Reinkarnasi kami

.

.

.

.

.

Disclaimer: Vocaloid@Cryton, Yamaha, Internet.co

Kita pasti pernah merasa kehilangan dan oleh karena itu kita diberi rasa trauma agar kita tidak kehilangan lagi.

Halo my friend tidak kusangka sudah jadwalnya update ya, kali ini Yuka-chan pengen nge post lanjutan fanfic "Reinkarnasi Kami" dengan tokoh utama kita Rin dan Len.

Juga Yuka-chan minta maaf gak bisa update kemarin dikarenakan laptop saya lagi di service sama bentar lagi UTS jadi harus belajar deh

Bagaimana kisah selanjutnya, kita langsung saja scroll ke bawah semua para hadirin yang lagi megang HP/laptop

.

.

.

.

(Normal P.O.V)

Len terbangun,"Aouw, kepalaku, eeh aku dimana ini" ucap Len menemukan dirinya sudah terbaring di kamar rumah sakit. Pandangan matanya lumayan kabur karena tidak mengenakan kacamata sambil melihat sekeliling tempat tersebut.

Len melihat beberapa bagian tubuhnya dan tidak lupa dengan kepalanya yang sudah terbalut perban.

"Len, akhirnya kau sadar juga" terdengar suara yang tidak asing lagi bagi Len, siapa lagi kalau bukan kedua orangtuanya Lily dan Kiyoteru

Mereka langsung memeluk Len yang masih duduk di ranjang pasien tersebut

"Eeh, Mama Papa, kenapa aku bisa di rumah sakit"tanya Len dengan suara lirih. Dirinya penasaran dan ingin tahu penyebabnya ia bisa berada disini.

"Kami tidak tahu mengapa kau bisa seperti ini karena saat kami sedang mencarimu dan Rin, kami menemukan kalian berdua sudah pingsan di taman dengan beberapa luka di tubuh kalian" jelas Kiyoteru sambil memegang tangan anak laki laki satu satunya ini.

Len teringat dirinya dan Rin sempat berada di taman dan saat itu dia dan Rin sempat dihajar oleh sekumpulan anak misterius berambut warna warni.

"Rin, Rin, dimana dia?" tanya Len terlihat kebingungan, sekarang ia malah kuatir dengan kondisi Rin daripada dirinya. Kepalanya yang masih terbalut perban menoleh kesana kemari mencari dimana Rin.

Kiyoteru dan Lily menunduk, alis mereka berkerut dan perlahan air mata mereka mulai keluar.

"Len..., Rin..., dia meninggal dunia tadi pagi... Tepat saat kau dan Rin masuk ke rumah sakit" jawab Lily disela tangisnya lalu ia memeluk badan suaminya.

Laki laki muda berambut senada dengan ibunya tersebut menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya...

"Apa...? Benarkah itu...? Hehehe Rin mati?"tanya Len sedikit tertawa sampai tidak percaya dengan perkataan ibundanya tersebut.

Lily dan Kiyoteru hanya mengangguk lemas dan memberi semangat pada Len sambil memeluknya.

Len teringat kenangan bersama yang selalu ia lakukan bersama Rin dan kini semuanya kandas.

"Rin..., hiks-hiks.., mengapa ia bisa pergi meninggalkanku duluan huhuhu" Len akhirnya menangis, ia tidak percaya saudara satu satunya sekaligus teman sehidup sematinya pergi meninggalkannya untuk selama lamanya.

"Kata dokter ia mengalami benturan keras di kepala belakangnya jadi bagian otaknya tidak bisa diselamatkan"jawab Kiyoteru sambil mengusap air matanya. Kiyoteru juga sangat sayang dengan anak perempuannya tersebut jadi jangan heran ia menangis kehilangan putri manisnya tersebut.

"Riiiiiinnnnn... " ia berteriak kencang lalu Len kembali menangis, sampai selimutnya dipenuhi dengan air mata kehilangan.

