Rainy Day
Pairing : Park Chanyeol x Byun Baekhyun
Rated : Nganu kuadrat
Genre : Porno pokoknya
Disclaimer : Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan SMEnt. Milik saya cuma cerita tidak jelas ini.
Warning : Isi tidak jelas. Dapat menyebabkan kantuk, mual, gangguan kehamilan, dan juga kesehatan mata. Random POV. Tidak di edit ulang. Ini PWP bukan? Ini gaje banget pake plus tiga kali.
Hujan turun semakin deras walaupun jarum jam sudah menunjuk pukul 10 malam. Udara dingin yang menusuk kulit membuat siapa saja lebih memilih bergelung di dalam selimut sambil meminum segelas teh ataupun coklat panas. Namun itu tidak berlaku untuk dua orang yang berada di dalam salah satu apartemen di sudut kota Seoul.
Di dalam satu-satunya kamar yang ada di apartemen tersebut, hawanya berbanding terbalik dengan hawa di luar. Hawa panas yang berasal dari kegiatan dua orang yang ada di sana mendominasi ruangan tersebut. Mengalahkan dingin dari penyejuk ruangan dan hujan di luar.
"Hnghh ashhh"
Salah satu dari keduanya mendesah saat yang satunya mengelus lembut penisnya yang terikat dengan pita berwarna merah. Posisinya terlentang di atas tempat tidur, dengan tangan yang terikat di atas kepala dan mata tertutup dengan sebuah dasi.
Kakinya bergerak gelisah saat yang lebih tinggi kembali mengecup dan menjilati tubuhnya. Mulai dari leher hingga dadanya yang telah di bubuhi titik-titik merah kebiruan. Di tambahnya lagi merah sampai tak ada lagi ruang untuk kulit putihnya menunjukkan keindahannya.
Bibirnya berpindah ke pucuk dada yang sudah benar-benar menegang. Di kecup, di jilat, di celupka—tidak, di hisap, dan di gigitnya membuat yang lebih kecil mendesah lebih keras dan semakin bergerak gelisah. Puas bermain dengan dua puting yang kini berubah warna menjadi kemerahan, bibirnya kembali menjelajah lebih ke bawah. Berhenti sebentar di bagian pusar, lalu turun lagi, melewati bagian selangkangan kemudian sampai di paha putih yang berisi.
Di jilatnya seluruh permukaan paha itu sampai terlihat mengkilap oleh air liurnya. Tangannya tak tinggal diam, jari-jarinya bergerak mengelus selangkangan yang lebih kecil secara perlahan. Bibir berisi tersebut berpindah lagi ke lubang berkerut yang sedari tadi berkedut kedut, meminta untuk di jamah.
Lidah di bawa berputar melingkari lubang berwarna pink tersebut, membuatnya yang sudah basah oleh air mani semakin basah lagi. Dua jari telunjuk bergerak memasuki lubang itu, kemudian menariknya ke arah berlawanan, membuka jalan bagi lidahnya untuk masuk.
..
Puas mengerjai lubang Baekhyun, kini aku berpindah lagi ke bagian perineum, ku hisap dan ku jilati bagian tersebut, membuat Baekhyun mendesah lebih keras. Ku naikkan hisapan ku pada testisnya, pantatnya kembali bergerak tak menentu, kemudian tubuhnya mengejang, ejakulasi kering kembali di dapatnya.
Dapat ku lihat penis Baekhyun yang merah —bahkan hampir berwarna biru, karena terlalu lama menahan sperma yang akan keluar. Tak ingin membuatnya menderita lebih lama, ku lebarkan kedua paha Baekhyun, lalu ku arahkan penis besar berurat kepunyaan ku pada lubangnya. Penisku masuk sepenuhnya dalam sekali hentakan.
Pinggulku bergerak dengan cepat, membuat tubuh kecil dan tempat tidur di bawahnya ikut bergerak. Kepala Baekhyun mendongak dengan mulut terbuka, liur menetes dari sudut bibirnya. Aku menundukkan kepala, tangan bertumpu di samping kepala Baekhyun, ku jilati liur yang membasahi pipinya, kemudian melahap bibirnya dengan buas.
Kepalaku bergerak ke kanan dan kiri, mencari posisi yang pas untuk mencicipi bibir mungil itu lebih dalam. Merasakan Baekhyun mulai kesusahan untuk bernafas, dengan tidak rela aku melepaskan pagutan kami.
..
Nafas Baekhyun memburu, dadanya naik turun dengan cepat, bibirnya terbuka, ikut meraup udaranya sebanyak-banyaknya. Dalam hati ia mengumpat, Park Chanyeol seperti akan membunuhnya.
