.

Aku melempar pandang kearah Gale. Ia mengangkat jempolnya padaku. Peeta menyisipkan cincin di jari manisku. Indah sekali.

Setelah itu, pesta dimulai.

Ibuku tampak melankolis sekaligus cantik. Ia terus mengucurkan airmata bahagia. Aku memeluknya erat-erat. Kupikir, ini saatnya untuk memperbaiki hubungan kami.

Ia juga bercakap-cakap sedikit dengan Peeta dan kubiarkan mereka berdua tenggelam dalam pembicaraan.

Haymitch dengan gaya khasnya menjabat tangan Peeta dan memeluknya. Lalu ia memelukku. Kurasa ia juga sama terharunya dengan yang lain.

Aku menyapa para tamu undangan. Keluarga Rue sudah pasti kuundang. Lalu aku menyambangi Annie dan menanyakan kabar si kecil. Ternyata si kecil tidak bisa ikut karena sedang sakit flu. Ia bilang bahwa anaknya lebih mirip Finnick ketimbang dirinya. Aku cepat-cepat mengalihkan pembicaraan sebelum air muka Annie berubah sedih.

Lalu apa yang terjadi selanjutnya tinggal sejarah.

Aku tak ingat pasti apa yang terjadi setelahnya. Aku hanya bisa mengingat bahwa aku menerima banyak sekali pelukan dan ucapan selamat dari orang-orang. Aku lelah, tapi terlalu bahagia untuk dapat mengeluh.

Dan ketika aku mulai limbung, tangan Peeta menahanku. Ia mengajakku berdansa. Aku menurut saja.

Di sela-sela ayunan langkah kaki kami, ia berbisik di telingaku.

"Mrs. Mellark," godanya.

Aku tersenyum, "Bagaimana tadi itu menurutmu?"

"Bagian mana?" tanyanya.

"Semuanya."

Kulihat iaa berpikir sejenak, "Kau tampak sangat.. mempesona. Aku bahkan tak bisa berkomentar lebih banyak lagi."

Aku tergelak mendengarnya.

"Oh ya, dan tadi itu asin."

"Apanya?" tanyaku lagi. Kedua tanganku melingkari lehernya.

"Ciumannya."

"Oh.."

"Aku kurang puas. Boleh kuminta sekali lagi?"

Ketika kujawab, "Sesuka hatimu, Sayang," Ia mulai menarikku lagi dalam pelukannya. Menekan bibir satu sama lain.

Aku baru saja merasakan nikmatnya sensasi ciuman Peeta yang lebih dari sensasi kejut listrik yang bisa diberikan Capitol padaku ketika Haymitch menyela kami dan menarikku dari Peeta.

Peeta mengangkat alisnya dan melepasku, mengalah sejenak.

Haymitch menarikku agak jauh dari Peeta. Ia membisikkan sesuatu yang membuatku ingin memuntahkan isi perutku. Parahnya lagi, ia memasang tampang tak berdosanya yang membuatku makin mual.

"Katniss, kurasa aku menyukai ibumu. Bolehkah aku menikahinya?"

...

A/N: Gyaaaaaaa, " Chapter 2 "The Wedding" sudah selesaiii.. :)) Dikerjakan dengan sepenuh hati. Review, kritik dan sarannya sangat diharapkan. Tidak ada perasaan paling menggembirakan ketika karyamu diapresiasi, kan? Enjoy, ^^b