(Len P.O.V)

Sudah sebulan setelah kabar meninggal Rin, kini aku harus mengikuti sekolah di kota baruku ini setelah melalui masa penyembuhan di rumah sakit.

Dan untuk yang pertama kali aku berangkat sekolah tanpa Rin disampingku

Aku tidak bisa berhenti memikirkannya bahkan di hari pertama di sekolah baruku aku tidak bisa konsentrasi belajar juga aku tidak tertarik untuk berteman dengan siapapun.

Hanya Rin saja yang dapat membantuku mendapat teman baru karena sifat aktifnya. Tapi sekarang dirinya sudah tidak ada.

Aku juga masih memikirkan siapa pelaku yang menghajar Rin dan aku di taman dulu. Ingin sekali aku membalas perbuatan mereka lakukan terhadap Rin.

Tidak kusangka bel istirahat sudah berbunyi, aku memanfaatkan hal ini untuk tidur di kelas menunggu jam masuk lagipula aku tidak terlalu lapar. Selagi teman teman lain menghabiskan bekal mereka.

"Kau tidur lagi?"

Tiba tiba aku mendengar suara yang sangat familiar muncul di pendengaranku, "Suara.. Suara siapa ini?"

Aku terbangun mencari asal suara tersebut namun aku melihat kelasku yang tadinya ramai menjadi sepi dan suasana kelasnya menjadi agak gelap dengan cahaya matahari terbenam menghiasi kelasku.

Aku heran apakah aku ketiduran di kelas sampai sore. Kemudian aku melihat sekeliling kelasku dan menemukan seorang gadis berambut Pirang sama seperti diriku dengan pakaian hitam blues dan rok pendek berwarna sama dengan sepatu boots tinggi. Dia terlihat membelakangiku menghadap papan tulis kelas

Kakiku mendekatinya perlahan, namun saat dia berbalik, mataku terbelalak lebar melihat gadis ini adalah Rin.

"Rin..., kau masih hidup?"tanyaku tak percaya melihat Rin berada di depanku.

"Apakah aku sedang bermimpi sekarang?" kedua mataku tidak lepas dari gadis di depanku ini.

"Hihihi, perlu kau ketahui, aku ini bukan Rin tahu" jawab gadis ini sambil tersenyum simpul dan misterius.

Len kaget, "Bukan Rin? Lalu kau siapa? Mengapa wajah dan rambutmu sangat mirip dengan Rin?" padahal aku berpikir jika benar gadis ini Rin, aku ingin sekali memeluknya

"Pertama perkenalkan namaku Aoki, aku ini adalah seorang peri yang mengambil wujud beberapa orang, terus alasan mengapa aku mirip dengan Rin karena aku ingin saja pakai wujud Rin agar kau bisa nyaman dengan wujudku ini"jawab gadis bernama Aoki itu dengan santai

"Peri? Aku yakin pasti aku sedang bermimpi dan apa tujuanmu denganku?" aku mencubit lengannya namun tidak terjadi apa apa. Dalam bayanganku sosok peri adalah berukuran kecil, imut, cantik, dan memiliki sayap beda dengan gadis ini yang terlihat misterius dan tidak menunjukkan wujud aslinya.

"Apa-apaan ini kok aku gak bisa bangun"

"Siapa bilang kalo ini mimpi?"

"Apa yang kau katakan?"

"Hah kau ini terlalu keras kepala dan sering bertanya, jadi bingung harus menjawab pertanyaan pertanyaanmu"ujar Aoki yang kini sudah duduk diatas meja.

"Sudah wajarkan orang bingung bertanya" ucapku tidak mau kalah dengan lawan bicaranya ini.

Gadis itu menghela nafas, "Oke oke, aku akan langsung pada intinya saja, jadi aku ini mulai tertarik padamu"

"Tertarik padaku?"

