Ultimatum
Wataru takayama
.
.
.
.
krenyes komedi; tentative crime; romansa maksa
Hey bangun! Bangun! Bangun! Bangun! Bangun! Bangun! Bangun! Bangun!
Apa aku harus menyebut seribu kata 'bangun' agar kau bangun?
HOOOYYY! BANGUN!
#KKKRRRRIIIIIINNNGGGGGGGGGG!#
Pelat-pelat simbal jam wekerku beradu, menghantam satu sama lain sehingga meledak!
Aku ralat suaranya:
#DDDUUUUUUAAAAAAARRRRRRRRRRRR!#
Meledak!
Aku lebih suka menyebutnya meledak ketimbang berdering. Wajar saja, frekuensi suaranya lebih dari 100.000 Hertz! Gendang telingamu akan pecah, meleleh, dan memuncratkan darah kental!
Menyeramkan!
Untung saja aku setiap hari mendengar ledakannya. Telingaku sudah resisten.
Terlebih lagi dengan pikiran ajaibku ini. Okeh, setidaknya dia tidak lebih mengerikan dari jam wekerku itu.
Kau harus mengambil tuxedo dan gaun pernikahanmu dengan Hinata pagi ini kan?
Ya. Aku ingat sekali! Tapi ya ga sepagi ini juga kali!
Besok, aku akan menikah dengan Hinata.
Dengan determinasi yang memang sudah sangat matang sejak bertemu dengan Hinata di bangku perkuliahan dulu, aku percaya akan mampu membuat keluarga yang bahagia dengan Hinata nantinya.
Aku tahu Hinata pilihan terbaikku. Aku menyesal sekali jika aku memutar memori lamaku. Betapa bodohnya aku mencintai Haruno Sakura padahal ada seseorang yang sangat mencintaiku 180 derajat berbeda dengan Sakura, dia Hyuga Hinata.
Kau kan memang bodoh. Dan baru sadar kalau kau bodoh. Kau memang benar-benar bodoh!
BEEERRRIIISSSSIIIIKKKKK LLLOOOOO!
Dan parahnya, aku baru mengetahuinya setelah aku tergabung di Sakura Lovers Club!
Aku baru tahu ada fans club macam itu?
GUE PELOPORNYA!
Aku merasa nyaman setiap kali bersama Hinata. Aku tahu dia sangat mencintaiku lebih dari pada aku mencintai Sakura dulu.
Jadi?
Perlukah aku menanggapi Sasuke?
Aku sarankan kau bertemu Sasuke. Sudah seminggu ini kau tidak menjengguknya kan?
Ya. Aku begitu sibuk dengan tugasku di kantor. Menyelesaikan pembukuan keuangan sebelum aku mengambil cuti bulan madu. Bosku, Nyonya Tsunade, S.E., galaknya naujubillah! Mau minta cuti satu bulan saja harus dipaksa kerja rodi! Oh tolong... Aku bukan romusha...
Tapi kau pantas kok jadi romusha. Suer...
Kalo gue jadi romusha, lo jadi apa?
Jadi Jepang lah.
YAUDAH SANA KE JEPANG! JAUH-JAUH DARI KEPALA GUE!
Eh, jangan ngusir dong...
BODO!
HENGKANG SANA!
ENYAHLAH KAU!
CCCIIIIIAAAATTTTTT...
RASENGGAN!
Ah... Aku mati(berpose jatuh terlentang sambil melet).
ALHAMDULILLAH... GUE JANJI NTAR MALEM BAKAL BIKININ LO TAHLILAN!
Terlebih lagi, aku masih sangat murka kepada Sasuke. Jahat sekali kah aku meninggalkannya di rumah sakit saat ia terbujur lemah tak berdaya ditambah satu pukulan lagi di pipi kirinya saat dia memfitnah Hinata yang bukan-bukan?
Apa aku begitu tidak bisa mempercayai Sasuke?
