Sweet Devil

Disclaimer: Karakter milik mereka sendiri

Pair: SuLay

Warning: BL, Bahasa campur aduk, Typo(s), OOC (untuk kebutuhan cerita), dan Garing sekali :"D

.

.

.

Yixing menyipitkan kedua matanya ketika sosok yang akhir-akhir ini masuk ke kehidupan damainya terlihat sedang berdiri sambil menyenderkan punggung pada salah satu sisi gerbang sekolah dengan tangan yang terlipat di depan dada. Ia semakin menyipitkan mata, lalu menguceknya dengan pelan berharap sosok itu hanya halusinasinya saja.

Ia mengerjapkan matanya sekali lagi, namun bentuk sosok itu masih tetap sama. Ya Kim Junmyeon benar-benar ada di sana dengan pose kerennya.

Yixing mendesah lelah. Ia yakin tadi pagi ia cium tangan mama dan babanya terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah dan meminta doa supaya harinya di sekolah berjalan dengan lancar, tapi kenapa bahkan saat matahari belum seperempatnya melintas langitpun, ia malah sudah bertemu dengan makhluk tampan yang tak ingin dilihatnya itu?

Pegangan pada tali tas ranselnya menguat, ia ingin bersikap biasa sebenarnya, tapi ketika ia melihat para siswa-siswi yang melewati gerbang berjalan dengan menunduk dengan wajah tegang dan saling berpegangan tangan dengan teman-temannya seolah mereka sedang melewati penjaga pintu neraka, Yixing jadi ikut takut juga.

Meneguk ludah, ia mulai kembali melangkahkan kakinya pelan sambil mengerutkan badan sedemikian rupa dengan harapan Junmyeon tidak melihatnya.

"Selamat pagi, princess"

Pundak Yixing menegang mendengar suara lembut mendayu yang malah terdengar horror itu. Ternyata usahanya untuk menginvisible-kan diri percuma. Well, ya dengan jaket ungu ngejreng mencolok yang selalu ia pakai setiap hari memang membuatnya mustahil untuk bisa berkamuflase sih ya.

Yixing menghentikan langkahnya untuk berdiri tegak, lalu dengan gerakan patah-patah lehernya berbalik untuk menoleh kearah sumber suara dengan gigi yang sengaja ia pamerkan.

"Se-selamat pagi… Junmyeon"

Tidak ada pilihan lain selain membalas sapaan Junmyeon. Ia tidak mau membuat Junmyeon marah lagi. Gangguan yang beberapa hari lalu ia terima sudah cukup. Ia tidak mau lagi. Terima kasih.

Meskipun hatinya gondok, sih. Junmyeon sepertinya memang benar-benar masih membencinya. Buktinya, dia masih memanggil Yixing dengan sebutan princess yang setahu Yixing princess itu artinya tuan putri, dan Yixing yakin ia masih melihat sesuatu yang menggantung diantara selangkangannya tadi pagi ketika ia pergi mandi, yang itu berarti dia masih laki-laki, kan? Dan laki-laki mana yang mau disebut princess? Haa setan kecil itu memang benar-benar tahu cara untuk melecehkannya, ya.

Kemudian tanpa melihat respon Junmyeon, Yixing buru-buru kembali menggerakan kakinya menuju kelas, dan bisa ditebak, Junmyeon lagi-lagi mengikutinya dari belakang. Oh Yixing bukan terlalu percaya diri, meskipun kadang fungsi otaknya bisa selemot keong, tapi indra pendengarannya sangat peka dan ia jelas mendengar ada orang yang mengikutinya dari belakang, dan ia tahu orang itu Junmyeon, karena dari beberapa hari yang lalu itu yang dilakukan si pentolan geng tawuran itu.

Ya, mengikutinya sampai ke depan kelas padahal kelas mereka beda arah, dan memelototi orang yang bersikap ramah kepada Yixing.

