a/n:
Hi!
Dami membawa chapter 2 dari fanfic dengan genre yang kurang populer: Friendship.
Lewat cerita ini, Dami akan mencoba menyelipkan 'pesan' yang kadang terlupakan sebagai bagian dari makna kehidupan.
Ending cerita ini sudah terkonsep dan aku sendiri akan sangat suka dengan ceritanya.
Semoga readers juga suka ya. :)
Mohon dukungannya!
Please give me your review.
Gamsahamnida!
Note: Runtutan adegan di chapter ini adalah flashback saat Chen mulai mengenal teman-temannya.
Poem dikutip dari Autumn Winds blog.
Warning: Bullying scene inside.
.
.
FOUR SEASONS
[CHAPTER 2]
CAST: Kris, Chanyeol, Chen, Jongin.
EXO FANFIC
GENRE: Friendship
RATING: T
.
-AUTUMN-
—Autumn is the hardest season. The leaves are all falling, and they're falling like
they're falling in love with the ground.
.
.
.
BUGH
"Huh, rasakan ini!"
BUGH BUGH
"Dasar manusia jelek. Kau pantas mati!"
BUGH BUGH BUGH
"Mestinya kau berkaca dulu sebelum melaporkan kami pada guru! Memangnya kau siapa? Sudah jelek, gendut, dasar makhluk tidak berguna!"
BUGH
Sebuah pukulan telak lagi-lagi mengenai perut seorang pemuda bertubuh tambun yang kini tergeletak pasrah di sudut toilet. Ia nampak tak berdaya. Sekeras apapun ia memohon, gerombolan murid yang tengah mengeroyoknya tidak memperlihatkan belas kasihan.
Seorang yeoja kemudian menjenggut rambutnya kasar dan membenturkannya ke dinding. Beberapa lainnya tertawa licik.
Sungguh ironis, baru enam bulan ia merasakan bangku SMA dan sejak enam bulan itulah ia mengalami penderitaan.
Setelah puas melampiaskan kekesalan, gerombolan siswa yang terdiri dari namja dan beberapa yeoja itu pun meninggalkannya terkapar di lantai.
Chen menyeka bibirnya yang berdarah. Sebelah tangannya ia gunakan untuk memegang kepalanya yang terasa sangat sakit setelah dihantam beberapa kali ke tembok. Ia berusaha berdiri namun kakinya terlalu lemah. Sekujur tubuhnya terasa remuk. Chen meringis. Sebenarnya ia malah ingin menangis.
.
Autumn is coming
With gentle breezes
And howling winds
.
Dengan susah payah ia meraih ujung wastafel untuk membantunya berdiri. Pandangannya berkunang-kunang. Nafasnya berat dan terengah-engah. Cermin toilet memantulkan wajahnya yang kini dihiasi biru lebam. Baju seragamnya nampak kotor dan terkoyak di beberapa bagian. Matanya bengkak seperti bola golf ditambah lagi beberapa lecet yang menghiasi wajahnya membuat penampilannya sangat kacau.
.
Autumn is coming
To change the colors
To red, brown, and gold
.
Setidaknya hampir tiap minggu ia menerima perlakuan tidak menyenangan ini. Ia dipukuli karena ia gendut, ia dipukuli karena ia jelek, ia dipukuli karena ia lamban, ia dipukuli karena ia terlalu pintar, ia dipukuli karena menjadi kesayangan guru-guru, ia dipukuli karena 'mereka' memang senang memukulnya.
Dan yang terakhir ini ia dipukuli karena mencoba melaporkan perlakukan yang ia terima kepada kepala sekolah.
Hasilnya bisa ditebak. Ia kembali dipukuli.
Sedangkan 'mereka' yang memukuli adalah anak-anak orang kaya yang bisa membeli segalanya dengan uang, murid-murid pintar yang takut tersaingi oleh Chen, siswi-siswi yang hanya kesal karena melihat penampilan Chen yang membuat sakit mata.
Yang paling parah adalah 'mereka' yang hanya ikut-ikutan memukulinya karena sekedar hobi bahkan tanpa tahu menahu duduk persoalan.
Chen kembali meringis.
Sudut bibirnya terasa perih.
Ia merapikan baju seragamnya yang acak-acakan. Chen mengepalkan tangannya kuat-kuat. Matanya mulai terasa panas namun ia berusaha keras untuk tidak menangis. Dengan lemah, ia menyampirkan tas bukunya lalu berjalan pulang.
