Ten Count : Count 02

Aku tak ingin menyentuhnya.

Aku tak ingin disentuhnya.

.

.

.

Ten Count

Kyuhyun x Sungmin

Disclaimer :

All cast are belongs to God and their family

Ten Count (Original version) milik Takarai Rihito

Genre :

Drama. Psychological. Romance

Warning :

Yaoi. Mature. OOC. Typo. DLDR dan lainnya

Ini adalah fict remake dari manga dengan judul yang sama

.

.

.

Dua foxy itu masih betah memandang buku catatan miliknya yang telah tertulis daftar 'hal-hal yang yang tak ingin dilakukannya'. Berpikir keras tentang pernyataan Kyuhyun bahwa dia akan sembuh saat dia bisa mencapai daftar kesepuluh.

Otaknya sedang mencerna kalimat yang Kyuhyun lontarkan tadi. Memang Sungmin menginginkan dirinya sembuh, tentu saja. Tapi, hanya saja, bisakah ia?

Bahkan untuk melakukan hal didaftar paling atas saja dia masih enggan. Apalagi sampai didaftar kesembilan?

Kyuhyun itu suka bercanda ya?

Tapi mana mungkin wajah datar begitu suka bercanda?

Akan sangat melenceng dari alur kalau Kyuhyun itu ternyata bukan psikiater, melainkan komedian.

Terlalu larut dalam pikirannya membuat Sungmin sedikit melupakan eksistensi pemuda diseberang meja yang masih menatap lekat-lekat.

Entah apa yang tengah dipikirkan Kyuhyun. Mungkin menebak-nebak pikiran Sungmin yang sedang menatap buku catatannya kosong.

Mungkin Sungmin sedang memikirkannya.

Dasar kepedean.

"Eh?! Ada apa?" akhirnya Sungmin sudah kembali ke dunia nyata. Sempat terkejut setelah melihat Kyuhyun sedang memperhatikan dirinya tanpa berkedip.

Kyuhyun tersenyum tipis, "Kyuhyun.. namaku–"

"..Aku belum memberitahumu 'kan? Namaku Cho Kyuhyun. Aku seorang psikiater di klinik Lee Donghae psychomatic. Kamis, Sabtu dan Minggu aku libur. Aku tinggal di Namhyeon-dong.."

Kyuhyun mengambil sebuah kartu nama, "Aku tidak kerja hari ini, tapi aku akan memberikanmu kartu namaku."

Tersenyum tipis, Kyuhyun meletakkan kartu namanya keatas meja.

"Oh, kau bisa memfotonya atau menulisnya, lalu buang saja kartu itu." tambahnya cepat.

Sungmin mengerutkan kening, "Kenapa tiba-tiba kau begitu?"

Lagipula Sungmin benar-benar heran dengan pemuda di depannya ini. Sebenarnya Kyuhyun itu maunya apa?

Kenapa aneh sekali?

"Sangat tak nyaman kalau kau terus saja memanggilku orang asing, jadi secara formal aku memperkenalkan diriku agar mendapat kepercayaan yang lebih darimu," ungkap Kyuhyun.

Sedikit terhenyak, Sungmin mencoba mengartikan kalimat Kyuhyun bahwa orang di depannya ini hanya ingin mendapat kepercayaan darinya. Mungkin Sungmin adalah tipe orang yang memang agak sulit percaya dengan orang lain. Apalagi yang baru masuk kedalam hidupnya.

Tapi toh dia tetap membiarkan Kyuhyun mengacak-acak sistemnya yang telah dia percayai akhir-akhir ini.

Hanya karena Sungmin ingin sembuh.

Benarkah?

"Apa kau khawatir karena aku menyebutmu orang asing?" tanya Sungmin hati-hati.

Dan anggukan Kyuhyun menjawabnya.

'Padahal kupikir dia tak akan ambil pusing. Ekspresinya selalu saja datar dan hanya tersenyum tipis, ternyata dia keberatan' batin Sungmin.

Sungmin berdehem sebentar, menyamankan duduknya, "Dari cara bicaramu kau benar-benar terganggu ya?"

"Aku memang orang yang seperti itu, dan juga–"

Jeda sejenak, Kyuhyun menghela nafas,

"–aku melakukan ini bukan karena pekerjaanku. Aku mengirim pesan dan rekomendasikan ini padamu atas kemauanku sendiri, jadi aku tak akan menyuruhmu mendatangi klinik lagi setelah ini."

Sungmin tak mengerti.

'kemauanku sendiri huh?'

"Kalau soal pembayarannya?" tanya Sungmin. Ayolah, Kyuhyun sudah cukup aneh dengan menawari Sungmin ini-itu. Harus ada imbalan atas kebaikannya.

