"Akhirnya ketemu juga, pasangan takdir papa."
Kali ini Sasuke dan Naruto secara bersamaan melebarkan bola matanya, menatap bocah itu dengan pandangan kaget.
Tanpa mempedulikan kekagetan Sasuke dan Naruto, bocah itu langsung memeluk lengan Naruto. "Karena kau pasangan takdir papa, kau akan jadi 'mama'ku!" ucapnya bahagia sambil mengusapkan wajahnya sendiri ke lengan Naruto.
Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa bocah itu? Siapa papa yang dimaksud olehnya? Kenapa mendadak Naruto harus jadi 'mama' tanpa persiapan? Apa maksud dari pertanyaan-pertanyaan aneh ini?
Continuation of The Fuss
Disclaimer : Karakter adalah milik Masashi Kishimoto yang baru bikin saya nangis-nangis, lainnya adalah ide saya
Rating : M
Pairing : Sasunaru, slight Itakyuu
Warning : YAOI, OOC, TYPO, GARING, AU, bahasa kacau, ETC, mungkin ada M-Preg
Genre : Romance, humor, chap ini tambah less humor
DON'T LIKE, DON'T READ
Cerita ini murni untuk kepuasan pribadi Author saja. No bashing, please. Jadi, lebih baik segera tutup saja fic ini jika Anda merasa tidak suka dengan apa yang ada di dalamnya, apalagi untuk yang anti-yaoi. Mari buat dunia fandom ini dipenuhi kedamaian X)
Ini adalah sequel dari 'The Ominous First Time', fic Sasunaru pertama yang saya publish. Tapi bisa juga dibaca sebagai cerita terpisah sih, mungkin xD
Chapter 2
Naruto dan Sasuke masih saja terbelalak, dengan sebelah tangan Naruto masih dipeluk oleh anak yang tidak jelas dari mana asal usulnya itu. Perlahan, dengan horor Naruto menoleh ke arah Sasuke.
"Te-teme…," lirihnya. "Ki-kita baru saja menikah kan?" tanya Naruto pelan.
"Hn." Sasuke yang masih syok kembali ke mode irit bicara.
"Ki-kita belum sempat ngapa-ngapain kan?"
"Hn."
"Kau pasangan takdirku kan? Suamiku, kan?"
"Hn."
"Lalu siapa yang sudah kau hamili sebelum menikah denganku?"
"Haaaahhh?" Sasuke kali ini langsung mengernyit sambil menatap Naruto dengan tatapan 'are you kidding me?'. Apa-apaan pertanyaan terakhir itu?
Naruto kini menatap anak yang masih menggelayut manja di lengannya itu. "Anak ini bilang kalau aku pasangan takdir papanya."
Sasuke mengikuti arah pandang Naruto dan menatap anak yang masih keasyikan menikmati lengan Naruto yang memang agak gempal itu. "Lalu?"
"Kita agak pakai rumus logika nih," ujar Naruto, entah kenapa mendadak terdengar agak intelek. Sasuke, gara-gara efek agak syok, mengangguk-angguk saja. Siapa tahu dobenya bisa memecahkan misteri yang datang mendadak ini. "Kau suamiku. Kau pasangan takdirku. Berarti aku juga pasangan takdirmu. Anak ini bilang kalau aku pasangan takdir papanya. Berarti papanya pasangan takdirku. Sedangkan tadi kita sudah bahas kalau kau adalah pasangan takdirku. Kesimpulan akhir, kau itu papanya dia."
Naruto terlihat sangat serius, sedangkan Sasuke mulai mengedutkan dahinya.
"Benar kan teme?" tanya Naruto, memalingkan wajahnya menghadap Sasuke. "Ja-jadi kau sudah pernah menghamili orang lain?" Kekecewaan tersirat di wajahnya. "Te-teganya kau padaku yang baru kau nikahi ini. Ke-kenapa kau tidak bilang saja dari awal kalau ka-"
"Baka!" Kali ini tidak segan-segan, Sasuke melayangkan jitakan di kepala dobenya. Apa-apaan ini, kenapa siang-siang begini mendadak sudah ada drama sabun? Mana temanya tema yang sudah lumayan pasaran lagi! Dan lagi, Sasuke berasa dia dijadikan pemeran utama yang selingkuh tapi mencoba menutup-nutupinya.
"Sakit, teme!" Naruto mengusap kepalanya dengan sebelah tangan. "Apa-apaan kau itu? Sudah selingkuh sampai punya anak, masih saja main kekerasan gitu," gerutu Naruto. "Lihat aja sampai aku lapor ke Komnas Perlindungan Anak."
Keringat besar menggantung di wajah Sasuke. Tidak ayah tidak anak sama saja rupanya. Minato, sang ayah mertua, bahkan sampai sekarang pun masih menganggap anak bungsunya itu anak umur lima tahun yang kalau menangis harus dibacakan dongeng dulu, dibelikan balon dulu, dikasih permen dulu, disiram ramen panas dulu, dipukul leher belakangnya dulu biar bisa diam. Lupakan dua cara terakhir tadi. Ternyata dobenya sendiri tidak keberatan dianggap sebagai anak-anak. Lihat saja, dia merasa dirinya masih anak-anak, sampai mau melaporkan KDRT ke Komnas Perlindungan Anak segala. Bagaimana kalau ternyata ia melapor beneran dan Sasuke dianggap pedofil? Sudah begitu, tidak cuma pedofil dia bahkan menyakiti istrinya yang masih anak-anak pula! Tambah lagi, nanti dia juga akan dilaporkan karena sudah selingkuh sampai punya anak gelap. Masa depan apa yang akan ia dapat dengan begitu banyaknya kasus yang dituduhkan padanya?
Sementara Sasuke masih berpikir dengan ngaco gara-gara kengacoan Naruto, Naruto sendiri menatap anak di sebelahnya dengan pikiran yang juga melanglang buana.
Jadi ini anaknya si teme? Tapi masa sih dia tega selingkuh sampai bikin anak segala? Mana anaknya sudah lumayan besar pula! Jangan-jangan begitu masuk SMA dia punya pacar sampai pacarnya hamil? Kalau begitu, jangan-jangan mama sebenarnya anak ini adalah murid yang waktu SMA keluar atau pindah sekolah? Kalau diingat-ingat, memang ada sih yang mendadak pindah. Ngg… kalau tidak salah… Gaara? Iya, mendadak Gaara pindah sekolah entah apa alasannya! Jadi apa teme selingkuh sama Gaara? Ni anak juga rambutnya merah. Gaara rambutnya merah. Gen rambut merah turun ke anak. Berarti memang ini anaknya Gaara?! Anaknya teme sama Gaara?!
"Jadi kau selingkuh dengan Gaara?!" teriak Naruto agak histeris sambil mendadak menatap Sasuke. Otomatis Sasuke yang masih berpikir dengan ngaco itu tersentak kaget.
