2947, Cabang Fenrir Asia, Kami no Kuni,
Antrean mengular sepanjang 20 meter. Masing-masing dari mereka membawa gelas dan piring plastik. Tujuannya satu, truk pengangkut makanan yang datang setiap delapan jam sekali.
Bukan pada antrean panjang, cobaan terberat sebenarnya datang dari matahari di atas kepala. Musim panas rasanya membuat mereka mendidih tanpa disadari. Bayangkan, suhu di siang hari bisa mencapai 40 derajat. Dapat berteduh di bawah pohon rindang, atau menikmati pendingin dalam ruangan sambil minum es serut hanyalah mimpi. Kenyataan kembali menampar, bila saat ini tak ada tempat yang bisa menampung selain barak kumuh yang dihuni seribu jiwa.
Kemunculan makhluk buas bernama aragami dua tahun silam menghancurkan kehidupan di bumi. Orang-orang harus terima hidup di balik dinding setinggi 50 meter, dalam kondisi seadanya.
"Mau sampai kapan kau membiarkan aku menunggu, Pak Tua?!" gadis muda antrean baris kelima mulai berontak. Padahal tinggal empat orang lagi, tapi ia sudah tak sabar.
Hyuuga Hinata, yang tak lain putri mendiang Perdana Menteri Hyuuga Hiashi mengibas-ibaskan piringnya, menggunakannya sebagai kipas. Poninya tampak lepek oleh keringat.
"Sungguh tak sopan membiarkan anak perdana menteri menunggu."
Alih-alih mempersilakan Hinata lebih dulu, jawaban si petugas justru membuat telinganya panas.
"Maaf Nona, tapi Anda harus mengantre."
Boleh jadi Hinata dulu anak orang nomor satu di negeri ini, tapi sekarang statusnya sama saja dengan pengungsi lain. Warga biasa, tak ada yang dispesialkan.
Merasa kurang puas dengan jawaban si petugas, Hinata menarik bahu orang-orang di depannya supaya mundur. Sampai di depan, ia menyodorkan piringnya minta diisi makanan.
"Sekarang atau aku melaporkanmu pada Johannes!"
Sang petugas terdiam. Namun akhirnya memilih konsisten dengan menggeleng.
"Nona, Anda harus kembali ke posisi Anda."
Geram Hinata melemparkan piringnya. "Kau tinggal memberiku makanan dan aku akan pergi! Apa susahnya?!" ia tak sadar bila piring plastik tersebut mengenai seseorang.
Pria berambut hitam dari kejauhan sebenarnya sudah memperhatikan tingkah Hinata semenjak tadi. Suara Hinata yang bising membuatnya begitu muak. Bocah manja ini harus diajari sopan santun, pikirnya. Apalagi setelah piring plastik yang dilempar mengenai wajahnya.
Oh shit!
Tak tahu diuntung.
.
"Oi!"
Hinata mengernyit, melihat orang dengan gelang besi aneh melingkari pergelangan menghampirinya.
Mengisap rokok, pria tersebut melemparkan kembali piring plastik itu kepada Hinata.
"A-ee-aah ..."
"Kau tak bisa makan tanpa benda itu kan?" Lindow menarik puntung rokok dari mulut, mengembuskan asap nikotin ke udara. Pria pemegang jabatan tertinggi di tim Retalitation itu mengambil sendok nasi si petugas pengurus makan siang, lantas mengambil piring dari seseorang yang berdiri di belakang Hinata.
"Hei gadis kecil, jika kau ingin mendapatkan makananmu, kembalilah ke tempatmu. Lihat mereka yang juga mengantre demi mengambil makanan ini. Bersabarlah sedikit."
Hinata mendecih, "Kenapa aku harus mendengarkanmu? Aku ini putri Perdana Menteri Hyuuga Hiashi. Sudah sepantasnya aku diperlakukan dengan layak," cercanya. "lebih baik kau menyingkir, biarkan pak tua itu menjalankan tugasnya. Aku ingin makananku sekarang, dan aku tak mau kembali ke barisan." Hinata melirik pakaian Lindow.
"Lagi pula kalian para Fenrir tahu apa tentang kelaparan? Kalian bisa makan kapan pun kalian mau."
