Chapter 2 Apdeth. Pas ngebaca chapter 1 tadi, aku baru nyadar. Ck..ck..ck. banyak baget typonya. Mungkin ini bisa jadi pelajaran kalo mau ngepublish fic harus di periksa baik-baik dulu ficnya. Semoga saja di chapter 2 ini jauh lebih baik dari chapter seblumnya.
Oke, sebelumnya balas review sebentar ya.
Tsukiagi Hikari : ya… emang nggak bisa dibayangin kalo mereka ke dufan. Padahal ini kan nggak AU.
Akatsuki no Hyoran : mereka sekedar mau refreshing aja setelah ngerjain banyak misi. Makasih buat review-nya Hyoran-san udah ngingetin banyak typo. Semoga saja yang ini lebih lucu lagi.
'Aka' no 'Shika' : Oke… ni udah di apdeth.
Sabaku No Nanda : halo juga Nanda. Terserah aja mau manggil apaan.. hehe.. ya, aku suka Shikamaru juga *Toss*. Hehe.. emang kasihan si Shino. Di chap kali ini juga ada kesialan Shino yang lainnya. Kalo pairnya, kayaknya nggak ada.
Wooke… langsung kita mulai aja ceritanya.
-----
-Liburan ke Gunung Myoboku-
By : Ryuutamaru
Disclaimer : Naruto©Masashi kishimoto
Genre : Humor (maybe)
WARNING : OOC(MAYBE), GAJE.
Summary : Naruto dkk diberi cuti oleh Hokage. Mereka memutuskan untuk liburan ke suatu tempat untuk refreshing. Naruto mengusulkan ke gunung Myoboku, tempat Naruto belajar tekhnik sage. Bagaimanakah keseruan mereka di gunung Myoboku?
Please Read N Review
Chapter 2 : Sampai di Gunung Myoboku
-----
Pagi itu suasana Konoha sangat tenang. Orang-orang Nampak berlalu-lalang sambil menyapa teman-teman mereka yang lewat. Burung-burung pun berkicauan dengan bebasnya. Sungguh suasana yang sangat indah.
Tapi…
BRUUAKKK
"Gawat!! Aku terlambat!"
Hmm… Suasana yang indah itu tidak bertahan lama.
"Dimana bajuku?!! Aduh! Mereka pasti akan marah besar padaku." Seorang anak berambut pirang dengan 3 pasang goresan di pipinya, terlihat sedang panik pagi itu. Ya.. Naruto bangun kesiangan. Padahal dia sudah berjanji pada teman-temannya untuk berkumpul di depan gerbang Konoha.
"Lupakan baju. Sekarang aku mandi dulu!" Naruto segera mengambil handuknya dan seperti kebisaaannya kalau bangun kesiangan, MANDI GLEDEK.
Beberapa menit kemudian, Naruto selesai mandi dan segera mencari bajunya yang sebenarnya sudah tadi malam dia setrika sampai betul-betul rapi. Sayangnya dia lupa meletakkannya dimana.
"Aha… Ketemu!" kata Naruto sambil memegang sebuah kaos berwarna hitam. Dasar Naruto, padahal bajunya itu diletakkan di bawah ranjangnya. Setelah memakai bajunya tersebut, dengan langkah seribu no jutsu, Naruto segera pergi ke tempat yang sudah ditentukan.
WOOSH
NGENG…
NGUNG…
Naruto berlari dengan kecepatan 1km/jam, eh tunggu dulu. Sepertinya bukan 1km/jam tapi 1km/menit. Kecepatan seperti setara dengan kecepatan berlari seorang maling beha yang dikejar-kejar warga. Naruto berlari dihalangi banyak rintangan, seperti kucing lewat, tali jemuran, dan gerobak siomay (emang ada). Tentu saja Naruto tidak akan menghindari rintangan tersebut karena hanya akan membuang-buang waktu. Dia menabrak semua yang menghalangi larinya.
