Warning!
Hunhan Fanfiction. Sehun & Luhan as main cast.
Yaoi. BL. M.
DLDR.
Happy reading~~
FORCE YOU TO LOVE ME
.
Luhan tidak pernah menyangka bahwa awal pengenalannya dengan Oh Sehun akan mengubah hidupnya. Sebagai seorang anak sulung dari keluarga sederhana, satu-satunya tujuan mengikuti program pertukaran pelajar China-Korea empat tahun yang lalu semata-mata hanya agar ia bisa lulus dengan nilai yang memuaskan dan melanjutkan kuliah dengan beasiswa. Luhan bersyukur dianugerahi otak yang cerdas sehingga ia bisa mendapatkan predikat sebagai lulusan terbaik yang pastinya akan memuluskan masa depannya. Namun, sepertinya semua tidak berjalan seperti yang ia rencanakan karena nyatanya Sehun membuat hidupnya tidak mudah.
Luhan pertama kali mengenal Sehun ketika ia ditugaskan sekelompok dengan pemuda itu untuk pelajaran bahasa. Sehun memang terkenal cuek dengan tatapan tajam yang mengintimidasi membuat orang-orang menyerah untuk mendekati anak pengusaha sukses di Korea itu. Tetapi Luhan tidak menyerah, ia merasa harus berteman dengan Sehun karena tugas kelompoknya tidak akan pernah selesai jika ia terus menghindar. Oleh karena itu, Luhan memberanikan diri menyapa pemuda itu saat jam istirahat berbunyi.
"Hai, Sehun." Ucapnya ketika menghampiri meja Sehun, lalu duduk di depan namja yang menatapnya terkejut. Luhan tersenyum menutupi kecanggungannya. "Aku Luhan, kita sekelompok untuk tugas bahasa kalau kau ingat." Sambungnya.
Sehun mengangguk pelan, "Uhm, aku tahu."
Luhan merasa lega karena direspon baik oleh Sehun. "Lalu kapan kau ada waktu? Tugas itu akan dikumpul minggu depan. Sementara kita belum memulai apapun."
"Kita bisa memulainya sepulang sekolah nanti. Apa kau sudah punya rencana?" tanya Sehun.
Luhan berdehem pelan, "Kudengar ayahmu seorang pengusaha? Bagaimana jika kita mewawancarai beliau saja? Itu.. kalau kau tidak keberatan."
Sehun terdiam sejenak mendengarnya. "Baiklah, tidak masalah." Ujar Sehun seketika membuat Luhan tersenyum senang. Ternyata tidak begitu sulit untuk berteman dengan Sehun karena pada dasarnya Sehun itu orang yang baik. Walaupun wajahnya memang kurang bersahabat.
Sementara Sehun hanya melihat Luhan dengan pikiran mengapa ia mau-mau saja menyetujui usul Luhan? Sedangkan biasanya ia akan sangat tertutup jika menyangkut keluarganya. Sehun sadar bahwa ia tidak bisa menolak kedua bola mata yang menatapnya penuh harap itu.
Sejak saat itu, Luhan berteman dengan Sehun dan perlahan masuk ke dalam daftar siswa populer di sekolah yang sejajar dengan Chanyeol, Kris, dan Jongin. Mereka seperti suatu kelompok idol yang digandrungi sehingga memiliki fansclub tersendiri di sekolah. Diantara mereka, hanya Luhan dan Sehun yang berada di kelas yang sama sehingga terlihat lebih sering bersama dibanding dengan yang lain. Itulah mengapa ada beberapa penggemar mereka yang membuat fansclub khusus untuk Sehun dan Luhan yang diberi nama Hunhan. Hal itu akhirnya sampai di telinga keduanya.
"Astaga, Sehun, berhenti merangkulku! Apa kau tidak sadar mereka memotret kita sejak tadi?" ujar Luhan kesal ketika Sehun dengan seenaknya merangkul bahunya ketika mereka berjalan menuju kantin.