Hinata seperti meniup sebuah tungku supaya apinya membesar. Ia menciptakan atmosfer panas di suhu yang sudah panas.
Lindow meletakkan sendok nasi yang ia pegang. Mendecih, lantas tersenyum sinis. Sebelah tangannya berkacak pinggang, sementara tangan kanannya membuang puntung rokok saking kesalnya.
"Kau terlalu banyak bicara, Nona. Berhentilah menyombongkan diri dengan berulang-ulang menyebut dirimu anak perdana menteri."
Orang-orang di sana bengong melihat perdebatan mereka. Dan sejujurnya, ini mengganggu.
"Kami sudah tahu siapa kau. Hei, ayahmu itu sudah wafat. Sudah meninggal dunia. Jika kau masih ingin dianggap anak perdana menteri, kenapa tak menyusul saja ayahmu ke akhirat?" jawaban Lindow tak kalah sengit. Pria itu memasang wajah datar dan dingin.
"Kembali ke barisan, atau aku menggendongmu supaya kembali ke posisimu?!"
Tangan Hinata mengepal. Pada akhirnya ia memilih kembali ke posisinya meski penuh rasa kesal.
Ia tak punya argumen cerdas yang bisa didebatkan bersama lelaki itu. Salah bicara sedikit, justru ia yang malu.
Lindow kembali. Langkahnya menuju mobil bak di mana teman-temannya sudah menunggu. Dilihat dari pakaian mereka yang kotor, sepertinya mereka baru pulang menjalankan 'misi'.
"Hei, Tuan!" Hinata yang tadi menyadari Lindow membuang puntung rokok di depannya
langsung memanggil pria itu.
"Apa lagi?"
Hinata mendekati Lindow, tak lupa membawa serta puntung yang tadi Lindow jatuhkan.
"Jika kau tak tahu cara membuang sampah dengan benar, mengapa tidak telan saja puntung rokokmu?"
Lindow merasakan panas di telapak tangannya. Sepertinya gadis itu dengan sengaja meletakkan puntung rokok tersebut di sana.
Akhirnya, dengan senyum kemenangan, Hinata kembali ke barisan. Meninggalkan Lindow yang memandang punggungnya dengan sedikit terheran.
Tcih, rasakan itu ...
...
Sore hari di kantor Fenrir, para anggota mengadakan rapat rutin guna pembagian tim untuk misi nanti malam.
Dipimpin Mayor Tsunade Senju, dan diawasi langsung oleh pemimpin Fenrir cabang Asia, Johannes von Schicksal.
Rapat dimulai dengan mengisi absensi, berlanjut pada penjelasan misi yang akan diterima anak buahnya. Masih dengan tim Retalitation yang kali ini diterjunkan sebanyak empat orang, termasuk Kapten Amamiya.
"Lindow-san, zona merah adalah bagianmu. Pada titik-titik ini aragami sering muncul. Kalian akan berpencar pada tiga titik. Atur sebisa mungkin berkumpul pada titik yang sama di waktu yang kalian sepakati." Tsunade menjelaskan.
Lindow mengambil gulungan peta dari tangan Tsunade, menunjukkan perkamen tersebut pada ketiga anggotanya.
Uzumaki Naruto mengangguk paham. Gadis berambut uban bernama Alisa Ilinichina Amiella terlihat menekuri perkamen itu. Sementara Inuzuka Kiba, ia tampak lebih santai.
"Kami sudah mengerti, Kapten." Ujar Alisa menggulung perkamen tersebut.
"Baiklah, pertemuan kita akhiri di sini. Jika tidak ada yang ditanyakan, kalian sudah bisa meninggalkan ruangan sekarang." Tsunade mengakhiri sesi pertemuan mereka.
.
Semilir angin menerpa pipinya yang memerah. Punggung mungilnya bersandar pada teras, menekuk lutut, sambil sesekali membenamkan wajah di antara lipatan tangan.
Suara burung menelisik indra pendengeran. Matanya mengintip ke arah langit yang telah mengoranye. Jingga menarik garis horizontal di langit. Seperti sapuan emas, membubuhkan warna madu di cakrawala biru.
Hinata menarik napas. Berat, ia mengembuskannya.
Mau sampai kapan?