Kyuhyun memiringkan kepalanya. Tangannya memegang sedotan yang ada didalam gelas. Bibirnya membentuk seringai tipis. Matanya masih memandang lekat. Sungguh, ekspresi menggoda. "Kalau kukatakan ini gratis?"

Sungmin tidak atau mungkin belum tergoda, sayangnya.

"Tentu saja aku tak bisa menerimanya" itu pernyataan Sungmin. Bukannya Sungmin ingin menolak kebaikan seseorang terhadap dirinya. Hanya saja, apakah ada yang gratis di jaman sekarang? Siapa tahu Kyuhyun ingin Sungmin membayar dengan cara lain?

Menjadi pacarnya, misalnya?

"Kalau begitu, jadilah temanku."

Ternyata salah!

Dan ekspresi kaget Sungmin sekarang sama seperti ekspresi kaget kalian yang mengira 'Kyuhyun ini modus sekali ya?'

Sekedar info, meskipun sering berwajah datar, Kyuhyun sering dijuluki evil oleh orang-orang yang dikenalnya.

Jadi, berhati-hatilah Sungmin sayang.

Kyuhyun yang bisa menebak raut kekagetan Sungmin sudah menyiapkan jawaban ampuh agar sang pemuda surai putih itu mau tak mau mengangguk setuju. Dengan raut datar –agar terlihat lebih keren– dia akan menyampaikannya, "Karena kalau kita teman 'saling membantu' itu tidak masalah kan?–"

Nah kan, pasti Sungmin akan setuju.

"–kalau kau masih menganggap ini aneh–"

"Ppftt–" terdengar suara tertahan dari seberang.

Dan tawa Sungmin meledak, "Hahahaha…."

Saking kencangnya dia tertawa, dua tangannya sampai harus memegang perut. Takut kontraksi.

Kyuhyun speechless. Raut wajahnya yang memang sudah datar –tapi tampan– ditambah raut kebingungan dan agak senang melihat Sungmin tertawa adalah gabungan ekspresinya sekarang.

"Ma-mana mungkin aku mengatakan ini aneh," Sungmin menyeka air mata yang hampir jatuh dari suduh matanya, "Ini adalah hal yang sangat aneh."

Sungmin menatap Kyuhyun dengan wajah yang sedikit memerah. Seingatnya sudah lama sekali dia tidak tertawa sekencang tadi.

Ternyata Kyuhyun memang suka bercanda.

Apa Sungmin harus bertanya langsung?

'Kyuhyun-ssi, kau ini seorang komedian?'

Masih dengan menahan tawa, Sungmin akhirnya membuka suara lagi, "Ada orang yang memintaku menjadi temannya dengan wajah datar seperti itu. Hal ini baru pertama kali terjadi pada saya…"

Agaknya Kyuhyun sedikit kaget. Niat untuk terlihat lebih keren pupus sudah. Alih-alih mendapatkan anggukan setuju dari Sungmin, yang ada dia malah ditertawakan.

Sebenarnya dia ingin sekali tersenyum atau bahkan ikut tertawa dengan Sungmin. Tapi Kyuhyun itu dimana-mana image-nya datar dan keren. Jadi dia sedang mengontrol ekspresinya agar terlihat biasa saja sekarang.

"'Saya'..? Tidak perlu 'saya', lagipula kemungkinan aku lebih muda darimu, jadi kau tak perlu menggunakan suffix '–ssi' dinamaku dan jangan berbicara formal padaku." Mata itu terpejam, menyembunyikan sepasang obsidian yang indah didalamnya.

Sungmin hanya menaikkan alisnya. Memang kalau dilihat dari penampilan, Kyuhyun terlihat lebih muda. Tapi kalau dilihat dari wajah, Sungmin tak akan kalah.

"Kalau begitu aku akan memanggilmu Kyuhyun-ah." Ya untuk yang kali ini dia akan setuju.

"Baiklah. Aku juga akan memanggilmu Sungmin hyung, apa boleh?"

Sungmin mengangguk mengiyakan. Dan dalam hati Kyuhyun senang.

"Aku–" Tiba-tiba raut muka Sungmin berubah sendu. Sambil menundukkan kepala dan menggenggam tangan dibawah meja dia berujar,

"–dulu tak pernah habis pikir kenapa 'aku tak baik berinteraksi dengan teman'. Pada saat yang sama juga aku penasaran 'kenapa aku tidak bisa senormal orang pada umumnya?'. Aku selalu berpikir bahwa aku itu aneh dan 'kenapa pemikiranku berbeda dari yang lain', tapi ternyata…"

Sungmin menatap Kyuhyun sejenak,

"Kau bahkan orang yang lebih aneh dariku, Kyuhyun-ah." Sungmin mengucapkannya dengan raut bahagia. Bahagia telah menemukan orang yang lebih aneh darinya.

