a/n: aaaaaaaaah maafkan kelancangan saya berani manmpilkan muka di ffn lagi, masih dengan membawa fic gak jelas lagi T^T author baru maklum, setelah hiatus panjang karena kesibukan yang melelahkan sampai saya hampir melupakan fic ini, maaf yang review kemarin (?) atau beberapa bulan lalu tidak sempat dibalas, bukan mengabaikan cerita sih, hanya saja saya pikir dengan status complete itu sudah cukup menjelaskan *digampar* oke buat yang minta update *ke pd-an* ini update-annya, maaf hancur, maklum baru buat tadi siang. *ga ada yang nanya* #pundung
Disclaimer: Naruto ©Masashi Kishimoto
Rating: T untuk bahasa kasar dan adegan yang tidak disarankan untuk dibaca maupun ditiru oleh anak anak.
Genre: Humor, Parody
Warning: , AU, OOC tingkat dewa, Typo(s) sangat mungkin bertebaran, EYD ancur, abal, plot gak jelas, cerita ngawur. Judul dan summary ga nyambung, Non Yaoi!
30 menit berlalu dalam keheningan dalam ruangan itu, tak ada seorangpun yang berani memulai pembicaraan, baik Itachi maupun Kisame keduanya sama-sama tenggelam dalam diam. Sedangkan Hidan? Oh lupakan penyembah Jashin itu, mungkin sekarang ia sedang melakukan ritual pengorbanan kecoa untuk Jashin tercintanya, sungguh romantis sekali.
"Jadi sekarang gimana kis?" Tanya Itachi memberanikan diri memulai pembicaraan, sambil menatap Kisame dengan pandangan yang sulit dijelaskan, apakah itu rasa iba? Kasihan? Ataukah itu cinta? Oke abaikan kemungkinan terakhir itu.
". . . ." Tak ada jawaban dari Kisame, dirinya masih tertunduk membisu. Dan sesuatu mulai mengalir di wajahnya, menetes perlahan hingga menyentuh dagu sang manusia ikan.
"Kis, lo gak kenapa-napa kan?" Tanya Itachi lagi, sampai tahap ini dirinya mulai mengkhawatirkan teman seperjuangannya tersebut. 'Jangan-jangan Kisame mulai gila' batin Itachi
". . . ." Kisame masih membisu, aliran air yang sedari tadi mengalir di wajahnya itu turun kian deras sampai kini mulai menetes ke bajunya. Itachi yang melihat hal ini pun jadi serba salah, dari raut wajahnya muncul ekspressi aneh, terkejut mungkin, atau jijik?
"Kis, lo ngiler"
Yah, terjawab sudah. 'Sesuatu' yang mengalir di wajah Kisame itu bukanlah air mata seperti yang kalian kira, tetapi air liur saudara-saudara! Sungguh unik sekali bukan?
Kanzaki Asamu present:
(3G) Gara-Gara Goceng
"Jadi sekarang gimana?" Tanya Itachi lagi, masih mengulang pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang ia lontarkan 4 jam yang lalu, pandangannya tak lagi tertuju pada Kisame, tapi pada sebuah piring yang sekarang berisi makanan tak layak pangan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam, yang berarti ini sudah jauh melewati jam makan malam.
"Ya mau gimana lagi, terpaksa ini rendang gue buang, emang lo mau makan pake rendang rasa kaus kaki?" Jawab Kisame, jujur saja dirinya merasa terpukul atas kejadian ini, rendang yang merupakan persediaan untuk 5 hari ke depan kini sudah berubah menjadi rendang kuah kaus kaki. Tadinya ia ingin meminta pertanggung jawaban dari Itachi, tapi mengingat kejadian ini adalah kesalahan mereka berdua, ditambah keadaan finansial Itachi yang 0bisa dibilang lebih kere dari dirinya sekarang, akhirnya niat itu ia urungkan.
"Jadi, kita ga makan 5 hari dong?" Tanya Itachi pada (mantan) calon penyelamatnya dari bahaya kelaparan itu.
"Untuk malam ini masih, gue masih punya stok beras sampe akhir bulan, buat lauk, yah tu goceng bisa buat beli gorengan di warkop lah."
Itachi hanya bisa menganggukkan kepalanya, 'ide Kisame cukup bagus' Batinnya, setidaknya malam ini ia tidak kelaparan.
"Lo ngapa diem disitu? Udah sono jalan ke warkop, nih, emang lo ga mau makan?" Kisame misuh-misuh melihat temannya yang hanya diam sambil menganggukan kepala.
"Kok gue yang jalan? Kan duitnya duit gue" Protes Itachi, ia tidak terima dirinya disuruh-suruh seenaknya oleh Kisame, harga dirinya terlalu tinggi untuk itu lagipula, ingat Peraturan Uchiha pasal 3 ayat 2? Masing-masing Uchiha adalah orang yang merdeka, mereka adalah tuan dari dirinya sendiri, Uchiha tidak boleh diperbudak oleh siapapun apapun keadannya!
