Tes...
Tes...
Tes...
Suara air yang berjatuhan entah dari mana sumbernya memenuhi pendengaranku. Aku membuka mataku, hanya kegelapan yang dapat aku lihat. Meskipun begitu, aku tahu. Aku sendirian di tempat ini. Sendirian di tempat gelap ini. Tanpa ada yang memanggilku, mencariku bahkan mengkhawatirkanku.
Aku sendiri.
Sangat sendiri.
~oOo~
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : AU, Mungkin akan sedikit bashing!all character, OOC; Don't Like Don't Read.
I'am a Robot, Aren't i? © Ru Unni Nisa
~oOo~
Tes...
Tes...
Tes...
Mata berkelopak berwarna tan itu mulai terbuka secara perlahan. Pandangan kabur mendominasi. Dengan mengerjapkan matanya perlahan, penglihatannya mulai berfungsi normal.
Putih. Warna putih yang ia lihat. Putih dari langit – langit. Itulah yang ditangkap penglihatannya. Hidungnya – yang untungnya masih berfungsi dengan baik – mulai mencium aroma antiseptik.
Rumah sakit.
Kesimpulan singkat. Hal yang ia dapat setelah mendapat bukti dari kedua panca inderanya. Mendengar suara tetesan air, menoleh perlahan dan mendapati sebuah infus yang tergantung yang menancap dengan selang yang berujung pada jarum yang menusuk lengannya.
Itu adalah bukti pasti dimana ia berada.
Dengan perlahan – karena masih lemas – lengannya yang bebas dari infus itu bergerak menuju matanya. Menutup matanya dengan lengannya sebagai penunjang.
Ia ingat apa yang terjadi. Kemarin, ia kehujanan dan hari ini mendapat dua pukulan telak. Sepertinya beberapa hari ini dia sedang sial. Tersenyum kecut menanggapi hal itu.
Meletakan kembali lengannya disamping tubuhnya dan melihat jam dinding di kamar rumah sakit itu. Pukul 6. Ia tak tahu, saat ini sudah pagi atau sore.
Berusaha bangun, meskipun kepalanya benar – benar berputar, ditambah kakinya yang lemas. Dengan bertumpu pada tiang pendek yang terdapat infus miliknya itu bergantung. Ia melangkah pelan, menuju jendela yang masih tertutup.
Dengan pelan, ia membuka jendela itu. Dan langsung disapa oleh angin dingin yang sejuk. Angin itu mampu membuat rambut pirangnya bergoyang pelan. Ia sedikit menggigil. Mengenakan pakaian rumah sakit yang tipis dan sebuah penghangat ruangan yang sukses dikalahkan oleh angin di pagi hari.
Tak mampu lagi menahan beban tubuhnya. Akhirnya ia mengambil sebuah kursi dan mendorongnya hingga tepat didepan jendela. Entah bagaimana ia merasa nyaman setiap kali seperti ini.
Menatap pemandangan bak surga tepat didepan matanya. Sebuah pemandangan biasa, namun baginya adalah luar biasa.
Ia dapat melihat sinar matahari yang mulai menyelinap masuk ke ruangannya yang memberikan kesan hangat. Burung – burung kecil yang terus bernyanyi – meskipun ia tak mengerti – dengan hinggap disalah satu pohon. Sebuah kursi panjang kosong yang berada di samping pohon itu.
Pemandangan biasa yang luar biasa.
Ia menutup matanya. Tidak memperdulikan bagaimana kepalanya yang sakit, tenggorokannya yang kering, tubuhnya yang terasa panas dan menggigil karena udara pagi, perutnya yang melilit dan mual.
CKLEK...
"Ara~ Naruto-kun, kau sudah sadar?" Tanya seorang suster yang mempunyai rambut hitam sebahu. Suster itu menghampiri Naruto dan memberikan segelas air mineral. "Minumlah ini dulu, Naruto-kun. Kau pasti akan merasa lebih baik."
Naruto yang mendengarnya hanya tersenyum kecut. Lebih baik? Sepertinya tidak. Namun tak mengatakan apa – apa lagi, Naruto menerima gelas itu dan segera meminumnya perlahan dengan bantuan suster itu.
"Bagaimana perasaanmu, Naruto-kun?" Tanya suster itu lagi setelah ia meletakan kembali gelas itu di meja samping ranjang pasien.
Dengan sedikit menoleh, Naruto menjawab. "A-aku tidak tahu, Shizune-nee." Naruto berusaha untuk menjawab meskipun tenggorokannya masih terasa sakit.
Suster yang dipanggil 'Shizune' oleh Naruto itu tersenyum, memaklumi gelagat Naruto. Dengan tatapan lembut, Shizune mendekati Naruto. "Ayo, Naruto-kun. Lebih baik kamu kembali istirahat. Aku akan memanggil Nona Tsunade untuk memeriksamu, Naruto-kun." Dengan perlahan, Shizune membantu Naruto untuk kembali menuju ranjangnya agar Naruto bisa istirahat.
