"Apa?! Mawar?!" Semuanya berteriak heboh, tak terkecuali Sasuke dan Shino. Bagaimanapun juga, nama tersebut terlalu manis untuk mereka yang notabene-nya seorang pria.

"Tidak-tidak! Maksudku, apa tidak ada nama lain? Tim Ganger, Tim Hensem!" Naruto memberi Saran dengan nama yang tak kalah aneh.

Iruka mengibas-ngibaskan tangannya. "Tidak bisa, nama tim kalian mutlak Mawar. Lagi pula nama itu akan menjadi kode masuk ke gerbang penjara tingkat dua. Mengerti? Kalau begitu aku pergi!"

Pof!

Kali ini Iruka tak berbalik ataupun berlari, melainkan menghilang dengan cara Ninja.

"Sial! Aku tak akan mengakui nama tim itu!" Kiba berujar, Naruto mengangguk cepat seraya mengepalkan tangannya seperti Kiba. Entah sejak kapan mereka jadi kompak.

Sedangkan sisa dari Kiba dan Naruto, mendengus kesal merasa konyol dengan penjara yang selalu menjadi momok menakutkan itu.

"Sudahlah, ayo kita cari jalan keluar." Ujar Shikamaru.

Semuanya mengangguk, lalu berjalan menelusuri koridor penjara. Mata mereka sibuk melihat isi jeruji yang ada di kedua sisi mereka. Para penjahat tersebut berteriak-teriak ketika melihat mereka yang berjalan dengan santai.

"Katakan pada kami?! Bagaimana kalian bisa keluar!"

"Tolong kami! Kami tak tahan!"

"Argh! Dasar brengsek! Pasti kalian berhasil membunuh seseorang kan?! Lalu kenapa kalian bisa keluar? Disini di tempatku juga sudah ada yang tewas! Tapi aku tak diperbolehkan keluar!"

Mengernyit heran Shikamaru mulai memikirkan ucapan orang tersebut. Benar, ada yang tewas di dalam penjaranya. Lalu mata kuacinya mengekor hingga kebawah tubuh orang yang berteriak tadi, detik berikutnya ia meringis.

"Wajar saja, kakinya buntung. Bukankah peraturannya siapa yang berdiri lebih lama dialah yang berhasil?" Gumam Shikamaru.

Naruto merapatkan tubuhnya, menatap ngeri seorang pria tua yang berteriak tepat di sampingnya, semua yang ada di dalam jeruji tersebut sudah cacat. Sasuke yang merasa lengannya di cengkram Naruto menarik dengan kasar. Cengkraman pada lengan Sasuke terlepas. Naruto mendengus, namun ia masih merapatkan tubuhnya, tak peduli jika Sasuke berkali-kali mendorongnya untuk menjauh.

Lee menatap tahanan yang berada di sisi kirinya, tinggal seseorang saja yang berada di dalam jeruji tersebut, namun bau menyengat yang menguar dari dalam jeruji membuatnya membelalak-kaget.

"Sial, dia kanibal." Gumam Lee setelah melihat bangkai manusia yang telah tak terbentuk.

Mereka terus menelusuri koridor penjara, bagai tak ada ujungnya. Kiba mengeluh sepanjang jalan, kakinya yang tak beralas mulai memerah. "Tidak bisakkah kita berisitirahat? Koridor ini tak ada ujungnya!"

"Sudahlah Kiba, kau ini cerewet sekali." Naruto menatap jengkel Kiba yang berada di depan dan selalu bergaya layaknya bos. Lama-lama Naruto kesal juga.

"Kau menantangku!" Kiba berhenti, ikut membalas tatapan Naruto.

"Sudah, sekarang ini kita tim. Kompaklah sedikit!" Shikamaru yang merasa jengah menengahi.

Sasuke bersidekap, dari awal ia sudah menolak berada satu jeruji dengan sekolompok orang aneh ini. Seandainya ada kesempatan untuk meninggalkan kelompok konyol ini, ia tak akan segan untuk pergi.

25 menit kemudian.

Ketujuh pria tersebut berhenti, masing-masing mengatur nafas. Wajah mereka tampak kelelahan, Kiba dan Naruto duduk di tengah Koridor penjara. Sasuke, Gaara, dan Shino sibuk mengatur nafas. Shikamaru bersandar pada Lee yang masih terlihat sehat.

"Kalian ini lemah sekali! Padahal masih muda!" Lee berkomentar.

"Apa kau tak capek?! Lihat! Sedari tadi kita tak sampai-sampai!" Kiba yang kesal berteriak lagi.

Sasuke mendengus. "Ini tak akan ada habisnya."

"Benar, tak akan ada habisnya." Shikamaru membenarkan, lalu ia melirik kesana kemari. Isi jeruji di koridor ini tampak lebih tenang, sangat berbeda dari jeruji sebelumnya. Shikamaru berdiri. Lalu melirik ke dalam jeruji yang ada di depannya.

