Chapter 2 : Started
taaaRRraaaaammmmmmm…!
Na, Come back..! (sok inggris)
Chapter 2 UUUpppdaaattttee…..!^teriak-teriak sambil bawa pom-pom^
Yeaahhhh…..
Senangnya….. apalagi reviewnya itu loh.. Riviewnya…!^teriak Histeris^
Jujur, Na nggak nyangka, Na bakalan dapet Riview. ^cengar-cengir Gaje^
Yang udah mau meluangkan waktu buat mgbaca apalagi ngeriview, bener-bener Na ucapin makasih sebanyak-banyaknya.
Buat yang login udah Na bales lewat PM.
Buat yang Non Login, liat di bawah ^nunjuk-nunjuk kebawah^
M. Higashikuni : Ini udah Update. Terimakasih riviewnya..^^
Katrok : siiippp..! ini udah lanjut. Terimakasih riviewnya.
Mayraa : terimakasih.. Ini udah lanjut koq..^^
N.W.E/N.F : terimakasih my Koi dan salam manis serta salam beribu-ribu cinta juga..^^ -pplaaakk…!-
Yossh..! kita mulai…!
Kalau ada persamaan baik judul atau cerita dengan author-author sebelumnya Ena-Chan mohon maaf yang sebesar-besar, tapi ini ASLI lahir dari otak Eror yang Ena-Chan punya.
yaahhh.. anggap saja persamaan kita ini mungkin karena kita jodoh..-Plaaakk...!-
Summary: Namikaze Naruto seorang penggila Ramen yang hidup serba berkecukupan. Mendadak harus bekerja di restaurant Ramen dan menghadapi kepala pelayan yang galak tapi Cantik.
"si.. siapa yang takut? Tidak..!" seru Naruto. "Baiklah, akan ku buktikan kepada tou-san dan kaa-san kalau aku bisa hidup mandiri."
'Aku memang sedang membutuhkan uang.' Batin Hinata
Disclaimer : "Kau…!" (nunjuk-nunjuk Mashashi Kishimoto pakai jempol tangan dengan marah) -?-
Pairing : Seperti kata Trans Nii…
"Naruto hidup karena Hinata dah Hinata ada karena Naruto"
Rate : 'T' aja dulu..
Tapi suatu saat pasti bisa bikin yang Rate 'M' ^Pllllaaaaaakkkk…!^
Warning : AU, OOc (maybe), ada OC juga, Gaje, Ancur plus abal, Typo, Ide Pasaran, EYD dipertanyakan. Membaca ini dapat menyebabkan ganguan pencernaan dan pusing kepala Akut..!
Don't Like yasud Don't Read aja donk...^^
.
.
.
Daku Menyajikan...
Ramen Lover in Love
.
.
Gadis itu mencoba mengayuh sepedanya secepat mungkin. Rambutnya yang berwarna indigo berkibar seiring terpaan angin. Jam pulang sekolah sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Dia sudah terlambat untuk menjemput adik perempuannya.
Gedung sekolah Konoha senior high school dan konoha junior high school memanglah berdeketan, hanya di pisahkan sebuah pagar tembok yang tinggi. Tapi jarak antara gerbangnya bisa dibilang cukup jauh kurang lebih 5 menit kalau jalan kaki.
Dia yakin adiknya pasti sudah kesal menunggunya. Salahkan mata bulannya yang tak mau berhenti untuk memandang pemuda berambut kuning jabrik dari tempat parkir sepedanya.
Sesampainya di depan gerbang Konoha Junior High School. Seorang gadis ABG sedang bersandar di dinding samping gerbang dengan tangan yang dilipat di dadanya. Dengan muka yang terlihat sekali kesal dia melihat kedatangan kakak perempuannya. Siapa yang tidak kesal bila menunggu seseorang dibawah teriknya sinar matahari di musim panas selama lebih dari 10 menit?.