Setelah menyelimuti Naruto, agar merasa nyaman. Shizune segera beranjak untuk pergi.
"Shizune-nee." Panggil Naruto lemah.
Shizune menengok sebentar.
"Apakah mereka datang kesini?" Pertanyaan itu terdengar hampir berbisik.
Shizune yang tentu dapat mendengarnya, hanya terdiam. Ia tahu, siapa yang dimaksud Naruto. Naruto adalah cucu dari Nona Tsunade, guru sekaligus pimpinan rumah sakit ini. Untuk itulah ia mengenal Naruto.
Tak mendapat respon. Naruto dapat menebaknya. "Begitu, ya. Tidak apa – apa." Bisik Naruto yang kemudian menaikkan selimutnya hingga menutupi wajahnya.
Shizune menghela nafas mendengar hal itu. Ia tahu Naruto berbohong. "Maaf, Naruto-kun. Tapi tunggu sebentar, ya. Nee-san akan memanggil Nona Tsunade." Ujar Shizune. Ia menunggu respon dari Naruto.
Namun, seperti yang ia duga. Naruto tak meresponnya. Ia beranjak keluar. Dan membiarkan Naruto sendirian dulu.
...
"Bocah! Bukankah sudah aku katakan untuk menjaga kesehatanmu?!" Tsunade bertanya dengan sedikit berteriak. Ia tengah berkacak pinggang dihadapan salah satu pasiennya yang merupakan salah satu cucunya.
Ia baru saja selesai memeriksa kondisi Naruto. Dan itu bukan merupakan hal yang bagus. Kondisi tubuh Naruto menurun daripada terakhir Naruto berada di rumah sakit ini. Ia tak habis pikir kenapa Naruto bisa mengalami tifus seperti ini.
"Maaf, baacan." Hanya itu yang keluar dari mulut Naruto. Pandangannya kosong. Mata langit birunya meredup. Kulit tan pucat itu mendukung bagaimana kondisi tubuh Naruto saat ini.
Melihat hal tersebut, Tsunade menghela nafasnya. Ia bingung harus bagaimana. "Shizune, tolong ambilkan makanan untuknya. Hati – hati memilih makanan. Kau tahu apa yang seharusnya Naruto makan saat ini, bukan?"
"Ha'i, Nona Tsunade." Dengan itu, Shizune segera pergi menuruti perkataan gurunya. Sebenarnya Shizune tahu maksud tersembunyi kenapa ia menyuruhnya untuk mengambil makanan. Tsunade-lah yang akan memberi makan pada Naruto. Yakni kasih sayangnya.
Shizune tersenyum miris mengetahui hal tersebut. Ia tahu apa yang terjadi dengan keluarga Namikaze tersebut. Tapi ia hanyalah orang luar, ia tidak boleh menginjakkan batas yang seharusnya. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah menghibur dan membantu Naruto agar bisa bertahan.
Shizune juga tahu. Sebenarnya yang membuat Naruto sakit bukanlah tifus itu sendiri. Melainkan pikiran Naruto yang membuat dirinya sendiri menjadi depresi sehingga menghilangkan nafsu makan.
...
"Naruto." Panggil Tsunade kini terdengar pelan.
Naruto menoleh pada neneknya. Pandanganya masih kosong. Naruto dapat melihat, saat ini Tsunade tengah berjalan pelan menuju dirinya yang masih berbaring. Tapi yang Naruto tak tahu adalah, neneknya itu secara tiba – tiba merengkuhnya lembut.
Mendekapnya, memberinya kekuatan. Entah bagaimana, Naruto dapat merasakannya, wajahnya memanas, pandangannya mengabur.
"Menangislah, Naruto. Menangislah." Naruto dapat mendengar suara neneknya bergetar, dan ia juga merasakan bahu kanannya basah karena air mata neneknya. Andai ia bisa melakukan seperti perintah neneknya. Mungkin ia sudah melakukannya dari tadi.
Tapi sepertinya air matanya sudah membeku. Ia seolah tidak diizinkan menangis lagi. Hanya pandangan kabur yang ia dapat seperti ada yang menggenang dipelupuk mata. Namun, sama sekali tidak ada yang mengalir dari matanya. Ia sama sekali tidak dapat menangis.
Ia gemetar. Sungguh, semenderita itukah ia hingga tidak bisa menangis? Tidak diizinkan untuk menangis? Tidak diizinkan untuk memberitahu betapa ia sudah lelah dengan semua ini. Tidak bisa mengeluarkan cairan hangat yang berasal dari matanya ketika ia sedih ataupun senang. Ia gemetar hebat.
