Tittle : Complicated

Author : LovePanDragon-PHB

Main Cast :

- Huang Zi Tao as Tao

- Wu Yi Fan as Kris

- Kim Jongin as Kai

- Park Chanyeol as Chanyeol

Other Cast : Akan muncul seiring berjalannya waktu

Pairings : KrisTao/KaiTao/ChanTao

Other Pairings : Akan muncul seiring berjalannya waktu

Length : Chapter 2

Genre : a Little 'bit Angst, Hurt

Rating : T+

Disclaimer : Cast diatas ada milik Tuhan, orangtua mereka, SMEnt, kecuali TaoRis milik saya..#dibakartaorisshipper. Cerita ini MURNI pemikiran saya, apabila ada kejadian atau persamaan lainnya, saya mohon maaf. Tapi ini MURNI hasil pemikiran saya. SO DON'T PLAGIAT! DON'T COPAS!

Warning: OOC (Out Of Character), Miss Typo(s), Yaoi, Alur cerita yang makin gaje.. Dan masih banyak kekurangan lainnya.. DON'T LIKE! DON'T READ! NO BASHING!

Happy Reading~

And the story begin~

Kenapa? Kenapa engkau hadir kembali dalam kehidupanku?

Bahkan ketika pikiran ini ingin melupakanmu..

Ketika hati ini ingin menghapus namamu yang telah terukir dengan indah..

Ketika jiwa ini ingin terbebas darimu seutuhnya..

Bahkan ketika tubuh ini berusaha untuk melupakan segala sentuhanmu..

Membuatku menjadi ragu dan ingin kembali kepadamu..

Kenapa? Kenapa kau tidak melepaskanku seutuhnya?

Kenapa? Bukankah kau sudah tidak mencintaiku lagi?

Ketika mata ini memutuskan untuk tidak melihatmu lagi..

Kenapa kau hadir kembali di hadapanku?

Apakah kau masih mencintaiku?

Bolehkah aku berharap kalau itu semua akan menjadi kenyataan?

oOo

"Akhirnya aku menemukanmu.. Baby Tao.."

"K-Kai." Tubuh Tao menegang begitu merasakan hembusan nafas Kai di telinganya. Wajah Tao semakin memucat begitu ia merasakan pelukan Kai yang semakin bertambah erat.

"Kenapa kau meninggalkanku seorang diri di rumah, eumm?" Kai berbisik dan membuat tubuh Tao semakin menegang. Ia tidak suka jika Kai seperti ini.. Ia lebih suka jika Kai berteriak atau membentaknya dengan kata-kata kasar, dibandingkan sikap lembut Kai seperti saat ini. Karena dibalik itu semua, Kai akan menyiksanya lebih jauh dan kejam.

"Kenapa tidak menjawab,eumm?" Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi Tao?" Tubuh Tao kembali menegang, tampak Kristal-kristal bening mulai menggenangi kedua pelupuk matanya. Chanyeol yang melihat tingkah aneh Tao—bermaksud untuk menolong Tao, tetapi Kris menahannya, membuat dirinya hanya mampu menatap Kris dengan tatapan -mengapa engkau menahanku?-. Kris menarik nafas sejenak, kemudian menggelengkan kepalanya, memberi isyarat agar ia tidak ikut campur dalam masalah kedua orang itu. Chanyeol yang mengerti akan maksud sahabatnya tersebut hanya mampu menghela nafas dan dengan sangat berat hati menganggukkan kepalanya—menyetujui keinginan sahabatnya tersebut. Alhasil dirinya dan Kris hanya menatap ke arah Tao dan Kai dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

Tao hanya mampu terdiam mendengar pertanyaan kekasihnya tersebut—karena pada dasarnya mereka belum resmi berpisah, right? Hanya keputusan sepihak dari dirinya. Lidahnya terasa sangat kelu. Hingga ia hanya mampu terdiam membisu. Tanpa menyadari tatapan sendu dari kekasihnya tersebut—walaupun hanya sepersekian detik—.

