Maybe Someday
.
REMAKE
Chanbaek Vers
.
Part 1
.
Disclaimer :
This is not my story . Original Story By Collen Hoover, genius author from Texas . I just remake her story be Chanbaek vers . Please be smart and wise readers . And please appreciate my work for remake this story .
Warning !!
If you don't like genderswich story, and story remake, please leave and go away, thx …
Summary
Tiap sore duduk di balkon, Baekhyun hanyut dalam petikan gitar Chanyeol di balkon seberang . Diam-diam, bibir Baekhyun bernyanyi mengiringi alunan lagu Chanyeol . Tanpa ia sadari, diam-diam Chanyeol memperhatikannya .
Ketika pacarnya ketahuan berselingkuh, Baekhyun terdampar di pintu apartemen Chanyeol . Dan untuk pertama kalinya ia tau kenyataan yang menakjubkan : Chanyeol tak bisa mendengar bunyi dan suara . Namun itu tak menghalangi mereka menciptakan lirik dan lagu . Menyelami bunyi melalui getaran senar dan vibrasi pita suara . Hingga jauh ke tempat hati mereka tak mungkin berpaling .
Story On
Baekhyun P.O.V
Aku baru meninju wajah seorang gadis . Bukan sembarang gadis . Sahabatku . Teman sekamarku .
Yah, sejak lima menit yang lalu, kurasa seharusnya aku menyebut dia mantan teman sekamarku .
Hidung gadis itu berdarah hampir seketika dan selama sedetik aku merasa jahat karena memukulnya . Tetapi, setelah itu aku ingat betapa ia gadis murahan pendusta dan penghianat, dan itu membuatku ingin meninjunya lagi . Aku akan melakukannya andai saja Kris tidak mencegah itu terjadi dengan menghalangi kami .
Jadi, sebagai pelampiasan, aku meninju Kris . Sayang sekali, itu tidak menimbulkan penderitaan apa pun pada pria itu . Tidak seperti cedera di tanganku .
Ternyata meninju seseorang jauh lebih menyakitkan dari pada yang ku bayangkan . Bukan berarti aku menghabiskan banyak waktu membayangkan seperti apa rasanya meninju orang . Meskipun aku kembali merasakan keinginan itu ketika menunduk ke ponsel, membaca SMS masuk dari Chanyeol .Ia satu lagi orang yang ingin ku beri pelajaran . Aku tau Chanyeol tidak terlibat dalam penderitaan yang ku tanggung saat ini, tapi setidaknya ia bisa memberitauku isyarat lebih cepat . Oleh karena itu, aku ingin meninjunya juga .
Chanyeol : Kau baik-baik saja ? Kau mau naik sampai hujan berhenti ?
Tentu saja aku tidak mau naik . Kepalan tanganku sakit dan kalau aku naik ke apartemen Chanyeol, tanganku akan semakin sakit setelah aku selesai menghajarnya .
Aku berbalik dan mendongak ke balkon Chanyeol . Ia bersandar di pintu kaca geser apartemen, memegang ponsel sambil memperhatikanku . Hari hampir gelap, tapi lampu halaman depan apartemen menerangi wajah pria itu . Mata hitamnya mengunci mataku dan bibirnya yang melekuk membuat senyum lembut penuh penyesalan membuatku sulit mengingat alasanku tadi marah padanya . Chanyeol menyugar rambutnya yang terjuntai lemas di dahi dengan tangan yang tidak memegang ponsel, semakin jelas menunjukan kekhawatiran di wajahnya . Atau mungkin itu ekspresi penyesalan .
Sudah sepantasnya .
Aku memutuskan tidak membalas pesan itu dan mengacungkan jari tengah kepadanya . Chanyeol menggeleng-geleng sambil mengedikkan bahu, seolah ingin berkata, Setidaknya ku coba . Setelah itu ia kembali masuk ke apartemen dan menggeser pintu hingga menutup .
Aku memasukan kembali ponselku ke saku sebelum basah, lalu memandang ke sekeliling halaman dalam kompleks apartemen yang ku tinggali selama dua bulan penuh ini . Ketika kami pertama kali pindah kemari, musim panas Texas yang galak melumat habis sisa-sisa musim semi, tapi entah bagaimana, halaman dalam ini sepertinya berhasil bertahan hidup . Hydrangea biru dan lembayung cerah berbaris di jalan-jalan setapak yang mengarah ke tangga dan air mancur yang tegak di tengah-tengah halaman .
