Title : Now And Forever

Cast : Kyuhyun, Leeteuk, Heechul, Hankyung, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Donghae, Siwon, Ryeowook & Kibum

Other : Changmin, Yunho, Jaejoong, Yoochun & Junsu

Genre : Brothership, Family, Angst, Hurt, Tragedy

Warning : Typo(s), Bored, Bad plot, OoC. Don't like it, don't read it! Fanfic just fanfic. Fanfic ini terinspirasi dari fanfic Iyagi unnie yang berjudul 'Rising Star' & 'Falling Star'. Cho Kyuhyun masih diusahakan menjadi milik saya *sign*

Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot

Summary : "Dan—ngomong-ngomong terimakasih untuk liburannya" / "Meski aku benci mengakuinya, tapi memang hanya itu yang bisa dilakukan sebagai magnae" / "Aku percaya padamu, jadi—kau harus percaya padaku" / "Aku merasa deja vu"

Chapter 2

Kyuhyun terbangun saat matahari sudah tinggi. Pemuda itu melirik jam yang tergantung dikamar Changmin –kamar yang sekarang digunakannya. 10.15 KST. Kyuhyun menghela nafas panjang. Beruntung sekali dia tak ada jadwal pagi, hanya saja siang ini dia harus menemui Presdir Jung. Dan dilanjutkan dengan menjadi bintang tamu diacara radio mereka, Sukira.

Kyuhyun mengeliat, mengambil posisi duduk dengan bersandar ke bedhead. Dia menerawang, mengingat kejadian kemarin membuatnya menghela nafas panjang lagi. Keadaan seakan tidak mempermulus keinginannya. Changmin ada didorm-nya dan menolak menemui Yunho –seperti kata Yunho. Dan apa-apaan kemarin? Sahabatnya itu bahkan mengacuhkannya dan berakhir dia yang hampir bertengkar dengan Kangin.

Ngomong-ngomong soal Kangin, Kyuhyun jadi ingat pesan-pesan yang didapatnya dari semua hyungdeul-nya. Ia hanya sempat membaca pesan singkat dari Sungmin dan mengabaikan pesan singkat hyungdeul-nya yang lain karena kesal.

Kyuhyun menghela nafas lagi, sepasang mata cokelatnya berkeliaran, mencari smartphone-nya. Ketika mendapatinya diatas nakas, pemuda itu lekas mengaktifkan smartphone-nya. Dan dia meringis ketika puluhan pesan singkat masuk kedalam smartphone-nya ketika smartphone-nya diaktifkan. Dia jadi merasa bersalah.

.

"Aku baik-baik saja, hyung. Jangan khawatir"

Sent

.

Kyuhyun kembali menonaktifkan smartphone-nya setelah membalas pesan dari Sungmin. Hanya Sungmin. Saat ini dia sungguh tak ingin diganggu. Lagipula, sore nanti dia juga akan bertemu kembali dengan hyungdeul-nya –paling tidak Leeteuk dan Eunhyuk, karena kedua hyung-nya itulah yang akan menjadi DJ di Sukira.

Memakai sandal rumah milik Changmin yang kebesaran, Kyuhyun melangkah keluar kamar Changmin. Dia celingukan begitu tak mendapati Yunho dimanapun, bahkan ketika dia masuk kedalam dapur. Namun sebuah senyum samar tersungging diwajahnya ketika mendapati note yang dipasang Yunho dipintu lemari es. Dia memang berniat memeriksa tadi, karena ia tahu kebiasaan Yunho sama dengan hyungdeul-nya, menempelkan note dilemari es.

.

Aku pergi dulu, Kyu. Saat Ahjumma datang, mintalah dimasakan apapun olehnya. Dan jangan coba-coba memasak sendiri!

.

Kyuhyun mendengus. Ditempelkannya kembali note itu ditempatnya. Dia menoleh ketika mendengar seorang wanita paruhbaya memanggilnya. Sedikit tersenyum sambil mengangguk ramah pada wanita itu. Bibi Song, adalah yang bertugas membersihkan dan membuat makanan untuk duo TVXQ sejak ditinggal Yoochun, Jaejoong dan Junsu.

