.
.
.
Ten fingers, ten toes
Two arms, two legs, blood is flowing
Two eyes blinking, two ears open
One head and one heart
I think and I drink in air
Just like you
.
.
.
Ansleon
.
.
Coloring Book
.
Skets 2
.
Jeon Jungkook and Kim Taehyung
.
Its Jungkook TOP! So if you don't like it. Its better you leave now. And beware! TYPO everywhere.
.
.
.
Kedua mata itu terbuka dengan perlahan. Membiasakan bias cahaya yang masuk ke retina matanya. Menatap keseliling dengan memegang pelipisnya yang diperban karena terluka. Dan itu membuatnya sedikit pusing. Terus mencari informasi tentang diamana dia berada. Sampai suatu objek menangkap penglihatannya.
Objek itu sedang tertidur disampingnya. Hanya kepalanya saja yang berbaring ditempat dirinya berbaring tadi. Ia tahu siapa yang ada disampingnya. Namja yang menyelamatkan dirinya tadi. Namja yang ia ketahui namanya Jeon Jungkook.
Taehyung—namja yang berbaring tadi, mengguncang pelan bahu namja dengan rambut hitam pekat, yang tertidur disampingnya. Atau mungkin menunggunya sampai ia tersadar? Atau menemaninya supaya ia tidak merasa sendirian?
"Maaf"
Masih diam dan tidak ada sahutan dari Jungkook.
Taehyung mengguncang sekali lagi bahu Jungkook namun sekarang agak lebih keras. Dan mencoba untuk membangunkannya dengan suara miliknya.
"Maa—"
Tidak sampai ia menyelesaikan satu kata itu. Jungkook sudah terbangun dengan sendirinya. Mungkin karena guncangan yang tadi Taehyung berikan sedikit keras jadi berpengaruh padanya. Dan Taehyung tidak tahu, bahwa objek didepannya ini memiliki paras yang tampan dan tegas.
Lihatlah rahang miliknya. Astaga Taehyung merasa ia baru saja melihat ciptaan tuhan yang paling sempurna didunia ini. Rambut hitam pekat, hidung yang mancung dan lihat mata itu. Sangat hangat untuk dilihat.
"Kau sudah sadar? Apa kau merasa ada bagian yang sakit?" Jungkook bangun dari duduknya menatap khawatir Taehyung didepannya.
Taehyung tidak tahu apa yang ia mimpikan semalam. Hei, ini adalah hal yang paling langka dalam hidup Taehyung. Mendapatkan seseorang khawatir padanya adalah kemajuan untuknya. Dan jangan lupakan bagaimana tatapan hangat dari Jungkook untuknya.
Astaga.
Lebih baik Taehyung tidak sadar saja tadi.
"Aku baik-baik saja. Kau bisa pulang Jungkook-ssi" Taehyung memegang kepalanya yang terasa agak sedikit pusing akibat benturan kepalanya dengan lantai tangga.
"Eh? Kau tahu namaku Taehyung-ssi?"
Taehyung menatap Jungkook dengan tatapan datarnya."Dan bagaimana kau bisa tahu namaku Jungkook-ssi?"
Taehyung menanyakan hal yang sama pada Jungkook. Taehyung tidak mungkin mengatakan bahwa ia melihat nametag milik Jungkook saat ia dalam keadaan setengah sadar setelah terjatuh dari tangga kan? Ayolah, itu tidak etis.
"Itu, aku melihat identitasmu tadi di kartu pelajar milikmu, dan aku lihat ternyata kau lebih tua dua tahun dariku. Jadi haruskah aku memanggilmu Hyung?" Jungkook mengambil sebuah benda dari kantung coat coklatnya dan menyodorkan sebuah dompet berwarna merah marun pada Taehyung.
Taehyung menerima dompet yang notabenya adalah miliknya. Dan menatap Jungkook sebentar meminta penjelasan lebih lanjut.