Saat ini musim panas mencapai puncaknya yang paling tidak bersahabat, air yang mengisi air mancur sudah lama menguap hingga kering . Hydrangea itu dalam kondisi menyedihkan, menjadi pengingat samar-samar kegembiraan yang Tao dan aku rasakan ketika kami pertama kali pindah kemari . Ketika menatap halaman yang bertekuk lutut pada keganasan musim, aku merasakan ada kesamaan mengerikan antara kondisi halama dan perasaanku saat ini . Kalah dan menyedihkan .
Aku duduk di bibir air mancur dari semen yang sekarang kosong, menopang kedua siku ke dua koper yang berisi sebagian besar benda milikku, sambil menunggu taksi menjemput . Aku tidak tau kemana taksi nanti membawaku, tapi aku tau lebih baik berada dimana saja selain ditempatku saat ini . Dan itu berarti, yah, menggelandang .
Aku bisa saja menelepon orangtuaku, tapi ituakan memberi mereka alasan bagus untik dengan gencar melontarkan Kami bilang juga apa padaku .
Kami bilang juga jangan pindah terlalu jauh, Baekhyun .
Kami bilang juga jangan terlalu serius dengan laki-laki itu .
Kami bilang juga, jika kau bersedia memilih diploma hukum dari pada musik, kami akan membayar uang kuliahmu .
Kami bilang juga, jika meninju posisikan ibu jarimu di luar kepalan tangan .
Oke, orangtuaku takkan pernah mengajariku teknik meninju yang baik, tapi kalau selama ini pendapat mereka benar, seharusnya mereka mengajariku .
Aku mengepalkan tinju, meregangkan jemari, lalu mengepalkannya lagi . Tanganku sakit bukan kepalang dan aku yakin seharusnya aku mengompres tangan dengan es . Aku kasihan padan cowok-cowok . Meninju orang menyebalkan .
Mau tau apa lagi yang menyebalkan ? Hujan . Hujan srlalu menemukan waktu paling tidak tepat untuk turun, contohnya sekarang, ketika aku menjadi tunawisma .
Taksi akhirnya datang, aku berdiri dan mengambil koper-koperku . Aku menyeret koper di belakang ketika sopir taksi keluar dan membuka bagasi . Sebelum sempat menyerahkan koper pertama, perutku meletus ketika tiba-tuba sadar aku tidak membawa dompetku .
Berengsek .
Aku mengedarkan pandangan, menoleh ketempat aku tadi menduduki koper, lalu meraba sekeliling tubuh seolah donpetku akan secara ajaib terselempang di bahu . Padahal, aku tai dimana benda itu . Aku menariknya dari bahu dan menjatuhkannya ke lantai sesaat sebelum meninju hidung-Huang-Zi Tao yang ia dapat dengan harga kemahalan .
Aku menghela napas . Dan tertawa . Tentu saja aku akan meninggalkan dompetku . Hari pertamaku menjadi tunawisma akan terlalu mudah jika aku membawa dompet .
"maaf" kataku pada sopir taksi yang sedang memasukan koper kedua . "aku berubah pikiran . Aku tidak butuk taksi sekarang" .
Aku tau tidak sampai satu kilometer dari kompleks ini ada hotel . Jika aku bisa menghimpun keberanian untuk masuj lagi ke apartemen mengambil dompet, aku bisa berjalan kaki ke hotel itu dan menyewa kamar hingga tau harus melakukan apa . Bukankah aku sudah terlanjur basah kuyup ?
Sopir taksi mengeluarkan lagi koper-koperku, meletakannya di trotoar di depanku, lalu berjalan ke sisi pengemudi tanpa sekali pun membuat kontak mata denganku . Sopir itu hanya masuk ke taksi lalu pergi, seolah ia lega karena aku batal memakai jasanya .
Apakah aku terlihat semenyedihkan itu ?