"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi Tao?" Pemuda tampan berkulit tan tersebut mengulang kembali pertanyaannya—dan sedikit terselip kekecewaan dari nada suaranya, namun Tao tidak peka akan hal itu karena ia sibuk sendiri dengan pikirannya. Perlahan pemuda tampan berkulit tan tersebut melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Tao untuk menghadap ke arahnya. Ia menatap dalam kedua iris kelam pemuda bermata panda tersebut—berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri jika pemuda manis dihadapannya masih mencintai dirinya. Namun sayang, pemuda manis itu dengan segera menundukkan kepalanya—tak berani menatap wajah kekasihnya tersebut, terutama kedua mata itu. Ia takut—ia takut jika ia tidak mampu melepaskan pemuda tampan tersebut.

"Ma-maaf.. A-aa-ku.. Aku.. Su-sudah tidak mencintaimu lagi. Ma-maafkan aku. Maaf." Ucapan itu terlontar begitu saja dari bibirnya. Bukan. Bukan itu yang ingin ia ucapkan. Bukan itu! Ia mengepalkan kedua tangannya, tubuhnya tampak bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya. Ia memejamkan kedua iris kelamnya. Sakit. Hatinya semakin sakit dan terluka saat ini. Bohong. Ia telah berbohong. Ia telah membohongi hati dan perasaanya sendiri. Ia telah membohongi dirinya sendiri. Cinta. Ia sangat mencintai sosok pemuda tampan yang saat ini tampak membeku mendengar jawaban dari bibirnya—walaupun ia tidak dapat melihat bagaimana ekspresi pemuda tampan berkulit tan tersebut. Ya.. Ia masih sangat mencintai sosok pemuda tampan di hadapannya saat ini. Jika boleh jujur, bukan itu yang ingin ia ucapkan—semua yang ia ucapkan berbanding terbalik dengan perasaannya yang sesungguhnya. Karena pada dasarnya, ia telah dibutakan oleh rasa cintanya yang sangat besar—walaupun ia sering mendapatkan perlakuan kasar. Ia menerimanya. Ia menerimanya karena ia sangat mencintai kekasihnya tersebut melebihi dirinya sendiri.

"Kau berbohong padaku kan? Kau masih mencintaiku kan? Iya kan Tao?" Kai memegang dagu Tao dengan kasar dan membuat pemuda manis itu sedikit meringis kesakitan karenanya.

DEG!

Ia tersentak begitu melihat airmata yang mengalir dari kedua iris kelam kekasihnya tersebut.

Dengan cepat pemuda manis itu menggelengkan kepalanya."Ma-maaf.."

Hanya kata "maaf" yang meluncur keluar dari bibir mungilnya. Sakit. Ia merasa sakit begitu melihat wajah kekasihnya tersebut. Perih. Ketika ia harus menatap dalam kedua manik mata pemuda berkulit tan itu. Dan airmata yang mengalir itulah yang mewakili perasaannya saat ini.

"Bohong! Kau berbohong kepadaku!" Suara pemuda tampan itu sedikit bergetar menahan amarah. Sungguh ia benar-benar terkejut mendengar jawaban yang diluar perkiraannya. "Matamu. Matamu tidak bisa berbohong. Aku masih bisa melihat dengan jelas dari matamu. Kau mencintaiku. Kau masih mencintaiku. Iya kan? Jawab aku Tao! JAWAB AKU HUANG ZI TAO!"

Pemuda manis itu tersentak kaget begitu mendengar ucapan serta teriakan kekasihnya. Sejujur itukah matanya? Hingga pemuda tampan itu mampu menyadarinya. Ia mencengkram dadanya, menahan rasa sakit yang datang bertubi-tubi. Pikirannya kalut. Sungguh. Ia tidak mampu berpikir jernih saat ini. Ia bingung. Ia takut. Ia benar-benar tidak ingin kembali ke sana—ia takut jika semuanya terulang kembali.

Chanyeol yang mendengar teriakan Kai, mengepalkan kedua tangannya. Tampak jari-jarinya memutih menahan emosi yang sudah hampir mencapai puncaknya.