Akhirnya, Naruto sudah sampai di depan gerbang Konoha. Teman-temannya sudah menunggu sedari tadi. Menyadari akan kedatangan Naruto, mereka semua memberikan sebuah 'sambutan' yang sangat meriah, TATAPAN DEATH GLARE (minus Hinata tentunya.)
Naruto pun menyambut 'sambutan' teman-temannya dengan sekedar basa-basi, "Hehe… sudah lama menunggu ya?"
"Enggak kok, baru saja kami sampai disini kok," kata Sakura dengan 'lembut'nya. Hmm… tapi kelembutan itu tidak benar-benar tulus dari hatinya. Justru kata-kata itu adalah awal dari kemarahan Sakura. Dan Naruto tau akan hal itu.
"Yap.. dan baru saja kami akan membunuhmu jika kau benar-benar tidak datang," Kata Kiba, semakin membuat Naruto cemas.
"Sudahlah. Lebih baik kita segera cepat ke sana," kata Neji mencairkan suasana. "Fiiuh…" Naruto menghela nafas lega.
"Tapi ngomong-ngomong kemana jalan menuju gunung Myoboku itu Naruto?" Tanya Lee dengan semangat. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk liburan..err.. mungkin lebih tepat latihan *khusus untuk Lee*. Dasar…
"Pasti melelahkan harus mendaki gunung lagi. Huh… Liburan kali benar-benar tidak menyenangkan," keluh Shikamaru.
"Eiitss… tenang dulu dong," kata Naruto dengan santai. "Nggak perlu capek-capek mendaki gunung.". Lalu Naruto menggerak-gerakkan tangannya membentuk beberapa segel jurus.
"Gyaku Kuchiyose!"
BOFFH
-----
Sementara itu di tempat lain, di sebuah rumah kecil, seorang… eh.. seekor katak tua berbadan kecil sedang duduk-duduk santai di rumahnya.
Tiba-tiba…
"Fukasaku-sama… Fukasaku-sama… tolong bukakan pintunya.. ada sesuatu yang gawat!!" terdengar suara keras memanggil katak itu di luar rumah sambil menggedor-gedor pintu rumah si katak.
"Masuklah Gamakichi, pintunya tidak dikunci. Tak bisakah kau sedikit sopan dengan orang tua?" jawab katak tua itu dengan kesal.
BRRAAK
Gamakichi membuka pintu terlalu keras sehingga mengenai dinding. "Hei… pintu itu baru saja diperbaiki minggu lalu!!" Fukasaku makin kesal.
"Fukasaku-sama… aku tadi mendapat laporan dari katak pendeteksi bahwa dia merasakan adanya chakra manusia di daerah gunung ini," lapor Gamakichi
"Baguslah. Berarti Naruto sudah kembali kesini. Sepertinya dia membawa kabar baik," kata Fukasaku dengan tenang.
"Tidak… sepertinya dia justru membawa kabar buruk."
"Maksudmu?"
"Katak pendeteksi tadi mengatakan bahwa chakra manusianya bukan cuma satu. Bahkan lebih dari sepuluh. Sepertinya Naruto mengajak teman-temannya untuk latihan disini."
"APAA!!??"
-----
Sementara itu, Naruto dkk sudah sampai di tempat tujuan, yaitu gunung Myoboku.
"Taaraa… kita sudah sampai!"
Teman-teman Naruto melihat keadaan sekeliling. Disekitar mereka banyak sekali tanaman-tanaman raksasa. Banyak juga terdapat bebatuan raksasa. Benar-benar mirip seperti hutan, bukan seperti puncak gunung.
Mereka tercengang melihat apa yang telah mereka lihat. Bukan berarti tercengang karena kagum. Melainkan tercengang karena mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Apa yang bisa dipakai untuk bersenang-senang atau memanjakan diri di tempat seperti hutan rimba ini, pikir mereka.
Naruto yang melihat teman-temannya hanya diam, langsung membuka pembicaraan, "Bagaimana, bagus bukan?"