Hatinya tercubit. Ia sungguh bosan dengan pemandangan yang sama setiap hari. Barak yang disesaki orang-orang—Hinata merasa napasnya bisa tercekat bila berlama-lama di sini.
"Ayah, ibu ..." Lirihnya. Hinata rindu pada suasana rumah, walau kini sudah melebur menjadi abu.
"Haaah ... payah!" desah seorang anak laki-laki pada teman yang duduk di depannya. "setiap hari kita diberi nasi dengan sup hambar, dan biskuit bayi untuk mengganjal perut."
"Ya mau bagaimana lagi kan? Keterbatasan Fenrir mengurusi kita semua."
Obrolan mereka rupanya menarik perhatian Hinata. Diam-diam, pemilik iris perak itu memasang pendengarannya baik-baik.
"Hoo benarkah? Padahal di luar dinding ada banyak sekali makanan. Di bekas pusat perbelanjaan, atau supermarket berhamburan makanan tanpa perlu membayar. Hmm ... aku ingin sekali makan ramen."
"Ya, tapi kemungkinan besar makanan-makanan itu sudah kedaluwarsa."
"Lebih baik makan makanan kedaluwarsa daripada biskuit bayi!"
Percakapan mereka membuat Hinata sadar, bila insiden aragami menyisakan begitu banyak pusat perbelanjaan yang kosong. Di sana pasti ada berbagai macam barang. Ia bisa mengambil makanan, selimut tambahan, juga pakaian.
"Memang kau tahu cara menembus dinding? Satu-satunya jalan keluar dijaga ketat oleh petugas, dan hanya bisa dilewati para God Eater."
Anak laki-laki itu memasang senyum ambigu.
"Menyelinap di perbekalan God Eater. Mereka menggunakan mobil double cabin saat keluar."
"Gila! Mau cari mati apa?!"
...
Hinata tahu, keputusannya ini bisa dibilang gila. Saat para penjaga perbatasan mengobrol dan tanpa sadar menurunkan kewaspadaan, Hinata diam-diam mengendap-endap ke sebuah mobil double cabin yang sepertinya dipersiapakan untuk misi pembantaian aragami malam ini.
Hinata segera naik ke bak belakang. Menutupi dirinya bersama perbekalan.
"Yosh, tak ada barang yang tertinggal kan?" suara familier mencumbu indra pendengarannya.
"Tidak, Kapten. Aku sudah mengambil kompasku." Suara itu berasal dari seorang gadis.
"Bagaimana denganmu, Naruto?"
"Semuanya sudah tersimpan dalam ransel, di belakang, Kapten." Pemuda pirang menunjuk kabin belakang.
"Kiba ...?"
"Aku sudah di siniii."
Bocah hiperaktif itu rupanya lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Baiklah, kita berangkat sekarang!"
Tak lama selepas mesin mobil dihidupkan, terdengar suara peluit panjang penanda gerbang siap dibuka.
Hinata berdoa. Ia harap kamuflase ini tak terbongkar.
Mobil yang ditumpanginya terasa bergerak. Ia menyelingkap sedikit kain yang menutupi tubuhnya. Dari sini, Hinata melihat dirinya semakin menjauhi dinding.
Ia berhasil keluar.
.
"Mungkin kalian bosan mendengar ini, tapi ledakkan suar kalian saat berhadapan aragami tipe mematikan!"
"Siap, Kapten!"
Mereka berpencar dari sana. Titik parkir di reruntuhan Tokyo Tower, dan digunakan kembali sebagai titik temu. God Arc aktif. Ini adalah senjata satu-satunya yang dapat menghancurkan core dalam tubuh aragami, dan mengekstraknya menjadi energi.
Merasa posisinya telah aman, Hinata keluar dari tempat persembunyian. Melompat turun-nyaris terjatuh. Dadanya berdegup kencang melihat pemandangan di hadapannya.
Bangunan-bangunan roboh. Gedung pencakar langit rata dengan tanah. Megapolitan yang menjelma menjadi museum peradaban. Tak ada satu pepohonan tersisa sepanjang mata memandang.
Hinata melangkah satu meter dari tempat awal ia berdiri. Air matanya sudah terkuras bila untuk menangisi kejadian ini (lagi). Semuanya sudah terjadi, ia pun tahu, lantas mengapa masih terkejut?