"Hah? Gaara?"
Naruto meletakkan sebelah tangannya di atas kepala anak yang entah kenapa seperti tidak berniat ikut campur pertengkaran suami-istri di dekatnya itu. "Lihat! Anak ini rambutnya merah! Terus Gaara juga dulu pindah SMA mendadak waktu kita kelas 1. Pasti karena hamil ini anak. Dan karena Gaara tidak mau aku kecewa gara-gara tahu pacarku sudah menghamilinya, dia lebih memilih untuk diam, pindah, membesarkan anak sendirian. Iya kan teme?!" seru Naruto heboh-kali ini agak disertai rasa bangga. Entah kenapa dia mendadak merasa dirinya pintar dalam berkreasi dan memecahkan misteri sehingga ia pantas menjadi seorang author fanfic atau detektif.
Sekarang perasaan Sasuke sudah campur aduk. Antara mau geli, marah, kecewa, atau bingung gara-gara betapa menakjubkannya pemikiran dobenya. Kenapa bisa mendadak dia ambil kesimpulan seperti itu?
Sasuke menaruh sebelah tangannya di dahi Naruto, mencoba mengecek suhu tubuhnya. "Kau masih waras kan?"
"Sangat," sahut Naruto cepat. "Kau bahkan tidak memujiku karena aku berhasil memecahkan teka-teki ini dengan cepat?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya, membuat tingkat keimutannya bertambah 100 persen. Kelihatannya segala perasaan campur aduk dalam diri Naruto sudah dialihkan ke Sasuke, dan sekarang yang ada di otaknya hanyalah rasa bangga karena ia merasa bertambah pintar. Lihat, bahkan Sasuke yang dari dulu dijuluki jenius saja sampai saat ini belum mengucapkan apa-apa maupun mendapatkan titik terang dari misteri baru ini.
"Lalu darimana kau mendapat kesimpulan ngawur seperti itu?" Sasuke mengetuk pelan kepala Naruto, tanda sayangnya. Kalau tidak sadar bahwa ada anak kecil di sebelah dan pemotretan di dekat situ, Sasuke sudah melakukan hal nista pada Naruto dan membuatnya merasakan apa yang namanya 'siang pertama' untuk menghukumnya.
"Ngawur apanya?" Naruto malah mengernyit. "Bukankah ini pemecahan dari teka-teki siang ini? Buktinya sudah jelas, teme! Jadi kalau kau belum mengerti, aku tidak keberatan menjelaskan kok. Begini, jadi sebenarnya Gaara itu adalah mama asli dari anak ini karena-"
"Nagato?!" seru seseorang, memotong ucapan Naruto yang ingin menjelaskan pemikirannya pada Sasuke. Sontak, Naruto, Sasuke, dan anak tadi langsung menoleh ke sumber suara.
Beberapa meter dari tempat mereka berdiri, seorang pria berambut oranye agak kemerahan memandang ke arah mereka dengan tatapan heran. Ia membiarkan bagian depan kemejanya terbuka. Tampaknya, dia adalah model yang tadi diamati oleh Naruto itu.
Naruto seketika tersentak, merasa instingnya, yang mengatakan bahwa ia tahu pria itu, tidaklah salah. Namun belum sempat ia berkata-kata, mendadak anak di sebelahnya itu sudah berteriak.
"Papa!" seru anak itu sambil berlari menuju ke arah model tadi.
Sasuke mendengus pelan sambil melirik ke arah Naruto. "Hmm… Aku papanya, huh?" sindirnya. Namun rupanya yang disindir belum sadar, masih mengernyit sambil memandang ke arah model tadi dengan tatapan serius. "Dobe?"
"Dasar. Papa sudah bilang kan, tunggu saja di vila sampai papa selesai pemotretan. Kalau disini, staf-staf sibuk semua, nggak ada yang bisa ajak Nagato main, kan?" Model tadi mengacak rambut anak tadi, yang akhirnya diketahui bernama Nagato.
"Tapi, papa, aku ketemu sama 'mama'!" ujar Nagato sambil menarik-narik lengan si model.
"Mama?"
Nagato mengangguk dengan cepat dan menunjuk ke arah pasangan Uchiha yang sekarang sedang terdiam dengan tidak biasanya itu. Si model mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Nagato, lalu sedikit tersentak saat melihat Naruto.
"Naruto?" tanyanya heran. Sasuke yang mendengarnya merasa terkejut karena si model mengetahui identitas 'istri'nya. Si model sendiri sekarang sudah ditarik oleh Nagato untuk mendekati Naruto.
Bagaimana dengan si 'mama'? Naruto tampak berpikir dengan serius kali ini. sebelah tangannya ia gunakan untuk memegang dagunya, sebelah tangannya yang lain menggerakkan jari-jarinya untuk mengetuk pahanya sendiri. Bahkan sampai kedua orang itu sampai di depannya, ia masih berpikir.
"Dia 'mama' bukan? Pasangan takdir papa yang papa ceritakan itu?" Nagato menunjuk-nunjuk Naruto.
Sasuke sudah mengeraskan rahangnya. Apaan itu? Pasangan takdir Naruto itu ya cuma satu, yaitu dia, Sasuke Uchiha. Kenapa mendadak diakui sebagai mama dan pasangan takdir orang lain?
"Naruto?" Si model mencoba memanggil orang di depannya itu. "Kau Naruto kan?" tanyanya lagi sambil melambaikan tangannya di depan Naruto, mencoba untuk mengalihkan fokusnya.
Sebenarnya Sasuke yang notabene posesif ini sudah ingin ambil tindakan. Tapi mendadak ia ingat jati dirinya sebagai orang Uchiha yang sejatinya bisa bertindak tenang dan kalem di setiap situasi. Ia harus menganalisa kejadian di depannya ini dulu sebelum bertindak gegabah.
"Hei, kau ingat aku kan?" tanya si model lagi, masih sambil mencoba mengembalikan fokus Naruto.
"Hmmm…" Naruto akhirnya mulai bersuara. Sasuke pun mulai membuka telinganya lebar-lebar, ingin mendengar apa komentar dobenya mengenai si model yang kelihatannya kenal dengan dirinya. "Aku tidak mungkin lupa…" gumamnya, tapi masih terdengar oleh orang-orang di sekelilingnya itu.
Si model nampak tersenyum dengan lega. "Sudah kuduga kau tidak mungkin lupa dengan-"
"Tapi seingatku Gaara itu punyanya tato di dahinya, bukan piercing bertebaran seperti ini!" potong Naruto, membuat Sasuke langsung menepuk jidatnya dan si model mendadak merasakan kepentingan untuk menyusruk ke pasir.
