Chapter 2

FIX YOU

Wolfy present…

Cast: Kim Jongin, Oh Sehun, Oh Taeoh, Do Kyungsoo, Wu Yifan, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Hwang Tiffany, Kim Taeyeon, Yoon Bomi, Kim Taehyung and many more.

Pair: HunKai, HunSoo, KrisKai, ChanBaek

Genre: drama and romance

Warn: Yaoi, boys love, m-preg, impolite words and typos

Rate: T, almost M

Summary: Sehun dan Jongin menikah bukan karena saling mencintai. Ketika bercerai pun, Sehun dan Jongin masih harus terikat karena hadirnya Taeoh. Jongin yang konyol dan Sehun yang bodoh. Hingga akhirnya Sehun menyadari bahwa Jongin dan Taeoh adalah rumah, Sehun harap ia belum terlambat untuk memperbaiki semuanya. "Katakan pada ku, apa yang harus aku lakukan untuk mu?" -Lights will guide you home and I will try to fix you- (This is HunKai story, with slight HunSoo and KrisKai. BL. DLDR and RnR)

Disclaimer: Casts are not mine but this fanfiction belongs to me, don't copy, don't bash, click close button if you don't like, critics are accepted but with polite words, review if you like it. I don't respect silent readers. Thank you.

Happy reading

Sehun hanya menatap cengo Kyungsoo yang saat ini berkaca-kaca. Untung Jongin ingat bagaimana posisi nya dan Sehun sekarang, ia cepat-cepat menarik dirinya dari Sehun. "Kyung, ini tidak seperti yang kau fikirkan kok," Sehun menatap bersalah Kyungsoo yang malah hanya berdiri mematung. Kyungsoo berlari menjauh, ia pasti menangis. Ya Tuhan, Jongin sendiri hanya terdiam melihat adegan drama live yang baru saja ia saksikan. Ingin nya sih, ia melarikan diri saja sekarang. Tapi berhubung ia masih punya rasa kasihan pada Sehun, Jongin menyusul kedua sejoli itu.

"Kyung, dengarkan aku dulu," Sehun menarik tangan Kyungsoo yang berjalan tergesa. Mereka ada di halaman depan rumah Jongin sekarang. Jongin cepat-cepat menggendong Taeoh yang ternyata sedang bermain mobil-mobilan sendirian di halaman. "Iya kyungsoo-ssi, ini tidak seperti yang kau kira. Tadi aku terpeleset dan Sehun menolong ku." Jongin sendiri berusaha memberi penjelasan. "Hiks, sudahlah. Aku tidak mau dengar apa-apa lagi. Aku permisi." Kyungsoo mengelap air mata nya dan beranjak menuju pintu pagar rumah Jongin.

"Yak, Oh Kyungsoo!" Jongin hampir muntah. Sehun memanggil Kyungsoo dengan embel-embel 'Oh' di depannya. Sungguh, ini lebay sekali. Kyungsoo menghentikan langkahnya sesaat, "Apa lagi?!" Suaranya begitu menggelegar. Jongin menutupi wajahnya, jangan sampai wajahnya terlihat oleh para tetangga nya yang mungkin saja menyaksikan adegan drama di depan rumahnya saat ini. Sehun memeluk Kyungsoo yang malah menangis makin menjadi-jadi. "Dengarkan aku, aku dan Jongin benar-benar tidak ada apa apa, oke? Itu semua hanya salah paham. Aku hanya menolong Jongin yang hampir jatuh saja." Sehun mencoba menjelaskan, tangan nya tergerak untuk menghapus lelehan air mata di pipi Kyungsoo. "Benarkah?" tanya Kyungsoo ragu. Sehun mengangguk mantap "Tentu, Sehun hanya akan mencintai Kyungsoo baby seorang." Jongin butuh ambulance.

Well, Jongin harus melupakan sesaat rasa mual nya ketika melihat Sehun dan Kyungsoo berciuman. Di depan rumahnya. Di depan anak nya yang polos, pula. Jongin berdeham. "Mmm, mungkin kalian bisa pamit sekarang. Tapi, tolong jangan berciuman di depan rumah ku dan di depan mata suci anak ku." Kyungsoo memutar bola mata nya malas. "Baik, aku permisi." Kyungsoo segera beranjak menuju mobil Sehun, ia masuk begitu saja dan membanting pintu nya keras. Taeoh sendiri sampai meringis mendengarnya. "Maafkan kami soal ini, Jong." Sehun menginturepsi Jongin. Ia mendekat pada mantan istri nya itu dan mengecup dahi nya. Eh, dahi Taeoh maksudnya. "Bye jagoan Ayah, ayah pulang dulu ne? Jangan nakal dengan ibu, kecuali kau tega melihat ayah dicakar oleh sosok ibu yang garang." Jongin melotot, untung saja ia tidak sedang memakai sandal atau sandal nya akan mendarat indah di kepala Sehun. Sehun hanya tertawa bodoh, ia berlari meninggalkan Jongin dan Taeoh. Taeoh sendiri hanya melambaikan tangan mungil tapi gemuk nya itu pada sosok ayah nya yang mengklakson mobilnya sebelum benar-benar berlalu dari rumah Jongin.

