Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: SasuNaru slight KyuuNaru

Genre: Hurt/Comfort

Rate: T +
Warning: BL, Yaoi, BoyxBoy, Incest, Geje, bahasa yang membosankan, dan segala kekurangan lain. Don't Like, Don't Read!


.

.

Suara kicauan burung terdengar begitu merdu, pertanda matahari sudah memunculkan sosoknya. Di depan jendela kaca salah satu kamar rumah sakit, seorang pemuda berambut pirang tengah terduduk. Memandangi beberapa ekor burung yang terbang kemudian kembali kesangkarnya. Sudah tiga hari ia dirawat, sudah tiga hari pula ia tidak berangkat sekolah dan bertemu dengan teman-temannya. Mengingat tak ada temannya satupun yang berkunjung karena Gaara—sahabatnya—dan sang kakak tidak memberitahukan keadaannya kepada teman-temannya.

Cklek!

Suara pintu yang dibuka tak membuatnya bergerak, walau hanya melirik siapa yang datang.

"Naruto," Panggil Gaara pelan.

Tak ada jawaban. Gaara berjalan menghampiri Naruto.

"Kau harus istirahat Naruto. Apa kau tak ingin segera keluar dari tempat ini?" ucap pemuda bersurai merah itu. Membuat pandangan mata biru yang tengah menatap salah satu burung yang sedang memberi anaknya makan, teralihkan kepadanya sejenak.

Gaara tersenyum tipis. "Kau tahu, aku benar-benar malas harus meladeni si pecinta anjing itu. Membuat telingaku pecah saja! Teman-teman kita menghawatirkanmu. Mereka terus mendesaku. Asal kau tahu, itu sangat merepotkan." Berbicara panjang dan berekspresi layaknya balita yang tak dibelikan permen—yang sangat bukan Gaara sekali—membuat Naruto terkekah. Ini pertama kalinnya ia tersenyum sejak kejadian itu. Namun tak ada komentar dari bibirnya yang kini terlihat pucat.

"Baiklah, aku berangkat dulu. Aku harus menyiapkan telingaku untuk nanti." Gaara beranjak dari tempatnya. "Sampai jumpa Naruto." Lanjutnya, lalu ia menutup pintu kamar tempat si pirang dirawat.

Naruto memandang pintu yang baru saja ditutup itu. Ia sangat merasa bersalah kepada Gaara. Ia selalu membuat pemuda bertato 'AI' itu repot. Ia juga rindu pada teman-temannya. Mereka semua pasti khawatir padanya. Tapi, ia tak mau bertemu dengan orang itu. Orang yang membuatnya seperti ini. Ia benar-benar—takut.. haah~ apa yang harus ia lakukan?


.

.

.

###

.

.

.

Konoha High School (KHS), adalah tempat dimana seorang Sabaku Gaara bersekolah. Setelah tadi menjenguk Naruto di rumah sakit, ia langsung pergi ke sekolah. Gaara berjalan sendirian di koridor sekolah, yang terasa begitu sunyi baginya. Tak seperti biasanya yang selalu ada Naruto disampingnya tiap ia berangkat. Ataupun dari beberapa hari yang lalu, ia selalu dilempari pertanyaan mengenai sahabat blondenya yang terpaksa harus ia jawab dengan kebohongan. Haah~ ngomong-ngomong, dimana mereka? Gaara melirik jam tangannya. Rupannya masih pagi, pantas saja!

Sret! Bruk!

Seseorang menarik lengan Gaara dan mendorongnya ke tembok. Gaara meringis saat tubuhnya menghantam tembok, dan orang yang telah mendorongnya, mencengkeram kerah bajunya—erat.

"B—brengsek kau Uchiha! Mau apa kau—uhuk!" cengkraman di kerah baju pemuda Sabaku itu semakin kuat, membuat Gaara sulit untuk bernapas.

"Jawab aku! DIMANA NARUTO?!" Pemuda berambut raven itu menatap Gaara tajam, berkata keras—memerintah—dengan penuh penekanan dan nada yang begitu mengintimidasi.

"Itu bukan urusanmu Uchiha!" jawab Gaara tak kalah keras dari pemuda dengan mata onyx itu.

"KAU—" Sasuke menggeram marah. Ia mengepalkan satu tanggannya yang tidak ia gunakan untuk mencengkeram kerah si pemuda Sabaku, hendak melayangkan pukulannya kepada Gaara disaat si merah hanya memejamkan matanya—bersiap menerima pukulan.