Kyuhyun masih menatap datar. Menunggu Sungmin untuk selesai bicara.

"Baiklah. Aku mau jadi temanmu." ucap Sungmin akhirnya.

Dengan raut heran Kyuhyun memandang Sungmin. Dan yang dipandang hanya menundukkan kepala. Tak ingin beradu mata dengan yang didepannya.

Kyuhyun tersenyum. Puas.

Dan pada akhirnya hanya keheningan yang menyapa setelah pernyataan Sungmin tadi.

"Haruskah kita pulang sekarang?" suara Kyuhyun terdengar pelan. Memecah es keheningan diantara mereka.

"Eh? Ah oke" jawab Sungmin sekenanya.

"Bagaimana pekerjaanmu hari ini Sungmin hyung?"

Tangan-tangan Sungmin mengambil notebook yang masih terbuka, dan memasukkannya kedalam tas kerjanya, "Aku juga libur hari ini. Sarung tangan akan terlihat serasi jika aku berpakaian formal jadi aku lebih suka pakai jas kalau keluar."

"Hm.. Begitu ya.." tanggap Kyuhyun mengerti.

"Mau mulai hari ini? Daftarnya? " tanya Kyuhyun dengan santainya. Kedua tangannya ia lipat di atas meja. Dengan posisi kepala yang ia miringkan sedemikian rupa, kau akan melihat orang tampan tengah menatapmu intens.

"Dimulai dari nomor satu. Tempat ini tidak begitu ramai. Pasti tak akan ada yang peduli kalau kau berdiri sangat lama di depan pintu. " lanjutnya ringan. Tentu saja. Yang tertekan disini 'kan Sungmin.

"Ha-Hari ini?"

Bercanda lagi ya?

Sungmin memperhatikan sekeliling café. Memang yang dikatakan Kyuhyun benar. Café tempat mereka sekarang duduk memang tengah sepi. Hanya ada dirinya dan Kyuhyun dan sepasang orang duduk ditempat yang agak jauh dari mereka juga terlihat seorang waiters dibelakang tempat kasir.

Hanya mereka berlima.

Tapi itu tentu saja tak cukup menjadi alasan bagi Sungmin untuk memulai daftar pertama. Keringat mulai mengalir dari dahi. Dia gugup kalau kalian ingin tahu.

Sungmin mengambil sebuah botol dari saku jasnya, "Apa gagang pintunya boleh kubasuh dengan alkohol?" tanyanya hati-hati.

"Tidak boleh!" jawab Kyuhyun cepat. Sudah mengira Sungmin akan seperti ini.

Sungmin meneguk ludah susah payah, "Tan-tanpa sarung tangan?"

"Benar sekali."

Dan Sungmin menatap kedua tangannya yang berbalut sarung tangan dengan miris. Seolah berbicara dengan kedua tangannya 'maafkan aku maafkan aku'.

Kyuhyun mengamati dengan sedikit geli. Bagaimana bisa ada orang seperti Sungmin. Dia lucu sekali.

'Saat kita mencapai daftar kesepuluh–'

Omongan Kyuhyun kembali berputar di otak Sungmin. Dan dia sedikit sadar.

'Benar juga, ini baru yang nomor satu' batinnya membenarkan.

Tapi ayolah, ini tak semudah yang Kyuhyun pikirkan. Ini phobia Sungmin. Dan dia sudah harus melakukan pengobatannya sekarang. Di café ini. Dengan paksaan Kyuhyun.

"Aku akan memikirkannya dulu." Tangan yang masih berbalut sarung tangan mencengkeram celana kuat-kuat. Sungmin butuh pegangan. Dan dia tak ingin mengambil resiko di cap mengidap sakit jiwa juga karena berpegangan di tiang penyangga didalam café.

Bagaimana kalau berpegangan pada Kyuhyun?

Lupakan!

"Baiklah." Kyuhyun tiba-tiba berdiri dan dan menatap Sungmin.

Memutar badan, Kyuhyun sedikit melangkah, "Kalau begitu akan membayar dengan sedikit lambat. Saat itu cobalah."

Dan Kyuhyun benar-benar pergi dari tempatnya menuju meja kasir.

"EH?! Tunggu dulu." Sungmin panik. Dia kan masih memikirkannya. Apa-apaan psikiater itu?

'Dasar gila' umpat batin Sungmin sebal.

Dan disinilah ia. Di depan pintu café yang tertutup dan menatapnya lekat-lekat.

Apa? Merenungi nasib?

Jangan bodoh.

Sungmin hanya gugup. Ya. Hanya gugup.

Dia sedang membayangkan betapa banyak kuman dan bakteri yang menempel pada gagang pintu itu. Ini tempat umum. Pastinya sudah banyak orang yang menyentuhnya. Dan berapa juta mungkin milyar kuman yang sudah menempatinya.

