. Disclaimer : Inuyasha – Rumiko Takahashi

Pairing : Inuyasha – Higurashi Kagome

Rated : T

Warning : OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

.

.

.

.

.

A Story about Pain

By

Sentimental Aquamarine

Sebelumnya….

"Inuyasha?"

"…."

"Kau masih disana?"

"…."

"Apa kau baik-baik saja?"

"Kita putus"

.

.

.

.

.

#KagomePOV

"Kita putus"

Ya Tuhan apa yang sedang dia pikirkan? Kenapa dengan mudahnya ia katakan itu padaku

"Leluconmu tidak lucu, Inuyasha"

"Aku tidak sedang membuat lelucon. Dengar! Aku tidak bisa bersamumu lagi"

"Apa yang kau bicarakan? Kenapa kau tidak bisa bersamaku lagi?"

"Sudahlah, aku hanya tidak bisa bersamamu lagi. Aku rasa kau cukup pintar untuk mengerti apa maksudku"

"Tidak! Aku tidak ingin jawaban yang seperti itu"

"…."

"Jelaskan! Jelaskan mengapa kau tidak bisa bersamaku lagi?" suaraku mulai meninggi

Kau tidak menjawab dan tangisku mulai pecah. Aku takut, aku takut apa yang menjadi ketakutanku selama ini menjadi kenyataan.

"Jawab aku Inuyasha!"

"Aku mencintai orang lain"

Kalimat itu adalah kalimat yang paling aku takutkan. Ya Tuhan, mengapa harus begini?

"Hahaha… Kau mencintai orang lain? Siapa? Apa gadis brengsek itu?

Aku berusaha tertawa, tertawa pilu tepatnya. Berusaha menyembunyikan tangisku yang semakin lama semakin terdengar kencang.

"Ya, aku mencintai gadis itu, karena itu jangan menggangguku lagi"

Tut…. Tut… tut…

Suara telepon diputus, pertanda pembicaraan ini telah berakhir. Ya, Tuhan. Benarkah ini? Benarkah apa yang ia katakan itu? Mimpikah ini Tuhan?

Aku menangis dalam diam. Menumpahkan semua emosiku, dadaku sesak, aku terisak-isak dalam gelap malam. Bahuku naik turun menandakan betapa sakitnya aku saat itu.

.

.

.

.

.

.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Aku tidak pernah mendengar kabar tentangmu sejak pembicaran kita di telepon tempo hari. Musim pun telah berganti dan tepat di pertengahan musim gugur setelah setahun kepergianmu. Aku menemukannmu, menemukan orang yang kucintai. Bahkan, aku pikir rasa cinta untukmu itu masih ada.

Ah! Menyedihkan sekali. Ketika kau memutuskan hubungan denganku. Aku masih sangat mencintaimu dan berharap suatu saat nanti kau akan bersamaku lagi.

Setiap malam aku selalu pergi ke tempat dimana kita sering menghabiskan waktu bersama. Merayakan ulang tahunmu, itupun aku masih melakukannya. Pergi ke bioskop setiap akhir pekan. Memberi makan burung-burung merpati di taman kota setiap sore. Melakukan kegiatan yang pernah kulakukan bersamamu dulu.

Aku gila. Aku merasa bodoh mencintai orang sepertimu. Aku buta karena cintaku padamu. Tapi, bukankah cinta itu buta? Bukankah cinta membutakan orang yang jatuh kepadanya? Bukankah cinta memang gila. Gila karena logika tak akan bisa sejalan dengan perasaan.

Aku melihat pantulan diriku di cermin. Pantulan seorang gadis yang tak peduli dengan semua yang orang-orang katakan. Orang-orang yang mengatakan aku bodoh.

"Bodohkah aku yang mencintai anak manusia sepertimu?"

"Bodohkah orang yang sedang jatuh cinta?"

Aku masih setia mencintaimu. Masih setia bertahan untuk menunggumu. Masih sangat kuat untuk mencarimu. Aku merindukanmu, merindukan hangatnya pelukmu, lembutnya belaimu. Aku merindukan segalanya tentangmu. Matamu, rambutmu, suaramu, sentuhanmu, senyummu dan ciumanmu.