"Go.. Gomen Hanabi-Chan." Kata gadis berambut indigo yang kita kenal bernama Hinata dengan penuh penyesalan.
Hanabi menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan. Ini bukanlah kebiasaan kakak perempuannya. Bila kakaknya sampai terlambat seperti ini, berarti ada hal penting yang mengganggunya dijalan. Hanabi mencoba menghilangkan kekesalannya.
"Sudah lah Nee-Chan, lebih baik kita cepat pulang. Kalau tidak aku bisa dehidrasi." Kata Hanabi.
Hinata mulai mengayuh sepedanya perlahan setelah Hanabi duduk dibelakangnya. Mereka hanya diam selama perjalanan pulang, tak ada yang memulai pembicaraan. Mereka tenggelam dalam fikiran masing-masing. Setelah 10 menit perjalanan mereka sampai di depan pagar rumah Hyuuga. Setelah turun Hanabi langsung berlari masuk kedalam rumah, dia sudah tidak sabar ingin mengaliri tenggorokanya yang kering dengan minuman dingin. Sedangkan Hinata memarkirkan sepedanya didepan rumahnya.
"Tadaima.." salam Hinata ketika memasuki rumahnya. Dia duduk di undakan rumahnya dan melepas sepatunya.
"Okaeri, Hinata-Chan. Kenapa pulang terlambat?." Tanya Hikari yang sedang duduk di sofa di depan ruang televisi ketika melihat putrinya yang menghampirinya dan mencium pipi kirinya.
Hinata terdiam sesaat memikirkan jawaban untuk pertanyaan ibunya. Apa dia harus menjawab kalau dia terlambat karena melihat seorang pemuda yang sedang bercanda di tempat parkir bersama teman-temannya sampai pemuda itu keluar dari sekolah?
"err.. tadi ada urusan penting sebentar sebelum menjemput Hanabi-Chan, Okaa-San." Jawab Hinata tak berbohong, karena baginya melihat senyum matahari dari pemuda pirang adalah urusanya yang sangat penting.
Setelah itu Hinata masuk kedalam kamarnya dan mengganti seragam sailornya dengan kaos berwarna putih, rok berwarna lavender selutut dan tas slempang kecil berwarna ungu. Dia keluar kamar dan menghampiri ibunya yang sekarang sudah ditemani Hanabi yang sedang meminum segelas air putih dingin.
Setelah berpamitan dengan ibu dan adiknya, Hinata keluar dari rumahnya dan mulai mengayuh sepeda berwarna ungunya ke tempatnya bekerja.
"Hinata-Chan, Kakashi –san mencarimu."Kata gadis berambut merah muda setelah Hinata masuk kedalam Restaurant melalui pintu belakang.
"A..arigatou, Sakura-Chan" kata Hinata yang dibalas senyuman manis dari gadis bermata emerald yang bernama Sakura.
Hinata segera menuju lokernya dan mengganti bajunya dengan dres hitam selutut berlengan pendek dengan renda putih dibawahnya, tali clemek berwarna putih berenda diikatkan nya di pinggang rampingnya, dasi kupu-kupu berwarna hitam menghiasi kerah bajunya yang berwarna putih, kaos kaki hitam panjang selutut dengan renda-renda berwarna putih di atasnya serta sepatu Pantofel dengan hak 3 centi berwarna putih.
Dia berjalan sembari mengenakan bandana berwarna putih berenda di mahkota indigonya. Dia menuju ruangan manager tempatnya bekerja dengan bertanya-tanya. Karena tak seperti biasanya managernya memanggil dirinya.
"Tok..Tok..Tok.."Hinata mengetuk pelan pintu dengan papan kecil bertuliskan 'Manager' yang kira-kira 20 centi lebih tinggi dari Hinata.