Ia tentu saja ingin berbalik dan balas memelototi Junmyeon sambil berkata "Hey rich boy! Berhenti mengikutiku atau kutendang selangkanganmu!" sambil menunjukan jari telunjuknya pada hidung pemuda itu, tapi sayang, ia tidak seberani itu dan akhirnya ia hanya bisa menelan bulat-bulat keinginannya dan hanya berjalan dengan was-was menuju kelas yang sialnya jadi terasa berkali-kali lipat lebih jauh dari biasanya.

Sepanjang perjalanan, Junmyeon tidak berkata apa-apa lagi selain ucapan selamat pagi tadi karena ia terlalu sibuk memelototi orang-orang yang sedang memandang Yixing-nya. Dan itu justru membuat Yixing semakin was-was. Takutnya Junmyeon tiba-tiba menempelkan kertas bertuliskan 'tendang aku' di belakang punggungnya.

Atau bahkan Junmyeon sendiri yang menendangnya. Kan tidak lucu.

Bergidig ngeri, Yixing menambah laju kakinya sampai akhirnya ruang kelas yang awalnya selalu terasa pengap menjadi seperti sebuah oase di padang pasir sudah ada di depan mata. Tanpa menengok, Yixing langsung masuk ke dalam dan langsung menghampiri bangkunya di baris belakang.

Ia melepas jaket ungunya dan menyampirkan jaket itu pada sandaran kursi seriring dengan hembusan napas lega dan suara benturan antara pantat dan permukaan kursinya.

Kyungsoo yang sebelumnya sempat melihat Junmyeon di depan pintu kelas langsung menghampiri Yixing. "Jadi… Junmyeon masih suka mengikutimu?"

Yixing menoleh "Kau lihat sendiri tadi kan Kyungie"

"Hmm…" Kyungsoo memegang dagunya, pose berpikir "Seram juga ya"

"IYA KAN? ORANG ITU MEMANG MENYERAMKAN KAN?"

Dengan jari yang masih menempel pada dagu, Kyungsoo melirik Yixing yang sedang menatapnya serius dengan bulir-bulir air yang sudah menghiasi kedua sudut matanya. Kyungsoo hanya mengedip- kedipkan mata sampai Yixing memegang kepala dengan kedua tangannya.

"Aku tidak tahu sampai kapan dia akan menahan diri untuk tidak mengajakku adu jotos, Kyungie. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan—hiks"

Kyungsoo makin mengedip, lalu meringis. Padahal maksud Kyungsoo yang seram itu 'cara' Junmyeon memperlihatkan afeksinya tapi Yixing malah berpikiran lain. Padahal Kyungsoo sudah pernah bilang kalau Junmyeon itu mungkin memendam perasaan romantis pada Yixing, tapi temannya itu malah tidak percaya. Dan tetap keukeuh kalau Junmyeon itu memang membencinya.

"Yixing, aku sudah pernah bilang kalau Junmyeon itu pasti menyukaimu"

"Dan aku juga pernah bilang itu tidak mungkin Kyungie! Dia itu pasti membenciku. Kemarin saja dia mengirim sebuah kotak besar ke rumahku"

"Lalu apa isinya?"

"Aku tidak tahu" Jawab Yixing polos dan sukses membuat Kyungsoo tak bisa menahan diri untuk tidak menepuk dahinya sendiri "Aku belum membukanya Kyungie. Aku takut, mungkin saja itu bom? Atau bangkai kucing? Atau bangkai kucing yang di bom? Kan seram"

Kyungsoo menggeleng kecil sejenak sebelum suara benturan antara telapak tangannya dan meja menggema dan menghasilkan suara "BRAKK!" yang 'cukup' keras dan membuat Yixing tersentak sekaligus membuat mereka jadi pusat atensi.

Mendapat pandangan horror dari Yixing dan beberapa teman sekelas yang tidak menyangka orang sekalem Kyungsoo bisa terlihat seseram itu hanya dengan menggebrak meja, Kyungsoo kembali menghela napas panjang untuk meredakan emosinya. Kyungsoo sabar kok SABAR, dia sudah biasa sih, so no problem, ya.

