Hope you like this fiction :)
Hampir semua yang mengenal Sehun dan Jongin pasti menanyakan kewarasan Jongin? Kalau mengingat kata Baekhyun, "Kenapa orang sebaik Jongin mau menjadi kekasih setan kecil macam Sehun?" Nah setan kecil itu panggilan sayang Baekhyun untuk Sehun. Jadi sekarang Jongin yang akan berbagi tentang apa saja sih yang disukainya dari setan kecilnya Baekhyun.
Sepatu Baru
Jongin mengenal Sehun sejak mereka satu kelompok dalam pelajaran kimia ditahun awal sekolah menengah. Sehun langsung menarik perhatian Jongin dengan sepatu labnya yang berwarna hijau terang, hijau neon, atau hijau stabilo. Macam-macam sebutan orang untuk warna sepatunya saat itu. Disaat orang lain memakai sepatu putih bersih untuk laboratorium dan Sehun lebih memilih warna itu. Jongin tidak mengeti apa yang ada dipikiran Sehun saat itu. Sehun sendiri sih tidak perduli mengenai tangapan orang tentang sepatunya. Tapi Jongin perduli.
"Sehun, kenapa kau memilih sepatu berwarna seperti itu?" Jongin bertanya akhirnya setelah sejak awal praktikum ditahannya.
"Ini sepatu kakakku. Dia mewarnai sepatu labnya dengan warna ini. Sepatunya masih bagus. Sayang sekali kalau aku harus mengeluarkan uang sakuku demi sepatu lab baru kalau yang ada saja masih bagus kan?" Sehun mengembangkan senyumnya bangga.
Jongin mengangguk paham. "Kapan ulang tahunmu?" Jongin bertanya.
Sehun mengernyitkan alisnya bingung. "Bulan depan tanggal 12. Kenapa memangnya?"
Jongin tidak menjawab dan malah meninggalkan Sehun yang menjadi kesal karena diabaikan.
Bulan selanjutnya tanggal 12 saat praktikum kimia
Jongin menghampiri Sehun. "Sehun." Panggilnya, membuat Sehun yang sedang sibuk mengerjakan laporan minggu sebelumnya menatap Jongin. "Selamat ulang tahun." Jongin berkata sambil menyerahkan kadonya pada Sehun. Tanpa menunggu jawaban Sehun, Jongin langsung masuk ke dalam laboratorium meninggalkan Sehun.
Sehun hanya melongo dibuatnya, Jongin itu kenapa sih? Bicara saja irit sekali, Sehun menggumam sambil membuka kado yang diberikan Jongin.
Mata Sehun yang hanya segaris pun membulat melihas isinya. "Waah sepatu lab baru!"
Pekerjaan Rumah
Jongin dengan panik mencari poster untuk tugas di mata kuliah Pengenalan Bisnisnya pagi ini. Kalau hanya sekilas sih tidak akan terasa paniknya Jongin. Tapi Sehun merasakan kalau tarikan nafas Jongin tidak setenang biasanya.
Gumaman seperti sialan, kemarin kan sudah kusimpan disini, tidak luput dari pendengaran Sehun. Dosen mereka terkenal dengan ketegasannya. Sebenarnya sebagai mahasiswa kesayangan harusnya Jongin tidak perlu panik kan?
"Kim Jongin! Mana tugasmu?" Tanpa pikir panjang Sehun berjalan ke depan dan menyimpan posternya di meja Jongin sambil berjalan ke meja dosen.
"Maaf Mr. Lee, saya tidak membawa tugas saya pagi ini." Kata Sehun setelah sampai dihadapan dosennya itu.
Sehun sih sudah jadi langganan dihukum oleh dosen-dosennya. Jadi dosennya hanya melihat sekilas lalu menjawab, "Tunggu diluar dulu sana." Dosennya berkata kalem. Jadi Sehun langsung berbalik keluar kelas, masih bisa didengarnya saat dosen berbicara lagi, "Kim Jongin kau bawa postermu atau tidak?"
Dengan bangga Sehun berdiri di depan kelas. Sejak menjadi kekasih Jongin kan biasanya hanya Jongin yang dianggap baik, Sehun juga mau lah sesekali dianggap pahlawan.
Pintu kelas terbuka dan keluarlah Jongin. "Masuk sana." Katanya, "Mr. Lee melihat kau memberikan postermu kepadaku."
Sehun terlihat bingung, "Lalu bagaimana denganmu? Maksudku postermu hilang atau bagaimana?"
"Tertinggal di mobil sepertinya, tadi sempat ku keluarkan saat memasukkan kunci mobil ke tas." Sehun masih memperlihatkan ekspresi bingungnya. Jongin yang kesal akhirnya mendorong Sehun masuk ke kelas. "Jangan terlalu sering berpikir begitu, nanti kepalamu botak."