Hinata menggeleng cepat. Ia harus ingat tujuannya sampai keluar dinding.
.
"Dengar kidung kematianmu, aragami sialan!"
Trash—Lindow menyabetkan senjatanya pada sayap kiri Gboro-Gboro. Monster buaya yang bisa dibilang jenis paling lemah di antara aragami lain. Geraknya lambat membuatnya mudah sekali ditebak.
Monster itu mencoba menyerang balik dengan mengibaskan ekornya. Tak kalah cepat, Lindow menyerang bagian depan tubuh Gboro sebanyak tiga kali.
"Ini yang terakhir!"
Sabetan di ekor Gboro-Gboro mengakhiri serangan Lindow.
.
"Su-sugoii, di sini benar-benar ada banyak makanan!" sempat tak percaya, Hinata menutup mulutnya. Duduk bersimpuh, meraup sejumlah makanan ringan yang ia temukan di rak yang terguling. Sampai-sampai, Hinata menggunakan bajunya sebagai wadah.
"Apa ya? Ah, ini sepertinya enak! Ini juga!"
Berdiri, tangannya meruntut pada deretan rak yang masih kokoh dan terisi ramen instan.
"Huh, dua bocah itu tak bohong. Ini baru makanan manusia. Hahaha ..." Hinata tertawa girang. Bibirnya mendadak cemberut, ketika melihat etalase berisi banyak rokok di supermarket itu.
Angannya melambung pada kejadian tadi siang. "Tch, dia pasti mengambil rokoknya di sini juga."
Puas melihat-lihat lantai bawah, Hinata menaiki tangga menuju reruntuhan di lantai dua. Ia ingin mengambil beberapa baju, kalau ada sih selimut juga. Namun, baru ia menginjak lantai atas, tiba-tiba suara langkah besar menggema dari lantai dasar.
Hinata yang penasaran membalikkan tubuhnya. Mengintip dari pagar pembatas lantai dua.
Vajra melangkah di antara rak yang berjatuhan. Dari atas, Hinata bahkan bisa mendengar bagaimana monster itu mendengus. Saking kagetnya, Hinata menjatuhkan makanan yang tadi ia ambil, membuat monster tersebut menoleh dan menyadari keberadaannya.
GUARRRR ...
Auman memenuhi lantai dasar.
Hinata merinding seketika. Bulu romanya tegak berdiri. Tak peduli lagi dengan makanan yang ia ambil, Hinata memilih lari.
Namun jangan meremehkan Aragami jenis ini. Dia monster harimau yang memiliki kecepatan tinggi dan penciuman yang cukup baik.
Sang monster yang merasakan mangsanya kabur langsung mengejar hingga gadis itu berhasil tersusul. Vajra melompat di depannya.
Tubuh Hinata limbung, lantas ambruk. Lututnya melemas, berusaha mundur dengan susah payah.
Hinata tahu di sana tidak ada siapa-siapa. Malaikat pencabut nyawa sedang bersiap mengambil ruhnya. Ia akan mati.
"Tidak ... jangan ... kumohon ..."
Air mata Hinata luruh membasahi pipinya yang memucat. Ia mengepal erat, menyembunyikan wajahnya di balik tangan.
"Ayah ... ibu ..."
Tubuh Hinata menggigil. Dia lebih dari ketakutan. Aragami raksasa itu mengayunkan tangan ... Hinata memejam ...
Trash—sebuah kilatan menyambar cepat. Pedang sepanjang dua meter mengayun membuat retak ekor sang Vajra.
Auman menggetarkan atap lantai dua yang sudah rapuh. Membabi buta Vajra berlari ke arah gadis berambut putih yang baru menebas ekornya.
"Ikuti aku, kelinci manis!"
Mengalihkan perhatian Vajra dari Hinata, Alisa melompat ke lantai satu.
Butuh combo untuk menyerang bagian belakangnya. Saat ini Alisa hanya sendiri, yang dapat ia lakukan berusaha membuat retakan di ekor Vajra melebar, dan membuat ekornya pecah.
Saat Vajra melompat ke arahnya, Alisa salto ke belakang tubuh si Vajra. Sekali lagi menyabet titik lemah monster itu, ekor.