'Tahan Park Chanyeol. Tahan emosimu.' batin pemuda tampan berambut ikal tersebut—sedikit berusaha untuk meredam emosinya.

Kris? Ia hanya mampu menggertakan giginya menahan emosinya yang mulai tidak stabil. Jujur saja, ia paling tidak suka bila ada orang yang menindas orang lain—apalagi yang lebih lemah dari dirinya. Sama halnya dengan Chanyeol, karena itu mereka berdua bisa menjadi sahabat yang sangat akrab. 'Brengsek! Pemuda itu benar-benar memancing emosiku. DAMN! Tahan emosimu Wu YiFan! Tahan! Jangan ikut campur urusan mereka. Kau tidak mempunyai hak apapun. Kau bukan bagian dari mereka."

Pemuda manis itu tergugup. Lidahnya benar-benar kelu saat ini. Oh Tuhan, tolong selamatkan dia dari situasi ini. "Ma-maafkan aku Kim JongIn. Aku—"

PLAK

Namun belum sempat ia menyelesaikan perkataannya. Sebuah tamparan telak menyentuh pipi mulusnya. Membuat ia refleks menyentuh pipinya yang terasa sangat sakit karenanya. Ia benar-benar tak menyangka Kai akan menamparnya seperti itu. Sakit. Hatinya sangat sakit. Luka di hatinya semakin tergores dalam—atau mungkin malah menorehkan luka baru disana.

Chanyeol dan Kris membulatkan mata mereka dengan sempurna melihat pemandangan di depan mata mereka. Kris refleks bergerak untuk menarik Tao, tetapi ternyata ia kalah cepat dengan Chanyeol.

Pemuda tampan berambut ikal tersebut segera menarik tubuh pemuda manis yang masih terkejut ke dalam pelukannya. Kai yang melihat tindakan pemuda asing tersebut—ia menganggapnya demikian, karena ia tidak mengenal pemuda yang lebih tinggi beberapa centi darinya tersebut— menatap tajam ke arah dua orang yang tengah berpelukan—atau mungkin pemuda asing itulah yang memeluk kekasihnya dengan sangat posesif. Kris yang kalah cepat dari sahabatnya tersebut hanya mampu menghela nafas berkali-kali. Entah mengapa ia merasa—sedikit—kecewa karena bukan dirinyalah yang memeluk pemuda manis itu saat ini. Hey, apakah kau sedang cemburu Wu YiFan?

"Tsk.. Seenaknya saja memeluk kekasih orang lain. Cepat lepaskan pelukanmu." Kai mengulurkan tangannya berusaha untuk memisahkan keduanya. Namun dengan cepat pemuda tampan berambut ikal tersebut menepisnya dengan kasar. "Jangan sentuh dia! Kau sudah berbuat kasar padanya! Kau tidak boleh menyentuhnya lagi!" Serunya bahkan semakin mempererat pelukannya.

Tao terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Chanyeol. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat pemuda tampan yang lebih tinggi darinya tersebut—berusaha untuk meminta penjelasan dari ucapannya barusan. Merasa ditatap, Chanyeol mengalihkan pandangannya dan menatap Tao dengan sangat lembut.

"Tenang saja. Aku akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan orang itu menyakitimu lagi." Kini ia tersenyum dengan lembut. Pemuda manis itu tertegun sesaat—berusaha mencerna ucapan pemuda tinggi tersebut—. Dan ketika ia—sedikit—memahami maksudnya, semburat merah menghiasi wajah manisnya. Ia hanya mampu menundukkan kepalanya—tak berani menatap pemuda tampan itu.

Kai mendengus kesal melihat pemandangan di depannya."Lepaskan pelukanmu! Atau aku akan menghabisimu saat ini juga!" Ia mulai berusaha untuk menyentuh dan memisahkan kembali dua orang yang ada di hadapannya.