"Biarkan saja, kukira kau tidak peduli dengan hal seperti itu." Sehun terkekeh ketika Luhan berusaha melepaskan diri sementara Sehun semakin mempererat rangkulannya dengan satu lengan mengapit leher Luhan sehingga semakin mendekatkan tubuh Luhan padanya. Luhan terlihat kesal karena tubuhnya yang lebih kecil sehingga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tentu saja aku peduli. Mereka bahkan sudah menamai kita sebagai Hunhan, kau tahu? Aku tidak mau gadis-gadis menjauhiku gara-gara berpikir aku kekasihmu." Ujar Luhan masih dengan perasaan kesal tanpa menyadari perubahan raut wajah Sehun yang berjalan di sampingnya. "Oh ya, Sehun. Kau tahu Kang Seulgi, tidak?" tanya Luhan ketika mereka sudah sampai di kantin. Luhan menoleh saat Sehun tidak juga menjawab pertanyaannya.
"Ya! Sehun! Kau melamun?" Luhan melambaikan tangannya di depan wajah Sehun. Sehun tersadar sedetik kemudian, "Uh? Apa kau bilang?"
Luhan berdecak sambil mengambil nampan dan alat makannya, "Aku bertanya apa kau tahu Kang Seulgi?" tanyanya lagi sambil mengambil berbagai menu prasmanan yang tersaji di meja satu per satu.
Sehun ikut mengambil makanan di sampingnya. "Aku tahu, ketua cheerleaders itu, kan? Kenapa memangnya?"
Luhan berjalan dan duduk di salah satu tempat kosong dekat jendela. Sehun ikut duduk di depannya.
"Aku..." Luhan bicara dengan suara pelan sambil mengaduk makanannya. Sedangkan Sehun mulai memakan makanannya dengan tetap fokus mendengarkan Luhan.
"Aku menyukainya."
Uhuk! Sehun tiba-tiba tersedak mendengarnya. "Ya! Sehun kau tidak apa-apa?" Luhan segera memberikan air pada Sehun sambil menepuk-nepuk pundak pemuda itu. Sehun meneguknya cepat lalu mengisyaratkan pada Luhan bahwa dia baik-baik saja.
"Kau menyukainya?" tanya Sehun memastikan pendengarannya.
Luhan mengangguk pelan, "Aku berencana menyatakan perasaanku besok lusa. Bagaimana menurutmu?"
Sehun terdiam mendengarnya. Selera makannya tiba-tiba hilang entah kemana.
"Sehuuun.." Luhan jengkel melihat Sehun yang lagi-lagi melamun. "Bagaimana menurutmu? Apa dia akan menerimaku?"
"Entahlah." Sehun mengangkat bahu, "Kau coba saja." kata Sehun dengan nada yang terdengar dingin. Luhan sampai heran melihat perubahan suara temannya itu.
"Ish.. Kau benar-benar tidak membantu." Luhan menghela nafas, "Padahal aku berharap kau akan mendukungku dan memberiku semangat."
Sehun terdiam mendengarnya. Tidak mungkin ia mendukung Luhan ketika hatinya berteriak menyerukan penolakan. Namun, wajah cemberut Luhan mau tidak mau membuatnya memaksakan sebuah senyum tipis, "Aku yakin dia akan menerimamu."
Kalimat itu menjadi kekuatan tersendiri bagi Luhan, ia tersenyum mendengarnya. "Kuharap juga begitu." Luhan pun makan dengan lahap tanpa menyadari bahwa Sehun terus menatapnya dengan tatapan sedih.
Pernyataan cinta Luhan pada seorang gadis bernama Kang Seulgi ternyata tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Gadis berambut cokelat panjang itu menolak Luhan dengan alasan ia menyukai laki-laki lain. Dan ketika Luhan bertanya siapa laki-laki itu, Seulgi dengan enteng menjawab Oh Sehun. Dia bahkan meminta Luhan untuk membantunya dekat dengan Sehun.