Aaah—mengingat mereka bertiga, dia jadi ingat kedua hyung-nya. Kibum dan Hangeng. Kibum, meskipun berada dinegara dan kota yang sama dengannya, tapi hyung-nya yang paling misterius itu tak pernah mengunjunginya. Oh tidak. Maksudnya Kibum selalu berkunjung saat Kyuhyun ada jadwal, jadi dia tak pernah bertemu hyung-nya yang itu. Dan untuk Hangeng, Kyuhyun sangat merindukan hyung China-nya itu. Rindu sekali, sampai-sampai ia pernah berniat kabur saat Super Junior-M mendapat jadwal di China hanya untuk menemui Hangeng. Untunglah otaknya masih waras. Jika saat itu dia kabur menemui Hangeng, mungkin bukan hanya dia yang akan terkena imbasnya, member Super Junior dan Hangeng juga akan terkena imbasnya. Dan dia tak mau itu terjadi.

Seharusnya Changmin berpikir seperti dirinya kan? Ah Kyuhyun lupa, setiap orang punya pemikiran yang berbeda untuk menyelesaikan masalahnya. Dan Changmin—dia memilih pergi dari dorm untuk menghindarinya. Itu tidak benar! Kyuhyun tahu itu. Tapi—hatinya juga merasa kasihan pada Changmin. Padahal ketiga hyungdeul Changmin itu ada di Korea satu kota bahkan kadang satu acara musik, tapi bahkan untuk berbicara saja mereka tak bisa. Jadi—dia memberi waktu Changmin untuk menenangkan diri di dorm Super Junior. Ya. Mungkin ini caranya membantu Changmin sebagai teman. Meski jujur ia merasa tak enak hati. Entahlah.

"Jjajanmyeon spesial untukmu, Kyuhyun-sshi"

Kyuhyun tersadar dari pikirannya sendiri. Bibi Song sudah meletakan semangkuk jjajangmyeon didepannya. Pemuda itu tersenyum lebar, "Terimakasih, Bibi Song" katanya.

"Aku sudah menyelesaikan tugasku, jadi aku harus pergi. Yunho-sshi bilang aku harus menyerahkan kunci dorm padamu. Kau akan menginap disini lagi kan?"

Kyuhyun meringis. Yunho sepertinya tahu ia membutuhkan tempat menginap beberapa hari, setidaknya sampai ia bisa meyakinkan hatinya sendiri.

"Hn" Kyuhyun menyahut, menerima uluran kunci dari Bibi Song. Setelah memberi nasehat seperti yang ditulis Yunho –melarangnya memasak sendiri, Bibi Song segera pamit. Wanita paruhbaya itu juga mengenal Kyuhyun dengan baik, tentunya mengenal juga minus-nya dirinya soal masak memasak.

.

.

Semakin dekat dengan pintu besar itu, Kyuhyun harus mengakui bahwa jantungnya berdebar kencang. Ia tak pernah merasakan seperti ini sejak menerima Daesang 2009 lalu. Perasaan ini sama seperti saat dirinya pertama kali dipanggil keruang sang Presdir sebelum didebutkan bersama Super Junior. Hanya saja, perasaan takut kali ini lebih mendominasi daripada perasaan yang lainnya. Ya. Dia takut. Takut dengan seseorang yang duduk dengan nyaman dikursi kebanggaannya.

Selalu seperti ini ketika Kyuhyun datang. Tak ada pengawal yang akan menjaga pintu besar itu –bahkan lorong menuju keruangan sang Presdir dibiarkan kosong. Presdir Jung seolah sengaja membiarkannya begitu saja. Dan itu menjadi nilai plus untuk ketakutan yang mulai menggerogoti pikiran Kyuhyun. Sial.

Cklek

"Lama tidak berjumpa, Kyuhyun-sshi" suara berwibawa itu menyambut Kyuhyun yang baru saja membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu. Anggaplah Kyuhyun tak sopan dan Kyuhyun tak peduli.