Kembali Chanyeol menepis kasar kedua tangan Kai. Bahkan kini ia semakin mempererat pelukannya karena sesaat yang lalu ia merasa jika tubuh pemuda manis yang berada dalam dekapannya mulai gemetaran. "Menghabisiku? Benarkah? Atau jangan-jangan kau yang akan habis di tanganku?" Ia mengangkat sudut bibirnya—membuat sebuah senyuman meremehkan.

Kai yang melihat senyuman Chanyeol, mengepalkan tangannya, dan berusaha untuk melayangkan pukulannya ke arah Chanyeol yang kali ini tampak menyeringai.

"Brengsek kau!"

BUGH

Tiba-tiba saja Kai jatuh tersungkur ke aspal. Ia memegangi pipinya yang terkena pukulan. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa pelaku yang telah memukulnya.

"Cih.. Rupanya ada yang ingin menjadi pahlawan lainnya." Kai tersenyum meremehkan, ia menghapus darah yang mengalir dengan punggung tangannya.

Kris—sang pelaku pemukulan— kembali mengepalkan tangannya bersiap untuk memukul Kai lagi.

Sudut bibirnya terangkat—menampilkan sebuah senyuman merendahkan kearah Tao yang masih berada di pelukan Chanyeol. "Tsk.. Kalian pasti membayar mahal untuknya kan? Sampai-sampai kalian rela membelanya seperti ini."

"Apa maksudmu, hah?"

Tubuh Tao menegang mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Kai. Ia ingin melepaskan pelukan Chanyeol, tetapi Chanyeol menahannya. Ia menatap bingung kearah pemuda tampan yang berada di hadapannya—yang sedang memeluknya saat ini.

"Jangan didengarkan. Kau tak pantas untuk mendengarnya.." Chanyeol kembali memeluk tubuh Tao dengan sebelah tangannya, dan tangan satu lagi berusaha untuk menutup kedua telinga Tao.

Tao tertegun mendengar ucapan Chanyeol—mengerti akan maksud perkataan Chanyeol, Tao kembali menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang Chanyeol. Ia menutup kedua matanya menahan airmata yang sudah siap membasahi pipinya lagi . Sakit. Hatinya sangat sakit. Ia mengerti dengan jelas maksud ucapan Kai. Tapi kenapa? Kenapa Kai tega berkata seperti itu?

"Tsk.. Kau memang tidak mengerti atau berpura-pura bodoh? Kau pasti mengerti dengan jelas maksud pertanyaanku tadi. Berapa banyak uang yang kalian keluarkan untuk membayar tubuhnya satu malam?" Kai tersenyum—atau lebih tepatnya menyeringai dan memandang rendah ke arah Tao dan Chanyeol juga Kris secara bergantian.

Tao mencengkram dadanya. Sakit. Ia berusaha untuk menulikan pendengarnya. Airmata yang sedari tadi ditahannya kini kembali mengalir menghiasi pipinya bahkan sampai membasahi baju Chanyeol. Chanyeol yang menyadari hal itu, semakin mengeratkan pelukannya, berusaha menyalurkan rasa aman dan nyaman pada tubuh pemuda manis yang terlihat begitu rapuh di matanya.

"Apa—"

"Ya.. Kau memang benar. Kami telah membayar mahal untuk tubuhnya. Bahkan aku sudah membayar dengan sangat mahal supaya ia menjadi milikku selamanya." Kata-kata itu mengalir begitu saja tanpa ada paksaan sedikit pun. Ia bersumpah akan melindungi pemuda manis yang saat ini berada dalam dekapannya—terlepas dari mereka belum mengenal terlalu dekat satu sama lain. Well, tak kenal maka tak sayang, right? Karena itu ia berjanji pada dirinya sendiri jika setelah masalah pemuda manis itu dan orang itu selesai, ia akan mulai melakukan pendekatan terhadap pemuda manis itu. Walaupun ia sendiri bingung, kenapa ia begitu ingin melindungi pemuda manis bermata panda tersebut. Ini.. sungguh aneh. Namun ia tidak ingin ambil pusing dengan hal itu. Ia hanya meyakini dan mengikuti kata hatinya. Well, terkadang apa yang diinginkan oleh hati tidak sesuai dengan pikiran kita, right?