"Kau lihat itu, Tae? Ibu mohon, demi bokong rata Yoon Bomi jangan pernah jadi seperti ayah atau calon ibu tiri mu itu saat besar nanti ya?" Jongin memandang putra nya yang saat ini sibuk menghisap empong nya sambil mengangguk lucu.

…..

Jongin merapikan sekali lagi rambut cokelat tua nya dengan jari. Ia sudah siap untuk pergi bekerja hari in. Sebenarnya sih, sudah siap dari beberapa jam yang lalu, hanya saja si Oh junior ini sepertinya tidak rela harus ditinggal oleh ibu nya. Ia hanya merengek dan meraung-raung ketika Jongin melepaskan pelukan nya pada tubuh gemuk anak nya itu. "Ayolah Tae, ibu harus bekerja. Kau bisa di rumah dengan nenek. Tidak seburuk itu kok. Kau bisa menemani nya menonton infotaiment, ikut menggosip dengan ibu-ibu tetangga sebelah atau membantu nenek meroll rambutnya," nihil. Taeoh tetap saja menggeleng. Ia malah memeluk Jongin makin erat.

"Kau ajak saja, lagipula ada Baekhyun dan Bomi yang akan membantu menjaga nya." Taeyeon, ibu Jongin satu-satunya itu hanya menatap jengah pada anak dan cucu nya. Pasalnya ia ada jadwal untuk pergi menggosip dengan Nyonya Jung tetangga sebelah, tapi cucu dan anak nya ini masih belum jelas nasib nya. "Kau mau ikut ibu, kan Tae?" Taeyeon memandang cucu nya. Taeoh hanya mengangguk, poni nya yang dikucir ke atas ikut bergerak-gerak. "Jangan memprovokasi nya, bu." Jongin memandang malas.

Jongin menatap putra nya. Tatapan itu lagi. Ah, Jongin butuh psikiater untuk membuat anak nya berhenti memasang tatapan 'ibu, Taeoh yang lucu ini ingin pergi dengan ibu' setiap kali Jongin ingin pergi bekerja. "Baiklah, tapi jangan kacaukan apapun." Jongin mengangkat tubuh putra nya itu, ia juga membawa popok, susu, baju ganti, empong, pinku pinku dan sejenis nya. Hah, semenjak jadi ibu pekerjaan nya makin berat saja.

…..

"Aigooo, siapa yang mengucir poni mu, Tae? Kau tau kau sungguh 1000% lebih imut dari ibu atau ayah mu!" Bomi berteriak heboh, setelah sesaat mendapati Jongin berangkat kerja dengan Taeoh dalam gendongan Jongin. "Ia tidak berhenti merajuk. Dasar anak Sehun." Jongin mendudukkan bokong indah nya pada kursi cafe. Sementara Taeoh sudah beralih tangan pada Bomi.

Ya, Jongin bekerja di cafe. Ah, sebenarnya bukan hanya bekerja sih. Ia juga adalah salah satu owner dari cafe dan toko kue ini. Sebenarnya, cafe dan toko kue ini milik Jongin, Bomi dan Baekhyun. Mereka memulai usaha kecil-kecilan ini sejak dua tahun yang lalu. Lumayan lah, setidaknya cukup untuk biaya hidup Jongin, Taeoh dan Taeyeon. Dengan modal yang tidak terlalu besar, mereka memulai usaha ini. Dengan keahlian Baekhyun dalam memanggang kue, ide kreatif Jongin tentang konsep cafe dan banyaknya relasi dan kenalan Bomi, mereka sendiri tidak menyangka bahwa saat ini cafe mereka lumayan terkenal, apalagi di kalangan anak muda. Karena Baekhyun dan Bomi yang masih berkuliah, maka sedikit banyak urusan cafe biasanya ditanggung oleh Jongin.

