THIS FANFIC IS YAOI!

IF YOU DONT LIKE IT GET OUT OF THIS FANFIC!

I'M SERIOUSLY WARNING YOU!

GET OUT!

...

Author : Mei. D. Aida

Genre : 50% Hurt Comfort and 50% idk ._.

Lenght : ?

Warning : Yaoi aka Boys Love, OOC, Author labil, dan TYPO (maklum author pemuja typo).

Cast : Oh Sehun, Xi Luhan, Kris, Park Chanyeol, Kai, All EXO member

Rated : T yang akan naik tingkat menjadi M-esum

...

Summary

Dahulu, akibat temperamen seorang kakek buyut, klan Xi dikutuk, diberi kendali atas sesuatu yang sama temperamentalnya dengan mereka-cuaca.

Oh Sehun, yang terpaksa menikahi seorang Xi, pernah merasakan kutukan tersebut-basah kuyup kehujanan di tengah cuaca yang sangat cerah. Itu terjadi karena ia menolak menuruti permintaan suami nya, Xi Luhan, untuk menghentikan kebiasaannya 'bersenang senang' sampai larut malam

Di satu sisi Luhan memang ingin Sehun berubah. Namun di sisi lain, ia sadar dirinyalah yang membuat Sehun kehilangan kemerdekaan hingga harus menjadi suaminya. Namun sayangnya, tak ada jalan selain pernikahan untuk menghindari kemurkaan kakak-kakak Luhan setelah adik lelaki mereka di duga dibunuh oleh seorang dari keluarga Oh.

Enjoy the story ©

.

.

.

The Curse

Chapter 2

"Dulu, dahulu kala, sebelum muncul negeri China atau bahkan Korea Selatan, tujuh klan hidup di lembah ini. Masa itu damai, dan semua orang berusaha hidup berdampingan. Semua orang, kecuali klan Xi. Oh, betapa mereka sangat tinggi hati, dan penuh amarah. Bahkan saat itu, sebelum raja-raja menarik garis batas wilayah dan menamainya sebuah negara, hanya klan Xi yang memiliki kedudukan tinggi. Hingga raja-raja pada masa itu enggan berkomentar saat klan Xi menarik garis wilayah yang lebih besar daripada klan lain."

-Zhang Yixing,

Kepada Dua Orang Anak yang Masih Kecil Pada Suatu Malam yang Dingin.

.

Sehun terbangun perlahan, melayang menuju kesadaran seakan ia mengapung di bantal bulu. Ia memutar kepalanya perlahan ke arah samping, lalu mengernyit. Ia memang di atas bantal bulu, bantal bulu yang dibungkus linen putih halus beraroma segar.

Dengan hati-hati, ia merentangkan tangan dan menemukan ia berbaring di atas kasur kingsize yang sama lembutnya dengan bantal yang dikenakan olehnya.

Ini bukanlah maut. Ini ranjang bulu yang empuk dan lembut.

Sehun membuka mata, berusaha keras memfokuskan mata di tengah sinar yang menyilaukan. Kepalanya bahkan berdenyut karena usaha kecil tersebut. Demi Zeus, apa yang terjadi? Ia ingat menyetir mobil di jalan, kemudian mengambil jalan pintas melewati hutan untuk menuju jalan utama. Suara di semak semak. Guntur, kemudian sensasi air hujan sedingin es...

Hujan. Aroma lilac. Luhan.

Hah, ini tidak mungkin. Tapi...hujan dan lilac? Mungkin saja

Sehun mengerutkan dahi, berusaha mengingat lebih banyak. Ia mempunyai gambaran jelas Luhan dan si pengawal tingginya, Kai, berdiri di atasnya di tengah hujan.

Beberapa gambaran lain mengikuti. Luhan dan Kai dan... Pastor Henry? Di gereja? Sehun mengingat dengan jelas rasa wiski, ringan dan membakar, dan hitam terang mata Luhan. Mata yang ia sangka telah dilupakannya. Namun, rupanya belum.

Ia berguling menyamping dan duduk tegak, meringis pada matahari yang menerobos melalui celah di tirai. Mimpi yang janggal, dan anehnya mengusik. Mungkin itu akan mengajarinya untuk tidak minum lebih banyak alkohol ketimbang yang harusnya diminum pria dalam satu kali kunjungan.

