Sebutir obat tandas dalam raupan mulutnya, disusul desakan air bersuhu sedang, menenggelamkan sang penenang yang terberai di dalam lambung.
Selesai dengan tujuan utama, ia beralih pada benda elektronik pipih bernama ponsel. Jarinya men-scroll sebuah tajuk berita yang memampang nama diri dengan huruf kapital mencolok.
Lengan bergetar penuh amarah. Napasnya naik-turun. Mengumpat adalah pilihan utama, namun yang terjadi justru pelampiasan klise dengan meremas dan melempar gadget tak bersalah itu sampai hancur dan pecah.
Teriakan panjang dan parau mengalun di antara sunyi yang merebak.
Seseorang berjalan tergesa. Pantulan langkahnya terdengar dari jarak lima meter. Seorang pria berkemeja biru dan berambut pirang. Dia mendesah melihat bagaimana rapuh dan peliknya keadaan sang kekasih. Kakinya mendorong maju, pelan-pelan berjongkok di sebelah sosok yang sedang membungkuk di bawah lantai.
"Kalau sudah bangun mengapa tidak memanggilku?" Kelereng biru berlabuh pada ponsel rusak dan botol obat penenang yang terbuka. Ia mengembus napas panjang. Sudah hapal rasanya pada apa-apa yang akan dilakukan terkasih dalam kurun waktu sepekan ini.
Semenjak kejadian kecelakaan di lokasi syuting yang menciderai aktris cantik Haruno Sakura, Sasuke memang mudah merasa cemas secara berlebih. Ia sampai harus mengunjungi psikiater untuk meredakan stress yang menumpuk di kepala. Tak hanya itu, Sasuke juga dianjurkan mengkonsumsi pil penenang ketika gangguan-gangguan itu membuatnya gelap mata. Karena tak jarang Sasuke akan berteriak tanpa sebab, menghancurkan barang-barang di sekitar, atau yang lebih parah berdelusi bahwa ia melihat seorang bocah kecil kumal di luar jendela kamarnya. Padahal, kamar Sasuke terletak di lantai 2, dan tidak ada balkon di luar jendela itu jadi bagaimana bisa ada sosok yang terlihat di sana tanpa adanya sebuah pijakan.
Kecuali jika itu adalah penampakan sesosok hantu.
Tapi, mustahil sekali, bukan?
"Kenapa kau duduk di sini? Kau bisa masuk angin, ayo berdiri dan kembalilah berbaring di kasurmu," bujuk orang itu—Naruto. Niat hati ingin membantu Sasuke bangkit dari lantai dan berbaring di atas ranjangnya, tapi tanpa terduga Sasuke justru menepis dan mendorong dirinya menjauh sambil menjerit.
"Tidak!"
"Sasuke, ada apa?"
"Ja—Jangan mendekat!"
Kebingungan melanda. Berusaha bersikap tenang, tapi lelaki raven malah semakin histeris dengan mengusir dan memakinya. Naruto jadi kehabisan akal, tidak mungkin ia memakai kekerasan lagipula itu bukan gayanya.
"Buka matamu lebar-lebar dan sadarlah. Aku Naruto, kekasihmu. Apa kau pikir aku ini orang jahat? Atau ... hantu?" Tebakan itu sepertinya tepat pada sasaran. Terbukti dari bagaimana cara Sasuke melebarkan mata dan tersentak. Ia jadi tak habis pikir, sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai Sasuke selalu berdelusi didatangi sosok anak kumal yang penggambarannya cukup menyeramkan. Naruto lumayan merinding, faktanya ia paling takut akan hantu. Dan seharusnya Sasuke tidak. Karena si raven selalu menghujatnya paranoid, lalu sekarang? ke mana semua omongan itu menghilang?
"Kenapa kau selalu menggangguku? Kenapa kau selalu mendatangiku?" cicit Sasuke di luar kendali. Arah pandangnya terpaku pada satu titik di belakang Naruto, membuat lelaki kuning lagi-lagi merinding dan mengusap tengkuk. "Kumohon pergi ... Aku tidak kenal kau ... Tidak kenal ..." Prilaku Sasuke semakin aneh dirasa.
"Sasuke ..."
"Kumohon pergi ..." Tak ada yang tahu kalau sosok anak kecil yang selalu menghantuinya sepekan ini sedang berdiri di pojok dinding dengan tatapan yang masih sama, yaitu; menghakimi.