Setelah terdengar seruan 'masuk' dari balik pintu Hinata membuka pelan-pelan knop pintu. Dia berjalan menuju satu-satunya meja kerja yang berada diruangan itu, seorang pria berambut perak yang berdiri melawan gaya gravitasi bumi sedang membaca sebuah buku berwarna orange yang duduk di belakang meja.
"Kakashi-San memanggil saya?." Tanya Hinata sesampainya di depan meja dengan papan bertuliskan 'Hatake Kakashi'. Dia berdiri di belakang kursi yang kosong.
Kakashi menurunkan buku yang sedari tadi dibacanya. Dia menatap Hinata dan tersenyum dibalik maskernya.
"Aaah.. iya, silahkan duduk ada yang perlu saya bicarakan denganmu, Hinata" jawab Kakashi sembari menyuruh Hinata duduk.
Hinata duduk di kursi yang tadi kosong, hatinya berdetak kencang merasakan firasat yang tidak enak.
"jadi begini, Hinata…"
-Ramen Lover in Love-
Seorang pemuda sedang tiduran terlentang di ranjang king sizenya. Mata biru langitnya menatap langit-langit kamarnya. Tangan kanannya digerakannya untuk mengacak-acak rambut pirangnya yang sudah berantakan dengan frustasi. Fikirannya menerawang jauh mengingat pembicaraannya dengan kedua orang tuanya saat makan malam tadi.
Flashback
Dikediaman Namikaze sedang memulai acara makan malam mereka, 3 orang yang berada di meja makan sedang menikmati makan malam mereka masing-masing. Mereka makan dalam diam, hanya terdengar suara dentingan halus antara sendok dan garpu yang bertemu dengan piring.
"Naru-Chan mulai besok kau akan bekerja di tempat Kakashi-Kun." Kata pria berambut pirang cerah kepada pemuda yang mirip dengannya, Naruto.
Naruto tersedak makanannya, mukanya mulai memerah. Dengan segera ibunya yang berada di seberang meja memberikan air putih kepadanya.
"A.. Apa Tou-San?" seru Naruto setelah lolos dari tersedaknya. Mata saphirenya menatap mata shapire dewasa yang berada di sebelah kanannya.
"Mulai besok semua fasilitas dan kartu kreditmu Tou-san sita." Kata Minato yang sukses membuat Naruto terbelalak dengan mulut menganga.
"Tu..Tunggu dulu Tou-San. Apa terjadi sesuatu dengan perusahaan Tou-San?"
"Tidak.!" Jawab satu-satunya perempuan yang berada di meja makan itu. Naruto mengalihkan pandangannya keseberang meja makan, menatap lekat ibunya yang berada dihadapannya, dia meminta penjelasan.
"Kami hanya ingin tahu apa kau itu anak manja atau bukan." Jawab Kushina menjawab tatapan Naruto. Naruto memiringkan sedikit kepalanya, tak mengerti dengan penjelasan ibunya.
Kushina menghela nafas pelan menyadari ke terlambatan anaknya dalam berfikir. "Kami hanya ingin tahu apa kau bisa hidup mandiri atau tidak tanpa uang yang diberikan dari kami."
Naruto menatap ibunya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Dia menatap kembali ayahnya meminta bantuan yang sia-sia.
"Tou-san tidak akan mengambil semua uang jajanmu, Naruto. Tou-San akan memberimu uang untuk transportasi ke sekolah dan ke tempat kerjamu saja." Kata Minato sembari tersenyum kepada anak bungsunya. Naruto hanya diam, memutar otaknya untuk bisa menolak keinginan kedua orangtuanya.
"Kenapa? Apa kau takut Naruto?." tantang Kushina.
"si.. siapa yang takut? Tidak..!" seru Naruto. "Baiklah, akan ku buktikan kepada tou-san dan kaa-san kalau aku bisa hidup mandiri." Jawab Naruto yang mendapatkan seringai dari Kushina
Tak lama Naruto menyadari bahwa dirinya telah terperangkap dalam tantangan Kushina.
