Haruno Sakura : 18 tahun

Uchiha Sasuke : 15 tahun

.

.

.

.

.

"S-Sa-Sakura?" Mebuki berujar lirih. Mencoba memanggil nama gadis merah muda didepannya.

"Iya Mama! Aku Sakura! Putri Mama!" segera Mebuki rengkuh tubuh mungil putrinya. Putri yang selama ini jauh darinya. Putri yang ia lepas untuk bersama sang mantan Suami.

"Sakura! Putri Kaa-san! Putri kecil Kaa-san!" Mebuki mengecup-ngecup kening lebar milik putrinya dan kembali memeluknya erat. lelehan air mata kembali mengelir dikedua pipinya. Tangannya tidak henti-hentinya mengelus surai merah muda panjang milik Sakura.

"Maafkan aku, Mama! Maaf karena aku baru bisa menemui Mama sekarang! Dan aku ikut sedih dengan kematian Cherry!" Sakura mengelus pelan punggung sang ibu yang dirasanya bergetar. Kembali menumpahkan kesedihannya atas kepergian putri bungsunya. Mata emerald Sakura menatap lurus di depannya tanpa melepas pelukan sang ibu. Ikut merasa sedih karena melihat wajah penuh kesedihan gadis merah muda mungil yang tengah mengenakan gaun putih pendek dihadapannya. Menatap mata emerald lain yang juga menatapnya sendu.

"Tolong aku…onee-chan!"

.

.

.

.

.

.

.

CHERRY BLOSSOM

.

.

Descleimer : Mashashi Khisimoto

.

.

RATE M (jaga-jaga)

.

.

SasuSaku

.

.

Chapter 2

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

.

.

Ceklek

Pintu bercat itu terbuka. Pria tampan dengan dua garis keriput yang membuka pintu itu mendesaah berat. Karena lagi-lagi ia menemukan kamar itu dalam keadaan gelap gulita tanpa ada cahaya yang masuk mesti sang mentari sudah keluar dari peraduannya. Pria itu-Itachi- tidak berniat menyalakan lampu kamar itu karena ia tahu lampu yang terpasang disana lagi-lagi dihancurkan oleh sang adik. Terbukti dengan pecahan lampu putih yang tergeletak dilantai.

"Hahhh…ini sudah ke-tujuh kalinya kau menghancurkan lampu kamar ini Sasuke! Apa kau begitu menyukai kamar gelap gulita seperti ini?" ujar Itachi pada Sasuke yang tengah terduduk lemas di kasur king-size nya.

Itachi menghempaskan dirinya di tepi ranjang Sasuke. Sedikit meringis menatap dinding kamar bercat biru tua itu. Terdapat puluhan bercak darah disana. Itachi yakin kalau adiknya ini pasti memukul dinding itu lagi sampai tinjuannya tercetak jelas disana.

"Biarkan! Jangan ganggu aku!" sahut Sasuke pelan-nyaris tidak terdengar. Namun untunglah Itachi masih bisa mendengarnya. Dan lagi-lagi Itachi menghela nafas berat. Uchiha Sasuke, Adiknya kesayangannya kini telah menjelma menjadi zombie. Keadaan Sasuke benar-benar berantakan. Rambut raven berwarna dark blue itu terlihat sangat kusut dan lengket. Wajah pucat yang biasanya lebih tampan dari dirinya-Itachi- kini tampak jelek dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Bibir tegas dan tipis Sasuke yang biasanya tampak cerah kini pucat dan pecah-pecah. Dan yang paling buruk adalah aroma tubuh Sasuke yang tidak sedap.

Aroma maskulin yang biasa dimiliki Sasuke seakan hilang entah kemana. Pemuda berumur 15 tahun itu benar-benar sangat kacau dan berantakan.

"Sasuke, sampai kapan kau mengurung dirimu di kamar pengap ini? Sudah seminggu Cherry pergi dan sudah seminggu pula kau tidak sekolah! Apa kau mau tertinggal teman-temanmu dan tinggal kelas? Ayo, Sasuke! Kita turun dan bersihkan dirimu!" itachi meraih tangan Sasuke dan hnedak menariknya namun segera ditepis kasar oleh Sasuke.