Detik berikutnya, Shikamaru membulatkan matanya. Ia mundur dengan cepat menuju ke tengah Koridor. "Semuanya ketengah! Jangan dekati jeruji!"

Semuanya terperanjat kaget, lalu mundur ketengah, membentuk sebuah barisan. Tiba-tiba suara mengerikan menggelegar sepanjang koridor.

GROOOH!

Trang! Trang! Trang!

Naruto menatap horror isi jeruji tersebut. "Z-zombie?!"

-SN-

Iruka menatap layar monitor yang ada di depannya. "Kita lihat, apa mereka layak untuk lanjut ke tingkat dua."

Sipir yang berada di belakang Iruka tersenyum. "Benar, apa bisa mereka melewati manusia yang kelaparan?"

Iruka kembali menatap layar monitornya, dimana tim yang baru saja ia beri nama Mawar tengah membuat satu barisan memanjang. Ya, bisa dikatakan Koridor itu lumayan sempit, sehingga tangan yang menjulur dari jeruji tersebut bisa saja mencengkram tim itu.

Lalu matanya terfokus pada pemuda bersurai blonde yang berada di tengah barisan. "Berjuanglah, Naruto."

-SN-

Naruto gemetaran, sesuatu dalam dirinya terasa ingin keluar. "Sial, aku ingin pipis!" Naruto membatin, merutuki hasrat ingin pipisnya. Melipatkan kakinya, Naruto berusaha mencegah urine yang akan keluar. Sasuke yang berada disampingnya bertanya. "Kau kenapa?"

"Aku ingin pipis."

"Apa?! Disaat seperti ini? Usuratonkachi."

Mendelik kesal, Naruto semakin melipat kakinya. Baju serta celana berwarna hitam bertuliskan tahanan itu adalah baju satu-satunya. Bisa gawat kalau ia ngompol di celana.

GROAH! KRAUH!

Manusia aneh yang berada di dalam jeruji tersebut mulai meraung kembali, air liur mereka berceceran keluar. Bau busuk keluar dari tubuh mereka. Kiba meringis, merasakan perih dihidungnya akibat bau yang terlalu menyengat itu. Salahkan hidungnya yang terlalu sensitif.

"Kita harus pindah! Ayo bergeser ke depan!" Shikamaru yang berada di depan memberikan instruksi.

Gaara yang berada di belakang, bergeser dengan tenang. Namun sayang langkahnya terhenti, ia segera menoleh, menatap Naruto yang tengah melipatkan kakinya. "Ada apa dengannya?!"

"Cepat berjalan! Jerujinya sudah mau lepas!" Sasuke mencoba menggeser tubuh Naruto. Shikamaru, Kiba, dan Lee sudah bergeser lebih jauh.

"Hei cepat! Kalian ingin berpisah!?" Kiba berteriak. Karena lengah ia hampir terkena cengkraman orang yang ada di jeruji tersebut.

Naruto masih mempertahankan posisinya. Kantung kemihnya mulai terasa perih.

Krak!

Sasuke, Shino, dan Gaara menatap horror ujung jeruji yang mulai rusak. Sasuke menatap cemas Naruto, tiba-tiba sebuah ide muncul.

"Argh!" Naruto berteriak, ketika perut bagian bawahnya di tekan Sasuke.

Beberapa detik berikutnya, Naruto merasa selangkangannya hangat. "Oh tidak! Aku mengompol."

"Sudah cepat jalan!" Gaara mendesis, Shino menghela nafas, lalu Sasuke yang mati-matian menahan bau pesing dari Naruto.

-SN-

Entah sudah berapa jam mereka menelusuri Koridor yang tak ada ujungnya itu. Mereka mulai haus dan lapar, kini tujuh pemuda tersebut sudah berjalan dengan normal. Keadaan jeruji yang ada disisi mereka tampak lebih menyedihkan. Bahkan manusia yang ada di dalam jeruji tersebut sudah tergeletak lemah. Ada juga jeruji yang sudah kosong, tak berpenghuni. Ah, nantinya jeruji mereka juga akan kosong seperti itu. Pikir Naruto.

"Tunggu!" Sasuke menghentikkan langkah, membuat yang di belakang ikut berhenti.

"Ada apa lagi?" Shikamaru bertanya.

Sasuke menatap salah satu jeruji, jeruji yang tampak begitu familiar. Seketika itu juga keenam orang yang berada di belakangnya terduduk lemas.

"Argh! Jadi dari tadi kita tengah berputar?!" Naruto menggerak-gerakkan kakinya kesal, Gaara yang berada disamping Naruto dengan cepat menutup hidungnya.

"Sial! Aku tersinggung tahu!" Naruto memarahi Gaara yang masih menutup hidungnya, melupakan fakta Gaara adalah orang yang ia takuti. Lalu Naruto menoleh, menatap kelima orang yang tengah ikut menutup hidungnya.

"Argh! Salahkan orang itu yang menekan perutku!"

