Dislaimer: Inazuma Eleven is belong to level-5
Warning: Gaje, OOC, AU, prequel dari Death Chorus. Don't like? Don't read.
Death Chorus, Side Stories
One Will
(Shuuya and Yuuto's past)
Damai. Hari ini tiada awan mendung sedikitpun. Matahari bersinar dengan kelembutannya, membuat sinarnya tetap diterima dengan baik oleh kulit sensitifku ini. Burung-burung berkicau menyambutku dari luar jendela ruangan. Kulirik sekilas awan yang berarak perlahan di luar sana, lalu mulai duduk di kursi goyang dan menyeruput teh tawar favoritku. Kugunakan kacamata bacaku yang berwarna bening. Aku membuka buku bacaanku di halaman pertama.
Damai, harusnya sih begitu.
Kalau saja tak ada suara cerewet dari anak ini...
"Yuutooo...! Y-u-tooo!" Siapa lagi kalau bukan Shuuya Goenji. Bocah yang seusia denganku namun sifatnya sangat kekanak-kanakan itu naik ke kursi goyang besarku, lalu duduk bersimpuh di pangkuanku sambil berusaha menarik buku yang kubaca.
Oh, geez! Aku lupa, mulai beberapa hari yang lalu aku telah resmi menjadi pelayan pribadi dari bocah polos nan unik ini. Dan harusnya aku sudah mengerjakan semua tugasku sejak subuh tadi, tapi kenapa anak ini masih mengganggu waktu luang berhargaku untuk membaca buku?
"Apa?" Jawabku singkat dengan nada sebal. Ingin rasanya kujitak Tuan yang sebenarnya juga berstatus sebagai sepupuku ini. Namun tentunya aku ini masih tahu tata krama. Bisa hancur hidupku bila aku membuat barang seujung jarinya saja terluka!
"Ayo-main-keluar!" Kali ini nada bicaranya terdengar penuh penekanan. Arrgh! Sudah yang keberapa kalinya anak ini mengajakku main di hari ini? Oh, baiklah. Mungkin kalian baru mendengarnya sekali ini saja ya? Tapi aku sudah ribuan kali tahu! Ups, aku tak boleh emosi dan meneriaki readers...
"Kepala pelayan bilang kalau Tuan tidak boleh pergi ke luar mansion." Jawabku dengan tegas, aktual, tajam dan terpercaya (plak!). Yang kudapat hanyalah ekspresi sebal dari bocah yang baru berusia 7 tahun itu. Ia terus saja mendeath glareku dengan ekspresi yang menyeramkan, namun aku tak memperdulikan hal itu. Tentunya aku lebih memilih untuk melanjutkan bacaanku yang sempat tertunda daripada berdebat dengan Tuan mudaku yang manis ini.
"Kau ini... Cobalah untuk bersikap seperti layaknya anak usia 7 tahun! Apa-apaan itu! Masa duduk di kursi goyang untuk kakek-kakek dan baca buku yang sama sekali nggak ada gambarnya? Belum lagi kau juga tidak protes karena aku mendudukimu! Memangnya kau tidak merasa berat, apa?" Teriaknya sambil menunjuk-nunjuk tepat di hadapan wajahku. Aku sendiri baru sadar, sepertinya bobot anak ini hampir tak mempengaruhiku. Padahal ia benar-benar mendudukiku (kursinya memang cukup besar dan memungkinkan dia untuk duduk di pangkuanku sambil mengahdap ke arahku).
"...Benar juga. Shuuya ringan sekali ya?" Aku hanya termangu sambil terus menatap sosok Tuanku tak percaya. Kuangkat sedikit tubuhnya dengan menggunakan kedua tanganku. Hebat, tubuhnya serasa hampir tak punya bobot. Ini anak manusia atau bukan sih?
"Bukan itu masalahnya! Pokoknya, ayo kita main ke luar!" Hampir saja anak itu mencekikku karena terbawa situasi. Untungnya aku sempat menahan kedua tangan miliknya yang sepertinya memang tak punya tenaga itu.
"Memangnya semua tugasmu sudah selesai?" Tanyaku dengan nada datar. Dahi Shuuya langsung berkedut ketika mendengar pertanyaanku itu, sepertinya sih ia merasa telah kuremehkan. Padahal aku cuma bermaksud untuk menghinanya(?).