"Lepaskan aku! Jangan ganggu aku!" Sasuke berujar rendah namun penuh ancaman. Mata kelam jelaganya menatap marah Itachi. Pun dengan geraman marah Sasuke. Itachi memilih menurutinya. Ia tidak mau membuat Sasuke marah dan mengamuk.

"Baik! Aku akan keluar! Tenangkan dirimu dan segeralah kembali pada kami Sasuke!" ujar itachi ketika berada diambang pintu kamar Sasuke.

Namun tidak ada sahutan dari adiknya. Itachi kembali menghela nafas berat. Lagi-lagi ia gagal membujuk Sasuke keluar dari keterpurukannya. Melihat Sasuke yang seperti mayat hidup membuat sakit hati Itachi sebagai Kakak.

BLAM

Itachi belum beranjak dari depan pintu kamar Sasuke. Tanpa suara, setetes air mata mengalir keluar dari sudut mata kelam Itachi. Namun dengan cepat Itachi hapus karena khawatir ada yang melihatnya. Segera Uchiha sulung pergi menuruni tangga menuju keluarganya yang tengah menikmati sarapannya.

.

.

.

.

.

Kediaman Haruno

Dikamar minimalis bercat pink dan putih itu, seorang gadis merah muda tengah duduk diatas kasur sembari melihat-lihat album foto dipangkuannya. Sesekali gadis yang bernama Haruno Sakura itu tersenyum kecil tatkala menemukan sesuatu yang lucu didalam puluhan foto itu.

"Hihihi…wajahmu ini sangat menggemaskan, Cherry!" ujar Sakura pada sesosok bayangan gadis yang juga memiliki surai merah muda yang tengah terduduk disamping kanannya. Wajah pucat itu nampak sesekali tersenyum kecil.

"Dan lihat bagaimana mesranya kau dan kekasihmu itu! Aku sampai iri kau mendapat kekasih setampan dia!" kali ini Sakura berujar sambil mengkerucutkan bibir ranumnya. Karena agak iri dengan adiknya. Mempunyai kekasih yang sangat tampan dan terlihat sangat romantis sejak kecil.

"Siapa nama kekasihmu, Cherry?" Tanya Sakura pada arwah adiknya yang tengah duduk disampinnya.

"Uchiha Sasuke!" jawab Cherry lirih.

Dari suaranya, Sakura dapat melihat kalau adiknya ini sangat mencemaskan laki-laki bernama Sasuke itu. Dan terbukti dengan arwah Cherry yang masih belum pergi dari dunia ini. Sakura sedikit banyak bersyukur mempunyai kemampuan ini-melihat hantu. Sedikit horror memang. Namun ini memang benar adanya. Haruno Sakura adalah salah seorang dari jutaan manusia di bumi yang mempunyai indra ke-enam. Oke, secara singkat Sakura adalah seorang indigo.

Dan untuk pertama kalinya Sakura bersyukur sebagai seorang indigo karena ia dapat melihat arwah Cherry. Awalnya agak terkejut dan takut memang. Namun Sakura merasa harus membantu adiknya. Membantu menyelesaikan urusannya agar Cherry dapat pergi dengan tenang. Nalurinya sebagai kakak mengharuskan dirinya membantu walau tidak tahu harus berbuat bagaimana.

"Kau pasti sangat mencintainya, ya?" Cherry mengangguk pelan sebagai jawaban. Wajah pucat Cherry terlihat sangat terluka. Sakura tersenyum lembut.

"Sudah! Tidak perlu bersedih, Cherry! Onee-cha janji akan membantu masalahmu agar kau dapat pergi dengan tenang! Jangan bersedih lagi, Oke?" Cherry mengangguk sembari tersenyum penuh terima kasih pada sang kakak.

Tok…Tok…Tok...

"Sakura! Mama masuk, ya?" suara Mebuki menghentikan percakapan adik dan kakak itu.