Untuk kesekian kalinya, ia harus memikirkan alasan apa yang harus ia utarakan jika ibunya bertanya mengapa ia selalu pulang babak belur.
Chen tidak menyangka, kebahagiannya karena di terima di SMA nomor satu di Seoul pada akhirnya harus ia jalani dengan derita. Kenyataan menghempaskan rasa bahagia dari tebing tinggi. Ia seperti lidah-lidah ombak yang pecah menjadi busa ketika berbentur karang.
Kesendirian dan kekosongan adalah sahabat setianya.
Andaikata aku tidak gendut...
Andaikata aku tidak pintar...
Andaikata aku tidak miskin...
Dan beribu 'andaikata' lainnya timbul tenggelam mengempas tiada puas.
Langit musim gugur menaungi langkahnya yang terseok-seok. Suara gemerisik dedaunan mengiringi isakan pelan yang kini keluar dari bibirnya. Remaja bertubuh tambun tersebut berjalan di atas dedaunan cokelat yang berserakan.
.
Upon the forest floor
Will lie the leaves of all the trees
When Autumn is here
.
Saat itu musim gugur.
Dan Chen merasa hidupnya tak lagi berarti.
.
.
.
"Baiklah, sekarang siapa yang tahu bunyi hukum 1 Newton?" Sooyoung seonsaengnim—guru fisika nan anggun ini—berjalan di antara bangku-bangku murid sambil mengetuk-ngetuk sebuah penggaris ke telapak tangannya. "Apa dari tiga puluh siswa di ruangan ini tidak ada yang tahu?" tanyanya lagi.
Sebuah tangan kemudian teracung tinggi.
"Hukum Pertama: setiap benda akan memiliki kecepatan yang konstan kecuali ada gaya yang resultannya tidak nol bekerja pada benda tersebut. Berarti jika resultan gaya nol, maka pusat massa dari suatu benda tetap diam, atau bergerak dengan kecepatan konstan." Jawabnya seorang siswa berkaca mata tebal dengan lantang dan jelas.
"Bagus sekali Chen." Wanita jelita bertubuh semampai ini tersenyum puas.
Sang guru nampak senang, tapi tidak dengan sebagian murid di ruangan itu. Beberapa diantaranya menunjukkan wajah jengkel, beberapa lainnya mengerucutkan bibir tidak suka.
"Bergerak dengan kecepatan konstan—itu mengingatkanku akan dirimu saat pelajaran lari sprint minggu kemarin." Timpal seorang gadis bernama Soojung dengan seringai meremehkan.
Ucapan gadis menyebalkan itu langsung disambut gelak tawa seisi kelas.
Sooyoung memukul-mukul meja dengan penggarisnya untuk meredam keributan. "Sudah-sudah jangan ribut!"
Lirikan tajam sang guru akhirnya berhasil membuat anak-anak yang menertawakan Chen tutup mulut. "Nah, pertanyaan kedua..." sambungnya lagi. Sudut matanya kemudian menangkap seorang murid yang tertidur pulas di mejanya. Pemandangan tersebut terang saja membuatnya berdecak kesal. "Park Chanyeol! Sekarang coba kau sebutkan bunyi hukum 2 Newton!"
Seisi kelas kini memusatkan perhatiannya pada seorang pemuda bersurai cooper brown yang sedang tertidur nyenyak di sudut belakang kelas. Ia nampak tak terganggu dengan seruan sang guru.
"PARK CHANYEOL!"
Sebuah lengan kemudian menyikutnya keras. Chanyeol akhirnya berhasil dibangunkan. Ia menguap lebar tanpa mempedulikan pelototan sang guru. Chanyeol mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya yang terasa silau. Benang saliva mengalir indah dari sudut bibirnya. Meski demikian, ia belum sepenuhnya sadar.
"N-ne?"
"Sebutkan bunyi hukum 2 Newton!" perintah Sooyoung seonsaengnim setengah menggeram.
Chanyeol mengerang pelan. Ia mengucek-ngucek matanya malas lalu menggaruk-garuk lehernya. Tindakannya itu terang saja memicu amarah sang guru. Sebelum sebatang kapur melayang tepat ke arah keningnya, sebuah tangan menyelipkan secarik kertas pada Chanyeol. Tanpa pikir panjang, Chanyeol langsung membaca tulisan yang tertera di kertas itu dengan keras.