Luhan merasa sakit hati. Ia melampiaskannya dengan bermain basket di lapangan walaupun hujan deras mengguyur tubuhnya hingga basah kuyup. Tidak lama kemudian, Sehun datang dengan sebuah payung merah yang cukup besar.
"Berhentilah bermain, nanti kau sakit." Ujar Sehun dengan perasaan khawatir yang ia sembunyikan dengan baik dibalik wajah poker facenya.
Luhan hanya melirik Sehun sebentar lalu kembali fokus memasukkan bola ke dalam keranjang. Tidak berniat mempedulikan pemuda itu.
"Kau tak perlu seperti ini. Masih banyak gadis lain." Lanjut Sehun.
Luhan tersinggung mendengarnya. Ia pun menghentikan permainannya dan berjalan menghampiri Sehun yang berdiri di pinggir lapangan. Ia menatap Sehun tajam.
"Kau kira itu mudah? Itu sulit, Sehun. Kau tidak akan mengerti karena kau selalu mendapatkan semua yang kau inginkan."
Luhan tidak tahu mengapa mulutnya mengatakan hal itu. Namun, wajah terkejut Sehun membuatnya sadar bahwa ia sudah kelewatan dengan melampiaskan kekecewaannya pada Sehun yang sama sekali tidak bersalah.
"Maaf." Ucap Luhan sebelum beranjak pergi. Meninggalkan Sehun yang terdiam di tempatnya.
Luhan mampu mengobati sakit hatinya dengan baik sehingga beberapa hari kemudian ia sudah mampu menjalani aktivitasnya di sekolah seperti biasa.
Luhan merasa menjadi orang yang paling beruntung ketika ia memenangkan undian berhadiah sebuah apartemen dari salah satu pusat perbelanjaan ternama. Padahal Luhan hanya iseng-iseng mengikutinya. Namun, mendapatkan hadiah itu membuatnya senang bukan main dan segera ingin menceritakan hal ini pada Sehun. Sehun mendengarnya dengan tanggapan terkejut pada awalnya lalu mengucapkan selamat.
Luhan pun semakin sering mengikuti undian tersebut. Dan ia memang beruntung karena selalu mendapatkan hadiah barang-barang mahal. Tampaknya dewi fortuna memang sedang berpihak padanya. Sehingga hidup Luhan menjadi begitu mudah karenanya. Namun, semua tanggapan itu berubah ketika tanpa sengaja ia mendengar obrolan Chanyeol dan Jongin.
"Kau tidak perlu mengikuti undian itu." kata Chanyeol.
Jongin mengerut mendengarnya, "Kenapa? Siapa tahu saja aku bisa memenangkan sebuah apartemen seperti Luhan."
Chanyeol berdecak, "Itu tidak akan terjadi karena undian itu hanya rekayasa."
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Jongin tidak paham.
"Mall itu punya ayah Sehun. Sehun sengaja mengadakan undian hanya agar Luhan keluar sebagai pemenangnya sehingga dia bisa memberikan apartemen itu pada Luhan tanpa diketahui oleh Luhan."
"Apa maksudmu, Chanyeol?" suara Luhan tiba-tiba mengagetkan Chanyeol dan Jongin. Mereka menoleh terkejut ke arah pintu. "Luhan?"
Luhan berjalan mendekat, "Jelaskan maksud ucapanmu tadi."
Chanyeol terdiam, namun kedua mata Luhan yang menatapnya tajam membuat Chanyeol terpaksa membuka mulutnya. Ia pun bercerita panjang lebar tentang semua hal yang diketahuinya membuat Luhan melihatnya tidak percaya.
Luhan segera pergi mencari Sehun untuk meminta penjelasan dan menemukan pemuda itu sedang membereskan barang-barang di lokernya.
"Sehun..."
Sehun berbalik dan mendapati Luhan sudah berdiri di hadapannya.
