Seoul, 2004.

[Hari Pesta Kelulusan]

Aku membukakan pintu utama rumahku dan mendapati chanyeol dengan kemeja putih dan tuxedo hitam yang ia sampirkan di pundak kanannya. Tangan kirinya memegang sebuah dasi kupu kupu. Aku memberikan tatapan datar, karena seingatku, aku tidak sedang dalam keadaan ingin berbicara dengannya setelah insiden aku yang harus menemui kepala sekolah. Chanyeol tersenyum padaku, namun tak berhasil membuatku terpesona. Aku sedang tidak dalam mood.

"aku tau kita sedang tidak saling bicara, baek, tapi aku perlu bantuan dengan dasiku." Ucapnya.

Tangan kirinya terangkat, menggoyangkan dasi kupu-kupu hitam dalam genggamannya ke kiri dan kekanan. Matanya sesekali melirik ke arah dasi dan ke arahku, bergantian. Kulihat dia menahan nafas, menunggu responku.

Aku masih berdiri di hadapannya, dengan separuh badanku yang kusembunyikan dibalik pintu. Mataku menatap dasi ditangannya. Aku memutar mataku, dan meliriknya. Detik berikutnya aku tersenyum padanya. Dia menghembuskan nafas. Sebuah kelegaan mungkin.

Kini, aku berada di kamarku. Aku sedang berganti baju dan chanyeol kulihat sekilas dia berada di depan kaca memasang dasinya. Aku masih sibuk dengan kemeja dan setelan yang apa yang akan kukenakan. Antara tuxedo hitam dengan garis putih di bagian luarnya, atau blazer putih dengan dalaman kaos berkerah v berwarna pink, yang baru saja aku beli beberapa hari lalu.

"Tadinya aku pikir kau cemburu kepadaku karena aku mengajak orang lain ke pesta kelulusan."

Aku menoleh saat kudapati chanyeol berucap.

"oh chanyeol, kau akan selalu menjadi anak lelaki yang menyeka upil di setelan jas yang ku kenakan." Dia terkekeh. Yup, kau akan selalu menjadi lelaki raksasaku.

"jangan merasa tersanjung!" cegahku saat ku dengar kekehannya tak kunjung berhenti.

"baiklah." Dia berdeham. "aku tahu persahabatan antara dominan dan submissive terkadang sangat sulit. Tapi kau tau, aku akan selalu ada jika kau butuh seseorang untuk bercerita."

Aku mengulum senyum. Aku berjalan keluar dari balik bilik ganti pakian di sudut kamarku. Menghampiri chanyeol namun tidak mendekat. Masih tersisa jarak 1 meter diantara kami.

"bagaimana menurutmu?" tanyaku padanya. Chanyeol menatapku dari kaca dihadapannya. Kulihat sekilas terdapat raut takjub diwajahnya. Aku rasa aku berhalusinasi tentang itu.

"apakah dengan setelan kaos dan blazer putih? Atau kemeja biru dengan tuxedo hitam?" tanyaku. Saat ini aku mengenakan kaos dan blazer putih. " formal atau casual?" aku menaruh kedua tanganku di pinggangku.

Chanyeol membalik tubuhnya untuk menghadapku. Menatapku dari ujung kepalaku, perlahan turun menuju kakiku yang berbalut celana bahan hitam dengan motif garis lurus tipis.

Aku masih menunggunya untuk meresponku, saat kulihat dia membuang nafas melalui mulutnya dan memainkan lidahnya di sudut kiri bibirnya. Oh ayolah, apa dia sedang berusaha menggodaku? Karena jika dia sedang bermain dengan itu, jawabannya adalah, ya, aku tergoda jika saja dia bukan sahabat bodohku, Park Chanyeol.

"uh tergantung." Ucapnya kemudian.

"a-apakah untuk, em, berdansa, uh, atau sebuah kencan semalam?" aku mendengar nada gugup didalam ucapannya.

Aku mendecih dan memutar mataku, menarik tubuhku untuk berjalan ke arahnya. Ku arahkan tanganku ke lehernya. Aku meraih kerah kemejanya, dan merapikan dasi kupu-kupunya.