"Hukum Kedua: sebuah benda dengan massa M mengalami gaya resultan sebesar F akan mengalami percepatan a yang arahnya sama dengan arah gaya, dan besarnya berbanding lurus terhadap F dan berbanding terbalik terhadap M atau F=Ma. Bisa juga diartikan resultan gaya yang bekerja pada suatu benda sama dengan turunan dari momentum linear benda tersebut terhadap waktu."
Sang guru berkacak pinggang, "Lain kali kau tak perlu membantunya Chen."
Baru saja guru fisika tersebut hendak menceramahi Chanyeol, bel istirahat berdering nyaring. Akhirnya ia hanya berkata gusar, "Park Chanyeol, kau kuhukum untuk membersihkan laboratorium sepulang sekolah. Jangan mencoba untuk kabur karena kau akan tahu akibatnya!" Sooyong seonsaengnim menghela nafas panjang lalu mulai mengemasi buku-buku.
Chanyeol tersenyum kecut, merutuki nasibnya yang sial.
Ia menoleh pada pemuda gendut di sebelahnya yang kini tenggelam dalam buku 'Sejarah Korea'. Chanyeol menepuk pundaknya ringan kemudian berkata, "Thanks gendut. Lain kali aku pasti butuh bantuanmu lagi." ujarnya sambil mengedipkan mata jenaka.
Setelah itu ia pun segera melesat menuju atap sekolah untuk melanjutkan tidur siangnya yang sempat terganggu.
"Sa-sama-sama..." balas Chen gagap.
Baru kali ini seseorang berterima kasih padanya.
Chanyeol menghilang di balik pintu dengan seruan keras, "Minggir-minggir! Kalian menghalangi jalan Park Chanyeol!"
Chen tergugu.
Mendadak dadanya sesak oleh rasa haru.
Ia cepat-cepat memfokuskan diri untuk membaca paragraf 'riwayat hidup Raja Sejong', namun dirinya tak dapat menahan setetes kristal yang kini meluncur mulus dari bola matanya—membuat kaca matanya berembun.
Untuk pertama kali dalam hidupnya,
Chen merasa dihargai sebagai manusia.
.
.
—Life never goes smooth
neither stops nor run
but you can do them both
either stop or run
.
People don't understand you
it's all what you think
Even you don't feel you
it's all what you speak
.
Trees sink in autumn
flowers does'nt bloom in
Leaves get dry in autumn
life does'nt breath in
.
Have courage to live
as anyone can die
To crack the problems that grew in to spine
says autumn to the souls that never die—
.
.
.
BUGH
BUUUGGGHHHH
"Bagaimana? Apa kau juga mau yang ini?"
DUGGGH
"Dasar anak miskin tak tahu diri. Mestinya kau bersyukur bisa masuk sekolah ini!"
"Dasar penjilat! Mentang-mentang kau pintar, memangnya kau pikir semua guru akan jatuh hati padamu!?"
Kerah kemeja di genggam erat, kali ini sebuah tamparan melayang tepat ke pipi.
PLAK
Baik yang 'menyiksa' maupun yang 'disiksa' sama-sama terengah.
"Aku punya ide." Seorang gadis bersuara. Ia kemudian mengangkat dagu Chen agar bertatapan dengannya. "Bagaimana kalau kita suruh dia minum air toilet." Usulnya kejam.
"Wah itu ide yang bagus sekali. Lagipula aku bosan dengan cara 'konvensional'." Setuju yang lain.
Seringai mengerikan langsung menghiasi wajah mereka. Seorang namja kemudian mengikat pergelangan tangan Chen dengan dasi. Seorang yang lain mulai menyeretnya ke arah kloset. Chen meronta-ronta namun usahanya sia-sia. Karena Chen terus berteriak, si gadis pemimpin kelompok tersebut menyumpal mulut Chen dengan kaus kaki. Kepala Chen kemudian dipaksa tertekuk menghadap lubang kloset.
Chen memejamkan matanya rapat-rapat. Sebuah tarikan nafas panjang ia hela sebelum kepalanya diceburkan ke dalam lubang kotor tersebut.
Air matanya sudah kering.
Ia tak dapat menangis lagi.