"Kalau kau tidak membukanya bagaimana kau bisa tahu apa isinya?"

"Aku tidak siap Kyungie. Takutnya ketika aku membuka—"

"Kenapa kau terus berpikiran negatif ketika itu menyangkut Junmyeon, Xingie?"

Yixing memajukan bibirnya "Kenapa kau bertanya seperti itu? kau sendiri pernah bilang kalau berurusan dengan Junmyeon adalah hal nomer satu yang harus dihindari"

Kyungsoo cengo. Dia memang pernah bilang seperti itu sih ya, dia akui. Tapi seriously, dia bilang seperti itu karena dia belum tahu persis kronologi kejadiannya. Jadi ya… seperti itu. tapi setelah tahu kalau gelagat Junmyeon itu lebih condong ke suka daripada ke benci, dia menarik kembali kata-kata itu.

Tapi bukan berarti ia ingin menjorokkan Yixing ke dunia Junmyeon, hanya saja dia sudah lelah mendengar rintihan frustasi dari Yixing dan jujur saja dia juga merasa 'agak' kasihan dengan Junmyeon yang berniat baik tapi malah disalah pahami terus.

"Ya-ya waktu itu kan beda ceritanya. Pokoknya aku tetap yakin kalau Junmyeon itu menyukaimu"

Yixing menggeleng-gelengkan kepalanya "Kau tetap persisten ya"

Kyungsoo mendengus. "Kata orang yang selalu saja bernegatif thinking"

"Hee… apa hubungannya?"

"Hubungannya baik-baik saja" Jawab Kyungsoo ketus.

"Eh?" Yixing mengedipkan matanya dua kali lalu memiringkan kepala bingung "Kau sedang melucu, Kyungie?"

Alis Kyungsoo berkedut, lalu ia mengelus dadanya sendiri. sudah biasa sudah biasa. Kyungsoo sabar kok sabar. Orang sabar rezekinya lancar.

"Ehem…" Kyungsoo berdeham untuk memperbaiki suasana "Anyway Xingie, kalau kau tidak percaya kenapa kau tidak tanya langsung saja kepada orangnya?"

"Kau pikir aku berani?"

"Tidak, sih"

"Lagipula, kalau dia bilang tidak, aku bisa malu tujuh turunan delapan tanjakkan"

"Hmm…" Kyungsoo mengangguk-angguk. Iya juga sih, syukur-syukur kalau Junmyeon memang menyukai Yixing, kalau ternyata spekulasinya salah, dia juga bisa terkena imbasnya "Kalau begitu dengan cara lain saja"

"Caranya?"

"Suruh dia menjauh darimu… misalnya?"

"Lalu apa faedahnya?"

"Y-ya… ini untuk mengetes saja, aku ingin tahu reaksinya ketika dia kau suruh pergi. Lagipula kau sendiri kan yang ingin membuat Junmyeon menjauhimu. Jadi, ya sekali mendayung dua pulau terlewati, begitu"

Yixing diam, dilihat dari wajahnya ia sedang berpikir keras. Lalu beberapa detik kemudian ia mengangguk "Oke. Tapi kau jangan jauh-jauh ya, jadi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kau harus siaga ya"

"Okeyokey"

.

.

.

Sementara itu, sosok yang jadi topik diskusi Kyungsoo dan Yixing sedang menatap tajam salah satu dari beberapa minionnya. Ia kesal, kenapa tinggi badan pemuda dengan marga Park itu bisa tinggi, sedangkan dia yang notabene 'pemimpin' grup tidak tinggi-tinggi.

Padahal setiap hari ia selalu minum susu dan selalu olahraga angkat barbel supaya nanti ketika ia menikah, ia bisa menggendong uke idamannya. Tapi ternyata takdir tidak terlalu berpihak padanya. Oke, meskipun hasil dari angkat barbel sudah bisa membentuk otot-otot yang aduhai, tapi tetap saja tinggi badannya bahkan tidak lebih tinggi dari sang uke.