"Iya Mama! Masuk saja!" tidak beranjak dari tempat. Sakura kembali menekuni kegiatan melihat-lihat album foto milik adiknya.

Ceklek

"Sakura-chan! Kau sedang apa?" Mebuki menghampiri putri sulungnya dan ikut duduk disamping Sakura.

"Cuma melihat album foto Cherry, Mama! Ada apa?" jawab Sakura sekaligus bertanya maksud sang Mama yang datang ke kamarnya-kamar milik Cherry tepatnya.

"Sebenarnya Mama ingin mengajakmu ke rumah teman Mama! Sudah seminggu Mama tidak memberi kabar pada mereka jadi Mama ingin berkunjung ke sana! Sekalian melihat keadaan Sasuke!" jawab Mebuki sambil tangannya mengelus sayang surai merah muda Sakura.

"Sasuke?" Tanya Sakura membeo.

"Dia anak bungsu teman Mama! Dia teman kecil sekaligus kekasih Cherry! Mama agak khawatir dengan keadaannya!" jawab Mebuki lagi yang belum menghentikan kegiatan tangannya. Sakura menoleh sebentar ke arah sampingnya. Dimana Cherry tangah berdiri disamping kasur. Kepala Cheery mengangguk dan Sakura mengerti.

"Baik aku akan ikut dengan Mama! Aku ganti baju dulu!" ujar Sakura dengan senyum manis diwajah cantiknya. Mebuki tersenyum senang dan segera beranjak melangkah keluar kamar putri bungsunya.

"Mama akan tunggu dibawah!"

"Baik!"

Sakura segera beranjak dan mengambil koper merah miliknya. Ia ambil beberapa potong pakaian dan melangkah ke kamar mandi untuk bersiap-siap.

"Saku-nee…~!" Sakura menoleh tatkala Cherry memanggil namanya. Sakura dapat melihat Cherry tengah memengang sebuah kalung berbentuk kipas berwarna merah dan putih.

"Ada apa Cherry?" Tanya Sakura lembut. Cherry melangkah mendekat dan menyodorkan kalung itu pada Sakura. Sang kakak menerima kalung itu ragu-ragu.

"Ini kalungmu?" Cherry mengangguk mengiyakan.

"Lalu kenapa kau berikan pada Nee-chan? Ini pasti berharga untukmu, Cherry!" Sakura hendak mengembalikan kalung itu namun Cherry segera menyembuyikan kedua tangannya sembari melangkah mudur dan menggeleng kepalanya pelan.

"Mulai sekarang kalung itu milik Saku-nee! Pakailah saat Saku-nee datang ke kediaman Uchiha!" ujar Cherry tanpa melepas pandangannya dari Sakura. Gadis yang lahir pada musim semi itu mengangguk pelan dan segera masuk ke kamar mandi.

Cherry terdiam sebentar sebelum akhirnya menghilang dari kamar minimalis itu.

.

.

.

.

.

Kediaman Uchiha

Tok…Tok…Tok

Ceklek

"Mebuki?" wanita paruh baya berambut hitam panjang menatap terkejut pada tamu yang merupakan sahabat dekatnya itu.

"Apa kabar Mikoto?" Mebuki menyapa senang Mikoto.

"Mebuki? Ah, Ayo masu-" kalimat Mikoto terputus. Mata onyx hitam milik Mikoto terbelalak lebar tatkala mendapati seorang gadis merah muda yang sangat mirip dengan kakasih putranya.

"Ah aku lupa! Mikoto, perkenalkan ini Sakura, putri sulungku yang selama ini tinggal dengan ayahnya di Amerika!" penjelasan Mebuki cukup membuat Mikoto kembali pada kesadarannya. Wajah cantik wanita Uchiha itu bertambah cantik tatkala Mikoto tersenyum ramah pada Sakura

"Namaku Haruno Sakura! salam kenal Bibi Mikoto!" Ujar Sakura memperkenalkan diri pada ibu dari kekasih hati adiknya.