Itachi tersenyum simpul mengingat hal tersebut, walau memang tak ada yang patut dibanggakan dari menghapal peraturan keluargamu sendiri, tapi, hey! Siapa yang mampu menghapal kitab peraturan Uchiha yang tebalnya bisa mencapai 25 senti dengan 70 bab dan 3612 pasal yang dikarang oleh kakek kakek tua narsis yang merasa dirinya adalah manusia tertampan yang pernah ada? Dan Itachi berhasil menghapal kitab itu pada usia 7 tahun. Oh, sekarang Itachi menganggap dirinya jenius dan mulai berpikir bahwa hukum mungkin bukan jurusan yang sulit.
"Lo lupa? Berasnya kan punya gue, jadi lo jalan beli gorengan biar nanti gue disini masak nasi dulu." Kilah kisame, yah jujur saja dia memang lebih memilih menanak nasi dibanding harus keluar di malam yang sesunyi ini, aku sen- *plakk*
Maaf, salah naskah.
_*Awas ada Bajaj!*_
Itachi menarik napas dalam dalam, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini adalah sebuah bentuk kerja sama, bukan perbudakan. Disusurinya jalan menuju warkop mas Narto dengan tidak bersemangat, lagipula siapa yang akan bersemangat bila berjalan di malam yang dingin ditambah keadaan jalanan gelap yang tidak diterangi cahaya lampu sedikitpun? Kecuali kau berjalan dengan orang yang kau sukai, atau kau sedang mengejar orang yang kau sukai di jalan ini.
Hmm, mengejar ya?
Tiba tiba dirinya baru menyadari bahwa ada suara langkah kaki yang berderap cepat di belakangnya.
Sedikit berjaga jaga dengan kedatangan pemilik suara langkah kaki tersebut, dengan sigap itachi menoleh ke arah sumber suara yang berada agak jauh darinya.
"Iiiiiiiiitttttttttaaaaaachii i" suara serak serak basah khas om om berteriak memanggil namanya.
Keringat dingin mengalir deras dari wajah Itachi, tubuhnya merinding hebat, tanpa berpikir lagi, Itachi segera mengambil langkah seribu, lari, lari dari kejaran makhluk yang sulit di definisikan dengan kata kata, sesosok mimpi buruk yang selalu meneror hari harinya semenjak ia menginjakkan kakinya di kota ini.
Dan sosok itu adalah. . .
Orochimaru, waria yang memang biasa mangkal di jalanan gelap ini, salah Itachi memang, karena dirinya memilih jalur ini, tapi mau bagaimana lagi, daripada ia harus memutar jauh hanya untuk membeli sebongkah(?) gorengan untuk memenuhi isi perutnya. Terkadang takdir memang kejam,
"Itaachii, yuhuu dimana kau? Mau main petak umpet dengan ochi-chan yah?"
Orochimaru –yang memanggil dirinya sendiri ochi-chan– kini sedang mencari cari Itachi yang sedang bersembunyi di kandang sapi, kenapa harus kandang sapi? Well, tanyakan saja itu pada Itachi, karena saya sendiri tidak tahu, oh atau salahkan ide yang melintas begitu saja di kepala saya.
Mari kita ulang kejadian beberapa menit yang lalu,
'siaaal, kenapa gue harus ketemu makhluk itu sekarang' itachi merutuki nasibnya sendiri, napasnya sudah tersengal-sengal.
Sedangkan orochimaru? Jangan tanya, raut bahagia yang terpampang jelas di wajah tirusnya itu sudah menjelaskan bagaimana perasaannya. Bibir tipis yang dihiasi seringai lebar yang membelah wajahnya secara horizontal, ditambah rambut panjang kebanggaannya yang berkibar dengan sangat tidak elitnya itu , jangankan Itachi, kau pun pasti lari melihat dirinya saat ini. Bayangkan saja om om kurus kering yang memakai dress ¾ tanpa lengan berwarna merah jambu, dengan bulu mata tinggi menjulang bagaikan kipas, ditambah riasan tebal yang mungkin mampu mengalahkan riasan pemain kabuki, oh jangan lupakan sepatu hak tinggi yang sedang dijinjingnya sekarang.
Jangankan niat untuk berhenti mengejar, lelahpun kelihatannya tidak ia rasakan sama sekali, dengan semangat 45 orochimaru mengejar Itachi yang sudah berbelok ke arah gang sempit. Orochimaru menambah kecepatan larinya, ia tahu gang yang dimasuki Itachi barusan adalah gang buntu yang berakhir dengan kandang sapi di ujungnya, jadi kini Itachi harusnya tak bisa melarikan diri lagi tanpa melewatinya.
'Kena kau sekarang Itachi! fufufufu' batin Orochi, namun tiba tiba matanya terbelalak, Itachi tidak ada! Walau ia telah menyusuri dari mulut gang sampai ke kandang sapi ini namun sosok Itachi tetap tak mampu ia temukan.
"Itaachii, yuhuu dimana kau? Mau main petak umpet dengan ochi-chan yah?"
"Sepertinya memang tidak ada ya? Yasudahlah" Orochimaru berujar pada dirinya sendiri, memasang sepatu hak tingginya, lalu melenggok pergi.