"Mau dilihat darimanapun juga dia bukanlah Gaara, dobe." Sasuke sekarang memijat pelipisnya. Sampai seberapa jauhkah dobenya akan bertindak bodoh?
"Tapi kan kita sudah sampai pada kesimpulan kalau bocah ini anaknya Gaara kan?" protes Naruto.
"Bukan, calon 'mama'." Sekarang gantian Nagato yang berbicara dan langsung mendapat tatapan tajam dari Sasuke. Siapa heh yang dia panggil calon mama? "Ini papaku," lanjut si bocah tanpa mempedulikan tatapan super pedas yang diberikan padanya. Ia menunjuk si model yang sekarang mengacak lembut rambut anaknya itu.
"Benarkah kau tidak ingat padaku, Narunaru?" tanya si model-membuat Sasuke tambah emosi karena dia memanggil nama Naruto dengan panggilan yang terdengar manja dan spesial.
Narunaru? batin Naruto. Yang dulu sering memanggilku dengan panggilan seperti itu cuma…
"Pein-nii?" seru Naruto heboh sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat ke depan hidung Pein. Sungguh tidak sopan.
"Hahahahaha. Akhirnya beneran ingat juga," ucap si model alias Pein sambil menggaruk kepalanya.
"Habis siapa suruh mukamu dikasi piercing dan rambutmu mendadak berubah warna!" seru Naruto, masih belum menurunkan telunjuknya.
Dengan segera, Sasuke meraih tangan Naruto dan menurunkannya dengan paksa. "Itu tidak sopan, dobe sayang." Sasuke mengucapkannya sambil melirik ke arah Pein, seolah ingin memperlihatkan bahwa ia masih mesra-mesra saja dengan Naruto.
Namun Pein tidak bereaksi seperti yang diharapkan Sasuke. Ia sama sekali tidak terkejut Sasuke memanggil Naruto dengan panggilan 'sayang', dan sama sekali belum menghilangkan cengiran di wajahnya.
"Ini tuntutan kerjaan, Narunaru," sahut Pein. "Kata stylish-nya, rambutku bakal terlihat lebih seksi kalau diberi highlight warna merah begini. Terkena sinar matahari pun akan terlihat lebih bling-bling. Kalau piercing sih, hobiku sendiri," tambahnya.
"Oh begitu ya?" Naruto mengangguk-angguk sambil mengarahkan pandangannya kepada rambut Pein.
Sasuke menatap Naruto dengan agak horor, takut kalau nanti habis pulang, Naruto malah meminta rambutnya untuk diberi highlight warna merah juga. Sebenarnya sih walau bakal terlihat mencolok mata, Sasuke masih tidak begitu keberatan asal dobenya senang. Namun kalau mengingat dua rambut merah yang ada di keluarga inti 'istri'nya itu, Sasuke hanya bisa bergidik ngeri. Takutnya, rambut merah itu juga akan mempengaruhi kepribadian Naruto. Lihat saja, ibu mertuanya dan Kurama sama-sama berambut merah dan sama-sama brutal. Sekarang sih Naruto masih aman karena ia mengikuti gen Minato yang termasuk kalem tapi rada bloon. Bayangkan saja kalau gara-gara rambutnya berubah jadi merah, kepribadiannya juga berubah jadi brutal sama seperti ibu dan kakaknya. Bisa-bisa sebentar lagi Sasuke sudah bernasib sama seperti Itachi, dikuasai dan diperbudak oleh uke-nya. Ogah amat!
"Kau sih gampang dikenali gara-gara garis kucingmu itu, Narunaru." Pein tertawa sambil melihat pipi Naruto yang dihiasi garis-garis seperti kumis kucing yang membuat Naruto tambah imut. "Oh ya, tadi kulihat kau bersama dengan Nagato. Sudah kenal dengannya?" tanya Pein sambil melirik Nagato, membuyarkan lamunan ngawur Sasuke.
Naruto hanya menggeleng pelan. Memang sih, dari tadi ia ditempel oleh si bocah dan sudah mendengar kalau namanya Nagato. Tapi bukan berarti ia sudah kenal kan?
"Perkenalkan, namaku Nagato Uzumaki." Nagato menundukkan kepala-santun.
"Uzumaki?" tanya Sasuke cepat, mengangkat alisnya. "Bukankah Uzumaki itu nama kaa-san?" Sekarang Sasuke bertanya kepada Naruto. Seingatnya, nama asli Kushina adalah Kushina Uzumaki. Apa bocah ini ada hubungannya dengan Kushina?
"Iya. Itu dari namaku. Pein Uzumaki." Pein menyahut. "Aku masih terhitung kerabat jauh dari Kushina-san," tambahnya.
"Dan kerabatku juga." Naruto mendadak ikut nyambung saja dengan nada bangga. Mungkin ia bangga satu kerabat jauhnya ada yang menjadi model, walau ia belum tahu pasti model apakah kerabatnya itu.
"Ya, walaupun kami sebenarnya lebih ke kerabat jauh yang bisa dihitung tidak ada hubungan darah secara langsung," ucap Pein dengan arti yang sulit dicerna Sasuke. Perlahan, Pein memandang Sasuke sekilas sambil memberikan senyum yang misterius.
Sasuke mengepalkan tangannya dan menatap Pein tajam. Kenapa ia merasakan aura tidak enak dari Pein?
"Papa, calon mama, dan om pucat!" teriak Nagato mendadak-membuat tatapan tajam Sasuke langsung beralih ke bocah yang dirasanya sedeng itu.
Om? Dia masih muda ya, hellow?! Dan pucat? Kulitnya memang pucat. Tapi kalau dipanggil dengan 'om pucat', dia berasa jadi orang tua setengah baya yang sakit-sakitan.
"Aku belum selesai memperkenalkan diri!" Nagato menggembungkan pipinya, sedikit kesal. "Dasar orang dewasa, sukanya menganggap remeh anak kecil, seenaknya merebut dialog, uda gitu akunya dicuekin pula! Nggak tahu apa kalo aku yang udah berjasa ngorbanin diri demi bikin banyak orang di Konoha selamat? Bayangin kalo aku bebal-bebal aja, Kakashi bakal ganti status jadi deceased di Naruto wikia!" omelnya panjang lebar.
Semua yang ada disitu seketika tersentak. Ja-jadi bocah ini kalau dipikir-pikir, dia memang punya jasa besar di dunia Naruto juga rupanya. Dia memang tidak boleh diremehkan.
Tapi…
Sekarang mereka adalah karakter di fanfic dan bukan lagi karakter di dunia ninja Naruto. Jadi kenapa mendadak si bocah itu menyangkut-pautkan cerita fanfic ini dengan cerita asli Naruto? Apakah dia bekerja sama dengan Naruto yang tadi sempat membahas Sasuke si ninja untuk bikin authordituduh menyabotase cerita asli Naruto?