Kai dan Kris membulatkan matanya sempurna mendengar jawaban yang terlontar dari bibir Chanyeol. Sedangkan Tao? Ia terkejut bukan main. Ada apa dengan pemuda tampan berambut ikal itu heh? Apa otaknya bermasalah? Apa maksudnya? Kenapa dia berbohong? Kenapa dan kenapa. Atau mungkin telinganya salah dengar? Semua pertanyaan itu menyerang pikirannya secara serentak. Ia terkejut. Tentu saja! Siapa yang tidak terkejut jika ada orang yang baru saja dikenal—atau mungkin masih sangat asing baginya— tiba-tiba mengatakan jika ia sudah membayar dirinya bahkan akan menjadikan dirinya milik orang itu selamanya. He must be crazy.

Tao berusaha untuk melepaskan pelukan Chanyeol—ia harus menjelaskan semuanya. Harus! Ia tidak ingin ada yang salah paham dengan semua itu, namun sayang Chanyeol menahannya. Pemuda tampan berambut ikal itu malah semakin mempererat pelukannya.

"Diamlah. Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh."

DEG

Tao terpaku mendengar ucapan Chanyeol. Matanya mengerjap berkali-kali. Otaknya berusaha untuk mencerna kalimat tersebut. Tolong katakan padanya jika semua yang ia dengar itu hanyalah delusi semata. Namun, sayangnya Chanyeol benar-benar mengatakannya dengan tulus. Tao mengalihkan pandangannya untuk menatap Chanyeol—berusaha untuk meminta penjelasan dari semua kalimat yang diucapkan pemuda tampan tersebut. Menyadari dirinya ditatap, Chanyeol sedikit menundukkan kepalanya dan menatap ke dalam kedua iris kelam Tao—seakan berusaha untuk meyakinkan jika ucapannya tidak main-main. Tao mencarinya, mencari kebohongan dari kedua iris kelam Chanyeol. Namun nihil, yang ia dapat adalah sebuah kejujuran dan juga ketulusan. Chanyeol tersenyum lembut dan mengusap pelan helaian rambut Tao—menciptakan semburat merat menghiasi wajah pemuda manis bermata panda tersebut.

Kai yang melihat adegan tersebut hanya mampu memutar bola matanya malas. Hell, masih sempat-sempatnya kekasihnya sendiri bermesraan—menurutnya pribadi— dengan orang lain di hadapannya. Apakah mereka sudah lupa jika ia masih memiliki ikatan dengan pemuda manis itu? Ia marah. Sangat. Ia kecewa—karena tidak ada satu pun kalimat sanggahan yang keluar dari mulut kekasihnya tersebut. Ia—sesungguhnya masih berharap—walaupun sedikit—jika kekasihnya tersebut masih mencintainya dan menyangkal—dan membela dirinya sendiri— semua tuduhan yang diberikan olehnya. Namun sayang, justru harapan itu hanyalah harapan semata. "Cih.. Dasar laki-laki murahan.. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh temanku selama ini tentang dirimu. Kau itu tidak lebih dari seorang laki-laki jalang yang hanya haus akan uang dan kasih sayang dari laki-laki lain. Tsk.. Kau—"

BUGH

Satu pukulan kembali mendarat di wajah pemuda tampan berkulit tan tersebut. Ia kembali jatuh tersungkur—karena pukulan itu benar-benar keras. Sedikit bergumam, sambil menyeka darah yang kembali mengalir di sudut bibirnya. Ia mengalihkan pandangannya untuk menatap Kris—sang pelaku pemukulan tersebut— yang menatapnya dengan tatapan penuh amarah. Well, sepertinya batas kesabaran pemuda tampan bersurai pirang itu sudah mencapai batasnya.

"Wah wah wah.. Salah satu dari pangeranmu marah Tao. Ternyata pesonamu besar juga. Sampai kau mampu menjerat dua orang pemuda tampan sekaligus. Hahaha.." Kai berusaha untuk bangkit berdiri dan kembali memandang Kris dan Chanyeol dengan tatapan merendahkan.

