Ruangan begitu gelap, hanya tersinari oleh cahaya bulan di sebuah jendela yang begitu besar. Kuran Kaname sedang duduk sambil melihat-lihat kertas-kertas penting yang mesti di periksa olehnya. Tiba-tiba dia merasakan aura yang sangat dikenalnya.

"Masuklah, Yuki."katanya lembut, menaruh kertas-kertas itu.

Yang dipanggil langsung masuk kedalam ruangannya. Yuki mendekati meja kakaknya kemudian tersenyum melihat Kaname.

"Ada apa Yuki? Apa ada masalah di kedai?" tanya Kaname sambil tersenyum hangat.

Wajah gadis manis tersebut langsung berubah sedih, Kaname melihatnya langsung heran dan memilih diam untuk menunggu jawabannya.

"Ano..aku hanya khawatir sekali dengan Zero. Tadi dia terlihat aneh, akhir-akhir ini dia banyak melamun. Nii-sama apa yang harus aku lakukan?" tanya Yuki menatap lantai yang tidak kotor dengan tatapan sedih.

Kaname melihat adiknya itu langsung berjalan menghampiri Yuki dan mengelus rambutnya.

"Aku mengerti, Yuki. Aku akan menemuinya dan berbicara dengannya." katanya lembut.

Yuki pun menatap Kaname dengan wajah senang dan tersenyum kembali tapi ini lebih ceria.

"Arigatou, Nii-sama. Aku ingin kau menemuinya sekarang juga, Zero ada di ruang istirahat." kata Yuki gembira.

Kaname melihat kepergian Yuki dengan senyumannya, dia juga akhir-akhir ini jarang bertemu dengan surai silver membuat dirinya sangat kesepian. Pada akhirnya sang darah murni mengambil jas hitam panjangnya dan bergegas pergi ke tempat yang Yuki maksud tadi.

Di lain tempat terlihat sosok Zero sambil duduk dengan rambut yang menutupi wajahnya. Hari ini dia sedikit kurang bersemangat untuk melakukan pekerjaan. Pakaian waiter sudah berantakan, dasi kupu-kupunya sengaja dia copot dan melepas satu kancing atas kemejanya. Akhir-akhir ini dia sangat sulit untuk bertemu dengan Kaname. Dia hanya ingin berbicara dan melihat keadaannya. Yuki selalu bilang kalau kakaknya sangat sibuk dengan urusannya. Zero kemudian menyadari kalau dirinya sangat merindukan Kaname. Matanya membulat ketika dia merasakan seperti itu, dia membuang perasaan itu. Hal itu tidak boleh ada padanya, karena dia merasa akan tidak selayaknya seorang vampire level D mempunyai perasaan seperti itu terhadap vampire level A.

'itu tidak boleh, Zero. Ingat dia adalah darah murni."benaknya.

Namun, hal itu tidak bisa ditahannya. Tangan kanannya memegang dadanya yang sakit dan meremas kemeja yang dipakainya. Harus berapa lama Zero harus memendam perasaannya, harus berapa banyak air mata yang harus dia keluarkan, kenapa dia harus merasakan ini semua. Dia sudah sangat bingung dan tidak tau apa yang harus dia lakukan lagi.

"Kenapa? Kenapa aku menjadi jatuh terlalu dalam? Dia sangat baik dan lembut." ucap Zero lirih. Dia tidak menyadari kalau manik-maniknya sudah berair dan tidak dapat menampungnya lagi.

'Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa hanya dia yang dapat menumbuhkan jiwaku. Tapi dia sudah tidak ada, apa yang harus kulakukan?'bisik Zero pelan.

DEG

Mata surai silver melebar, tubuhnya bergemetar, kepalanya sudah mulai pusing, pandangannya sudah tidak beraturan, Zero terjatuh dari duduknya dan menahan rasa sakit ini.

"Akh...haa...haa..sial." rintihnya.

Zero tidak bisa menahan lebih lama lagi, dia sungguh lupa untuk meminum tablet darah pagi tadi. Sekarang tubuhnya sudah sangat kesakitan, dia sudah sangat menderita.

'Kuso, mengapa harus terjadi?'

DEG

"Aakh!...hu..huh" rintih Zero, keringat sudah mengalir di pelipisnya dan tangannya terus memeluk dirinya untuk terus menahan sakitnya. Kepalanya sudah sangat pusing dan ingin pecah rasanya.

Tiba-tiba dengan tubuh Zero yang berada dilantai, seseorang datang mengahampiri tubuh lemahnya dan memangku badannya. Kaname datang dengan paniknya saat melihat tubuh Zero sudah terbaring lemah di lantai dengan nafas tertahan-tahan.

"Zero! Kau bisa mendengarku? Zero!" kata Kaname sedikit berteriak agar Zero bisa mendengarnya.

Zero dengan sekuat tenaganya sedikit membuka manik ungu yang menjadi merah menyala terus mengalir air di pinggir manik-maniknya itu. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi.

"Ka..Kana..me"lirihnya.

"Zero! Minumlah."kata Kaname mengangkat kepala Zero menuju lehernya.

Zero mengelak saat itu dan merasa dia tidak mau menyakiti Kaname. Namun, dengan tenaga Kaname yang lebih kuat dia terus mendesak Zero. Mata merah menyalanya membulat dan terus mengalirkan air.

"Zero, minum. Atau aku benar-benar akan membencimu karena tidak meminumnya sekarang." ucap Kaname lembut, tangannya masih memegang kepala Zero.