"Kau tidak berpikir aku akan mencuri uang milikmu kan?" Jungkook menaikan satu alisnya keatas. Yang terlihat begitu Tampan dimata Taehyung.
"Aku tidak bilang begitu. Dan panggilan Hyung, mungkin tidak terlalu buruk untuk mengawali perkanalan kita saat ini Jungkook-ssi" Taehyung menyimpan dompetnya disamping nakas yang terdapat disebelah tempat tidurnya.
"Baiklah aku akan memanggilmu Hyung. Taehyung Hyung. Dan mungkin panggilan Jungkook-ah tidak terlalu buruk juga" Jungkook menggaruk tengkuknya yang bahkan tidak terasa gatal sama sekali.
Taehyung tertawa kecil. Yang mana terlihat sangat imut dimata Jungkook."Baiklah, senang berkenalan denganmu Jungkook-ah"
"senang Berkenalan juga denganmu Hyung" Jungkook Tersenyum
Sepertinya sebuah senyuman memanglah hal yang paling baik mengawali sebuah pertemuan pertama.
.
.
.
Sinar matahari yang bersinar cerah diseluruh penjuru dunia. Menyinarkan setiap sudut- sudut terkecil kota. Bahkan gang sempit pun tak luput dari sinarnya. Menambah kesan hangat dipagi hari dan juga udara segar yang menyegarkan pernafasan.
Tapi sinar matahari itu tidak serta merta menghangatkan suasana dingin yang ada pada kelas Taehyung yang dingin. Bukan dingin udara, ini hanya tatapan dingin dan menuntut milik teman sekelasnya kepada Taehyung. Yang hanya bisa menundukan kepalanya dalam dan sangat dalam.
"Kemarin kau memakai apa? Sampai membuat Jungkook mengangkatmu ke rumah sakit? Kau tahu kan siapa itu Jeon Jungkook?" tentu Taehyung tidak tahu tentang Jungkook. Anak dari pemilik rumah sakit terbesar di Seoul, rumah sakit yang terkenal dengan dokter bedah paling hebat di Korea Selatan. Taehyung tidak tahu tentang semua hal itu, ia tidak terbiasa terlibat dengan dunia luar. Dan jangan lupa pertanyaan menyedihkan ditambah dengan dorongan keras dipundak Taheyung yang membuatnya sedikit tersentak kebelakang.
Memaksa Taehyung untuk memberanikan diri menatap sang lawan bicara.
"Aku tidak pakai apa-apa" Taehyung menghela hafas sebentar, sebelum melanjutkan perkataanya.
"Dan aku tidak tahu siapa Jungkook"
"Kau memang tidak pernah terbuka dengan dunia luar ya, Kim Taehyung"
Teman sekelas Taehyung, berdecak meremehkan dengan tatapan yang lebih mengintimidasi lagi. Dan Taehyung tahu Seharusnya ia tidak menjawab pertanyaan yang menyangkut seorang Jeon Jungkook. Menjawab pertanyaan teman wanita sekelasnya itu hanya akan memperburuk keadaan, terbukti dengan diberinya Taehyung dua pilihan yang sulit dalam hidupnya. Yang membuatnya harus berpikir keras bahkan sebelum dimulainya pelajaran pertama.
"Baiklah aku percaya. Tapi aku akan lebih percaya lagi jika kau bisa menebak apa warna dari jam yang kupakai hari ini?" ucap teman sekelasnya dengan mengeluarkan cengiran jahat bak senyuman jahat milik Dewa Hades yang kejam dan tidak berperasaan. Yang tinggal bersama rasa takut dan sedih. Juga beribu-ribu harapan didunia ini yang tidak dapat tercapai. Tempat tinggal yang paling menyeramkan.
Taehyung terdiam. Ini soal paling susah dalam hidupnya selain soal ujian yang selama ini gurunya berikan. Bahkan soal ini dipersulit dengan tidak diberikannya pilihan ganda yang mendukung jawaban asal Taehyung.