"Apa-apaan ini! Kalian berdua, hentikan! Dan ikut saya sekarang juga!" Gaara hanya menghembuskan napas lega saat guru piket mereka mengintrupsi 'kegiatan' mereka. Ia menyingkirkan tangan Sasuke, yang diikuti decakan sebal dari pemuda itu.

Sebenarnya Gaara tak tega melihat wajah sang pemuda bermarga Uchiha itu, walaupun wajahnya masih terlihat dingin, tatapan tajam dan mengintimidasi, namun dapat Gaara lihat dengan jelas wajah Sasuke begitu kacau, apalagi emosinya menjadi tak terkontrol seperti biasa. Sasuke, pemuda yang ia tahu adalah kekasih dari sahabat pirangnya itu sepertinya sperti ini gara-gara tak melihat Naruto selama beberapa hari ini. Tapi, sikap Naruto saat Gaara membicarakan si raven begitu aneh, seperti ada yang pemuda itu sembunyikan darinya. Apa yang terjadi pada Naruto ada hubungannya dengan Sasuke? Pasalnya pemuda pirang itu belum mau cerita apa yang ia alami kepada siapapun termasuk dirinya, bahkan Kyuubi yang merupakan kakak dari si pirang, tidak—atau setidaknya belum—dipercaya oleh si pirang. Untuk itu Gaara lebih baik bungkam mengenai si pirang.

.

.

.

Atap sekolah, disinilah pemuda merah bermata jade itu berada. Menidurkan dirinya dengan kedua tangan yang dijadikan bantalan, memandangi awan yang terbang bebas dilangit yang mengingatkan dirinya pada sahabat pirangnya. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa saat lalu. Saat dirinya dan Sasuke harus membersihkan semua halaman sekolah yang kotor diakhiri dengan berdiri dibawah tiang bendera yang disertai tangan mereka harus dalam keadaan hormat. Sungguh sial nasibnya hari ini.

Tapi bukan itu masalahnya. Yang ia pikirkan adalah Kyuubi. Pemuda bersurai oranye itu tiba-tiba saja datang dan mengamuk membabi buta kepada Sasuke. Hingga disinilah ia sekarang. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Flashback…

Matahari bersinar begitu terik, saat dua pemuda dengan peluh yang membanjiri tubuh mereka, tengah berdiri dibawah tiang bendera dengan posisi hormat. Salah satu dari mereka terlihat begitu tak sabar dan gelisah, ingin segera mengakhiri hukuman yang diberikan oleh guru piket, atas izin sekaligus perintah dari sang kepala sekolah. Dengan tidak ada rasa kasihan sama sekali, kedua pemuda itu disuruh untuk membersihkan seluruh halaman sekolah dan selalu diawasi oleh guru piket, yang menghabiskan waktu tidak bisa dibilang sedikit. Yang kemudian ditambah dengan acara hormat pada bendera hingga kini dan selesai saat bel masuk setelah jam istirahat kedua nanti, dan itu artinya kira-kira sekitar limabelas menit lagi.

Huuh, padahal disini Gaara adalah korban, kenapa ia harus dihukum juga? Gaara terus menggerutu dalam hati, menyesali pikirannya yang sempat berterimakasih pada guru piket yang tadi pagi datang saat dirinya hendak dipukul oleh Sasuke. Sanksi disekolahnya memang begitu tegas, hingga tak memperdulikan masalah korban dan tersangka jika menyangkut perkelahian. Err, tapi dalam perkelahiankan dua-duanya kan memang salah? Tapi, ia kan tidak berkelahi? Ia hanya korban pemukulan saja bukan, atau tepatnya calon korban pemkulan? Ah, lupakan!

Gaara melirik pemuda disebelahnya. Wajahnya terlihat begitu datar, membuat dirinya muak! Arah pandang iris onyx itu memang tertuju pada segerombolan siswi yang tengah memandangi mereka, disaat kepala dengan rambut bermodelkan pantat ayam itu tetap mendongak. Namun dari tatapan itu, pemuda itu terlihat sedang menjelajahi dunianya sendiri. Memikirkan sesuatu yang entah apa, hingga membuat pemuda itu sesekali mengepalkan kedua tangannya, dengan wajah yang tetap datar.

"Rupanya disini kau Uchiha!"

Sret!

Duagh!

"KAU—"

Duagh!

"—Benar-beNAR—"

Duagh!

"—BERENGSEK!"

Duagh!