Dengan segera Pein langsung menjitak kepala anaknya itu. "Nagato, sadarlah!" Tangannya lalu bergerak untuk menarik pipi kenyal bocah itu. "Kesal sih boleh, tapi jangan sampai salah alur seperti ini. Disini kau jadi anakku. Ingat?"
Nagato yang tadinya mengaduh langsung terdiam. Matanya menunjukkan sorot penyesalan. "Iya, papa. Maaf."
Pein langsung tersenyum dan mengacak rambut Nagato. "Pintar. Sekarang lanjutkan, kau mau bicara apa."
"Iya, aku mau lanjut perkenalan!" seru Nagato yang mood-nya mendadak sudah berubah saja. Ia mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi. "Nagato Uzumaki, 6 tahun!" katanya dengan mantap. "Sudah masuk sekolah dasar, sudah tidak cadel, jenius, ceria, menawan, single-"
Lagi-lagi si bocah sedeng ini membuat ketiga orang dewasa di sekelilingnya sweatdrop berjamaah. Ini bocah memperkenalkan diri dengan niat mencari pasangan apa?
"-lalu…" tambah Nagato-membuat yang lainnya memperhatikannya lagi. "… aku juga calon anak tiri dari Naruto Namikaze." Nagato langsung tersenyum dengan lebar ke arah Naruto yang sekarang terdiam sambil berkedip-kedip.
Sasuke berdehem. "Maaf, dia sudah berganti nama jadi Naruto Uchiha dan-"
"Naruto Namikaze sebentar lagi akan jadi pengantin papa!" Nagato dengan beraninya memotong ucapan Sasuke. "Yang berarti, sebentar lagi ia akan jadi mamaku!"
Dengan segera aura hitam keluar dari sekujur tubuh Sasuke. Ingin sekali rasanya ia mengambil plester dan membungkam mulut anak kecil ini lalu ia hanyutkan ke laut biar ia menjadi putra duyung sehingga pantai ini jadi tempat pertunjukan dan para pedagang makanan mau berjualan di pulau pribadi ini seperti kehendak Naruto.
Tapi Sasuke sadar, ia bukanlah psikopat. Ia tidak boleh kesal dan jengkel kepada anak ini. Lagipula, masa ia melupakan kata-kata bijak Itachi yang pernah diucapkan kepadanya?
"Otouto, ingatlah, jangan sampai kau jengkel secara berlebihan ke orang lain. Bisa jadi nanti kau malah kena karma dan naksir ke orang itu."
Lihat? Bukankah itu akan jadi sebuah disaster jika kata-kata Itachi memanglah benar? Maaf-maaf saja, Sasuke belum sanggup dan tidaklah mau jika mendadak harus dipairingkan dengan Nagato yang notabene disini masih bocah. Bisa bayangkan pairing Sasuke-Nagato si bocah dengan rating M?
Mulut Sasuke dengan segera langsung menunjukkan senyum yang luar biasa kinclong, membuat ketiga manusia lainnya langsung menutup mata mereka karena merasa silau. Apalagi Naruto. Ia merasa kalau mendadak suaminya ini menjadi tidak waras karena bisa tersenyum sebegitu lebarnya. Apa yang sudah terjadi di pikiran Sasuke?
"Papa! Ini silau!" Nagato langsung memeluk tubuh Pein sambil menyembunyikan matanya. "Suruh om pucat itu berhenti berbuat mengerikan seperti itu!"
Sasuke tidak mempedulikan panggilan yang diberikan Nagato itu padanya. Ia masih saja tersenyum OOC. "Apa, Nagato? Papa ada disini lho," ucapnya-edan.
"Kau apa-apaan sih teme?" protes Naruto sambil sibuk menutupi matanya.
"Begini, Naru sayang." Sasuke dengan cepat merangkul pundak Naruto. "Kalau si bocah ini bersikeras memanggilmu 'mama', maka dia harus bisa memanggilku 'papa'. Secara, aku ini suamimu, kan?"
Karena sudah saking ogahnya dia untuk membayangkan pairingnya dengan si bocah, Sasuke akhirnya memilih untuk menjadi OOC dan mengikuti alur permainan Nagato saja. Ia tidak akan kalah dengan si bocah.
"Enggak! Papaku cuma Pein Uzumaki! Ntar Naru-chan nikah sama papa, trus 'mama'ku namanya jadi 'Naruto Uzumaki'!" si bocah merah tetap ngeyel sambil memeluk papanya kian erat. "Siapa juga yang mau om pucat sepertimu jadi ayah?"
Kedutan sudah muncul di dahi Sasuke, namun sebisa mungkin Sasuke tetap mencoba bersikap baik. "Aku kan hanya menuruti kemauanmu, kan? Naruto ini sudah sepaket denganku. Kalau sudah paketan, tidak bisa diambil terpisah," jelasnya yang seperti menjelaskan menu paketan di restoran.
"Sebenarnya apa maksudnya ini, Pein-nii?" tanya Naruto sambil mengernyit ke Pein, meminta penjelasan darinya. "Kenapa Nagato ngebet menjadikanku mamanya sekaligus pasangan takdirmu? Kemana mama aslinya?" Kali ini Naruto merasa kalau dialah satu-satunya tokoh yang masih waras disini. Lihat, bahkan suaminya pun sudah rusak gara-gara saking OOC-nya.
Pein menghela napas. "Ini agak rumit, Narunaru," desahnya sambil mengusap kepala Nagato dengan lembut. Sasuke yang tadi masih menggoda Nagato pun akhirnya kembali ke mode Uchiha-nya, ingin mendengarkan penjelasan yang sesungguhnya dari kehebohan ini. "Maaf, tapi bisakah kita bahas ini nanti malam saja? Sehabis ini aku masih ada pekerjaan, dan kurasa kita tidak akan punya banyak waktu untuk membahas hal ini."
"Nanti malam?" Bukannya Naruto, malah Sasuke yang bertanya. "Maaf, tapi nanti malam kami sudah berencana untuk makan malam bersa-"
"Kalau begitu, sekalian saja kita makan bersama!" Naruto yang tidak peka malah memperburuk suasana hati Sasuke. "Sekalian bercerita-cerita. Sudah lama kita tidak bertemu soalnya!" ucapnya ceria, tidak sadar bahwa pria di sebelahnya sudah siap mengeluarkan amaterasu.
"Dengan senang hati." Pein menyahut cepat, melayangkan lirikan tajam tanda kemenangan pada Sasuke yang sekarang sudah makin gondok. "Kalian akan makan malam dimana?"