Taehyung tidak pernah menyangka pagi hari miliknya yang indah akan rusak karena hal sepele seperti ini. Hey, ini bukan hal sepele bagi Taehyung, ini hal yang sangat serius dalam hidupnya. Ini soal warna, bukan dirinya tidak suka dengan warna. Hanya saja ia sedikit lemah dengan warna.
Bahkan ia sering membayangkan bagaimana indahnya dunia (miliknya) memiliki berbagai macam warna yang indah. Warna yang sedap dipandang oleh mata, warna yang menyejukkan, dan warna yang membawa kenyamanan. Tapi nyatanya hidup seorang Kim Taehyung hanya memiliki satu warna. Hanya Abu-abu saja.
Ia bahagia masih diberi keberuntungan oleh Tuhan, karena masih memberikannya kesempatan untuk melihat dunia, walaupun bewarna abu-abu. Daripada ia diberi anugerah untuk tidak bisa melihat dunia yang indah ini.
"Jika kau bisa menjawabnya, aku akan berhenti mengganggumu. Dan jika kau salah—"
Wanita itu menghentikan perkataannnya lalu menatap Taehyung tajam tak lupa ditariknya kerah baju seragam milik Taehyung keras. Bukannya lemah, Taehyung berpikir jika ia melawan. Toh, ia juga akan tetap kalah lebih baik diam dan ikuti jalur permainannya. Itu menurut Taehyung.
"tulislah di papan tulis setiap kelas yang ada dilorong ini dengan rapih dan baik 'Kim Taehyung adalah namja cacat yang hidupnya bewana abu-abu' saat pulang sekolah nanti, dan dipagi hari tulisan itu harus tetap ada tanpa terhapus sedikitpun bagaimana? Jadi, apa warna jam milikku?" wanita itu menyeringai kejam.
Taehyung tidak tau mengapa ia begitu lemah dan pasrah saat ditindas seperti ini? Taehyung memanglah rapuh, sangat rapuh bahkan ia serapuh daun kering yang sudah lama mengering dan siap terbang kapan saja sesukanya.
Taehyung melihat kearah jam milik wanita tersebut sambil mengira-ngira apa warna dari jam milik wanita tersebut. Dan ia mulai menjawab, dan dalam hati ia berdoa semoga jawaban yang ia berikan adlah jawaban yang benar.
"Merah?"
Kau tamat Kim Taehyung.
.
.
.
Apa salahku? Bahkan aku tidak pernah berbicara dengan mereka semua. Tapi mengapa semua orang disekolah ini menatapku dengan tatapan jijik milik mereka? Aku tidak tahu apa yang salah dengan diriku ini. Aku hanyalah seorang namja yang tidak memiliki satu temanpun disekolah.
Tapi mereka terus mengataiku dengan kata menusuk dan jahat untukku.
Kim Taehyung si namja cacat.
Kim Taehyung si namja yang tidak tahu warna.
Kim Taehyung yang ingin menjadi seorang pelukis, tapi sayangnya ia cacat.
Kim Taehyung si buta warna yang berharap banyak dalam kehidupannya.
Apakah seorang buta warna seburuk itu? Sampai mereka mengatai diriku cacat? Buta warna itu tidak cacat. Mereka special, aku percaya bahwa aku sangat istimewa dimata Tuhan. Aku percaya itu. Tapi mereka selalu menganggap aku bukannlah orang yang istimewa.
Mereka menganggapku cacat.
Orang cacat.
"Kim Taehyung adalah namja caca—"
Tes.
"Apakah aku menangis? Wah Taehyung, kau sudah bisa menangis"
Aku tersenyum getir. Menyadari bahwa aku sendirian disini. Didunia ini aku sendirian, aku hanya punya Jinnie Hyung.