Aku mengambil koper-koper itu dan kembali berjalan ke tempatku duduk beberapa saat yang lalu sebelum menyadari aku tidak membawa dompet . Aku menengok apartemenku dan dalam hati bertanya apa yang akan terjadi jika aku masuk lagi ke sana mengambil dompet . Aku meninggalkan kekacauan ketika keluar dari pintu . Kurasa aku lebih suka menjadi tunawisma di tengah guyuran hujan dari pada naik lagi ke apartemen .
Aku kembali menduduki koper dan merenungi situasiku . Aku bisa membayar orang lain naik ke apartemen, tapi siapa ? di luar tidak ada siapa-siapa dan siapa tau apakah Kris atau Tao akan menyerahkan domperku kepada orang itu ?
Ini sungguh menyebalkan . Aku tau pada akhirnya aku harus menelepon salah satu temanku, tapi untuk saat ini aku terlalu malu untuk memberi tau betapa bodohnya aku selama dua tahun terakhir ini . Aku seperti di pukul tiba-tiba .
Aku benci umurku baru genap 22 tahun dan aku masih harus menjalani usia 22 selama 365 hari lagi .
Ini menyebalkan luar biasa hingga aku … menangis ?
Bagus . Sekarang aku menangis . Aku gadis tidak punya dompet, menangis, kasar, dan tidak punya tempat tinggal . Dan meskipun tidak ingin mengakui ini, ku rasa sekarang aku patah hati .
Ya . Sekarang sesenggukan . Aku cukup yakin seperti ini rasanya patah hati .
"hujan . Ayo cepat"
Aku mendongak dan melihat ada gadis menjulang di depanku . Ia memegang payung dan menunduk kesal padaku sambil bergantian melompat dari satu kaki ke kaki lainnya, menungguku berbuat sesuatu . "aku kebasahan nih . Cepatlah"
Suara gadis itu agak mendesak, seolah ia bermaksud menolongku tapi aku tidak berterima kasih . Aku menaikan sebelah alis ketika balas menatapnya, dengan tangan menudungi mata dari tetesan hujan . Aku tidak tau mengapa gadis ini mengeluh tentang kebasahan, padahal pakaiannya tidak cukup banyak untuk jadi basah . Gadis ini nyaris tidak memakai apa-apa . Aku menatap sekilas kaus gadis itu, separuh bawahannya tidak ada, lalu aku baru sadar ia memakai seragam Hooters .
Apakah hari ini bisa menjadi lebih aneh lagi ? aku duduk di hampir seluruh benda yang ku miliki dalam dalam hujan deras, dan di perintah pelayan Hooters menyebalkan .
Aku masih memperhatikan kaus gadis itu ketika ia menyambar tanganku lalu menyentakku hingga berdiri . "Kata Chanyeol, kau akan seperti ini . Aku harus pergi bekerja . Ikut aku, ku tunjukkan letak apartemennya" . Gadis itu mengambil satu koperku, menarik pegangannya ke atas, lalu melesakannya ke tanganku . Setelah itu ia mengambil koper kedua dan bergegas meninggalkan halaman apartemen . Aku mengikuti tanpa alasan apa pun selain karena gadis itu menyeret satu koperku dan aku menginginkan koper itu kembali .
Gadis itu berseru melewati bahu ketika mulai menaiki tangga . "Aku tidak tau berapa lama kau berencana menginap, tapi aku hanya punya satu peraturan . Jauh-jauh dari kamarku"
Gadis itu tiba di apartemen dan membuka pintu, tanpa satu kali pun menoleh kebelakang untuk memastikan aku mengikuti dia atau tidak . Setelah tiba di puncak tangga, aku menghentikan langkah di luar apartemen dan menunduk pada tanaman pakis yang mendekam di pot di luar pintu yang tidak terpengaruhi hawa panas . Daun-daun tanaman itu lebat menghijau seolah mengejek musim panas karena mereka menolak menyerah pada sengatan panas . Aku tersenyum pada tanaman itu, dalam hati bangga pada si pakis . Setelah itu mengernyit ketika sadar aku iri pada daya tahan tanaman itu .
Aku menggeleng-geleng, berpaling, lalu dengan langkah ragu-ragu masuk ke apartemen yang tidak familier bagiku . Susunan ruangan dalam apartemen ini mirip apartemenku, bedanya apateremen ini terdiri atas kamar tidur ganda yang masing-masing di sekat, sehingga total memiliki empat kamar tidur . Apartemenku dan Tao hanya memilki dua kamr tidur, tapi ukuran ruang tamu kami sama besar .