"Namaku Uchiha Sasuke, dobe."

"Sial! Namaku Uzumaki Naruto! Bukan dobe!" Naruto berdiri, membuat Gaara dan Shino menjauh, baunya kian pekat. Membuat Kiba yang hidungnya paling sensitif ingin muntah.

Sasuke ikut menyingkir. Naruto benar-benar tersinggung, dengan kesal ia menarik Sasuke, membuatnya terjatuh. Lalu dengan seenak jidatnya Naruto menduduki tubuhnya di atas perut Sasuke. Sasuke berteriak dalam hati, merutuki Naruto beserta pantatnya yang tengah menempel pada tubuhnya.

Semuanya menatap ngeri Sasuke dan Naruto. Naruto berdiri, mendekati Shikamaru, Lee, Kiba, Shino dan Gaara. Mereka menyingkir, mengambil satu langkah lebih jauh dari Naruto, dalam hati Naruto tertawa senang, justru orang yang ditakutinya (read: Gaara & Shino) malah berbalik takut dengannya.

"Usuratonkachi!" Sasuke menggeram kesal, ketika dapat ia cium bau yang menyengat berasal dari bajunya.

Meleletkan lidahnya Naruto mulai tertawa.

-SN-

Kakashi menatap heran layar yang ada di depannya, alisnya bertautan, hampir menyatu. Yamato yang berada di sampingnya mengelus tengkuknya. "Aku tidak tahu kenapa jadi begini."

"Apa benar, itu Uzumaki Naruto yang sering di bicarakan?" Kakashi bertanya, tanpa mengalihkan pandangannya pada layar tersebut.

"Benar, dialah Uzumaki Naruto. Pembunuh Hokage keempat."

Kakashi memutar-mutar kursinya. "Menarik, baru kali ini ada tahanan yang dapat tertawa selebar itu."

Yamato ikut memperhatikan Naruto yang tengah tertawa heboh sambil memukul-mukul lantai.

"Benar-benar menarik." Gumamnya.

-SN-

Pof!

Tiba-tiba Iruka muncul, membuat ketujuh pemuda itu kaget. Naruto yang tadinya tertawa mulai mendelik. "Hei! Kau!"

"Halo semua!"

Ketujuh penjahat level tinggi itu mengeraskan wajahnya. Merasa ditatap sedemikian rupa, Iruka tertawa. "Santai penjahat kecil, sepertinya kalian berhasil melewati tahap pertama koridor penjara."

"A-apa maksudmu?!" Naruto yang paling emosi menyahut.

Lagi-lagi Iruka tersenyum hangat. "Ya, lihat saja sebentar lagi. Saya hanya ingin bilang. Omedatou~ jaa nee!"

Pof!

"O-oi!" Naruto berlari menuju kepulan asap yang dihasilkan oleh sipir Iruka.

Tiba-tiba dari arah kanan koridor terdengar suara langkah yang berat, mereka menoleh ke sumber suara. Lalu, ketujuh pria itu tercekat. Terlalu kaget hingga tak dapat bergerak, melihat apa yang ada di sebelah kanan koridor mereka.

KROAH!

"La-lari!" Shikamaru berteriak, menyadarkan teman satu timnya yang malah terpaku pada makhluk aneh di belakangnya.

Sasuke yang paling depan berlari sekuat tenaga, diikuti Gaara dan Lee. Shikamaru melihat timnya, namun matanya mencari-cari Naruto yang tak ada di depannya. Ia menoleh kebelakang. "Kusso! Si bodoh itu!"

Shikamaru berbalik, menarik Naruto yang masih kaget dengan apa yang ia lihat.

Melihat Naruto dan Shikamaru yang mulai beranjak dari tempatnya, makhluk itu kembali berteriak.

KROAH!

Naruto kembali menoleh kebalakang, melihat makhluk dengan tubuh besar itu mengejar mereka. Jujur saja selama hidupnya ia baru pertama kali melihat makhluk seaneh dan seseram itu. Wajahnya berwarna merah, terdapat tiga tanduk di atas kepalanya, matanya melotot ngeri seperti ingin keluar dan tangannya membawa sebilah kapak yang bisa Naruto pastikan benar-benar tajam. Naruto menggelengkan kepalanya, ia takut. Sungguh ia takut sekali.

"Kusso! Kusso! Kusso!" Kiba mengumpat kesal, kakinya sudah pegal. Merasa tak tahan ia berhenti, Shino yang ada di belakangnya ikut berhenti.

"Cepat lari." Shino mendorong tubuh Kiba.

Kibo berjongkok, mengangkat satu tangannya. "Hosh- aku-hah! Hah! Aku tak kuat!"

Shino menoleh kebalakang, melihat Shikamaru dan Naruto yang sudah menyusul.

"Sudah tinggalkan saja dia." Kali ini Sasuke berujar santai, merasa Kiba hanyalah beban baginya. Kalau mereka tetap berdiam seperti ini, mereka bisa jadi makanan bagi makhluk mengerikan itu.

