Title: Finally… You and I

Cast: Kim Jaejoong, Jung Yunho, Go Mira, Stephanie R. (OC –bayangin sendiri ye. Dia western)

Genre: Romance, friendship, hurt.

Rate: T

Author: Uci.

Warning! Boy love. Ada pairing Yunho-Mira.

a/n: nah karena udah ada yang nebak kalo ini terinspirasinya dari mv K-Will yang Please Don't (emang mudah ditebak sih), jadilah emang ini ff terinspirasi dari MV itu. Jadi yang udah tau MVnya pasti tau lah siapa yang sebenernya di sukai sama si emak JJ?

Siang itu Jaejoong sedikit terburu-buru keluar dari apartementnya. Pasalnya dia mempunyai janji dengan Yunho dan Mira untuk bertemu di sebuah café langganan mereka. Ia melihat jam pada pergelangan tangannya dan mengeluh sambil memasuki mobilnya. Dia sudah terlambat selama 30 menit dari waktu yang di janjikan. Salahkan cuaca dingin yang membuatnya malas-malasan sampai harus tidur di siang hari seperti bayi –padahal biasanya ia tak pernah tidur siang.

Ponselnya dalam saku celana bergetar –ia menduga pasti pesan-pesan itu dari Yunho atau Mira. Ia mengabaikannya dan memilih menancap gas –meluncur menuju ke tempat yang sudah dijanjikan oleh mereka.

Setelah lima belas menit kemudian, ia sampai di pelataran parkir sebuah café. Sebelum memasuki café tersebut, ia sempat melihat mobil kepunyaan Yunho terparkir tak jauh dari posisi mobilnya. Untunglah mereka masih menunggu, tapi mungkin berikutnya ia akan berada dalam masalah.

Jaejoong masuk ke dalam café, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru café sampai ia melihat seorang wanita melambaikan tangannya padanya. Ia tersenyum kaku karena merasa bersalah membuat keduanya menunggu, apalagi raut muka Yunho terlihat tidak begitu ramah.

"Maaf membuat kalian menunggu lama," katanya agak canggung kemudian duduk di hadapan mereka.

"Tidak masalah, Jaejoongie~" sahut Mira –ceria seperti biasanya. Ia perhatikan Yunho yang belum bersuara, sepertinya mood pria itu sedang buruk.

"Kau membuat kami berdua kelaparan, tau," kali ini Yunho membuka suaranya, membuat Jaejoong merasa lega karena ternyata sahabatnya itu tidak benar-benar marah. Ia tersenyum –menangkupkan kedua tangannya didepan wajah sebagai permohonan maaf.

"Kalau begitu pesan makanan sekarang ya?" usul Mira yang langsung di setujui oleh Yunho.

"Astaga Yunho, cara makanmu belum berubah ya~" Jaejoong mengangkat wajahnya –dia jadi melihat sebuah pemandangan dimana Mira tengah menyeka sudut bibir Yunho dengan selembar tissue dengan lembut. Ia terdiam –dadanya bergemuruh. Sebenarnya ia sudah melatih dirinya supaya tidak lagi merasa cemburu kepada pria dan wanita dihadapannya itu, tapi sekuat apapun ia berusaha –justru perasaan menyakitkan semakin menggerogoti dirinya.

Padahal sejak hari dimana Yunho bilang padanya bahwa dia dan Mira resmi berpacaran itu sudah 7 bulan yang lalu, dan rasa menyakitkan di hatinya sama sekali tidak berkurang meskipun ia selalu bersikap wajah dihadapan keduanya. Ia memandang Mira yang tersenyum cerah –wanita yang menjadi temannya sejak satu tahun yang lalu itu terlihat begitu bahagia bersama Yunho –begitu pula sebaliknya. Harusnya ia merasa lebih bahagia karena dua orang yang disayanginya saling mencintai, namun egonya selalu berkata kalau dia berhak cemburu. Dia sakit hati karena sebenarnya dia sendiri mencintai—

"Oh iya Jaejoong. Sepertinya kami harus memberitahumu sekarang," kata Yunho tiba-tiba, membuat Jaejoong tersentak dari lamunannya. Pria itu segera merubah raut mukanya menjadi lebih baik dengan sebuah senyuman tipis di wajah rupawannya.

"Soal apa?" tanyanya penasaran, karena ia lihat dengan jelas kalau Mira tersipu.