BUGH

BUGH

BUGH

Kris kembali melayangkan pukulannya kearah Kai secara bertubi-tubi—tanpa memberikan sedikitpun pemuda berkulit tan itu untuk membalasnya—atau mungkin bergerak satu centi pun. Bahkan ia menendang tubuh Kai berulang kali. Batas kesabarannya benar-benar sudah habis. Persetan dengan semua hukum. Ia sudah benar-benar muak mendengar semua kata-kata tajam dari Kai terhadap pemuda manis itu. Sepertinya emosi benar-benar menyelimuti seluruh pikiran Kris.

"Hahaha.." Kai hanya mampu tertawa—entah apa yang lucu dari semua itu, walaupun Kris terus memukulinya secara member perlawanan, Kai malah semakin tertawa dengan keras dan tentu saja memancing emosi Kris lebih lagi. Membuat pemuda tampan bersurai pirang itu semakin gelap mata dibuatnya.

Chanyeol hanya mampu menatap datar ke arah Kai dan Kris. Tangannya terkepal dengan erat—membuat buku-buku jarinya memutih karena ia menahan dirinya agar tidak ikut menghajar pemuda tampan berkulit tan tersebut. Jujur saja, ia juga ingin menghajar Kai dengan tangannya sendiri. Namun sayang, ia tidak mungkin membiarkan Tao melihat adegan kekerasan tersebut. Tidak akan. Dan ia semakin mempererat pelukannya terhadap pemuda manis yang saat ini sedang menangis. Entah sejak kapan pemuda manis itu menangis di pelukannya—bahkan sampai membasahi bajunya. Namun ia tidak peduli, ia tidak akan membiarkan pemuda manis itu melihat semua itu.

Tangisan Tao semakin kencang, setiap kali Kris melayangkan tinjunya ke tubuh Kai. Sakit.. Hatinya sakit mendengar suara pukulan bertubi-tubi itu. Hingga akhirnya—

"HENTIKANNNNNNN!"

Di luar dugaan pemuda manis bermata panda itu berteriak—

"HENTIKAAANN! AKU MOHON HENTIKAN!"

Ia berteriak. Ia tak tega mendengar semua itu. Ia memberontak dan memohon agar Chanyeol melepaskan pelukannya— namun Chanyeol bersikeras menahan pemuda manis itu. Namun Tao tidak ingin menurut kali ini. Tidak. Ia tidak tega jika orang yang masih berstatus kekasihnya tersebut dipukuli oleh orang lain. Ia bukan tipe orang yang seperti itu—.

Pemuda tampan berambut ikal itu luluh. Dengan—sangat—terpaksa ia membiarkan Tao berlari ke arah Kai dan Kris. Chanyeol terpaku melihat Tao yang kali ini berlutut memohon kepada Kris.

"Hentikan. Sudah cukup. Aku mohon hentikan." Tao menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, tubuhnya bergetar dengan hebat. Kris membulatkan matanya sempurna melihat Tao yang terkesan melindungi orang yang jelas-jelas sudah menyakitinya.

Kris menurunkan kembali tangannya yang tadi bersiap untuk menghajar Kai. Ia menghela nafas lalu dengan berat melangkahkan kakinya menjauh dari Tao dan Kai—memberikan ruang untuk mereka berdua, walaupun sesungguhnya ia tidak ingin menjaga jarak dengan mereka berdua. Entah mengapa ia takut jika Kai akan menyakiti Tao kembali. Ini aneh. Sunnguh aneh. Kenapa ia mengkhawatirkan pemuda itu. Kenapa?

Kai menatap punggung Tao dengan tatapan tidak percaya. Tao melindunginya? Kenapa? Bukankah ia sudah melukai hati dan juga tubuh Tao? Tapi mengapa ia melindunginya? Berbagai pertanyaan bermunculan dipikiran Kai saat ini.

"Kenapa kau melindungiku? Bukankah kau sudah tidak mencintaiku?"

