Nee…ini chapter lanjutan dari chapter sebelumnya ~
silahkan di baca :3

.

.

.


Tahun keenam

Aku masih harus menunggu mu

.

.

.

Tahun ini seharusnya Len pulang. Tapi karena berbagai alasan, kepulangannya pun harus di tunda. Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya. Apa boleh buat, aku tetap harus bersabar sampai hari dimana dia akan pulang.

"Rin…" panggil seorang wanita yang tidak lain adalah ibunda Len

"Iya, ada apa?" tanya ku

"Bisa kita bicara sebentar?" ajaknya, aku hanya mengangguk

Kami mengobrol sambil berjalan-jalan di pinggir danau. Aku dan ibu nya Len sudah sangat akrab bahkan aku sudah menganggapnya sebagai ibu ku sendiri. Namun tiba-tiba ia menggenggam tangan ku dan menatap ku dengan serius.

"Apa kau benar-benar masih ingin bertemu dengan Len?" tanya nya dengan serius

"Hum, aku sangat ingin bertemu dengannya" jawab ku dengan yakin

"Kalau begitu..mau kah kau ikut dengan ku menyusul Len ke Italia?" katanya dengan lebih serius

"Hum…" aku menganggukan kepala ku

"Baiklah, besok pagi temui aku di bandara ya" ucapnya sambil beranjak pergi

Dan pada akhirnya aku lah yang akan pergi menemui Len, bukan Len yang pulang menemui ku. Tapi…asalkan bisa bertemu dengannya aku tetap senang.


Jam 06.30 pagi, aku sudah melihat ibu nya Len di depan bandara. Tapi aku tidak melihat ayahnya Len mungkin dia sudah pergi terlebih dahulu.

"Rin! Ayo cepat" kata nya sambil melambaikan tangan, aku pun segera berlari

Kami berdua pun segera masuk kedalam pesawat. Jujur saja ini adalah kali pertama aku naik pesawat dan pergi ke luar negeri. Rasanya menyenangkan juga menegangkan. Tinggal menghitung jam…aku akan bertemu dengan Len.


Tiba di Italia, kami berdua sudah di jemput oleh sebuah mobil mewah. Mungkin mobil ini lah yang akan mengantarkan ku kepada Len. Pemandangan di Italia sungguh berbeda dengan Jepang. Tapi tiba-tiba mobil ini berhenti di depan rumah sakit, aku benar-benar kebingungan.

"Ano…kenapa kita berhenti disini? Siapa yang sakit?" tanya ku

"Ayo masuk" kata Ibu nya Len tanpa menjawab pertanyaan ku

Aku pun mengikutinya dari belakang. Dan tidak lama kemudian kami pun sampai di depan pintu sebuah kamar.

"Masuklah Rin" kata nya

Aku pun menurutinya. Aku masuk seorang diri ke sana dan ku lihat sebuah tirai yang menutupi sebuah kasur. Aku ragu…haruskah aku membukanya. Tapi aku ingin tau…siapa yang ada di sana. Apakah Len? Apa dia? akhirnya aku membuka tirai itu dan aku menemukan seorang laki-laki yang sedang terbaring lemah tak berdaya yang tidak lain adalah Len. Orang itu benar-benar Len.

"L..len.." panggil ku sambil menyentuh wajahnya yang di tutupi dengan balutan perban

"Ngh.." dia membuka matanya dan melihat kearah ku

"Ini benar kau? Len?" tanya ku seolah tak peracaya dengan apa yang ku lihat

"Rin…" Len menyebut nama ku sambil menangis

Ini benar-benar Len. Len yang aku sukai, Len yang aku sayangi, Len yang aku cintai. Karena kondisinya yang seperti ini ia jadi membatalkan kepulangannya.