Jika kemarin dan kemarinnya lagi bocah itu tak dapat masuk ke dalam kamarnya, kali ini ia berhasil dan justru berdiri di dekat pintu kamar mandi.
Sasuke mulai menjerit dan melempar apapun yang sekiranya bisa mengusir wajah dingin dari penampakan yang selalu membuatnya ketakutan. Namun, tidak ada satupun benda yang dapat melukai sosok tersebut, justru semua yang dilempar Sasuke akan menabrak tembok dan berakhir rusak.
...
Jalur belakang terlihat aman untuk melarikan diri. Karena biasanya para penjaga lebih fokus mengamankan gerbang depan daripada belakang.
Mula-mula perkiraan seperti itu terasa mustahil untuk benar-benar dilakukan, tapi jika tidak segera dilaksanakan mungkin ia akan mati membusuk di tempat itu tanpa ada satupun orang yang menyadarinya. Bisa juga mayatnya baru diketemukan ketika sudah berupa tulang belulang dimakan ulat.
Pagar besi mulai terlihat dari tempatnya bersembunyi dan mengendap. Berusaha memastikan sekali lagi kalau tidak ada penjaga di sana. Dan memang kondisinya cukup aman untuk melarikan diri.
"Hei, mau ke mana kau?!"
Baru saja ia akan menghela napas lega. Suara yang serupa auman singa di tengah hutan mulai merebak, meremangkan bulu kuduk dan memacu adrenalinnya ke puncak tertinggi.
Ia berlari sampai tak sadar ada pot tanaman di depan, kemudian jatuh terguling dan mendapati betis kakinya lebam nan nyeri.
"Kena kau!"
Rambutnya dijambak. Nyeri yang berpusat di ubun-ubun kepala membuatnya mendesis dan meronta.
"Ampun. Aku tidak akan mengulanginya."
"Siapa yang mau mempercayai ucapan orang gila sepertimu."
"Aku mohon ... Ini sakit ..."
Tapi ratapan itu tak pernah benar-benar didengar.
"Kalau sakit, sebaiknya kau berhenti melarikan diri. Tempatmu ialah di sini! Tidak ada yang menginginkanmu, sekalipun dunia ini. Tidak akan ada."
Dia dilempar masuk ke sebuah tempat bernama gudang. Pengap, bau, kotor, dan gelap. Adalah perpaduan yang selalu membuatnya ketakutan di setiap saat. Ingin mengemis dan mencium sepatu mengilat di hadapannya, tapi ia terlalu takut sampai tubuhnya tak bisa digerakan.
"Tidak ..."
Orang itu berbalik dan menutup pintu. Membiarkan keadaan sunyi dalam gelap gulita.
"Jangan ..."
Setitik cahaya terputus ketika dahan solid itu tertutup dengan dua putaran suara kunci yang menggema.
Sekejap saja ruangan itu menjelma bagaikan neraka. Ada banyak suara yang menertawainya, mencacinya, memanggilnya. Dan dia hanya bisa berteriak sesambil menutup kedua telinga. Berharap agar semua siksaan ini segera berakhir dan ia bisa terbebas dari tempat terkutuk ini.
...
"Tidak!" Sasuke terbangun dan terengah. Hari sudah beranjak gelap entah sejak kapan, ia bahkan tak ingat kapan dirinya tertidur dan sudah berapa lama waktu terbuang. Mencoba mengendalikan napas, ia mengenyahkan sisa-sisa mimpi buruk yang turut terbawa dari alam buaian. Namun, tenggorokannya kering dan panas.
Satu keinginan terlintas, Sasuke butuh air dingin untuk menyejukan dirinya juga kerongkongannya.
"Naruto ..." Ketika memanggil, suaranya serupa terompet rusak. Serak dan parau.
Karena tak ada tanda-tanda jawaban dari sosok yang dipanggilnya, Sasuke bermaksud turun dari kasur dan mengambil airnya sendiri di dapur.
"Psstt ... Hehehe ..."
Langkah Sasuke terhenti. Punggungnya kaku dan lehernya mendadak berat untuk menoleh.
Baru sadar rasanya kalau sekeliling rumah ini gelap gulita. Dengan panik dirabanya dinding rumah, mencari-cari sakelar lampu untuk menerangi keadaan. Saat dapat, hal pertama yang dilihat Sasuke justru sosok yang paling ingin dihindari.