Jongin tersenyum melihat Taeoh yang tampak kagum oleh ikan-ikan di aquarium yang ditunjukkan oleh Bomi. "Hey Jong, ada apa? Sepertinya kau sedikit lesu." itu Baekhyun. Sepertinya ia baru saja menyelesaikan panggangan kue nya, dari wangi kue yang semerbak ketika Baekhyun mendekat pun Jongin sudah bisa menebak. "Aku baru saja melihat adegan drama live kemarin." Jongin menjawab malas. "Jangan bilang Sehun dan… Kyung.. kyung siapa?" Baekhyun yang terkenal kurang dalam ingatan itu menebak-nebak. "Kyungsoo? Mau apa lagi dia?" Bomi menyahut sewot.

"Ia salah paham pada ku dan Sehun kemarin. Dan sepertinya ia benar-benar tak suka pada ku ketika aku menghentikan kissing scene nya dengan Oh Sehun di depan rumah ku," Jongin menjelaskan.

"Dasar tidak tau malu." itu Bomi lagi.

"Kissing scene di depan rumah mu? Oh, aku harus menghapus nama nya dari daftar sepupu ku sepertinya." Baekhyun mendesah dramatis. Bomi ikut nimbrung dengan kedua sahabatnya. "Ku harap suatu hari nanti Sehun mendapat ilham untuk menjauhi Kyungsoo. Karena sungguh, wajahnya tidak sesuai dengan kelakuan nya." Bomi kembali mencibir.

Jongin meneguk kopi panas yang baru saja ia buat. "Sudahlah. Aku sudah cukup pusing mengurusi anak nya, jangan menambahi ayah nya." Taeoh memandang protes pada ibunya dengan mengerucutkan bibirnya dan ketiga orang dewasa lainnya malah tertawa.

Sehun memijat pelipis nya pelan. Kepalanya berdenyut-denyut tak enak. Oh Tuhan, ampunilah segala dosa Sehun yang hobi menonton yadong karena di umurnya yang masih sangat muda ini sudah harus diberi banyak urusan-urusan yang membuat kepala nya pening. Perusahaan ayah nya yang ia kelola sejak satu tahun lalu mendapatkan banyak tender, ia senang sih, hanya saja badan nya yang seharus nya menikmati sentuhan Kyungsoo malah harus terus-terusan berada di kantor mengurusi setumpuk kertas yang Sehun bersumpah, lebih buruk daripada mendengar omelan Jongin. Belum lagi, Kyungsoo yang sejak kemarin masih ngambek padanya. Kejadian di rumah Jongin itu benar-benar membuat Kyungsoo seperti macan kelaparan. Begini salah, begitu salah. Nasib seme memang dimana-mana selalu begitu.

Sehun melirik sebingkai foto di meja kerjanya. Itu foto Taeoh, mungkin sekitar sebulan yang lalu. Dengan senyum lima jarinya yang menampilkan gigi pertama nya yang saat itu baru tumbuh, mulut yang belepotan kue dan kuciran poni yang menjulang ke atas khas buatan tangan Jongin. Jongin yang memotretnya dan mengirimkan foto itu pada Sehun. Jongin bilang, menurut riset ayah akan cenderung berbuat hal baik ketika selalu mengingat anak nya. Ah, Sehun jadi rindu putra nya itu. Punya anak di usia semuda Sehun memang merepotkan, belum lagi sekarang ia sudah cerai dengan Jongin. Tapi, enak juga sih karena kalau Taeoh sudah besar nanti, Sehun masih akan tetap muda dan tampan. Uh, bahagia nya.

Cklek.

Sehun melirik pintu kerja nya yang dibuka tanpa ketuk. Menampilkan sesosok pemuda mungil manis, tapi berbahaya yang tersenyum kecil ke arahnya. Itu Kyungsoo.

"Hai, sayang." Kyungsoo berjalan ke arah Sehun. Seperti dugaan Sehun, kekasihnya itu sengaja membuatkan bekal untuknya. Sehun tersenyum cerah. "Aku buatkan bulgogi kesukaan mu, maaf kalau aku sudah membuat mu pusing karena ego ku." Kyungsoo menatap bersalah.

Sehun tersenyum mengangguk. "Tentu saja, terima kasih, sugar." ia mengelus tangan Kyungsoo dan mengecupnya sekilas. Kyungsoo tersenyum, ia lantas beralih duduk di sofa di ruangan kerja Sehun dan mengeluarkan kotak bekal nya sendiri. Sehun melirik aneh, isinya sayuran semua.

"Kau hanya makan sayuran?" tanya Sehun. Kyungsoo mengangguk, lalu ia meraba-raba pipinya sendiri. "Iya, aku sedang diet. Aku rasa aku sudah membulat, aku terlalu banyak makan akhir-akhir ini, Hun."