"siapa yang tau?" aku sedikit menggodanya dalam jarak sempit yang memisahkan kami.


Mobil Hyundai Grand Vega putih milik Chanyeol memasuki pelataran parkir sebuah hotel. Aku mengintip dari passenger seat disebelah chanyeol dan melihat tempat pesta kelulusan sekolahku yang kini tengah ramai oleh beberapa siswa satu angkatanku.

"jadi, dimana si bodoh ini akan bertemu denganmu?"

"kau kasar sekali yeol. Dia pasanganku di pesta kalau kau ingat." Aku melotot ke arah chanyeol, tak suka dengan ucapan sarkastiknya tentang pasanganku.

"sepertinya dia depan loby." Aku menunjuk ke arah daehyun dengan daguku.

Chanyeol mengarahkan mobilnya ke depan loby. Daehyun berada di samping lampu dekorasi pesta, kini berjalan menuju arah mobil chanyeol, atau ke arah ku lebih tepatnya.

"hei, manis?" daehyun menyambutku, membukakan pintu mobil-milik chanyeol-untukku. Meraih tangan kananku, mengecupnya lembut. Kulihat daehyun melirik ke arah chanyeol. Sebuah lirikan kepemilikan atas diriku untuk malam ini. Ya.

Aku keluar dari passenger seat mobil chanyeol dan menoleh ke arah chanyeol, yang masih berada di balik kemudi. Chanyeol menatapku, atau lebih tepatnya sedang memperhatikan senyum banggaku. Aku tersenyum mengejek ke arahnya.

"sampai jumpa, park." Daehyun menarikku dengan lengannya yang entah aku tak sadar sejak kapan sudah melingkar di pinggulku. Samar, ku dengar chanyeol mengumpat. Tapi aku mengabaikan.

Aku berjalan masuk ke dalam hotel dan seolah aku masuk ke dunia dalam disney.

Aku akui ini pesta yang sangat-sangat menkajubkan. Aku tidak bisa membayangkan bagimana jeniusnya para EO yang menyiapkan pesta ini. Disepanjang jalan menuju gedung pesta, aku lihat ada bunga bunga berwarna fuschia yang ditata didalam sebuah botol kaca bening. Terikat rapi di sebuah barisan pagar dari bambu yang berjejer mengiringi jalan utama menuju gedung pesta.

Aku memasuki gedung dan semakin takjub dengan balon di langit langit ruangan, berwarna putih dengan tali tali berwarna baby blue yang mengelilinginya dengan empat tali-dari balon- yang menjuntai kebawah, berujung pada sebuah krangjang kecil dan oh apakah itu sebuah konsep balon udara?

Disudut sebelah kiri ruangan terdapat meja meja yang diatasnya terdapat berbagai jenis minuman berwarna warni, aku rasa itu mungkin hanya soda dan syrup. Disebelahnya terdapat vas kecil dengan bunga mawar berwarna peach sebagai pemanis di antara beberapa kue coklat dan strawberry.


Aku menggoyangkan badanku mengikuti alunan musik, berdesakan di antara teman teman satu angkatanku yang sama menggilanya denganku. Dihadapanku daehyun menggoyangkan pinggulnya sensual. Sesekali tangannya menyibakkan rambut coklatnya ke atas. Uh itu, sangat, seksi. Aku menyeringai tanpa sadar.

Berjarak 3 meter di sebelah kananku, chanyeol sama menggilanya—dan oh apa aku tidak salah lihat? Karena saat ini jiyeon-dengan mini dress berwarna turqoisenya-sedang menggoda sahabatku, menari, meliukkan tubuh bagian bawahnya ke arah selangkangan sahabatku.

'jalang'. Batinku.

Aku berusaha fokus dengan daehyun yang menari didepanku, namun mataku terus saja melirik ke arah chanyeol. Aku tidak merasa cemburu, ya, aku tidak akan cemburu dengan sahabatku. Aku merasa risih, benar, aku merasa risih dengan jiyeon yang terus berusaha menempelkan bagian bagian tubunya kepada chanyeol.