Tangannya. Tangan yang bersih itu akan ternoda.

"Semuanya 750 won," ucap penjaga kasir pada Kyuhyun yang sedang membayar.

Dan memang seperti yang direncanakan, Kyuhyun sengaja memperlambat cara membayarnya. Melihat-lihat isi dompet dengan super lama. Dan bahkan dia sengaja menjatuhkan uangnya agar waktu yang dibutuhkan Sungmin cukup.

Tapi setelah ia membayar dengan cara yang mungkin dicurigai oleh penjaga kasir. Sungmin masih tak bergeming ditempatnya.

'Ck.. Orang ini..' batin Kyuhyun melihat punggung Sungmin yang masih berdiri didepan pintu. Tak ada pergerakan.

Akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk kembali ke arah kasir.

"Ah permisi. Dimana toiletnya?" akhirnya cara ini yang digunakan.

"Ada disebelah sana, belok kiri." Mungkin penjaga kasir yang seorang wanita itu tengah bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah pemuda –yang tampan– ini sedang ada hati dengannya? 'Dia terlihat ingin berlama-lama denganku. Cinta pandangan pertamakah?' batinnya memprovokasi.

Tapi maaf kakak penjaga kasir.

Itu sama sekali tidak benar.

Sedangkan Sungmin masih menyemangati dirinya sendiri untuk membuka pintu tersebut.

Dengan segenap jiwa dia melepaskan sarung tangan di tangan kanannya dan merapalkan 'tidak apa-apa' dalam hati berulang kali. Mantra yang tidak buruk, Sungmin.

'Tidak ada yang kotor. Tidak ada..' tangan itu bergetar pelan saat diulurkan kedepan.

Sungmin yakin dia harus bisa. Ayolah Sungmin, ini baru yang pertama.

Sedikit lagi.

Dan–

'cklek'

"Hah.. Hah.. Hah.." Sungmin sampai harus membungkuk untuk menetralisir nafasnya yang memburu. Oksigen. Dia butuh oksigen.

Tapi satu hal. Dia telah berhasil membuka pintu café itu. Sungmin tak pernah setakut dan selega ini dalam hidupnya.

"Kerja bagus." sebuah suara datang dari belakang Sungmin. Itu suara Kyuhyun, tentu saja.

Masih dengan membungkuk, Sungmin melongokkan kepalanya kebelakang. Dilihatnya Kyuhyun dengan wajah yang sedikit puas namun masih terkesan datar.

"Ah, pelayan tadi menatapku dengan aneh." adu Sungmin dengan wajah sedikit malu. Dia laki-laki berumur tigapuluh satu tahun dan butuh waktu yang lama hanya untuk membuka pintu café. Yang benar saja?

"Tidak, perasaanmu saja." Kyuhyun sudah berbaik hati dengan mengatakan hal demikian. Dia hanya mencoba menghibur Sungmin.

Senyum tipis Kyuhyun berikan untuk Sungmin. "Kau hebat. Tapi setelah ini jangan basuh tanganmu dengan alkohol."

Obsidian itu mulai menatap Sungmin dengan serius.

"Aku sudah menjelaskan semua, tapi untuk terapi seperti ini kau perlu memperhatikan dua hal penting. Pertama 'bersikap akan hal yang membuatmu tidak nyaman' dan kedua 'berhenti melakukan hal secara tak sadar, seperti membasuh tanganmu dengan spontan'."

Sungmin hanya terdiam sambil menatap lekat-lekat tangannya. Mengira-ngira berapa banyak kuman yang sudah menempel pada tangan kanannya. Jutaan kah? Milyaran? Dan kabar buruknya Sungmin sampai mual sendiri saat memikirkannya.

Kyuhyun menyadari kepanikan Sungmin, tapi itu wajar. Sungmin baru kali ini melakukannya.

"Apa rasanya begitu buruk?" itu pertanyaan retoris Kyuhyun. Kau akan mendapat jawaban–

"Tentu saja." Nah, benar kan?

Dengan tangan yang masih diangkat didepan dada –dia sedang tidak berdoa– Sungmin menatap Kyuhyun dengan pandangan 'kau-ini-bodoh-ya?'

Dan Kyuhyun tak peduli.

"Tapi kau tak boleh membasuh tanganmu. Itu tak kotor."

"Kalau pakai sarung tangan?"

"Boleh saja, tapi lebih baik kau berhenti melakukan hal itu juga." Setelah mengucapkan itu Kyuhyun melangkah menuju sepeda yang dia parkir. Membuka kuncinya dan menaikinya.

Sedangkan Sungmin masih larut dalam pikirannya sendiri.