Ia sudah lelah menangis.
Rasanya aku ingin mati saja...
.
.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat.
Sinar jingganya merayap melalui kisi-kisi ventilasi toilet, menerangi luka memar dari seorang pemuda yang kini tengah terpekur di sisi kloset. Keadaannya sungguhlah menyedihkan. Kemejanya terkoyak, celananya basah, sebuah dasi merah masih mengikat pergelangan tangannya. Ia tidak bisa melihat apapun karena kaca matanya berada entah dimana.
Ia mencoba menjauhkan kepalanya dari bibir kloset, tapi bahkan untuk mengangkat kepala pun ia tak sanggup.
Sebuah derap langkah terdengar memasuki toilet dengan tergesa. Kaki panjang seorang pemuda bersurai cooper brown itu kemudian terhenti di depan cermin toilet. Pemuda tersebut menepu-nepuk debu yang bersarang di pundaknya. Sebuah gumaman pelan meluncur dari bibirnya, "Ugh, kelihatannya saja Sooyoung seonsaengnim itu cantik. Tapi aku yakin sebenarnya ia nenek sihir."
Setelah puas merutuk di depan cermin, ia melangkahkan kakinya menuju bilik toilet. Kini bibirnya melantunkan sebuah melodi berirama cepat. Lidahnya bergerak lihai menyanyikan bait rap bertempo cepat. Tiba-tiba ia menghentikan aktivitasnya karena samar-samar terdengar suara rintihan.
Chanyeol menajamkan pendengaran.
Suara ratapan itu kembali terdengar.
Apa aku baru saja mendengar sesuatu?
Chanyeol menggelengkan kepala. Ia mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa pendengarannya mungkin sedang tidak berfungsi dengan baik karena terhalang debu laboratorium yang baru selesai ia bersihkan.
Namun baru saja ia menekan kenop pintu bilik, rintihan itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas.
Rintihan pelan bernada sangat memilukan.
Bulu kuduk Chanyeol berdiri. Berbagai pikiran tentang hantu sekolah melintas di kepalanya.
Sayangnya seorang pembuat onar—Park Chanyeol—sama sekali tidak takut hantu. Meskipun rasa itu terselip sedikit di hatinya. Tapi sedikit—yah—sedikit saja tidak apa-apa kan?
Dengan mengumpulkan seluruh keberanian, Chanyeol mendorong pintu bilik perlahan. Ia tidak punya pilihan lain karena ia sangat ingin buang air kecil. Terlalu lama menahannya dapat berakibat fatal. Betapa terkejutnya ketika bola matanya mendapati pemandangan yang amat mengenaskan.
Seorang makhluk—atau manusia—entahlah—memakai seragam yang sudah kacau di beberapa bagian. Wajahnya dipenuhi bengkak mengerikan. Kepalanya terkulai di sisi kloset denga mata terpejam. Tidak jauh darinya terdapat sebuah kaca mata tebal yang gagangnya patah.
Makhluk—atau manusia tersebut merintih pelan. Kelihatan sekali ia amat kesakitan.
"Si-siapa disana?" tanya Chanyeol terbata. Makhluk di hadapannya tak mengeluarkan suara selain rintihan dan erangan. Bola mata Chanyeol kemudian mendapati sebuah name tag yang tersemat di atas saku jas.
'Kim Jongdae'.
"Astagaaa!" Chanyeol berteriak panik. Ia segera mendekat ke tubuh mengenaskan itu lalu meraih kepalanya. "Hei gendut, apa kau bisa mendengarku? Hei." Panggil Chanyeol seraya menepuk-nepuk pipi Chen pelan.
Chanyeol mencoba mengangkat tubuh Chen yang berukuran dua kali lipat tubuhnya namun tubuh itu merosot.
Chen tidak sadarkan diri.
"Hei gendut, kau bisa mendengarku? Bertahanlah, aku akan segera mencari pertolongan." Kata Chanyeol cemas.
Dengan sekuat tenaga, pemuda tinggi itu menyampirkan lengan Chen pada bahunya lalu memapahnya.
Setelah kelelahan membersihkan laboratorium, sekarang Chanyeol harus kembali menguras tenaganya untuk mengangkat tubuh yang beratnya mungkin lebih dari seratus kilogram.