Yunho tidak lekas menjawab, ia seperti membisikkan sesuatu pada Mira hingga wanita itu mengangguk. Kemudian ia lihat Yunho mengangkat tangan kirinya –dengan punggung tangan menghadap ke arahnya, begitu juga dengan Mira. Awalnya ia tak mengerti, namun setelah melihat cincin yang sama melingkar dengan manis di jari mereka. Ia tau apa artinya itu. Jadi mereka sudah bertunangan? Jaejoong merasa lukanya yang belum benar-benar sembuh justru dibuat makin parah. Dadanya benar-benar bergemuruh, dan pikirannya berkecambuk. Bahkan ia bingung harus bereaksi seperti apa agar terlihat natural.

"Aku sudah melamar Mira dan dia menerimanya," ujar Yunho dengan sumringah, tak lain halnya dengan Mira yang wajahnya semakin memerah –sama seperti wajah Jaejoong. Bedanya karena Mira terlalu bahagia, sedangkan ia karena sangat terluka.

"Selamat ya buat kalian. Aku ikut senang," katanya dengan sekuat tenaga agar terlihat natural. Ia merasa sudah tidak tahan, airmatanya seperti mendesak. Sungguh, kenapa masalah cinta membuatnya menjadi lemah?

"Kami akan menikah 2 minggu lagi," kata Yunho sambil merangkul pundak Mira, dan itu semakin menambah luka yang dirasakan oleh Jaejoong. Pria itu tersenyum semakin lebar, tapi terlihat tidak natural dan ia sendiri menyadari. Kalau ia tinggal disana lebih lama, maka semuanya akan menjadi buruk.

"Wah, ini benar-benar kejutan untukku. Selamat sekali lagi untuk kalian," Jaejoong mengutuk dirinya sendiri karena aktingnya sangat buruk, bahkan airmatanya semakin mendesak. Ia lantas bangkit dan membuat sepasang kekasih itu menatapnya heran. "Sebenarnya aku ingin berlama-lama disini, merayakan hubungan kalian. Tapi, aku ada urusan lain dan tidak bisa aku tinggalkan," katanya beralasan.

"Yah! Kau ini lebih memilih urusan lain itu ketimbang kami?" kata Mira dengan wajah yang dibuat kesal. Ia tau kalau wanita itu tidak sungguh-sungguh. Ia tersenyum geli.

"Kita masih punya lain kali kan?" katanya –dalam hati ia berkata miris: lain kali? Bahkan dia tidak yakin sanggup menampakkan wajahnya didepan mereka setelah ini.

Yunho mendecak, pria itu menekuk bibirnya. "Kejam sekali kau ini," gerutunya dan Jaejoong hanya tertawa –miris.

"Hari ini biarkan aku yang traktir kalian –sebagai hadiah pertunangan kalian," katanya sebelum akhirnya pergi meninggalkan pasangan itu.

Entah sudah berapa gelas alkohol yang ia teguk, tapi ia tak merasa mabuk justru perasaan dan pikirannya masih berkecambuk.

Hatinya berdenyut nyeri saat mengingat raut bahagia diwajah Yunho dan Mira atas pertunangan mereka. Ia mengutuk dirinya sendiri karena merasa seterpuruk ini. Harusnya ia ikut berbahagia bersama mereka, tapi perasaan cintanya yang begitu kuat tidak mampu ditahannya. Setiap ia bernafas, maka cinta itu semakin besar dan justru membuatnya semakin sakit. Kalau bisa, ia benar-benar ingin membuang perasaan cintanya –ia berharap tak pernah merasakan cinta kalau akhirnya ia memetik rasa sakit yang luar biasa begini.

Ponselnya bergetar, namun tak diacuhkannya. Ia sudah tau kalau semua itu pasti dari Yunho dan Mira. Mereka berusaha menghubunginya setelah selama 3 hari ini ia tidak pernah muncul dihadapan mereka. Ia sadar kalau dirinya adalah pengecut dengan menghindari kenyataan, tapi kalau ia memaksakan diri justru ia tak tau apa yang akan terjadi setelahnya. Lebih baik ia memang menghindar –meski ia tau itu tak akan lama karena cepat atau lambat Yunho akan menemukan keberadaannya.