'Tapi aku tak bisa. Tanganku yang kotor sudah mengotori sarung tanganku juga. Aku harus membuangnya. Lagi pula aku memiliki banyak sarung tangan'

Dengan menunduk khidmat, Sungmin mulai berpikir ini-itu pada tangannya yang sudah ternoda.

Kyuhyun memperhatikan dengan tatapan tak terbaca. Dia tahu –mungkin– dengan apa yang tengah dipikirkan Sungmin.

"Sampai jumpa minggu sini jam dua siang." ucap Kyuhyun setelahnya. Membuyarkan lamunan Sungmin.

Sungmin hanya mengangguk pelan, "Baiklah."

"Kita akan mengevaluasinya seminggu sekali jika memungkinkan."

Dan kali ini tanpa persetujuan Sungmin, Kyuhyun mulai mengayuh sepedanya menjauh.

Foxy Sungmin masih memandang punggung Kyuhyun yang semakin lama semakin menjauh. Kemudian hilang dibelokkan.

Dan bagaikan terobsesi dengan tangannya –yang berkuman– Sungmin mulai memandanginya lagi. Melihat luka-luka yang sudah tertoreh ditangan kanannya.

Memandang dengan getir, "Lubang bekas luka ditelapak tanganku mungkin sudah kemasukan kuman," Oh yeah, dia mengkhawatirkan hal itu. Bagaimana kalau kuman-kuman itu menginfeksi lukanya? Membuat luka-luka itu melebar dan bernanah? Dan tangannya yang harus diamputasi? Lalu diganti dengan pengait dari besi seperti bajak laut di film Pirates of The Caribbean?

Hentikan Sungmin!

Kau akan semakin mual, percayalah.

Kepalanya dia geleng-gelengkan beberapa kali, menyuruh otaknya untuk berhenti berpikiran yang tidak-tidak.

'Tidak. Tidak mungkin ada. Semuanya bersih'

'Semuanya baik-baik saja'

Nah, bagus Sungmin. Sekarang ambil napas pelan-pelan dan semua akan baik-baik saja. Tentu saja tangan kananmu tak akan diganti dengan pengait bodoh itu.

.

.

.

Langit sudah gelap saat Sungmin tiba di apartemen miliknya. Sebenarnya dia sudah bisa pulang setelah dari café bersama Kyuhyun tadi. Tapi entahlah, dia malah berhenti di sebuah bangku taman dan memutuskan untuk merenung sejenak.

Bukan merenungi nasib. Hanya merenungi tangannya.

'cklek'

Pintu apartemen itu terbuka dan Sungmin masuk kedalam.

Berpikir bahwa Sungmin membuka pintu apartemen dengan tangan kosong? Oh maksudnya tangan telanjang?

Tidak, tidak.

Tangan kanannya sudah terpasang sarung tangan lagi. Tadi Kyuhyun sudah mengatakan tak apa kan? Meskipun dia menambahkan bahwa Sungmin juga harus mulai menghentikannya.

Tapi dalam daftarnya dia hanya harus memegang gagang pintu tanpa sarung tangan. Bukan bangku taman atau bahkan daun yang jatuh diatas rambutnya.

Dia hanya tak ingin menambah kuman yang sudah ada dengan kuman yang lainnya.

Pikiran yang bagus Sungmin.

Melenggang masuk, Sungmin meletakkan tas kantornya di atas sofa dan untuk yang entah kesekian kalinya, dia memandang tangan kanannya lagi.

Untuk kali ini dia melewati bagian kamar mandi.

Yah, setelah sampai apartemen, Sungmin memang bisa menahan diri untuk tidak membasuh tangannya.

Rasanya memang tak nyaman, tapi lama-lama rasa itu mulai menghilang..

'Huft.. Setidaknya aku sudah berusaha sejauh ini' batinnya menyemangati.

'Siapa sangka akan semudah ini?'

Dan bibir Sungmin melengkung ke atas. Memberikan sebuah senyum yang tulus super manis dan imut dan cute dan moe dan imut– oke aku menyebutkan imut dua kali.

Sayangnya Kyuhyun tak melihatnya.

Oh sabar saja, Kyuhyun akan mendapatkan lebih dari ini.

.

.

.

Keesokan paginya, Sungmin memang sudah berencana untuk menengok sang Presdir yang masih berada di rumah sakit. Kenapa?

Karena dengan alasan yang masih sama, tak ada yang merawat Presdir di rumah.

Dan sepertinya atasannya itu sedikit menikmati waktu istirahatnya.

Sungmin berjalan dilorong rumah sakit masih dengan jas formal dan tas kerja yang dibawa ditangan kiri. Tangan bersarung tangan.

Sebenarnya dia sedikit tak yakin dengan terapi yang dilakukannya atas bantuan Kyuhyun, tapi ternyata dia sudah mulai terbiasa membuka pintu tanpa sarung tangan.