End Flashback
"Arrgghhh… Kenapa aku bisa terjebak dengan tantangan Kaa-San?" teriak Naruto frustasi.
Dia menghela nafasnya dengan kesal Percuma saja kalau dia menolak tantangan ibunya, karena itu hanya sia-sia belaka. Anikinya yang kejam saja tidak bisa menolak tantangan ibunya, sehingga sekarang Anikinya harus menempuh kuliah di luar negri.
Mau tidak mau dia harus menjalani kehidupan barunya besok pagi. Dengan perlahan kelopak mata berwarna kecoklatan itu menghalangi mata biru laut milik Naruto. Naruto tidur setelah berdebat panjang dengan fikirannya sendiri.
-Ramen Lover in Love-
Hinata Mangayun sepedanya dengan tak bersemangat. Dia baru saja pulang dari tempatnya bekerja sekarang waktu sudah menunjukan pukul 9 malam lebih, masih terbayang dalam otaknya pembicaraannya dengan Managernya tadi siang.
Flashback
"jadi begini, Hinata.." kata pria berambut perak itu memulai pembicaraan setelah Hinata duduk nyaman di kursi. Hinata Hanya diam dan mendengarkan baik-baik.
"Kau tahu kan kepala pelayan kita, Tayuya?. Dia sudah mengundurkan diri dan ikut suaminya keluar Kota" Lanjut Kakashi. Hinata hanya mengangguk dalam diam.
Merasa paham dengan jawaban berisyarat dari Hinata, Kakashi melanjutkan pembicaraannya.
"Untuk sementara tidak ada yang menjadi kepala pelayan. Sedangkan besok kita akan kedatangan karyawan baru yang sangat penting."
"Sa.. Sangat penting?." tanya Hinata bingung karena baru mendengar ada karyawan yang sangat penting.
"Iya.. 'dia' sebenarnya adalah salah satu putra dari orang yang sudah ku anggap seperti kakakku dan membantuku mendirikan restaurant ini." Ujar Kakashi yang semakin membuat Hinata bingung karena ada anak orang kaya yang mau bekerja di restaurant sebagai karyawan.
Menyadari kebingungan Hinata, Kakashi meluruskan
"Kedua orang tuanya ingin memberi pelajaran kepadanya. Maka dari itu 'dia' membutuhkan seseorang yang mau membimbingnya dengan tegas."
'gleekk..!'
Hinata menelan ludahnya yang terasa sulit sekali melewati kerongkongannya, firasatnya mulai tak enak. Semoga tebakannya salah.
"Aku rasa yang cocok untuk membimbingnya dan menggantikan Tayuya sebagai kepala pelayan adalah..."
Hinata mulai duduk gelisah, dia gugup kalau-kalau tebakannya be...
"Kau.. Hyuuga Hinata.!"
Bingo..!
'Braak..!'
"A..Apaa?" sebuah reaksi berlebihan dari Hinata yang langsung berdiri dari tempat duduknya plus menggebrak meja dan berteriak didepan managernya tanpa sadar. Sadar akan kesalahannya Hinata dengan segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Dan aku ingin kau bertindak tegas seperti tadi kepadanya."
Hinata semakin bingung dengan jalan fikiran Bosnya. Apakah sebuah reflek dari keterkejutan bisa disebut suatu ketegasan?
"Ke..Kenapa? Kenapa a..aku? Bu.. Bukan ka..kah ada Sakura-Ca..Chan dan I..Ino-Chan?" Kata Hinata yang gugupnya kambuh.
"Aku sudah bertanya kepada mereka. Tapi entah kenapa setelah mereka tahu siapa orangnya, mereka dengan kompak menyarankan dirimu." jawab Kakashi.
"T..Ta..Tapi Kakashi-San.. a..aku tid..."
"Gajimu akan naik sebagai kepala pelayan dan kau akan mendapatkan uang tambahan karena membimbingnya" potong Kakashi. "Bukankah kau sedang membutuhkan uang Hinata" lanjutnya tanpa memberi kesempatan Hinata untuk bicara.