Chanyeol melihatku. Melihatku yang sedang melirik ke arahnya. Dia melambaikan tangannya kepadaku, dengan senyum lebar diwajahnya. Aku balas tersenyum kepadanya. Dan kembali meliukkan tubuhku dengan semangat. Aku senang, sahabatku masih memperhatikanku ditengah kegilaannya. Aku akui, itu terlihat manis.

Sesekali aku masih mencuri pandang ke arah sahabat bodohku dan gadisnya. Aku yakin ini hanya sebuah dorongan perasaan protektif antara sahabat, tidak ada perasaan lainnya.

Mataku menegang. Manikku menangkap jiyeon yang sedang mencumbu chanyeol di tengah lantai dansa. Aku tau, aku sangat tau chanyeol tidak merasa baik-baik saja dengan itu.

Untuk beberapa detik aku merasa udara disekitarku menipis. Apakah ini sebuah serangan jantung? Atau paru paru? Aku merasa sesuatu di sekitar dadaku terasa nyeri.

Aku gusar. Ya, hanya sebuah perasaan iba, karena sahabatku kini sedang saling mencumbu dengan pasangan—oh tidak, mungkin lebih tepat, jalangnya—di depan publik. Wow! Ataukah aku harus berjalan ke arah mereka dan mengatakan bahwa mereka berdua sebaiknya segera memesan kamar di hotel ini? Karena saat ini aku mulai merasa mual hanya dengan membayangkannya saja.


Aku berada di dalam kamar hotel yang sama dengan tempat pesta kelulusanku.

Aku duduk bersimpuh diatas sebuah ranjang dengan selimut sutra berwarna krem. Tanganku berada disamping tubuhku, menjadi tumpuanku. Aku merasakan sedikit hawa dingin di bagian tengkuk dan punggungku. Ya, aku sudah menanggalkan pakaianku, atau mungkin daehyun yang melepasnya.

Aku memandang punggung bidang milik daehyun. Sangat seksi. Bagaimana kulit putih itu mengkilap karena keringat. Dan jangan lupakan otot disekujur tubuhnya yang aku yakin setiap gadis dan para submissive di sekolahku memohon untuk bisa tidur dengannya.

"shit!" Daehyun menoleh ke arahku sekilas.

Aku melirik ke arah daehyun yang sedang berusaha memasang kondom ke penisnya. Oh Tuhan, apa dia seorang perjaka? Ayolah.

"kau pernah melakukan ini sebelumnya?" aku bertanya memastikan. Sudah 5 menit daehyun mencoba memasang kondom ke penisnya dan aku mulai merasa canggung untuk menunggu.

"ya, kau?"

"sering." Jawabku singkat.

Aku memutar mataku malas. Aku mulai bosan, dan sedikit kedinginan, dan sedikit canggung. Apa aku harus menunggu selama satu abad agar pria seksi—dan bodoh—dihadapanku ini selesai memasang kondom di penisnya?

"okay. Cepat!" Daehyun berbalik ke arahku dan mendorongku untuk merebahkan badanku.

Dalam hitungan detik, daehyun berhasil menindihku. Aku merasakan penisnya berada didepan lubangku dan dalam setengah detik berikutnya berhasil memasukiku. Menyatu dengan tubuhku.

Daehyun menenggelamkan wajahnya diceruk leherku. Aku akui hembusan hangat nafasnya sedikit menaikan libidoku. Ya.

Kepalaku terdesak ke dalam bantal berbalut kain sateen berwarna krem. Semakin terdesak karena dorongan tubuh daehyun yang mendesakku.

Tusukan daehyun sungguh kuat, tapi aku rasa tidak mampu membuatku klimaks. Hanya 7 dorongan dan dia mencapai klimaksnya. Ayolah. Bahkan aku belum merasa berada di puncak rangsanganku.

Saat daehyun mengerang di ceruk leherku, aku hanya bisa membulatkan kedua mataku.