"Tentu saja sudah! Kau pikir aku ini orang bego, apa? Asal kau tahu ya, aku bahkan lebih-jenius-dan-pintar darimu!" Ucap Shuuya dengan wajah horror. Aku sedikit merasa tersinggung, namun akhirnya tetap tak membalas ucapannya. Yah, wawasan Shuuya tentang dunia luar memang lebih banyak dibandingkan denganku. Padahal bocah itu sama sekali tak pernah keluar dari mansion. Ditambah Tuan muda ini memiliki otak yang sangat cerdas, berbeda dengan diriku yang lebih pintar dalam menghapal.
"Hn... Anak pintar." Tanpa sadar aku mengelus kepala bawangnya. Sementara Tuanku hanya terdiam sambil membiarkan tanganku membelai rambut lembutnya. Kutatap sosok mungil yang ada dihadapanku, wajahnya sedikit merona. Sepertinya anak ini memang masih membutuhkan kasih sayang orang tua.
Oh, iya... Aku lupa bilang, Shuuya sudah tak memiliki ibu. Keluarganya hanyalah sang Ayah yang jarang pulang ke rumah karena urusan pekerjaan, lalu sang adik yang beda usia 4 tahun darinya. Saat ini adiknya juga tak ada dalam mansion, ia diasuh oleh nenek Shuuya di negara lain.
"Yuuto... Aku ingin keluar. Sebentaaar saja. Kumohooon...!" Mulai deh. Shuuya mengeluarkan puppy eyes no jutsu miliknya. Silau sekali, nyaris saja mata merah rubyku buta karena pantulan cahaya yang berkilau bagai Sunlight itu.
"Sebentar saja ya." Lagi-lagi aku menuruti permintaan anak ini. Aduuuh! Bisa-bisa aku dihukum gantung kalau ketahuan Tuan besar! Namun, di satu sisi aku juga merasa iba pada sepupu mungilku ini. Sejak kecil, pasti ia lebih sering menghabiskan waktu sendirian. Bahkan dia tak diperbolehkan untuk keluar mansion. Aneh, padahal taman mansion ini juga terbilang aman. Tapi mengapa anak ini tetap dikurung disini?
Shuuya mengangguk senang saat mendengar persetujuanku. Kedua tangan mungilnya menarikku menuju halaman belakang mansion. Aku hanya pasrah sambil memperhatikan senyuman di wajahnya. Kuhela nafas panjang, lalu tersenyum lembut tanpa ia ketahui.
Ketika kami keluar, banyak binatang yang langsung menyambut kami. Ralat, kurasa mereka hanya menyambut Shuuya seorang. Bocah berambut putih tulang itu hanya tertawa geli ketika seekor anjing berwarna putih menjilati wajahnya.
Ia kembali berdiri dan menarik tanganku. Kami berlari menuju tempat yang tak kuketahui. Terus terang saja, larinya tak terlalu kencang. Tapi aku sedikit kesulitan karena ia mengambil rute yang tidak biasa.
Ia menghentikan langkahnya, membuatku yang ada di belaknag nyaris tertubruk punggungnya. Aku membuka mulutku untuk mengucap protes, namun kata-kata itu seolah hilang ketika aku mendapati pemandangan yang ada dihadapanku...
"Uwaaa..." Aku ternganga lebar, menatap hamparan bunga matahari di depan mata. Shuuya hanya tertawa kecil ketika melihat ekspresi kagumku. Hey, ayolah! Aku juga manusia, pasti punya ekspresi yang menunjukkan kekaguman juga!
"Ehehe... Selamat datang di tempat favorit para hamster! Yah, sayangnya disini tak ada hamster sih..." Ucap Shuuya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang kurasa tidaklah sedang gatal. Satu lagi ilmu yang ia ketahui hanya dari membaca buku. Bahkan aku yakin bahwa anak ini belum pernah melihat hewan bernama hamster seumur hidupnya.
Indah, tempat seperti ini sangat cocok untuk refreshing. Shuuya kecil mulai merebahkan dirinya tepat di depan ladang bunga Matahari itu. Aku pun ikut mendudukkan diriku tepat di sampingnya, lalu mulai mengambil buku dari saku dan membacanya kembali. Hening, sesekali aku melirik sosok Shuuya yang memejamkan matanya sambil menikmati aroma dan suara alam. Kebiasaannya. Aku bahkan mengetahui kebiasaan ini dengan cepat. Yah, anak ini mudah ditebak sih...