"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu Inuyasha"

#Kagome POV End

.

.

.

.

.

.

#Normal POV

Setahun sejak kepergian Inuyasha, Kagome menjadi pribadi yang suka menyendiri. Dia tidak mau makan, tidak mau di kunjungi siapapun dan hari-harinya hanya di habiskan dengan duduk di depan jendela kamarnya. Entah apa yang ia pandangi dari balik jendela kamarnya itu. Sahabat-sahabatnya pun sudah berusaha untuk berkomunikasi dengan dirinya tapi dia lebih memilih diam dan sibuk dengan pikiran dan dunianya sendiri tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya. Hingga di Sabtu pagi kedatangan Sesshomaru kakak kandung Inuyasha membuat Kagome kembali ke dunia nyatanya. Sesshomaru yang datang ke kediaman Kagome dengan sebuah amplop coklat yang Inuyasha titipkan untuk Sesshomaru.

"Inuyasha menitipkan ini padaku untukmu, Kagome" ucap Sesshomaru

"Apa ini Sessho-nii?" tanya Kagome

"Kau akan tahu setelah kau membukanya, Kagome"

Kagome membuka amplop coklat itu mengeluarkan isi yang ada di dalamnya. Lima lembar photo dirinya dengan Inuyasha. Photo pertama saat dia dan Inuyasha berada di taman bermain, itu adalah kencan pertama mereka. Photo kedua dan ketiga adalah saat festival kembang api yang diambil dua tahun lalu. Disana Inuyasha terlihat gagah dengan Kagome yang memeluk lengannya, mereka sangat bahagia saat itu. Photo keempat adalah photo Kagome sendiri dengan menara Eiffel sebagai latarnya. Ah! Betapa dia sangat merindukan saat-saat itu. Dan photo yang terakhir adalah photo Inuyasha sendiri. Didalam photo itu Inuyasha terlihat kurus, rambutnya tak seputih biasanya, terlihat kusam dan berantakan, matanya juga tak secoklat seingat yang Kagome tahu. Wajah tan itu pun tampak tirus dan kusam. Kagome memicingkan matanya, mengingat-ingat kapan photo ini di ambil. Seingatnya wajah Inuyasha tidak sepucat ini saat terakhir dia bertemu dengannya.

"Apa ini gambar Inuyasha, Sessho-nii?" tanya Kagome seraya menunjuk photo Inuyasha yang di jawab anggukan kepala oleh Sesshomaru.

"Aku tidak yakin ini dia, dia tampak berbeda sekali disini"

Sesshomaru hanya tersenyum miris pasalnya dia tahu kenapa adik laki-lakinya itu tampak berbeda sekali di photo itu.

'Kagome, aku tidak yakin kau akan tegar setelah tahu yang sebenarnya' batin Sesshomaru miris

Kini mereka berdua sedang berada di ruang tamu kediaman keluarga Higurashi, sebenarnya Sesshomaru tidak sanggup untuk menyampaikan hal ini pada Kagome. Tapi, bagaimanapun juga Kagome berhak tahu hal yang sudah dia dan keluarganya tutupi selama setahun ini. Sesshomaru memijit pangkal hidungnya, saat ini kepalanya sakit sekali. Memikirkan hal ini membuatnya nyaris gila.

'Kau berhutang banyak padaku, Ototou' batin Sesshomaru lagi

Kagome sedang memandangi photo Inuyasha saat sebuah surat jatuh kepangkuannya. Kagome mengambil surat itu. Membukanya dan dia menyadari bahwa surat itu adalah surat yang di tulis oleh Inuyasha. Ya, dia sangat mengenal tulisan tangan Sasuke.

"Sessho-nii" panggil Kagome

"I-iya, ada apa Kagome?" tanya Sesshomaru

"Apa surat ini juga untukku?"

"S-surat?" tanya Sesshomaru heran

Kagome menganggukkan kepalanya. Dahi Sesshomaru tampak berkerut, dia tidak tahu jika Inuyasha juga menaruh surat di amplop coklat itu.