"Bagus nenek moyang lo nyebur sumur!" celetuk Kiba.
Semua nampak diam. Sepertinya mereka benar-benar menyesal telah mengikuti usulan Naruto. Tapi mau apalagi? Kelihatannya mereka semua hanya bisa pasrah. Lagipula sudah terlanjur datang ke sini.
"Baiklah. Karena sudah terlanjur datang ke sini, mau apa lagi?" kata Neji. "Naruto, dimana tempat kami bisa beristirahat sejenak dan meletakkan barang-barang kami?"
"Hmm…" Naruto nampak berpikir sejenak. "Oya… aku tau. Di rumah Kakek Fuka…"
"NARUTOO…" Kalimat Naruto terpotong. Terdengar ada suara lain di belakang Naruto dkk. Mereka semua berbalik badan ke belakang untuk mengetahui sumber suara.
Ternyata suara tersebut berasal dari seekor katak tua kecil berkulit hijau. Sedangkan disebelahnya, ada seekor katak yang jauh lebih besar berkulit merah.
"Kakek Fukasaku, Gamakichi! Lama tidak bertemu. Apa kabar kalian berdua?" kata Naruto menyapa kedua katak itu.
Tapi, katak yang kecil bukannya menjawab pertanyaan Naruto. Melainkan berkata dengan nada sedikit marah. "Naruto. Sudah kubilang jangan membawa orang lain ke gunung Myoboku. Hanya orang-orang yang berchakra besar sepertimu saja yang bisa berlatih tekhnik Sage!"
Naruto menanggapi kemarahan Fukasaku itu dengan tenang. "O… mereka? Mereka bukan mau berlatih tekhnik Sage. Kami Cuma pengen sekedar refreshing disini. Kami diberi cuti oleh Hokage-sama. Ya kan teman-teman?" kata Naruto seraya menoleh kepada teman-temannya. Seakan memberikan isyarat kepada teman-temannya untuk menjawab 'iya'. Teman-temannya hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil, karena mungkin takut dengan kemarahan Fukasaku.
"Kau pikir Gunung Myoboku tempat wisata apa??!!" Fukasaku makin marah.
"Ayolah. Kumohon. Boleh ya? Kami nggak bakal macam-macam disini kok." Fukasaku nampak diam sejenak. Sepertinya dia sedang mempertimbangkan keputusannya. Lalu Gamakichi berkata, "aku rasa tidak masalah kalau mereka diizinkan untuk sekedar nyantai disini. Lagipula aku bosan kalau hanya mendengar suara katak disini." "Kau juga katak Gamakichi," kata Fukasaku.
Fukasaku masih diam. Sedangkan Naruto masih mengaktifkan jurus 'puppy eye no jutsu'nya. Melihat tampang Naruto yang menjijikkan itu, Fukasaku tidak tahan. "Baiklah. Kalian ku izinkan. Tapi awas kalau merusak lingkungan gunung Myoboku ya!"
"HOREEE..!!" Naruto bersorak bahagia. Sedangkan teman-teman yang lainnya, kelihatannya tidak terpasang raut kebahagiaan di wajah mereka semua. Sepertinya mereka lebih berharap kalau katak tua itu tidak mengizinkan mereka liburan disini.
"Ayo ikut aku! Akan kubawa kalian ke rumahku." Ajak Fukasaku sama. Lalu Fukasaku beranjak pergi diikuti Gamakichi dan Naruto dkk dibelakangnya.
Saat berjalan-jalan menyusuri wilayah gunung Myoboku, "Hmm… tempat ini benar-benar seperti hutan. Bukan gunung," kata Kiba. "Betul..betul..betul.." sahut yang lainnya.
"Cuaca disini sangat panas. Susah tidur kalau seperti ini," kali ini Shikamaru yang mengeluh. "Betul..betul..betul..".
"Tidak ada tempat yang menarik disini," Tenten pun juga mengeluh. "betul..betul..betul..".