"Selamat, kau menjadi lulusan terbaik!" seru Sehun sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat. Namun Luhan hanya terdiam tanpa menyambut uluran tangan Sehun. "Apa benar yang dikatakan Chanyeol? Kau yang membeli apartemen itu?" Luhan menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca.
Sehun terpaku mendengarnya. Lidahnya kelu seketika.
"Kau juga yang selalu mengirimkanku makanan?"
Sehun menelan ludah pahit.
"Semua baju, buku, tas, dan sepatu yang ku pikir kudapatkan dari undian itu juga darimu?"
Sehun masih tak dapat berkata apa-apa. Ia benar-benar kehilangan suaranya.
"Kenapa, Sehun?" Luhan menatapnya kecewa. "Aku tahu aku miskin. Tapi aku bukan pengemis. Kau tidak perlu mengasihaniku."
Luhan pun beranjak meninggalkan Sehun. Namun, suara Sehun menghentikan langkahnya.
"Bukan itu, Luhan. Aku tahu kau bukan pengemis. Aku pun tidak memberikannya karena aku mengasihanimu."
Luhan berbalik menatapnya, "Lalu? Kenapa?"
Sehun yang menunduk sejak tadi pun mengangkat kepalanya menatap Luhan. Luhan masih menunggu jawaban Sehun.
"Karena..." Sehun menghela nafas berat. "Karena... aku, menyukaimu."
Luhan tak dapat menyembunyikan perasaan terkejutnya. "Kau bercanda kan' Sehun? Itu sama sekali tidak lucu."
"Aku serius, Luhan. Aku tahu ini salah. Tapi aku tidak bisa menghentikan perasaaan yang kumiliki. Aku menyukaimu. Karena itu, aku ingin kau hidup dengan baik. Mianhe." Ucap Sehun sambil menatap Luhan.
Luhan terdiam mendengarnya. Alasan Sehun melakukannya karena Sehun menyukainya sama sekali tidak ada dalam pikiran Luhan. Sehingga ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Oleh karena itu, ia lebih memilih meninggalkan Sehun tanpa berkata apa-apa lagi. Memutuskan bahwa meninggalkan Korea dan kembali ke kampung halamannya adalah satu-satunya jalan terbaik.
Luhan tidak tahu bahwa keputusannya kembali ke China membawa dampak yang buruk. Bisnis kecil ayahnya bangkrut sehingga hidup keluarganya terlilit hutang yang banyak. Luhan harus berkerja siang malam dan melupakan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Waktunya habis hanya untuk mencari uang, namun tetap saja gaji yang kecil tidak akan pernah cukup untuk melunasi hutang keluarganya. Adik perempuannya bahkan harus putus sekolah dan menikah di usia yang sangat muda. Ayahnya yang tertekan mulai mabuk-mabukan dan ibunya menjadi korban kekerasan yang dilakukan ayahnya sendiri. Luhan seringkali harus ikut merasakan sakit ketika menjadi pelindung bagi sang ibu dari kelakuan sang ayah. Namun, ia tidak pernah membalas perlakuan ayahnya karena tahu bahwa ayahnya sedang dalam kondisi yang tidak sadar.
Hingga suatu hari Luhan harus menerima kenyataan pahit ketika sang ayah mengajaknya pergi ke suatu tempat dengan alasan untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang banyak. Luhan yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti sang ayah dan ia heran ketika seseorang dengan setelan jas hitam memberikan satu koper uang yang banyak kepada ayahnya. Luhan mengernyit dan berteriak memanggil ayahnya ketika ia tubuhnya ditarik paksa masuk ke sebuah ruangan oleh beberapa pria bertubuh kekar. Namun, sang ayah tidak berbuat apa-apa untuk membantunya, ia hanya diam melihat anaknya menjauh.