"Apa kau yakin itu surat dari Inuyasha?" tanya Sesshomaru lagi

"Ya, aku sangat yakin Sessho-nii. Aku kenal sekali dengan tulisan tangannya" jawab Inuyasha

"Kalau begitu buka dan bacalah isi surat itu, Kagome" perintah Sesshomaru yang kemudian dipatuhi oleh Kagome.

Kagome membuka surat dari Inuyasha dan kemudian membacanya sedangkan Sesshomaru mendengarkan isi surat yang dibaca oleh Kagome tersebut dengan seksama. Dia juga penasaran dengan isi surat yang tulis oleh ototounya itu.

Tokyo, 05 Januari 2005

Untuk Higurashi Kagome,

Saat kau membaca surat ini, disaat itu pula aku sudah tidak ada disisimu lagi. Maafkan atas semua kesalahanku padamu. Maafkan juga karena aku telah berbohong dan mengatakan aku mencintai orang lain. Sesungguhnya tidak ada orang lain yang pantas aku cintai selain kau, Kagome. Aku hanya bingung waktu itu. Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadamu. Aku tidak ingin berpisah denganmu, tapi itu harus. Dengan terpaksa aku menelponmu, padahal saat itu aku ingin menemuimu. Tapi, aku urungkan niatku itu. Aku takut kau akan mengetahui yang sebenarnya dan aku takut bila kau menangis. Kau tahu kan aku tidak bisa melihatmu menangis.

Kau tahu bagaimana persaanku malam itu?

Memutuskan hubungan denganmu dan mengatakan bahwa aku mencintai orang lain itu sangat menyiksaku. Bagaimana mungkin aku orang yang kau anggap sebagai malaikat di hidupmu membuatmu terluka.

Aku berusaha untuk tetap tenang, seolah-olah aku memang tidak mencintaimu lagi agar kau percaya dan menjauh dariku. Dan sepertinya itu berhasil kau menjauh dariku untuk selamanya. Aku senang sekaligus sedih. Aku senang karena kau tidak perlu melihat dan mengantarku menuju gerbang kematian dan sedih karena di sisa-sisa hidupku kau orang yang kusayangi tidak dapat menemaniku.

Minggu pertama tanpamu sangat menyiksaku. Tapi, aku dapat melaluinya, awalnya memang sulit karena aku sudah terlanjur terbiasa dengan adanya hadirmu. Aku merindukanmu, Kagome sangat merindukanmu.

Kau tahu apa yang membuatku menjauh darimu?

Penyakit itu muncul di awal musim dingin lalu saat aku berkunjung ke rumah Kaa-san dan Tou-san. Aku tidak tahu mengapa hidungku mengeluarkan darah. Aku pikir mungkin itu karena efek cuaca ekstrim yang melanda Konoha waktu itu. Darah pun mulai berhenti mengalir dari hidungku tapi setelah itu aku mengalami nyeri hebat di tulang dan persendianku yang menyebabkan aku tak sadarakan diri. Aniki membawaku ke Rumah Sakit dan saat itu semua kebahagianku hilang. Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Tou-san dan Kaa-san dengan dokter yang merawatku. Dia mengatakan bahwa aku mengidap kanker. Ya, penyakit mematikan itu bersarang di tubuhku.

Aku tidak peduli dengan penyakit dan hidupku yang tidak lama lagi. Aku hanya peduli denganmu. Bagaimana mungkin aku menceritakan kematianku sendiri pada dirimu? Apa yang terjadi bila kau tahu? Apakah kau akan menangis seperti Kaa-san? Ah! Aku tidak menginginkan hal itu. Aku tidak ingin kau menangisiku. Aku tidak ingin kau bersama orang sekarat sepetiku. Kau layak bahagia walau tanpa aku, Kagome.

Hei, kau tahu bagaimana sakitnya di kemoterapi itu sayang?

Sakit sekali, begitu sakitnya sampai aku berharap Tuhan memanggilku lebih cepat. Setelah kemoterapi selesai aku harus menahan mual yang sangat hebat, tapi tetap saja tidak bisa. Perutku seperti di tinju saja. Tidak hanya itu, terkadang aku mengalami kesulitan untuk bernapas, rasanya sesak sekali.