Ini kemajuan, oke?

Bahkan dia sudah jarang membasuh tangannya.

Langkah kakinya berhenti di depan ruangan bertuliskan Kim Youngwoon dengan nomor 114 di bawahnya. Dia sudah sampai.

"Permisi." ucapnya seraya membuka pintu didepannya. Dan gumaman "Sungmin-ah" menyambutnya. Kim Youngwoon sedang berbaring dengan punggung yang menyandar pada kepala ranjang dan kedua tangan memegang buku yang entah apa, Sungmin juga tak tahu.

Benar-benar menikmati waktu istirahat bukan?

Sungmin membungkuk sebentar, "Bagaimana keadaan anda?"

"Yah tak pernah ku sangka akan sesulit ini. Tapi keadaanku mulai membaik," jawab sang Presdir pelan.

"Saya senang mendengarnya, Tuan." Sungmin meletakkan tas kerja yang ia bawa pada satu-satunya meja yang ada di ruangan inap tersebut. Mengambil buku jurnalnya dan beberapa amplop berisi berkas yang harus ditandatangani oleh Presdirnya.

"Sungmin-ah, soal penolongku–"

Tangan Sungmin berhenti bergerak.

"–apa kau sudah menghubunginya?"

"Eh?!" Pertanyaan Youngwoon cukup membuat Sungmin salah tingkah. Pasalnya, dia benar-benar lupa akan misinya yang satu itu. Kemarin dia memang menghabiskan banyak waktu dengan Kyuhyun, tapi mereka sama sekali tak menyinggung soal menyelamatkan Presdir Sungmin.

'Ck Sial! Aku benar-benar lupa akan hal itu.' umpat Sungmin dalam hati.

"Belum. Itu.. Saya belum ada waktu untuk menghubunginya, tapi saya sudah memberikan kartu nama saya,"

Iya, Sungmin memang tak punya waktu untuk menghubungi Kyuhyun, kalau ngobrol di café 'sih Sungmin punya.

"Begitu ya? Ya sudah kalau begitu." Helaan nafas kecewa dari Youngwoon terdengar.

"Mungkin nanti dia akan menghubungi. Ya. Mungkin." Dengan keringat yang mulai merambati turun dari dahi Sungmin mengucapkannya.

'Maafkan aku Tuan Presdir' ucapnya dalam hati. Menyesal telah membohongi atasan sendiri. Lagipula Kyuhyun memang belum menghubunginya dan membicarakan soal yang satu ini. Jadi Sungmin tak sepenuhnya salah kok.

Dan setelahnya Sungmin mengeluarkan beberapa berkas yang harus dibaca dan disetujui oleh Youngwoon. Jadi untuk beberapa saat mereka sudah larut dalam pekerjaan masing-masing.

"Semuanya sudah terjadwal. Saya akan kembali ke kantor dan menstampel proposalnya." ujar Sungmin sambil memasukkan beberapa kertas itu masuk ke amplop.

"Saya akan kembali lagi besok Presdir."

"Terima kasih. Ku serahkan semuanya padamu."

Sungmin melangkah keluar dari ruangan yang ditempati atasannya. Yang ternyata ia melupakan notebook yang telah diletakkan diatas meja, oh diatas sapu tangan maksdunya.

'Tap tap tap'

Suara langkah kaki yang dipercepat terdengar dilorong rumah sakit.

"Hei! Sungmin-ah!"

Terdengar suara setengah berteriak dari belakang Sungmin. Dan mau tak mau Sungmin harus berhenti dan menengok kebelakang.

"Kau melupakan notebookmu." Itu Presdirnya. Kim Youngwoon. Dengan langkah kaki yang dipaksa dipercepat dan tangan kanan yang memegang notebook miliknya.

'DEG'

"Kau akan kerepotan tanpa ini kan? Ini penuh dengan jadwal kerjamu," sepertinya Youngwoon melewatkan ekspresi terkejut Sungmin. Atau mungkin dia tak menyadarinya.

"Ah, terima kasih." ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya untuk menerima notebooknya.

Pemuda bersurai putih tersebut sedikit terdiam setelah mendapatkan notebooknya kembali. Dan untuk kali ini Youngwoon menyadarinya.

Jadi dengan senyuman yang hangat Youngwoon memandang Sungmin lekat, "Aku tidak menyentuhnya. Jangan khawatir. Aku memakai kain itu."

Memang benar, atasannya itu tak langsung menyentuh notebook miliknya karena bahkan beliau memakai sebuah sapu tangan putih yang tadinya Sungmin pakai sebagai alas notebooknya.

Atasan yang pengertian.