"Dan tidak ada tempat penangkaran serangga disini. Padahal kalau ada penangkaran serangga disini kita bisa dapat pengetahuan yang banyak tentang serangga," Shino yang sedari tadi diam, kini juga ikut mengeluh. Tapi.. lho? Kok nggak ada yang menyahut 'betul..betul..betul..". bukannya membetulkan kalimat Shino, mereka malah melihat Shino dengan tatapan yang tajam. Tatapan tersebut sudah cukup mengartikan bahwa mereka benar-benar tidak setuju dengan kalimat Shino. Mana ada serangga yang hidup di gunung yang isinya kodok semua. Ada juga serangganya sudah habis semua dimakan kodok. Ck ck ck. Kasihan..kasihan..kasihan.
Shino benar-benar terdiam melihat teman-temannya yang menatap pada dirinya. Dia sangat kesal dengan teman-temannya itu. Pasti setelah ini dia bakal ngambek seharian dan tidak mau mengeluarkan sepatah kata pun.
"Disini juga tidak ada.." kali ini Sai juga pengen ngeluh. Tapi belum selesai dia mengucapkan kalimatnya, sudah ada suara yang memotong perkataannya dari depan…
"SUDAH! JANGAN BANYAK OMONG!! KALIAN KIRA DISINI TEMPAT WISATA APA??!! KALAU KALIAN NGGAK PENGEN DISINI YA SILAHKAN PULANG!!" kali ini Fukasaku marah besar. Gamakichi berusaha menenangkannya, "Fuka-sama, jangan terlalu banyak marah. Nanti bisa jantungan lho. Dokter Spesialis Katak itu mahal bayarannya. Istri Fuka-sama pasti bukannya kasihan dengan anda, melainkan malah tambah marah."
Ketika mendengar kata 'silahkan pulang', teman-teman Naruto sangat senang. Dalam hati mereka, 'yes! Kami bisa pulang dari tempat nista ini.'. tapi tidak halnya dengan Naruto. "Mohon maaf Kakek. Tapi jangan usir kami ya! Kumohon!" kata Naruto meminta maaf. Spontan perasaan senang dari teman-temannya menjadi hilang, 'ah… dasar Naruto baka!'.
Fukasaku tidak menjawab. Tapi dilihat dari tatapan matanya, jelas sekali berarti bahwa Fukasaku memaafkan Naruto dkk, meskipun kelihatannya dia masih marah atas kejadian tadi.
Mereka melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan lumayan jauh dan lama, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah kecil. Atapnya berbentuk seperti jamur. "Nah… kita sudah sampai." Kata Fukasaku dengan nada malas. "Silahkan masuk."
Naruto dkk masuk ke dalam rumah itu. Setelah masuk mereka melihat sekeliling rumah. "Hmm.. tidak terlalu buruk," kata Ino memberi komentar. Model rumahnya memang sangat sederhana. Tapi lingkungan rumahnya sangat bersih dan rapi, dan hal itulah yang membuat rumah ini jadi terlihat indah.
"Ibu, kita kedatangan tamu," kata Fukasaku setengah berteriak memanggil seseorang. Fukasaku dan Gamakichi harap-harap cemas. Entah apa yang dicemaskan mereka berdua. Sepertinya, mereka cemas karena menunggu kedatangan orang yang dipanggil Fukasaku.
Setelah beberapa detik, munculah seorang eh seekor katak dari ruangan belakang. Kulitnya sama seperti Fukasaku, hijau. Bibirnya berwarna ungu. Sepertinya katak inilah yang dipanggil Fukasaku tadi.
Katak yang baru saja muncul itu terdiam. Dia hanya melihat Naruto dkk. Menyadari hal ini, Gamakichi semakin cemas. 'Gawat, sepertinya Shima-sama bakalan marah besar melihat rumahnya sudah dipenuhi oleh orang-orang asing.' Pikir Gamakichi.