Aku takut mati, aku takut tidak bisa bertemu dengan dirimu lagi. Walaupun kau tahu aku akan dipanggil juga kan? Cepat atau lambat, semua hanyalah masalah waktu saja.

Haah, sepertinya waktuku sudah tiba Kagome.

Percayalah, walaupun ragaku tak bersamamu tapi cintaku akan selalu melekat di hatimu. Maafkan aku karenaa aku pergi tanpa berpamitan dahulu denganmu. Maaf, karena sebelum aku pergi aku membuatmu menangis dan tidak sempat membuatmu bahagia.

Berjanjilah padaku, kau akan baik-baik saja. Tetaplah hidup demi aku, Kagome. Aku akan selalu mencintaimu. Jika kau merindukan aku, lihat saja langit malam. Aku akan melihatmu dari sana.

Jaga dirimu baik-baik.

Aishiteru, Kagome

Sayounara.

Yang mencintaimu,

Inuyasha

Sesshomaru memeluk tubuh Kagome yang hampir ambruk ke lantai. Gadis berparas cantik itu kini menangis dalam pelukan Sesshomaru, membuat para maid di kediaman itu berhamburan untuk menghampiri nona mereka. Ayah dan Ibu Kagome yang baru saja pulang langsung berlari menuju ruang tamu saat mendengar suara teriakan putrid mereka.

"Inuyasha" ucap Kagome lirih

"Kenapa kau meninggalkanku, Inuyasha?"

Air mata Kagome mengalir deras membasahi wajah tan itu. Kagome berteriak memanggil nama Inuyasha, sesekali dia tertawa kemudian menangis kembali sambil menggumamkan nama Inuyasha. Begitu seterus hingga Kagome tak sadarkan diri dan di larikan ke rumah sakit.

.

.

.

.

.

.

Dan begitulah, setelah hari itu Kagome bagikan seonggok tubuh tanpa jiwa. Dia menganggap Inuysaha masih ada di dunia. Melamun dan memandangi langit malam adalah hal yang setiap hari ia lakukan. Kagome tidak mau makan sehingga tubuhnya menjadi kurus.

Kagome hanya berdiri di depan jendela kamarnya memandang langit gelap yang selalu menjadi kegiatannya setiap malam. Miroku baru saja pulang beberapa menit lalu meninggalkan Kagome dalam kesepiannya lagi.

"Aku merindukanmu" ucap Kagome

Bening-bening kristal meluncur keluar dari mata beriris caramel itu. Kagome memeluk lengannya, dia merasa hampa sejak kepergian Inuyasha. Kagome beranjak dari tempatnya berdiri, di langkahkannya kaki jenjang itu menuju kamar mandi. Dinyalakannya shower dan seketika itu air mengguyur tubuhnya yang hanya berlapiskan kemeja putih kebesaran. Kagome terduduk di lantai. Tangan tan itu mendekap kedua kakinya. Ditumpahknnya tangisnya itu. Di dalam sepi Kagome menangis untuk yang kesekian kalinya. Menangisi nasib cintanya yang berakhir menyedihkan. Merutuki Tuhan yang dengan tega memberikan cobaan ini kepadanya.

Kagome bangkit mengambil pisau yang berada di dekat westafel. Dia sudah memutuskannya, ia akan menyusul Inuyasha. Ya, dia akan menyusul pemuda itu. Kagome menyayat pergelangan tangannya dan seketika itu darah mengalir mengotori lantai dan kemejanya. Kagome membaringkan dirinya di atas lantai yang dingin, menunggu malaikat kematian untuk menjemputnya. Kagome meremas dadanya, dia merasa sulit untuk bernapas. Mungkin sudah waktunya untuk dia pergi. Kagome tidak akan sanggup lebih lama lagi di dunia tanpa adanya Inuyasha dan seperti janjinya waktu itu jika Inuyasha pergi ia juga akan ikut pergi.

"A-aku datang Inu-yasha" ucapnya hampir tak terdengar

Kagomw memejamkan matanya dan kegelapan abadi pun menyambutnya.

The End

Pojok Suara :

Walah! Akhirnya fic ini selesai juga. Hahaha, bagaimana? Apa pembaca menyukainya? Saya harap begitu.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih.

Mind to review?