A Memory of Hanami
"If broken is beautiful, we've never been lovelier"-J.L. Wyman
Pairing : Kaisoo (Jongin/Kyungsoo)
Chapter 1
Bistre
Sapuan angin sesaat menerbangkan helaian rambutku, dan membawa kembali pada kenangan kita saat itu. Janji yang kita ukir diatas bongkahan batu dipinggiran sungai tempat kita bertemu untuk pertama kalinya. Dulu kita berjanji untuk tak terpisahkan, walau terkesan naif, tapi itu hal wajar untuk anak belasan tahun yang baru pertama merasakan sengatan cinta pandangan pertama, seperti kita.
Seoul ,20 Februari 2017
.
Suara lonceng menyadarkan Kyungsoo dari lamunan panjangnya, dan sudah menjadi sebuah rutinitas untuknya berada didalam kafe yang hampir setiap hari dia kunjungi, bahkan seluruh pegawai kafe itu sudah mengenal Kyungsoo, dan beberapa diantaranya cukup akrab dengannya. Kyungsoo melihat kearah pintu kafe saat lonceng pintu itu berbunyi, dan sesaat atensinya terfokus pada sesosok pria yang baru saja masuk dan terlihat sedang mencari tempat kosong yang nyaman untuk ditempati. Dengan tatapan sendu, Kyungsoo terus mengikuti pergerakan pria itu. Salah satu pria yang pernah ada di masa lalunya, yang sebenarnya dia sendiri tidak tahu apakah dia senang bisa melihat pria itu lagi atau seharusnya dia sedih karena pria itu telah kembali membawanya pada kenangan perih yang sangat membekas hingga kini.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.50, tersisa 10 menit sebelum dia beranjak dan melanjutkan perjalanannya ke kantor tempat ia bekerja, tapi Kyungsoo memutuskan untuk beranjak saat itu juga, selain karena dia harus cepat sampai kantor karena deadline sudah didepan mata, juga karena dia merasa belum sanggup berada dalam situasinya saat ini. Kyungsoo belum siap bertemu pria itu.
Kyungsoo pun berjalan tergesa-gesa menuju pintu keluar kafe itu, karena dia tidak ingin pria itu menyadari kehadirannya. Kyungsoo nyaris saja menabrak pelayan yang sedang membawa nampan berisi secangkir kopi hitam dan sepotong cheese cake.
Sesaat Kyungsoo diam melihat sajian yang ada diatas nampan didepannya dengan pandangan yang sulit dimengerti.
"Ternyata masih belum berubah,"gumam Kyungsoo dengan sangat lirih.
Sapaan pelayan itu menyadarkan Kyungsoo yang lagi-lagi larut dalam kenangan.
"Kyung, kau sudah mau pergi? Tumben sekali, bahkan ini belum jam 8", tanya pelayan itu, salah satu pelayan yang cukup akrab dengan Kyungsoo. Xiumin.
"Iya, aku baru ingat jika aku ada deadline, kau tau sendiri kan seperti apa atasanku?" jawab Kyungsoo "kalau begitu aku pergi dulu oke? Salam pada yang lain,"lanjut Kyungsoo sambil bergegas keluar.
Yang tidak Kyugsoo tahu bahwa, pria itu menyadari kehadiran Kyungsoo sejak dia memasuki kafe ini, ada sengatan rasa sakit saat dia melihat Kyungsoo pergi saat dia datang. Kyungsoo melihatnya, dan kemudian memutuskan pergi. Dan dia cukup paham dengan sikap Kyungsoo.
"Aku memang pantas mendapatkan ini Kyung, tapi aku senang kau baik-baik saja, walau kau terlihat lebih kurus , dan aku merindukanmu," lirihnya pada hembusan angin yang masuk melalui jendela yang dibiarkan terbuka disampingnya.
Dulu, kau bercita-cita menjadi seorang Arsitek agar suatu saat nanti kau bisa membangun istana untuk kita tempati. Istana yang akan menjadi tempat kita menghabiskan waktu hingga menua dan beruban. Bersama dengan anak cucu kita yang akan meramaikan suasana didalamnya, menjadi tempat terhangat ditengah dinginnya musim salju, dan menjadi sebuah rumah tempat kita pulang. Dan aku bercita-cita menjadi seorang 'wanita' dihidupmu. Wanita yang mendampingimu sampai akhir hayat kita, wanita yang melahirkan anak-anak lucu untukmu, wanita yang mengurus semua kebutuhanmu, wanita yang membesarkan anak-anakmu hingga mereka tumbuh besar, dan menjadi wanita yang akan selalu melimpahkan cinta dan kasih sayang untukmu dan anak-anak kita, sehingga tiada lagi tempat untukmu bersandar kecuali dalam pelukanku. Dan sore itu, kita berharap sang angin menyampaikan permohonan kita pada Sang Penguasa, dan kelak mengabulkannya.
.
.
Kyungsoo tiba dikantor lebih awal, dia bekerja sebagai Account Management disebuah perusahaan periklanan di Seoul. Dia memasuki ruangannya dan segera menyibukkan diri, meski tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Otaknya buntu seketika, bayang-bayang pria itu terus menghantui pikirannya sejak dia meninggalkan kafe itu.
"Sial, sepertinya aku butuh udara segar," lalu dia bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangannya. Ketika didepan ruangannya, dia berpapasan dengan Sehun, atasannya.