Kemudian beberapa detik taring Zero menembus kulit Kaname, terlihat wajah Kaname agak tenang. Zero mengisap darah Kaname yang sangat lezat, air matanya tidak henti-hentinya mengalir.

'Aku tidak mau Kaname membenciku. Aku minta maaf Kaname.' benak Zero.

Beberapa lama kemudian Kaname semakin mendekap tubuh Zero dan memeluknya dengan erat. Seakan-akan tidak ingin Zero menghilang atau pergi. Zero disaat itu sudah berhenti meminum darah Kaname, dia hanya diam merasakan kehangatan dari pelukan surai coklat.

"Sudah baikkan?" tanya Kaname hangat.

Zero langsung mengangguk pelan, wajahnya merah padam. Dia tidak pernah membayangkan kalau Kaname akan memelukanya seperti ini. Hatinya begitu senang dan juga sedih jika pelukan itu sudah terlepas. Namun, tangan Zero memegang jas Kaname dengan kencang dan mengubur wajahnya di pundak Kaname. Dia sangat merindukan bau khasnya, dia merindukan suara lembutnya, dia merindukan semuanya dan ia ingin merasakannya selama mungkin.

Sang darah murni hanya tersenyum melihat surai silver-nya terus menempel di pelukannya. Kaname sudah sangat lama untuk menginginkan Zero. Namun, dia takut kalau suatu saat dia akan menyakiti surai silver dengan kekuatannya. Kaname sudah sangat bahagia saat Zero menerima tawaran untuk bekerja di kedainya. Tangan Kaname mengusap rambut lembutnya.

"Zero, sebenarnya ada hal yang mau ku katakan padamu."

Zero masih tidak bergeming, dia terus mendengar Kaname.

"Aku mencintaimu, Zero. Tanpamu duniaku hanyalah kekosongan. tadinya aku hanya menghiraukan perasaan ini, tapi aku tidak bisa. Malah ini usaha yang sia-sia, aku membutuhkanmu. Hanya satu orang yang hanya memikatku, yaitu kau, Zero."ucapnya lembut sambil mengeratkan pelukannya lagi berharap Zero tidak akan lari darinya.

Zero membelalakkan matanya dan langsung menatap langsung mata Kaname. Manik ungu bertemu dengan manik coklat, Kaname terkejut saat melihat manik milik Zero mengeluarkan air mata dengan harunya. Kaname tersenyum dan menyeka pipi putihnya. Tangan Kaname ditangkap oleh Zero berusaha menahan agar tangan Kaname tidak lepas dari wajahnya.

"Aku mencintaimu juga, Kaname."jawab Zero tersenyum dengan bahagianya di depan Kaname.

Tidak terasa jarak antara mereka saling berdekatan, Kaname mendorong kepala Zero dan bibir mereka saling bertemu. Zero dengan linangan air mata, dia memejam matanya untuk merasakan sensasi dari mulut Kaname. Tangannya melilitkan di leher Kaname, Zero menginginkan waktu untuk berhenti. Dia belum pernah merasakan sebahagia ini. Pada akhirnya Kaname melepas ciuman mereka untuk mengabil oksigen. Wajah Zero sudah merah padam , Kaname tidak tahan melihatnya dan menarik wajahnya lagi dan mencium Zero untuk kedua kalinya, kali ini dia menggigit bibir bawah Zero untuk membuat jalan akses lidahnya untuk masuk kedalam mulut Zero. Ciuman mereka semakin panas dan tangan Kaname sudah menggerayangi dalam kemeja Zero, membuat yang punya makin tegang. Kaname merasa Zero masih belum siap untuk tahap ini, akhirnya mereka berhenti dengan nafas terengah-engah. Tubuh yang masih menempel dengan pelukan yang mengeratkan. Mereka berdua saling tersenyum satu sama lain. Mereka selanjutnya akan menjalani kehidupan baru mereka bersama-sama. Cinta mereka saling berbalaskan dan Zero masih tetap menjadi pelayan di kedai dengan ekspresi seperti biasanya. Namun, bila bersama Kaname dia akan berubah menjadi hangat dan lembut.

End.


Omake

Yuki : Ne..ne kalian melihat, kan? (kesenengan)

(Rima,Ichijou,Kain,Shiki, Aidou): (mengangguk!)

Ichijou: Ara~ Kaname memang ahli berkissu :)

Rima: ciuman mereka panas -_-

Yuki: Nii-san, memang yang paling top XD

Kain: Hanabusa, sampai kapan mau mewek gitu?

Aidou: Tidaaaaaaaaak! KANAME-SAMA!

Kain: Yuki-sama, ternyata Kaname-sama sudah lama menyukai Zero, apa kau sudah mengetahuinya?

Yuki: Yupz, aku sudah mengetahuinya dari dulu.

Ichijou:Heeeeeh?kenapa tidak langsung kau bilang saja ke Zero-kun?

Yuki: hahaha, kalau aku bilang nanti dramanya jadi gak ada #tertawa devil

(Rima,Ichijou,Kain,Shiki, Aidou): (sweatdrop!)


Omake 2

Zero: Hachii!

Kaname: Zero, kau baik-baik saja?

Zero: iya, sepertinya perasaanku tiba-tiba tidak enak.

Kaname: Hmm, mungkin kau kekurangan kehangatan, Zero.

Zero: Eh? (blushing!)

Kaname: Zero, kapan-kapan datang ke kamarku, ya.

Zero: kenapa kamar?

Kaname: Aku mau berpetualang dengan Zero.

Zero: Kaname! (wajah Kaname dilempar lap)