Sehun mengayunkan kaki ke pinggir tempat tidur, kakinya langsung menemukan lantai yang dingin. Sialan, kelihatannya mereka membangun bar minuman ini di perahu, melihat dari kamar yang bergoyang ke depan-belakang. Dengan hati hati ia memilih berpegangan erat pada sisi tempat tidur dan kembali duduk.

Dimana aku? batinnya.

Kamar itu di tata mewah dengan gaya dua puluh tahun lalu, dirawat dengan seksama tapi kuno. Ada lemari pakaian besar dari kayu ek dan meja marmer dengan mangkuk, wadah minuman, dan handuk yang terlipat rapi diatasnya, dilengkapi kursi empuk berlapis kokoh. Wangi lemon dan lilin menggelitik hidungnya; lantai dan furnitur kayu khas lantai China kuno dipoles dan terlihat mengkilat, bahkan dengan cahaya remang remang.

Tak ada bar minuman sebersih ini

Dimana aku, kalau begitu? batinnya. Ia bersandar pada tiang ranjang, dan tatapannya turun ke lutut. Celana yang dipakainya bukan miliknya. Ia memandang kemejanya dan menemukan kemejanya juga milik orang lain. Ia tidak pernah memiliki kemeja dengan warna pink konyol di bagian lengan. Satu satunya benda yang kelihatan familier di kamar ini hanyalah sepatunya, yang terletak di sudut, bersih dan mengkilap. Tapi kenapa? Kenapa ia bisa berada disini?

Suara gemerisik terdengar di lorong di luar pintu, kemudian handel tembaga berputar dan pintu terbuka. Sinar terang dari lorong memperlihatkan bentuk tubuh seseorang. Mungil dan berlekuk, ia menyajikan gambaran samar yang menimbulkan rasa penasaran.

Sehun seketika mengenalinya. Mengenalinya dari aroma lilac yang memenuhi ruangan. Mengenalinya dari lekuk pipinya ketika cahaya jatuh keatasnya. Mengenalinya dari keanggunannya memegang daun pintu. Serta mengenalinya dari cara tubuhnya menegang saat ia melihat pria mungil itu.

Ternyata bukan mimpi "Xi Luhan" kata Sehun, suaranya serak dan dalam "apa arti semua ini?"

Luhan menutup pintu dan berjalan maju, cahaya matahari dari jendela menyinari rambutnya.

Rahang Sehun menegang. Sudah sepuluh tahun sejak ia terakhir kali melihat Luhan. Mata Luhan lebih berkilau ketimbang yang diingatnya, bulu matanya memberikan bayangan misterius pada matanya. Sinar matahari membuat rambut cokelat gelapnya berkilau keemasan, dan membingkai wajahnya yang bertaut lembut.

Sehun mengira ia telah melupakan Luhan, tentang bagaimana sosok pria mungil itu, tapi momen ini justru membuktikan sebaliknya; ia justru ingat semuanya.

Bibir Luhan penuh dan menggairahkan. Hidung pendek dan menggemaskan. Dia juga lebih berisi ketimbang waktu Sehun mengenalnya dulu, bukan lagi pria muda yang mungil, tapi pria dewasa, namun, Sehun tidak akan menyingkirkan kata 'mungil' dari Luhan.

Ia dapat melihat lekukan leher Luhan yang putih dan menggoda, walaupun pria mungil itu berpakaian dengan pantas, kemeja yang dikenakannya tidak mencolok dan berwarna coklat keabuan, dan ia menyembunyikan tangannya dibalik punggung dengan gugup.

Sebenarnya, Sehun selalu menghindari wanita semacam itu di Seoul. Wanita kaku dan sopan yang tidak berani kau ajak bicara karena takut berakhir dipenjara. Ia belajar menghindari sosok yang jelas-jelas berbahaya seperti itu.

Luhan membasahi bibirnya dengan gugup, menimbulkan reaksi instan pada bagian bawah tubuh Sehun "Sehun, aku minta maaf untuk hal ini"

Lirih dan serak, suara Luhan menimbulkan getaran panas mengejutkan pada diri Sehun "dimana aku?"

"rumah musim panas milik kakak-kakakku. Aku tidak berani membawamu ke mansion Oh. Terutama sekarang"

Brengsek semuanya, kepala Sehun seperti mau pecah, dan Luhan berbicara penuh teka-teki.