Itachi yang melihat hal ini pun mengembuskan napas lega, sepertinya keputusannya untuk bersembunyi di belakang sapi sapi ini memang tepat, walau harus menahan bau yang amat sangat, tapi hal ini lebih baik daripada harus menghadapi om om waria itu.
Saat berjalan keluar kandang, tak sengaja kaki Itachi terantuk kayu hingga menyebabkan dirinya hampir terjatuh ke dalam bak besar yang sengaja di letakkan di belakang sapi sapi tersebut, beruntung berkat reflek serta kontrol tubuh yang bagus, dirinya masih bisa menahan jatuh tubuhnya sendiri.
Posisinya sekarang lebih mirip posisi push up, dengan kedua tangan menopang tubuhnya dan kaki lurus ke belakang, hanya saja tangan kanannya masuk ke dalam bak besar tersebut. Sensasi dan bebauan aneh merangsang otak itachi, tangan kanannya terasa hangat, bau yang teramat busuk pun merasuki indra penciuman itachi, dan dengan kaku, leher Itachi menoleh pada bak dimana tangannya sedang asik berendam ria itu.
"Ini tampak seperti. . ." Itachi mencoba berpikir sejenak
"Kotoran sapi!" 100 untuk Itachi.
"ini kotoran sapi!"
_*Awas ada Bajaj!*_
'Akhirnya aku sampai' Batin Itachi.
Setelah mencuci tangannya dengan keran yang berada di sekitar area kandang sapi –walau tak mampu menghilangkan baunya– dihadapannya kini terpampang jelas spanduk berwarna orange berukuran 2x3 meter dengan font hitam yang bertuliskan "WARKOP MAS NARTO, SEDIA: Mie Goreng, Mie Rebus, Mie Goreng yang direbus" dan menu menu lainnya yang tidak terlalu penting untuk saya jelaskan.
Dengan langkah semangat Itachi memasuki warkop berukuran sedang tersebut.
"Mas, gorengannya goceng, campur yak!" Ucap Itachi lantang, ia tidak mempedulikan tatapan para pengunjung lain yang merasa terganggu atas kehadirannya, atau bisa dibilang atas aroma tidak sedap yang dikeluarkannya.
"Nih Chi!" Kata mas Narto menegur Itachi seraya memberikan bungkusan hitam yang berisi gorengan.
"Oke mas!"
Itachi meraba kantung celananya, mukanya sedikit pucat, diraba kantong bajunya, wajahnya menjadi lebih pucat, iapun mencoba meraba kantong jaketnya, kali ini wajahnya sudah seperti mayat.
"Gak bawa duit chi?" Tegur mas Narto, melihat gelagat Itachi yang mencurigakan, sedangkan Itachi hanya mampu tersenyum lebar, berharap mas mas di depannya ini terpukau, lalu jatuh cinta kepadanya, dan mengajaknya kawin lari. Abaikan khayalan gak jelas itu!
"Yaudah bawa aja dulu, bulan depan baru bayar"
Kata-kata itu, ya kata-kata itu laksana keluar dari bibir seorang dewa, dewa penyelamat yang selalu singgah di mimpi Itachi setiap malam, khususnya setiap malam menjelang akhir bulan, kini ada seseorang yang mengucapkan kata-kata itu tepat di hadapannya, perasaan Itachi sudah tak dapat dibendung lagi, aura bahagia terpancar jelas, tangisnya pun pecah, iapun melebarkan kedua tangannya siap untuk memeluk mas Narto.
"Chi, gue cuma ngasih lo utangan, bukan mao ngelamar lo"
Itachi manyun, setelah berterima kasih, iapun bergegas menuju kos-an sahabatnya, Kisame sang manusia ikan.
_*Awas ada Bajaj!*_
"Lama banget lo Chi, beli gorengan aja ampe sejam lebih, jangan jangan lo pacaran dulu lagi sama si Oro" Cibir Kisame setelah melihat kedatangan sohibnya yang satu itu.
"Sialan lo!" Hardik Itachi, dirinya masih merasa kesal sekaligus tersinggung mendengar nama sang banci kembali disebut sebut oleh Kisame.
"Lo ga tau, gara gara dia gue jadi sial begini." Itachi bersungut-sungut, Kisame yang melihat hal ini hanya mampu tertawa terbahak-bahak.
"Diem setan, kalo gak gue sumpel mulut lo pake gorengan!" Ancam Itachi
Kisame yang mendengar hal itu langsung terdiam menatap sahabatnya dengan bingung,
"Lo jadi beli gorengan?" Tanya Kisame,
"jadi lah, emang lo mao makan pake nasi doang apa?" Jawab Itachi asal,
"Tau gak? Tadi si oro kesini nyariin lo, dia bilang mau balikin duit goceng lo yang jatoh di tengah jalan, nih duit lo"
Itachi hanya bisa tergugu melihat uang 5 ribunya melambai lambai di tangan Kisame, wajahnya menyiratkan luka yang amat dalam, dengan sekali embusan napas, Itachi berteriak frustasi.
"TIDAAAAAAAAAAAAAAK"
Fin