"Dasar payah" aku mencoba tersenyum walaupun dalam keadaan menangis. "Seharusnya kau tidak menangis Tae. Kau itu tidak cacat"
"Hiks….Eomma aku ingin ikut Eomma saja."
Aku tidak tahan dengan semua ini. Lebih baik aku pergi dari sini.
Dari dunia ini.
.
.
.
Jungkook merapihkan buku miliknya dan memasukkannya kedalam tas miliknya. Ia cukup lelah hari ini, hari ini ia ada jadwal malam. Dan sehabis pulang dari sini ia masih harus pergi ketempat les piano di dekat rumah sakit milik ayahnya. Dan jangan lupa sehabis ini ia ada praktek bedah dengan ayahnya.
Diusia Jungkook yang baru beranjak umur 19 tahun. ia sudah sering dijuluki dengan gelar dokter muda di rumah sakit milik ayahnya. Hanya saja operasi yang ditangani oleh Jungkook tidak sesulit yang ditanggani oleh ayahnya. Dan disetiap operasi, pasti ada ayahnya yang mendampingi dirinya di ruang operasi.
Jadwalnya hari ini sangat membutuhkan tenaga ekstra. Jungkook melangkahkan kakinya keluar dari ruang kelas. Dan berjalan sebentar dilorong depan kelasnya. Ia hanya ingin mencari kesenangan, siapa tahu ia bisa menemukan sosok yang ia cari setelah kejadian kemarin.
"Apakah Tae-Hyung sudah pulang?"
Jungkook melihat kedalam kelas yang sudah kosong. Mengintip lewat jendela kecil dibelakang kelas yang kosong tersebut, melihat keseliling dengan penasaran. Sampai pandangan miliknya berhenti dipapan tulis kelas tersebut dan menemukan sosok yang ia cari sedang menulis sesuatu dalam bentuk hangul di papan tulis kelas tersebut.
Jungkook tidak tahu apa yang ia tulis didepan sana. Karena tubuh Taehyung yang kecil menutupi sebagian dari tulisan disana. Yang ia lihat hanya tulisan "cacat" . Dan setelahnya yang ia temukan seorang Kim Taehyung menangis dan berlari keluar kelas.
Ia tahu sekarang apa yang ditulis Taehyung.
Hatinya bagai teriris beribu-ribu pedang perang yang tajam, saat melihat tulisan itu. Berusaha mengejar kemana larinya Kim Taehyung. Sambil terus memanggil namanya. Dan larian serta teriakan itu terhenti ketika tubuh seorang Kim Taehyung telah sampai diatap sekolah.
Taehyung menaiki kursi yang terletak dipinggir atap. Tidak peduli dengan teriakan Jungkook di belakangnya.
"HYUNG APAKAH KAU MENDENGARKU?!TURUN DARI SITU KIM TAEHYUNG!"
Taehyung hanya melihat sebentar kearah Jungkook, dan lalu tersenyum kecil kepada Jungkook.
"Annyeong Jungkook"
Butuh sepersekian detik untuk Jungkook, untuk berlari kearah Taehyung dan menarik tangan miliknya. Untuk turun dari kursi tersebut. Karena tarikan Jungkook yang kuat membuat keseimbangan Taehyung limbung dan akhirnya menjatuhkan dirinya diatas Jungkook.
Taehyung mendengar kata halus milik Jungkook. Yang membuat tangisan miliknya berhenti dan membuat jantungnya berdetak cepat tak menentu.
"Aku disini hyung. Aku disini"
Sambil mememluk tubuh ringkih milik Taehyung dan mengelus surai miliknya dengan lembut.
Taehyung tahu. Setelah ini hidupnya akan lebih indah dengan hadirnya Jungkook disisinya.
Melindunginya.
.
.
.
Seokjin memang tidak pernah mengerti jalan pikiran milik adik tersayangnya. Ia tahu Taehyung tidak baik-baik saja disekolahnya. Ia tahu semua yang dialami oleh Taehyung. Tapi mengapa saat Seokjin menanyakan—
"Bagaimana sekolahmu?"
