Disclaimer : Tite Kubo-sensei, uda tau nanya pula -,-
Pair : Rukia n Byakuya
Note : yeppei…..update bart berikutnya….*teriak-teriak*
Dengan segenap kemampuan aku mnulisnya, serta ditengah kesibukan menjelang seleksi ke perguruan tinggi jadi maaf jika ada salah-salah kata atau mungkin ceritanya tak semenarik yang anda semua bayangkan*membungkuk sedalam-dalamnya*.pada chapter ini aku mengambil sebagian penjelasan dari om wiki XD
Makasih atas ripiuw chapter sebelumnya
TYPO, OOC, GAJE DLL HARAP DIMAKLUMI XD
MY BELOVED BELOVED BROTHER
Chapter 2
Author POV
"hei….." teriak Rukia dari kejauhan, dengan napas terengah-engah karena berlarian. Seseorang yang dipanggilnya itu tengah membetulkan rantai sepedanya yang lepas, laki-laki itu tak menoleh sedikitpun
"hei….." teriak Rukia lagi begitu telah mencapainya, si pria mendongak dan terkejut melihat perempuan kecil seukuran anak SD dengan rambut pendek terurai, kimono mewah yang dikenakannya dan dengan napasnya yang terengah-engah sembari menenteng geta ditangan kanan menyapa orang yang tak pernah dikenalnya. Akan tetapi, satu hal yang membuat pria itu tak bisa berpaling dari sosok mungil dihadapannya, yakni mata violet yang terlihat polos dan murni.
"a….ap…..apa?" Tanya pria itu sambil sesekali menghindari tatapan Rukia
"ayo kita ke Ueno" ajak Rukia tanpa basa-basi sembari memperlihatkan senyuman termanisnya
Sontak pria itu merasa silau, tak sanggup menolak permintaan Rukia
"aa…..baiklah ayo naik" ucap si pria, bersiap untuk mengayuh sepedanya
"tunggu….."sahut Rukia
"…."
"siapa namamu?"
Si pria tersenyum
"Renji….." ucapnya riang "Renji Abarai" lalu mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Rukia setelah memindahkan getanya ke tangan kiri
"Kuchiki…Rukia Kuchiki.." dan keduanya saling tersenyum
Taman Ueno (上野公園, Ueno kōen?) adalah taman umum yang berada di kawasan Ueno, distrik Taito-ku, Tokyo, Jepang. Nama resminya adalah Taman Ueno Pemberian Kaisar (上野恩賜公園, Ueno onshi kōen?). Taman seluas sekitar 530 ribu meter persegi ini dikelola Dinas Pekerjaan Umum Tokyo.Di sebelah selatan taman terdapat kolam luas bernama Kolam Shinobazu. Di musim panas, sebagian permukaan kolam dipenuhi dengan indahnya daun-daun hijau dan merah muda bunga tanaman seroja. Di musim dingin, burung-burung migran menggunakan Kolam Shinobazu sebagai tempat tinggal sementara hingga datangnya musim semi. Di musim semi, Taman Ueno populer sebagai tempat melihat bunga sakura. Ketika bunga sakura sedang mekar-mekarnya, taman ini ramai dengan orang yang datang berkelompok-kelompok untuk melakukan hanami.
Rukia dan orang yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu tengah mengendarai sepeda menuju Taman itu, sambil sesekali ia mengayun-ayunkan kaki yang tak memakai alas kaki sehingga membuat si pengemudi harus mengurangi kecepatannya agar tidak oleng. Tidak mau kalah dengan Rukia, Renji menggoyang-goyangkan sepedanya yang mau tak mau membuat gadis mungil itu berpegangan erat. Keduanya saling tersenyum walau tanpa suara.
"Rukia….." panggil Renji
"ya…" Rukia merentangkan tangan kirinya sembari merasakan angin
"dari mana kau berasal?"