Berapa lama sih kau bersahabat dengannya?
LOH? LO KOK MASIH IDUP?
LAH, GUE DILAWAN!
AH! NGESELIN LO! Please, lo ga nonggol SEKALI AJA di chapter ini, please...
Mau kasih gue fulus berapa?
DASAR MATA DUITAN!
Okeh. Aku sudah bersahabat dengan Sasuke lebih dari sepuluh tahun. Aku sudah mengenalnya sejak SMP. Dan aku tahu dia bukan tukang bohong. Tapi, biar bagaimana pun juga, aku marah saat ada yang mengatakan hal buruk kepada Hinata. Aku terpukul ketika dia berusaha menghancurkan mimpi terindahku, menikahi Hinata.
Pantaskah aku sebegitu marahnya?
Mungkin apa yang dikatakan Sasuke itu benar?
Tidak mungkin!
Aku menatap selapis kertas peach yang terbungkus pelastik putih tembus pandang di atas buffet jati. Ada pita jingga di tengahnya yang tersimpul kupu-kupu. Ada emboss dua nama, aku dan Hinata, dan rangkaian himawari di sepanjang sikunya. Tercetak dengan tinta hitam dengan font Lucida Console: "Kepada: Uchiha Sasuke". Hingga hari ini, hanya Sasuke saja yang belum menerima undangan pernikahanku. Jahatkah aku?
Lalu, kenapa aku justru merasa tersiksa seperti ini?
Kenapa aku terus menerus menyalahkan diriku seakan-akan aku yang bersalah?
Tapi, persoalannya bukan Sasuke dan bukan pula Hinata. Diriku sendiri. Aku sebenarnya yang tidak tahu, siapa yang harus kupercaya.
Aku tiba di Konoha Boutique Bridal pukul sebelas siang bersama kekasihku, Hyuga Hinata. Dia mem-fitting gaun pernikahannya. Gaun satinnya bertumpuk-tumpuk merangkai pinggang hingga kakinya seperti rangakainya kelopak mawar putih. Sedangkan bagian pinggang hingga dadanya dibuat senatural mungkin mengikuti siluet tubuhnya dengan sentuhan bordir bunga camelia. Gaun yang sangat memesona!
Dan... aku terkagum-kagum!
Aku baru tahu bahwa tubuh Hinata seindah itu!
Proporsional!
Ramping!
Slim!
Sexy!
Bohai!
Stop! Jangan ngeres!
Ia lebih mirip manekin ketimbang manusia!
Dan aku baru tahu bahwa ia lebih mirip barbie!
Patung porselin abad 15 dari Roma!
Oh!
Terbuai aku karena pesonanya...
Aku baru sadar kalau ia memiliki bola mata pale lavender yang tenang. Yang membius hatiku. Obat anestesi termahal di dunia!
Rambut birunya yang tersanggul membuatnya nampak berbeda. Lehernya yang terbuka membuatnya semakin nampak langsing. Bandana putih titanium dan giwang mutiara semakin membuatnya secantik putri dongeng. Aku seperti melihat Cinderella! Aku akan segera memesan Manolo Blahnik kaca untuk sepatumu. I swear...
"Would you like to be my Cinderella, dear?"
"With pleasure, my prince..." jawab Hinata dengan pipi blushing, membuatku terbang kekayangan menembus tujuh lapis langit!
"Hold me, i wanna fly to the heaven..."
Hinata lalu menggenggam erat kedua telapak tanganku. Aku merasakan kasih sayangnya mengalir deras ketubuhku. Mentransfer sejuta energi bahagia. Betapa bahagianya aku. Oh tidak! Bulu-bulu merpati mulai merangkai dua kelopak sayap dipunggungku... Aku terlalu... Terlalu... Terlalu... LEBAY!
"I wanna live with you, forever," ujarnya.