"Lihat ada cerukan di sana?" Naruto menunjuk tempat yang agak jauh dari tempat mereka berdiri. "Nanti malam kami akan makan malam disana. Tou-san sudah menyiapkan semuanya, jadi nanti kami tinggal bilang ke salah satu maid vila saja kalau akan ada tambahan dua orang yang ikut makan malam. Disana tempatnya asik lho. Kita bisa makan sambil main air juga. Katanya, walaupun sudah malam, tempat itu tetap tergenang air. Oh iya, vila kami ada di dekat situ juga." Naruto menjelaskan panjang lebar.
"Deal!" ucap Pein sambil tersenyum. "Tuh dengar, nanti malam kau harus dandan yang cakep," katanya pada Nagato yang sekarang melihat Naruto dengan mata bling-bling.
"Yay! Nanti malam calon 'mama' juga harus dandan yang cakep ya, biar kita kelihatan kayak keluarga yang harmonis dan ganteng!" sahut Nagato dengan riangnya.
"Hahahaha." Naruto tertawa grogi, tidak tahu harus menanggapi apa. "Yah pokoknya, nanti malam jam 7 yah."
"Oke." Pein mengangguk sambil memberi Naruto pose cool guy milik Rock Lee. "Kalau begitu, kami pamit dulu ya sebelum banci bodoh itu kesini. Kalau dia kesini, tamatlah nasib kalian juga." Pein menghela napas.
"Banci bodoh?" Naruto memiringkan kepalanya-heran. "Siapa?"
"Pengarah gaya sekaligus stylishku." Pein mengedikkan bahunya malas. "Oke, sampai nanti malam, Narunaru dan…"
Saat itulah Naruto baru sadar kalau dari tadi dia belum mengenalkan Sasuke pada Pein dan Nagato. "Oh dia ini-"
"Sasuke Uchiha." Sasuke dengan cepat memotong. "Dan juga suami Naruto." Ia menaruh tangannya melingkari pinggang Naruto. Gantianlah Nagato yang menatapnya tidak terima.
"Apa-apaan itu? Naru-chan adalah pasa-" Mulut Nagato terbungkam oleh tangan Pein sebelum ia berhasil menyelesaikan protesnya.
"Baiklah, Uchiha-san. Kami pamit dulu. Sampai jumpa lagi." Dengan tangan yang sebelah lagi, Pein mengangkat Nagato, masih sambil membekap mulutnya. Kalau mereka beradu mulut lagi, bisa habis hari ini cuma buat menghabiskan ludah.
"Sampai jumpa nanti!" Naruto melambaikan tangannya dengan ceria kepada Pein yang semakin menjauh, menuju ke tempat pemotretannya semula yang sebenarnya tidak begitu jauh. Terlihat Pein memasrahkan Nagato pada seorang staf, sedangkan ia sendiri langsung berbincang dengan stylish-nya yang ia sebut banci tadi.
"Aku kembali ke vila." Suara Sasuke membuat Naruto menoleh ke arahnya.
Aura tidak enak yang keluar dari sekujur tubuh Sasuke sudah membuat Naruto paham kalau suaminya ini sedang berada dalam mood yang benar-benar jelek. Dan barulah saat itu ia sadar, secara tidak langsung ia sudah membatalkan rencana mereka untuk dinner berdua.
"Sasuke…" panggil Naruto. Panggilan 'teme' yang biasanya ia layangkan ke Sasuke saat ini tidak berani ia keluarkan. Ini bukanlah saat yang tepat untuk bercanda dulu. Ada saatnya untuk mereka harus bersikap serius.
"Hn." Tanggapan semacam ini sudah meyakinkan Naruto tentang dugaannya. Sasuke benar-benar marah.
"Aku minta maaf. Aku secara reflek langsung mengajaknya makan bersama kita. Kami sudah lama sekali tidak bertemu…" Naruto mencoba menjelaskan sambil berusaha berjalan sejajar dengan Sasuke.
"Hn."
"Dia hanya kerabat jauhku dan dulu dia tinggal di dekat rumah kakek. Kami hanya bertemu waktu musim panas. Itu saja hanya sampai musim panas sebelum kita jadian."
"Hn."
"Dia pindah ke luar negri untuk kuliah, dan sejak saat itu aku dan Kyuu-nii pun sudah tidak pernah ada kontak dengannya lagi. Bahkan aku tidak tahu kalau ia sudah menikah dan punya anak."
"Hn."
"Maka dari itu aku ingin dengar ceritanya, sejak kapan dia jadi model, sejak kapan dia menikah, dengan siapa dia menikah, kenapa dia bisa ada disini…"
"Hn."
"Karena itu, tidak ada alasan untuk cemburu."
"Kau membatalkan dinner kita, Naruto." Kali ini akhirnya keluarlah kata-kata selain 'hn' dari mulut Sasuke. Nama 'Naruto' pun mengindikasikan bahwa Sasuke bersikap serius dalam menghadapi situasi ini.
"Maafkan aku. Tapi kita masih bisa melakukannya besok, kan?" Naruto mencoba membujuk Sasuke yang sedang merajuk itu. Sebenarnya ia merasa bersalah karena memang ialah yang merusak acara malam hari ini.
"Aku tidak akan datang nanti." Sasuke tidak menanggapi tawaran Naruto. "Bersenang-senanglah dengannya."
Mau tidak mau Naruto merasa agak frustasi. Sasuke memang pencemburu berat. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat. Tujuh tahun sudah cukup membuatnya mengerti bagaimana seorang Sasuke bersikap terhadap apapun yang jadi miliknya. Ia sendiripun mengakui kalau suaminya itu posesif dan protektif. Namun biasanya, sikap posesifnya yang biasa ia tunjukkan ke teman-temannya itu hanyalah sebatas posesif setengah bercanda. Posesif yang membuatnya malah terlihat kekanakan, dan Naruto menyukai hal itu.
Tapi kali ini situasi sudah berbeda.
Terakhir kali Naruto melihat keposesifan Sasuke yang serius adalah waktu mereka bertemu Utakata waktu merayakan first anniversary di taman bermain tempat kencan pertama mereka dulu. Naruto sebenarnya sangat paham Sasuke kurang cocok dengan Utakata. Utakata adalah teman sekelas Kurama dan Itachi yang dulu pernah menyatakan cinta kepadanya saat dia masih belum bersama dengan Sasuke. Utakata yang sebenarnya teman dekat Kurama dan sering datang ke rumah itu lama-lama menaruh hati kepada Naruto. Akhirnya ia memberanikan diri mengungkapkannya sebelum lulus SMP karena ia harus pindah ke SMA di luar kota. Tentu saja Naruto yang hanya menganggapnya sebagai kakak angkat langsung menolaknya dengan sopan. Setelah itu mereka tidak bertemu lagi, sampai kejadian di taman bermain itu.