"Hei, Yuuto..." Aku mulai menoleh ke arah Tuan mudaku, sebagai jawaban atas panggilannya. Yang terlihat adalah sosok dirinya yang menatap lekat ke padang bunga Matahari di hadapan kami.
"Kenapa ya... Bunga Matahari itu dinamai 'bunga Matahari'?" Aku menghela nafas. Sebenarnya bisa saja aku menjawab pertanyaan tadi dengan logika, namun aku tahu bahwa yang ia tanyakan ini menjurus ke filosofi. Dasar, tipikal Shuuya.
Tentu saja aku hanya terdiam, menatap dalam ke bola mata onyx miliknya. Pikiranku bermaksud untuk membaca maksdu hatinya, namun nihil. Kadang Shuuya dapat menjadi anak yang sulit sekali dibaca. Bahkan olehku.
"Apa jangan-jangan, bunga Matahari itu jelmaan dari sosok yang jatuh cinta pada Mentari ya?" Tuh, kan. Tentu saja bocah ini sedang membicarakan tentang filosofi. Aku memang pernah membaca, ada macam-macam kisah dibalik sebuah bunga. Dan tentunya aku malas menghafalnya karena hal itu tidak penting bagi kemajuan keluargaku. Ehem, lupakan sajalah.
"Ahaha... Mana mungkin. Kan' peri air yang jatuh cinta pada dewa Matahari itu penjelmaan dari bunga Teratai, ya." Aku menoleh ke arahnya, sekali lagi. Ucapannya barusan sedikit menarik perhatianku. Sedikit, benar-benar tidak banyak, lho! Shuuya hanya tersenyum saat melihat wajah penasaranku, seolah megetahui pertanyaan yang ada dalam benakku.
"Itu lho... Konon, ada seorang peri air yang jatuh cinta pada sang Dewa Matahari. Cinta itu benar-beanr tulus dan murni, namun tentu saja cinta itu tak dapat tersampaikan, apalagi terbalas. Lalu peri air yang patah hati menjelma menjadi Teratai, yang bunganya akan merekah ketika terkena cahaya mentari..." Shuuya menatap menerawang ke langit. Aku membisu sambil membayangkan situasi dari sang peri air. Sedih, pasti menyakitkan bila cinta tak dapat terbalas...
Naasnya, aku tak tahu kalau di masa depan nanti aku juga akan mengalami situasi seperti cerita bunga Teratai itu...
"Nee, Yuuto. Kalau bunga Matahari, kisahnya bagimana ya?" Tanyanya padaku sambil memiringkan kepala. Wajahnya terlihat polos dan penh rasa ingin tahu. Sayangnya aku tak bisa menjawab pertanyaan itu.
"Entahlah..."
"Tapi aku merasa bahwa kisah bunga Matahari adalah cerita tentang kebahagiaan... Mungkin."
"Mana ada! Rata-rata kisah bunga itu selalu tragis dan sedih. Tapi... Akhirnya dapat menjadi bunga yang seindah ini. Kurasa mereka tidaklah menyesal..." Sekali lagi, Shuuya tersenyum. Senyuman lembut yang bagaikan malaikat. Meembuat wajahku terasa panas, dan jantungku terasa berat. Perasaan apa ini? (Author: Oh, Yuuto. Itulah yang namanya cinta!)
"Kalau aku... Meski misalnya mati karena patah hatipun, tetap tak menyesal. Karena bisa memberi bukti cinta yang seindah ini..." Ia memetik setangkai bunga Matahari dan mengamati bagian-bagiannya. Aku mendengus.
"Orang sepertimu mana bisa jatuh cinta? Aku berani taruhan kalau kau bahkan belum pernah jatuh cinta!" Aku tersenyum sinis, bermaksud untuk meledeknya. Namun sosok yang kuledek hanya terdiam sambil memejamkan mata, membuaku merasa sedikit tak enak. Sesaat setelah kupikir bahwa ia akan menangis karena kugoda, ternyata ia membuka matanya, dan tersenyum. Lembut sekali... Senyuman yang belum pernah kulihat dari wajah siapapun.
"Ada kok... Orang yang kusukai..." Ia memejamkan matanya sambil menghirup aroma bunga Matahari yang ia pegang. Aku terbelalak kaget ketika mengetahui bahwa anak usia 7 tahun macam Shuuya Goenji ini pernah falling in love. Aku saja belum pernah... Ah, lupakan sajalah!