"Me too, my endless love..." jawabku seraya mengecup keningnya dan mendekapnya. Pikiran ajaibku lalu menyanyikan lagu my endless love-nya Diana Ross (meski suaranya fals, ga papa deh, gue maafin untuk kali ini). Seisi boutique pun menatap kami dengan tatapan jealous, dan kami tidak peduli.
"Aku suka yuri dan chrysan. Kamu maunya?"
"Aku suka apa yang kamu suka," jawab Hinata simply mean.
"Jadi?" tanya Inno tak sabaran. "Kalian mesra sekali sih."
Kami berdua hanya tersenyum menanggapi pernyataan Inno. Bukankah dia tidak lebih mesra dengan Sai? Ternyata Sai begitu aggressive dan possessive sekali kepada Inno. Berbeda sekali dengan watak introvetnya dalam pergaulan.
"Yasudah, kami pesan sebuket bunga yuri putih dan Chrysan biru muda," jawabku. "Besok pagi saja, ya, diambilnya biar masih segar?"
"Ya, Naruto. Semoga kalian awet ya. Huuhhh... Kapan ya aku menyusul dengan Sai... Aku dah ga sabaran nih... Sai-nya sih masih malu-malu waktu aku kenalin ke keluargaku. Ah... Aku cemburu sekali dengan kalian... Kalian serasi sekali sih... Saling melengkapi gitu... Ah, capcus deh nek, awet-awet ya... Oh ya, Hinata, kalau sudah jadi nyonya Uzumaki, disasak dong rambutnya. Bosen tahu ngeliat rambut lurus lo yang seperti direbonding. Mana tinggal disisir jari lagi. Lo perawatan rambut ke Thomas Taw ya? Eh... Eh... Kok malah kayak iklan sih... Ah yaudah deh... Selamat menikah ya... Semoga besok pestanya lancar... Dah..." cerocos Inno tanpa titik koma dan tanpa nafas!
Eh, kayaknya lo cocok deh sama Inno. Sama-sama bawel tuh...
Orang seganteng gue sih cocok sama siapa aja... Hahahahahaaaaa
Ih! Najis! Pede gila!
Aku mengenakan aksesoris terakhirku sebelum tiba di Geraja Konoha, jam tangan Chanel Chronograph hadiah ulang tahun dari Hinata, di tangan kiriku. Gel rambut telah menata rambut oranyeku sedemikian rapi berbeda 180 derajat dengan rambut jabrikku setiap hari. Tuxedo putih titanium dengan dasi kupu-kupu french ultramarine menempel di kerah kemejaku. Wawangian sitrus dari Bvlgary menyerbak di tubuhku. Dan sekarang aku benar-benar siap untuk hari besar ini.
Mana sepatu pantofelmu?
ASTAGA!
GA MUNGKINLAH AKU NYEKER!
Makasih?
Iya, makasih...
Dan sekarang aku well-groomed seluruhnya!
#ting!#
Beberapa menit berikutnya...
Aku sekarang tiba di Gereja Konoha. Tempat sakral hari monumental di hidupku. Lonceng gereja yang berdentang seakan memberiku semangat. Orang-orang telah menanti kami di bench dalam gereja dengan ekspresi yang sarat kegembiraan. Suasan yang begitu hangat dan sekaligus mendebarkan.
Hinata ada di sampingku. Berjalan beriringan bersamaku seraya menggandeng siku kiriku yang kubuka. Buket bunga yang kemarin kami pesan dibawanya juga. Lengkap sudah dan sekarang kami hanya perlu menuju altar diiringi lagu pernikahan. Oh... Aku tersentuh dengan lagu love me tender Elvis Presley yang diputar yang mengiri langkah kami.