"Apa yang terjadi padamu?" tanya ku sambil terus membelai wajahnya

"Seminggu yang lalu apartemen yang aku tinggali mengalami kebakaran yang cukup fatal, sebenarnya saat kejadian itu terjadi aku berada di luar apartemen tapi ketika seorang ibu berteriak histeris karena anaknya yang masih terjebak di dalam, aku pun langsung menerobos masuk ke dalam. Mencari dimana anak itu, dan ketika aku menemukannya aku langsung membawanya ke pintu keluar dan menyerahkannya kepada pihak pemadam kebakaran. Dia selamat dan tidak terluka sedikit pun. Tapi ketika aku hendak melangkah keluar sana, balok kayu yang terbakar jatuh dan menimpa ku. Dan beginilah akhirnya…90% tubuh dan wajah ku mengalami luka bakar yang serius." Jelas nya pada ku

"Semuanya?" kata ku sambil membuka selimut yang menutupi badan Len

Aku terkejut ketika melihat tubuh Len di balut perban sampai seperti itu. Aku sedih dan tak bisa menahan air mata ku.

"Rin…" panggilnya

"Ya?" aku mendekatkan diriku padanya

"Masihkah kau mencintai ku yang dalam keadaan rusak seperti ini?" tanya nya dengan nada sedih

"Bagaimanapun keadaan mu, aku akan terus dan tetap mencintai Len…" jawab ku dengan beruraian air mata

Tak lama kemudian seorang dokter datang bersama kedua orang tua Len. Ibunda Len Nampak masih sedih melihat kondisi putra kesayangannya itu.

"Nah, saatnya membuka perban" kata dokter itu

"Huh? Dia tidak memakai bahasa Italia?" kata ku dalam hati

Para suster pun segera menutup tirainya dan meminta ku untuk menunggu di luar. Namun Len menimpa tangan ku dengan tangannya.

"Biarkan calon istri ku menemani ku" ujar Len pada dokter

"Baiklah.." ucap dokter itu sambil mengambil gunting

Dokter pun mulai menggunting perban tersebut. Dia memulai dari bagian wajah, lalu para seorang suster mulai membuka perban itu. Jantungku terus berdegup kencang. Lalu aku melihat wajah Len yang sudah tidak seperti dulu, luka bakar itu telah menghancurkan beberapa bagian wajahnya. Aku terkejut, sangat terkejut. Kemudian dokter melanjutkan ke bagian tubuh, aku melihat badan Len yang di selimuti luka-luka itu. Setelah selesai, dokter bilang tidak usah di perban lagi. Lalu dokter dan para susternya pun pergi meninggalkan kamar Len.

"Rin, kau tidak jijik melihat ku yang seperti ini?" tanya nya

"Tidak, Aku hanya sedih melihat Len seperti ini…" kata ku sambil menggenggam jari telunjuk Len yang tidak terbakar

"Rinny…" Len tersenyum

"Rasanya pasti sakit kan?" lanjut ucapan ku

"Kau sudah ada di sini, jadi rasa sakitnya berkurang" katanya sambil tersenyum lebar

"Aku akan merawat Len sampai sembuh" ucap ku padanya

"Sampai hari itu tiba…aku akan menikahi mu" bisik Len

Blush…wajah ku memerah seketika ketika mendengar kata-kata itu dari Len. Baiklah aku akan berjuang sekuat tenaga untuk merawat Len. Setelah ini Len akan dirawat di rumahnya saja, dia juga kelihatannya sudah tidak betah berada di rumah sakit.


Kian hari keadaan Len kian membaik. Aku senang karena sekarang dia sudah bisa bergerak dengan leluasa. Sampai akhirnya dimana ia….

"Rin pinjam tangan mu sebentar" katanya

"Ini.." kataku sambil mengulurkan tangan kanan ku

Len mengambil sesuatu dari dalam saku baju nya. Dan itu adalah…cincin! Mungkinkah ini….ini artinya Len akan melamar ku?

"Dengan ini aku akan menjadikan mu perempuan terakhir yang menemani hidup ku" ucap Len sambil memakaikan cincin itu ke jari ku

"Len.." aku memeluknya dengan erat

Aku sangat senang karena akhirnya aku bisa menghabiskan waktu hidup ku bersama Len. Dan sekarang kami berdua hanya tinggal menunggu hari dimana kami berdua akan mengucapkan janji suci bersama-sama. Hidup bersama dan menjalani suka duka bersama-sama. Rasanya pasti sungguh menyenangkan.

.

.

.

Dan aku akan menemani mu sampai kapan pun Len...


Makasih banyak yang udah mau baca sampai sini X'D *terharu lagi*

salam hangat,

Rii Okita :3