Venom trap dipasang beserta dengan snare trap. Namun sayang, belum perangkap itu termakan, gerakan Vajra yang tiba-tiba membuat tubuh Alisa terpental-membentur kaca etalase supermarket. Tubuhnya terlempar keluar dengan sebagian pecahan kaca menempel di lengan kirinya.
Tak membiarkan Alisa begitu saja. Sang Vajra mendekat, napas dari hidungnya terdengar seperti elegi pengantar kematian.
Napas Alisa memburu. Dadanya terlihat naik turun. Sebisa mungkin, ia harus menghindari monster itu.
Kalau begini, tak ada pilihan lain ...
Suar hijau meluncur ke langit melawan gravitasi. Memberi tahu posisinya. Sekarang ia hanya perlu mempertahankan diri sambil menunggu bantuan datang.
.
Sementara di lantai dua—masih dengan perasaan shock—Hinata terduduk di lantai. Kakinya gemetar sampai sulit digerakkan.
Di malam hari, harusnya ia merasa dingin. Namun entah kenapa saat ini keringat justru mengucur deras dari pelipisnya, jatuh ke lantai saat ia menunduk.
Bagaimana dengan gadis itu? Hinata membatin.
Dari sini ia mendengar suara ledakan dan auman berkali-kali.
Nyalinya tak cukup berani meski sekadar mengintip.
Bagaimana bila monster itu mengejarnya lagi?!
Hinata memilih bersembunyi di sini.
.
"Akhh—"
Tubuh Alisa kembali terlempar sejauh tiga meter—membentur dinding reruntuhan toko.
Vajra sama sekali tak membiarkannya beristirahat. Setengah detik ia lalai, nyawanya bisa melayang.
Alisa bangkit, tertatih mengambil God Arc-nya yang terlempar. Pedang besar itu ia acungkan lagi ke arah Vajra. Masih dengan dengusan yang sama, sang Vajra siap dalam mode menyerang.
"Alisa!"
Suara familier memanggil namanya. Lindow berlari kencang. God Arc aktif. Sabetan di bahu kiri Vajra. Trash—
Auman menggelegar.
"Jangan berpikir hanya sampai di sana!"
Kiba turut menyerang, disusul Naruto menebas kaki belakang Vajra.
Monster itu tersungkur. Tak mengendurkan serangan, Kiba dan Naruto terus mengayunkan pedang secara beruntun.
"Alisa! Kau terluka?!" Lindow mendekati Alisa.
"Hanya goresan di lengan. Ini belum apa-apa, Kapten."
Iris hijau tua Lindow bergulir memperhatikan gerak Vajra secara detail. Sebisa mungkin mencari kelemahannya.
"Kita harus block dia. Serang sebanyak-banyaknya dalam 6 detik. Buat dia tak berkutik." Lindow ganti menatap Kiba dan Naruto yang menyerang secara bertubi. "Kalian fokus pada tangannya!"
"Baik, Kapten! Tch, mati kau monster keparat!" Kiba menyerang dari atas.
"Alisa, beristirahatlah. Biar kami yang menangani ini."
"Tapi, Kapten ..." agaknya gadis itu masih belum menyerah, meski kondisinya sudah tidak memungkinkan.
Lindow menepuk bahu Alisa. Ia tak mau lengan gadis itu cedera semakin parah.
Akhirnya, Alisa pun menurut. Ia menepi untuk istirahat.
Senyum di sudut bibir Lindow tertarik. Memperbaiki posisi sarung tangannya, seringai Lindow kian lebar saja.
"Ini awal kematianmu, Vajra!"
Ia turut menyerang.
.
Suara burung malam menjadi satu-satunya sumber bunyi yang terdengar.
Pemuda berambut cokelat menyeka keringat di keningnya. Perjuangan sekali untuk bisa mengalahkan Vajra.
Mata Lindow menatap serius iris perak yang kini tertunduk sendu. Gadis itu sama sekali tak berani mengangkat wajah. Bagaimana pun ini memang salahnya.
"Jadi kau menyelinap naik mobil kami?"
Postur tubuh Hinata yang mungil memaksa Lindow lebih menunduk. Tinggi perempuan berkulit putih itu tak ada sebahunya.