Hinata sedikit tersentak dengan kalimat terakhir dari Kakashi. Darimana Bosnya tau kalau dia sedang membutuhkan uang?.
Di lihatnya Kakashi yang sedang menatap intens kepadanya. Hinata bingung disatu sisi dia memang membutuhkan uang tapi disatu sisi lainnya dia merasa tidak sanggup dengan permintaan Kakashi.
Melihat kebingungan yang jelas terpatri di wajah cantik Hinata, Kakashi tersenyum.
"Aku tunggu jawabanmu besok." suara bariton Kakashi menyadarkan Hinata dari lamunan kebingungannya, dilihat Kakashi yang kini matanya melengkung keatas menandakan pria bermasker itu sedang tersenyum.
Menyadari kata-kata yang berartikan pengusiran tidak langsung, Hinata menyeret kaki mungilnya untuk keluar ruangan Kakashi.
Sebelum menutup pintu dia membungkuk sedikit kepada pria berambut perak yang sudah membaca buku orangenya lagi.
End Flashback
Hinata menyeret langkah kakinya dengan gontai memasuki rumahnya setelah terlebih dahulu dia menaruh sepeda kedalam gudang kecil di samping rumahnya, hari ini benar-benar terasa melelahkan baginya.
"Tadaima.."
"Okaeri.." terdengar sahutan bernada cempreng milik Hanabi dari dalam rumahnya. Hinata menuju asal suara yang berada di ruang keluarga.
Dilihatnya ayahnya yang duduk di sofa sedang memandang sendu kearah Hanabi yang duduk di lantai membelakangi ayahnya. Hinata duduk disamping ayahnya.
"Dimana Okaa-San?" tanya Hinata yang tak mendapati keberadaan ibunya.
"Sepulang dari Cek-up, Okaa-San langsung istirahat, Nee-Chan" jawab Hanabi tanpa mengalihkan pandangannya dari buku-buku diatas meja.
"Okaa-San harus terapi lebih lanjut" Kata Hiashi menjawab pandangan Hinata yang bertanya-tanya kepadanya.
Hanabi berbalik meninggalkan buku-buku pelajarannya. Walaupun suara ayahnya tetap dingin namun dapat terasa kegetiran dalam nada suara ayahnya.
Bilalah ada yang sangat mencintai Hikari sudah pasti itu adalah Hiashi. Walaupun cinta dari ketiga anak Hiashi kepada Hikari juga tidak bisa dianggap remeh.
"Hanabi juga akan bekerja untuk membantu ayah." Kata Hanabi yang membuat mata amesthy Hiashi dan Hinata melebar.
"Tidak perlu Hanabi. " suara bass terdengar dari arah belakang, mengalihkan pandangan kedua gadis Hyuuga keasal suara dan mendapati kakak lelaki mereka yang baru pulang.
"Biar kami berdua saja yang bekerja, kau cukup belajar dan membuat kami bangga dengan prestasi-mu." Lanjut Neji sembari berjalan mendekat ketempat ketiga keluarganya berada.
Sejujurnya Hiashi ingin menangis, karena merasa tidak berguna sebagai seorang ayah.
Toko teh warisan turun-temurun keluarga Hyuuga yang sekarang berada di tangannya sedang dalam kondisi menurun. Banyak toko teh baru yang lebih menarik perhatian daripada toko teh kuno miliknya.
Kedua anak kembarnya bekerja part time untuk mengurangi bebannya dan sekarang si bungsu juga ingin melakukan hal yang sama.
"Maaf.." suara lirih Hiashi mampu mebuat semua yang berada disitu terkejut. Hinata menatap ayahnya yang sedang menunduk sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat diatas pahanya.