"Jangan berlebihan sajang-nim. Kita baru bertemu beberapa minggu lalu" Kyuhyun tersenyum. "Dan—ngomong-ngomong terimakasih untuk liburannya"

"Mulutmu semakin tajam saja Kyuhyun-sshi" pria paruhbaya itu memutar kursinya –menghadap Kyuhyun. "Duduklah" perintahnya.

Bau khas itu membuat Kyuhyun mual. Wangi parfum mahal yang memabukan sebenarnya. Tapi Kyuhyun tak pernah menyukainya.

"Anda tahu saya tak suka basa basi sajang-nim" jeda, "Jadi—ada apa anda memanggil saya kemari?" tanyanya.

Presdir Jung tertawa keras. Inilah yang dia sukai dari Kyuhyun. Pemuda pucat itu begitu pintar dan tak suka basa basi –seperti dirinya saat muda dulu. "Seperti ucapanku tempo hari" jeda, "Aku berharap kau menerimanya"

Kyuhyun bedehem. Ia tahu alasan Presdir Jung memanggilnya kemari, karenanya saat dia menerima pesan singkat itu dia langsung bergegas kembali ke dorm lebih cepat dari rencananya. Dia ingin menenangkan pikirannya dan yang didapatnya adalah kebingungan dan kekesalan atas sikap hyungdeul dan sahabatnya, Changmin.

"Saya tak akan merubah keputusan saya sajang-nim. Paling tidak beberapa tahun kedepan" Kyuhyun menghela nafas, semoga ia tak salah bicara.

"Kenapa?"

"Karena—bukankah Super Junior sedang menyiapkan album keenam? Aku akan fokus dengan album ini"

Presdir Jung menatap Kyuhyun tajam. Ia tak suka ditolak, dan Kyuhyun, pemuda itu sudah menolaknya! Dan ini sudah kesekian kalinya. Dan anehnya, dia masih terus berusaha menarik pria itu keluar dari Super Junior. Ya. Dia berusaha mengeluarkan Kyuhyun dari Super Junior. Sampai saat itu tiba –saat Kyuhyun berdiri sebagai seorang penyanyi solo, dia tak akan berhenti.

"Bagaimana kalau aku menambah pemain?"

Eh?

"Sahabatmu –Max, bagaimana jika dia ikut bermain dalam permainan yang kita buat?" senyum kemenangan itu bertengger dibibir Presdir Jung. Pria paruhbaya itu bisa melihat Kyuhyun menahan kemarahannya.

.

.

Kyuhyun mendudukan dirinya ditangga menuju lantai paling atas. Kakinya lemas ketika mengingat ucapan Presdir Jung. Tadi dia mati-matian membungkuk hormat setelah berkata cukup kasar pada sang Presdir yang tetap memasang senyum menjengkelkan. Kyuhyun bahkan terpaksa menyeret kakinya yang sudah melemas sejak nama Changmin disebut tadi.

Changmin tidak boleh masuk dalam permainan ini. Tidak boleh. Cukup dia saja, dan dia taka akan membiarkan Changmin, Yunho apalagi hyungdeul-nya ikut masuk dalam permainan ini.

Tes

Kyuhyun mengusap air matanya dengan kasar, kemudian berdiri. Sejenak ia kembali menoleh, menatap sengit pada pintu besar disana sebelum berjalan menuruni tangga. Ia tak sadar ada sepasang mata yang mengawasinya sejak tadi.

"Dasar bodoh" sosok itu bergumam begitu sosok Kyuhyun tak dilihat lagi olehnya.

.

.

"Apa yang kulakukan?"

Kyuhyun menatap gusar pintu dorm Super Junior dilantai 11 apartemen Star City. Pemuda itu tersenyum sinis, kakinya membawanya kemari ternyata. Tapi untuk apa? Jadwalnya bersama Leeteuk dan Eunhyuk dimulai pukul 22.00 KST malam ini. Dan sekarang masih sore, bahkan matahari belum menghilang.