Grep!

"Sialan, kau pikir kau bisa meninggalkannya begitu saja?!" Naruto mencengkram baju Sasuke.

Sasuke menepis lengan Naruto, lalu menatapnya tajam. "Cih, orang tak berperasaan seperti kau diam saja, bodoh!"

"Brengsek! Apa kau juga berperasaan hah?! Dasar pembunuh!"

"Kau juga pembunuh! Usuratonkachi!"

"Di-dia datang." Lee bergumam, gumamannya mampu membuat mereka terdiam. Makhluk itu menyeringai, tubuh besarnya mendekati ketujuh orang itu.

"Sial, tak ada pilihan." Shikamaru memposisikan dirinya, lalu tangannya membuat sebuah gerakan yang sulit di baca.

"Kagemane no Jutsu!"

Deg!

Semuanya menatap heran Shikamaru yang dapat menahan pergerakan makhluk aneh itu, sebuah bayangan terhubung dari kaki Shikamaru menuju makhluk tersebut. "Cepat lakukan sesuatu! Aku akan menahannya!"

"Kau ninja?" Naruto bertanya, menatap Shikamaru yang tengah susah payah menahan kekuatan makhluk yang ada di depannya.

"Itu tidak penting! Cepat kerahkan kemampuan bela diri kalian! Aku sudah tak tahan!"

Krek!

Makhluk itu menggerekkan kepalanya, Shikamaru memperkuatkan segel yang ada di tangannya.

"Baiklah aku maju." Lee mempersiapkan diri, lalu berlari menuju makhluk tersebut. Shikamaru yang melihat Lee tampak konsentrasi, ia mulai mengendurkan bayangan yang mengikat makhluk tersebut.

Lee meloncat, membiarkan kaki kanannya mencium keras wajah merah makhluk tersebut.

Brak!

Ikatan bayangan Shikamaru terlepas, tendangan telak Lee membuat makhluk tersebut terjatuh. Naruto tersenyum puas, rasa takutnya pudar seketika.

"Baiklah! Kalo begitu-"

"Aku maju." Kiba mendorong Naruto yang hendak maju, lalu dengan gerakan cepat, ia menarik pergelangan kaki makhluk tersebut. Naruto menatap takjub Kiba yang sanggup mengangkat tubuh seberat itu.

"HYAAA!" Kiba membanting makhluk tersebut. Lagi-lagi bunyi debaman kuat terdengar.

Sasuke yang berada di belakang memperhatikan dengan serius, ia mulai menatap timnya yang perlahan-lahan memperlihatkan kekuatan yang sebenarnya.

Merasa makhluk aneh itu tak akan berkutik lagi, ketujuh pria itu mulai meninggalkan koridor tersebut. Shikamaru berkali-kali menghela nafas-lega.

"Jadi, kau ninja." Shino bergumam.

Shikamaru menoleh. "Ya, begitulah. Kau pikir dari mana aku bisa jadi pencuri terkenal? Tapi ini rahasia."

"Tak kusangka, makhluk itu bisa diringkuk semudah itu." Kiba bergumam.

"Benar, hanya dua kali serangan ia bisa KO." Naruto menimpali dengan semangat. Lee tersenyum miring, "Kalau bukan aku yang menendangnya mung-"

KROAH!

Deg!

Mereka menoleh. Serasa deja vu, lagi-lagi mereka melihat makhluk aneh tersebut, kali ini warna wajahnya berubah menjadi hitam.

"Terkutuklah penjara ini." Kiba mengutuk penjara yang membuat ia kesal setengah mati.

Lee menggenggam tangannya erat. "Baiklah kalau begitu, aku akan-"

"Tidak."

Lee melihat tangan pucat milik Gaara yang tengah menahannya. "Kalian pergilah. Aku yang akan menghadapinya."

Tanpa pikir panjang, Sasuke pergi meninggalkan teman-temannya yang ada di belakang. Naruto menatap kesal punggung Sasuke yang meninggalkan mereka seenak jidatnya.

"Kau yakin?" Shikamaru bertanya.

"Jangan meremehkanku." Gaara berujar dingin. "Tinggalkan aku, apa kalian ingin kubunuh juga." Lanjutnya.

Shikamaru, Kiba, dan Lee menegang. Melihat Gaara yang tengah menatap tajam, mereka saling pandang, lalu mengangguk. "Gaara, kau harus menyusul." Naruto menepuk pundak Gaara.

Kelima pemuda tersebut pergi, meninggalkan Gaara dan menyusul Sasuke yang sudah lumayan jauh. Sekali lagi Naruto menoleh kebelakang, melihat punggung Gaara yang tampak tenang.

Rawr!

Makhluk tersebut mendesis, menatap Gaara dengan tatapan membunuh.

"Ayo kita mulai."