Getaran dari ponselnya mendadak begitu mengganggunya. Ia meraih ponselnya dari dalam saku celananya, dan ia lihat ada puluhan panggilan tak terjawab dan belasan sms. Ia berpikir sejenak, haruskah ia menjawab salah satu panggilan dan bilang pada mereka bahwa ia sedang tidak ingin di ganggu atau terus membiarkannya? Dan akhirnya ia memilih untuk mematikan ponselnya tanpa membuka satupun pesan yang terkirim padanya.

Ia sedang seperti ingin menghukum dua orang itu, tapi untuk apa? Toh mereka pasti tidak merasa perlu di hukum karena memang mereka tidak melakukan kesahalan apapun. Satu-satunya yang menganggap mereka berdua bersalah adalah dirinya sendiri. Sangat miris.

Baru saja ia akan menuangkan lagi cairan memabukkan berikutnya kedalam gelas, sebuah tangan menahannya. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita cantik menatapnya prihatin.

"Terlalu banyak mengkonsumsi alkohol tidak baik untuk kesehatanmu, Jaejoong," wanita itu menyirkan botol-botol alkohol dan gelasnya dari Jaejoong. Ia tak peduli Jaejoong mengeluh, ia justru mengambil tempat tepat dihadapannya pria itu.

"Stephanie…"

"Jangan biarkan perasaan sedih menguasaimu, Jaejoong," kata wanita yang disebut Jaejoong Stephanie. Wanita itu tersenyum tipis namun ia sedih melihat temannya terlihat kacau. Ia sudah tau semuanya dari Jaejoong sendiri kemarin. Padahal kemarin Jaejoong masih terlihat bisa menahan dirinya, tapi sekarang pria ini benar-benar memprihatinkan.

Mereka berdua duduk bersebelahan disebuah bench di taman. Setelah Stephanie memaksanya untuk pergi dari tempat hiburan itu, akhirnya mereka malah memutuskan untuk menyegarkan diri di sebuah taman –tempat yang akan berada di urutan paling akhir untuk Jaejoong sebagai tempat pelariannya.

"Aku pengecut, bukan?" gumam Jaejoong sambil menggenggam erat kaleng minumannya. Ia menatap air mancur dengan tatapan kosong.

"Menurutku tidak sepenuhnya," sahut Stephanie, ia tersenyum tipis tanpa menoleh pada teman prianya tersebut. "Aku pernah mengalami saat-saat sepertimu, Jaejoong. Bahkan aku sempat hampir mati karena meminum obat tidur dalam dosis besar,"

Jaejoong terpana setelah mendengar pengakuan teman dekatnya di tempat kerja itu. Baru kali ini ia mendengar cerita tersebut dari Stephanie. Padahal setaunya pribadi wanita ini sangat kuat, dan untuk melakukan bunuh diri adalah hal yang mustahil. Tapi ternyata dugaannya salah. Setegar apapun kita berusaha menutupi luka dalam diri –akhirnya semua itu justru akan meluap pada waktunya dan ia sendiri tidak tau apa yang akan dilakukannya nanti jika itu terjadi.

"Itu… kapan?" tanyanya –menatap Stephanie yang balas menatapnya. Wanita itu masih setia dengan senyuman di wajahnya.

"Tiga tahun yang lalu, saat kekasihku akhirnya menikahi wanita yang lebih kaya daripada aku," kata wanita itu –Jaejoong dapat melihat tersirat sedikit kesedihan dari mata bulatnya. Ia yakin wanita ini pasti pernah merasakan sakit yang lebih daripada yang sedang dirasakannya sekarang, tapi sekarang ia terlihat tegar bahkan terkenal sering sekali tersenyum.

"Padahal kau terlihat sangat tidak mungkin untuk melakukan bunuh diri…" Jaejoong menggantung kalimatnya. Ia mendadak merasa ia sedang membicarakan dirinya sendiri. Selama ini ia selalu pintar menyembunyikan perasaan sesungguhnya, dan beberapa hari ini ia seperti sudah tidak bisa melakukannya. Mungkin saja suatu hari nanti ia akan berpikir untuk melakukan hal sama seperti Stephanie –bahkan semalam sempat terlintas pikiran seperti itu.

Stephanie tertawa renyah –Jaejoong bukanlah orang pertama atau kedua yang mengatakan hal serupa. "Karena aku sangat pintar menyembunyikan perasaanku dibalik senyuman. Dan karena kepintaranku itu orang-orang jadi tidak peka sampai mereka sangat terkejut saat mendengar aku mencoba melakukan bunuh diri," tutur wanita itu dengan ringan. Ia bahkan menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela nafas panjang tapi selanjutnya ia kembali tersenyum.

