Disclaimer: Sengoku Basara from Capcom.


Di mansion Hideyoshi, Hanbei berjalan dengan membawa koper putih dan menuju ruang kamar Hideyoshi yang ada di depannya. Dalam benaknya, ia masih agak ragu untuk bertemu Hideyoshi yang tengah terkapar di ranjang. Namun bagaimana lagi, ia ingin sekali membicarakan sesuatu dengan Hideyoshi. Dengan rasa percaya diri, dia membuka pintu kamar Hideyoshi dengan kedua tangannya. Hideyoshi yang berada ranjang dan sesaat dia memandang ke jendela kemudian menoleh ke arah Hanbei dan menyambutnya dengan ramah dalam kondisi lemah di ranjang. Hanbei berjalan mendekati Hideyoshi dan duduk di kursi samping ranjang Hideyoshi.

Hening. Hanya itulah yang ada di kamar Hideyoshi. Namun tak lama, Hideyoshi menoleh dan berkata, "Kau tidak apa-apa?" kepada Hanbei.

Hanbei terdiam. Beberapa detik kemudian, Hanbei mengatur posisi duduknya dan menjawab. "—Aku hanya lelah mengerjakan semua tugasmu dan juga pekerjaanku sendiri."

Hideyoshi menatap sendu. "Jangan terlalu memaksakan diri. Kau juga butuh istirahat."

Hanbei tersenyum kecil dan menutup kedua matanya yang anggun, "Ehm, terima kasih Hideyoshi tapi tidak hari ini. Aku mendapat jabatan sebagai pemimpin perusahaan kemarin, jadi tugasku semakin hari semakin berat," kata Hanbei.

Tawa kecil Hideyoshi. "He hem, padahal kamu masih murid SMA. Tidak apakah mereka mempercayaimu sebagai pemimpin di perusahaan tersebut?"

Hanbei tertawa kecil dan menjawab pertanyaan dari Hideyoshi, "Yah, aku sama sekali tidak menduganya. Padahal kerjaku hanya sebagai agen pemasaran."

"Apakah itu artinya kau bisa meminta 'senjata' itu dari perusahaannya?"

Hanbei tersenyum kecil, "Sepenuhnya akan kudapatkan 'senjata' itu."

Hideyoshi tertawa sesaat dan memalingkan mukanya. "Haha... terdengar licik tapi aku suka rencana atau semacamnya yang kamu pikirkan."

Hanbei tersenyum dan menoleh ke Hideyoshi. "Semuanya sudah kurencanakan dari dulu, Hideyoshi. Dan mungkin saja, kita bisa mengatur sekolah dengan 'senjata' itu tanpa berperang. Yah, karna Tokugawa keluar dari OSIS jadi aku tak bisa membiarkannya mengambil alih sekolah, jadi terpaksa aku mengeluarkan 'senjata' itu supaya berjaga-jaga," kata Hanbei. Hanbei mengambil koper yang dia bawa dan mengambil sebuah makalah.

Hanbei menyerahkan makalah tersebut ke Hideyoshi, "Ini datanya."

Hideyoshi membaca dari paragraf pertama dan menoleh ke Hanbei, "Mirip seperti suntikan."

Hanbei mengangguk, "Ya. Aku tidak menyangka 'senjata' itu hanya khusus digunakan untuk barang yang spesial."

Hideyoshi mengangkatka alis kanannya. Hideyoshi bertanya, "Lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan 'sejanta' itu?"

Hanbei menundukkan kepalanya dan kembali menatap Hideyoshi, "Aku dapat informasi dari agen perusahaan itu secara diam-diam. Dia mengatakan bahwa ada orang yang tahu begitu detil 'senjata' ini dan cara penggunaannya."

Hideyoshi bertanya kembali, "Siapa?"

Hanbei tersenyum ke arah Hideyoshi, "Aku bisa meminta tenaga pak guru Tenkai."


Di sekolah, Chosokabe memasuki ruang kelasnya dan menemui Mouri yang sedang membaca buku di meja. Chosokabe duduk di hadapan Mouri. Mouri kemudian menutup bukunya dan menatap Chosokabe dengan datar.