"Si, siapa? Siapa orangnya?" Tanyaku dengan ekspresi yang sangat lebay dan kontras dengan imej sehari-hariku. Ia merenung sejenak, sepertinya mencoba untuk mengingat sesuatu. Namun akhirnya bocah itu hanya geleng-geleng kepala.
"Ung... Aku lupa siapa dia. Tapi aku masih ingat... Perasaanku ketika hidup bersamanya..." Ia menutup matanya dan menyentuh dadanya. Syahdu sekali. Bahkan aku tak menyadari bahwa dadaku berdenyut perih, saking indahnya Shuuya saat ini. Ah, mungkin mataku yang telah rabun sampai berasumsi bahwa anak ini seolah jelmaan malaikat. Namun masa' aku benar-benar buta sih? Tidakkah ada orang lain yang melihat bahwa sosok Shuuya saat ini terlihat sangat sempurna?
"..."
Sementara aku sibuk sendiri dengan pikiranku, Shuuya mulai bernyanyi. Kusingkirkan pemikiran nistaku dan mempertajam telingaku untuk mendengarkan suaranya. Lagu yang ia nyanyikan sama sekali tak ada liriknya, hanya berupa nada yang ia suarakan dengan huruf vokal. Aku ingat lagu ini. Ini adalah lagu yang pernah ia mainkan dengan biola saat pertemuan pertama kami.
Syahdu sekali. Aku mulai terbawa dalam lagu yang tak berlirik itu. Ditambah Shuuya menyanyikannya dengan suara merdu dan penuh perasaan. Meski tak berlirik, jiwa dari lagu itu sendiri seolah dapat tersampaikan dengan baik. Lagu yang hangat, menyambut sosok orang yang sangat dicintai. Tapi di satu sisi, lagu ini juga seolah mengisahkan sebuah perpisahan menyedihkan antara 2 hati...
Shuuya mengakhiri lagunya. Lagu yang tetap sama seperti waktu pertama bertemu dulu. Suasana yang sama, juga perasaan yang sama. Bedanya, aku tak menangis seperti saat mendengarnya untuk pertama kali. Aku sudah memantapkan hati, cuy! (plak!)
Justru ada hal lain yang membuatku terkejut. Shuuya menangis. Airmatanya mengalir begitu saja dari kedua onyx miliknya. Ekspresinya terlihat sedih sekali, membuatku makin khawatir pada anak ini.
"Shuuya? Kau baik-baik saja?" Aku mulai menyentuh wajahnya dan menghapus air matanya dengan jari telunjukku. Air matanya kembali mengalir setelah aku megusap yang lama. Ia terlihat sedih sekali, entah karena apa. Melihat ekspresi itu, aku jadi makin tak tega.
Kupeluk tubuhnya yang saat ini terlihat sangat rapuh itu. Ia membisu. Aku tahu bahwa air matanya masih mengalir, namun sama sekali tak terdengar isakan tangis darinya. Kurasakan hangatnya tubuhnya yang ada dalam pelukanku. Aku berusaha memperlakukannya selembut mungkin, agar tangisnya segera mereda.
"Shuuya...?" Setelah beberapa menit, kuputuskan untuk memanggil namanya. Ia melepaskan diri dari pelukanku, lalu mengusap air matanya sendiri dengan sekuat tenaga. Aneh, air matanya tetap saja mengalir tiada henti. Seberapa kuatpun usahanya untuk menghentikan tangisannya sendiri tetap saja air mata itu tetap keluar dari mata onyxnya.
"Ung... Kenapa air mataku tak bisa berhenti...?" Ia bertanya padaku, sambil terus berusaha menghentikan tangisannya sendiri. Aku hanya menganga lebar, saking herannya diriku pada peristiwa ini.
"Kau tak apa-apa...? Kenapa menangis?" Tanyaku dengan ekspresi khawatir. Kubelai lembut kepala sepupuku itu, bermaksud untuk membantu menenangkan dirinya. Yang kutanyai hanya membisu dengan kedua mata yang membulat, seolah terkejut. Kemudian kelopak matnya tertutup setengah. Tangannya menyentuh tanganku yang masih ada di kepalanya. Pandanagnnya seolah menerawang jauh.
"Aku... Ingat..." Aku hanya terbengong-bengong karena hal yang ia ucapkan. Ingin rasanya aku bertanya, namun hal itu kuurungkan ketika aku melihat ekspresi Shuuya. wajahnya terlihat sangat sendu. Aku bahkan tak mengira bahwa seorang Goenji Shuuya dapat menunjukkan ekspresi seperti itu. Sedih sekali, aku yang melihatnya seolah ingin ikut menangis bersamanya.