Kyuhyun sudah hendak berbalik ketika pintu dorm terbuka, menampilkan sosok Changmin. "Kyuhyun-ah"

Penampilan Changmin sangat berantakan. Sepertinya magnae TVXQ itu baru saja bangun tidur. Ah, Changmin pasti mangkir dari jadwal TVXQ atau—dia sedang tak ada jadwal? Entahlah.

"Kyu—"

"Kau berantakan sekali Chwang" Kyuhyun memotong, mendorong Changmin sedikit agar memberinya jalan untuk masuk kedalam dorm. Pemuda itu meletakan mantel yang baru saja dibukanya dan menyimpannya asal. Salju sudah turun dan dirambutnya ada butiram salju.

Changmin mendengus, mengikuti Kyuhyun masuk dan mendudukan dirinya disamping Kyuhyun. Wajah Changmin tampak kusut. Dan seketika Kyuhyun jadi teringat kembali percakapannya dengan Presdir Jung tadi.

.

.

"Kalau kau mengkhawatirkan Super Junior, maka biarkan sahabatmu itu yang menanganinya"

"Maksud sajang-nim?"

"Dia yang akan menggantikanmu. Bagaimana?"

"Anda bercanda?"

"Kenapa? Max memiliki suara yang bagus, dia bisa mencapai nada tinggi dengan mudah. Dia juga sudah terbiasa dengan member Super Junior kan? Jadi—kau tak perlu khawatir dengan kelangsungan Super Junior. Fans pun tak akan keberatan kau dan Super Junior berpisah dengan alasan sakit yang kau derita"

"Jangan bilang kalau—anda ada dibalik semua masalah ini, sajangnim"

"Kau pintar Kyuhyun-sshi"

"Anda—yang membuat jadwalku berbeda dengan hyungdeul? Anda juga yang—membuat TVXQ sunbae-nim selalu berada dipanggung yang sama dengan JYJ sunbae-nim? KENAPA ANDA MELAKUKAN INI SAJANG-NIM?!"

"Awalnya aku mempersiapkan ini sebagai rencana cadangan saat kau menolak lagi Kyuhyun-sshi. Dan kau menolaknya kan. Jadi jangan salahkan aku jika Max bahkan U-Know juga ikut masuk dalam permainan ini"

"Anda tak boleh melakukan ini sajang-nim. TVXQ harus tetap ada"

"Mengapa aku harus menurutimu, Kyuhyun-sshi. Kau sepertinya lupa, akulah pengendali disini"

"ANDA BENAR-BENAR JAHAT, SAJANG-NIM!"

.

.

"Kyu—Kyuhyun-ah!" Kyuhyun terperanjat. Pemuda itu menatap kesal pada Changmin, tapi tak mengeluarkan ucapan apapun.

"Kau marah padaku?" Kyuhyun menaikan sebelah alisnya. "Jangan marah. Aku—"

"Siapa yang marah padamu?" potong Kyuhyun. Pemuda itu meraih remote televisi kemudian mengganti channel sesukanya. Changmin ikut mengarahkan pandangannya pada layar televisi yang diganti channel tiap beberapa menit sekali oleh Kyuhyun tanpa berniat menyela.

"Karena kita magnae—" jeda, pandangan mata Kyuhyun masih mengarah pada layar televisi yang sekarang menunjukan salah satu kartun favoritnya dan Changmin. Tapi sesungguhnya ia tak tengah serius melihat si kuning dan si merah muda berdebat hal konyol seperti menangkap ubur-ubur bersama tetangga mereka. Dan Changmin juga seperti itu. Ia diam saja, ia yakin Kyuhyun akan melanjutkan ucapannya. "—kadang hyungdeul berusaha membuat kita nyaman, membuat kita tak perlu memikirkan apapun selain diri kita sendiri. Karena bagi mereka—kita yang seperti itu, yang pura-pura tak tahu, yang bisa sedikit membuat aegyo atau kata-kata ajaib dapat sedikit mengobati kelelahan mereka"

Kyuhyun menoleh, mendapati Changmin yang juga menoleh padanya. "Ini akan terdengar sangat aneh. Tapi—sebaiknya kita tetap seperti itu, Changmin-ah. Karena itulah tugas kita sebagai magnae"

"Kau benar" Changmin memasang senyum bodohnya. "Meski aku benci mengakuinya, tapi memang hanya itu yang bisa lakukan sebagai magnae" ada nada getir yang tertangkap indera pendengar Kyuhyun, tapi pemuda pucat itu juga memasang senyum lebarnya, menepuk pundak Changmin seolah sama-sama meyakinkan ucapan masing-masing.

