Common Route

Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah. Aku melihat ponselku untuk mengecek RFA messenger. Aku melewatkan banyak percakapan saat malam karena lelah. Sesampainya di asrama, aku langsung tertidur lelap tanpa mengecek RFA messenger.

Saeyoung selaku pembuat dan pengembang aplikasi ini tidak menambahkan fitur "delete messages" sehingga yang offline tetap bisa membaca percakapan tersebut ketika mereka online di lain waktu.

Aku mengecek percakapan semalam. Hanya Yoosung dan Zen yang mengeluh karena pelajaran. Mereka tidak begitu tertarik terhadap pelajaran. Walau begitu, nilai akademik Yoosung bagus, di atas rata-rata kelas. Tidak seperti Zen yang terkadang mendapatkan nilai di bawah rata-rata di beberapa mata pelajaran.

Kemudian Zen dan Yoosung offline di jam 10 malam karena mengantuk. Jaehee begadang karena harus mengerjakan beberapa pekerjaan dan Jumin hanya terlihat online sebentar. Saeran lebih sering jadi silent reader daripada ikut percakapan. Dan aku begitu menyayangkan Saeyoung yang begadang hanya untuk membuat robot anjingnya. Bukannya aku melarang tapi dia membuat robot anjingnya untuk mengisi waktu luangnya di malam hari. Besok itu sekolah pagi dan dia begadang, memangnya ia mau di hukum karena terlambat bangun pagi?

Oh ya, ketika di chatroom aku sedikit terkejut dengan username mereka disana. Terutama Saeran dan Saeyoung. Aku masih memaklumi V dan Zen yang menggunakan nama panggung mereka atau Yoosung yang menambahkan tanda bintang warna hitam di belakang usernamenya. Tapi si kembar ini berbeda sekali. Saeran menggunakan nama 'Unknown' dan Saeyoung menggunakan nama '707'.

.

Chatroom mode ON

MC has entered chatroom

ZEN

Selamat pagi

Tidur nyenyak semalam?

Apa kamu memimpikanku?

Jumin Han

Memimpikanmu adalah hal buruk yang pernah aku alami

Dan aku mengalaminya semalam

[jumin sigh sticker]

MC

Selamat pagi semua

ZEN

Selamat pagi

Jumin Han

Selamat pagi

ZEN

Aku tidak menyapamu!

Jumin Han

Aku menyapa MC

MC

Sudah, jangan bertengkar

ZEN

Bertengkar dengannya hanya akan membuang-buang energi

Jumin Han

Merusak suasana di pagi hari saja

[photo of Elizabeth 3rd]

ZEN

b JAUHKAN MAKHLUK BERBULU ITU DARIKU! b

707 has entered chatroom

707

Elly~

Jumin Han

Namanya adalah Elizabeth 3rd

Yoosung has entered chatroom

Yoosung [black star]

Aku kesiangan!

Semalam lupa pasang alarm

[yoosung cry sticker]

Jumin Han

Bagaimana bisa kamu menyempatkan membuka messenger padahal kamu bangun terlambat?

MC

Bukankah jam masuk masih satu setengah jam lagi?

Yoosung [black star]

Entahlah

Itu sebuah misteri...

Jumin Han

Tapi dia kelas 3 SMP, jadi jam masuknya satu jam lebih cepat

Karena ada simulasi ujian

Yoosung [black star]

[yoosung cry sticker]

707

Cepat siap-siap sana! Udah tau telat

Malah maen hp

Aku udah mandi dan sarapan dong

Aku anak baik [dialog box with seven eyeglasses]

Yoosung has left chatroom

Unknown has entered chatroom

Unknown

Bohong

Dia baru bangun tidur

[photo of Saeyoung nap on his bed]

ZEN

LMAAOOOO!

Jaehee Kang has entered chatroom

Jaehee Kang

Mr. Han, ternyata anda disini

Anda tidak mengangkat telepon dari saya

Jangan seenaknya menyuruhku untuk mengoreksi tugas murid-muridmu

Jumin Han has left chatroom

ZEN

Si br*ngsek itu!

Walau karena pekerjaan di bukan hanya mengajar disini, itu bukan alasan dia untuk seenaknya menyuruh-nyuruh Jaehee

[zen angry sticker]

Sudah ya, aku mau mandi dulu

[photo of Zen just used towel in his waist]

Sampai jumpa di sekolah

ZEN has left chatroom

Jaehee Kang

[jaehee sigh sitcker]

OH MY GOD! BADANNYA ZEN!

*simpen*

Unknown

Saeyoung, bangun lu

Kalo gak, gue siram lagi kayak kemaren

707

Tydaaaack!

Jangan lakukan itu lagi kepadaku!

[orz Saeyoung sticker]

Unknown has left chatroom

707 has left chatroom

Jaehee Kang

Lucu sekali

Mereka 'kan satu kamar

MC, sebaiknya kamu juga bersiap-siap

Jangan sampai terlambat di hari pertamamu bersekolah

MC

Baiklah, terima kasih Mrs. Kang

Jaehee Kang

Kau boleh memanggilku Jaehee jika di luar sekolah atau di chatroom ini

Sampai jumpa di sekolah

MC

Sampai jumpa

Jaehee Kang has left chatroom

MC has left chatroom

Chatroom mode OFF

.

Back to MC POV

Aku bersiap-siap pergi ke sekolah. Mandi, mengenakan seragam baruku, dan juga merapihkan rambutku. Kemudian aku sarapan di ruang makan asrama putri. Makanan sudah disiapkan oleh koki disini, jadi seluruh siswa tinggal makan saja. Setelah makan aku kembali ke kamar untuk mengambil tas dan pergi ke gedung sekolah.

.

Aku masuk ke ruang guru karena ini untuk bertemu dengan wali kelasku.

