Naruto © Kishimoto Masashi

Hinata Hyuuga & Uchiha Sasuke

OOC, Typos.

What is Love?

Chapter 2 : Cinta itu Menuntut

Hinata menunjukkan senyuman penuh pesona ketika si Uchiha tiba di depan pintu utama rumahnya. Setengah jam sudah ia menunggu di ruang tamu, tidak ingin pintu dibuka oleh sang Pembantu. Hinata menyimpan ringisan di balik senyumannya yang memikat, ketika tidak ia temukan kendaraan apapun yang terparkir di pekarangan rumahnya yang luas.

Namun, Hinata dan etika sudah seperti saudara, saling melekat, saling mengikat. Hinata tidak bertanya, "Kau naik apa?" ketika percaya jika kesehatan ada di daftar prioritas di bungsu Uchiha.

Lain Gaara lain pula Kiba. Jika Gaara memperlakukan ia layaknya Puteri Raja yang wajib terlindung dari panas dan hujan, Kiba adalah petualang ulung yang membuat Hinata akrab dengan debu dan panas matahari. Lalu si Uchiha Sasuke ini, apa?

Mereka berhenti di halte yang berjarak puluhan meter dari rumah Hinata. Lalu bus datang, dan Sasuke Uchiha memilih bangku kosong di paling belakang.

Ketika mereka beradu pandang di depan pintu berdaun dua di rumah keluarga Hyuuga, gadis itu tidak temukan pujian tentang penampilan atau rayuan gombal yang membuatnya tersenyum malu atau pipinya bersemu. Sasuke hanya memandangnya datar, dan membawanya pergi dengan ungkapan non verbal.

Hinata memainkan kancing cardigan berwarna soft yellow miliknya. Ia membayangkan akhir pekan yang lebih berwarna dengan kencan pertamanya bersama Uchiha.

Tampan sih, iya. Namun pemuda ini sangat menyebalkan dengan lebih banyak diam.

Hinata melukiskan senyum. Belum satu jam ia bersama Sasuke, banak hal yang belum terjadi di depan, yang ia harap akan sangat sangat menyenangkan.

Sasuke memilih sebuah taman. Tempat kencan yang sangat standar. Kemudian mereka menyantap es krim, Hinata memilih vanilla yang terlalu manis dan Sasuke dengan rasa coklat tanpa toping.

Cuaca di musim panas membuat es krim mudah mencair. Ia berdalih jika mereka harus memakannya cepat sehingga tidak sempat untuk mengadu suara.

Sihir musimpanas hanya bisa melelehkan es krim dalam cup bunga-bunga, bukan interaksi di antara mereka berdua.

Hinata tidak ingin menyerah.

"Ayo kita ke game center!"

Sasuke dan mecine pengerek boneka adalah kombinasi yang payah. Pemuda itu terlihat kaku ketika memainkannya. Padahal Hinata dengan semangat menginginkan boneka panda yang mengingatkannya pada Gaara.

Masih tidak ingin menyerah.

"Ayo kita ke taman bermain!"

Meski sudah pukul tiga, meski antreannya begitu panjang, meski Sasuke terlihat keberatan, Hinata memaksa karena ia terlalu bingung harus melakukan apa dan tidak ingin kencan yang penuh dengan ekspektasi indah lenyap begitu saja. Hinata hanya ingin mewujudkannya.

Pilihan mereka jatuh pada bianglala setelah Sasuke hanya duduk-duduk saja di kursi panjang ketika Hinata menaiki komedi putar.

Hinata mengelap basah pada pelipis dengan punggung tangannya. Ia memaksakan senyum yang terlihat mengerikan ketika Sasuke menatapnya tanpa celah. "A...aku takut ketinggian," ungkap Hinata akhirnya.

"Lalu kenapa?"

"Aku hanya ingin bersenang-senang bersamamu."

"Salah. Sekarang malah sebaliknya."

Hinata merasa jantungnya yang berdetak tidak karuan ketika bianglala yang tengah mereka naiki sampai di puncak tertinggi. Bergoyang-goyang karena angin di ketinggian berhembus cukup kencang. Ia melewatkan lukisan abstrak hasil goresan kuas tuhan yang didominasi warna oranye. Hinata malah melihat tempatnya berpijak. Memelototinya seperti punya salah.

Sasuke yang duduk di depannya bangkit. Menciptakan gerakan tiba-tiba yang membuat kurungan bianglala yang ditempati mereka oleng. Hinata memekik dan memandang Uchiha horror.

Pemuda itu duduk di sampingnya. Meraih tangannya yang dingin, meremasnya, dan membawanya ke pangkuannya.

"Kau terlalu memaksakan diri."

Hinata tidak menyesal ketika melewatkan lukisan di langit. Ia bisa melihat hal yang jauh lebih indah dari itu, ketika sebuah kesempurnaan yang diciptakan Tuhan tepat berada di depannya. Uchiha Sasuke dari samping adalah mahakarya sempurna. Hidung bangir, bibir tipis, kulit putih bersih, alis dan sorot mata yang tegas.

Hinata tersenyum dengan sudut matanya yang berair. Ia tidak menyesal dengan kencannya yang semula ia kira akan berakhir membosankan. Semua terjadi melebisi ekspektasinya.