Jalan menuju altar ini serasa begitu panjang yang hanya dua puluh meter aslinya. Semua suka dukaku berbaur tak karuan. Sesekali aku menoleh ke arah Hinata. Menatap pipinya yang bersemu merah. Oh... Alangkah bahagianya hari ini. Aku ingat semua kenangan. Kegembiraan yang kami lalui bersama. Keluargaku. Persahabatanku. Dan aku teringat dengan ultimatum menggerikan Sasuke:
"Dia gadis berbahaya, Naruto. Dia akan membunuhmu setelah kau menikah kelak sama seperti ia ingin membunuhku saat ini. Tolong, percayalah padaku, Naruto... Dia ingin"
Buk! Aku justru menonjok pipi kiri Sasuke sebelum menyudahi ucapannya.
Sekarang dimana dia?
Sakura juga sepertinya tidak datang. Masih bisakah aku melanjutkan pernikahan ini tanpa dua sahabat karibku itu?
Aku harus bisa!
Ini jalan yang sudah kupilih dengan matang.
Ya, aku harus terus melangkah menuju altar. Menuju pasteur yang akan mengikat janji suci kami.
"Naruto Uzumaki, apa kau bersedia menemani Hyuga Hinata di kala suka maupun duka, susah maupun senang, sakit maupun sehat?" tanya pasteur berambut putih gondrong dengan tato merah di bawah matanya.
Aku yakin aku akan menjawab ya. Aku harus yakin!
"Ya!" jawabku lantang.
"Dan Hyuga Hinata, maukah kau menemani Naruto Uzumaki di kala suka maupun duka, susah maupun senang, sakit maupun sehat?" tanya pasteur yang ternyata bernama Jiraya itu kepada Hinata.
Hinata nampak gugup. Ia pasti sangat bahagia hingga sulit berkata-kata. Pipinya seperti cangkang kepiting rebus. Ia hanya sanggup menunduk dan belum menjawab apa pun.
Sunyi...
Detak jam terasa begitu nyaring.
Seakan tak ada tarikan nafas pada Hinata.
Aku meminum liurku berkali-kali untuk menenangkan diriku sendiri yang berkecamuk kalang kabut.
Dan Hinata pun mulai mendangahkan kepalanya dan membuka mulutnya. Jantungku berdebar kencang hingga 10 skala richter ingin menghancurkan 7 pasang tulang rusukku!
Oh... Aku takut jika Hinata menjawab tidak. Keringat dingin pun bercucuran di dahiku. Kakiku gemetaran. Dan! Aku kebelet pipis!
Hinata cepatlah menjawab ya dan kita akan resmi membangun mahligai rumah tangga yang bahagia hingga kakek nenek, punya cucu cicit, dan sampai maut memisahkan kita...
Hinata...
Oh...
Jangan membuatku mengompol...
#Srek!#
Seseorang menarikku, menyingkirkanku dari sisi Hinata hingga melepaskan tangan kami. Siapa dia? Aku seperti mengenalinya dari rambutnya yang bercat pink dan dipotong pendek.
Dia lalu menampar Hinata di depan khalayak ramai dengan suara yang teramat nyaring di ruang gereja sebesar ini. Semua tamu undangan mendesah kaget campur takut. Dan pelaku kriminal itu mulai berbicara.
"Kau!" ujarnya kepada Hinata dengan suara yang mengerikan seperti menahan tangis. Hinata membelalakan matanya nampak terkejut dan aku hanya diam seribu bahasa. "KAU! Kau telah membunuh SASUKEK-ku! KEMBALIKAN DIA WANITA SINTING! KEMBALIKAN DIA!"
SASUKE SUDAH MATI?
Bersambung
Diclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
.
*cuap-cuap kepedesan*
*mata nanar*
*ingus mengalir*
Oh...
Akhirnya selesai sudah derita Chapter 2...
Meski kyaknya krenyes, tentatif, dan maksa...
Tapi,
Ya sudahlah...
Maafin kan?
Maaf untuk Inno yang saya bikin bawel...
OOC bgt ya?
Maaf ya...
Dan saya juga ga tahu pernikahan agama Kristen kayak apa,
Maaf ya kalo kesannya nyontoh...
Maaf bgt...
Review ya...
Makasih...