-SN-

Sasuke berlari, meninggalkan sekelompok orang yang menurutnya hanya penghalang bagi tujuannya nanti. Bukankah ia sudah pernah bilang, bila ada kesempatan untuk meninggalkan mereka, ia akan melakukannya?

Kaki Sasuke sudah lumayan memerah, tanpa memperdulikkan sakit pada kakinya ia terus berlari. Sampai sebuah lorong yang ada diujung koridor terlihat olehnya, ia berhenti menatap lorong tersebut, mata hitamnya berkilat senang.

"Ketemu." Batinnya.

"Hei Sasuke!"

Sasuke yang hendak melangkah, membalikkan tubuhnya. Menatap kelima orang yang sempat satu jeruji dengannya.

"Kita sudah jauh dari tempat tadi, sebelum masuk ke lorong itu lebih baik kita tunggu Gaara!" Naruto berteriak kesal.

Mata onyx Sasuke menatap Naruto malas. "Sebelum monster itu menyusul kita lagi, lebih baik kita pergi. Sejak awal aku sudah muak dengan kalian."

Wajah kelima pemuda tersebut mengeras, menatap Sasuke jengkel. "Dengar, apapun yang terjadi kita harus bersama. Kita sudah menjadi satu tim. Kau mengerti?" Shikamaru berujar dingin, entah kenapa ia jadi tak suka dengan pemuda berambut emo tersebut.

"Persetan dengan tim! Aku pergi." Sasuke berbalik, pergi menuju lorong tersebut.

"Teme! Tak akan kubiarkan kau pergi!" Naruto mengejar Sasuke yang sudah hilang dari pandangan mereka.

"Naruto tunggu!"

Sisa dari mereka menyusul Sasuke dan Naruto. Sebelumnya Shikamaru menggigit jarinya, membuat darah mengalir, lalu ia membuat sebuah panah mengarah kearah lorong. "Cepatlah, Gaara." Gumamnya.

Setelah berhasil mengejar Sasuke, Naruto menarik lengan kiri Sasuke, lalu menyudutkannya didinding.

Buagh!

Satu pukulan telak Naruto layangkan. Sasuke meringis, mengelap sudut bibirnya yang berdarah.

"Sial!"

Membalikkan tubuhnya, kini Narutolah yang terkunci.

Buagh! Buagh!

Sasuke menonjok pipi tan Naruto dua kali, matanya menatap tajam Naruto. "Dengar, dobe. Jangan coba-coba untuk menghalangiku, kalau tidak. Kau-akan-aku-bunuh." Sasuka menekankan setiap kalimat yang ia ucapkan.

Shikamaru, Shino, Lee, dan Kiba tampak terengah-engah dibelakang. Melihat Sasuke dan Naruto dengan pandangan lelah.

"Sudah hentikkan! Naruto, lebih ba-"

Sret.. Sret..

Ucapan Shikamaru terhenti, keenam pemuda itu terdiam ketika mendengar sesuatu. Lee dan Kiba yang berada di belakang telah siap siaga, memperkirakan sesuatu yang aneh akan muncul lagi.

Sreet... Sreet...

Suaranya kian mendekat, Naruto meneguk ludahnya dengan susah payah, posisinya kini sudah terlepas dari cengkaraman Sasuke.

Beberapa detik kemudian suasana menjadi sunyi. Shikamaru diam, beberapa kali meneguk ludah. Bukannya tenang jantungnya malah berdetak makin cepat.

"S-siapa disana?!" Naruto bertanya, melihat pembatas antara koridor dengan lorong mereka.

Buk!

Tiba-tiba sebuah kepala terlempar ketengah-tengah mereka. Mereka menatap horor potongan kepala dengan lumuran darah tersebut.

"I-itu..." Ucapan Naruto tergantung.

"Bisa kita pergi?"

Mata mereka menatap sumber suara. Gaara disana, dengan sebilah kapak di tangannya. Baju hitam berlengan pendeknya penuh dengan darah, ia mengelap pipinya yang tampak ternoda.

"G-Gaara?" Kiba terbata-bata, ketakutannya pada Gaara kian membesar, ternyata benar. Gaara itu Psikopat sejati.

Lalu Gaara mendekati Sasuke yang tengah berhadapan dengan Naruto. "Terima kasih telah percaya akan kekuatanku. Tanpa ragu kau meninggalkan kami." Gaara berujar dingin, entah itu ucapan terima kasih atau sindiran untuk Sasuke, yang pasti kali ini Sasuke akan mulai hati-hati meninggalkan mereka.

"Yosh! Ayo kita lanjut!" Naruto berteriak heboh, seakan-akan tak terjadi sesuatu.

Ketujuh pemuda tersebut mulai berjalan dengan tenang, sesekali berhenti karena kelelahan. Sampai akhirnya, mereka menemukan cahaya terang menuju luar penjara.