Dunia memang tidak adil…

Tapi bukan itu masalahnya! Ia menatap tajam Chanyeol bukan hanya karena tinggi badannya yang menjulang, tapi karena ide yang diberikan pemuda jangkung itu sama sekali tidak efektif.

Yang ditatap hanya bisa menelan ludah yang sialnya jadi terasa sekeras batu. Meskipun wajah Junmyeon bisa dibilang 'angelic' dan terlihat 'lembut', tapi Chanyeol sudah mengenal Junmyeon lebih dari apapun. Yeah, dan ia juga tahu persis bahwa there's a devil behind that angelic face. dan ketika Junmyeon sudah menampilkan mata tajamnya, Chanyeol tahu ia dalam masalah.

"Ke-kenapa hyung?" Tanyanya hati-hati. Ia sudah tidak kuat dengan atmosphere hitam yang melingkupi mereka.

"Park Chanyeol. Kau bilang jika aku memberi Yixing hadiah, aku akan jadi dekat dengannya?"

Oh itu masalahnya. Sejujurnya Chanyeol ingin berkata kasar, tapi tidak boleh. Nanti bisa-bisa ia keluar dengan tidak selamat dari sekolah ini.

Tapi seriously. Ia gagal paham dengan orang di depannya itu. Meskipun mungkin image Junmyeon itu sudah bisa dibilang buruk dimata orang-orang, tapi harus Chanyeol akui bahwa Junmyeon itu orang yang bisa membuat laki-laki sejenis dengannya iri. Junmyeon itu… kuat, pintar, kaya, tampan, dan punya kulit bersih seputih susu. For god's sake, jika bukan karena image preman yang seakan sudah tertulis jelas di dahinya, Junmyeon itu orang yang sempurna. dan itu juga yang membuat Chanyeol menghormatinya.

Tapi ketika membahas sesuatu yang berhubungan dengan afeksinya terhadap seorang pemuda manis yang bernama Zhang Yixing, Junmyeon seolah jadi orang yang berbeda. Dan itu juga yang membuat Chanyeol bisa menarik sebuah konklusi: bahwasanya orang seperti Kim Junmyeonpun bisa jadi hopeless jika menyangkut tentang cinta.

Ia juga tidak mengerti kenapa Junmyeon bisa jatuh hati pada pemuda itu. karena di mata Chanyeol, Yixing itu tidak lebih dari pemuda lemot cenderung oon yang tak pernah menyadari kode-kode keras yang diberikan Junmyeon. Meskipun harus Chanyeol akui, Yixing itu memang manis.

Pernah Chanyeol bertanya "Kenapa kau bisa menyukai orang itu, hyung?" dan pertanyaannya hanya dijawab sebuah senyuman karena Junmyeon malah asik menatap plester berwarna pink norak bekasnya.

Meskipun begitu, ia bisa paham bahwa harga hati Junmyeon itu semurah plester luka.

Kembali ke tadi, jadi Junmyeon selalu meminta saran-saran pada Chanyeol dan anak buah yang lain untuk bisa mendekati pemuda China itu. Tapi ya… begitu, Junmyeon malah selalu gagal paham dengan maksud dari mereka.

Ketika ia diberi saran untuk memberikan bunga, ia malah memberi bunga kamboja dengan alasan bahwa itu adalah bunga tercantik yang ada di sana (toko bunga) tanpa memperdulikan makna dibaliknya. Ketika diberi saran untuk menyingkirkan saingan, ia malah membuat Yixing dijauhi dengan memelototi orang yang menyapa pemuda itu, alhasil Yixing malah jadi tidak nyaman. Ketika diberi saran untuk memberikan puisi cinta… well yang ini memang Junmyeon menulis puisi, tapi ketika ia membacanya, ia pikir itu lebih pantas disebut mantra kutukan daripada puisi.