"Kau mau kemana?" tanya Sehun dengan sangat datar, sedatar wajahnya menurut Kyungsoo sih,
"Rooftop, aku butuh udara segar,"jawab Kyungsoo dengan enggan, karena dia sedang tidak dalam mood yang bagus untuk meladeni seorang Sehun, meski dia atasannya sekalipun.
Sehun hanya menatap Kyungsoo tajam kemudian pergi melanjutkan perjalanan menuju ruangannya.
"Dasar Ice Prince,"gerutu Kyungsoo sambil berlalu.
Saat Kyungsoo membuka pintu, dia langsung disambut hembusan angin yang cukup kencang. Kyungsoo hanya mengenakan baju kerja berbahan chiffon, dan rok hitam sedikit diatas lutut, dan sialnya dia lupa membawa syal dan jaketnya. Sebentar lagi musim dingin berlalu, tapi angin masih terasa sangat dingin, apalagi dipagi hari seperti ini.
Kyungsoo menghembuskan nafasnya, menatap langit kelabu sambil membuka sedikit kenangannya yang susah payah dia kubur. Selama ini dia sudah berlari, bersembunyi dan melakukan apapun agar dia tidak lagi terjebak dalam masa lalu. Sejujurnya dia tidak ingin menjadi pengecut seperti ini, tapi rasa sakit itu tak bisa dia tahan lagi, merasa tak sanggup bertahan, Kyungsoo pun memutuskan untuk pindah dari Osaka,Jepang ke Seoul, tempat kelahirannya.
Kepindahannya beberapa tahun lalu pun mengubah serta kepribadiannya, Kyungsoo saat ini bukan lah Kyungsoo yang polos seperti dulu, dia berubah agar dia bisa melindungi dirinya. Karena menurutnya, menjadi baik pun tidak menjamin akan selalu diperlakukan dengan baik pula.
Tiba-tiba sebuah baju hangat tersampir dibahunya, Kyungsoo tahu siapa yang melakukannya.
"Hei bos, bukankah seharusnya kau diruanganmu?" tanya Kyungsoo tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Aku punya firasat bahwa salah satu karyawanku akan ada yang bunuh diri hari ini,"jawab Sehun seadanya sambil mengeluarkan bungkusan rokok disaku celananya.
"Kau sedang melucu atau apa? Garing, kau tahu?"balas Kyungsoo sambil membalikkan badanya menghadap Sehun, dan mengambil sebatang rokok Sehun, dan meminta pematiknya pada Sehun.
Sehun menyalakan pematiknya dan Kyungsoo langsung menyodorkan rokoknya. Mereka duduk dalam keheningan. Hanya hembusan asap rokok yang keluar dari mulut keduanya. Hal seperti ini sudah sering dilakukannya bersama Sehun, entah kapan mereka menyadari bahwa mereka sama-sama menyukai suasana yang hening seperti ini.
Rokok Kyungsoo habis terlebih dulu, saat Kyungsoo berdiri dan akan beranjak, tiba-tiba Sehun menarik tangan Kyungsoo hingga Kyungsoo terjatuh diatas pangkuan Sehun. Kedua tangan Kyungsoo tersampir di bahu kokohnya Sehun, sedangkan tangan Sehun memeluk Kyungsoo agar wanita itu tak bisa kemana-mana.
Mereka saling bertatapan, dan mata mereka saling merefleksikan bayangan keduanya. Tidak ada yang berniat bicara, sampai akhirnya Sehun menekan tengkuk Kyungsoo dan membawa bibirnya bertemu dengan bibir lembab Kyungsoo, lalu Kyungsoo pun ikut memejamkan mata sambil menikmati aroma tembakau yang tersisa dibibir Sehun.
.
.
Sebuah cerita seperti ceritaku, seharusnya tak layak untuk diceritakan. Untuk mengerti sebuah kekosongan, maka sang takdir pun memberiku peringatan. Mungkin untuk memngingatkan ku bahwa hidup tidak melulu soal bahagia. Ada rasa sakit yang seharusnya tidak dilupakan. Euphoria dalam hidupku bersamamu membutakan ku akan sebuah kenyataan itu. kau melimpahkan cinta yang bertubi-tubi, seolah menantang dunia bahwa hanya kau yang sanggup memberiku bahagia tanpa sakit didalamnya. Dan kemudian aku terlena, hingga akhirnya kau memutuskan untuk mengenalkanku rasa sakit itu. Tapi ternyata, kau pun melimpahkanku rasa itu sama bertubi-tubi nya. Tanpa penawar, tanpa bantuan, kau terus mendorongku kesana, hingga akhirnya aku mati rasa.
To be continue….
.
.
.
Well,well,well.
Ini cerita sungguh diluar ekspektasi. Awalnya ga bikin plot kek gini, cem mana pulakkk!
Aaaah,jadi bingung kan nih cerita mau dibawa kemana ~mau dibawa kemanaaa hubungan kitaaaa….~
Mungkin nih yah, ini Cuma akan dibuat twoshoot atau threeshoot. Tapi kalo kalian maunya dipanjangin,doain aja aku nya ga males. Karena buat nulis ini harus nunggu mood yang full, berhubung akupun baru cicip dunia tulis menulis kek gini. Jadi yaaah gitu deh.
Review yg bersifat membangun akan sangaaaaaaaaaat aku harapkan, biar kesananya bisa lebih baik lagi.
Panggil aku Rin,jangan Thor, karena aku ga punya palu-nya,lagian ribet amat kemana-mana bawa palu~kekekeke
Dan salam kenal buat kalian semua :*
Saranghae :* :* :*