" tentu saja aku dari kota ini" jawab Rukia asal
"benarkah? Aku pikir kau seorang peri yang turun dari langit" godanya
" jangan konyol…..kota ini disebut Tokyo, bukan Edo. kau pikir hal semacam itu nyata?" jawabnya tapa basa-basi
"cih….kau ini tak memiliki sisi manis sedikitpun, awalnya kukira kau gadis bangsawan yang lemah lembut—ternyata—hei, apa-apaan ini" Jari-jari Rukia tengah mencubiti Renji yang membuat laki-laki itu meringis kesakitan
"sudahlah….aku hanya ingin melihat sakura"
"kalau begitu lihatlah" ucap Renji begitu memasuki Taman
"SUGOIIII" teriak Rukia kagum
Lampion-lampion kertas tergantung diantara pohon-pohon sakura yang berjajar di tepi merah jambu mendominasi seluruh tempat. Aspal dingin dibalut oleh kelopak sakura yang berguguran, angin berhembus menebar wangi musim semi. Segala hal tumbuh di musim ini, bahkan tanpa Rukia sadari orang yang baru saja dikenalnya tengah menyimpan rasa yang disebut "Cinta pada pandangan pertama"
Byakuya POV
Terkadang aku merasa membenci diriku sendiri, sebagai seorang bangsawan yang dihormati aku harus menjaga sikap dimanapun aku berada yang kadang membuatku menjadi makhluk terasingkan. Aku tahu bahwasanya orang-orang yang kini berada di sekitarku hanyalah mereka yang memiliki motif terselubung, orang-orang picik itu hanyalah sampah yang menginginkan harta atau hanya ingin mencari kepuasan dengan wajah tampan ini, bukannya aku bermaksud menyombongkan diri tapi itu adalah fakta yang tak terbantahkan.
Tapi, menyadari ada seseorang yang memperhatikanku tanpa batasan waktu itu membuatku sangat risih. Aku telah menanamkan pikiran buruk mengenai mereka jadi bagiku semua orang itu sama, tak ada yang berbeda—tidak satupun.
Aku ingin menolak keberadaannya namun mata violet yang memandangku penuh kepolosan itu seolah menghujamku membuatku mengingat kembali saat sosok mungil itu datang padaku sepuluh tahun yang lalu.
Flashback
Sepuluh tahun lalu
Musim dingin tiba lebih awal di bulan desember, menjadikan kota Tokyo yang berada di suhu minus lima belas derajat celcius bagaikan kota mati.
Di sebuah mansion mewah milik keluarga Kuchiki, aku yang masih berusia tiga belas tahun tengah meringkuk diatas sofa di depan perapian sembari menyelimuti diriku dengan selimut bulu.
Sendirian di musim dingin membuatku merasakan pedih, selimut itu bagiku tak cukup tebal untuk menghangatkan hati yang dingin. Tapi,aku merasa beruntung tak harus berada di luar sana saat salju turun.
BRAKK…
Bunyi itu terdengar seperti benda keras yang menghantam pintu.
Aku yang memiliki keingintahuan tinggi dengan malas menanggalkan selimut dan turun dari sofa menuju sumber suara.
Kubuka pintu berpanel besi itu perlahan, seketika sekujur tubuhku menggigil merasakan udara yang berhembus memasuki rumah, karna tak tahan aku bergegas untuk menutupnya lagi tapi, sesosok tubuh mungil yang terbaring di teras dengan wajah pucat membuatku sejenak melupakan dingin. secepat kilat kuhampiri sosok kaku itu, betapa tidak terkejut aku saat menyadari bahwa dia adalah seorang gadis kecil yang kuperkirakan masih berusia tujuh tahun. gadis itu hanya memakai sehelai mantel dan syal yang meliliti lehernya. Bibirnya membiru, raut wajahnya pucat serta tubuhnya sangat dingin.
Segera aku menggendongnya masuk, menidurkannya di sofa yang tadi kugunakan dan menyelimutinya dengan selimut bulu.
Kukompres juga ia dengan air hangat namun suhu tubuhnya yang tak kunjung naik membuatku merasa jengkel. Dengan gugup kutanggalkan baju yang menutupi tubuh gadis itu.