Namun aku tak bisa...
"Iya... Dulu orang itu selalu membelai lembut kepalaku... Lalu mengajarkan macam-macam hal padaku. Menyanyi, bermain biola, bertarung, menggunakan sihir, menunjukkan banyak hal... Juga.. Rasa cinta..."
Aku terbelalak saat mendengar ucapannya. Shuuya seolah mengagungkan sosok yang baru ia bicarakan. Tatapannya menerawang jauh ke langit sana. Bibirnya tersenyum, tapi terasa sangat pedih. Wajahnya merona merah, seolah melengkapi alasanku untuk berasumsi bahwa orang yang baru dibicarakan Tuanku ini adalah...
Orang yang ia cintai.
Ugh, rasanya dadaku seperti tertonjok oleh Chris John saat otakku menyimpulkan hal ini. Kenapa rasanya perih ya? Apa aku terjangkit penyakit jantung koroner? Atau aku terkena TBC mungkin ya? (Author: TBC, Tekanan Batin akibat Cinta. Kalau yang itu, bener banget Yuuto!) Ah, sudahlah. Bukan saatnya untuk memikirkan hal itu.
"Yuuto... Aku merindukannya. Ingin bertemu dan memeluknya, lalu... Menangis dan kemudian tertawa setelahnya... Tak adil, aku bahkan belum bilang kalau aku menyukainya...!" Shuuya mulai merajuk, dengan ekspresi penuh kesedihan. Mataku terbelalak lebar. Sosok yang ada di hadapanku ini seolah bukanlah Shuuya yang selama ini kukenal.
"Shu, Shuuya...? Kau..." Pertama kalinya dalam hidupku. Aku kehabisan kata-kata. Entah harus menenangkan dia terlebih dahulu atau menanyakan semuanya. Aku bingung, tak sanggup mengambil sebuah tindakan. Salah-salah nanti bisa membuat Tuan mudaku ini tambah sedih nantinya.
"Siapa... Yang sedang kau bicarakan?" Aku menelan ludah. Tak biasanya aku menjadi segugup ini saat ingin menanyakan sesuatu. Dalam hatipun aku mulai memanjatkan doa, berharap supaya tidak akan terjadi hal buruk.
Dia membelalakkan mata, pupil matanya seolah benar-benar hilang. Termenung, tangisnya juga berhenti seketika. Tak kusangka sebuah pertanyaan tadi dapat membuatnya tertegun sampai separah ini. Sementara ia terdiam, aku juga ikut membisu. Kupandangi sosok Shuuya yang makin lama terlihat makin labil. Wajah bocah yang seusia denganku itu memucat. Kemudian ia meremas keras kepalanya. Ekspresinya terlihat sangat panik dan bingung. Keringat dingin mulai terjun dari pelipisku. Aku takut. Bukan main-main, ekspresinya saat ini membuatku merasa ngeri sendiri. Kondisi Shuuya saat ini benar-benar labil.
"Si, siapa? Tidak! Kenapa aku tak bisa ingat? Jangan... TIDAAAAK!" Sesaat setelah teriakan itu, ia jauh tersungkur ke tanah. Aku menerjang ke arahnya untuk menahan jatuhnya, namun terlambat. Tubuh Shuuya lebih dahulu bertemu dengan tanah.
"Shu, Shuuya! Bertahanlah!" Kuguncangkan tubuhnya yang gemetar sambil memejamkan mata, erat. Nafasnya terengah-engah dan terasa berat. Aku segera membaringkan tubuhnya di pangkuanku dan memeriksa denyut nadinya. Tidak normal, denyutan ini sangat tidak stabil. Aku mulai panik, saat ini aku tak membawa apapun yang dapat menolong anak ini. Apa yang harus kulakukan?
"Yu... to... Se... sak... Pa, panas...!" Rintihannya terdengar sangat memilukan di telingaku. Aku segera membuka sedikit kancing kemejanya, untuk mengurangi rasa sesak dan panasnya. Namun sepertinya hal itu tak banyak membantu. Nafasnya tetap tak beraturan. Aku tak punya pilihan lain selain menggendongnya kembali ke mansion. Resiko dimarahi nanti biar aku saja yang menanggung.
