WARNA chapter 2

Author : Baekyoo

Hai.. comeback lagee with me, kai's wife :3 lophe lophe in the air~ *abaikan

oke, baca aja langsung yaa, thanks ^^

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"emm.. Sehun.."

Jongin menelan ludahnya dengan susah payah. Sejenak ia mencoba merangkai kata-kata yang tepat untuk dikeluarkan, agar tak membuat Sehun marah padanya.

Kemudian ia menyodorkan dua buah tiket kehadapan Sehun. Tiket Bioskop.

"mau nonton bersamaku?"

.

.

.

.

.

Sehun memandang Jongin dengan tatapan aneh, gila pikirnya. Ajakan konyol macam apa yang baru saja Jongin tawarkan, sungguh tidak masuk akal.

"aku tahu ini terdengar bodoh, tapi.."

"aku benar-benar ingin menonton bersamamu, meskipun hanya sekali dalam hidupku. Apa kau mau?"

Sehun melongo, kehilangan kata-kata.

Lalu sedetik kemudian ia tertawa meremehkan dan mengambil tiket yang ada ditangan Jongin dengan rasa tidak tertarik. Ia melihat lembaran tiket yang berwarna merah dan hitam itu yang ternyata merupakan film cinta. Film yang sedang gempar-gemparnya tayang dibulan ini. Sehun tersentak kecil, ini adalah film yang ingin ia tonton sejak kemarin. Kebetulan sekali?

Namun..

Kembali kefakta bahwa Jonginlah yang mengajaknya menonton film ini, ya, Kim Jongin. Orang yang ia benci. Ia menatap Jongin datar dan tak suka.

"tapi kau buta..kim-jong-in" kata Sehun mengejek, Jongin hanya tersenyum.

"tapi aku tidak tuli.. aku bisa menikmatinya meskipun hanya dari suaranya saja, seperti saat aku menonton film ditelevisi" sangkal Jongin.

Sehun mendecih dan mengembalikan tiket ditangannya kepada Jongin kembali. Perasaannya mengatakan untuk menerima ajakan Jongin, tapi itu sama saja dengan mebiarkan Jongin mengira dia telah menerima Jongin menjadi kakaknya. Sehun tidak mau. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membenci Jongin sampai mati. Sehun tidak mungkin menjilat ludahnya sendiri, bukan?

"aku tidak punya waktu untuk melakukan hal sekonyol itu, tidak. akan." Dan kemudian Sehun membanting pintunya dengan keras tepat dihadapan Jongin sebelum pemuda itu mengatakan sesuatu. Hal itu membuat Jongin kecewa sekaligus sedih.

.

.

Harusnya ia tahu Sehun tidak akan mau pergi bersamanya.

Harusnya Jongin sadar bahwa sekeras apapun ia mencoba untuk meluluhkan hati Sehun pasti akan berakhir sia-sia.

.

.

"kau harus datang, Sehun. Besok setelah kau pulang sekolah, aku akan menunggumu di toko. Jam 7, Sehun"

Tapi Jongin itu keras kepala. Ia akan melakukan sesuatu dan tidak akan menyerah sampai hal yang diinginkannya terwujud sesuai keinginannya.

Jongin berjongkok dan meraba-raba celah dibagian bawah pintu Sehun, satu tiket digenggamannya ia selipkan dicelah pintu.

"aku tahu kau akan datang.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jongin menggosokkan kedua tangannya dengan gemetar. Udara yang dingin terasa menusuk-nusuk tubuhnya yang kurus tanpa ampun. Jari-jarinya yang panjang hampir saja membeku kalau tidak ia gosok terus menerus. Ia lupa tidak membawa sarung tangan saat berangkat tadi pagi. Dan jaket yang dipakainya juga tak begitu tebal.

Hari ini adalah hari dimana film itu akan diputar. Film yang ingin ia tonton bersama Sehun. Sudah beberapa jam semenjak ia menutup toko bunga emperan miliknya. Dan Sehun masih belum juga datang, Jongin bisa mengira-ira jam berapa ini. Yang jelas sudah waktunya untuk Sehun pulang dari sekolah.