Tsunade semakin memeluknya lembut. Ia tidak akan membiarkan Naruto menjadi sosok kuat namun rapuh seperti ini. Ia sama sekali tidak ingin. Bagaimanapun, Naruto adalah cucunya. Ia tidak mau sang cucu mempunyai mata dengan kehidupan kosong. Sama sekali tidak lucu.
Dan lebih baik, ia berhenti meminum sake daripada melihat Naruto seperti ini. Tsunade tahu, meskipun Naruto gemetar hebat. Namun Naruto sama sekali tidak menangis, untuk itu biarlah dirinya yang menangis. Biarlah dirinya yang ikut merasakan penderitaan cucunya ini.
Setelah merasakan Naruto yang mulai tenang. Tsunade dapat melihat Naruto sudah tertidur. Tidur yang sangat pulas. Entah kapan terakhir kali Tsunade melihat Naruto setenang ini. Meskipun kulit pucat itu menganggu. Namun tak dapat di pungkiri lagi, betapa tenang dan senangnya ia ketika melihat Naruto sudah mau terbuka dengannya meskipun hanya gelagat tubuhnya.
Dengan telaten ia membereskan selimut Naruto. Dan mengatur suhu penghangat ruangan itu, agar Naruto tidak merasa kedinginan. Setelah mengecup dahi sang cucu dan memastikan semuanya baik – baik saja. Ia segera pergi meninggalkan Naruto beristirahat.
~oOo~
Masih seperti apa yang dilakukannya tadi pagi. Naruto kembali duduk didepan jendela itu menatap taman kecil di rumah sakit ini. Ia menyukai pemandangan ini. Tapi ia sama sekali tidak berkeinginan untuk pergi ke taman kecil itu.
Ia takut. Ia takut, jika ia kesana justru hanya kerusakan yang dapat ia lakukan. Kekacauan yang diakibatkannya. Mendapat tatapan benci dari orang – orang yang menyukai taman itu.
Membayangkan hal itu sama sekali tak membantunya. Justru membuatnya tidak ingin lagi menatap pemandangan luar biasa itu. Hanya satu, ia takut. Takut mengacaukan semuanya.
Dengan perlahan ia kembali menuju ranjang pasiennya. Berniat untuk tidur kembali. Mungkin, baginya ia ingin tidak pernah terbuka lagi, kedua matanya itu.
Sudah cukup. Ia benar – benar merasa lelah.
Baru saja ia akan menutup matanya. Ia mendengar pintu kamarnya dibuka. Dan memperlihatkan seorang remaja laki – laki sebaya dengannya yang memiliki rambut merah. Sementara itu di belakang mereka terlihat laki – laki dan perempuan yang memiliki rambut gelap panjang. Keduanya sama – sama beriris perak.
Naruto mengenal mereka.
Sabaku Gaara, Hyuuga Neji dan Hyuuga Hinata. Teman satu kelasnya. Mereka melangkah masuk mendekati Naruto yang baru saja berniat untuk tidur.
"Na-Naruto-kun. Syukurlah kau sudah sadar." Gumaman lega itu berasal dari Hinata. Naruto dapat melihat bagaimana Hinata terlihat lega dan senang. Naruto mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti apa maksud dari Hinata. Kenapa Hinata terlihat senang? Bukankah dirinya bukan apa – apa? Bahkan ia lupa apakah kedua orang tuanya pernah memandangnya seperti itu.
Entah bagaimana, Naruto merasa hatinya teriris mengingat hal itu. Ia membulatkan tekad untuk tidak terlalu memikirkannya. Ia tidak ingin menambah beban baacan-nya dengan membuat tubuhnya semakin drop.
"Jangan tampilkan wajah seperti itu, Naruto. Kau terlihat seolah kau adalah orang yang sedang menanggung beban berat." Suara dari Gaara menyadarkan Naruto dari lamunannya.
Beban berat, eh? Siapa yang akan memberinya beban kalau tidak ada yang mempercayainya?
"Kami dengar kau dirawat di rumah sakit. Untuk itu kami datang untuk menjengukmu. Semuanya mengkhawatirkanmu, Naruto." Suara gagah itu berasal dari Neji yang berdiri paling ujung diantara semuanya.
Semuanya? Ah, Naruto rasa ia harus berterima kasih pada Hyuuga tertua itu karena memberinya kebohongan. Dan harapan palsu. Bodoh, apakah kebohongan itu yang ia butuhkan?
Hening tak nyaman merayap di ruangan itu selama beberapa menit. Hingga akhirnya, Hinata yang menghancurkannya. "Na-Naruto-kun. Ka-kami membawa sesuatu untukmu." Hinata menunjukkan sebuah parcel buah – buahan yang ia letakkan diatas meja disamping tempat tidur Naruto.