"Bu-bukan itu. Maksudku terima kasih karena Presdir telah mengerti," aku Sungmin tak enak. Phobianya memang menyebalkan. Tak pandang siapapun. Semuanya berkuman. Termasuk atasan sendiri.

Menyebalkan.

"Baiklah. Sampai jumpa Sungmin-ah." Pria berumur empat puluh dua itu berbalik dan pergi ke ruangannya lagi.

Tapi Sungmin masih terdiam ditempatnya. Memandang notebooknya lama. Mungkin dia memang benar-benar terobsesi dengan benda-benda yang berkuman.

Heh?

'Beliau mungkin menyentuhnya'

Membuka notebooknya pelan, Sungmin membaca sepuluh oh sembilan daftar yang telah ditulisnya bersama Kyuhyun kemarin.

2. Membiarkan orang lain menyentuh barang-barangku

-TBC-


a/n : Ada yang merasa penulisan ini berbeda dari chapter satu? Karena saya yakin kalian yang peka pasti sadar /ditendang/

Menurut kalian apa tak apa jika saya tetap menggunakan gaya penulisan yang seperti ini? Karena saya sadar saya lebih nyaman dengan chapter dua.

Saya sadar kesalahan di chapter satu. Jadi saya akan memperbaikinya. Jadi terima kasih untuk kalian yang sudah mengingatkan /hug/

Terima kasih untuk semua yang sudah membaca dan mereview, memfollow atau memfavorite.

Special Thanks buat Shouta Yagami yang bantu koreksi meskipun hanya bilang ada /tendang revan/ dan sahabat saya Ayuk, yang sudah ceramah panjang lebar kkk


Balasan review :

wullancholee : hoo.. kyuhyun pasti bisa menyembuhkan calon istri kok saeng kkk gomawo buat bantuan dan reviewnya

Shouta Yagami : okee.. saran diterima shouta-kun, dan maaf buat typonya. Terima kasih untuk saran dan reviewnya

Za KyuMin : terima kasih buat reviewnya. Dan untuk L Death Note, iya saya mengikuti. Tapi menurut saya dia bukan penderita Mysophobia, dia hanya pecinta kebersihan dan orang yang aneh /ditendang L/ kkk..

Karen Kouzuki : kalau Kyu yang jadi presdir, ntar kasihan Sungmin, sama orang tua /ditabok/ terima kasih reviewnya

cloudsKMS : dih.. serem ki, mau ngerampok ya? Yang kesepuluh? Rahasia dong hihi.. terima kasih reviewnya

Harusuki Ginichi-137411 : iya makasih reviewnya, ini dilanjut

ShinYangChoi : yakinlah, saya juga sedang mengusahakan untuk tak membayangkan Shirotani dan Kurose TT tapi beneran diusahakan, terimakasih reviewnya

Park Heeni : psychology? Saya juga suka, suka baca kkk terimakasih reviewnya

Tika137 : terimakasih. Nanti di salamkan buat sensei yang punya cerita kkk. Eh iya kah? Terimakasih untuk reviewnya juga

: iya, ini sudah dilanjut. Terima kasih reviewnya

adhe kyumin 137 : ini update lama ya? Hihi.. gomen gomen.. yang nulis belum bisa bayangin kyumin sebenarnya /ditabok/ terima kasih buat reviewnya

SunghyoJoy : iya ini remake. Semoga chapter ini nggak membingungkan ya? Yang nulis juga bingung kok /loh?/ Mungkin bisa ditanyakan ke Kyuhyun nanti, bisa enggak ya? Kkk terimakasih reviewnya

RinatyaJoYunjae Shipper : sebenarnya saya juga nunggu, tapi karena nggak ada yang nulis, jadilah ini kkk.. bagaimana kalau ffnya bakal lebih ribet? /digebukin/ terima kasih reviewnya

lindasisilia : nado saranghae, kkk. Saya baca manganya yang bahasa inggris juga banyak nggak ngerti kok /dibuang/ terima kasih reviewnya

akhyasabrina : sa bingung ya? Sama kok /loh?/ tantangan buat nonton anime iya -,- terima kasih reviewnya

nabeshima : iya ini dilanjut, terima kasih reviewnya

Cho Meihwa : ih mei loadingnya lama /digampar/ dibaca aja ya sampai akhir biar paham. Aku nggak akan kasih clue wkwkwk kalau mau baca manganya aja. Terima kasih reviewnya

SecretVin137 : iya ini dilanjut, terima kasih reviewnya

asdfghjkyu : eh? Terimakasih reviewnya

Zen Liu : pegang-pegang apa hayo? /ditabok/ terimakasih reviewnya

abilhikmah : amin /doa bareng Kyu/ terima kasih reviewnya

TiffyTiffanyLee : iya ini dilanjut kkk.. terima kasih reviewnya

: ini lama ya? Mian.. terimakasih reviewnya

leedidah : iya parah, dan daftar kesepuluh? Tebak-tebak ya? Kkk.. terima kasih reviewnya