"Permisi?" sebuah suara terdengar tepat disamping Jongin. Suaranya berat dan unik.

"Hey? Chanyeol? Kau kah itu?" Jongin berbinar. Ia berdiri dari duduknya dan menoleh kanan-kiri.

"kau sudah bisa mengenali suaraku ya,hyung?" sahut pemuda bernama Chanyeol dengan girang. Jongin menoleh kearah kanan, letak sumber suara. Ia mengangguk senang dan tertawa "Kurasa iya"

"apa yang kau lakukan disini? Kukira kau akan menonton bersama adikmu yang bernama Sehun itu.." tanya Chanyeol pada Jongin yang seketika membuat Jongin murung.

.

"dia, belum datang.."

Chanyeol yang melihat perubahan pada raut wajah Jongin jadi merasa bersalah. Ia menggaruk tengkuknya dengan gugup. "lalu? Kau tidak jadi menonton?" tanyanya.

Jongin menggeleng dan kembali melebarkan senyumnya yang terkesan dipaksakan. "mungkin benar,orang buta tidak seharusnya masuk kedalam bioskop. Aku 'kan tidak bisa melihat, bagaimana bisa aku pergi ketempat seperti itu.." kata Jongin, senyumnyan ia selipkan disana. Mencoba terlihat senang meskipun kenyataannya tidak sama sekali, dan itu membuat Chanyeol tidak suka.

"eey~ aku memberimu tiket itu karena aku tahu kau sangat menginginkannya, jangan buat aku menyesal,hyung."

Jongin menunduk, merasa bersalah pada teman barunya itu. "maafkan aku,yeol."

Chanyeol tersenyum kaku, padahal ia cuma bercanda tadi, ia mencoba menghibur Jongin yang hampir menangis "mm..sudahlah, bagaimana kalau, kita nonton berdua? Kurasa malam ini aku tidak ada jadwal manggung dikafe"

"eoh?"

"kenapa? Kau tidak mau?" tanya Chanyeol, suaranya ia jadikan sesedih mungkin, membuat Jongin jadi gelagapan.

"a-ani. bukan begitu"seru Jongin "...hanya saja, satu tiketnya ada pada Sehun.. bagaimana ini?"

Chanyeol tertawa dengan keras sebelum akhirnya menuntun Jongin untuk pergi ke halte diseberang jalan. "itu gampang,hyung. Aku bisa membeli satu lagi, 'kan aku sudah kaya sekarang, haha"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jongin membuka pintu rumah dengan pelan, seperti biasa. Sebuah senyum merekah diwajahnya, malam yang indah ia habiskan bersama Chanyeol. Jongin bahkan lupa kapan terakhir kali ia bisa tertawa lepas dan berbicara sebanyak itu, hanya bersama Chanyeol ia bisa seperti tadi.

Meskipun ada saat yang tidak menyenangkan yang terselip diingatannya saat dibioskop tadi. Jongin jadi pusat perhatian, ia tahu itu. Tidak sedikit juga orang yang menertawakannya.

Tapi saat ia bertanya untuk pulang, Chanyeol bilang jangan. Kata Chanyeol, kalau ia pulang, siapa tahu tidak akan ada lagi kesempatan seperti tadi. Chanyeol juga bilang pada Jongin untuk melakukan sesuatu yang Jongin mau tanpa memperdulikan pandangan orang lain.

'Ini hidup Jongin dan mereka bukan Jongin.'

Dan itu membuat Jongin kuat, Chanyeol orang yang sangat baik. Meskipun Jongin baru satu minggu berkenalan dengannya, Jongin sudah merasa nyaman.

Karena Chanyeol, mengerti Jongin.

.

.