Tao yang mendengar pertanyaan Kai, menurunkan kedua tangannya lalu membalikkan tubuhnya dan menatap Kai dengan tatapan sendu.

"Dengarkan aku. Sekali ini saja dengarkan aku. Setelah itu aku berjanji, aku akan menghilang dari kehidupanmu." Tao mengulurkan kedua tangannya, berusaha untuk memeluk tubuh Kai yang tampak penuh luka. Kai tersentak kaget begitu merasakan pelukan hangat Tao.

"Aku bohong bila aku mengatakan aku tidak mencintaimu lagi. Karena bagiku, waktu dua tahun itu sudah cukup lama untuk membuatku terpaku hanya pada dirimu."

Kai tertegun mendengar ucapan Tao. Rasanya ada sesuatu yang berat menghantam dengan keras ulu hatinya. Rasanya begitu—sesak.

"Aku selalu berpikir kalau aku bodoh. Bodoh karena terlalu mencintai dirimu. Ya, harus aku akui kalau aku memang bodoh. Bodoh karena sangat—bahkan teramat sangat mencintai dirimu. Tetapi aku tidak pernah menyesal. Tidak pernah sedikitpun aku menyesal karena mencintaimu."

Aimata Tao terus mengalir mengiringi setiap kata-kata yang dilontarkannya. Tao mengeratkan pelukannya, membuat Kai semakin terdiam terpaku—pikiran pemuda tampan itu mendadak kosong mendengar pernyataan dari kekasihnya tersebut.

"Aku tidak akan membencimu. Tidak akan pernah, karena aku tidak bisa melakukannya. Meskipun kau terus berlaku kasar padaku. Meskipun kau terus membentakku. Tapi aku yakin, kau pernah mencintaiku dengan tulus. Mencintaiku dengan sepenuh hatimu, dengan seluruh jiwa ragamu."

Kembali, kembali Tao merasakan sakit yang teramat sangat ketika mengucapkan semua yang ada dipikirannya saat ini. Semua yang dirasakannya selama ini.

"Aku tidak pernah tahu alasan kenapa kau berubah. Dan aku tidak akan bertanya padamu, meskipun aku selalu menerka-nerka, meskipun aku merasa begitu frustasi karena tidak pernah menemukan jawabannya sedikitpun. Bagiku, kau tetap Kim Jongin yang aku cintai—"

Tao tersenyum menyembunyikan luka yang teramat dalam. Cinta. Ia benar-benar mencintai pemuda tampan yang saat ini tengah dipeluknya.

"Kim Jongin yang menyapaku di bawah pohon natal itu dua tahun lalu. Kim Jongin yang membuatku terpaku karena melihat senyumannya saat itu. Kau tahu? Saat melihat senyummu, aku merasa seperti melihat seorang malaikat. Entah mengapa aku merasa sangat damai melihat senyum-mu."

Tao kembali tersenyum mengingat semua kenangannya dengan Kai. Seiring dengan airmata yang terus mengalir dari kedua iris kelamnya yang indah.

"Kim Jongin yang telah mencuri ciuman pertamaku. Kim Jongin yang telah berhasil merebut seluruh perhatianku dan juga menjadi kekasih pertamaku. Kim Jongin yang selalu memberikan kehangatan untukku. Bagiku, kau akan selalu seperti itu—dan tidak akan pernah berubah sedikit pun."

Tao kembali mengeratkan pelukannya, menyalurkan kasih sayangnya yang masih tersisa untuk pemuda tampan berkulit tan itu.

"Tolong. Tolong, biarkan aku menyimpan potongan dirimu yang seperti itu. Tolong. Lepaskan aku. Bukan berarti aku sudah tidak mencintaimu lagi. Aku sangat, bahkan teramat sangat mencintaimu. Kau tahu? Bahkan aku rela memberikan nyawaku hanya untukmu jika kau benar-benar menginginkannya."

Tubuh Tao bergetar dengan hebatnya. Ia tidak kuat. Ia benar-benar tidak kuat ketika mengungkapkan semua yang dirasakannya. Sesak, itu yang dirasakan olehnya saat ini.