"Jadi, sudah kau pikirkan?" tanya Mouri.

Chosokabe gelisah dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "—Yah, mau bagaimana lagi. Sahabatku sudah berkhianat kepadaku dan aku ingin sekali membalas dendamku kepadanya, tapi..."

Sebelum menyelesaikan perkataannya. Mouri pun melanjutkan, "Kau tidak yakin untuk beraliansi dengan Hideyoshi."

Chosokabe terkejut. Dia mulai menggaruk kembali kepalanya, "—Yeah, semacam itulah. Dan aku..."

Mouri menepuk mejanya dengan sangat keras. Murid-murid yang berada di kelas pun menoleh keberadaan suara tepukan keras itu berasal. Mouri menatap Chosokabe dengan sangat tajam. "Dengar, Chosokabe. Ini sudah termasuk ajakan perang. Setahu ku, Motochika Chosokabe yang ku kenal selama ini suka berkelahi dan membuat kegaduhan di sana-sini –dan inikah. Saat seperti ini sahabatmu yang kamu sayangi berkhianat kepadamu dan kamu hanya... –lemah dan mengambil keputusan untuk berdamai dengannya. OMONG KOSONG!" ketusnya.

Chosokabe menatap ke Mouri dengan canggung. Merasa seperti anak kecil yang dimarahi oleh ayahnya. Chosokabe yang mendengar perkataan Mouri tadi pun akhirnya menyadari bahwa dia adalah seorang maniak. Dan dirinya saat ini seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Orang yang lupa dengan jati dirinya. Ketusan Mouri sebagai tamparan keras Chosokabe untuk membawanya kembali ke dunia nyata, menerima kenyataan dan ikut terlibat dalam kejadian ini.

Chosokabe memantapkan keyakinannya tersebut, "Baiklah. Aku akan ikut bergabung."

Mouri memandang Chosokabe dengan mensayukan kedua matanya dan memberi wajah senang dalam bentuk datar. "Baguslah. Kalau begitu, ikuti aku saat jam istirahat tiba, paham,"

"Baiklah,"

Jam istirahat pun tiba. Chosokabe mengikuti Mouri dari belakang tuk menuju ke ruang OSIS. Sesampai di ruang OSIS, Mouri membuka pintu ruangan dan menemui Hanbei yang duduk di kursi utama, Mitsunari, Otani, Sakon, Yukimura, dan Sasuke yang duduk di sofa. Mereka berlima menoleh ke Mouri dan Chosokabe, kecuali Hanbei yang sedang membaca surat. Mouri berjalan ke meja Hanbei dan mengetukkan meja Hanbei.

Hanbei mengangkat kepalanya dan melihat Mouri di hadapannya. Hanbei tersenyum ramah dan menyambut Mouri dan Chosokabe dengan senyuman, "Selamat datang Motonari dan Motochika. Senang rasanya bisa bertemu kalian di pertemuan seperti ini," kata Hanbei dengan ramah.

Mouri menoleh ke arah surat yang tadi Hanbei baca. Kemudian dia mengambil perhatian kembali ke Hanbei. "Terima kasih Hanbei, telah mengundang kami di pertemuan ini. Ini suatu kehormatan bagiku untuk bergabung denganmu," kata Mouri dengan ramah. Mouri membuat imagenya menjadi ramah supaya tidak ada yang mencurigakan didirinya. Hanbei kemudian menyembunyikan surat tersebut ke dalam laci mejanya dan tersenyum kembali ke Mouri.

"Sama-sama, Motonari. Nah, seperti yang saya janjikan. Ini Mitsunari Ishida, anggota OSIS yang paling teladan, dan ini..." kata Hanbei yang memperkenalkan Mitsunari dan kemudian memperkenalkan Yukimura, namun Mouri tukas, "Sanada Yukimura, ketua klub sepak bola beserta wakil ketua sepak bola, Sarutobi Sasuke," kata Mouri dengan datar dan melirik kedua orang yang duduk di sofa bagian kanan.

"Mouri," ucap Yukimura.