Saat Jongin selesai membuka sepatunya, ia mendengar samar-samar suara televisi diruang tengah. Itu pasti Sehun. Jongin murung kembali, lebih tepatnya kecewa. Padahal ia percaya bahwa Sehun akan datang menemuinya, ternyata tidak. Sebegitu bencinyakah Sehun terhadap Jongin?

"Sehun?" panggil Jongin, Sehun hanya menoleh padanya malas. "kenapa kau tidak datang? Aku menunggumu tadi"

Sehun berdecih, ia mengalihkan pandangannya ketelevisi kembali. Mengganti-ganti chanel ditelevisi dengan kesal.

"dasar pembohong" desis Sehun, pelan sekali, sehingga Jongin tak bisa mendengarnya dengan jelas.

"apa?"

"tidak" kata Sehun cepat. Jongin hanya membuang nafasnya pasrah, susah berbicara dengan orang seperti Sehun.

"kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa tadi kau tidak datang?"

"apa itu penting?" cibir Sehun "kan sudah kubilang aku tidak mau menghabiskan waktuku dengan melakukan hal konyol seperti itu. Mengajak orang buta menonton bersamaku, kau pikir itu wajar? Bagaimana kalau disana ada teman-temanku? Aku bisa diejek habis-habisan, lagipula siapa yang mau nonton bersama denganmu, - itu - tidak - penting- . Makanya pikir-pikir dulu kalau mau menawari sesuatu. Dimana otakmu, dasar bodoh."

.

Jongin tertegun sejenak, ternyata Sehun ternyata bisa cerewet juga.

"ini pertama kalinya kau bisa berbicara sebanyak itu padaku,Hun-ah" kata Jongin senang, membuat Sehun menatapnya tidak percaya. Diejek bodoh malah tersenyum.

"kau itu idiot,ya?"

Jongin menggeleng dan tersenyum lebih lebar. "tidak apa-apa kok, kita bisa menonton film itu bersama-sama lain kali..

..pasti" kata Jongin sembari beranjak kedapur,mengambil air putih untuk dirinya.

"jangan terlalu percaya diri, aku tidak mau! Sampai kapanpun, ingat itu, Kim Jongin!" teriak Sehun, jiwa kekanakannya muncul tanpa disengaja.

"namaku Oh Jongin" balas Jongin setengah tertawa.

"tidaaaaaak! Itu margaku! Kau bukan kakakku!" teriak Sehun histeris, menjambaki rambutnya yang berwarna pirang dengan frustasi. Seperti anak kecil yang mainannya diambil anak kecil lain.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"sebenarnya Sehun itu anak yang baik, hanya saja sifat keras kepalanya terkadang muncul dan sulit diatasi" ujar Nyonya Oh pada Jongin yang baru saja mengantarkan makanan pada Sehun dikamarnya. "dia juga masih seperti anak kecil, mungkin karena sedari kecil kami selalu memanjakannya, jadi mungkin ia masih tidak bisa menerima kehadiran orang lain dikeluarga ini.. jadi..."

Jongin kecil mengangguk dan tersenyum manis, hingga mampu membuat hati Nyonya Oh menghangat.

"aku mengerti eomma, aku pasti akan berusaha menjadi kakak yang baik untuk Sehun, aku janji.."

Nyonya Oh memeluk Jongin dengan erat. Ia mengusuk rambut Jongin yang begitu halus dan harum.

"terimakasih, Jongin.. aku sangat bahagia bisa memilikimu sebagai kakak Sehun, benar-benar terimakasih"

"aku juga bahagia,eomma.. bisa memiliki keluarga baru seperti kalian, aku sangat bersyukur.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jongin mengoleskan selai kacang pada roti ditangannya dengan hati-hati. Kepalanya terasa pening sejak ia bangun tidur tadi. Mungkin efek kedinginan kemarin. Andaikan ia bisa melihat kaca, Jongin pasti tahu seberapa pucat wajahnya saat ini.

"uhukk" Jongin terbatuk, roti panggang dipegangannya ia letakkan kepiring lagi.