"Semalam kau menginap dimana?"

"Kapan kau akan pulang?"

.

.

Eunhyuk dan Leeteuk berjalan beriringan menuju dorm lantai 11. Mereka mengeratkan mantel yang dikenakan masing-masing saat dirasa udara semakin dingin, seolah menguliti mereka. Diam-diam keduanya berharap Sungmin atau Ryeowook sudah kembali dari jadwal mereka dan sedang membuat makanan apapun yang bisa mengganjal perut mereka yang lapar.

"Kyuhyunie—apa dia membalas pesanmu hyung?" itu adalah pertanyaan Eunhyuk yang juga ditanyakan pada semua member dilantai 11 pagi-pagi saat dirinya bangun, yang dibalas gelengan oleh Ryeowook & Yesung. Sungmin sudah berangkat karena pagi tadi Sungmin menerima telepon dari adiknya. Entah untuk apa, jadi Eunhyuk belum sempat bertanya pada Sungmin yang ia yakini mendapat balasan pesan singkat dari Kyuhyun.

Leeteuk menggeleng. "Belum. Ponselnya juga masih tidak aktif" Leeteuk menghela nafas panjang, "Seharusnya aku menyuruh Changmin tidur dikamar manager hyung saja" sesalnya.

Eunhyuk juga ingin bilang begitu sejak Kyuhyun pergi semalam. Tapi apa iya dia berani mengatakan hal itu pada Leeteuk yang begitu dia hormati? Jadi dia membujuk Kyuhyun untuk tidur dikamarnya saja dan itu langsung ditolak Kyuhyun.

"Aku khawatir hyung—"

Eunhyuk menghentikan ucapannya begitu ia berhasil membuka pintu dorm lantai 11. Dia menoleh pada Leeteuk yang juga tengah menatapnya. Ketika Leeteuk mengangguk, pemuda dengan gummy smile itu langsung berlari masuk. Ia tersenyum lega begitu mendapati Kyuhyun tengah menonton televisi bersama Changmin dengan volume besar.

"Hei—lepaskan" Kyuhyun tersentak begitu seseorang memeluk lehernya dari belakang. Ia jadi kesusahan bernafas dan orang yang memeluknya tidak juga sadar, malah semakin mengeratkan pelukannya.

"Hei—hyukjae kau mau membuatku mati huh?"

Saat itu juga Kyuhyun merutuki ucapannya sendiri ketika Eunhyuk melepaskan pelukannya kemudian menangis keras. Pemuda itu menatap Leeteuk dengan tatapan memelas, dan dibalas gelengan oleh Leeteuk.

"Aish—mengapa kau menangis hyung?!"

Kyuhyun memeluk Eunhyuk. Ia tak biasa menenangkan orang yang menangis. "Maaf. Okay?" katanya sambil menepuk punggung Eunhyuk.

Eunhyuk mengangguk sambil memeluk Kyuhyun kembali. Pemuda itu tersenyum kecil ketika ekor matanya menangkap Leeteuk tengah menggelengkan kepala padanya. Ah—ternyata Leeteuk mengetahui kalau dirinya hanya sedang menggoda Kyuhyun saja.

"Ayo pergi" Leeteuk menginterupsi. Leader Super Junior itu menunjuk jam dinding yang sudah menunjukan pukul 21.00 KST. "Kau tak apa kan kami tinggal Changmin-ah? Mungkin sebentar lagi Ryeowook dan Yesung kembali"

Changmin mengangguk. Pemuda itu ikut berdiri ketika Kyuhyun berdiri, mengenakan mantelnya. "Kyuhyun-ah" panggilnya ketika Kyuhyun hendak mengikuti langkah Leeteuk dan Eunhyuk keluar dari dorm. "Aku percaya padamu, jadi—kau harus percaya padaku" katanya ambigu.