Kuangkat tubuh mungilnya dengan hati-hati, lalu kuposisikan tubuhnya di punggungku. Aku mulai beridiri. Hebat, bobot tubuh Shuuya memang ringan sekali. Aku seolah tak membawa beban papun d punggung ini. Kulirik sepupuku yang sepertinya masih dalam keadaan sadar itu. Aku menghela nafas sejenak, berdoa supaya kondisinya tak jadi jauh lebih buruk dari ini.
"Shuuya... Pegangan padaku ya? Aku akan lari..." ucapku dengan lembut dan pelan, agar sang Tuan muda dapat mendengar suaraku dengan jelas. Anehnya, aku tak mendengar jawaban apapun darinya. Kupanggil sekali lagi namanya, dan hal yang sama kembali terulang. Sampai akhirnya Shuuya mulai bicara dengan lemahnya...
"Pelan-pelan saja... Aku masih ingin menikmati pemandangan disini..." Ucapan Shuuya membuatku langsung sweatdrop. Dasar, masih sempat-sempatnya dia berpikir untuk melihat-lihat pemandangan dalam keadaan seperti ini! Tapi... Dengan kalimat tadi, sepertinya jiwanya sudah tak labil lagi. Syukurlah...
"Tapi..." Shuuya segera memotong ucapanku, walaupun suaranya saat ini terdengar sangat pelan.
"Aku baik-baik saja. Aku... Sudah lama tidak keluar mansion... Kali ini saja, biarkan aku menikmati waktu ini..." Benar juga. Sejak aku menjadi pelayan pribadinya, ia tak pernah diijinkan keluar mansion. Dan aku diperintah untuk tetap mengurungnya di dalam mansion besar itu. Sepertinya sejak dulu ia sudah dikekang seperti ini. Sepi... Aku memahami perasaannya. Bagaimanapun, aku juga tak dapat menolak permitaan dari anak yang sangat baik seperti dia.
"Dasar egois..." Meski aku berkata begitu, nyatanya aku tetap menuruti permintaannya. Aku berjalan perlahan, membiarkan Tuan mudaku mendapat apa yang ia inginkan. Shuuya mulai menyandarkan kepalanya di punggungku, membuat bagian belakang tubuhku terasa lebih hangat karena panas tubuhnya.
"...Sepertinya kau demam." Komentarku, tanpa menoleh ke arahnya. Shuuya kecil hanya mendengus saat aku berkata demikian. Lalu mulai menggerutu dan bergumam, "Dasar sok tahu!" Sambil tetap merebahkan kepalanya di punggungku.
"Aku... Selalu tak dibolehkan keluar mansion. Katanya penyakitku akan memburuk bila aku pergi ke dunia luar. Padahal... Aku ingin pergi. Sekali juga tak apa. Aku... Ingin sekali melihat dunia ini dengan mataku, bukan hanya dari buku bacaan saja..."
Kami saling membisu. Kurasakan cengkramannya pada baju bagian belakangku yang makin menguat. Sedikit banyak, aku memahami anak ini. Terus dikuruung dan dikekang demi tujuan orang tua. Haha... Makin lama jadi makin sulit rasanya untuk membenci anak dari keluarga Goenji ini.
"Kau segitu inginya pergi ke luar sana?" Tanyaku, kali ini sedikit menolehkan kepalaku ke belakang. Ia mengangguk lemah, karena masih dalam pengaruh demam dan sesak nafasnya. Aku menjadi sedikit iba atas ekspresi sedihnya itu.
"Hm... Baiklah. Suatu saat nanti aku akan membawamu ke luar." Ucapku dengan datar. Ia menyambut ucapan itu dengan ekspresi senang dan terkejut. Tentu saja senang, karena akhirnya ada orang yang bisa membawanya keluar. Juga kaget karena ia tak menyangka bahwa aku yang taat aturan ini dapat berkata seperti itu.
"Kau tidak bohong kan, Yuuto? Ja, janji lho ya?" Teriaknya dengan gelagapan, membuat telingaku sedikit berdenging karena frekuensi suara yang ia keluarkan. Aku tersenyum geli saat mendengar perkataannya.