"Eh? Kau tahu nama Bibi?" Mikoto bertanya karena heran Sakura dapat mengetahui namanya padahal ini pertama kalinya mereka bertemu. Sakura terdiam sebentar.

"Mama menyebut nama Bibi tadi!" jawab Sakura sopan dengan tak lupa dengan senyum manisnya.

"Benar juga! Ayo silakan masuk!" Mikoto mempersilahkan kedua tamunya masuk dengan senyum tidak pernah hilang dari wajah Mikoto.

"Itachi bangun! Ada bibi Mebuki yang datang bersama putri sulungnya!" Mikoto menepuk pipi tirus putra sulungnya yang tengah tertidur di sofa.

"Enghh…~ selamat datang Bib-CHERRY?" Itachi yang tadinya masih merem melek kini langsung terpekik kaget tatkala mendapati Sakura berdiri disamping Mebuki.

"Itachi…! Dia bukan Cherry tapi Sakura! Dia putri sulung Mebuki yang dibawa oleh suaminya!" ujar Mikoto menjelaskan tatkala melihat ekspresi horror Itachi.

"Emm…Salam kenal Itachi-san! Namaku Haruno Sakura!" gadis yang lahir pada musim semi itu membungkuk memberi salam pada Itachi.

"Eh? S-Salam kenal juga Sakura! Aku Uchiha Itachi!" kini giliran Si Uchiha sulung yang membungkuk memberi salam pada gadis merah muda dihadapannya ini.

"Tidak perlu seformal itu! Mulai sekarang anggaplah kalian itu bersaudara! Seperti kakak dan adik!" ujar Mikoto katika melihat kecanggungan putra sulungnya dan Sakura.

"Eh? A-Apa boleh?" Sakura bertanya ragu-ragu.

"Tentu saja boleh Saku-chan! Mulai sekarang kau adalah adikku jadi panggil aku Aniki, oke?" dalam waktu singkat Itachi tidak merasa canggung lagi pada Sakura ketika sang ibu memerintahkan untuk menganggap Sakura sebagai adiknya. Dengan polah sok akrap, Itachi merangkul pundak Sakura yang lebih pendek daripada dirinya.

"Baikklah, A-Aniki!" Sakura mengangguk menurut. Dalam hati, Sakura sangat menyukai sambutan keluarga Uchiha yang hangat ini padanya. Kini Sakura tahu kenapa Cherry sangat mencintai keluarga ini. Berbicara tentang Cherry. Sakura merasa sedari tadi tidak melihat arwah adiknya. Segera emerald Sakura mencari keberadaan sang adik dan berhenti tatkala melihat arwah sang adik berlari menaiki tangga ke lantai atas.

"AARRRHHHHGGGG"

Teriakan keras menggemma dalam rumah itu. Sakura yakin kalau teriakan itu berasal dari lantai atas. Mikoto dan Itachi segera berlari menuju asal suara diikuti Mebuki dan Sakura dibelakang.

BRAK

"Astaga, Sasuke tenanglah!" Itachi segera menghampiri Sasuke yang sedang kesakitan diatas kasurnya.

"ARRRGGHHH…SAKITTT…!"

Sasuke menjambak rambut ravennya. Berharap sakit yang menyerang kepalanya menhilang. Itachi berlari keluar kamar untuk mengambil obat penenang. Mikoto hanya bisa menangis tanpa tahu harus berbuat apa pada Sasuke yang tengah kesakitan. Hatinya sebagai ibu menjerit melihat Sasuke seperti itu. Ia ingin memeluknya namun itu tidak mungkin karena Sasuke menolak disentuh siapapun.

"Cherry…Cherry…CHERRRRYYYY!" Sasuke berteriak memanggil sang kekasih yang telah tiada. Suara Sasuke sangat parau dan berat. Sakura mendengar teriakan Sasuke memanggil Cherry ikut merasa sakit. Emerald Sakura dapat melihat betapa menderitanya Sasuke dan lagi Sakura melihat arwah Cherry yang tengah menangis didepan cermin milik Sasuke.