Keadaan masih hening. Hingga akhirnya Naruto memecahkan keheningan tersebut, "Nenek Shima, lama tidak bertemu. Bagaimana kabar nenek?"
Kali ini Fukasaku yang cemas, 'dasar Naruto bodoh. Tidak tahu apa kalau istriku bakalan marah melihat teman-teman yang dibawanya itu.'
Shima tidak menjawab pertanyaan Naruto. Kelihatannya dia masih melihat dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, banyak tamu-tamu tak diundang datang ke rumahnya. Apalagi kali ini tamunya bukan katak, melainkan manusia. Sepertinya dia akan sangat marah dan tentu saja bukan Naruto dkk saja yang dimarahi, tapi suaminya juga karena telah mengizinkan orang asing masuk ke wilayah gunung Myoboku.
Suasana makin terasa tegang. Shima makin mempertajam pandangannya. "Hmm…" akhirnya setelah diam seribu bahasa, Shima mengeluarkan satu patah kata. Satu kata 'hmm…' itu saja telah membuat ketakutan Fukasaku dan Gamakichi bertambah. Wajah Fukasaku memucat. Sedangkan Gamakichi menutup telinganya dengan kedua tangannya, dia tidak mau mendengar teriakan dari kemarahan Shima.
Teman-teman Naruto menyadari akan hal ini. Melihat ekspresi wajah Fukasaku dan Gamakichi, mereka mengerti pasti katak yang berdiri di depan mereka itu sifatnya pemarah. Dan saat ini, katak itu sudah bersiap untuk mengeluarkan amarahnya. Mereka jadi ikut takut dengan keadaan ini. Tapi tidak dengan Naruto. Dia masih menunggu jawaban dari Shima atas pertanyaannya tadi.
Tiba-tiba, Shima mulai perlahan-lahan membuka bibirnya. Sepertinya dia bersiap untuk mengeluarkan kata-katanya yang akan memekikkan telinga. Dan…
"AHA…Kebetulan kalian ada disini. Kalian pasti teman-temannya Naruto kan? Ayo silahkan ke dapur. Aku sudah menyiapkan makanan buat kalian. Makanan ini baru pertama kali aku buat lho. Aku belajar dari buku resep. Kalian harus mencoba dan menilainya. Cepat!"
Oh.. semua langsung sweatdrop. Kecuali Naruto, ya karena memang dia tidak mengerti dengan keadaan yang menegangkan tadi. Padahal mereka sudah takut setengah mati kayak lagunya demasip. Tapi setidaknya mereka bersyukur karenaa Shima tidak jadi marah.
"Hei, kalian dengar. Ayo ke dapur! Istriku memang begitu. Kalau sudah belajar resep baru dia selalu meminta orang lain untuk menilainya. Bersyukurlah kalian. Kalian pasti tidak pernah melihat bagaimana seekor katak tua marah. Dan kalian memang tidak perlu melihatnya karena kalian pasti akan takut luar biasa," jelas Fukasaku.
Naruto dkk serta Gamakichi berjalan menuju ruangan belakang yaitu dapur. Sedangkan Fukasaku tidak ikut makan karena sudah makan sebelum pergi menemui Naruto tadi. Setelah itu mereka duduk di lantai dengan manisnya. Mereka duduk mengeliling sebuah meja makan dengan bentuk persegi. Sedangkan Gamakichi duduk dibelakang mereka. Dia tidak butuh meja makan untuk menyantap makanannya.
"Asyik, Shima-sama bikin masakan masakan baru lagi. Ngomong-ngomong makanan apa yang Shima-sama masak?" Tanya Gamakichi.
"Sup belalang dan kecoa pedas," jawab Shima.
HOOEEK
Mendengar itu, Naruto dkk serentak kaget. Mereka berusaha menahan rasa ingin muntah mereka.
"Mendengar namanya saja udah pengen muntah," gerutu Sakura.
"Menjijikkan," tambah Ino.