Junmyeon itu hopeless sekali, kan?

Dan sekarang, ketika Chanyeol yakin Junmyeon sudah mengikuti seluruh instruksinya dengan baik dan benar, kenapa mereka masih disalahkan juga?

Oke, mungkin cara-cara sebelumnya memang bisa meninggalkan kesan yang buruk. Tapi ia yakin seratus persen bahwa hadiah boneka beruang besar itu adalah hal yang manis.

"A-aku juga tidak tahu, hyung"

"Kenapa kau bisa tidak tahu?"

Simpel. Aku bukan dukun.

Tapi itu hanya bisa diucapkan dalam hati, meskipun badannya besar tapi nyalinya tidak sebesar itu "Y-ya aku tidak tahu saja. lagipula, apa kau yakin tidak menambahkan apa-apa pada kotak itu?"

"Tidak. dalamnya sama persis dengan apa yang kau beli"

Hening sesaat karena Chanyeol juga sedang berpikir kenapa hadiah semanis itu tidak berhasil. Ia bisa maklum kalau Junmyeon menambahkan benda-benda yang aneh lagi pada kotak itu, tapi ia bilang tidak, kan?

"Ah mungkin dia tidak suka boneka hyung, dia kan laki-laki"

"Hmm… tapi plesternya imut, dianya juga imut, kenapa dia tidak suka yang imut-imut"

Oke fix, Chanyeol kembali menarik pelajaran, kata imut yang berlebihan itu bisa membuat muak. Seperti kata orang 'too much cuteness can be a bad thing'. Itu tidak nyambung sebenarnya.

"Ya itu berbeda hyung. Orang yang suka kartun mungkin saja tidak membuatnya jadi suka boneka. Lagipula itu tidak nyambung, sih"

"Lalu bagaimana?"

"Bagaimana apanya?"

Tatapan Junmyeon kembali menajam "You know exactly what I mean"

"O-oke oke hyung—" Chanyeol kembali menelan ludah "—bagaimana kalau memberinya hadiah yang more manly, begitu?"

"Misalnya?"

"Boneka beruang jantan"

"PARK CHANYEOL!"

"Oke oke hyung calm down. Ki-kita bisa pikirkan ini nanti. Anyway hyung, aku pikir untuk sekarang kau mulai dari hal kecil saja. kau bisa membelikannya makan siang dan ajak dia mengobrol, itu dulu saja"

"Baiklah"

.

.

.

Junmyeon berjalan santai sambil menenteng beberapa bungkus roti di tangannya. Kali ini ia tidak akan membatalkan niatannya untuk mengajak Yixing untuk mengobrol dan makan siang (kalau ini masih bisa disebut makan siang, karena sekarang sudah jam pulang sekolah) bersama seperti hari-hari sebelumnya. Salahkan jantungnya yang tidak bisa tenang sedikit saja ketika berhadapan dengan pemuda manis itu.

Ketika sampai di sana, ia menengok ke dalam kelas dan ia beruntung. Yixing masih ada di dalam kelas dan masih belum pulang.

"Yi-Yixing, ada yang mencarimu!"

Tetap saja, meskipun niatannya bagus, ia masih tetap gugup meskipun gugup tidak ada dalam kamus hidupnya. Jadi ia malah meminta—memerintah orang lain untuk memanggilkan Yixing untuknya.

Yixing yang sedang memasukkan buku-buku ke dalam tasnya jadi menegang seketika ketika ia melihat Junmyeon ada di ambang pintu. Ia mendesah lelah. Apa tidak cukup ia menemuinya pagi-pagi, sekarang pulang sekolahpun ia masih diterror?

Tapi tunggu.

Yixing mengerjap, lalu tersenyum tipis. Mumpung Junmyeon ada di sini, dan Kyungsoo juga, bukannya ini kesempatan untuk menyuruh Junmyeon untuk menjauhinya?