"Tolong…Tolong dia onee-chan! Tolong tenangkan Sasuke-kun! Kumohon …Tolong dia !" Cherry memohon meminta tolong pada Sang Kakak. Sakura mengangguk dan segera menghampiri Sasuke.

"Sasuke! Sasuke sadarlah!" suara Sakura terdengar familiar di telinga Sasuke. Sakura menggoncang tubuh Sasuke untuk sadar. Namun Sang Uchiha bungsu tidak segera berhenti menjambak rambutnya.

"ARRGGGHH!" teriakan Sasuke kembali terdengar karena berusaha mengeyahkan suara lembut milik Sakura yang dikira Sasuke suara milik Cherry.

"Pegang tangannya onee-chan!" Sakura menuruti perintah Cherry. Segera Sakura raih tangan Sasuke yang sedikit lebih besar daripada miliknya.

"Tenanglah Sasuke-kun! Tenang, aku disini! Tenang Sasuke-kun!" nafas Sasuke mulai teratur. Tangan dingin Sasuke merasakan sebuah telapak yang hangat dan nyaman. Perlahan, Sasuke membuka kelopak matanya. Hal pertama yang didapati oleh iris kelamnya adalah seorang gadis merah muda yang tangah memeluk tangannya.

"Cherry?" Segera Sasuke bangkit dan merengkuh erat gadis yang dikiranya Cherry itu. Sangat erat hingga Sakura merasa sedikit sesak nafas.

"Cherry…Cherry…Cherry kau kembali! Kau kembali! Cherry-ku kembali!" Sasuke melesakkan wajahnya ke leher jenjang Sakura. Sasuke hirup dalam-dalam wangi cherry yang menguar pada gadis yang dipeluknya. Sakura susah payah membalas pelukan erat Sasuke. Namun dengan pelan Sakura mengelus pelan punggung tegap Sasuke-berusaha menenangkannya.

"Cherry…Cherry-ku kembali!" Sasuke melepas pelukannya. Tangan besar Sasuke menangkup kedua sisi wajah Sakura dan

CUP

Sasuke meraup penuh bibir ranum Sakura. ia lumat penuh-penuh bibir yang terasa manis dibibirnya. Mata Sakura terbelalak kaget atas tindakan Sasuke. Sakura terdiam. Ia tidak membalas ataupun menolak pangutan bibir Sasuke. Sakura biarkan bibir tegas dan sedikit kasar itu menari diatas bibirnya.

Sasuke yang merasa tidak mendapat balasan menggigit bibir bawah Sakura hingga membuat gadis merah muda itu memekik.

"Ahh…!mmhhgg…!" tidak melewatkan kesempatan. Lidah Sasuke melesat masuk dalam mulut Sakura. Organ tak bertulang itu mengobrak-ngabrik isi mulut Sakura dan bergerak liar. Sesekali Sakura melenguh tatkala lidah panas Sasuke menyapu langit-langit mulutnya.

"mmmhhhh…uummmhhh…!" Sakura mulai meronta dalam dekapan erat Sasuke ketika dirasa pasokan udara di paru-parunya menipis. Namun bukan melepas. Tangan Sasuke menarik tengkuk leher Sakura sedang tangannya yang lain menekan punggung mungil Sakura untuk memperdalam ciuman mereka.

"Ahh…uummm…Sasu-mmpphh...!"kedua tangan Sakura berpindah pada kedua bahu Sasuke. Gadis merah muda itu mencoba mendorong tubuh Sasuke. Ciuman mereka sesekali terlepas namun Sasuke segera meraup kembali bibir ranum Sakura.

"ummmhh…Sasuke lepas-mmmpph… !" bibir Sakura kembali terkunci dalam tahanan bibir Sasuke. Pemuda bersurai raven itu benar-benar tidak membiarkan bibirnya lepas dari rasa manis bibir gadis dalam dekapannya ini.