Ini adalah seks tercepat dalam sejarah kehidupanku. 3 menit. Ya, hanya 3 menit. Aku pikir ini bukan sebuah seks.

"Oh, Tuhan."

Aku melirik daehyun sekilas. Kulihat wajahnya memerah karena klimaksnya. Daehyun merebahkan badannya disampingku. Menelusupkan lengannya di bawah leherku dan menarikku untuk berada di dalam pelukannya.

Aku dengan suka rela memeluknya. Memberikan 3 tepukan di dadanya. Aku rasa aku harus memberikan apresiasi terhadap usahanya. Meskipun tidak membuatku terkesan.

"wow." Aku bergumam.

"aku tau. Ini sangat luar biasa." Ucapnya. Dia mengecup pelipisku lembut.

Tanganku meraba perut berototnya. Menyibak selimut sutra berwana krem. Aku meraba penis daehyun. Mencoba memberi sebuah blow job agar malam ini berlanjut menjadi beberapa ronde. Karena, ya, aku belum mendapat klimaks.

Mataku membulat. Tanganku mencoba merasakan penis daehyun. Merabanya, bukan mengurut untuk memberi blowjob.

"dimana barang itu?" tanyaku.

"apa?"

"barang itu?" aku menyibak selimut yang menutupi selangkangan daehyun.

"aku tak tahu." Daehyun melirik ke arah selangkangannya.

"yang benar saja daehyun. Dimana kondomnya?" aku mulai panik.

Aku mencoba mencari disekitar ranjang dan aku tidak menemukan kondom sialan milik daehyun.

"tidak mungkin hilang begitu saja. Ayolah daehyun."

Mataku membulat sempurna. Tanganku memegang perut bagian bawahku.

"shit." Aku memekik.


Aku berada di kamar mandi hotel. Aku berjongkok dengan sebuah kaca berbentuk bulat berada di tangan kananku. Badan ku bertumpu pada tangan kiriku.

Keringat dingin mengucur di dahi dan pelipisku. Aku bergerak gelisah. Memandang lubang dan pantatku dari pantulan di kaca. Berharap kondom daehyun—yang sungguh sial, terlepas didalam lubangku—sedikit terlihat, sehingga aku bisa menariknya keluar.

Oke, saat ini aku tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Aku hanya ingin mengeluarkan kondom sialan itu dari dalam tubuhku.

"mau kucarikan?"

Aku melirik ke arah daehyun yang berada di ambang pintu kamar mandi.

"benarkah?" aku berharap.

"ya, merangkaklah kemari." Daehyun terkekeh disela ucapannya.

"back off, jerk!" pekikku. Sial. Daehyun sialan.

umpatanku berhasil membuat daehyun terkekeh dan berlalu meninggalkanku.


Aku berlari dari kamar hotel. Aku meninggalkan daehyun disana.

Tubuhku terlapisi coat hitam milik daehyun yang membungkusku sempurna hingga bagian pahaku. Selebihnya aku telanjang.

Aku berlari menelusuri lorong. Mataku bergerak gelisah mencari letak lift.

Aku memasuki lift dengan nafas terengah. Seorang pria paruh baya yang juga berada didalam lift melirikku. Aku mengabaikannya. Mencoba mengabaikannya dalam keadaan ini.

Tangan kiriku meremas kedua potongan coat milik daehyun, dan tangan kananku sibuk menekan sebuah panggilan cepat.

"baeki!" –chanyeol memekik diseberang panggilan teleponku. Kudengar gemuruh musik dibelakangnya, aku yakin dia masih berada di hotel ini.

"oh chanyeol, syukurlah. Dimana kau?"

"aku sedang berjalan keluar!" –chanyel sedikit berteriak.

"tidak, tidak. Tunggu aku! Kau harus membantuku. Ada sedikit kecelakaan."

"apa? Apa yang terjadi?" –chanyeol terdengar panik.

"tidak , tidak, bukan itu maksudku. Aku baik-baik saja."

"oh jezz, kau membuatku panik, baek."

"maksudku ada kecelakaan dengan 'hal itu'..dengan daehyun." –aku terengah. Panik. Dan, hei, kenapa lift ini lama sekali?