"Permisi"

"MC, selamat pagi. Mr. Han sudah menunggumu di ruangannya"

"Selamat pagi Mrs. Kang. Dimana ruangan Mr. Han?"

"Ah dia 'kan wakil kepala sekolah bagian akademik, dan aku wakil kepala sekolah bagian administrasi, jadi wajar kalau punya ruangan sendiri. Kami jarang ada di ruang guru walau kami punya meja kerja juga disini, kami lebih sering berada di ruangan kami. Biar aku antar ke ruangan Mr. Han, aku baru saja dari ruangannya padahal"

Jaehee mengantarkanku ke ruangan Jumin. Ia mengetuk pintu dan masuk ke ruangan

"Ada apa lagi Mrs. Kang?"

"Aku hanya mengantarkan muridmu, selanjutnya aku mohon permisi Mr. Han"

Jaehee langsung keluar dari ruangan Jumin. Entah kenapa berada di ruangan ini rasanya membuatku gugup.

"Selamat pagi Mr. Han, saya mohon bimbingan anda sebagai wali kelas saya di hari pertama saya bersekolah"

"Kelas akan dimulai sepuluh menit lagi, kau duduk saja dulu MC"

Aku duduk sesuai dengan suruhan Jumin. Ruangan ini tidak besar, tapi tidak sempit juga. Ada sebuah sofa dan meja kecil. Lalu meja kerja, lemari buku, dan juga sebuah toilet.

Sebenarnya aku ingin bertanya kepada Jumin, tapi melihatnya sibuk seperti ini membuatku tidak berani melakukannya.

"Ada yang mau kau tanyakan MC?"

"T- tidak ada"

Jumin berhenti mengoreksi tugas dari murid-muridnya. Ia meletakkan penanya dan berdiri dari kursinya. Entah ia menundanya atau memang sudah selesai.

Aku hanya diam duduk di kursi dan memerhatikan Jumin. Ia melihat figura foto di mejanya dan meletakkannya kembali kemudian ia mendekatiku. Ia memerhatikan kedua mataku. Apa ada yang salah denganku?

"Aku kira bola matamu sehitam permata onyx, ternyata hazelnutt. Tapi itu indah"

Kenapa dipuji Jumin rasanya membuatku bahagia tapi tetap gugup. Aku melampiaskan gugupku pada tas sekolah yang aku peluk. Setidaknya itu mengurangi sedikit rasa gugupku.

"Elizabeth 3rd bola matanya biru, indah sekali. Aku berharap segera pulang dan bermain dengannya"

Jumin akhirnya mengakhiri jarak dekat kami. Ia mengambil beberapa buku dan hendak keluar.

"Ayo kita ke kelasmu"

.

.

"Hari ini kita kedatangan murid baru. Namanya MC. Silahkan perkenalkan dirimu"

"Aku MC, salam kenal semuanya"

Aku masih gugup karena pujian dari Jumin di ruangannya tadi. Sampai-sampai aku tidak fokus dengan apa yang kini Jumin ucapkan kepada murid-murid di kelas ini yang sebentar lagi akan berteman denganku.

"MC, ada bangku kosong di kolom ketiga baris ketiga. Silahkan duduk"

Aku pergi menuju bangku kosong yang ditunjuk Jumin. Beruntung aku mendapat tempat duduk yang ideal. Tidak terlalu depan atau tidak terlalu belakang.

Sesuai dengan perkenalan di RFA kemarin, aku menemukan Saeyoung di kelasku. Ia duduk di kolom kedua baris terakhir dari arah pintu masuk kelas. Saeyoung terlihat masih mengantuk walau matanya terjaga.

Setelah duduk di tempatku, Jumin memulai pelajaran. Aku mengambil buku matematika dari tas, buku catatan, dan juga tempat pensil.

Aku fokus belajar. Jumin mengajar dengan langsung masuk ke inti pembelajaran tanpa bertele-tele. Aku langsung mengerti.

SYUUT~

Sebuah kapal kertas mendarat di mejaku. Arahnya dari sebelah kananku dan ia datang dari belakang. Tidak salah lagi Saeyoung.

Jumin sedang mencatat di papan tulis dan aku memanfaatkannya untuk melirik Saeyoung. Ia menirukan gestur membuka buku dengan kedua telapak tangannya. Ketika aku mengerti, dia membuat bentuk bulat dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Aku menghadapkan kepalaku ke depan kembali dan memberi tanda yang sama kepada Saeyoung.

Aku membuka kapal kertas tersebut diam-diam agar tidak dilihat guru. Aku ingin tertawa karena apa yang ia tulis.

Seharusnya yang mengajar di depan itu bukan Jumin, tapi Elly

Secarik kertas tersebut ditandai dengan gambar animasi yang ia gambar sendiri dengan pulpen berwarna. Aku mengambil sticky note dari dalam kotak pensilku yang berwarna merah dan membalas pesannya. Aku mengendap-endap dari guru untuk mengirimkannya kepada Saeyoung.

Dia akan mengajari kita dengan bahasa kucing. Meow meow meow meow meow meow~

Tak lama, aku mendapatkan origami kucing di atas mejaku entah darimana datangnya. Aku mengabaikannya karena guru. Tapi lama kelamaan aku kepo juga dengan isinya. Aku membacanya diam-diam namun tidak berniat untuk membalasnya.

Elly~ aku kangen Elly. Aku ingin menikahinya dan pergi bulan madu di stasiun luar angkasa

Tidak lupa disertai dengan gambaran absurd dari Saeyoung yang menggambarkan ia memakai gaun pengantin dan menikah dengan seekor kucing di luar angkasa.