Sasuke seolah tidak mempedulikan kehadiran Mikoto dan Mebuki yang melihat kegiatan ciuman panas mereka. Bahkan Itachi telah menjadi patung didepan pintu sekembalinya mencari obat penenang. Peduli setan. Sasuke tidak peduli. Ia hanya ingin mengecup semua rasa manis ini lama-lama. Rasa manis dan asin akibat tercampurnya saliva mereka seolah menjadi rasa candu bagi Sasuke.

"Hahhh…haa…hah…!" Sakura menghirup udara dengan rakus.

Akhirnya setelah hampir lima belas menit berciuman-ralat Sasuke yang mencium Sakura tanpa henti. Sasuke melepas bibir Sakura namun tidak dengan kedua tangan Sasuke yang kini melingkar erat dipunggung mungil Sakura. Wajah Sasuke kembali tenggelam di leher jenjang Sakura. Nafas pemuda itu begitu berat dan hangat. Tubuh Sakura meremang seketika.

"Cherry…Cherry…! Cherry…!" nafas Sasuke mulai teratur. Lingkaran lengan kekar Sasuke pun mulai dirasa mengendor. Dan Sakura sadar bahwa kekasih adiknya ini tengah tertidur. Terbukti dengan dengkuran halus Sasuke disekitar lehernya hingga membuat Sakura sedikit kegelian. Perlahan Sakura mendorong tubuh Sasuke dan melepas lengan Sasuke yang jatuh dipinggulnya.

Dan akhirnya Sakura dapat lepas dari dekapan Sasuke dan perlahan bergerak turun dari kasur Sasuke. Sedikit ia rapikan selimut Sasuke. Sakura tidak lagi mendapati Mikoto, Mebuki ataupun Itachi dalam kamar tersebut. Ia mengira pasti mereka turun katika melihat Sasuke mencium ganas Sakura.

Dan tiba-tiba saja wajah Sakura berubah merah setelah sadar bahwa ia berciuman dengan kakasih adiknya. Berciuman dengan seorang bocah SMP? Oh tidak! Dan bila dipikir-pikir lagi, ciuman tadi adalah ciuman terpanas yang pernah Sakura lakukan. Selama ini ia hanya sekedar menempelkan bibir saja bila berciuman dengan kekasihnya. Dan bocah tampan ini seenak jidatnya menciumnya dan lagi ia menganggap Sakura sebagai Cherry. Sekarang Sakura menjadi sebagai pelampiasan rindu Sasuke.

Kini mata emerald Sakura menangkap sosok arwah Cherry yang ikut membaringkan dirinya di samping Sasuke. Dilihatnya Sang adik yang mengelus sayang pipi tirus Sasuke dan mengecupnya. Terpancar rasa rindu, bersalah dan sakit dalam emerald redup milik Cherry. Sakura dapat merasakan itu melalui mata adiknya. Cherry mengalihkan pandangannya dari sang kekasih dan menatap Kakaknya.

Kedua mata emerald itu beradu. Mata emerald Sakura melihat Cherry yang tengah terluka.

"Onee-chan…~! Boleh aku meminta sesuatu?" tanya Cherry sambil kembali menatap Sasuke.

"Apapun itu!" jawab Sakura tegas. Sebagai seorang kakak, Sakura mempunyai kewajiban membahagiakan adiknya yang selama ini tinggal jauh darinya.

"Maukah kakak menjadi penggantiku dihati Sasuke-kun dan membahagiakannya?"

Mata Sakura terbelalak lebar mendengar permintaan adiknya. Menjadi pengganti di hati Sasuke? Itu berarti Sakura harus menjadi kekasih hati Sasuke? Dengan bocah SMP? Ini mimpi buruk bagi seorang Haruno Sakura.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hallo minnaaa…! Saya kembali dengan chapter 2 CB. Saya minta maaf bila chapter ini tidak memuaskan para pembaca sekalian. Saya hanya menulis yang saya pikirnya dan bila ada miss (typo)s bertebaran disepanjang cerita, saya ucapkaj Gomeeeeeennnnnn sepanjang pembaca bayangkan. Dan mohon beri komentar tentang Chapter ini. Sekian dan Arigatou

Salam hangat

Ellena Nomihara