Utakata yang melihat Sasuke dan Naruto langsung memisahkan diri dari teman-temannya dan memutuskan bergabung dengan mereka berdua saja. Naruto langsung mengiyakan, tidak sensitif dengan tatapan tajam dari Sasuke yang waktu itu masih menjabat sebagai kekasihnya. Langsung saja, hari itu kencan mereka malah didominasi oleh Utakata-Naruto. Sasuke merasa diacuhkan oleh Naruto yang senang karena bisa bertemu lagi dengan orang yang sudah ia anggap kakak itu. Seperti menambah minyak ke api, sebelum mereka berpisah, Utakata sempat mengecup singkat bibir Naruto sambil menyatakan kalau ia akan berusaha menyukai orang lain mulai dari saat itu.
Jadilah, Sasuke marah besar untuk pertama kalinya. Waktu mereka untuk kencan, sekaligus bibir kekasihnya itu dicuri justru di hari perayaan setahun mereka.
Kali inipun sikap Sasuke tidak jauh berbeda dengan sikap pada waktu itu. Meski lebih tenang dari waktu itu, namun Naruto dapat merasakan betapa kacaunya aura Sasuke sekarang. Ia memang merasa keterlaluan, membiarkan makan malam romantisnya berubah menjadi reuni padahal ini adalah bulan madunya.
Apakah hal ini akan berlanjut sampai bulan madu mereka selesai? Atau malahan bulan madu mereka akan selesai hari ini juga dan besok mereka langsung pulang?
Tidak.
Naruto tidak ingin membiarkan hal ini terjadi.
Dengan segera, Naruto meraih lengan Sasuke dan memaksanya untuk berjalan setengah berlari menuju ke arah vila mereka. Hanya ada satu cara yang terpikirkan olehnya untuk membujuk Sasuke yang kini merajuk itu.
Sasuke yang tidak mood untuk berbuat apa-apa hanya bisa mengikuti ukenya itu kembali ke vila. Lagipula ia memang berniat untuk kembali kesana bukan?
Segera setelah sampai ke vila, ia membawa Sasuke ke kamar mereka, mengunci pintunya, lalu melumat bibir Sasuke yang sekarang kering itu. Ia sapukan lidahnya ke bibir itu, dengan salivanya ia membuat bibir itu menjadi basah sehingga terasa lembut seperti biasanya. Setelah itu, Naruto dengan paksa membuka mulut Sasuke sehingga lidahnya dapat menerobos untuk beradu dengan lidah Sasuke. Lidahnya-lah yang mulanya mendominasi permainan karena Sasuke masih saja terdiam. Namun kelamaan, ia merasakan adanya balasan dari Sasuke. Lidah Sasuke mulai bergerak untuk memijat lidahnya, tangan Sasuke bergerak untuk meraih pinggangnya.
Sambil terus membiarkan lidah mereka menyatu, Naruto membimbing Sasuke menuju ke kasur mereka dan membuatnya jatuh terduduk di pinggir kasur. Ia sendiri masih dalam posisi setengah berdiri.
Setelah dirasanya oksigen diantara keduanya menipis, Naruto perlahan melepaskan mulutnya dari mulut Sasuke. Saliva yang terhubung di antara keduanya pun akhirnya terputus. Sasuke sudah hampir bersuara lagi ketika merasakan dobenya berjongkok di lantai di depannya dan tangan dobenya sudah meraih resleting celana pendeknya.
"Hei, apa yang akan kau-"
"Diamlah saja," potong Naruto cepat.
Ia membuka resleting celana Sasuke sehingga menunjukkan dalamannya yang berwarna hitam itu. Dengan paksa, diturunkannya celana dalam Sasuke sampai ia berhasil melihat kejantanan Sasuke yang masih lemas.
Naruto meneguk ludahnya. Seumur hidup, baru kali ini ia merasa menjadi seagresif ini. Ia sendiri sebenarnya tidak yakin akan apa yang akan ia lakukan. Tapi sekarang tidak ada pilihan lain, ia akan berjuang untuk mengembalikan suasana bulan madu yang rusak ini.
Diambilnya-lah junior Sasuke, lalu ia keluarkan dari celana dalam agar dapat ia pegang secara utuh. Berbekal pengetahuan yang ia dapat dari film yaoi yang diberikan Kushina padanya sebagai bekal sebelum ia menikah, Naruto mendekatkan wajahnya pada junior Sasuke, lalu mengeluarkan lidah untuk menjilatnya perlahan.
"Naruto! Kau gi… Nggh." Sasuke mendesah saat merasakan sapuan lidah Naruto pada juniornya. Bukannya dia tidak suka yang seperti ini. Malahan, ia sangat mengharapkan Naruto akan menampilkan aksi NC-17 padanya. Tapi kelihatannya ini bukanlah saat yang tepat. Semesum apapun Sasuke, ia masih punya otak untuk mempertimbangkan segala sesuatu.
Setelah mendengar desahan Sasuke, Naruto semakin berani menjilat junior Sasuke. Dikecupnya puncak junior yang belum terlihat itu, lalu dijilatnya batang kemaluan Sasuke itu. Ia memang baru pertama kali melakukannya dan tidak tahu apakah yang ia lakukan ini benar atau tidak. Tapi Naruto sudah bertekad, ia tidak akan ragu-ragu kali ini. Ia akan mencoba membuat Sasuke merasa senang sehingga bulan madu mereka dapat berlanjut dengan baik juga. Karena itulah, ia akan mengikuti keinginan hatinya yang sebenarnya sudah tergoda saat melihat kejantanan Sasuke itu menyembul dari balik celana dalamnya.
"Apa… yang kau… lakukan?" tanya Sasuke-susah payah meredam dirinya sendiri agar tidak mendesah.
Naruto masih saja menjilat-jilat batang kemaluan Sasuke. Namun setelah lidahnya kembali ke puncak, ia mengambil jeda dan menatap mata Sasuke.
"Kau tahu sendiri aku sedang apa. Sudahlah, diam saja."
Dengan cepat Naruto mengambil kembali kejantanan Sasuke dengan mulutnya. Ujung junior Sasuke yang sudah nampak karena batangnya sudah mengeras itu ia kecupi beberapa kali. Lidahnya menjilati puncak kejantanan, menggoda lubang yang suatu saat akan memasukkan benih ke dalam badannya itu.
Merasa ingin berbuat lebih, Naruto langsung melahap junior Sasuke, memasukkannya ke dalam mulutnya. Mulanya ia hanya menghisapnya pelan, seperti apa yang biasa ia lakukan ke lidah Sasuke. Namun ia akhirnya kembali mengingat apa yang dilakukan oleh orang yang melakukan blowjob di film yaoi yang ia tonton itu. Karena itulah Naruto langsung berinisiatif untuk memaju-mundurkan kepalanya sehingga jangkauannya ke kemaluan Sasuke juga menjadi lebih panjang.
"Ngghh…"
Bingo.