Aku mengabaikannya dan kembali fokus kepada pelajaran. Jumin selesai memberikan materi dan kini bagian latihan dan sesi tanya jawab. Oleh karena itu ia tidak diam di depan kelas saja, tapi sambil berkeliling ke meja murid-muridnya.

"Luciel, coba selesaikan soal halaman 25 nomor 7 c"

Saeyoung mengerucutkan bibirnya karena disuruh oleh Jumin. Ekspresi mukanya lucu. Ia tidak

"Tidak boleh liat rumus atau materi!"

Aku mengkhawatirkan Saeyoung karena ia tidak sama sekali memerhatikan Jumin ketika pelajaran. Aku yang fokus memerhatikannya saja belum tentu bisa menjawabnya dengan benar.

Saeyoung mengambil kapur yang disodorkan Jumin kepadanya. Kemudian ia mengambil buku pelajaran dan pensil miliknya lalu maju ke depan.

"Tentukan kuartil atas, bawah, dan tengah dari data tidak berurut di bawah ini"

Aku bisa melihat Saeyoung yang sedikit kebingungan. Namun ia tetap mengerjakan soal yang ada di buku tersebut. Ia mecoret-coret buku pelajarannya, mungkin ia mengurutkan datanya terlebih dahulu.

Buku pelajaran berpindah jadi fokus pandanganku. Aku kaget melihatnya karena data tidak berurut ini lumayan banyak. Memakan waktu yang lama untuk mengerjakan soal ini. Apalagi Saeyoung tidak memerhatikan pelajaran sama sekali.

Setelahnya, Saeyoung menaruh buku dan pensilnya di meja guru. Ia mengerjakan jawabannya di papan tulis sambil melihat soal di buku pelajarannya dan menghitungnya disana hingga tuntas.

"Jawabanmu benar. Silahkan duduk dan berhenti main-main dengan MC ketika pelajaranku"

Ternyata Jumin mengetahuinya. Saeyoung hanya bisa tertawa miris sedangkan aku berpura-pura membaca buku walau otakku tidak memikirkan pelajaran. Setelahnya, Saeyoung kembali ke bangkunya dan ia mulai serius.

Aku tidak berani mengganggunya dan diriku kembali fokus pada pelajaran. Mengerjakan soal-soal matematika hingga pelajaran selesai.

.

Jam istirahat pelajaran pertama, aku menghampiri Saeyoung ke mejanya dan ia sedang tertidur. Aku tidak berani membangungkannya tapi ketika aku hendak pergi, Sayeoung menggenggam pergelangan tanganku.

"Aku minta tolong untuk mengantarkan ini untuk Saeran, dia ada di kelas sebelah atau di ruang OSIS. Aku mau tidur dulu sebentar"

Istirahat jam pelajaran pertama hanya 15 menit. Aku segera bergegas ke kelas Saeran namun tidak mendapatinya di kelas dan langsung pergi ke ruang OSIS sesuai dengan perkataan Saeyoung.

Di depan pintu ruang OSIS, aku bisa melihat siluet Saeran dari pintu kaca yang buram. Aku mengetuk pintu dan Saeran mengizinkanku untuk masuk ke dalam.

Dia benar-benar mirip Saeyoung...

Saaeran melihat ke arah lapangan dari jendela yang terbuka. Angin musim semi menerpanya dan membiarkan helaian rambutnya dibelai hembusan angin. Saeran memejamkan kedua kelopak matanya. Ia benar-benar menikmati moment tersebut.

"Aku sangat tertolong. Terima kasih MC"

Aku tidak tahu sebenarnya apa isi bungkusan yang diberikan Saeyoung terhadapku. Aku hanya dipinta untuk mengantarkannya untuk Saeran. Saeran mengambilnya dan bungkusan tersebut ternyata botol cairan softlense.

Ia langsung memakainya. Meneteskannya ke bola matanya yang berwarna hijau. Sejak kemarin, aku belum pernah melihat bola mata aslinya. Tapi mungkin mirip dengan bola mata Saeyoung yang berwarna kuning madu.

"Kau harus tahu, hanya member RFA yang tahu bahwa kita sebenarnya adalah kembar. Aku sengaja menjauhkan diri darinya di sekolah walau di asrama kami begitu dekat"

Sebenarnya aku ingin bertanya lebih jauh tapi itu aku tidak mau turut campur dalam urusan keluarga oranglain.

"Jam istirahat pertama hanya sebentar, kau harus segera kembali ke kelasmu"

Saeran begitu dingin tapi aku tahu, sebenarnya ia kesepian. Aku mengikutinya dari belakang dan kembali ke kelasku sendiri.

.

Jam istirahat makan siang

Tidak ada yang buruk di hari pertamaku bersekolah disini. Semuanya baik-baik saja. Tapi...

Kafetaria di saat jam istirahat makan siang itu buruk

Aku lama mengantri makan siang walau akhirnya kau mendapatkan paket makan siang dari sekolah. Aku tidak kuat makan disana dan mencari tempat untuk makan siang.

Keputusannku jatuh di tempat ini. Di halaman sekolah yang letaknya dekat dengan kelasku walau kelasku ada di lantai dua. Kelasku berada di gedung yang dekat dengan lapangan sepakbola. Aku makan sendirian di bawah pohon rindang dan tak lama Yoosung menghampiriku.

"MC!"

"Yoosung"

"Kamu sendirian? Bagaimana kalau kita makan siang bersama?"

"Baiklah"

Aku dan Yoosung memakan makanan masing-masing. Yoosung nampaknya tidak senang dengan menu makanan yang disediakan disana.

"Makanan kafetaria rasanya tidak enak"

"Tapi ini sehat, bergizi seimbang, dan tidak ada bumbu penyedap"

"Makanan sehat tapi tidak enak. Aku tadi kesiangan jadi tidak sempat membuat bekal sendiri"

Yoosung memakan makanannya dengan sedikit kesal. Ia mengeluhkan rasanya tapi ia tetap memakannya. Itu lucu. Wajahnya juga lucu, ia seperti anak kecil yang sedang marah-marah sendiri. Aku tertawa karenanya.