"maaf—ini demi dirimu" bisikku lirih
Dari buku yang pernah kubaca, cara paling ampuh untuk menghangatkan tubuh adalah dengan saling berpelukan lantas akupun tidur di sofa menghimpit tubuh mungil gadis itu diantara diriku dan sandaran sofa sembari menyelimuti tubuh kami. Lalu, kurengkuh wajah gadis itu dan menenggelamkannya pada dadaku yang bidang seraya memeluknya dengan erat.
Flashback end
"cih…" gerutuku kesal, wajahku terasa panas dan bisa kubayangkan semburat merah yang memenuhinya " setidaknya—aku ingin memperlihatkan Yozakura padanya" lalu bangkit dari kursi putar.
Author POV
Betapa Byakuya tak merasa kesal, niat baiknya untuk mengajak sang adik Rukia Kuchiki menyaksikan Yozakura hanya disambut dengan kamar kosong. Byaku menuruni tangga menuju halaman
"Ukitake" panggilnya
Tukang kebun keluarga Kuchiki yang sedang sibuk membersihkan rumput liar di halaman menatap heran pada Tuan mudanya itu, jarang-jarang si Tuan muda ini tampak tak tenang.
"kemana Rukia?" tanyanya masih dengan nada tergesa-gesa
"Nona kecil?" Ukitake mengibaskan bajunya yang kotor karena begumul dengan tanah"aku melihatnya keluar dengan memakai kimono, kupikir nona pergi bersama anda ke Ueno karena beberapa hari lalu ia bercerita soal Taman Ueno" terangnya
"apa?" Byaku semakin kehilangan ketenangannya
Tak berapa lama kemudian muncullah seorang pria berandal berambut merah dengan sepedanya berhenti di depan gerbang mansion keluarga Kuchiki, pupil abu-abu Byaku semakin melebar melihat orang yang sedang duduk di boncengan pria itu.
Rasa panas menjalar ke sekujur tubuh Byakuya, apalagi menyaksikan tawa lepas Rukia bersama pria itu seolah menohk ulu hatinya.
Apa benar jika perasaan ini hanyalah nalurinya sebagai seorang kakak yang ingin selalu melindungi adiknya.
Ataukah ada yang lebih dari itu?
Dia dan Renji saling bertemu pandang, ada kilat yang seolah menyambar diantara mata abu-abu dan merah yang menyiratkan kebencian mendalam.
"sampai jumpa—Renji" ucap Rukia sembari melambaikan tangannyapada Renji. Pria itupun membalas dengan senyuman lalu mengayuh sepedanya pulang.
Di teras yang berjarak sepuluh meter dari Rukia, Byakuya mengamati gerak-gerik adiknya itu yang berjalan tanpa alas kaki, mengangkat kimononya satu jengkal diatas mata kaki, berjalan dengan riang sembari bernyanyi-nyanyi pelan
"apa yang kau lakukan?" Tanya Byaku sinis begitu Rukia menghampirinya, Ukitake yang menyadari perubahan ekspresi Byakuya tak mau ikut campur dan melanjutkan kerjanya.
"kenapa kakak pulang cepat?" tak mendapat jawaban atas pertanyaannya, Byakupun menjawab sarkatis
"bukan urusanmu"
Ia beranjak menuju Rolls Royce Phantom yang terparkir diluar gerbang sambil terus memegangi dadanya yang terasa sesak.
Ia sadar, perannya bagi Rukia adalah kakak, ada batasan peran yang tak boleh dilanggar sekalipun sikap itu mungkin membuat Rukia terluka.
To be continued
Hahahaha….sy sudah berusaha menghadirkan Romance disini meskipun terlalu garing :p
Maaf ya—Ukitake….anda harus menjadi tukang kebun*ditabok Ukitake*
Apa sebagian pertanyaan pembaca telah terjawab?
Yup…sekian dari sy, jangan lupa untuk meripiuw ^_^
bububu