"Masakannya sudah matang," kata Shima dengan semangatnya. "Gamakichi tolong bantu aku membawa ini.". Shima membawa sebuah wadah besar yang didalamnya berisi cairan atau kuah berwarna hijau, dan di dalam cairan itu ada benda-benda aneh berwarna hijau dan coklat. Mungkin benda berwarna hijau dan coklat itu belalang dan kecoanya. Sedangkan Gamakichi membawa beberapa mangkuk yang ditumpuk menjadi satu dan diatasnya diletakkan beberapa sumpit.
Lalu Shima meletakkan wadah besar itu di tengah meja sedangkan mangkuk yang dipegang Gamakichi dibagikan masing-masing satu orang satu mangkuk, begitu juga dengan sumpitnya. Saat wadah besar itu diletakkan di tengah meja, serentak semua orang yang mengelilingi meja itu melihat apa isi wadah itu.
Setelah melihatnya, wajah mereka langsung pucat. Hinata yang bisaanya wajahnya memerah kini malah memutih. Sai yang memang warna kulitnya sudah seperti kulit mayat tambah putih lagi. Mereka semua pengen muntah di ruangan itu melihat masakan yang ada di hadapan mereka. Benar-benar menjijikkan (bagi seorang manusia tentunya, kalau untuk seekor kodok sih pasti udah dimakan dengan lahapnya).
"Silahkan dimakan!" kata Shima. "Biar aku tuangkan makanannya ya." Lalu Shima mengambil sebuah sendok dan menuangkan makanan berkuah itu ke dalam mangkuk-mangkuk yang tersedia.
Semuanya mengambil sumpit mereka masing-masing secara perlahan-lahan, karena memang mereka tidak niat untuk memakannya. Dengan hati-hati mereka menjepitkan sumpitnya ke salah satu benda yang ada di dalam kuah. Mereka takut kalau-kalau belalang atau kecoanya masih hidup.
Sebelum menyuapkan makanan aneh itu kemulutnya, mereka melihat dulu dengan seksama makanan yang mereka jepit dengan sumpit itu. Benar-benar menjijikkan.
"Ayo dimakan!" Kata Shima yang sudah tidak sabar melihat bagaimana reaksi anak-anak yang ada di depannya itu menyantap makanannya. Pasti mereka akan bilang 'enak sekali', itu sih menurut dia.
Naruto masih menatap makanannya. "Err… bayangnkan saja kalau ini adalah mie ramen special yang dicampur dengan irisan baso sapi, pasti kau bakal melupakan rasa yang sebenarnya Naruto," gumam Naruto kepada dirinya sendiri.
Naruto menatap semua temannya. Eh… tapi ada yang masih meletakkan sumpitnya di meja, Shikamaru. Naruto merasa hal ini tidak adil, "Hei.. Shikamaru!! Kenapa kau tidak ikut makan?!".
Shikamaru menjawabnya dengan santai, "Mohon maaf, terutama untuk Nenek Shima. Bukannya aku tidak mau atau tidak suka, tapi jujur saja, aku tidak tahan pedas." Semua tahu kalau ini hanya akal-akalan Shikamaru supaya dia tidak makan makanan menjijikkan itu. 'Sialan! Kenapa tidak terpikir olehku untuk membuat alasan seperti itu. Dasar si jenius itu,' gerutu Kiba di dalam hati.
"Oh, tenang saja," kata Shima. "Aku yakin salah satu diantara kalian pasti ada yang tidak tahan dengan pedas. Makanya aku sudah siapkan sup yang tidak pedas." Shima menuangkan lagi satu mangkuk sup belalang dan kecoa hanya saja kali ini dia mengambilnya bukan di wadah yang sama. Tapi di wadah yang berbeda yang sudah dia simpan.
Semua memandang Shikamaru sambil menahan tawa. Dalam hati mereka berkata 'haha, rasain loe'. "Haah…" Shikamaru hanya bisa menghela nafas panjang pertanda dia sudah pasrah menerima kenyataannya, apalagi saat Shima meletakkan mangkuk berisi makanan menjijikkan itu di atas meja tepat di depannya.