"Yoosung bisa memasak?"

"Jangan menertawakanku! Kamu gak percaya kalau aku bisa masak? Nanti suatu hari akan kubuatkan bekal untukmu"

"Terima kasih Yoosung. Aku tertawa bukan karena aku meragukanmu tapi karena wajahmu imut sekali"

Aku bisa melihat rona merah di pipi Yoosung tapi ia menggembungkan pipinya.

"Aku gak imut! Aku ini laki-laki tahu! Nanti kalau aku sudah besar, aku akan tumbuh lebih besar dari Jumin!"

Yoosung langsung meminum susu kotaknya dalam sekali sedot dan menghabiskan makanannya dengan cepat. Aku ingin tertawa karena sikapnya yang lucu tapi aku menahannya karena tidak mau membuatnya kesal walau wajah kesalnya itu lucu.

Aku makan seperti biasa. Yoosung tetap di sampingku dan memerhatikanku ketika makan. Aku jadi gugup.

"Kenapa?"

"Aku memerhatikanmu"

"Ada yang salah denganku memangnya?"

"Gak tau. Aku hanya ingin saja"

Aku mengabaikannya sebentar dan memakan makananku. Kemudian aku melihat Yoosung yang duduk di sampingku. Dia nampak murung.

"Kamu kenapa?"

"Aku merindukan Rika. Tepat di pohon ini kita biasa menghabiskan waktu makan siang bersama dan terkadang ia menyuapiku. Dia kakak sepupuku tapi aku menyukainya"

Aku mengerti dan hanya diam. Sebuah inisiatif muncul di benakku dan aku langsung melakukannya.

"Aaaa~ katanya kamu mau tumbuh besar? Kalau mau tumbuh besar kamu juga harus makan yang banyak"

"Aku bukan anak kecil!"

Itu adalah suapan terakhir dari makananku dan makan siangku sudah aku habiskan. Aku meminum jus kotak dan menghabiskannya. Kemudian fokus dengan penampilan seragam Yoosung.

"Kalau bukan anak kecil, kamu harusnya bisa berpakaian rapih ke sekolah. Kamu pakai dasi tapi kancing atasmu masih terbuka dan dasinya pun berantakan"

Aku merapikan dasi dan kemeja sekolah Yoosung. Rambutnya juga sedikit acak-acakan dan aku merapihkannya dengan jariku. Dia diam saja aku perlakukan demikian seperti anak baik yang penurut.

"Lima belas menit lagi bel masuk, kafetaria SMP dan SMA bersebelahan, kita pergi bersama saja mengembalikan piring makanan ini"

Aku dan Yoosung berdiri. Kemudian, baru tiga langkah kaki ada makhluk besar yang terjatuh dari atas pohon.

"Sae- Luciel!"

"Kamu tidak apa-apa? Luciel?"

Aku terkejut. Saeyoung terjatuh dari atas pohon, tapi bukannya mengaduh kesakitan ia malah mengambil bando telinga kucing dan mengenakannya.

"Aku tidak apa-apa. Aku 'kan kucing. Tubuhku lentur. Meow!"

Aku tidak mengerti apa maksudnya. Di sampingku, Yoosung menghela nafas. Ia mengabaikan Saeyoung dan mengajakku untuk pergi ke kafetaria untuk mengembalikan piring alumunium dari kafetaria.

"Luciel itu bukan manusia, dia alien! Jadi wajar saja dia seperti itu. Ayo kita tinggalkan dia MC. Dia tidak apa-apa"

"Ta- tapi Saeyoung"

Aku tidak tega meninggalkan Saeyoung begitu saja. Sehebat apapun dia, orang biasa yang jatuh dari ketinggian dua meter lebih tetap saja berbahaya.

"Kalian jahat meow. Masa aku diabaikan meow. Punggungku sakit meow"

"Yoosung, kau tidak boleh begitu terhadap Luciel"

Aku meletakkan piring kafetaria di rumput dan membantu Saeyoung.

"Betul meow!"

Punggung Saeyoung yang membungkuk aku elus dengan tangan kiriku. Kedua tangan Saeyoung tetap ia tirukan seperti gerakan kucing.

"Aku ingin disembuhkan dengan Yoosung meow!"

"Gak mau!"

Yoosung langsung menolak dan Saeyoung merengek minta disembuhkan oleh Yoosung. Mencakar-cakar kaki Yoosung dengan kedua tangannya yang kukunya tidak tajam. Ia terus mengganggu Yoosung sampai Yoosung kesal dan menyetujuinya.

"Baiklah! Sini!"

Saeyoung terkikik senang dan membalikkan badannya. Yoosung mengelus punggung Saeyoung. Aku terkikik dibalik sebelah lengan yang menutupi mulutku.

"Lebih keras"

Yoosung memutar kedua bola matanya. Ia mengelus punggung Saeyoung dengan lebih keras. Ketika telapak tangan Yoosung berada di dekat bahu Saeyoung, Saeyoung menyuruhnya untuk berada di posisi yang Saeyoung maksud.

"Ke atas sedikit. Nah iya disitu meow"

Yoosung mengelus bahu Saeyoung sesuai dengan keinginan Saeyoung. Ia melakukannya dengan tidak ikhlas.

"Lebih keras lagi meow"

Yoosung kesal dan mencengkram bahu Saeyoung dengan keras.

"Nah begitu. Meow. Meow. Meow~"

Rasa kesal Yoosung semakin memuncak dan akhirnya ia memukul keras punggung Saeyoung.

"Bilang aja kamu masuk angin pengen dipijat!"