Ia kembali membuat Sasuke mendesah. Ia telah berhasil membuat sang seme mendesah. Apa berarti usahanya membuat Sasuke merasa nyaman?
Lama-lama Naruto merasa, bukan hanya Sasuke yang merasa nyaman. Ia pun juga merasakan suatu sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Junior Sasuke tentu saja adalah junior pertama yang pernah disentuh lidahnya. Merasa jijikkah? Sebenarnya iya, awal tadi Naruto sempat merasakan jijik. Bagaimana mungkin tidak jijik? Bahkan juniornya sendiri pun, ia tidak ada niat untuk memasukkannya ke dalam mulut. Bagaimana dengan junior orang lain? Sebenarnya membayangkannya Naruto sudah mual.
Namun ternyata ini berbeda dengan apa yang ia bayangkan. Desahan Sasuke saat lidahnya menyapu kejantanannya membuatnya ingin berbuat lebih. Ia ingin mendengar desahan itu lagi. Kejantanan Sasuke yang sekarang sudah benar-benar menegang di dalam mulutnya pun terasa sangat menyenangkan untuk dinikmati. Mulutnya memang menjadi penuh, tapi itu tidaklah masalah.
Setelah beberapa saat terhanyut dalam kenikmatan, Naruto merasakan adanya cairan asing yang keluar dari ujung kejantanan Sasuke.
Yang jelas itu bukan ludahnya. Lalu apakah?
Pipiskah?
Pi-pipis?
Dengan segera Naruto melepaskan kejantanan Sasuke dengan bunyi 'plop' yang tercipta dari gerakan tiba-tiba itu.
"Kau pipis di mulutku, teme?!" Naruto terjengkal ke belakang sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
Yang ditanya sebenarnya menjadi korban saat ini. Mood-nya sudah mulai kembali dan ia bahkan sudah menikmati servis dari Naruto itu sampai-sampai cairan pre-cum sudah keluar dari kejantanannya, eh Naruto dengan seenak bodong melepaskan mulutnya. Lihat, sekarang kejantanannya agak berdenyut dan masih keras.
"Pipis apaan, dobe?!" Sasuke berteriak, jengkel. Ia masih menata napasnya juga. "Itu namanya pre-cum! Pre-cum! Bahkan aku belum sampai keluar, dan kau sudah melepasnya!"
Naruto hanya terdiam melihat Sasuke yang sekarang mencoba menenangkan diri. Setidaknya, namanya sudah kembali berganti menjadi 'dobe' sekarang. Untuk masalah blowjob gagalnya, yah mau bagaimana lagi, dia masih amatiran.
"Maaf, teme…" ujar Naruto pelan. Ia masih saja terduduk di lantai. "Ini pengalaman pertamaku. Aku tidak tahu bagaimana melakukannya dengan benar."
"…" Sasuke terdiam sambil menatap Naruto.
"Aku tidak tahu bagaimana lagi caranya meyakinkanmu kalau aku juga benar-benar menantikan bulan madu ini. Aku benar-benar ingin menghabiskan waktu berdua. Tadi aku kelepasan karena terlalu senang bertemu dengan Pein-nii lagi. Dia sudah seperti kakak tertua dariku dan Kyuu-nii. Dan kalau bisa, aku ingin kau juga bisa mengenalnya dengan baik juga…" Naruto mengeluarkan apa yang ada di pikirannya.
Untuk sejenak, suasana di dalam kamar menjadi hening. Baik Sasuke dan Naruto tenggelam dalam pemikirannya masing-masing. Tetapi akhirnya Sasuke membenarkan celananya dan berdiri.
Naruto sudah takut kalau cara nekatnya ini tidak berhasil karena sepertinya Sasuke masih mengacuhkannya. Tetapi…
"Baiklah. Nanti malam jam 7, kau duduk di sebelahku." Sasuke berucap sambil beranjak dari tempatnya. Ia masih belum menatap Naruto.
Mata Naruto yang tadi sayup pun menjadi menampakkan sinar kehidupan yang seperti biasa lagi. "Oke, teme! Tentu saja! Terima kasih banyak!" serunya senang. "Eh, tapi kau mau kemana sekarang?"
"Ke toilet. Menyelesaikan 'pipis'," jawab Sasuke sambil meninggalkan kamar dan Naruto yang langsung cengo mendadak.
"Kau beneran pipis di mulutku?" teriak Naruto agak frustasi-masih belum paham kalau Sasuke hanya mengeluarkan pre-cum dalam mulutnya.
~yamasasuchiinaru~
Malam harinya, sesuai yang telah dijanjikan, Pein dan Nagato datang ke cerukan tempat Naruto dan Sasuke akan makan malam. Seperti yang sudah dideskripsikan oleh maid pengurus vila, di cerukan kecil itu air tetap ada sebatas mata kaki walau sudah malam. Disana sudah tersedia meja dan beberapa kursi. Peralatan makan pun telah terhidang di meja, bahkan saat Naruto dan Sasuke datang setengah jam yang lalu. Rupanya Fugaku benar-benar meluangkan waktu untuk menyiapkan semua rencana bagi anak bungsu dan menantunya itu.
"Keren!" Nagato langsung berteriak dan melepas sepatunya asal-asalan. Seorang pelayan yang ada khusus untuk malam itu langsung mengambilnya dan menaruhnya di tempat yang sudah disediakan. Nagato langsung saja melompat ke air, menimbulkan percikan di sekitarnya, termasuk ke celananya sendiri.
"Syukurlah kalau kau senang, Nagato." Naruto langsung tersenyum melihat betapa cerianya Nagato. Sasuke sendiri berasa melihat déjà vu karena setengah jam lalu Naruto melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Nagato. Tampaknya ia tidak sadar kalau ia sudah berkepala dua dan sudah bersuami.
"Jangan sampai bikin orang lain basah, Nagato!" Pein memperingatkan anaknya yang sangat aktif itu.
"Tenang, papa. Kami nggak akan berubah jadi putri duyung kalo kena air kok," jawab Nagato-ngawur.
"Tenang, Pein-nii. Kalaupun berubah, rahasiamu aman di tangan kami," Naruto mengangguk-angguk mantap, membuat Pein dan Sasuke sweatdrop.
"Hahaha. Baguslah kalau begitu." Pein sudah merasa agak speechless. "Terima kasih sudah mau mengundangku dan Nagato kesini, Narunaru, Uchiha-san." Pein menatap Sasuke.
"Panggil saja Sasuke," sahut Sasuke dengan wajah stoik. "Karena disini ada dua Uchiha," tambahnya sambil menaruh tangannya di kepala Naruto, membuat yang bersangkutan menjadi memerah.
"Baiklah." Pein mengedikkan bahunya.