Lindow menghela napas. Ia benar-benar tak tau apa isi kepala gadis di hadapannya ini.
"Kau tak punya otak ya?" si kapten berujar sinis, membuat Hinata seketika balik menatapnya.
"Baguslah. Ternyata kau hanya meladeni obrolan kasar."
"Kau menyebutku tak punya otak!"
Atmosfer panas kembali menyelimuti mereka. Saling tatap dengan sorot mata dingin. Kali ini selaput pelangi rembulan tak takut lagi menatap iris lumut yang senantiasa melontarkan kalimat setajam belati padanya.
"Seharusnya kau minta maaf pada Alisa, membuang segala keangkuhanmu."
Tangan Alisa sudah dibalut perban. Ia telah masuk ke dalam mobil ditemani Naruto.
Hinata mengalihkan pandangannya. Menghindari kontak mata dengan Alisa.
"Kapten, sudahlah. Misi kita memang membunuh aragami, kan? Ada tidaknya gadis itu kurasa tak berpengaruh."
"Kau terlalu lembut padanya, Alisa."
"Hoamm ..." Kiba menguap-memotong pembicaraan. "Kalian masih mau melanjutkan debat ini?" tukasnya menggaruk kepala.
Anak buahnya, semua terlihat lelah.
Lindow mengambil arloji dari saku celana. Sebentar lagi pagi. Sudah waktunya mereka kembali.
"Masuk sana!" sedikit memaksa Lindow meminta Hinata masuk ke mobil, tapi perempuan itu justru bergeming di posisinya.
"Aku akan duduk di belakaaang ..." Kiba melompat ke bak belakang, merebahkan punggungnya di atas jejeran tas. "Oh Tuhan, aku rindu kasurku ..."
Melihat Hinata yang mematung-diam tak mengucap sepatah kata pun-Lindow menjadi semakin kesal. Ia bertanya dengan nada lumayan tinggi. "Masuk atau tidak?!"
Sinis Hinata menatap Lindow. Lagi, ia memalingkan wajah.
"Tinggalkan saja aku di sini."
Ck ...
Gigi Lindow bergemeretak. Gadis ini membuatnya ingin mengumpat.
Tak bertanya lagi, tak ada basa-basi lagi. Lindow mengangkat badan Hinata, menbuatnya terkejut setengah mati.
"O-oi! Apa yang kau lakukan?!"
Lindow membopong Hinata-mendudukkannya di jok samping kemudi. Tak lupa Lindow memasang sabuk pengaman.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Membuatmu duduk." Lindow menunduk menatap wajah Hinata lebih dekat. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Membuat Hinata dapat merasakan bagaimana napas sang kapten menerpa wajahnya.
"Ka-kau terlalu dekat!" Hinata mendorong dada Lindow. Namun tak berefek apa-apa, lantaran tenaganya hanya sebesar semut jika dibandingkan Lindow yang seekor citah.
"Kenapa? Kau mau ku lempar ke dalam supermarket itu dan dimakan aragami?"
Hinata menelan semua argumennya. Jelas ia tidak mau.
Lindow memutar langkah, membuka pintu mobil lantas masuk dan mengenakan sabuk pengaman.
"Kalian siap?!"
Alisa mengangguk sambil tersenyum. Sementara Naruto mengacungkan jempolnya.
Di belakang, Kiba menekuk sebelah tangannya sebagai bantal. Mulutnya terus mengunyah keripik kentang rasa keju yang ia temukan di dalam reruntuhan supermarket.
Persetan dengan tanggal kedaluwarsa. Yang penting enaaak.
Perjalan mereka ditemani cahaya keunguan dari timur. Serta sayup alunan lagu dari sang bayu.
.
.
Bersambung
Oracle cell : sekumpulan sel yang hidup dan bersatu membentuk aragami.
Aragami : hasil eksperimen oracle sell yang gagal.
Core : Otak dan jantung aragami
God Eater : orang di mana tubuhnya disuntikkan sel oracle, supaya dapat mengendalikan god arc
God arc : satu-satunya senjata yang bisa melawan aragami
Fenrir : Organisasi yang bertanggung jawab atas insiden aragami