Kyuhyun mengangguk saja. Ditepuknya pundak Changmin sebelum berlalu mengikuti langkah kedua kakaknya. Sejenak pikirannya kembali melayang. Apa maksudmu, Changmin-ah?

.

.

Kyuhyun tersenyum lebar mendengar Leeteuk dan Eunhyuk membuka acara radio mereka dengan kata-kata konyol. Kadang ia menyetujui ucapan beberapa hater Super Junior, bahwa mereka bukanlah penyanyi tapi pelawak. Hanya saja disini –menurut Kyuhyun, kalimat itu perlu diubah, mereka bukan hanya penyanyi tapi pelawak. Itu tidak masalah. Mereka idol, dan idol memang bertugas menghibur kan? Well, seperti yang selalu dia ucapkan, hater itu fans yang tertunda. Mereka bahkan lebih mengerti tentang Super Junior dibanding fans, karena mencoba mencari celah kesalahan kecil Super Junior. Dan Kyuhyun selalu yakin, suatu saat hater-hater itu akan menjadi fans mereka.

"—tamu kita, Super Junior magnae Kyuhyun-sshi"

Kyuhyun tersadar, tersenyum ketika kamera menyorotnya. "Annyeonghaseyo, Super Junior magnae Kyuhyun imnida" katanya sambil menunduk sedikit.

"Woooaa PD-nim baru saja memberitahuku bahwa pesan yang kita terima sangat banyak. Rupanya sedang terjadi Kyuhyun effec disini" Eunhyuk berkata dengan keras sambil mengacungkan kertas yang dipegangnya. Kertas itu berisi scrip percakapan yang harus mereka lakukan.

"Tema kita malam ini adalah : 'Apa yang ingin anda tanyakan kepada Kyuhyun Super Junior'. Mari kita mulai membacakan pertanyaan pertama" Leeteuk mengambil alih. Leader Super Junior itu membaca scrip ditangannya kemudian mengernyit. "Kyuhyun-sshi—" jeda, "—seseorang bernama Hyunjoo bertanya, 'Mengapa Kyuhyun-oppa terlihat sangat kurus belakangan ini?'"

Leeteuk memperhatikan Kyuhyun. Astaga, ia baru sadar akan hal itu. Bahwa Kyuhyun memang terlihat lebih kurus dari terakhir kali ia memperhatikannya. Eunhyuk yang semula membaca asal scrip ditangannya juga menoleh pada Kyuhyun. Dan ia juga melihat apa yang Leeteuk lihat.

"Hyunjoo-sshi annyeong" Kyuhyun memberi salam setelah berdehem. "Benarkah aku kurusan? Ini karena aku sedang berdiet. Daripada aku harus menuruti janji Leeteuk-sshi seperti Shindong-sshi, jadi aku berdiet saja atas keinginanku" tertawa, Kyuhyun berdoa semoga kedua kakaknya itu tak curiga. "Lagipula setahun ini berat badanku naik terus"

"Kyuhyun-sshi sedang berusaha mendapatkan berat badan seperti pada album keempat kami. Benarkan Kyuhyun-sshi?"

Kyuhyun tertawa saja. Penampilannya di album keempat sempat diprotes Ayah dan Ibunya karena dirinya terlihat sangat tirus, bahkan Ahra noona-nya juga menelpon dari Austria ketika teaser baru saja keluar. Padahal dia merasa terlihat keren sekali. Dia kan ingin menghilangkan image 'anak-anak' yang melekat karena album ketiga Super Junior dan album 'Super Girl'.

"Kyuhyun-sshi, kau benar-benar ingin seperti itu?" Leeteuk memastikan.