Jaejoong menyetujuinya dalam hati. Ia memang merasa karakternya dengan wanita ini memang memiliki banyak kesamaan.

"Mereka pikir wanita sepertiku ini tidak memiliki masalah yang membuat depresi hanya karena senyumanku," katanya lagi. "Aku sendiri merasa bahwa aku sangat munafik,"

"Aku pikir dengan tersenyum akan sedikit mengobati perasaanku, tapi kenyataannya justru sebaliknya. Miris sekali," lirih Jaejoong, dan ia mendapat tepukan di pundak oleh Stephanie. Wanita itu jelas sangat setuju dengan pernyataan Jaejoong barusan. Iapun sering merasakan hal yang sama.

"Tapi sekarang aku sudah mulai melupakan perasaanku saat itu," kata Stephanie, ia tersenyum semakin lebar –mempercantik rupanya. "Aku sedang berusaha membangun perasaan yang baru bersama Daniel,"

Jaejoong tersenyum tipis –membalas senyuman Stephanie dan respon atas kebahagiaan teman dekatnya itu. Kemudian ia berpikir tentang dirinya sendiri. Akankah ia membutuhkan waktu 3 tahun untuk dapat melupakan perasaannya ini? Atau mungkin akan lebih lama dari itu?

"Hey, Jaejoong!" Stephanie membuyarkan lamunannya. Ia melihat pada wanita itu, dan kali ini Stephanie berubah lagi menjadi wanita ceria seperti biasanya. Ia sepertinya sedang berusaha mencairkan suasana tak enak di sekitar mereka. Memang benar, berlarut-larut dalam luka tidak akan pernah menyembuhkannya. "Kau tenang saja, kakakku punya banyak teman yang masuk kriteriamu," kata wanita itu dengan cengiran khasnya. "Dia juga punya banyak teman orang Asia lho,"

"Yah, apa maksudmu?" ujar Jaejoong pura-pura agak ketus. Dia meneguk minumannya dan mengeluh.

"Kapan-kapan kalau kau mau berkunjung ke Los Angles bersamaku, aku benar-benar akan memperkenalkanmu dengan teman-teman kakakku," Stephanie menepuk pundak Jaejoong dan tersenyum lebar. "Jangan berlarut-larut dengan kesedihanmu, ya? Kau yang seperti ini terlihat seperti pria tidak berkelas lho,"

Jaejoong melebarkan matanya –berusaha menggertak Stephanie karena omongannya. "Jangan sembarangan. Meskipun aku sedang patah hati, tapi aku tidak pernah lengah dengan penampilanku," gerutunya karena tak terima dibilang tidak berkelas.

Stephanie tertawa lepas dan akhirnya Jaejoongpun turut tertawa. Ia tau setelah ini ia mungkin akan kembali dalam keterpurukannya.

"Bagaimana kalau besok kita melakukan badai belanja?" usul Stephanie dengan mata berbinar. Jaejoong tertawa singkat dan menyetujuinya. Mungkin ia memang harus mengalihkan perhatiannya dari patah hatinya dengan berbagai cara. "Ayo kita belanja sepuas mungkin –tidak usah pikirkan tagihannya!" seru wanita itu dengan riang dan bersemangat –seperti tidak peduli mereka sedang dimana dan kapan.

"Lalu siapa yang akan membayar tagihannya?!" Jaejoong mendecak, kemudian tertawa karena merasa geli. Ia melirik Stephanie yang sedang berbicara tentang banyak hal yang menyenangkan –atau cerita tentang kakak kandungnya yang sekarang masih berada di Los Angles. Ia pikir ia akan segera melupakan semuanya –ia berkaca pada Stephanie. Dia adalah seorang wanita yang pasti lebih lemah daripadanya, dan sekarang wanita itu bisa bangkit dari keterpurukannya yang lebih parah. Kalau Stephanie saja bisa, harusnya ia lebih bisa. Setelah ini mungkin dia akan belajar agar bisa menerima kenyataan dengan lapang dada. Ia tidak boleh bersedih sementara dua orang yang disayanginya sedang berbahagia. Mungkin besok ia akan muncul lagi dihadapan Yunho dan Mira –semoga saja ia bisa mampu menghadapi mereka –sementara hari pernikahan mereka semakin dekat.