Luhan terkejut mengetahui kenyataan dari pemuda yang terkurung di tempat yang sama dengannya. Pemuda bernama Tao itu yang mengatakan padanya bahwa tidak lama lagi acara lelang akan digelar dan mereka akan dijual pada orang-orang yang sanggup membayar mereka dengan harga yang paling mahal. Luhan tidak dapat menyembunyikan kesedihannya menerima kenyataan bahwa ayahnya tega menjual anaknya sendiri.
Luhan harus menyipitkan matanya ketika sorot lampu yang menyilaukan terfokus padanya. Dengan perasaan takut dan gemetar ia berdiri di panggung dengan hanya mengenakan kemeja putih tipis di tubuhnya. Suara-suara yang menawarnya mulai bersahutan dari harga yang semakin menanjak tiap detiknya. Hingga tanpa ia sadari pemenang yang berhasil membelinya dengan harga paling mahal telah diputuskan. Kesadaran Luhan menghilang ketika ia dibius dan dibawa pergi dari tempat itu.
Luhan sempat terkejut ketika ia terbangun dan mendapati Sehun sedang mencium bibirnya. Ia mencoba bangkit namun sekujur tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan. Ketika Sehun kembali menciumnya untuk kali kedua, Luhan sadar bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah berada di bawah kukungan seorang Oh Sehun.
Menit demi menit berlalu. Sehun semakin bernafsu mencicipi tubuh pujaan hatinya. Lidahnya bergerak liar menjelajah setiap inci tubuh mahakarya di depan matanya dengan agresif, memberi sapuan basah dan jejak merah di leher, dada, perut, dan paha Luhan. Membuat pemuda di bawahnya berusaha keras menggigit bibirnya sendiri agar desahan yang berlomba keluar dari bibirnya dapat teredam. Namun, Luhan benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi ketika tangan Sehun menggenggam penisnya dan melakukan gerakan melingkar dan mengurut dengan cepat.
"Shh... Sehuuunnn..."
Sehun tersenyum menyeringai mendengarnya, wajah Luhan semakin memerah ketika mulut Sehun mengambil alih dengan menjilat, mengulum, dan menghisap kuat penis Luhan yang mulai berkedut panas. Sehingga tanpa menunggu lama, Luhan melepaskan orgasme pertamanya dan Sehun menelan seluruhnya dengan senang hati.
Luhan membuka matanya yang terpejam ketika merasakan kecupan Sehun di keningnya. "Aku mencintaimu, Luhan. Terima aku dan aku akan melakukan apapun untukmu. Kau hanya perlu membuka hatimu dan aku berjanji akan membuatmu bahagia."
Luhan tertegun mendengarnya. Ditatapnya wajah Sehun yang juga sedang menatapnya penuh kesungguhan. Luhan tersadar bahwa kembali bertemu Sehun adalah jalan terbaik untuk memperbaiki hidupnya yang berantakan. Ia bahkan sudah berniat mengakhiri hidupnya. Namun, sosok Sehun seperti secercah cahaya yang menerangi kegelapan. Ia akan menjadi orang yang sangat bodoh jika menolak cahaya itu.
Sehun tidak menyangka melihat Luhan mengangguk samar. Kedua mata Luhan lalu terpejam dengan mulut terbuka. Sehun kembali menyatukan bibir mereka dan untuk pertama kali Luhan membalas ciumannya dengan penuh kelembutan.
Sehun memasukkan miliknya dengan sangat hati-hati di dalam rektum Luhan. Luhan menjerit tertahan ketika merasakan tubuhnya seperti terbelah dua dengan kesakitan tak terungkapkan. Sehun mendekatkan wajahnya dan berbisik menenangkan Luhan. Bergerak dengan pelan sambil menunggu Luhan terbiasa dengan benda asing di dalam tubuhnya.
Selanjutnya yang terdengar hanyalah suara desahan, erangan dan kecipak yang memenuhi ruangan, membawa kedua pemuda dalam kenikmatan dunia yang mereka rasakan untuk kali pertama.
**END**
Thanks for reading~