-SN-

Lagi-lagi di ruang yang sama, seorang pria bersurai perak tengah menatap penuh minat kearah monitor. "Benar-benar kuat bocah Suna itu, beruntung sekali Konoha mendapatkannya."

Yamato yang tengah memegang berkas yang ada di tangannya menoleh. "Senpai, mereka semua sudah berhasil keluar penjara. Sungguh di luar dugaan, menurutmu kali ini apa mereka akan keliar bertujuh dengan seutuhnya?"

Kakashi tersenyum di balik maskernya. "Sepanjang sejarah, tak ada satu tim pun yang berhasil keluar penjara tingkat satu dengan tujuh orang. Bisa dipastikan, akan ada yang mati nanti."

"Benar, selama ini setiap tim yang akan naik tingkat entah kenapa selalu ada yang menjadi korban. Lalu anggota tim lainnya tak peduli dan meninggalkannya." Yamato kembali mengingat-ingat tahanan yang berusaha menuju bukit tertinggi penjara ini.

"Kalau begitu, mari kita taruhan."

"Baiklah, Senpai."

-SN-

Cahaya matahari menerobos mata shappire Naruto yang sudah berhari-hari tak melihat matahari. Naruto memejamkan matanya yang terasa perih, Shikamaru yang berada di belakangnya memilih berteduh di balik tubuh pendek Naruto.

"Sial, jam berapa sekarang?" Kiba berujar.

Shino melihat matahari yang berada tepat di atas mereka, "Jam 12 siang." Ujar Shino, ia merapikkan kacamatanya.

"Pinjamkan aku kacamatamu." Ucap Lee. Shino menjauh, menolak meminjamkan kacamatanya.

Lengan dan Kaki Sasuke yang putih tampak bersinar, membuat Naruto yang ada disampingnya sedikit terpana, lalu ia membandingkan lengannya dan lengan Sasuke.

"Menjauhlah dariku, usuratonkachi."

Naruto merengut, mendengus tak suka. Sial, bahkan ia sempat terpana dengan kulit Sasuke. Tidak-tidak, tepatnya ia iri dengan kulit putih nan mulus milik Sasuke yang terekspos.

"Ayo kita jalan." Gaara yang berada di depan sekali, menatap lapangan luas di depannya. Entah, lapangan apa yang ada di depannya ini, yang pasti rumput-rumput hijaunya menguntungkan mereka yang tak beralas. Seandainya yang mereka injak berupa beton atau pasir, pasti akan sangat panas.

Mereka mulai berjalan, menuju gerbang yang ada di seberang lapangan. Jujur saja ketika masuk ke penjara ini mereka dalam keadaan tak sadar, sehingga mereka tak tahu apa benar gerbang di depan itu adalah gerbang keluar.

Mereka terus berjalan, hingga sesuatu menarik kaki Kiba dan terjatuh.

Bugh!

Kiba terjatuh seraya melihat rumput yang tengah melilit kaki kirinya. "Apa-apaan ini?!" Kiba menarik-narik kakinya, namun rumput tersebut kian memanjang hingga mencapai selangkangannya.

Naruto mengahampiri Kiba, lalu mencoba melepaskan rumput tersebut.

Srek..Srek..

Tiba-tiba tangan Naruto ikut terlilit, mereka terkaget. "S-sial tanganku!"

"Jangan bergerak, Naruto!" Shikamaru memperingati Naruto, pergerakkan rumput tersebut terhenti hingga mencapai lengan Naruto saja.

"Gaara, gunakan kapak itu." Shikamaru menyuruh Gaara yang tengah diam seraya memegang kapak.

"Aku tidak mau, kau saja." Gaara melempar kapak merah yang ada ditangannya.

Shikamaru menangkap kapak berat yang hampir saja menebas tangannya itu. Namun setelah di lemparnya kapak tersebut, kaki Gaara ikut terikat oleh rumput hijau tersebut. Gaara yang tampak tenang membuat rumput tersebut berhenti mengikat hingga pergelangan kakinya.

"Ah, begitu rupanya. Kalau kita tenang ia akan berhenti mengikat." Sasuke bergumam, lalu melihat kakinya yang juga sudah mulai dililit.

Shikamaru berjalan dengan tenang, lalu mulai memotong rumput yang mengikat lengan Naruto.

Prak!

"Eh?!"

Prak!

Shikamaru mencoba memotong, namun kapak tersebut hanya menembus rumput liar tersebut. Seakan rumput tersebut hanya bayangan semata. Mereka tercengang, lagi-lagi mereka dikagetkan akan keanehan isi penjara ini.

"Itu namanya Genjutsu." Seorang pria tiba-tiba berdiri dibelakang Sasuke.

Menarik lengan Sasuke, lalu menekan segel yang ada di pergelangan tangannya.

"Uargh!" Sasuke berteriak kesakitan

"Pe-penjaga Gerbang?!"

Kiba, Lee, Shikamaru, dan Naruto berujar kompak. Pergelangan tangan Sasuke masih dikunci. Sasuke sedikit menunduk, menahan rasa sakit yang hampir saja membuat ia pingsan untuk kedua kalinya.