: iya, ini sudah di update. Terima kasih reviewnya

Pururu : wah, terima kasih. Tidak biasa? Mungkin karena ini milik Takarai sensei kkk.. terimakasih juga reviewnya

Guest : iya kah? Kkk terima kasih reviewnya

Red panda : maaf, tapi saya sama sekali tak menemukan pair akafuri. Saya baca dan itu pair akakuro. Ini bukan plagiat. Saya hanya mencontoh, dan memang salah saya karena saya terlalu terpaku dengan fict milik Kanra-san, jadi semoga chapter dua tidak begitu

Hwang Mayumi : saya hanya mengambil percakapan yang mereka pakai. Dan untuk ff remake, bukankah memang biasanya sama? Dan teman saya bilang bahwa meremake bukanlah hal buruk, justru akan membantu mengenalkan manga itu sendiri

Guest : amin, semoga ya? /lirik Kyu/ mungkin Sungmin hanya tidak takut jatuh cinta sama Kyu /ditampar/ terima kasih reviewnya

chu : yang nulis beneran nggak akan kasih clue lho kkk terima kasih reviewnya

.9 : terimakasih kakak sayang, kkk.. iya di notif kok, dan terima kasih juga reviewnya

BunnyWolf kyumin : iya ini sudah dilanjut, terima kasih reviewnya

nuralryasid : ini next chap ya? Terima kasih reviewnya

ichan : tapi saya ingin membuat dengan pairing favorite saya. Jadi apa salahnya? Mungkin author itu membuat hunhan dan saya membuat kyumin, lalu? Bisa dipastikan bahasanya akan beda kok, dan ini sama sekali bukan copas

SheeHae : iya, itu mysophobia. Dan ini sudah dilanjut, terima kasih reviewnya

Cho Nayoungie : nado saranghae, kkk.. padahal yang nulis sebenarnya ngarep ada yang ngeremake duluan, tapi nggak ada /pundung/ terima kasih reviewnya

PumpkinEvil137 : doakan ya semoga yang nulis nggak akan menelantarkan ff ini kk, soalnya orangnya mudah bosan /ditendang/ terima kasih reviewnya

rhara : untuk chapter ini nggak terlalu formal ya kayaknya? Kkk terima kasih reviewnya

orange girls : wah pertanyaannya ditunggu kejawab dengan sendirinya ya? Yang nulis pelit info kkk.. terima kasih reviewnya

CutieJoyers137 : wah, pikirannya udah mengarah kesana kkk /dijitak/ terima kasih reviewnya

Cho Kyuna : iya Kyuhyun jadi psikiater cogan /lirik-lirik Kyu/ sebenarnya baru-baru ini kok suka Jepang dan untuk nulis ff SJ, karena saya joyers mungkin kkk. Ffnya? Nggak pernah bikin ff, pasti ngadat ditengah jalan /kok curhat?/ terima kasih reviewnya

Alfiani Vinc : banyak yang suka ya kalau Kyu jadi psikiater tampan? Sama kok kkk.. ini sudah dilanjut ya? Terima kasih reviewnya

KyuMin ELF : hoo.. pertanyaanya ditangguhkan sejalan ff nya ya? Hihi.. beneran pelit info yang nulis mah kkk terima kasih reviewnya

Kmg6384 : Are? Phobia Sungmin lebay? /pundung bareng Ming/ mungkin ada benci juga /loh?/ terima kasih reviewnya

kyuluv : huh? Blonde sama rambut putih beda ya? Ya pokonya rambut ming putih ala SFS begitu. Terima kasih dan yang nulis nggak janji /ditendang/ terima kasih reviwenya

Butt ming : iya,ming sabar kok /peluk ming/ terima kasih reviewnya

idc 'bout love : saya yakin kami berdua meremakenya

coffeewie137 : iya, sudah separah itu /peluk ming/ terima kasih reviewnya

ichadkelpeu : kkk berasa tebak-tebak berhadiah, gapapa kok soalnya yang nulis juga pelit info kkk terima kasih reviewnya

yayuklestari : semangaatt.. terima kasih reviewnya

zagiya : terima kasih, ini dilanjut ya?

VincentCho96 : 'ekhem' apa hayo? Kkk /ditabok/ terima kasih reviewnya

nn : percayalah, yang nulis juga penasaran kkk terima kasih reviewnya

Guest : kkk pikirannya udah ke hentai saja ya? Terima kasih reviewnya

hapsarikyukyu : ditebak-tebak aja ya? Kkk terima kasih reviewnya


Kritik dan saran selalu diterima,

137