"Yups, aku dengar bahwa adik kembarmu meninggal dunia seminggu yang lalu" jawab Aoki serius

Aku membuang mukaku, jujur aku masih tidak bisa melupakan kenyataan paling menyedihkan itu aku ingin sekali waktu dapat terulang kembali dan aku bisa menyelamatkan Rin saat itu.

"Jadi apa kaitannya denganmu?"wajahku mulai serius menatapi gadis misterius ini.

"Tentu saja ada, sudah aku bilang aku mulai tertarik padamu dan aku ingin membantumu dari masalah yang kau alami sekarang" jawab Aoki

"Membantuku?"

"Yup,kamu masih ingat anak anak nakal yang menghajar kau dan Rin dulu"

Anak anak berambut warna warni,aku sangat ingat mereka meskipun aku tidak bisa mengingat betul wajah mereka.

"Aku masih ingat,apa kau tahu siapa mereka?" aku ingin tahu apakah gadis ini tahu mengenal anak anak Itu.

"Wah sayang aku tidak soal itu, tapi aku bisa memberi tawaran menarik untukmu"

"Tawaran menarik, apa kau mencoba melabuiku?" aku sedikit tidak percaya dengan gadis ini dan mencoba sedikit berhati hati padanya seperti yang ibuku katakan padaku untuk tidak percaya pada orang asing.

"Sudah kubilangkan aku akan membantumu, mana mungkin aku mau menipumu" jawab Aoki dengan nada melengking

"Huh, kamu orangnya tidak percayaan ya,pantas kamu tidak mempunyai teman selain adik kembarmu itu" ujar Aoki agak kesal dengan sifatku yang agak kaku

Jujur perkataannya membuatku tersinggung namun ada benarnya juga membuatku hanya bisa menunduk

"Karena itu aku mulai tertarik padamu dan aku ingin membantu dengan kekuatanku, tapi sebelum itu apakah kau benar benar ingin membalaskan dendam pada anak anak nakal Itu" tanya Aoki menopang dagunya sambil melipat kakinya.

"Tentu saja,mereka telah membuat Rin meninggal dan membuatku menderita sekarang, aku ingin...aku ingin sekali..." aku berteriak penuh emosi sambil menggenggam kedua tanganku.

Aoki terlihat serius mendengar kelanjutan jawabanku

"..membunuh mereka semua" sambungku dengan suara keras diikuti senyuman Aoki

"Kurasa aku telah memilih pilihan yang tepat, dan aku tidak perlu membujukmu lagi" kemudian Aoki bangkit dari meja lalu berjalan mendekatiku membuatku sedikit mundur ke belakang.

"Kagamine Len, apa kamu mau berinkarnasi lagi di dunia ini?"

Bersambung

Pertama Yuka-chan mengucapkan maaf sekali lagi karena telat update karena sumpah bener banyak kendala mulai dari banyak tugas,ulangan,uts,tambah lagi laptop kesayangan Yuka-chan harus di servise huhuhuhu.

Tapi Yuka-chan tidak menyerah dan tetap membuat fanfic untuk para readers tercinta muaach (meskipun agak telat)

Aoki : Aku senang Yuka-chan *suara imut*

Yuka : Senang ada apa? *author mulai gemes mau meluk Aoki

Aoki : Akhirnya aku bisa debut juga di fanfic ini,aku sudah menunggu lama utk saat ini

Yuka : Iyaa, kayak artis korea debut saja, semoga kita dapat bekerja sama dengan baik Aoki-chan

Aoki : H'ai Yuka-sensei ( Aduh senangnya dipanggil sensei )

Len geleng geleng kepala liat tingkah kita berdua

Baiklah sekian sudah untuk chapter 2 ini, jadi intine Len bertemu dengan gadis misterius bernama Rin yang memberi tawaran padanya untuk berinkarnasi. Apakah Len mau menerima tawaran tersebut dan apa yg akan terjadi selanjutnya tunggu chapter 3 yak.

Itu yang bisa saya sampaikan, jangan lupa favorit,follow,dan review fanfic ini guys biar makin eksis He-he-he. Arigatou minna