"Maafkan aku. Maafkan aku jika aku sudah menyusahkanmu selama ini, membuatmu selalu frustasi dan selalu membuatmu marah. Maafkan aku. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu Kim Jongin."

Tao melepaskan pelukannya lalu mengecup lembut bibir Kai untuk yang terakhir kalinya. Ya, untuk terakhir kalinya—walaupun itu semua benar-benar berat untuknya.

"Selamat tinggal Kai." Airmata Tao menetes seiring dengan ucapan perpisahan yang ia ucapkan. Sakit.. Ia merasakan rasa sakit yang luar biasa ketika mengucapkan kata perpisahan itu. Tapi ia telah membulatkan tekadnya, ia harus menjauh dari Kai. Ia berpikir bahwa ini adalah jalan yang terbaik bagi dirinya dan juga Kai.

Tao menjauhkan tubuhnya lalu bangkit berdiri. Ia membungkukkan badannya, lalu segera melangkahkan kakinya menjauh dari Kai yang saat ini tampak sangat shock.

Chanyeol dan Kris menatap miris pada sosok pemuda manis yang saat ini sedang berusaha untuk menghapus jejak-jejak airmata dari pipinya. Tao terus berjalan, tanpa memperhatikan siapapun. Ia merasa berat.. Sangat berat—tapi ia sudah memilih.

Chanyeol segera menghalangi langkah kaki Tao, membuat Tao mengangkat wajahnya dan menatap sendu Chanyeol.

"Tolong.. Tolong bawa aku pergi dari tempat ini.. Aku mohon." Chanyeol terkejut mendengar ucapan Tao. Namun tanpa berpikir dua kali, Chanyeol segera meraih tubuh rapuh Tao ke dalam pelukannya lalu membawa Tao ke dalam mobil Kris.

Kris menatap miris pemandangan tadi. Entah mengapa ia merasa sedikit sesak begitu melihat Chanyeol memeluk Tao. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Kai yang saat ini masih terdiam terpaku. Kris menghela nafas berkali-kali dan akhirnya memutuskan untuk menyusul Chanyeol dan Tao.

Kai menatap sendu mobil Ferrari putih yang kali ini melaju melewati dirinya. Ia benar-benar merasa shock mendengar semua ucapan Tao. Segitu besarnya kah perasaan Tao terhadapnya? Kai menatap kosong ke arah mobil Kris hingga akhirnya hilang dari pandangannya.

Kai mencengkeram dadanya.

Sesak.

Sakit.

Rasanya seperti seluruh oksigen menghilang dan membuatnya begitu sulit untuk bernafas.

Semuanya bercampur menjadi satu.

"Kenapa Tao? Kenapa kau masih bisa seperti itu? Kenapa kau masih berlaku baik padaku Tao? Seharusnya kau membenciku. Seharunya kau memukulku kembali. Seharusnya kau.—"

TES

Setetes airmata berhasil lolos dari kedua matanya. Kai menangis. Ia menangisi dirinya yang begitu bodoh karena telah melukai perasaan pemuda manis yang mencintainya dengan setulus hatinya.

"KENAPA TAOO?! KENAPA KAU SEPERTI ITU?! JAWAB AKU! JAWAB AKU HUANG ZI TAO?! Jawab aku—"

"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu Huang ZiTao.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Haloo semua.. maafkan baru update chapter 2nya.. maklum harus di rombak sana sini. Walaupun yaa.. hasilnya tetap tidak memuaskan.. /nangis gelundungan/

Hope you like it guys.. :")

Special thanks to :

Riszaaa, ChrisAidenKey, PiCaPiQi, G-Sajangnim, Kopi Luwak, TaoRis99, Dark Shine, MagnaeDevilPanda, Jijiyoyo, Patricia CassieEXOST JYJFan, ajib4ff, NursanitaIS, Woles, Mei, taoris shipperrr, pandragon, Jin Ki Tao.

Maaf ga bisa bales reviewnya satu-satu. Terima kasih reviewnya yaa.. :")

So, Keep or Delete?