Satu-satunya perbedaan jelas, aku tidak melihat gadis jalang pendusta penghianat dengan hidung berdarah berdiri di apartemen ini . Aku juga tidak melihat piring atau pakaian kotor Tao berserakan .
Gadis Hooters itu meletakan koperku di samping pintu, setelah itu ia menepi dan menungguku … yah, aku tidak tau ia menungguku melakukan apa .
Gadis itu memutar bola mata dan memegang tanganku, menarikku dari pintu untuk masuk ke apartemen . "kau ini kenapa sih ? kau bisa bicara atau tidak ?" Ia bermaksud menutup pintu setelah masuk, tapi berhenti dan berbalik dengan mata membesar . Ia mengacungkan telunjuk ke udara . "Sebentar" katanya "kau tidak …" Ia memutar bola mata dan menepuk dahi . "astaga, ternyata kau tuli" .
Heh ? ada apa dengan gadis ini ? aku menggeleng-geleng dan bermaksud menjawab, tapi gadis itu menyela .
"astaga, Kyungsoo" ia bergumam sendiri . Ia mengusap wajah sambil mengerang, tidak menghiraukan aku yang menggeleng-geleng . "kadang-kadang kau seperti gadis yang tidak sensitif" .
Wow . Gadis ini punya masalah serius dalam kemampuan memahami orang lain . Tingkahnya agak berengsek, meskipun ia berusaha keras untuk tidak seperti itu . Sekarang ia mengira aku tuli . Aku bahkan tidak tau cara meresponnya . Gadis itu menggeleng-geleng seolah kecewa pada dirinya, lalu menatap lurus-lurus padaku .
"AKU… HARUS… PERGI… BEKERJA… SEKARANG !" ia berteriak keras sekali dengan tempo lambat bukan main . Aku meringis sambil mundur, tindakan yang seharusnya menjadi petunjuk jelas bahwa aku bisa mendengar teriakannya, tapi rupanya ia tidak memperhatikan . Ia menunjuk pintu ujung lorong . "CHANYEOL… ADA… DI… KAMARNYA !"
Sebelum aku sempat menyuruh gadis itu berhenti berteriak, ia meninggalkan apartemen lalu menutup pintu .
Aku tidak tau harus berpikir apa . Atau harus melakukan apa . Aku hanya berdiri, dengan tubuh basah kuyup, di tengah apartemen yang tidak familier, sementara orang yang ingin ku tinju selain Kris dan Tao saat ini berada di kamar yang jaraknya hanya beberapa langkah dariku . Dan bicara tentang Chanyeol, untuk apa ia mengutus kekasih pelayan Hooters sintingnya untuk menjemputku ? Aku mengeluarkan ponsel dan bersiap mengetik SMS untuk Chanyeol ketika pintu kamarnya terbuka .
Chanyeol keluar ke lorong dengan lengan penuh selimut dan bantal . Begitu terjadi kontak mata di antara kami, aku terkesiap . Ku harap suaraku tidak terdengar . Aku belum pernah melihat Chanyeol dari jarak dekat dan ia kelihatan semakin tampan dilihat dari jarak beberapa langkah di bandingkan jika dari seberang halaman apartemen .
Seingatku, aku tidak pernah melihat mata yang bisa berbicara . Aki tidak tau apa maksudku dengan kata-kata itu . Rasanya jika Chanyeol menatapku sekejap saja dengan mata gelapnya aku bisa mengetahui dengan tepat apa yang diinginkan mata itu . Mata Chanyeol menusuk, tajam, dan … oh, astaga, aku melototinya .
Sudut bibir Chanyeol melekuk naik, menyunggingkan senyum maklum, ketika ia melewatiku dan langsung berjalan ke sofa .
Meskipun wajah Chanyeol tampan dan agak polos, aku ingin berteriak padanya karena membohongiku . Seharusnya ia tidak menunggu hingga dua minggu lebih untuk memberitahuku . Jika itu terjadi, aku pasti sempat membuat persiapan lebih matang . Aku tidak mengerti bagaimana selama dua minggu ini kami berbincang-bincang ia tak merasakan dorongan untuk memberitahuku bahwa kekasihku dan sahabatku tidur bersama .