Akhirnya Naruto dkk semua harus dihadapkan pada kenyataan yang tidak menyenangkan. Mereka sudah bersiap untuk memakan makanan yang tersedia di depannya. Mereka semua memejamkan mata, dan perlahan-lahan menyuapkan makanan itu ke dalam mulut mereka masing-masing. Lalu mengunyahnya dengan perlahan.
DEGGH
Bumi serasa berhenti berputar. Waktu pun seakan berhenti berjalan. Para manusia yang telah memasukkan makanan itu ke dalamnya langsung terdiam. Raut pucat sudah terlukis di wajah mereka. Tinggal menunggu makanan itu keluar dari mulut mereka masing-masing. Oh… tidak sepertinya mereka tidak bisa melakukan hal tersebut. Karena si pembuat makanan a.k.a Chef Shima Queen berada di belakang mereka. Kalau makanan dimuntahkan, otomatis Shima akan tersinggung bahkan bisa lebih buruk dari itu.
Mereka mengunyah dengan hati 'ikhlas'. Mengunyah satu suap makanan saja sudah seperti mengunyah satu ember daging mentah. Lama sekali.
"Bagaimana rasanya? Enak bukan?" Tanya Shima.
Tidak ada yang menjawab. Mungkin karena semuanya masih mengunyah makanan itu dengan 'sepenuh hati'. Karena tidak ada yang menjawab, Gamakichi yang sedari tadi ikut makan juga yang menjawab, "Enak sekali.".
"Aku tidak tanya kau Gamakichi. Aku bertanya kepada anak-anak ini. Kalau kau, pasti semua makanan juga enak," kata Shima. "Bagaimana, enak?"
Naruto langsung menelan makanan yang ada di mulutnya. Padahal makanan itu belum benar-benar lumat dan hancur. Lalu dia menjawab, "Enak sekali nek. Enak sekali."
"Wah, kalau begitu nanti nenek akan buatkan hidangan penutup buat kalian. makanan yang lebih enak lagi nanti. Yaitu ulat bulu mentah tanpa dimasak sedikitpun."
Mendengar nama makanan yang aneh itu, sekali lagi naruto dkk menahan muntah.
"Aku tahu kalian pasti sudah tidak sabar buat hidangan penutup itu. Tapi sebaiknya kalian habiskan dulu makanan ini."
GLEEKK
Habiskan. Sedangkan satu suap aja sudah mau muntah. Apalagi satu mangkuk. Aduuh…
'Ayolah nenek tua sialan! Pergilah dari sini!' rutuk Kiba di dalam hati. Rencananya dia pengen membuang makanan itu ke mana saja ketika Shima sudah pergi. Dan sepertinya teman-teman yang lain juga seperti itu. Mereka merencanakan untuk membuang makanan itu setelah Shima pergi.
Dengan sabarnya mereka menunggu. Tapi, Shima masih juga belum beranjak pergi. Detik berganti menit. Menit-menit terus berlalu. Tapi apa yang diharapkan Naruto dkk masih belum terkabul. Makanan yang ada didepan mereka pun belum sampai setengah habis. Padahal Gamakichi sudah sedari tadi menghabiskan makanannya dan telah beranjak pergi dari dapur.
Hingga akhirnya…
Shima pun bangkit dari duduknya, dia mulai melangkahkan kaki dan beranjak pergi dari dapur menuju ruang dapur. Ketika bayangan Shima sudah menghilang dari dapur, naruto dkk bersorak kecil,"yess..".
Dengan secepat kilat, Naruto membuka jendela yang ada di dapur. Dan dengan sebuah isyarat kecil, Naruto memanggil teman-temannya, "Hey, ayo buang disini!.". Tanpa membuang sampah.. eh.. maksudnya waktu, mereka pun membuang makanan yang telah membuat mereka pengen muntah itu keluar jendela, tanpa peduli kemana sisa-sisa makanan itu terbuang.