"KEPARAT UCHIHA!"

Kyuubi tiba-tiba datang dan memukul si raven dengan membabi-buta. Amarahnya sudah tak bisa dibendung lagi. Ia seperti monster yang kesurupan tanpa rasa belas kasihan. Sasuke tak sempat melawan pemuda yang saat ini menduduki perutnya itu. Pukulan dari sang pemuda yang dilancarkan bertubi-tubi membuat dirinya tak bisa fokus karena pukulan itu membuat kepalanya begitu pening, apalagi ia juga belum sempat istirahat dari hukuman yang sang guru berikan. Ia hanya bisa menerima rasa sakit yang diberikan oleh kakak dari kekasihnya itu.

Sementara Gaara masih memebelalakan kedua matanya—terkejut. Sama halnya dengan para murid yang lain, ia tak menyangka akan kehadiran Kyuubi yang langsung memukul Sasuke begitu saja. Ah, astaga kenapa diam saja? Pikir Gaara setelah tersadar.

"Kyuubi –a—apa ya—ah, Kyuubi hentikan!"

Kyuubi tak mengindahkan ucapan Gaara, ia terus memukuli Sasuke tanpa henti walau pemuda bermata onyx itu sudah sangat babak belur dan terlihat tak akan bisa membalas pukulan Kyuubi.

"Kyuu, hentikan! Hey, Kyuu tenanglah—" Gaara masih berusaha menghentikan Kyuubi, walau Kyuubi terus saja menyingkirkan dirinya.

"HEY, KENAPA KALIAN DIAM SAJA?! CEPAT BANTU AKU!" teriak Gaara, membuat semua orang tersadar. Beberapa siswa membantu Gaara menenangkan Kyuubi, ia juga dapat melihat saat salah satu siswa berlari ke arah ruang guru—memanggil guru.

"LEPASKAN AKU BERENGSEK! BIARKAN AKU MEMBUNUH UCHIHA BERENGSEK INI!" teriak Kyuubi, ia terus memberontak saat lima siswa—termasuk Gaara—berhasil memegangi dirinya, membuatnya tak bisa lagi memukul pemuda yang menjadi sasaran kemarahannya itu.

"Kyuubi! Jaga ucapanmu! Biar bagaimanapun, ini sekolah! Sasuke seorang pelajar, kau bisa dituntut! Tenanglah!" Ucap Gaara berusaha menenangkan Kyuubi. Namun Kyuubi tetap tak menggubrisnya, ia terus memberontak hingga sang kepala sekolah datang.

"APA YANG TERJADI DISINI?!" Teriak sang kepala sekolah, membuat suasana yang semula ricuh menjadi hening. Membuat Kyuubi mengalihkan perhatiannya dari Sasuke ke arah sang kepala sekolah. Kyuubi memandang sang kepala sekolah tajam, yang dibalas pandangan tak kalah tajam dari wanita berambut pirang yang berstatus kepala sekolah itu.

Sasuke yang sudah berdiri, melirik singkat kearah sang kepala sekolah dengan nametag bertuliskan Tsunade S. itu, ia berjalan tertatih menjauhi halaman tengah sekolah, tanpa menghiraukan Kyuubi yang kini telah kembali menatapnya—marah—dan Tsunade yang menatapnya datar.

"Tuan Uzumaki, ikut saya sekarang juga! Dan kalian semua BUBAR!" perintah Tsunade tegas, memecah keheningan, saat semua orang sibuk memperhatikan Sasuke. Tanpa pikir panjang, semuanya langsung membubarkan diri menuju kelas masing-masing—tak ingin terlibat masalah dan membuat sang kepala sekolah lebih marah lagi.

Tsunade meninggalkan halaman tengah sekolah saat para murid telah sibuk berlarian kekelas mereka, menyisakan Kyuubi yang mengepalkan kedua tangannya erat memandangi kepergian Sasuke yang sudah tak terlihat lagi, dan Gaara yang menatap pria itu dengan heran dan, ah entahlah tak bisa diartikan.

"Kyuubi." Lirih Gaara.

Kyuubi hanya melirik pemuda yang merupakan sahabatnya juga adiknya, kemudian melangkahkan kakinya mengikuti sang kepala sekolah yang kini sudah tak terlihat lagi.