Bocah itu menyeringai—tak lagi memasang wajah dingin dan datar ketika menatapnya. Tapi, bukan itu yang membuat Sasuke tercekat seraya bergetar, melainkan adanya sebuah benda mengilat menempeli leher si pria kuning yang sedang tertidur di sofa.
"J-Jangan ..." Ia meminta agak terbata. Tungkai kaki menjelma bagaikan jelly. Lemas dan terpaku. Sasuke memaksa syaraf-syarafnya bekerja, sedikit tertatih ia berjalan cepat menghampiri sosok itu dan mencekal tangannya. "A-Apa yang mau kau lakukan?" cicitnya.
Sang bocah memamerkan senyum mengerikan sambil mendorong bilah pisau untuk mengiris daging leher si pria kuning.
"Tidak! Lepaskan benda ini. Jangan lukai Naruto!"
Aksi tarik dan mendorong terjadi selama beberapa saat. Keadaan yang gelap gulita sedikit menyulitkan Sasuke untuk melihat ke sekitar. Ia mendadak terhempas dan jatuh ke lantai, pisau berhasil ia rebut dari tangan si bocah kumal.
"Sasuke?" Suara Naruto menyentak sang raven. Terdengar suara derap langkah disusul suasana terang benderang dari lampu yang dinyalakan sakelarnya oleh lelaki kuning itu. "Apa yang kau lakukan tadi?"
"A-Apa?"
"Mengapa kau menghimpitku dan memegang pisau?"
"Bu-Bukan!" elaknya. Benda mengilat terlempar dari tangan. "Bo-Bocah itu tiba-tiba masuk dan berdiri di dekatmu, dia ingin membunuhmu, Naruto. Aku berusaha menyelamatkanmu."
"Bocah?"
Sasuke mengangguk. Naruto menekuk bibirnya serupa garis tipis yang lurus.
"Bocah yang selalu berdiri di depan jendela kamarku."
Leher Naruto bergidik.
"Entah bagaimana dia bisa masuk dan ... dan ..."
"Sudah." Naruto menghampiri Sasuke. Merasakan jika kulit seputih susu itu berkeringat dan terasa dingin sekali. Ia meraup tubuhnya dan mendekap seerat yang ia mampu. "Tenang ... Aku tidak apa-apa."
"Aku sangat takut. Dia mulai berani masuk dan menggangguku secara terang-terangan. Di-Dia bahkan ingin mencelakaimu."
Pelukan dipererat, Naruto melesakkan hidungnya ke perpotongan leher Sasuke untuk membauinya. Meski kalut, namun nalurinya sebagai seorang dominan menelisik ke sudut terdalam untuk terus bersumpah setia menjaga dan melindungi pemuda raven ini.
"Tenang saja, kita akan mengusir bocah itu agar tidak mengganggumu lagi, oke?"
Sasuke hanya mengangguk dan mulai menumpukan seluruh bobot tubuhnya pada Naruto.
Hilang sudah rasa dahaganya, ia justru malah merasa kalau kantuknya kembali dan mulai menariknya ke alam mimpi.
...
Pemberitaan tentang kecelakaan Sakura di lokasi syuting seolah tidak ada habisnya. Nama Sasuke selalu dikait-kaitkan pada hal ini. Entah sudah berapa banyak pihak media yang melebih-lebihkan berita. Menambahi bumbu-bumbu tambahan agar kasus itu semakin laris dan laku dipasaran.
Mereka sama sekali tidak memikirkan konsekuensi dari perbuatan yang merugikan orang lain.
"Kau oke?" tanya Naruto skeptis.
Sasuke berusaha memasang senyum tipis agar kekasih sekaligus managernya itu tak khawatir. "Yeah."
"Apa tidak sebaiknya kau tunda saja kepergianmu hari ini?"
"Kau tahu kan kalau setiap tahun aku selalu mengunjungi mendiang Ibuku di pemakamannya."
"Ya, aku tahu. Tapi, tidakah saat ini suasananya sedang tidak baik untukmu? Mungkin sebaiknya aku ikut untuk—"
"Tidak," tolak Sasuke. "Aku tidak suka orang lain mendengar curhatanku pada Ibu."
Akhirnya Naruto mencoba mengalah. "Asal kau tidak menceritakan hal-hal buruk tentangku kepada beliau."
"Percaya diri sekali kau."