Gerakan di bagian bawah tubuhnya semakin cepat, bibir Baekhyun kembali melantunkan desahan yang membuat Chanyeol terbakar semangat seperti seorang anggota pramuka yang menjalankan tugas pertamanya.
Salah satu tangan Chanyeol bergerak melepas ikatan pada tangan dan mata Baekhyun. Baekhyun mengerjap, mencoba menyesuaikan pengelihatan dengan cahaya dari lampu kamarnya.
Baekhyun merona saat menyadari Chanyeol sedang menatapnya dengan tatapan memuja. Penampilannya yang berantakan membuat merah di pipi Baekhyun semakin pekat. Rambut hitam acak-acakan, mata sayu, peluh yang menghiasi wajah dan tubuhnya yang tidak terlalu berotot namun memberikan nilai plus untuknya.
Wajah Chanyeol mendekat, mereka kembali berciuman. Namun kali ini tidak seperti tadi, Chanyeol menyesap bibir Baekhyun dengan lembut, berbanding terbalik dengan pinggulnya yang bergerak cepat dan kasar. Ingin mencapai kenikmatan duniawi secepat mungkin.
Di saat merasa ia akan segera keluar, Chanyeol melepaskan ciuman mereka. Tubuhnya di tegakkan, tangan memegang pinggang Baekhyun, gerakan keluar masuk semakin cepat.
Chanyeol melepaskan ikatan pada penis Baekhyun, bersamaan dengan spermanya yang menyembur di dalam lubang lelaki mungil itu.
"Anhhhhhh!"
Keduanya terdiam, sibuk menetralkan nafas masing-masing. Chanyeol mengeluarkan penisnya yang mulai kembali ke bentuk semula secara perlahan. Ia berbaring di samping Baekhyun, menaikkan selimut menutupi tubuh polos mereka. Tangannya memeluk pinggang ramping, sedang yang satunya membawa kepala Baekhyun bersandar pada dadanya.
Chanyeol mengecup kening Baekhyun, lalu mereka pergi menjelajah mimpi bersama.
..
"Ugh.."
Aku terbangun saat merasakan ada yang aneh pada putingku. Rasanya hangat dan juga lembab. Ku buka mataku dengan malas, lalu melirik ke arah dadaku. Mataku melebar saat tau apa yang menganggu tidurku.
Park Chanyeol sedang menghisap puting Baekhyun seperti seorang bayi yang sedang menyusu pada ibunya.
Dengan kesal aku langsung menjambak rambutnya. Membuatnya melepaskan hisapan pada putingku lalu berteriak sakit.
Ia mendongak menatapku, kemudian tersenyum lebar seperti orang bodoh. Aku memutar mata, terlalu malas menanggapi senyum Chanyeol. Lagipula aku masih kesal karena dia mengganggu tidurku. Tak taukah dia kalau tubuhku sakit semua?
"Selamat pagi Baekhyun."
Kali ini ia tersenyum manis, yang membuatnya terlihat sangat tampan. Dan itu membuat pipiku memerah. Dalam hati aku menggerutu, kenapa ia bisa secepat itu bertransformasi dari lelaki yang terlihat bodoh menjadi sangat tampan begitu.
"Pa-pagi."
Aku tidak tahu kenapa suaraku menjadi gugup seperti itu. Sungguh.
Chanyeol mendekat, mengecup pipiku, kemudian memelukku erat. Pipiku semakin merah di buatnya.
"Kau mau jadi kekasihku tidak?"
Mataku melebar —terkejut tentu saja. Dia bertanya seperti itu seperti sedang membahas ramalan cuaca. Aku menatapnya, mencoba mencari kesungguhan di dalam matanya. Setelah mendapatkannya, aku langsung mengangguk.
"Tentu saja aku mau!"
Chanyeol langsung memelukku lebih erat. Dia berulang kali mengatakan terima kasih karena sudah menerimanya. Aku hanya tersenyum sambil membalas pelukannya.
Senyumanku berubah menjadi seringai, tidak sia-sia aku mengikutinya selama beberapa hari, lalu berpura-pura bertemu dengannya secara kebetulan di halte bis. Orang itu pasti akan menangis frustasi jika tahu hal ini.
Note : Ini keluar jauh banget dari rencana awal /nangis/ POV Chanyeol amburadul, endingnya ikutan ga jelas, penulisannya juga ikut berubah /nangis pt.2/ tapi yang penting ini udah selesai. Oke utang saya berkurang satu
Review please ?