Hanbei menatap kembali ke Mouri dan tersenyum manis di hadapannya, "Ya, Mouri begitu kenal dekat dengan mereka berdua. Apakah Mouri sudah kenal Otani dan Sakon? Anggota yang baru saja terlihat di sekolah ini," kata Hanbei.

"Cukup perkenalannya, Hanbei. Langsung saja kita ke inti dari pertemuan ini," ketus Mouri. Hanbei menatap Mouri dengan datar dan kembali ke tempat duduknya.

"Baiklah. Kita sudah mendapatkan senior guru yaitu pak Takeda dan pak Uesugi. Pak Shimazu baru saja kembali dari kampung halamannya dan kembali bekerja. Besok. Aku mau Motonari dan Motochika memanggil Otomo Sorin, Kuroda Kanbee, dan pak Shimazu. Aku tidak ingin Ieyasu bergerak lebih jauh lagi dari kita. Sedangkan Mitsunari, Otani, dan Sakon kalian bisa mengatur strategi untuk penyerangan nanti. Dan Yukimura dan Sasuke, ada misi penyelamatan buat kalian," kata Hanbei.

"—Misi penyelamatan?" tanya Yukimura bingung.

"Iya. Pak Tenkai bilang adik kepala sekolah Oichi Oda disekap oleh kelompok timur dan mereka memasukkan Oichi di tempat tertutup. Bisakah kalian menyelamatkan Oichi?" tanya Hanbei.

Yukimura berdiri dan memasang wajah kaget saat mendengar Oichi di tahan oleh kelompok timur. "Nona Oichi ditangkap!? Bagaimana bisa?"

Hanbei menyilangkan kedua tangan di bawah dagu. Menatap Yukimura dengan penuh tanda tanya, "Kejadiannya tidak menentu. Saya juga bertanya-tanya mengapa Oichi bisa tertangkap."

Yukimura terguncang sesaat. Yukimura pun mulai bergerak dan tegas, "Baiklah. Sasuke. Ayo kita selamatkan nona Oichi."

"Baik!"

Sebelum Yukimura membukakan pintu Hanbei memanggilnya kembali, "Yukimura. Aku ingin kalian bekerja sama dengan pak Tenkai. Dia juga ingin menyelamatkan Oichi, sebaiknya kalian ke tempat UKS dulu."

Yukimura mengangguk. "Baiklah, kami mengerti. Sasuke!"

"Siap," dengan tiba-tiba Sasuke menggunakan jurus ninjanya dan menghilang. Yukimura keluar dari ruang OSIS dan berlari menuju ruang UKS.

Mouri diam di tempat dan masih penasaran dengan apa yang Hanbei baca disurat tersebut. Mitsunari, Otani, dan Sakon berdiri dan pamit keluar untuk membuat sebuah strategi. Mouri yang terdiam kini sadar bahwa Chosokabe menepuk pundak bahu kanannya dengan keras.

"Hei, sampai kapan melamun terus? Ayo kita jalani misi ini," ketus Chosokabe. Mouri menoleh ke Chosokabe."Aku akan mengurus Kuroda dan pak tua Shimazu. Kamu bawa Otomo saja. Aku gak mau berhadapan dengannya," kata Chosokabe.

Mouri terdiam dan menggumam, "—Otomo... Sorin."

Dalam beberapa saat, Chosokabe menepuk kembali bahunya, "Aku pergi duluan, ya."

Mouri menoleh ke Hanbei dan menatapnya tajam. Hanbei juga begitu. Namun dia membawa senyumannya.

Terdapat tanda tanya dalam benak Mouri. Dan dia ingin tahu apa isi dari surat tersebut.

.

.

.

.

.

To be Continued


A/N: cerita dan alurnya ada sedikit sama seperti di SBJE, SB Anime dan movienya tapi aku akan membuat cerita ini agak berbeda dan memberi kesan menegangkan dalam cerita versi Gakuennya. Aku butuh cerita dimana banyak beradegan action, suspense, sci-fi, dan horror. Jadi maklumi saja, di cerita ini tidak ada pairing.

Ps: ini bukan cerita AU. Kekuatan mereka ada, sama seperti Sengoku Basara.

Thank you for attention and please to review.