"Well, gagal menjadi pahlawan Mr Oh?" Mr. Lee menyindir Sehun saat Sehun kembali masuk ke kelas yang hanya dibalas Sehun dengan dengusan.
Makan Siang
From: Kim Seh_un
Makan siang nanti aku ke kantormu. Sudah kumasakkan kesukaanmu loh Jjong :)
Jongin mengernyitkan dahinya, tidak biasanya Sehun memasak. Anak manja begitu mana mau menyentuh dapur. Jongin jadi mengerti sekarang kenapa minggu lalu Sehun menanyakan makanan kesukaannya. Sehun itu sudah hampir satu tahun berpacaran dengan Jongin, masa makanan kesukaan saja harus ditanya lagi?
Diam-diam Jongin menghela nafas lega. Untungnya saat ditanya Sehun dia hanya menjawab suka udang goreng. Tidak sulit kan menggoreng udang? Tidak akan membuat jari-jari halus Sehun lecet.
Saat makan siang
"Tebak aku masak apa?" Kata Sehun menyembunyikan kotak bekal dibelakang punggungnya.
"Udang goreng." Jawab Jongin kalem.
Sehun menghela nafas lelah. "Harusnya pura-pura tidak tahu saja Jjong. Kan aku ingin lihat juga wajah terkejutmu."
"Mau makan tidak? Aku masih ada kelas jam 1 nanti." Jongin berkata menahan senyumnya.
"Baiklah, tapi aku suapi ya?" Sehun dengan permintaan anehnya.
"Aku bukan bayi Sehun, tanganku juga tidak sedang sakit. Aku makan sendiri saja." Jongin berkata. Kesal juga dengan keinginan Sehun yang aneh. Sehun tidak berkata apa-apa, hanya menunjukkan muka yang memelas. "Baiklah, sekali saja tapi." Jongin menyerah.
Dengan semangat Sehun membuka kotak bekalnya lalu dengan sumpit dia mengambil udang yang sudah digorengnya dengan susah payah membuatnya berlumur tepung dan menyodorkannya didepan mulut Jongin. "Aaaa." Katanya menyuruh Jongin membuka mulut.
Firasat Jongin tidak baik tapi dia tetap membuka mulutnya dan menerima udang yang disuapkan Sehun.
"Sehun?" Jongin memanggil setelah menelan udangnya.
"Ya?" Sehun berharap Jongin minta terus disuapi.
"Kau memasak udang menggunakan telur ayam ya?" Jongin berkata dengan nafasnya yang memberat.
"Iya. Kalau tidak kan tepung dan udangnya tidak akan menempel." Sehun bangga karena dia tahu sesuatu yang penting seperti itu. Tapi Jongin tidak menanggapinya. "Memangnya kenapa? Oh! Jongin! Astaga aku baru ingat kau alergi telur ayam." Sehun panik melihat Jongin yang kesulitan bernafas.
Mata Sehun berkaca menahan tangis, "Dimana inhalermu?" Sehun bertanya panik. Jongin menunjuk bagian tasnya sambil mencoba mengatur nafasnya. Dengan cepat Sehun mengambil inhaler tersebut dan membantu Jongin menggunakannya. Sadar atau tidak Sehun menangis karena telah membuat alergi Jongin kambuh. Dia merutuki dirinya karena sudah ceroboh begini. Sudah hampir satu tahun menjadi kekasih Jongin, alerginya Jongin saja lupa.
Saat Jongin sudah mulai tenang dan bisa mengatur nafasnya, dia terkejut melihat Sehun yang menangis. Jongin membingkai wajah Sehun dengan telapak tangannya dan menghapus air mata Sehun dengan ibu jarinya. "Kenapa menangis hm?" Suara Jongin masih serak karena alerginya.
"Kau sakit karena kecerobohanku." Sehun berkata sambil menahan isaknya.
Jongin yang gemas melihat Sehun menangis pun memeluknya. "Aku gemas melihatmu menangis, tapi jangan terlalu sering menangis ya. Lendir dari hidungmu itu kemana-mana." Jongin terkekeh geli.
Sehun mendengus, "Untung aku mencintaimu hitam huh."
"Aku juga kok." Jongin membalas.
"Juga apa?" Sehun memancing Jongin.
"Si hitam ini juga mencintaimu." Jongin membalas.
Sebenarnya kalau menurut Jongin, Sehun itu tidak separah kelihatannya. Mungkin dari luar terlihatnya seperti itu, tapi Jongin yang tau bagaimana Sehun. Tak perlu banyak kata lah untuk menjawab, "Kenapa orang sebaik Jongin mau menjadi kekasih setan kecil macam Sehun?"
So hard to make this so sweet
Not good enough I know
Thank you for reading this fiction :)