"Sakit meow! Manusia memang jahat meow!"

Yoosung menghela nafas dan duduk di samping Saeyoung. Aku tetap duduk di samping Saeyoung.

Suasana sunyi. Hanya ada suara hembusan angin musim semi yang bertiup. Tidak ada yang mengeluarkan suara diantara kami bertiga. Namun akhirnya suasana pecah dengan suara Saeyoung.

"Baiklah. Ayo kita atur posisi. Semuanya berdiri"

Aku dan Yoosung mengikuti arahan Saeyoung. Kami bertiga berdiri di bawah pohon rindang ini. Entah pohon apa namanya.

"Pertama bawa peralatan kalian masing-masing"

Kami mengambil piring alumunium kafetaria yang berbentuk persegi panjang.

"Biarkan aku membetulkan posisi kalian dulu"

Aku tidak mengerti maksudnya tapi aku menurut saja. Aku percaya dia tidak akan melakukan hal aneh-aneh terhadapku. Tapi entah kalau terhadap Yoosung.

"Ini disini"

Saeyoung mengambil piring kafetaria di tanganku dan menumpukkannya di atas piring kafetaria yang dipegang Yoosung.

"Yoosung Kim berbalik ke arah sana"

Saeyoung memegang bahu Yoosung dan mengarahkannya ke arah kafetaria.

"Kemudian MC berbalik ke sana"

Aku diarahkan ke arah yang sama dengan Saeyoung. Kini Saeyoung tepat berada di depanku.

"Oh iya, perlengkapanmu adalah ini. Kamu satu spesies denganku untuk sementara meow!"

Kemudian ia memakaikanku bando kuping kucing. Sama dengan yang dikenakan Saeyoung. Ia menggenggam pergelangan tanganku dan melambaikan tangan ke arah

"Dadah!"

Saeyoung berlari dan aku dipaksa untuk mengikutinya entah kemana. Larinya cepat. Beruntung aku masih bisa mengikuti kecepatan lari Saeyoung walau melelahkan.

"Luciel! Jangan kabur bersama MC!"

Aku tidak bisa melihat Yoosung yang berada di belakangku. Tapi dari suara teriakannya, ia sangat kesal sekali terhadap Saeyoung.

Walau pandanganku hanyalah punggung Saeyoung, tapi aku bisa melihat ia tertawa jahil

Saeyoung berhenti di deretan loker-loker siswa. Aku yang mengikutinya pun ikut berhenti karenanya.

Saeyoung melepaskan bando kuping kucing di kepalanya dan juga di kepalaku. Ia memasukkannya ke dalam loker miliknya dan mengajakku untuk kembali ke kelas.

"Sudah aman! Ayo kita ke kelas MC"

Aku mengikutinya tapi sepertinya ia teringat dengan sesuatu karena langkahnya tiba-tiba saja terhenti.

"Kamu duluan saja deh, aku mau ke toilet"

Ia nampak terburu-buru. Waktu istirahat kurang dari lima menit lagi, wajar saja kalau ia terburu-buru. Sebaiknya aku juga harus cepat-cepat kembali ke kelas.

.

Normal POV

"Huft, mentang-mentang mereka satu kelas"

Yoosung berjalan sendiri ke kafetaria dan menaruh piring kotor di tempat yang sudah disediakan.

"Saeyoung. Kenapa ia senang sekali menjahiliku sih! Member RFA 'kan gak cuma aku aja!"

Wajah Yoosung nampak kesal. Ia selalu menjadi korban keisengan Saeyoung. Salahkan Yoosung yang begitu polos dan mudah percaya sehingga ia mudah dijahili.

Normal POV end

.

Sesampainya di kelas, aku membuka handphoneku untuk mengirimkan pesan kepada Yoosung.

MC

Maaf, karena Saeyoung, kamu jadi harus mengantarkan piring makanku ke kafetaria

.

Tak lama, Yoosung membalas pesan dariku.

Yoosung

Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan sama sekali.

Tapi aku kesal karena Saeyoung terus-terusan menjahiliku T.T

Aku bersyukur karena tahun depan, aku tidak akan satu sekolah lagi dengannya!

.

Aku tidak bisa membalas pesan darinya karena guru sudah masuk. Saeyoung datang bersama guru dengan membawakan beberapa buku milik guru tersebut dan setelahnya ia kembali duduk di bangkunya.

Guru memulai pelajaran dan aku mengambil buku pelajaranku di bawah bangku. Kemudian aku menengok ke belakang untuk melihat Saeyoung.

Dia sama sekali tidak berminat pada pelajaran ini tapi ia tetap membuka buku pelajaran dan mengikuti pelajaran dengan baik.

.

SKIP TIME

Akhirnya pelajaran hari ini berakhir juga. Aku bosan karena tidak dibolehkan mengikuti kegiatan klub dan berakhir diam saja melihat Yoosung yang sedang bermain sepak bola di bawah sana.

Dia terlihat ceria bermain bersama teman-temannya. Aku hanya memerhatikan dari jendela kelasku yang terbuka tapi ternyata ia melihatku. Ia melambaikan tangannya kepadaku dan aku hanya tersenyum sambil membalas lambaian tangannya. Beberapa temannya mengarahkan pandangannya kepadaku sebentar dan mereka kemudian bertanya kepada Yoosung. Sepertinya Yoosung menjawab sekenanya dan mereka lanjut bermain bola kembali.

Bosan di kelas, aku hendak pulang saja ke asrama. Tapi aku mendengar suara merdu laki-laki yang sedang menyanyi.

Like sun in the sky

I'm always here

Aku penasaran dengan siapa yang menyanyi dan mencari arah datangnya suara merdu itu.