Chanyeol tidak mungkin membawanya ke UKS karena saat itu sudah gelap. Sekolah sudah tutup. Dengan langkah terseok-seok, Chanyeol akhirnya berhasil memanggil taksi untuk menuju rumah sakit terdekat.
Desauan dingin angin membelai kulit yang kini dipenuhi darah yang mengering.
Hembusannya resah bergelayut, mengganggu pertahanan asa.
Daun-daun merah merebahkan gundah pada dinginnya udara.
Luka menguap oleh hangatnya bahu kokoh yang memopong kuat.
...
Baik Chen maupun Chanyeol tak pernah menyangka,
bahwa senja itu merupakan awal dari sebuah persahabatan abadi.
.
.
—No love, no friendship can cross the path of our destiny without leaving some mark on it forever.
- Francois Mauriac
.
.
Putih...
Putih...
Apa aku sudah mati?
Ibu, maafkan aku karena belum sempat membahagiakanmu...
.
.
Hei...
Hei...
Apa kau bisa mendengarku?
Hei gendut...
.
.
Chen mengerjap-ngerjapkan pelupuk matanya yang berat. Pandangannya buram. Nyeri hebat langsung menghentak kepalanya.
"Kau sudah sadar? Syukurlah."
"Ouch..."
"Berbaring saja dulu, aku akan memanggil dokter. Aku segera kembali!"
Tanpa sempat Chen melihat wajah si penolongnya, pemuda itu sudah menghilang di balik tirai-tirai putih. Untuk memanggil dokter katanya?
Eh dimana aku?
Jadi aku belum mati?
Bau obat-obatan tercium tajam. Sebuah selang kecil yang menyambung pada tabung kecil tertancap di lengannya. Perlahan, Chen meraba wajahnya. Beberapa pleseter dan kapas kini memenuhi permukaan kulitnya.
Chen mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja menimpanya.
Ah iya, toilet dan lubang kloset...
Rasa sakit kemudian menyerang ulu hatinya.
Ah iya, mereka memukuliku berkali-kali...
Chen menghela nafas gundah, berusaha menahan rasa nyeri yang menyerang tubuhnya. Tapi lebih dari itu, rasa sakit memilin-milin hatinya. Perasaannya terlukai. Ia menggigit bibir untuk menghalau rasa perih yang kini merayap di dada.
Kim Jongdae seorang yang kuat...
Kim Jongdae tak akan kalah...
Bagaikan doa, bibirnya berdesis mengulang kalimat tersebut sebagai penguat diri.
Seorang pria tampan berjas putih kemudian masuk dengan membawa stetoskop diikuti oleh dua orang perawat yang mengekor di belakangnya. Dokter tersebut menghampiri tubuh Chen dan mulai melakukan pengecekan standar.
"Kurasa keadaannya semakin baik. Ia hanya mengalami patah tulang ringan di bagian lengan dan akan segera sembuh dalam beberapa minggu. Untung kau segera membawanya kemari." Terang dokter bernama Choi Siwon itu pada Chanyeol.
"Kau temannya?" tanyanya lagi.
Chanyeol nampak bingung dengan pertanyaan si dokter.
Apakah aku temannya?
Ia kemudian mengangguk samar.
"A-aku, teman sekelasnya."
Dokter tersebut tersenyum, "Anak ini beruntung sekali, punya teman yang setia di sampingnya." Ujar Siwon seraya menunjuk Chen dengan ujung dagunya.
Chanyeol terperangah.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Nah nak, sekarang kau bisa mengantarkan temanmu pulang." Dokter Siwon nampak berpikir sejenak sebelum melayangkan pertanyaan yang mengusik hatinya, "Kau yakin luka ini diakibatkan karena jatuh dari motor?"
Chanyeol terdiam. Lagi-lagi ia tidak mampu menjawab.
"Akhir-akhir tindakan bullying atau kekerasan marak terjadi di dunia pendidikan. Beberapa korbannya bahkan sampai ada yang bunuh diri. Aku tidak habis pikir, bagaimana jiwa-jiwa murni remaja bisa tega melakukan tindakan sekeji itu pada temannya sendiri." Siwon menarik nafas panjang. Ia kemudian menatap Chen yang tengah berbaring dengan perban di sekujur tubuhnya.