"jangan sakit, kumohon" lirih Jongin sembari mengusap wajahnya yang terasa panas. "Jongin kau harus bekerja, jangan sakit" lirihnya lagi.

.

Brug.

Sehun yang baru datang langsung mendudukkan tubuhnya kasar pada kursi diruang makan. Ia mengotak-atik isi tasnya yang tidak begitu penuh, memastikan agar tidak ada barang satu buku pelajaranpun yang tertinggal.

"mana sarapannya? Aku hampir terlambat, idiot" ujarnya memerintah. Namun pandangannya masih fokus pada isi tasnya.

Jongin mengembangkan senyumnya, menutupi keadaan sebenarnya bahwa kini ia sedang sakit. Jongin tidak mau terlihat lemah dihadapan adik tirinya itu. Bagaimanapun juga ia tidak mau membuat repot orang lain dengan keadaannya.

"ini, hanya ini yang bisa kubuat" kata Jongin sembari meletakkan piring berisi roti panggang dimeja makan.

"setiap hari aku juga tahu kau hanya bisa membuat ini, memangnya kau bisa apa? Menanak nasi? mustahil" gerutu Sehun sambil menarik rotinya mendekat dan memakannya. Akhir-akhir ini Sehun jadi sering bicara, cerewet.

Jongin hanya tesenyum kecil. "itu kau tahu"

Jongin merasakan tubuhnya sedikit oleng, pening luar biasa. Namun ia mencoba terlihat biasa kembali. Dan Sehun tidak melihat hal itu, masih sibuk dengan sarapan paginya.

.

"Sehun.." panggil Jongin hati-hati. Takut mengganggu acara makan Sehun yang terdengar sangat nikmat.

"hg" Sehun menjawab malas. Ia mengunyah potongan roti dengan cepat, hingga mulutnya terisi penuh.

Ia terburu-buru, bukan karena hampir terlambat sebenarnya. Hanya saja, ia tidak mau mengantar Jongin ketokonya. Meskipun jalannya searah. Yang ia tahu, Jongin itu sangat lambat, seperti keong, Sehun tidak suka berjalan lama dengan Jongin.

"hari ini aku jaga rumah.." kata Jongin ragu setelah lama berpikir dan menimbang-imbang keputusan, hal itu membuat Sehun mendelik bingung. Tapi Sehun terlalu malas untuk bertanya lebih jauh, lagipula itu kabar baik untuk Sehun, ia mengacuhkan Jongin dan beranjak dari duduknya.

"i don't care"

Lalu kemudian ia meneguk segelas susu hangat yang disiapkan oleh Jongin disetiap harinya. Kalau Sehun bilang, itu terpaksa. Karena sedari kecil ada pembantu yang menyiapkan sarapan untuknya, hanya saja sekarang berbeda, Jongin yang membuatnya. Sehun juga tak ambil pusing untuk itu. Toh ia tidak akan mati jika memakan buatan Jongin, kecuali jika Jongin menaruh sesuatu dalam makanannya.

.

.

Sehun melangkahkan kakinya kearah pintu keluar. Mengabaikan Jongin yang kini membereskan meja dengan wajahnya yang pucat.

Ha?

Sehun menoleh kearah Jongin dengan ragu. Benar apa yang dilihat Sehun sedaritadi, wajah Jongin, pucat sekali. Kenapa Sehun baru sadar?

"uh-" kini Jongin terlihat sedang menahan batuknya.

Sehun berpikir sejenak,

'dia.. sakit?' batinnya berkecamuk.

Tapi.. ia masih saja Sehun yang keras kepala dan menyebalkan, ia menggidikkan bahunya tak perduli dan pergi kesekolah seperti biasanya. Bukan urusannya, biarkan Jongin mengurusi dirinya sendiri.

.

Dan ketika Jongin mendengar suara pintu yang tertutup, begitupun derap kaki Sehun yang semakin jauh dan menghilang. Saat itu pula pertahanannya runtuh,

"uhukk,uhhuk" Jongin menyadarkan tubuhnya pada kursi dan memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut tak karuan.