Brightening... The world you breathe and live in

Anywhere you go

You can feel my gentle love

Aku mencari ke kelas-kelas tapi tidak ada yang sedang bernyanyi. Atau yang ku dapati hanyalah kelas kosong tanpa penghuni.

Aku sampai di depan ruang musik. Pintunya terbuka. Disana ada seseorang yang sangat aku kenali karena sesama member RFA. Tentu saja, siapa lagi yang bisa bernyanyi semerdu itu selain dia.

"Zen?"

"MC? Kamu tidak pergi ke asrama atau ruang klub?"

Aku heran dengan pilihan yang terakhir. Semua member RFA tentu tahu kalau aku tidak diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan klub.

"Kita tidak boleh menyebutkannya di sekolah, mengerti?"

Zen berbicara dengan suara yang kecil.

"Baiklah"

Aku mengerti yang ia maksudkan. Apa lagi kalau bukan RFA?

"Apa kamu bisa bernyanyi atau bermain musik?"

"Aku sudah lama tidak memainkannya, jadi aku tidak tahu apakah aku bisa bermain dengan baik atau tidak"

"Itu tidak penting, yang penting adalah kamu menikmatinya"

Tetap saja kalau tidak bagus itu tidak indah untuk di dengar. Hanya menambah polusi suara.

Aku duduk di bangku piano dan menekan tuts-tuts piano. Martil menggetarkan dawai-dawai di dalam badan piano yang menggemakan suara yang masuk. Menginjak pedal untuk mengatur suara lantang dan jernihnya.

Lagu yang aku mainkan adalah lagu yang tadi dinyanyikan oleh Zen. Sehingga Zen dapat meneruskan nyanyiannya dan kini diiringi dengan sebuah alat musik. Ia duduk di sampingku dan melanjutkan nyanyiannya.

If you ever feel the could wind

And you hide in your home alone

Look to the sky i'am always here with you

Aku tahu lagunya dan ikut bersenandung sambil memainkan tuts-tuts piano. Lagunya enak di dengar di telingaku dan aku hafal lirik dan nadanya.

Your loneliness can blind you

To the joys of your days

Come out i'm the rays of the sun keeping your heart calm

Ever more...

Baru dua menit memainkannya dan aku merasa tidak enak pada jari-jariku. Jari-jariku terasa kaku.

"Kenapa berhenti?"

"Jariku terasa kaku"

"Biarku lihat"

Zen meraih kedua telapak tanganku. Entah kenapa jadi sedikit gugup. Tangan Zen sedikit kasar, mungkin karena ia memainkan gitar. Tapi tidak tahu juga.

"Tak apa, tanganmu bagus karena sering digunakan untuk bekerja keras"

Apa Zen seorang peramal telapak tangan? Yang dia katakan memang benar. Aku sadar kalau aku tidak pintar, karena itu aku mesti bekerja keras dalam hal apapun itu. Belajar, bermain musik, dan hal lainnya.

"Ruang musik bukan tempat bermesraan berdua dengan MC, Hyun Ryu"

Aku dan Zen kaget. Ia kemudian melepaskan tangannya dariku. Kami menoleh pada asal suara dan yang mengatakan kalimat itu ternyata Jumin.

Zen langsung menghampiri Jumin. Entah kenapa feelingku tidak enak. Aku lihat, Zen dan Jumin sering bertengkar di chatroom. Semoga saja tidak mereka lakukan ketika di sekolah.

"Hatsyii~"

"Hyun, dhahabt 'iilaa almuqr, alan"

"Ju- Mr. Han, aku gak ngerti bahasa arab!"

Jumin menghela nafas dan segera berbicara dengan bahasa yang lain.

"jetzt ging an die Zentrale"

Jumin pergi tanpa berniat masuk ke ruang musik.

"Aku masih ada pekerjaan, aku akan menyusul"

Zen menghampiriku dan mengajakku keluar dari ruangan musik.

"Huft, terkadang aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiran mereka. Ayo MC"

"Kemana?"

"Tentu saja ke AFR"

Tanpa banyak bicara, aku mengikuti Zen. Aku tidak mengerti kenapa juga Jumin harus berbicara kepada Zen dengan bahasa asing atau Zen yang membalikkan nama RFA. Ada beberapa hal ganjil menurutku di RFA tapi aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk bertanya.

Zen mengajakku ke jalan yang tidak aku kenal. Ini mengingatkanku pada kali pertama aku ke secara tidak sengaja pergi ke markas RFA dengan mengikuti Yoosung.

"Jangan berbicara sebelum aku izinkan kamu berbicara, oke babe?"

Aku menyetujuinya dengan sebuah anggukan kepala. Aku mengikuti Zen dari belakang. Kami turun ke lantai satu. Pergi ke gudang sekolah dan masuk kesana.

Di dalam sana penuh dengan barang-barang. Zen menyingkirkan barang-barang yang menghalangi jalannya kemudian ia menggeser pintu lemari dan dibaliknya muncul lift.

Zen mengeluarkan ID card bertanda RFA dari jas sekolahnya. Menghadapkan ID card tersebut ke scanner di samping lift dan pintu lift terbuka. Zen masuk ke dalam lift dan aku pun mengikutinya.

Masih banyak hal yang belum aku ketahui tentang RFA. Termasuk akses ke markas RFA yang begitu rumit.

"Ada yang mau kau tanyakan?"

Zen bertanya dan tentu ia mengharapkan respon. Aku sudah diperbolehkan untuk berbicara. Aku sebenarnya bingung apa yang harus aku tanyakan terlebih dahulu.

"Sebenarnya RFA itu apa?"