Hinata merengkuh ayahnya, memeluknya erat. Neji dan Hanabi melakukan hal yang sama. Dapat dirasakan tubuh Hiashi yang bergetar. Sudah dilupakan oleh Hiashi sifat berwibawa sebagai seorang ayah. Dia tetaplah manusia biasa, Dia juga berhak menangis. Dia merasa gagal, tidak bisa membuat anak-anaknya menikmati masa remaja mereka dan malah membantunya mencari uang.
Hinata masih merengkuh ayahnya, airmatanya turun dari mata bulannya. Teringat kembali pembicaraannya dengan Kakashi.
'Aku memang sedang membutuhkan uang.' Batin Hinata memantapkan pilihannya.
Tanpa mereka berempat sadari sesosok wanita paruh baya yang berada didepan pintu kamarnya ikut menangis dalam diam melihat keluarganya. Airmata mengalir di pipi putihnya tangan kanannya digunakanya untuk meredam isak tangisnya.
-Ramen lover in Love-
Suasana KSHS mulai ramai para siswa sudah mulai masuk ke kelas mereka masing-masing. Seorang pemuda pirang sedang menelungkupkan wajahnya di tas tangannya yang terlipat diatas mejanya. Dia masih mengantuk, tidak biasanya dia bangun pagi-pagi, tapi sekarang dia harus mulai membiasakan hal itu. Mengejar bus sekolah yang menuju sekolahnya serta berdesak-desakan di dalam bus dengan berbagai macam manusia didalamnya.
"hooaaaammm…" dia menguap lebar, dilihatnya sahabat-sahabatnya yang sudah memasuki kelas. Kelima pemuda tampan itu menuju kearah Naruto.
"Tumben pagi-pagi kau sudah datang ke sekolah Naruto" kata pemuda berambut coklat berantakan dengan tato segitiga terbalik di masing-masing pipinya, Kiba.
"kami kira kau belum datang, karena motormu tidak ada di tempat parkir." kata pemuda berkulit pucat seperti mayat, Sai.
"Eeerr… Tadi... aku diantar supir. yah, diantar supir.!" kata Naruto dan nyengir terpaksa. Kiba dan Sai hanya manggut-manggut sedangkan Shikamaru, Gaara dan Sasuke menaikan sebelah alis mereka merasa heran denga jawaban Naruto.
Naruto merasa malu kalau harus memberitahukan teman-temannya bahwa sekarang dia memakai bus sebagai alat transportasinya, apalagi bilang kalau hari ini dia sudah mulai bekerja part time.
"Shikamaru, aku titip Akamaru sebentar." kata Kiba sembari menaruh tas Hitam berisi anjing putih diatas meja Shikamaru.
"Haah.. Merepotkan." kata Shikamaru sembari tiduran dengan tangan yang dilipat diatas meja.
"Kau mau kemana Kiba?" tanya Naruto.
"ke toilet." jawab Kiba.
"Aku ikut." kata Naruto kemudian berdiri dan mengikuti Kiba.
Kiba dan Naruto berjalan menuju pintu untuk keluar kelas.
'Bruuk..!'
"Maaf" Naruto meminta maaf, setelah menabrak seseorang.
Gadis indigo yang di tabrak Naruto hanya diam dan menunduk dengan muka memerah sebelum akhirnya dia pergi meninggal Naruto yang mengerjap-ngerjapkan mata biru safirnya, bingung.
"Huuh.. Dasar sombong!." Gerutu Naruto. Sedangkan Kiba hanya terus melihat gadis indigo yang menuju tempat duduknya.
'Bleetaak..!'
"aduuhh.. itaaii.. Sakura-Chan?" Rintih Naruto sembari memegangi kepala kuningnya kepada gadis berambut merah muda yang tadi menjitak kepalanya.
"Dasar lelaki tidak peka.!" kesal Sakura yang kemudian berjalan menuju ke tempat duduk Hinata.