"uuh Jongin,ada apa denganmu?"

"uhhuk,uhhukk"

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sehun tangkap bolanya!" seru Suho dari kejauhan.

Terlambat, Sehun yang setengah melamun tak bisa mengelak saat bola voli itu mengenai kepalanya dengan keras. Alhasil Sehun jatuh terduduk dengan kepalanya yang berputar-putar.

"kau ini kenapa sih sedari tadi?" ujar Baekhyun yang mendekat dan membantu Sehun berdiri dari jatuhnya.

"itu benar-benar sakit" lirih Sehun, masih memegangi kepalanya yang terkena bola.

"Hun, gwaencanha?" tanya Suho yang kini berada disamping Baekhyun dengan khawatir. "bukan salahku loh ya, kau melamun terus sih" Suho membela dirinya sendiri. Sehun hanya berdecak dan menatap Suho kesal.

"aish,aku benci olahraga. Ketemu saat matematika, ok?" kata Sehun yang kemudian berlalu pergi keluar lapangan tanpa ijin.

"ya! Hun-ah!" teriak Baekhyun, namun tidak digubris sama sekali oleh Sehun.

Suho dan Baekhyun hanya saling berpandangan melihat tingkah Sehun yang tidak biasa, ini pertama kalinya Sehun bertingkah aneh. Biasanya Sehun akan marah-marah jika ada seseorang yang menyakitinya, tapi kini tidak. Padahal Suho pikir Sehun akan menendang bokongnya, atau mencubit perutnya sampai biru. Kali ini Sehun aneh sekali.

"mau kemana Sehun itu?" tanya Jang Seongsaengnim pada Suho dan Baekhyun.

"UKS, tadi ia terkena bola" jawab Baekhyun asal, ia terkikik sebelum akhirnya memungut bola voli dan menyeret Suho untuk kembali bermain.

.

.

.

.

Sehun menelusuri lorong lantai dua dengan pikiran tak menentu, pusingnya sudah sejak tadi mereda. Tapi ada sesuatu yang membuat kepalanya terasa penuh dan membingungkan.

Ia menghentikan langkahnya didepan deretan loker-loker murid kelas 2, termasuk lokernya. Rencananya ia akan berganti baju dan tidur-tiduran diperpustakaan. Tapi Sehun rasa ia berubah pikiran.

Sehun membuka lokernya dengan tergesa-gesa, mengambil seragam dan tasnya yang ia lipat rapi didalam. Menutupnya kembali dan tak lupa pula ia menguncinya dengan rapat.

Lalu Sehun berlari, mengikuti kata hatinya yang meraung-raung, memaksanya untuk melakukan hal terbodoh dalam kamus hidupnya.

.

.

.

.

.

.

"uhukk-uhuk" Suara batuk menyapa gendang telinga Sehun saat pertama kali ia masuk kedalam rumah. Arahnya dari kamar Jongin.
Sehun membuang nafasnya, ternyata betul. Jongin sedang sakit.

Sial, padahal Sehun bisa memastikannya saat pulang sekolah. Tapi ia terlalu penasaran sehingga rela kabur dari sekolah.

Hanya untuk melihat keadaan Jongin.

Sehun mulai merasa aneh pada dirinya sendiri. Masa iya Sehun menghawatirkan Jongin? tidak tidak, mungkin Sehun hanya penasaran, mungkin..

"benar,hanya penasaran" gumamnya.

"uhuk-uhuk.. uhhuk."

.

Klek.

Sehun membuka pintu kamar Jongin dengan muka datar. Jongin yang meringkuk dalam selimut langsung terlonjak kaget mendengar suara pintu yang terbuka.

"s-siapa?" tanyanya takut-takut.

Pencurikah? Penjahat? Pembunuh?!

"ini sehun, dasar otak udang"

.

.

.

.

TBC

.

Makasih sudah mau membaca dan mengomentari ff ini ^^