Chanyeol melemparkan selimut dan bantak ke sofa .
"aku takkan menginap disini, Chanyeol" kataku, mencoba mencegah Chanyeol membuang waktu untuk beramah-tamah . Aku tau Chanyeol merasa tidak enak padaku, tapi aku tidak mengenalnya dengan baik dan aku merasa jauh lebih nyaman tidur di kamar hotel dari pada di sofa orang tidak dikenal .
Tapi kalau ku pikir lagi, menginap di hotel butuh uang . Sesuatu yang tidak kumiliki saat ini .
Uang itu ada di dompetku, diseberang halaman di apartemen dua orang yang paling tidak ingin kulihat saat ini .
Mungkin tidur di sofa ini bukan gagasan buruk .
Chanyeol membereskan sofa lalu berbalik, tatapannya jatuh ke pakaianku yang basah kuyup . Aku menunduk ke genangan air uang terbentuk di lantai .
"oh, maaf" gumamku . Rambutku melekat ke wajah, atasanku sekarang menjadi penghalang menyedihkan antara dunia luar dan bra-ku yang tampak sangat pink dan sangat jelas . "dimana kamar mandimu ?"
Chanyeol mengangguk ke pintu kamar mandi .
Aku berbalik, membuka resleting koper, dan mulai merogoh isinya sementara Chanyeol berjalan ke kamarnya . Aku senang Chanyeol tidak melontarkan pertanyaan tentang apa yang terjadi setelah percakapan kami sebelumnya . Aku tidak bersemangat membahasnya .
Aku memilih celana yoga dan tank top, lalu mengambil tas berisi perlengkapan mandi dan berjalan ke kamar mandi . Batinku terusik karena keadaan disini mengingatkanku pada apartemenku sendiri, dengan beberapa perbedaan tidak kentara . Kamar mandinya sama, kamar mandi dengan pintu Jack-and-Jill di kiri dan kanan, mengarah ke dua kamar tidur yang bersebelahan . Salah satunya pasti kamar Chanyeol . Aku penasaran kamar satu lagi milik siapa, tapi rasa penasaranku tidak cukup besar untuk membuka kamar itu . Peraturan satu-satunya gadis Hooters itu adalah menjauh dari kamarnya dan sepertinya ia bukan tipe orang yang suka bercanda .
Aku menutup pintu kamar mandi yang mengarah ke ruang tamu lalu menguncinya, setelah itu memeruksa kunci pintu kedua menuju kamar tidur untuk memeasyikan tidak ada yang bisa masuk . Aku tidak tau apakah ada orang lain yang tinggal di apartemen ini selain Chanyeol dan pelayan Hooters itu, tapu aku tidak mau mengambil resiko .
Aku melepaskan pakaianku yang basah kuyup dan melemparkannya ke wastafel supaya tidak membuat lantai basah . Aku menyalahkan pancuran dan menunggu air menggangat, lalu melangkah ke bawah semburan air dan memejamkan mata, berterimakasih karena aku tidak lagi duduk di luar di guyur hujan . Saat yang sama, aku juga tidak benar-benar senang dengan tempatku berada saat ini .
Aku tidak pernah menduga ulang tahunku yang ke-22 akan berakhir seperti ini -mandi di aprtrmen orang tidak dikenal dan di tidur di sofa cowok yang ku kenal kurang dari dua minggu, semua akibat ulah dua orang yang kuasayangi dan paling ku percayai .
TBC
Alloha~ :D
Bagaimana mau di lanjut atau stop aja nih ?
Oya, mungkin ff aku yang Twins But Different, bakalan hiatus, panjang . Sepanjang punya ChanHun *eh xD
Karna sepertinya udah mulai merusak ketenangan jiwa ku *waks, karna banyak pesan masuk dengan segala … ya aku ga mau bilanglah, pokoknya itu deh . Hehehehe jadi kalau seandainya kalian udah bosan dan muak, boleh kok tinggalin ceritanya :')
Oya, don't forget to Vomment yang sayang-sayangkuh .
Love ya~
Oke, last statement~
See ya~
And
Pyong~ :D