"itu sudah biasa, baek—"

"bukan, yeol, bukan. Aku harus mencari 'barang' itu sekarang!" –aku melirik seorang paruh baya dibelakangku.

"aku harus membuang 'barang' itu. 'barang' itu hilang dan aku tidak bisa menemukannya. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan." –aku berbisik. Suaraku sedikit bergetar. Ya, aku ingin menangis. Tapi tidak. Itu tidak akan terjadi.

"bicaramu tidak masuk akal, baeki. Barang apa yang kau maksud, huh? Bisakah kita bicarakan ini nanti?"

"tidak! Park, tolong." –aku memekik.

"oke, tapi kau harus bicara dengan jelas!" –dia sedikit berteriak.

"oke!" –aku melirik sekilas pria dibelakangku. Aku masih terengah. Sungguh. Aku seperti kehilangan cara untuk menghirup oksigen.

"kondomnya terlepas di lubangku. Dan aku tidak bisa menemukannya." –aku menahan nafas saat mengucapkan hal memalukan ini. Dan aku lihat pria dibelakangku menatapku. Oh tuhan! Bisakah aku menghilang untuk saat ini?

Bersamaan dengan berakhirnya ucapanku, pintu lift didepanku terbuka.

Chanyeol berada disana. Bersama jiyeon dalam genggamannya.

Aku melirik chanyeol yang saat ini menatapku, masih dengan ponselnya yang menempel ditelinga lebarnya.

"itu informasi yang lebih dari aku butuhkan, baek." Ucapnya sambil menurunkan ponsel dari telinganya.

Tatapan mata chanyeol tampak tidak percaya, dengan sedikit belas kasihan didalamnya.

Aku menatap chanyeol yang ada dihadapanku dalam beberapa detik. didepanku, jiyeon mengaitkan lengannya pada chanyeol. mengeratkan dan semakin menempelkan tubuhnya pada chanyeol.

Mataku memanas. Aku pikir ini bukan waktu yang tepat.


Aku terbaring di sebuah tempat tidur khas rumah sakit. Kaki yang polos—semenjak dari dalam hotel, aku tidak beripikir untuk memakai sepatuku. Barefeet.—bergerak gelisah.

Seorang dokter menyibak gordyn berwarna biru navy. Dia berjalan kearahku dengan sebuah papan—yang aku rasa berisi informasi tentang riwayat keluhanku.

Kulihat dokter itu mengernyitkan sebelah alisnya. Hey! apa yang aneh?

dokter itu melirikku dan tersenyum setelahnya.

"hei, aku dokter Yixing." Dia menjabat tanganku.

"hei, aku baekhyun. Senang bertemu denganmu." Aku tersenyum dan membalas jabatan tangannya.

Aku sedikit melorot dari tempatku berbaring. Membenarkan posisiku. Dokter Yixing menutup tirai disekitarku.

Kakinya menginjak sesuatu di bawah tempat tidur dan membuatku tersentak kaget karena tempat tidur itu terhentak naik lebih tinggi dari posisi semula.

"apakah ini sering terjadi?"

"kau pikir aku ini apa? Huh?" aku mendengus kesal.

"maaf aku tidak berpikir demikian. Aku hanya ingin tau apa ini pertama kalinya terjadi?" dokter Yixing berdeham di akhir pertanyaan nya.

Aku tidak menjawab pertanyaan dokter-aneh-itu. dan beruntungnya aku dia tidak bertanya lebih dalam. dokter yixing mulai melakukan tugasnya. Memasang dua buah sarung tangan latex berwarna putih gading di masing-masing tangannya.

Dokter yixing memandangku bingung. Dalam dua detik tangannya yang terbungkus sarung tangan latex itu menunjuk selangkanganku. Memberi sebuah gestur untuk membuka pahaku ke arah yang berlawanan. Atau dalam artian mudahnya, dia menyuruhku untuk mengangkang. Oh Jezz.


TBC.

Please, kindly leave a review ... :")

I really appreciate 'em even if only one line review.

gomawo ^^