"Jika kau melihat atau menemukan tindakan semacam itu, jangan ragu untuk melaporkan pada orang dewasa. Bagaimanapun juga, masa sekolah adalah masa yang paling indah. Kehadiran seorang sahabat tentu akan mencegah tindak kekerasan itu sendiri." Lanjutnya pada Chanyeol.
"Nah nak, kau sungguh beruntung memiliki teman sepertinya." Kali ini Siwon berbicara pada Chen.
Chanyeol masih mematung di tempatnya berdiri. Perkataan sang dokter menerobos alam bawah sadarnya.
"Sekarang aku harus memeriksa pasien lainnya. Aku permisi." Pamit Siwon seraya tersenyum menawan.
Chanyeol terpaku.
Sanubarinya terusik oleh sebuah istilah yang berkali-kali di ulang oleh Dokter Siwon.
'Teman...?'
Sebuah erangan membuyarkan lamunannya.
"Ugh..."
Chanyeol cepat-cepat mengeluarkan sebuah kaca mata yang bagian patahnya sudah ia selotipe dengan rapi. Ia kemudian menyerahkannya pada Chen.
"Ini. Aku sudah mencoba memperbaikinya sebisa mungkin."
Karena lengan yang memakai penyangga, Chen kesulitan untuk meraihnya. Chanyeol membantunya memakaikan kaca mata berlensa tebal tersebut sehingga kini Chen bisa melihat dengan jelas.
"Kau kan...?" adalah reaksi Chen ketika akhirnya ia berhasil mengenali wajah penolongnya.
"Yeah, Park Chanyeol." Sahut Chanyeol gamang.
"Kenapa kau menolongku?" tanya Chen sambil meringis.
"Memangnya aku tega membiarkan seekor ikan paus terdampar begitu menyedihkan di toilet. Sudahlah, dimana rumahmu? Aku harus mengantarmu pulang."
Chen menggeleng cepat.
"Jangan... aku tidak mau pulang. Ibuku pasti sedih jika melihatku dalam keadaan seperti ini." Ratap Chen memelas.
Chanyeol memandangnya dengan penuh arti. Dalam hati ia merasa kasihan. Ibu mana yang tidak akan shock melihat anaknya pulang dengan babak belur. "Aish, merepotkan saja. Baiklah, kau akan kubawa ke rumahku. Kau bisa berjalan sendiri kan?"
Chen mengangguk lemah.
Namun Chanyeol tetap membantunya untuk memopong tubuhnya yang penuh luka.
"Terima kasih." Bisik Chen pelan. Ia nyengir antara tawa dan tangis.
Chanyeol mengangguk ringan sebagai balasan.
Keduanya berjalan berdampingan keluar dari rumah sakit.
.
.
.
Seminggu kemudian...
"Hoaaahhhmmm... akhirnya aku bisa tidur siang juga." Seorang pemuda berwajah ceria merenggangkan otot-ototnya yang pegal. Ia berjalan santai menuju rooftop, tempat persembunyiannya ketika membolos pelajaran.
Baru saja ia hendak merebahkan diri, pandangannya bersinggungan pada tubuh tambun yang kini berdiri di ujung rooftop. Hembusan angin pelan mungkin dapat membuatnya terjatuh dari ketinggian.
Chanyeol terbelalak.
Tangannya menggapai-gapai dari kejauhan, "Hei! Apa yang kau lakukan diujung sana? Kau mau mati ya!?"
Si pemilik tubuh tambun menoleh pada sumber suara. Ia menjilat bibirnya yang tidak kering. Gugup.
"Ja-jangan mendekat! Atau aku akan loncat." Ancamnya serius.
Chanyeol kalang kabut. "Kalau kau mati, kau membuat usaku sia-sia karena berusaha menolongmu kemarin! Apa kau tidak tahu tubuhmu itu sangat berat sampai aku kepayahan menyeretmu ke rumah sakit!"
Chanyeol menampar mulutnya sendiri.
Mestinya bukan ini yang ia katakan.
"Karena itu—jika aku mati—maka tidak ada lagi orang-orang yang akan kerepotan." Isaknya pelan. Bulir-bulir bening mulai menggenangi pipinya yang montok.
Sepasang kekasih—err—lebih tepatnya teman kencan, tiba-tiba menyembul dari balik pintu yang menghubungkan antara tangga dan rooftop. Mereka sengaja mencari tempat yang 'jauh dari keramaian' untuk saling bertukar 'rayuan'. Ketika kaki mereka telah menapaki rooftop, Iris salah satu dari keduanya melebar saat menangkap pemandangan seorang siswa yang siap melompat dari ketinggian.