"Daripada disebut organisasi, sepertinya lebih cocok disebut kelompok. Seperti kelompok pertemanan di dalam kelas. Tapi kau lihat sendiri kan? Ada guru yang terlibat, anak SMP, anak SMA, sedikit aneh. Oleh karena itu kami merahasiakan RFA, terutama kami sangat berhati-hati jika berinteraksi dengan sesama anggota RFA"

Aku mulai mengerti mengapa akses menuju RFA itu rumit adalah karena merahasiakan keberadaan RFA itu sendiri. Status para anggotanya sendiri yang menjadi alasan kerahasiaan itu.

"Ada lagi yang mau kau tanyakan?"

Aku ingin mengenal lebih dekat dengan semua member RFA.

"Yoosung orangnya bagaimana?"

"Yoosung? Dia sangat tergila-gila dengan game yang dinamakan LOLOL. Dia yang paling muda diantara kami dan dia masih SMP"

Pintu lift terbuka dan mengantarkan akses ke lorong bawah tanah yang gelap. Zen mengambil penerangan dan aku mengambil smartphone untuk menambah terang pencahayaan. Kemudian aku lanjut bertanya.

"Bagaimana dengan Saeyoung dan Saeran?"

"Aku benar-benar bingung apakah mereka benar-benar kembar? Hanya fisik mereka yang mirip, selebihnya tidak. Kakaknya alien sedangkan adiknya manusia normal. Yang satu hyper, dan yang lainnya pendiam. Tapi keduanya hebat dalam bidang mereka masing-masing"

Semua member RFA memiliki karakter dan gaya mereka masing-masing. Aku bahkan hampir tidak percaya kalau mereka semua bisa berteman dan membuat kelompok seperti ini.

Aku dan Zen masih harus berjalan entah sampai kapan. Aku masih belum menemukan tanda-tanda markas RFA sudah dekat.

"Lalu, Jaehee?"

"Jaehee... dia seorang pekerja keras. Di usianya yang muda, dia sudah menjadi wakil kepala sekolah. Tapi dia terlalu baik. Dia mau-maunya merawat kucing Jumin jika Jumin harus pergi ke luar kota! Dia orang paling sabar yang pernah aku kenal"

"Bagaimana dengan Jumin sendiri?"

"Guru nyebelin yang udah motong rambut panjangku! Dia tuh orang brengs*k jadi gak usah deket-deket sama dia. Abaikan saja, gak usah mencoba mengajaknya berbicara"

Zen terlihat membenci Jumin, jadi wajar saja ia berpendapat demikian terhadap Jumin.

"Lalu, menurutmu kamu orang yang seperti apa, Zen?"

"Pria yang sempurna? Aku gak tahu lagi harus bagaimana. Aku tampan, bisa acting, bisa nyanyi, bisa dance. Dari awal aku memang sudah sempurna. Aku adalah puisi yang dapat memesona setiap wanita"

Menurutku Zen itu narsis. Tapi apa yang ia katakan memang benar. Aku akui dia tampan. Semua yang dia katakan memang benar adanya.

Setitik cahaya muncul. Itu adalah penanda bahwa markas RFA sudah dekat. Aku bersyukur karena lorong bawah tanah yang gelap tidak aku sukai.

"Villa RFA sudah dekat babe"

Setelah beberapa langkah kaki, aku dan Zen menginjakkan kaki di atas rumput hijau halaman RFA. Aku melihat langit senja yang indah sekali. Aku terpukau dengan keindahannya sampai-sampai aku hampir lupa kalau tempat ini terletak di bawah tanah. Sebuah ruangan dengan kubah besar yang di rancang sedemikian rupa sehingga nampak seperti taman buatan di dalam ruang bawah tanah. Aku baru menyadarinya sekarang.

"Sebenarnya ini dimana?"

"Di ruang bawah tanah sekolah kita, ayo masuk babe"

Aku berjalan di rerumputan yang luas dengan Zen yang berada di depanku. Pintu masuk villa RFA ada di hadapan Zen dan tanpa Zen, aku tidak bisa masuk kesana. Hanya ada dua cara masuk ke RFA. Dengan scan QR kode yang berada di setiap nametag anggota RFA atau memasukkan kode yang rumit seperti yang aku lakukan kemarin. Tapi aku belum punya nametag RFA dan catatan kode rumit yang tertera di sticky note kemarin diambil oleh V beserta dompet dan seluruh isinya.

Zen menghadapkan nametag RFA miliknya ke alat pemindai dan tak lama pintu terbuka. Disana sudah ada Yoosung dan Saeyoung.

"Masa begini doang gak bisa sih? Ini tuh lebih cepat pakai cara yang tadi"

"Aku benci matematikaaaa~"

Aku tertawa terkikik melihat mereka berdua. Zen menghampiri mereka dan aku pun mengikutinya. Ia mengelus kepala Yoosung sambil tersenyum.

"Yoosung harus belajar yang rajin, kamu tidak mau 'kan harus menambah waktu belajarmu selama satu tahun di SMP?"

"Zen jahat! Padahal kau itu nilainya rata-rata! Aku masih lebih pintar darimu! Nilaiku lebih bagus darimu!"

"Tapi kau itu tidak lebih tampan dariku"

Tak lama Jaehee datang dan menghela nafas karena melihat Zen, Saeyoung dan Yoosung yang selalu seperti biasa.

"Jaehee!"

"MC! Bagaimana hari pertama sekolahmu disini?"

Jaehee bertanya padaku. Alibi ia mengajakku keluar dari keributan tidak penting Saeyoung, Yoosung, dan Zen. "Menyenangkan, Jaehee kau nampak lelah"

Helaan nafas terhembus dari mulut Jaehee. "Menjadi guru atau pegawai kantoran sama lelahnya. Apalagi Ju- Mr. Han itu! Seenaknya saja menyerahkan pekerjaan anak-anak terhadapku. Aku ini guru ekonomi kenapa juga harus mengoreksi tugas matematika!"

"Jumin tidak seharusnya seenaknya-"

Tanpa disadari Jumin datang dan ikut berbicara dengan kami.