"Tak kusangka bocah Uchiha bisa keluar secepat ini." Penjaga gerbang tersebut mendorong Sasuke. Ia tersenyum meremehkan, menatap jijik ketujuh tahanan di depannya.

"Kalian! Diumur yang benar-benar sangat muda sudah membunuh orang dan berbuat kejahatan, sungguh dunia telah rusak!" Suara penjaga gerbang menggelegar, membuat burung-burung yang entah dari mana tiba-tiba berterbangan.

Sasuke menyentuh segel garis yang ada di tangannya, masih terasa sakit. Rumput-rumput aneh yang melilit kakinya sudah hilang.

"Kalau begitu, matilah!"

Penjaga gerbang berteriak, serentak dengan burung-burung yang berterbangan menuju mereka.

-SN-

Cahaya matahari menerobos masuk, melalui jendela yang ada di belakang tubuh ramping gadis tersebut.

"S-siapa kau?" Pria sekarat yang ada di bawah gadis tersebut menatap ngeri wajah cantik yang terlihat samar tersebut. Matanya yang terkena sinar matahari membuatnya sulit untuk melihat dengan jelas siapa yang telah menyerangnya itu.

"Aku... wanita bodoh yang telah berteriak di ruang pengadilan, yang mulia hakim terhormat!"

Sang pria yang di panggil hakim tersebut membelalak kaget, matanya menatap nyalang wajah wanita yang kini tengah merunduk kearahnya. Sekarang ia dapat melihat wajah wanita tersebut. "K-kau.."

"Ya, Haruno Sakura! Aku akan menyusul Sasuke apapun yang terjadi, dan sekarang pergilah hakim bodoh!"

Crash!

Darah segar terciprat sempurna diwajah cantiknya, ia tersenyum sedih. "Aku berharap, bisa menyusulnya."

-SN-

"Hosh! Hosh!" Naruto terengah-engah.

"Pergilah dari sini, dasar bocah kuat!" Penjaga gerbang, menendang ketujuh tahanan tersebut dengan kompak. Ketujuh-tujuhnya terjatuh lemas. Gerbang pun telah ditutup dengan sempurna.

Mereka masih mempertahankan posisi tiduran mereka, masih teringat jelas pertarungan mengerikan di dalam tadi, kini baju mereka sudah sobek dimana-mana, wajah merekapun sudah penuh dengan goresan akibat cakaran dari burung aneh itu, Gaara yang paling kuat diantara merekapun tampak kewalahan.

Sasuke menatap Shino yang ikut tergeletak seperti dirinya, lagi-lagi ia melihat kekuatan sesungguhnya dari timnya. Ada serangga di balik bajunya itu, ia juga seorang ninja yang mengendalikkan teknik khusus sama seperti Shikamaru, mungkin jika tidak ada serangga beracunnya itu, mereka tak dapat menang dari burung-burung sialan itu.

-SN-

Yamato tersenyum senang. "Yosh, aku menang taruhan Senpai, ketujuh-tujuhnya dapat keluar dengan selamat."

Sang kepala sipir memilih diam, menatap layar monitor dengan seksama. Yamato yang ingin mengambil kotak berisikan uang tersebut terhenti. Kakashi menatap penuh arti Yamato yang tengah memandang heran seniornya itu.

"Jangan senang dulu Yamato, coba kau lihat pemuda yang tergeletak itu."

Yamato mengikuti gestur mata Kakashi yang menunjuk seorang pemuda. Mata Yamato membulat.

"Sial, punggung yang bolong itu..."

"Benar, ada paruh burung yang berhasil menembus jantung salah satu dari mereka." Kakashi menarik kotak perak yang ada di mejanya, lalu mulai membukanya dengan senang.

Menghela nafas, Yamato mulai mengendikkan bahu. Ya, bagaimanapun juga tak ada yang bisa mengubah takdir penjara ini. Walaupun mereka telah memecahkan rekor dengan bertahannya ketujuh orang sampai perbatasan gerbang. Lalu matanya mengekor, menatap punggung pemuda tersebut dengan miris.

-SN-

Keadaan ruang makan penjara tingkat tujuh adalah ruang ternyaman bagi para tahanan, mereka diberi kebebasan penuh di dalam ruangan tersebut. Fasilitas di dalam ruangan tersebut juga lengkap dan benar-benar memuaskan para tahanan yang setiap minggunya disiksa. Ya, penjara ketujuh inilah yang menjadi tujuan dari beribu-ribu tahanan yang ada di bawah bukit. Dengan hukuman yang diberikkan hanya satu kali dalam seminggu, ada ruang kebebasan tanpa adanya kamera pengintai yang hanya dimiliki kaum petinggi, dan diberinya kekuatan baru yang benar-benar membuat para tahanan puas.