"Hn, tapi dengan syarat... Kau harus sembuh dari penyakitmu. Atau paling tidak kondisimu harus lebih baik dari yang saat ini. Bisa gawat kalau aku membawamu yang masih lemah seperti sekarang. Oh, iya. Ditambah kau harus selalu mengerjakan tugas dengan rajin, lalu makan sayur tanpa pilih-pilih. Aku tidak suka kalau kau selalu makan wortel tanpa mau memakan sayuran yang lain...!" Aku terus berjalan, sambil mengucap beberapa syarat yang harus dipenuhi anak ini. Sekalian saja kuceramahi anak berambut putih tulang ini.
"Sama saja bohong...! Huh, pokoknya kalau aku sudah tidak lemah lagi kau harus membawaku keluar!" Shuuya mendengus dan kembali menenggelamkan kepalanya di punggunggku.
"Hangat..." Wajahku memerah ketika mendengar igauan Shuuya. Sepertinya anak ini telah tertidur dalam gendonganku. Aku menghela nafas, tapi rasanya lega. Mungkin nantinya aku akan dimarahi kepala pelayan. Tapi...
"Sekali-kali, begini boleh juga..."
Hari ini, tidak dengan kegiatan membaca buku...
Tidak juga dengan minum teh dengan santai...
Malahan aku pergi ke luar sana, membakar kulitku sendiri...
Namun kurasa bukanlah hal yang cukup buruk...
Karena aku dapat mengetahui sebuah sisi lain dari dirimu...
"Selamat tidur, Shuuya-kun..."
To be Continued...?
ehem, mari balas review langsung aja.
Nisca31tm-emerald:
kyaaa! Arigat, arogato! XD (plak!)
ufufufu... Saia puna fans nih. (Hajar saia)
begitulah, Yuuto bertemu Shuuya dan nantinya ia akan terlibat dalam reteta peristiwa gaje.
Lagu yag dimaika Shuuya? Hoho, itu masih rahasia. (plak!)
oke, Saia tuggu reiew ada...! XD (Hajared)
Aurica Nestmile:
ehehe... Arigato. XD
Lagu yang dimaikan Shuuya? Wah, banyak juga yang penasaran ya?
Nanti akan ada saatnya tuh lagu dibeberkan kok. Lagu ituberkaitan banget dengan fic DC
soal masa lalu Ichi, di chap 3 saia buatkan yaa~
nee, Arigato... X3
Akazora no Darktokyo:
hohoho... Penuh shonen-ai ya? Nggak tahu saia ini. Kok kalau bikin ShuuyaxYuuto rasana malah jauh lebih manis dari OTP saia ang ShuuyaxMamo ya? 0_0
fufufu, Yuuto sangat jenius! XD Entah dari mana dia bisa tahu istilah seme-uke itu.. Mungkin diajarin Kageyama? (plak!)
Wah, lagu dangdut? Tapi kata 'Duet' memang rasa-rasanya banyak menjurus ke situ ya? (Jdak!)
up! Ini saia sudah update. Chap ini jadi seminggu lalu, tapi minggu kemarin saia tak bisa ngenet. (sapa nanya?)
arigato reviewnya...! X'D
Aishiro Zeal Zealous:
Wah iya itu Yuuto! Masa' Kecil-kecil pakai acara dendam segala! (plak!)
ehehe... Arigato. Ah, saia jadi malu.
Iya, Jadinya keluarga Yuuto seolah pembantunya keluarga Goenji gitu. Kasihan ya (Padahal sendirinya yang bikin plot)
uhahaha... Tebakan anda ada benarnya, De-chan. Tapi yang menghancurkan keluarga Shuuya itu 'dirinya sendiri'. (Woi! Spoiler lagi nih author sarap!)
wakakak! XD Di sini Yuuto saia bikin punya gengsi tinggi! XD
Ah, keluarga Shuuya kan KAYA abis. (pasang ekspresi ngiri)
nah itu, tapi ayah Shuuya sebenarnya juga sama saja. Senyuman itu hanyalah topeng belaka. Ah, dasar duo ayah bejat! (plak!)
haha, anggap saja lagunya sangat mengharukan. XDD (silakan bunuh saia)
arrgh! Saia kebalik ngetiknya yang itu! 0_0 (headbang ke tembok)
aduh... saia akan perbaiki lagi, ya?
Ehehe... Ini adegan so sweet bgt di mata saia. XD
iya. Tapi Shuuya yang dulu kan bukan anak yang peka, jadinya dia tak menyadari makna ucapannya sediri! XDD
Oke, ganbatteeee! XDD
Arigato reviewnya... ^^
Last, R&R, minna?
The Fallen Kuriboh