Kiba berjalan melewati Naruto yang masih kebingungan. Dia hanya menghela nafas pelan sepanjang perjalanan menuju ke tempat tujuan utamanya sebelum terjadinya 'insiden' tadi.
-Ramen Lover in Love-
"Selamat datang di Restaurant Ichiraku, Naruto. Mulai sekarang kau akan bekerja di sini dan berada dalam pengawasanku" Ucapan penyambutan terlontar dari mulut Kakashi yang tertutup oleh masker, kepada pemuda pirang yang sekarang berdiri di hadapannya dan bertampang kesal.
pemuda bermata shapire itu sangat kesal dan merutuki pakaian yang dikenakannya sekarang, sebuah sepatu pantofel hitam, celana katun berwarna hitam, kemeja putih berlengan panjang ditambah sebuah rompi kotak-kotak yang menurutnya sangat kekecilan, berkerah V dan kerutan dibagian punggungnya yang berwarna putih, hitam dan abu-abu serta tak ketinggalan sebuah dasi kupu-kupu berwarna hitam yang semakin membuatnya benar-benar terlihat seperti seorang pelayan.
Walaupun dalam kenyataan sebenarnya, sekarang dia adalah seorang pelayan disebuah Restaurant yang dulu sering ia kunjungi.
"Sebentar lagi akan datang orang yang akan membimbingmu dan memberitahukanku tentang semua kelakuanmu selama bekerja disini." lanjut Kakashi yang semakin membuat Naruto mendengus kesal.
'Tok.. Tok.. Tok..'
Sebuah ketukan pelan membuat dua orang yang berada dalam ruangan Kakashi menoleh kearah pintu.
"Masuk.!" Seru Kakashi.
Tak lama pintu terbuka dan menampilkan seorang gadis berambut indigo panjang yang berdiri di depan pintu.
Sepasang mata biru saphire dan lavender itu membulat sempurna melihat orang yang sekarang ada di hadapan mereka.
"Kaau..!" pekik Naruto sembari menunjuk Hinata dengan jari telunjuknya.
'Kami-sama, apa lagi ini?' bantin Naruto semakin terlihat kesal karena pembimbingnya adalah orang yang menurutnya paling sombong di sekolah.
'Kami-sama, jangan sampai aku pingsan sekarang karena seorang pemuda yang semakin terlihat tampan dengan pakaian... Pelayan? Jadi Naruto adalah.. Kami-sama kenapa jadi begini?' batin Hinata.
T. B. C.
Jiakakakakak. *evil laugh*
Akhirnya selesai juga chapter 2.. haah... 2525 kata ^ngipas-ngipas badan pake kertas^
Sudah taukan siapa kepala pelayannya? hehehe
Jadi disini tuh Naruto menanggap Hinata itu gadis yang sombong karena tak pernah membalas sapaan ataupun menyapanya. Padahal itu dikarena-kan Hinata terlalu grogi bicara apalagi melihat Naruto secara langsung. Anggap saja tuduhan Naruto terhadap Hinata karena kurang pekanya Naruto terhadap perasaan Hinata.
Maaaaaaffff…
Kalau Hiashi jadi OOc gini, karena menurut Na, nggak ada orang tua yang mau anaknya bekerja di usia yang terbilang masih kecil kalau bukan kerena keadaan yang memaksa. Pastinya orang tua ingin anaknya belajar dan bermain bukannya malah belajar dan bekerja.
Maaf juga karena Na belum bisa menghidupkan Karakter Sasuke dan Gaara disini.
Sekali lagi Na minta maaf..
Silahkan kritik Na tentang kesalahan penulisan ataupun ceritanya melalui Riview, asalkan kritikan itu adalah kritikan yang membangun. Jujur saran dan kritik dari kalian malah membuat Na semakin bersemangat.
Terimakasih sudah sempat membaca Fic Abal dari Na.
Sankyu(39)..^^
Jaa matta.. *lambai-lambai sapu tangan*-?-
March, 02- 2011