"Yah, siapa yang tahu." Bahunya mengedik sambil tersenyum jahil. Naruto lantas menarik Sasuke ke dalam pelukannya, memberi ciuman di kening, pipi, lalu bibirnya yang ranum. "Jaga dirimu, oke? Kalau terjadi sesuatu segera hubungi aku."
"Hn." Gantian, kali ini Sasuke yang mencium bibir Naruto. "Aku pergi dulu."
...
Suasana pemakaman di saat senja terlihat menyeramkan. Pohon-pohon yang semula teduh nan rindang, kini menjelma layaknya sarang hantu di matanya. Udara juga memberat, jadi lebih dingin dan menusuk. Begitupun tatanan awan yang memperlihatkan bentuk-bentuk aneh dengan latar warna jingga dan kuning keemasan.
Sasuke mempercepat langkah kakinya. Beruntung ia masih hapal jalan setapak yang mengelilingi pemakaman ini, kalau tidak, bisa-bisa ia terjebak lebih lama dan benar-benar tersesat di sarang hantu.
Bulu kuduknya langsung berdiri membayangkan hal itu.
Tepat saat senja mulai meninggi, Sasuke sudah berhasil masuk ke dalam mobil. Sedikitnya ada perasaan lega yang menyeruak, tapi melihat kondisi jalan yang mulai menggelap, mau tak mau ia bergegas menyalakan mesin mobil dan berlalu pergi.
Baru saja memasuki jalanan besar, tiba-tiba siluet seseorang menerobos masuk ke jalur kendaraan dan terhantam begitu saja karena kurangnya refleks yang dimiliki Sasuke.
Kejadiannya lumayan cepat, Sasuke bahkan tak sempat menginjak pedal rem dan memproses kecelakaan yang berlangsung di depan mata. Ban kendaraan seperti menggilas sesuatu dan ada bunyi patahan tulang yang mengerikan. Cepat-cepat ia memberhentikan mobil, turun pelan-pelan, berniat mengecek situasi, namun tersentak.
Ceceran darah memenuhi bagian depan dan belakang roda mobil. Jalanan yang semula berwarna khas aspal, kini juga tampak menghitam di tengah kegelapan.
Sasuke menutup mulut agar tak berteriak. Dengan gemetar ia meraih ponsel di dalam mobil, menutup pintunya kembali seraya menguncinya. Ia tak siap menjadi pembunuh. Berita kecelakaan Sakura yang menyeret-nyeret nama baiknya saja belum selesai, bagaimana jika hal ini juga turut menjadi bahan perbincangan media. Oh, Sasuke pasti masuk penjara dan dikenakan pasal berlapis.
Ketakutan-ketakutan itu membayangi isi pikirannya. Bahkan tak sadar jika nomor yang ia dial telah tersambung dan dijawab oleh suara yang begitu familiar.
"Baby, kau tidak apa-apa? Mengapa kau diam? Apa yang terjadi? Di mana kau sekarang?"
Sasuke sulit mengatur suara dan debaran jantungnya. Ia terisak pelan sebelum menjawab dengan agak terbata. "Na-Naruto ... Ak-Aku pembunuh."
"Apa maksudmu? Apa yang terjadi?"
"Aku ... Ak-Aku menabrak orang ..."
"Apa?" Kepanikan melanda si lawan bicara. "Di mana kau sekarang? Aku akan segera datang."
Airmata menuruni pipinya. Sasuke sangat berharap Naruto benar-benar cepat datang ke sini. "Di ... Di dekat pemakaman. Aku takut sekali ... Kumohon ..."
"Dengarkan aku, Baby. Diam di sana dan jangan lakukan apapun, mengerti? Aku akan segera menemuimu jadi jangan takut. Tutup dan kunci pintu maupun jendelanya sampai aku datang."
Masih sambil terisak, Sasuke hanya mengangguk walau Naruto tak bisa melihat itu.
"Aku mencintaimu. Tunggu aku dan tenanglah."
Setelah sambungannya terputus, Sasuke meletakkan ponsel itu di atas dashboard. Matanya melirik cemas keadaan sunyi nan gelap dari balik jendela yang terkunci rapat. Ketika mengalihkan perhatian ke cermin mobil bagian dalam, lagi-lagi Sasuke menemukan sosok bocah kumal itu sedang duduk di kursi penumpang dengan senyumnya yang mengerikan.
Tbc