Membuat Hinata memeluk boneka beruang setinggi manusia dengan gemas. Membuat ia tersenyum ketika membayangkan bagaimana Sasuke memegang tangannya, membuat ia berkali-kali berteriak tanpa suara.

Rasanya setiap inci kasur tidurnya sudah ia jamah, sebab Hinata terus bergelindingan kesana-kemari dnegan gaun tidurnya yang berubah kusut. Setelah menimbang anatar melakukan atau menunda, Hinata temukan jawaban dan langsung meraih telepon pintar di atas nakas.

Lockscreen-nya menampilkan foto dirinya yang serupa siluet, diambil oleh Neji di sebuah penginapan di bibir pantai ketika mereka liburan akhir tahun lalu. Di sana tertera tanggal dan jam. Pukul 10.15 malam, cukup ideal untuk mengucapkan selamat malam.

Namun, Hinata lebih senang menyapa seseorang di seberang sana.

"Sasuke?"

Centang satu.

Hinata mengerucutkan bibirnya.

Ia lantas melakukan gerakan memukul-mukul puncak kepalanya dengan kedua telapak tangan secara bergantian dan berujar, "Bodoh, bodoh, Hinata bodoh."

Lalu ketika Hinata memutuskan untuk tdiur dan hendak keluar dari aplikasi chatting, centangnya sudah berubah menjadi dua, dan berwarna biru. Hinata melongo.

Beberapa detik kemudian layar smartphone-nya berubah, menampilkan panggilan masuk yang membuat Hinata dengan refleks melempar benda itu ke samping tubuhnya.

Sasuke Uchiha Calling.

Hinata mengatur deru nafasnya, kemudian ia segera meraih benda itu, swipe, lalu mendekatkannya pada telinga.

"Um... ya?"

"Ada apa?"

Hinata merasakan sengatan hangat yang sampai pada kedua pipinya. Ia berani bersumpah jika suara Sasuke melalui saluran udara jauh lebih seksi dari pada siang tadi. Terdengar berat, dan dalam.

"Bu...bukan sesuatu yang p...penting."

Sial, kegugupannya mendominasi saat ini.

"Lalu?"

Hinata menggigit bibir bawahnya, ia juga meremas seprai di dekat kakinya.

"A...aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, untuk hari ini."

"Sama-sama."

Hinata tidak tahu lagi harus berkata apa. Jika melalui aplikasi chatting, mungkin jeda yang menyiksa ini tidak akan ada. Hinata akan terus membuat pembicaraan mengalir melalui topik-topik yang akan ia kembangkan.

"Hinata?"

"Y...ya?!"

Hinata meringis setelah mengucapkan itu. Pasti nada suaranya yang menjawab dengan terkejut akan terdengar melengking dan cukup aneh.

"Kau sedang apa?"

"Hanya diam."

"..."

"Duduk. Di atas tempat tidur."

Hinata memejamkan matanya dan menggumamkan kata 'bodoh' tanpa suara.

"Haha."

Hinata seperti mengalami disorientasi ketika mendengar tawa maskulin dari seberang sana. "Hanya itu? Coba kau keluar sebentar."

Hinata bangkit seperti ibu-ibu yang menyerbu diskon, cepat dan terburu-buru. Ia membuka kunci pintu menuju balkon, dan berdiri di depan tralis setinggi dada.

"Sudah."

"Lihatlah langit, Hinata. Bintangnya banyak sekali."

Entah ini kali berapa dalam hari ini, ia mengagumi setiap apa yang telah tuhan ciptakan.

"Indah, Sasuke."

Kemudian hening.

Keheningan yang sangat nyaman, lebih nyaman dari pelukan ranjang dan teh darjeeling di kala hujan. Mereka menatap langit yang sama, saling mendengar deru helaan nafas satu sama lainnya. Damai, dan jantungnya berdebar.

"Sudah malam, Hinata."

Gadis itu memandang layar smartphonenya. Pipinya mengguarkan rona merah muda yang tipis ketika ia melihat siapa yang ada di sana, selain jam di pojok kanan.

"Kau benar."

"Sudah mengantuk?"

"Tidak. Belum."

Hening lagi.

Hinata melihat taman di bawah sana. Setiap bunga seperti memiliki cahaya berpendar, memantulkan warna oranye dari bola lampu pijar.

"Mau mendengar lullaby?"

"Ya."

Lebih dari sekedar kata itu, Hinata ingin mengatakan kalimat yang lebih banyak. Ia ingin mengungkapkan bertapa bersyukurnya ia hari ini. Ia ingin mengatakan betapa ia bahagia mendapat tawaran seperti itu dari Sasuke Uchiha.

Juga sebuah ungkapan tertahan yang sampai kapanpun tidak akan ia katakan; ia akan menangis jika Sasuke membatalkan tawarannya.

Bersama Sasuke Uchiha, cinta terasa begitu menuntut.

.

.

.

To be continued

A/N: Saya akan menulis satu cerita di setiap harinya sampai akhir tahun. Entah ide cerita baru yang random atau kelanjutan penpik ini. Saya tidak tahu dan mari kita lihat kedepannya.

Setress setengah hidup mendengar deadline tugas yang dipercepat menjadi minggu depan. Doakan saya semuanya lancar^^

Terima kasih bagi yang sudah mereview, memfav/follow cerita ini.