Dipojok ruangan, seorang pria dengan rambut cepak mengangkat kakinya diatas meja panjang. Baju tahanannya telah di bukannya, entah ada dimana sekarang.

"Hidan, turunkan kakimu atau kupatahkan."

Pria bertubuh besar tersebut melototi rekannya yang kurang ajar.

"Kau ini, serius sekali, Kakuzu. Tak asik, dari dulu aku selalu berdoa pada dewa Jashin agar cepat mencabut nyawa orang Atheis macam kau." Pria yang di panggil Hidan itu menurunkan kakinya.

"Diam, aku mengumpulkan kalian disini bukan untuk mendengar celotehan tak berguna." Pria bersurai oranye yang berada diujung meja mulai berujar. Semua yang berada satu meja dengannya tampak diam, sepertinya pria itulah yang menjadi pemimpin mereka.

"Dengar baik-baik, aku sudah tahu tujuan penjara iblis ini."

Delapan orang yang berada disisi kanan-kiri meja mendengarkan dengan seksama.

"Mereka akan menjadikan kita alat sebagai tentara cadangan bila negara mereka di serang, dan hal ini benar-benar membuatku kesal. Selama ini memang terasa kekuatan kita meningkat, tapi semua kerja keras dan kekuatan kita akan dijadikan alat bagi mereka."

"Tunggu, kau tahu dari mana, Yahiko?" Seorang pria bersurai merah yang ada di sisi kanan pria bernama Yahiko bertanya.

"Kemarin malam aku menyelinap ke kantor kepala sipir yang ada di atas, dan aku membaca semua berkas penting itu."

Suara kecil milik Yahiko membuat ke delapan orang lainnya mendekatkan diri, ditambah suara ribut dari tahanan lainnya membuat mereka kesulitan untuk mendengar apa yang Yahiko bicarakan.

"Kau hebat." Wanita dengan mata sayu dan berambut ungu berkomentar.

Yahiko tersenyum tipis. "Ya, begitulah."

"Lalu? Apa rencanamu setelah ini?" Pria berwajah dingin di ujung meja berujar.

Yahiko kembali memasang muka serius. "Kita akan kabur dari penjara ini."

Semua yang ada di meja menatap Yahiko. "Nagato, Konan, Hidan, Kakuzu, Deidara, Sasori, Kisame, dan Itachi..."

"Bersiaplah."

TBC

Hi Minna!

Author balik lagi ^^

Saya senang respon dari reader ternyata lumayan menyenangkan hati, jadi saya putuskan untuk melanjutkan Fic Fantasy pertama saya.

Karena saya kekurangan karakter untuk dimasukkan kedalam cerita saya, saya ingin menjadikkan 3 orang reader untuk ikut berperan dalam Fic saya (jika ada yang berkenan). Tapi dengan syarat, reader tersebut dapat menebak 'siapa yang tewas di tim Mawar?'

Jadi bagi reader yang ingin karakternya dimasukkan kedalam cerita saya tinggal klik review dan tulis.

-(Nama karakter kalian beserta gender karakter)-

-(Jawaban)-

Ingat! : Hanya 3 reader utama yang berhasil menebak akan dimasukkan di Fic The Devil Prison ini ya ^^ Kemungkinan Chapter depan nama kalian (yang berhasil menebak) sudah ada di cerita saya.

Jangan lupa komentar berupa saran, kritik dan pesan dari kalian juga ^^ Terima kasih.

Thanks to :

gansaksn

waduh penjaga gerbang emang msh dirahasiain nih, bayangin aja ya siiapa ^^. thanka udh RnR. keep reading. ^^^

bestie

udah lanjut, thanks udah RnR keep reading ^^

zone31

Wkwk saya dibilang gila o.0 Thanks udah RnR. keep reading ^^

Guest

Wkkwk, gomen gomen udah bikin tegang haha. Thank udh RnR. keep reading ^^

SapphireOnyx Namiuchimaki

Haha, ya rencana Kakashi itu udah pasti ^^ hoho ini uudah lanjut, thanks udah RnR. keep reading ^^

Avanrio11

yak, ini udaah lanjut, thanks udah RnR . keep reading ^^

Aiko Vallery

Ini udah lanjut ^^ thanks udh RnR. keep reading.

kazekageashainuzukaasharoyani

nzir keren biadab xD hhaha iya ini udah lanjut, thanks udh RnR ya. keeep reading ^^

L.casei shirota strain

Kepengennya nama tim mereka bunga bangkai xD. Thanks udah RnR .. keep reading^^

aleazurabooyunjae

Iya ini udah lanjut, thanks udah RnR. keep reading ^^

AkarisaRuru

iya ini udah lanjut, thanks udh RnR. keep reading ^^

michhazz

hhaha semangatnya keren! Thanks udah RnR. keep reading ^^

namikazesaphirepl

iya ini udah lanjut kok ^^ thanks udh RnR. keep reading.

yosh ada yang belum kejawab?

Akhir kata.. mind to review?