"Maafkan aku As- Jaehee. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku ada urusan bisnis di luar kota dan itu tidak bisa ditinggalkan"

Awalnya MC atau Jaehee ingin menanggapi, tapi semua terpaku diam karena V yang datang bersama Saeran.

"Selamat sore semuanya, ada hal penting yang ingin aku sampaikan"

Semua anggota RFA berhenti dari semua perbincangan dan fokus kepada V.

"Satu bulan dari sekarang, OSIS akan mengadakan festival musim panas tahunan"

Pentingkah pengumuman tersebut? Aku melihat reaksi anggota yang lain dan nampaknya mereka biasa-biasa saja dengan pemberitahuan dari V.

"RFA akan berpartisipasi dalam acara ini dengan tujuan sosial, bukan hanya sekedar bersenang-senang saja"

Saeran mohon izin untuk berbicara. "Acara terakhir kita adalah satu setengah tahun yang lalu. Setelah itu, kita tidak punya kegiatan lain selain chatting di messenger atau mengobrol di markas. Bagaimanapun, RFA itu organisasi sosial. Bukan organisasi tukang ngerumpi"

Saeran yang jarang berbicara karena ucapannya itu sedikit menyakitkan. Tapi dari situ aku bisa menilai kalau sebenarnya dia orang yang jujur.

Setelah Saeran, V lanjut berbicara. "Yang akan menjadi penanggung jawabnya adalah MC, selaku menggantikan tugas-tugas Rika disini"

Aku terkejut. Aku baru saja masuk RFA dan langsung ditunjuk sebagai penanggung jawab acara amal RFA. Apa V tidak salah menyebutkan nama?

"Apa kau ada ide tentang apa yang akan kita lakukan untuk acara amal kali ini?"

Aku bingung, namun sebuah ide langsung terlintas di pikiranku dan aku langsung mengutarakannya. "Bagaimana dengan maid cafe?"

Semua terdiam. Apa ideku terlalu aneh?

"Itu bagus juga, kreatif" Komentar dari Jumin positif, entah bagaimana komentar yang lain.

"Tidak buruk" Jaehee setuju-setuju saja.

Zen berkomentar dengan tetap "Aku akan menarik pelanggan dengan daya tarikku. Aku 'kan orang paling tampan

"Nanti gak ada ujian segala 'kan buat penempatan posisinya?" Sepertinya Yoosung muak dengan ujian.

Orang yang paling bersemangat dan antusias adalah Saeyoung "Aku mau jadi maid!"

Semua mata tertuju kepada Saeyoung. Namanya adalah maid cafe. Cafe dengan semua pelayannya adalah maid.

"Ahahaha, MC. Namanya memang 'maid cafe' tapi apa semuanya harus jadi maid? Aku rasa memakai pakaian maid itu... Aku laki-laki dan..." Kalimat Zen menggantung. Aku mengerti maksud Zen yang tidak mau menjadi maid. Pemaksa kehendak bukanlah sifatku. Jika itu terjadi, orang lain tidak akan bisa bersenang-senang di maid cafe ini.

Aku menjawab kebimbangan Zen "Kau bisa jadi butler yang memesona setiap perempuan yang datang nanti. Mungkin nama dan konsepnya akan aku sesuaikan lagi"

Semoga Zen puas dengan jawabanku.

"Itu sudah pasti" Zen menjawab dengan narsis.

"Nanti cafenya penuh dengan orang yang hanya ingin bercengkrama dengannya. Mereka hanya akan memesan minuman atau yang paling murah yang ada di menu" Komentar Jumin bernada sarkastik.

Aku tertawa miris. Jumin benar. "Akan aku pikirkan agar hal itu tidak terjadi"

"V selaku leader belum memutuskan apakah ia setuju atau tidak"

Jumin benar. Bagaimanapun semua keputusan dikembalikan lagi kepada V apakah dia setuju atau tidak.

"Kalian begitu antusias. Kalau begitu, aku menyutujui usulan MC. Tidak buruk juga"

"Baiklah kalau begitu aku catat. RFA akan membuka maid cafe di festival musim panas sekolah bulan depan"

Aku terkejut. Satu bulan? Apakah waktu yang singkat itu cukup untuk mempersiapkan semuanya?

"Kau nampak terkejut. Ada apa?"

Zen sepertinya adalah orang paling peka di RFA. Aku belum mengutarakan apa yang aku rasakan dan dia sudah menebaknya.

"T- tidak apa-apa Zen. Apa waktu satu bulan itu cukup?"

"Aku akan menyiapkan logistik, kostum, dan keperluan lainnya. Kamu hanya perlu menyusun konsep, dan menghubungi para tamu penting. Bagaimanapun, tujuan maid cafe ini adalah acara amal"

Aku pesimis. Aku ragu dengan kemampuanku tapi aku akan berusaha keras.

"A- aku akan berusaha keras"

TBC

AN: maaf updatenya lama~ dan chapter sebelumnya udah diperbaiki. Author buru-buru salah upload dokumen dan gak liat previewnya dulu *ketawa miris* pokoknya chapter sebelumnya udah di perbaiki

Maaf update lama. Author rasa, ini FF paling capek yang pernah author bikin. Sebenarnya gitu doang tapi lama banget bikinnya. *mengehla nafas* saya modal semangat saja buat terusin ini FF.

Yah ini sistemmnya kayak gamenya. Next chapter bakal ada rute Yoosung, dan chapter tersebut bakal di reset ke chapter rute Zen, dst. Moga gak bingung ^^

Btw disini gk ada chapter Rute Jaehee, tp akan digantikan dengan sesuanuu. Anu. Yah tunggu aja anunya *apa sih tor*

Last, mohon feedbacknya ^^