Yixing mengangguk-angguk sendiri. lalu setelah memberikan kode berupa lirikan dan anggukan kepala pada Kyungsoo, Yixing mulai melangkahkan kakinya dengan yakin menuju Junmyeon dan diam-diam diikuti Kyungsoo.

Namun setelah sampai di hadapan Junmyeon, ia tidak bisa mengelak dari aura mengintimidasi dari si preman itu. Ludahnya jadi terasa keras dan jantungnya berdegup kencang. Jangankan untuk bicara, untuk bergerak saja rasanya sulit.

Tapi tidak. ia tidak boleh menyerah. C'mon Yixing, this is your chance to tell Junmyeon to fuck off.

Yixing mengepalkan tangannya yang sudah mulai basah. Ia menghela napas panjang sebelum bersuara.

"Junmyeon—"

"Hm?"

Yixing kembali menghela napas untuk mengumpulkan keberaniannya.

.

"Kim Junmyeon, why don't you just fuck me?"

.

"…"

"…"

Junmyeon melongo.

Kyungsoo menjedotkan kepala pada tembok terdekat.

.

"—shit".

.

.

.

"Huahahahahhaha"

Suara tawa Minseok dan Kyungsoo terus terdengar sepanjang jalan tanpa mempedulikan wajah Yixing yang sudah semerah tomat dengan bibir yang dimonyongkan.

"Hahahha seriously—hahhaha, aku tidak mengerti kenapa mulut juga bisa typo"

"Hhahhahha kau harus lihat wajah mereka berdua ketika Yixing mengucapkan itu hyung. priceless sekali"

Dengan sisa-sisa tawa, Minseok mengusap air mata yang mulai menggantung dari kedua sudut matanya efek dari terlalu banyak tertawa. "Aku—aku tidak tahu apakah aku akan tahan untuk tidak tertawa saat itu juga. Hanya mendengarnya saja aku sudah seperti ini"

"Kaliaaaan. Sudaaah"

"Aku tidak bisa memprediksi nasib Yixing selanjutnya"

"Aku bahkan tidak sanggup membayangkannya, Kyungie"

Yixing merotasikan bola mata. Oke, mereka berdua sudah mulai terasa menyebalkan. Mendengus, Yixing mulai berjalan cepat meninggalkan sahabat yang sedang tertawa di atas penderitaanya setelah menghentakkan kakinya dengan keras sekali.

Karena sibuk menggerutui mereka dengan kata-kata yang sangat pantas sekali, Yixing jadi tidak sadar ada beberapa orang yang dari arah berlawanan sedang berjalan kearahnya dan akhirnya kepalanya terbentur pada dada bidang salah satu dari orang itu.

Yixing mendongak. Ia melihat sosok pemuda berkulit tan sedang memamerkan tatapan tajamnya pada Yixing.

Namun yang jadi takut bukan Yixing, tapi malah Kyungsoo dan Minseok yang langsung menghentikan tawanya seketika setelah melihat kejadian itu. tidak salah lagi, orang yang Yixing tabrak itu Kim Jongin. Pentolan geng preman sekolah tetangga yang levelnya hampir menyamai Junmyeon.

Kyungsoo dan Minseok meringis, kenapa sahabat mereka itu senang sekali berhubungan dengan orang-orang sejenis itu?

"Hey, itu… celanamu bolong? Habis jatuh?"

Suara Yixing yang bernada polos itu tertangkap telinga keduanya ketika mereka sedang memikirkan cara untuk bisa terbebas dari Jongin cs. Mereka menggeram tertahan, itu namanya fashion dasar bodoh! sial. Jongin pasti marah. Lihat saja wajahnya sudah mulai memerah padam.

"Itu namanya fashion!" Jawab seseorang yang memiliki wajah agak kotak yang ada di sebelah kanan Jongin.

"He…. Fashion?, Kyungsoo, Minseok hyung, celana bolong itu fashion katanya—eh? kalian sedang apa?"