Setelah itu, mereka memanggil Nagato dan memulai makan malam mereka sambil berbincang tentang keluarga Naruto. Naruto dengan semangat menceritakan bagaimana keadaan keluarganya sekarang. Tentu saja kali ini Naruto menceritakan kalau ia sudah menikah dengan Sasuke sekitar dua bulan yang lalu. Meskipun Sasuke dan Naruto memang dekat bahkan sebelum mereka berpacaran, namun belum pernah sekalipun Sasuke ikut Naruto mengunjungi rumah kakeknya. Juga, belum pernah sekalipun Naruto menunjukkan foto Sasuke pada Pein walaupun mungkin ia sudah pernah bercerita mengenai Sasuke kepada Pein.
"Jadi kau ini akhirnya menikah dengan si bocah menyebalkan yang dulu pernah merebut cookies-mu?" sindir Pein, mengingatkan Naruto dan Sasuke akan pertemuan pertama mereka. "Itu namanya kau kena karma, Narunaru. Padahal dulu kau pernah bercerita padaku tentang betapa kau jengkel dengan bocah itu." Pein tergelak.
Sasuke langsung ingat lagi dengan nasehat Itachi yang tadi sudah ia ingat-ingat. Ternyata tidak ada salahnya juga membuat Naruto jengkel padanya dulu. Bayangkan kalau dari awal pertemuan mereka adalah pertemuan baik-baik. Bisa-bisa sekarang malah kebalikannya, mereka saling tidak cocok satu sama lain dan berakhir dengan pasangan yang berbeda. Membayangkan saja sudah ngeri.
"Pein-nii!" seru Naruto dengan muka merah. "Sudahlah, jangan bahas yang itu lagi," keluhnya. "Bagaimana kalau kita ganti topik saja. Pein-nii belum membahas soal istrimu kan? Nah, Nagato, dimana mamamu?" tanya Naruto, mencoba sebisa mungkin untuk mengganti topik sebelum Pein dengan embernya menceritakan apa yang pernah diceritakan Naruto soal Sasuke kepadanya.
Nagato sedari tadi memang hanya terdiam dan makan saja, tidak seperti biasanya. Begitu mendengar pertanyaan Naruto, ia malah menghentikan aktivitasnya secara total. "Mamaku…" lirihnya. "… sudah tidak ada disini bersama kami."
Seketika Naruto menutup mulutnya. Sasuke hanya bisa melirik dobenya itu. Tampaknya si dobe telah mengeluarkan pertanyaan terlarang.
Itu berarti… istri Pein sekaligus mama Nagato sudah tiada?
"Ma-maafkan aku." Naruto langsung merasa menyesal karena telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu. Kalau mamanya masih ada disini, kenapa si Nagato sampai ngeyel untuk menjadikannya 'mama' barunya? Dasar dia ini, tidak peka!
"Tidak apa, Narunaru. Jangan jadi ikut gloomy begitu." Pein tersenyum. "Mungkin ia hanya kangen mamanya."
"Memang…" lirih Nagato. Bagaimanapun dia ini masih bocah baru masuk SD. Sebagaimanapun jeniusnya dia, tetaplah sisi kebocahannya akan terlihat. "Aku kangen mama…" tambahnya. "Karena itu, aku ingin tetap bersama Naru-chan! Naru-chan itu calon 'mama'ku! Calon pengantin papa!" Nagato mendadak langsung mengarahkan matanya tepat ke arah Naruto, berusaha meyakinkannya dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Naruto terkaget-kaget. Tidak mungkin anak ini serius kan? Lagipula dari mana pula ia bisa dapat ide menjadikannya 'istri' Pein seperti itu?
"A… ahahahahaha." Naruto tertawa grogi. "Kita kan baru bertemu, Nagato. Mana mungkin mendadak kau bisa bilang aku calon 'mama'mu?"
Sasuke kembali memasang telinga baik-baik. Firasatnya mengatakan kalau memang ada sesuatu di balik ini.
"Mungkin karena aku selalu menunjukkan fotomu kepadanya, Narunaru." Pein menjawab dengan santai sambil mengiris daging di piringnya dengan santai.
"Eh? Fotoku?" Naruto bertanya kembali.
"Iya!" Nagato mengeluarkan selembar foto dari saku kemejanya. "Aku sudah ingin menunjukkannya ke Naru-chan sejak tadi."
Di foto itu, terlihatlah sosok Pein, juga Naruto yang saat itu masih remaja. Itu adalah foto terakhir yang mereka ambil sebelum akhirnya Pein berangkat ke luar negri.
"Lalu kenapa mendadak dia menyangkut-pautkanku dengan mamanya? Apakah aku mirip dengan istrimu?" tanya Naruto pelan dan hati-hati, takut mendadak Nagato menjadi gloomy lagi.
"Itu karena aku bilang kepadanya soal janji kita dulu, Narunaru." Pein menjawab sambil tersenyum, memandangi foto yang sedang ditunjukkan Nagato ke Naruto dan Sasuke itu.
"Eh? Janji apa?" Naruto berkedip, berusaha mengingat janji apa yang pernah ia ucapkan ke Pein.
Pein mengusap kepala Nagato perlahan. "Janji bahwa kita akan bersatu di masa depan, karena kita memang sudah ditakdirkan bersama sejak dulu."
"Eh?" Naruto kali ini membelalakkan matanya. Begitu pula dengan Sasuke yang masih mencoba bertahan dengan wajah datarnya.
"Karena itu, Naruto…" Pein menatap Naruto dengan muka serius, mengacuhkan tatapan kaget dari kedua orang di hadapannya itu. "Tolong pertimbangkan lagi, aku ingin kau benar-benar menjadi mama dari Nagato."
To be continued...
Akhirnya bisa ngetik fanfic juga hari ini setelah beberapa hari berasa jadi kalong sampe engga tidur O.O
Yang jelas, makasih banyak buat yang sudah mau review, sudah mau baca, bahkan fave dan follow! xD kalian sangat berarti buat saya~
Review-review kebanyakan sudah saya bales di PM, dan buat yang nggak login, makasih juga uda review! xD ini sudah lanjut. Dari review yang kemaren, uda ada yang bisa nebak juga. Ohohoho. Ini bukan drama misteri sih, jadi saya malah bahagia kalo pada nebak-nebak. Bisa buat inspirasi baru. Ehehehe #sedeng
Ini buat chapter ini mata saya udah sampai jereng, bahkan mungkin minus mata juga sudah tambah belakangan ini, jadi maafkan kalo tambah hari tambah banyak typo dan segala macemnya. #ngeles T^T doakan aja di libur kali ini saya banyak-banyak makan wortel jadi mata yang sudah nista ini ngga tambah nista lagi. T^T
yah begitulah~ semoga chapter ini bisa lumayan memuaskan.
Mind to RnR? #ijin copy closing dari fanfic2 laen xD