Setelah selesai, mereka duduk kembali dan menaruh mangkuk kembali di atas meja. dengan begini, Shima akan menganggap bahwa mereka telah menghabiskan makanan mereka. Dan sepertinya waktunya tepat sekali, karena Shima datang kembali ke dapur.
"Wah, kalian sudah habis. Kalian pasti sudah tidak sabar dengan hidangan penutupnya bukan?" kata Shima. Naruto dkk hanya mengangguk pasrah mendengar perkataan Shima.
TOK..TOK..TOK..
Terdengar suara pintu diketuk dari luar rumah. "Ayah, tolong buka pintunya, ada tamu sepertinya!" kata Shima setengah berteriak kepada Fukasaku yang berada di ruang tamu. "Iya..iya.. aku tau!" sahut Fukasaku dengan nada sedikit kesal.
Terdengar suara pintu dibuka. Karena jarak ruang tamu lumayan dekat, Shima, Naruto dkk bisa mendengar percakapan dari ruang tamu.
"Fukasaku …" terdengar suara yang asing dan tidak dikenali Naruto. Lalu Naruto bertanya kepada Shima, "Nek, yang bertamu itu siapa?". Shima menjawab, "itu Kakek Doru, tetangga sebelah."
"Anda harus bertanggung jawab dengan ini semua ,Fukasaku!" suara tamu itu seperti membentak.
Naruto kaget mendengar hal itu. "Apa??!! Sejak kapan Kakek Fukasaku menghamili anak tetangga?"
PLETAKK
Kata-kata itu spontan memancing amarah Sakura dan membuat Naruto mendapat pukulan keras di kepalanya. "Dasar kau ini! Sudahlah. lebih baik kita dengarkan saja." Bentak Sakura. Untung saja Shima tidak sempat marah karena Sakura sudah duluan memarahi Naruto. Kalau sampai terjadi, pasti bukan hanya benjol yang didapat Naruto.
Sekarang semua orang yang ada di dapur berusaha menguping pembicaraan Fukasaku dengan Doru, tetangga sebelahnya.
"Apa maksudnya Doru?" tanya Fukasaku tidak mengerti karena datang-datang Doru langsung marah kepadanya.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Lihatlah! tembok rumahku luntur gara-gara kau. Padahal baru kemarin aku cat tembok rumahku itu," jelas doru
"Aku semakin tidak mengerti?" Fukasaku semakin kebingungan.
"Aku jelas-jelas melihat kau melemparkan semangkuk, eh.. lebih dari semangkuk sup ke tembok rumahku. Kuah sup itu mengenai dan mengotori tembok rumahku. Dan yang lebih buruk lagi, kau juga melemparkan belalang dan kecoa dan itu membuat lingkungan rumahku bertambah kotor."
Shima yang mendengar hal itu langsung kaget. Sup?Belalang?Kecoa?dan itu semua berasal dari rumahnya? Dia menoleh kepada Naruto. Menatap Naruto dengan tatapan death langsung ketakutan. Begitu juga dengan teman-temannya yang berada di belakangnya.
"Jadi..?" kata Shima sambil tetap menatap Naruto dengan tajamnya. Seolah satu kata itu adalah pertanda kemarahan Shima
"Hehe.." Naruto tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa menyengir. Tapi itu tidak bertahan lama. Wajahnya yang semula tersenyum kini berubah menjadi ketakutan karena Shima tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.
Shima semakin mendekat pada Naruto. Sedangkan teman-temannya menjauhinya karena tidak mau kena imbasnya. Shima mengepalkan tinjunya lalu…
PLETAKK
BUAAGH
BUUGH
JEDAAR
DUGH..DUGH..
DAAR
"ADUUH.. AMPUN NEK!!"
-To Be Continued-
Selesai juga akhirnya chap 2. Kayaknya lucunya masih kurang. Chap depan aku akan berusaha untuk membuat yang lebih lucu lagi.
PLEASE REVIEW