Kyungsoo dan Minseok yang masih tengkurap pura-pura tidak mendengar.

"Heeyyy, Minesok hyung. Kyungsoo!"

Minseok menyengir ngeri, jangan bicara padaku, bodoh. Aku hanya mayat busuk yang tidak punya hubungan apapun dengan si bodoh itu.

"Ssstt Minseok hyung, apa pura-pura mati berlaku untuk preman? Aku tidak pernah melihat ada orang yang melakukan ini sebelumnya, apa ini tidak apa-apa? Apa ini akan berhasil?"

Bisikan Kyungsoo dibalas pelototan Minseok "Jangan bicara padaku bodoh, kau ingin babak belur dihajar orang itu?"

"A-aku…" suara Jongin yang mencicit mengalihkan atensi keduanya. Ia melihat wajah Jongin yang memerah sedang melirik ke samping dengan tangan kanan memegang erat tangan kirinya sendiri. "Aku memakai ini bukan karena aku sengaja—" kemudian ia menatap Yixing dengan mata yang bersungguh "Aku hanya terpaksa memakainya, kau mengerti?"

Yixing mengangguk-anggukan kepala dan tersenyum paham. "Iya iya aku tahu aku tahu" Lalu ia mengeluarkan plester dari saku tasnya "Ini, semoga cepat sembuh ya"

Semua orang disana melongo kecuali kedua orang itu. anak buah Jongin melongo karena alih-alih melihat Jongin melayangkan bogem mentah pada orang yang menabrak sekaligus meledeknya secara tidak langsung, mereka malah melihat wajah malu-malu najis dari bossnya yang baru kali ini mereka lihat.

Kyungsoo dan Minseok melongo karena melihat Yixing untuk ke sekian kalinya bisa menaklukan seorang preman meskipun dengan cara yang menurut mereka absurd.

Mereka saling berpandangan setelah mereka bangkit dari tengkurap dan menepuk-nepuk baju mereka yang ditempeli debu jalan. "Mulai sekarang aku ingin memanggilnya pawang preman"

Minseok tersenyum "Agreed"

"Ya sudah, aku pulang dulu ya" Pamit Yixing setelah Jongin menerima plester itu dan mengucapkan terima kasih dengan suara yang mencicit.

"Tunggu! Namamu siapa?"

Yixing yang baru sampai pada Minseok dan Kyungsoo kembali menoleh "Yixing. Zhang Yixing"

"A-aku… Kim Jongin" setelah menyebutkan namanya meskipun tidak diminta, Jongin memamerkan senyum termanisnya.

Dan sekarang, Jongdae dan anak-anak buah Jongin yang lain butuh toilet karena perut mereka tiba-tiba mulas dan mereka merasa mual.

.

.

.

TBC

.

.

.

a/n: maaf lamaaa hahahahha padahal IP ku naik tapi waktunya yang dikit banget. Biasa, semester awal tugas menggunung *malah curhat. Oke, maaf juga gaje, hahaha padahal nunggunya lama, eh malah gaje sekali lanjutannya xD maaf yaa….

Btw yang baca am I your father, maaf belum bisa update. Rin mau UTS dulu (iya, baru 4 minggu kuliah udah UTS, edan gak?) haha

Makasih buat yang udah fav, follow, dan review cerita ini. tapi maaf belum bisa bales satu-satu, padahal pengen tapi ini waktunya mepet .

Udah ah, review lagi yaaa, biar semangat :*

Thanks to:

Itachi2409, cumberbatch's, Guest, Aakjendol, hngkjm22, , Maymfa10, Xiao yueliang, Yeri960, dearssi, Guest, Titie Zhang, yxingbunny, Anson, Park RinHyun-Uchiha, MinieZhang, YiiRaw, Craness, chenma, cucok, Guest, KittiToKitti, PikaChen, Guest09, Wahyu, MeriskaLu, Minge-ni, xydexonn, YUA Mizushima.