"Baik Hyung"
Dan tersenyum.
Ia selalu seperti itu. Bahkan jika membayangkan bagaimana Taehyung ditindas oleh satu sekolah saja, membuat Seokjin ingin membunuh orang yang berbuat tindak yang tidak baik pada Taehyung. Ia sedih melihat Taehyung yang terus pulang dengan seragam yang pernuh dengan cipratan warna-warna pelangi.
Ia miris melihat keadaan adik kesayangannya. Ia tidak tahan terus melihat senyuman Taehyung yang manis dan tenang. Ia tahu Taehyung tidak baik, tapi mengapa Taaehyung begitu sulit untuk jujur padanya?
Ia bisa berbicara padanya bahwa ia tidak baik. Ia tersakiti, ia lelah. Apapun itu, Seokjin siap menampung semua curahan hati sang adik. Ia bahkan rela jika harus mendengarkan cerita sang adik dari petang hingga subuh datang. Seokjin hanya ingin satu hal, ia ingin adiknya berkata—
"Aku lelah Hyung"
Itu sudah cukup, jadi seokjin tidak perlu tersenyum palsu lagi didepannya. Ia lelah harus menangis didalam kamarnya yang gelap dan berlindung dibelakang pintu kamarnya yang bewarna putih bersih. Ia bahkan harus menahan isakan tangis miliknya dengan baik agar tidak terdengar oleh Taehyung.
Seokjin bersyukur sang ibu menurunkan anugerah yang indah untuk adik mungilnya itu. Tapi ia tidak bisa, melihat anugerah indah yang ada dalam diri adiknya itu justru membuat adiknya menerima sakit yang luar biasa pada hatinya. Ia ingin anugerah itu membawa Taehyung pada kebahagiaan yang tidak terduga.
Ia ingin melihat adiknya tersenyum dengan tulus tanpa hati yang terluka.
Tanpa ada goresan kecil dihatinya.
Dirinya masih ingat, saat pertama kali ia tahu bahwa Taehyung itu buta warna. Ia mencoba segala hal untuk memastikan bahwa sebenarnya Taehyung—adik mungilnya, tidak buta warna. Tapi segala cara yang ia lakukan hanya berakhir pada kegagalan yang sempurna.
Ia masih ingat bagaimana ia menyuruh Taehyugn untuk menggunakan baju bewarna hitam untuk pergi kepemakan kedua orang tua mereka. Seokjin berdoa dalam hati semoga saja ia memilih baju yang tepat, ia terus berpikiran baik tentang Taehyung.
Bahkan ia tidak tahu, didalam kamarnya Taehyung kesusahan setengah mati. Untuk memilih baju bewarna hitam beserta celananya. Semua terlihat sama dimatanya, tidak ada bedanya yang berbeda hanya model bajunya saja.
Ia bingung. Ia ingin meminta bantuan pada Seokjin saat itu. Tapi ia ragu, ia tahu Hyungnya masih belum menerima keadaan dirinya yang buta pada warna, jika Hyungnya saja belum menerima keadaanya, bagaimana dengan orang diluar sana? Apakah mereka akan menerima dirinya? Dengan segala kekurangan yang dimiliknya?
Ia terus memilih baju yang bewarna hitam. Setelah beberapa lama akhirnya ia menyerah dengan semuanya, ia mengambil asal baju yang terlihat formal tapi tidak begitu normal. Merapihkan sedikit tataan rambutnya, lalu melesat keluar.
"Ayo Hyung"
Dan seokjin Tahu seharunya ia bisa menerima kenyataan yang menimpa adiknya. Taehyung ternyum kearahnya dengan menggunakan kemeja polos bewarna biru.
Biru,
Hitam.
Semua sama dimata Taehyung
Abu-abu.
.
.
.
TBC