Naruto berbisik terima kasih. Dan kembali hening. Naruto sama sekali tidak keberatan dengan keheningan ini. Namun, kehadiran beberapa orang yang menatapnya, sama sekali bukan pilihan unntuk meminta perhatian. Tak lama setelah itu, ketiga teman sekelasnya pamit dan mengatakan mereka akan datang lagi besok.
Naruto mengangguk. Ia tidak perduli.
Selama sunyi di kamar dan sendirian, Naruto hanya menatap langit – langit. Ia tidak dapat tidur. Ia tertarik, sudah berapa lama tadi ia tidur? Ia lupa menanyakannya pada Shizune ataupun Tsunade.
Beberapa menit kemudian, pintu kembali dibuka dengan Shizune yang masuk dengan senyum ceria yang tak biasa. Naruto mengangkat alisnya, tak biasanya Shizune semangat seperti itu.
"Naruto-kun, kau mendapat telepon." Satu kalimat itu membuat semua perhatian Naruto tertuju pada murid neneknya itu. Ia penasaran siapa yang mau menelponnya.
"Siapa?"
Senyum Shizune berkembang menjadi sesuatu yang jahil. Tak biasa. "Kau akan tahu. Angkat saja."
Ketika ia menerima teleponnya, Shizune sudah menghilang dibalik pintu. Naruto mengeluarkan helaan nafasnya, hanya bisa memaklumi tingkah laku yang sudah ia anggap sebagai kakak perempuannya itu.
"Halo?" Suaranya sedikit serak, tapi ia tak terlalu tahu dan peduli.
"Ada apa dengan suaramu, gaki?" Seseorang dibalik telepon yang lain mengembalikan pertanyaannya. Tapi, bukan itu yang membuanya tercengang. Hanya satu orang di dunia ini yang memanggilnya, 'gaki'. Kurama! Siapa lagi kalau bukan dia! Kakaknya! Well, mungkin hanya dia yang ia anggap sebagai kakak di keluarga Namikaze, setelah ia sama sekali tidak merasa Naruko dapat menjadi seorang kakak. Hell, dia adalah si bungsu Namikaze!
"Gaki? Apa kau masih ada? Atau kau kembali berada di pemikiran imajinamu yang super luas itu?"
Sial, Kurama ingin main – main rupanya, ia dapat mendengar Kurama terkekeh. Tapi, Naruto sama sekali tak menjawab. Ia agak bingung akan menjawab apa.
"Gaki?" Kali ini suaranya menunjukkan kekhawtiran. Naruto hanya bisa menunjukkan seriangi kecil, ketika ia terlalu lemas untuk tertawa. Kakaknya mengkhawatirkannya?!
"Merindukan kehadiranku, Kyuu?" Ia berusaha membuat suaranya senormal mungkin. Seketika ia mendengar suara dengusan dari sebrang telepon.
"Sejak kapan kau memiliki penyakit narsisme, gaki?" Naruto tidak menjawab.
Tak lama, ia mendengar sebuah helaan nafas. "Dengar, Naruto." Naruto menaruh perhatian, ketika ia mendengar namanya disebut, ia tahu itu sangat penting. "Ini mungkin terlalu lama. Tapi, aku akan kembali ke Jepang dalam waktu 2 minggu. Bertahan untukku, okay?"
Naruto kembali menatap langit – langit ketika mendengarnya. "Untuk apa kau kesini, Kurama?" Suaranya kosong. Ia tidak ingin Kurama kesini, ke Jepang. Ia tidak ingin Kurama melihat bagaimana ia diperlakukan di 'rumah'.
"Apa aku tidak boleh melihat adik kecilku?"
"Kau ingin melihat dia?"
"Naruto- hanya diam disana dan aku akan kesana, menjemputmu. Kau tidak ingin tinggal denganku?"
Kurama baka! Tentu saja ingin. Ia tidak tahu ingin berkata apa. Ia terlalu senang, sangat senang.
"Gaki?"
"Diam, Kyuu-baka! Te-tentu saja."
"Apanya yang 'tentu saja' gaki?"
Naruto merasa giginya beradu. Bagaimana bisa Kurama masih bercanda ketika ia merasa luar biasa senang seperti ini? "Tentu saja aku ingin tinggal denganmu!" Dengan itu ia segera menutup teleponnya. Ia merasa malu sekali. Bagaimana bisa mengatakan itu pada Kurama? Dia pasti sedang tertawa sekarang.
Kurama sialan, kau!
To Be Continued
A/N :
Waw! Sama sekali gak nyangka kalau responsnya positif. Waw! Saya ucapkan terima kasih sebanyak – banyaknya, bagi yang sudah me-review, fav, follow dan membacanya. Suatu kehormatan bagi saya.
Bagaimana dengan chapter ini? Suka? Tid-
Geez...iya sebentar! Nanti aku kesana!
Berminat review?
Ru Unni Nisa
Sign Out
Jaa ne~