Jongin terperangah.
"Astagaaa, apa dia akan bunuh diri?"
Teman kencan Jongin bergidik ngeri lalu kabur meninggalkannya. Peristiwa orang bunuh diri sungguh bukan pemandangan yang enak untuk disaksikan.
Pemuda bersurai hitam itu ikut panik. Ia bergegas menghampiri Chen yang siap melompat dalam hitungan ketiga.
"Kemarilah, aku akan memegang tanganmu!"
Chen menggigit bibirnya sendiri. Sebenarnya ia juga takut. Apakah kematian akan berlangsung cepat dan tanpa rasa sakit seperti yang ia bayangkan?
"Kau tidak boleh mati! Hanya orang bodoh yang mengakhiri hidupnya sendiri!" bujuk Chanyeol yang kini mulai berjalan mendekati Chen.
Tapi aku sudah tidak sanggup, Ibu...
Aku hanya membuatmu sedih setiap hari...
Maafkan aku...
"Setidaknya kalau ingin mati, kau tinggalkan dulu otakmu yang cemerlang itu biar bisa kupakai!" racau Chanyeol asal.
Chen meremas jarinya erat-erat. Keringat dingin mulai meluncur di pelipisnya. Tubuhnya bergetar.
"Jangan mati di sekolah ini! Aku tidak mau hantumu bergentayangan dan mengganggu saat aku sedang berkencan!" kalimat ini—kau pasti sudah tahu meluncur dari bibir siapa bukan?
Chanyeol lalu menoleh pada si pemuda tan berbibir tebal yang menyeru kalimat narsis barusan. Iris cokelatnya melebar.
"Jo-jongin? Kau Kim Jongin kan?"
"Loh Chanyeol?"
Hening.
"Astagaaa! Aku tidak tahu kalau kau masuk sekolah ini!"
"Saat upacara penerimaan aku memang melihat orang yang mirip denganmu, tapi saat itu aku tidak yakin. Ternyata itu benar-benar kau!" sahut Jongin girang.
Keduanya lantas saling berpelukan, melupakan Chen yang ada di tengah-tengah mereka.
"Aku akan melompat dalam hitungan lima. Lima... empat..." potong Chen memecah keheningan.
"JANGAN!" jerit Chanyeol dan Jongin serempak.
Keduanya kemudian menarik tubuh gemuk Chen sekuat tenaga menyebabkan ketiganya terjungkal ke belakang. Kepala Chanyeol bahkan terantuk lantai rooftop yang keras. Chen ikut mengaduh pelan.
Nafas ketiganya terengah-engah.
"Jongin..." panggil Chanyeol disela nafasnya yang masih memburu.
"N-ne?"
"Senang bertemu lagi denganmu."
Jongin tersenyum kecil. Dadanya naik turun. Pandangannya kemudian ia alihkan pada langit biru dan kapas-kapas yang bergelung.
.
.
Langit musim gugur menjadi saksi ketika tiga hati mulai saling menyapa.
Birunya langit menaungi tiga jiwa yang saling bercengkrama.
Rasa sepi perlahan tergantikan oleh harapan.
Kesendirian perlahan menyeruak menjadi sebuah kehangatan
.
.
When the days cool
And the nights grow long
With a bright silver moon in the sky
.
When the sleepiness sets in
We will sleep until
Winter breaks
.
Autumn is coming...
.
.
Suatu hari, di musim gugur.
Chen memungut kembali asanya yang tercecer.
.
.
to be continued...
.
.
a/n:
Aaaaah gimana-gimana?
Terima kasih sudah menyempatkan membaca chapter ini.
Dami juga ucapkan terima kasih pada:
Exoticshawol, moyayow, dindin, kim jee wook, hanury, gichan98shin, huangtaozi, kopi luwak, yeolii, hyuna21, guest, penghulu kaisoo, Lee Yuki, Chonurullau40 a.k.a Miss Zhang.
Yang sudah meninggalkan 'jejak' di chapter sebelumnya.
Punya ide? Kurang puas? Atau hanya sekedar komentar?
Silakan tinggalkan di kolom review.
Mari biasakan saling menghargai :)