"Ibu dan Ayahku memprotes, bahkan Ahra noona mengatakan aku kurang makan dan memaksaku tinggal dirumah sampai berat badanku naik" Kyuhyun berkata jujur soal ini. Dia mati-matian membujuk Ahra untuk tak khawatir padanya.

Leeteuk dan Eunhyuk saling pandang. Entahlah, tiba-tiba saja mereka merasa ada yang salah disini. Entah apa. Padahal biasanya mereka tak seresah ini.

.

.

Mereka memulai segmen baru masih dengan celotehan Eunhyuk dan Leeteuk yang menceritakan kebiasaan Donghae dan Shindong diakhir tahun. Donghae akan merengek minta kado natal dan Shindong akan menghilang pada malam natal dan kembali sehari setelah natal.

"Kyuhyun-sshi sebentar lagi natal. Ada yang ingin kau minta? Mungkin pendengar ingin tahu apa yang diinginkan Super Junior Kyuhyun untuk kado natalnya" Leeteuk kembali pada Kyuhyun.

"Hyungdeul akan memberikannya?" Eunhyuk berdecak karena Kyuhyun sudah melupakan kalimat formal yang harus digunakannya. Padahal ia memperingatkannya berkali-kali.

"Katakan saja. Semua orang banyak berharap kado dihari natal" Eunhyuk berkata.

"Benarkah boleh?" tanyanya dengan wajah memelas. Leeteuk berdehem, "Katakan" katanya.

"Aku merasa deja vu" Eunhyuk berkata lagi. "Kyuhyun pernah menunjukan wajah seperti ini diresolusi tahun 2008 dan berakhir dengan permintaan aneh" katanya mengingatkan Leeteuk tentang keinginan Kyuhyun menjadi akrab dengan mereka dengan memanggil mereka tanpa embel-embel 'hyung', tentunya kecuali pada Leeteuk. Jadilah awal tahun itu semuanya berjalan sedikit kacau, Heechul dan Kangin akan marah-marah ketika disapa Kyuhyun dan Kyuhyun selalu selamat berkat bantuan Yesung dan Sungmin.

"Katakan saja Kyuhyun-sshi"

"Aku—" jeda, pemuda itu menikmati sekali perubahan raut wajah Leeteuk dan Eunhyuk yang menjadi tegang. "—ingin hidup lebih lama dan selalu sehat" lanjutnya teringat ucapan Donghae setiap hari padanya atau ketika mengingat Ayahnya.

Leeteuk dan Eunhyuk menghembuskan nafas kesal. Mereka yakin bukan itu yang ingin diucapkan Kyuhyun –meski mereka tidak berani berpikir Kyuhyun akan meminta kado natal. Kyuhyun punya segalanya, pemuda itu tinggal tunjuk dan Ahra noona-nya yang kelewat baik itu pasti bersedia membelikannya.

Tapi—

Leeteuk dan Eunhyuk yakin bukan itu. Ada sesuatu yang disembunyikan Kyuhyun. Dan mereka tak pernah bisa menebaknya sebaik Sungmin.

"Kau yakin itu?"

"Itu salah satunya" elak Kyuhyun. Pemuda itu meneguk air mineralnya sampai setengah. Ia bisa melihat kedua kakaknya itu masih sesekali meliriknya meski mulai terlibat adu argumen tentang kado-kado natal yang ingin mereka berikan kepada para fans.

Aku ingin bersama kalian selamanya hyungdeul. Now and Forever.

*TBC*

Akhirnyaaa fanfic pertama ini dilanjut juga ya. Naskah aslinya itu ilang gara-gara flashdisk rusak. Padahal disana udah sampe chapter 7. Jadi—saya nulis dengan ingetan yang ada aja dan berakhir dengan mentok sana mentok sini.

Terimakasih buat reader-deul yang udah nyempetin baca terus ngasih jejak berupa komentar sebagai penyemangat buatku. Awalnya aku ragu gitu takut nggak pada suka sama fanfic buatanku, maklum masih abal-abal ^^

Akhir kata—sampai jumpa di chapter selanjutnya *lambai tangan*

SIGN