"Menurutmu, aku gemuk tidak?" tanya Kyungsoo.

Sehun menghentikan sejenak kegiatan makan nya. Ia menggeleng cepat. "Tidak kok." Kyungsoo hanya mempoutkan bibirnya. "Tidak usah bohong, aku gendut kan? Lihat, pipi ku bahkan sudah seperti bokong anak mu?"

Sehun menerawang, seingatnya sih bokong Taeoh itu bulat, mulus dan lembut. "Tidak sayang, kau tidak gendut. Percayalah." Kyungsoo sendiri masih meraba-raba pipinya tidak percaya. "Lihat, ini benar-benar mulai gendut sekarang."

"Ya mungkin kau hanya butuh sedikit diet atau fitness." jawab Sehun enteng. Sehun hanya sedang tidak tau saja bahwa Kyungsoo sedang dalam kondisi yang biasa wanita sebut meletakkan sendoknya, menimbulkan bunyi 'ting' yang cukup keras.

"Jadi kau bilang aku gendut, begitu?"

JDER

Sehun bagai tersambar petir. Ia baru sadar, ia telah mengucapkan satu dari sepuluh ribu kata paling dilarang dalam kamus Kyungsoo. "Bu..bukan…" Sehun mulai panik. Jujur saja, ia ingin menenggelamkan dirinya sendiri ke sungai Han sekarang, atau merelakan dirinya dimangsa sekawanan hiu, atau mungkin lebih memilih menjadi impoten mendadak. Ah tidak, yang terakhir itu jangan.

Kyungsoo mendengus pelan. Ia menutup bekal makannya, selera makan nya sudah benar-benar hilang hanya karena satu kalimat pendek dari Sehun. Sebenarnya, ia diet begini juga merupakan dampak kejadian tempo hari. Kyungoo merasa bahwa Jongin telah masuk pada daftar dari 'orang-orang yang harus aku jauhi dari Sehun' milik Kyungoo. Walaupun, dari dulu Jongin sudah menjadi bagian dari daftar itu, tapi sepertinya saat ini Jongin naik peringkat. Kyungsoo merasa dirinya terlalu banyak makan beberapa bulan ini dan berat badan nya naik beberapa kilo. Yah, memang sih ia masih dalam tahap normal. Tapi, Kyungsoo akui bahwa tubuh Jongin itu sexy. Bokongnya saja lebih padat dari model favorit Sehun, si Miranda itu lo. Jadi, Kyungsoo sendiri sudah menyiapkan gencatan senjata kalau saja Sehun tau-tau kepincut lagi padanya. Karena baginya, Jongin sendiri lah yang sudah mengibarkan bendera perang terlebih dahulu padanya. Oke, ini berlebihan.

"Sudahlah, Sehun. Kau seharusnya memikirkan perkataan mu tadi. Kau benar-benar keterlaluan. Aku ingin pulang." Kyungsoo meraih tas nya dan mengambil kotak bekal Sehun yang bahkan belum ia habiskan. Perhitungan sekali.

"Oh, ayolah Kyungsoo…" Sehun mendesah frustasi. Ia tau bahwa jika dalam kondisi seperti ini, Kyungsoo tetap tidak bisa diajak kompromi. Kecuali jika kau membelikannya sebuah panci merk terkenal yang selama ini ia idam-idamkan. Jadi, Sehun membiarkan saja Kyungsoo pergi walaupun sebenarnya Sehun tau Kyungsoo berharap ia akan mencegah Kyungsoo seperti dalam drama-drama yang biasanya ibu nya tonton.

Sehun merogoh saku jas nya dan mencari sebuah nama.

"Halo, Jong?"

…..

"Iya, Kyungsoo lagi. Aku butuh tempat curhat, demi bra bermodel aneh milik ibu, aku membutuhkan mu!"

…..

"Ah sudahlah, kalau kau memang tidak mau membantu ya sudah."

…..

"Baiklah, aku akan kesana sepulang kerja."

"Bye."

Memang, di saat seperti ini hanya Jongin lah yang mau suka rela menampung segala keluh kesah gelisah gundah gulana dirinya. Terima kasih Jongin yang sudah sangat berbaik hati pada mantan suami mu yang nasib nya kurang beruntung ini.

TBC

Hahaha, maaf ya kalo ini garing dan update nya lama. Jujur, ga nyangka kalo FF ini banyak banget peminat nya hehe. Keep review yaapp.

With love, wolfy. Mwah.