"Apa yang terjadi Kyuu?" tanya Gaara akhirnya, memberanikan diri. Pertanyaan dari Gaara membuat Kyuubi menghentikan langkahnya. Namun pemuda pemilik mata rubby itu tak menjawab, ia hanya mengepalkan kedua tangannya erat yang membuat kuku jarinya memutih dan tangannya bergetar. Namun tak lama, Kyuubi kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan Gaara yang masih tak mengerti atas perilaku Kyuubi. Apa yang terjadi Kyuu? Apa ini ada hubungannya dengan Naruto? Batinnya.

Flashback off….

Haah~, satu hal lagi Gaara tak mengetahui apa yang sedang terjadi. Sahabat macam apa dia ini?! Ia tak boleh berdiam diri saja seperti ini! Ia harus mencari tahu aqpa yang terjadi!

Gaara beranjak dari posisinya, membenahi seragamnya yang berantakan, mengambil tasnya. Ia berdiri dipagar pembatas, merentangkan kedua tangannya, menghirup napas panjang dan mengeluarkannya dari mulut. Berharap pikirannya lebih refresh dan ia bisa mencari tahu apa yang terjadi pada sahabat pirangnya, dan bisa membantu menyelesaikan masalah si pirang.


.

.

.

###

.

.

.

"Tidak! Hentikan! Kumohon, hiks"

"HAHAHAHAHA…. Nikmati saja bocah…"

" ngghh.. Janghan, hiks,, kumohon,, ugh.."

"HAHAHAH.. Dasar jalang! Kau meminta kami berhenti, tapi kau malah mendesah menikmatinya.."

"Ti—tidak ,, ah—sakit—kumohon,, he—hentikan"

"HAHAHAHA…. Nikmati saja miliku ini bocahh, ugh"

"TIDAK,, bukan miliknya.. tapi milik kami.."

"AAAAARRRRRRGGGGHHHH!…."

"HAHAHAHAHAH"

..

"AAARRGGGHH!,, hosh,, hosh,,"

Brak!

"NARUTO?!"

Kyuubi yang baru saja tiba dan hendak membuka pintu kamar tempat Naruto dirawat segera mendobrak pintu tersebut saat telinganya mendengar Naruto berteriak. Ia berlari menghampiri si pirang dan memeluknya erat.

"Naruto." Ucap Kyuubi lirih.

"Kyuu-nii,, hiks,," Naruto menangis dipelukan Kyuubi. Biarlah ia dibilang cengeng atau apa, ia tak peduli. Ia hanya ingin menumpahkan perasaannya yang begitu—sakit. Hanya sekali ini saja, ijinkan ia untuk menangis untuk yang terakhir kali. Menangisi dirinya yang begitu bodoh. Menangisi dirinya yang begitu kotor. Menangisi dirinya yang hanya bisa membuat semua orang yang menyayanginya khawatir. Menangisi dirinya yang begitu cengeng sebagai seorang lelaki, yang tak mampu menanggung beban hidupnya sendiri, dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa, dan hanya merepotkan orang yang dia sayangi. Biarkanlah, ia ingin menangis, untuk terakhir kali. Air mata yang diharapkan bisa melunturkan segala beban yang membuat hatinya sakit. Kyuubi mengeratkan dekapannya pada sang adik. Ia mengepalkan kedua tangannya erat. Berharap ia bisa menanggung semua yang dirasakan oleh Naruto.

Hingga Naruto tenang, Kyuubi melepaskan pelukannya. Menatap sang adik lekat, ia mencium kedua kelopak mata Naruto yang masih basah oleh air mata, berharap bisa mengurangi rasa sakit yang Naruto rasakan. Naruto tak menolak perlakuan lembut kakaknya itu. Ia memilih diam dan merasakan kelembutan yang Kyuubi berikan kepadanya. Sepertinya ia telah melupakan saat Kyuubi mencium bibirnya.

"Naruto, aku ada urusan sebentar. Kau baik-baik, aku akan segera kembali." Ucap Kyuubi lembut. Ia tersenyum tipis saat tangannya sibuk mengelus pipi sang adik, hanya sebentar, ia melangkahkan kaki meninggalkan ruangan serba putih itu. Meninggalkan Naruto yang menatap kepergiannya dalam diam.

Naruto memejamkan kedua matanya sejenak. Membukanya kembali, kemudian pandangannya tertuju pada jam dinding yang menunjukan pukul sebelas siang. Haah~, masih harus menunggu lama, Gaara pulang dari sekolah.

Sepertinya Naruto telah melupakan mimpinya, tadi.

.TBC….


Mkasih banget bagi yang udah baca,.. thanks a lot all….

Mind to Review?

[edited]