Sehun berjalan satu langkah ke depan, tapi dunia seketika miring ke satu sisi, kemudian ke sisi lain, perutnya bergolak seiring gerakan itu. Dengan bibir terkatup, ia menggengam tiang ranjang, beruntung ia masih bisa berdiri. Oh astaga berapa banyak yang ia minum semalam

Tatapan mata Luhan beralih dari Sehun ke pintu, kemudian kembali, matanya dibayangi bulu mata yang panjang dan hitam. Ia memiliki mata paling menarik. Menggemaskan, juga lengkungan alis yang tegas dan mata yang selalu terlihat menggoda, di bingkai wajah bak malaikat.

Tentu saja, Sehun tahu sebaliknya "Luhan, kenapa aku disini?"

Sekelebat keraguan tampak diwajah Luhan "kau...kau tidak ingat?"

"ingat apa? Aku menyetir saat pulang dan-" potongan-potongan ingatan kembali dengan ketergesaan menyakitkan. Ia meninggalkan rumah Krystal karena tunangan yeoja tersebut kembali. Menyetir mobil di hutan.

Hujan yang tiba-tiba. Aroma lilac. Kegelapan, disusul gereja, dan Pastor Henry memberitahu Sehun untuk-ia menggengam tiang ranjang lebih erat "kita sudah menikah?"

Luhan sedikit memucat, tapi tidak menyangkalnya

Sialan, ternyata itu bukan mimpi sama sekali! Ruangan oleng dan Sehun hampir jatuh, dan ia bergerak tidak stabil di tempatnya.

Luhan mulai melangkah maju, tapi Sehun mengibaskan tangan saat ia mendudukan diri di tepi ranjang "jangan sentuh aku penyihir"

Kata terakhir bergetar di ruangan. Mata Luhan berkilat, bibirnya terkatub mengancam "aku bukan penyihir"

"aku tau yang sebenarnya" Sehun menggeram

"jika kau berbicara tentang kutukan Xi, kalau begitu memang ya, aku mampu melakukan beberapa-" Luhan memberi isyarat samar samar "aktivitas"

"kau bisa mendatangkan hujan" Sehun mendengus "dan kau tidak dapat menghentikannya"

Luhan sedikit merona, pipi lembutnya bersemburat pink terang, ia dipermalukan karena kutukannya. Alangkah rumitnya. Sehun ditangkap dan dipaksa menikahi pria yang dikutuk dengan kemampuan membuat awan awan berkumpul dan hujan dapat turun, dikutuk seperti semua anggota keluarganya.

"kutukan keluargaku. itu tidak ada hubungannya dengan kenapa kau ada disini. Alasan kita menikah"

Menikah. Sehun tidak bisa membuat kepalanya yang sakit memahami hal itu "tidak mungkin itu bersifat mengikat"

"ya, itu mengikat. Aku-aku memastikan hal itu"

Sebagian amarah Sehun pasti tampak jelas, karena Luhan mengulurkan tangan untuk menenangkan "kumohon Sehun. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Aku tidak punya pilihan"

Sehun berdiri dan maju selangkah kearah Luhan, setiap urat nadi tubuhnya berdenyut oleh amarah "Kau tidak punya pilihan? Bukan kau yang diseret ke altar dalam keadaan pingsan!" Luhan telah mencuri kebebasan Sehun. Luhan, dari semua orang.

Luhan melangkah menjauh, punggungnya mendekati dinding "Sehun, aku benar benar minta maaf. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan"

"Harus? Apa yangt sangat mendesak sampai kau merasa ini perlu dilakukan?"

"aku harus menghentikan permusuhan itu. Keluarga kita dalam bahaya"

"apa kau gila? Perseturuan itu sama tuanya dengan gunung-gunung"

"tidak lagi" mata Luhan berkerjab dengan kilas emosi mendalam "Sehun, kau tentu mengenal Tao?"

Sehun terdiam "adik laki-lakimu?"

"ya. Dulu dia adik paling kecil" suara Luhan tercekat pada kata terakhir, bibirnya gemetar

Sehun mengerjab "dulu? Apa yang terjadi?"

"ada perkelahian di bar minum seminggu lalu. Saudara tirimu, Siwon, berkelahi dengan Tao. Tao tewas. Tentu kau tau hal ini-" Luhan terhenti, ekspresinya bimbang

"terakhir kali aku bertemu dengan keluargaku lima tahun lalu, di pemakaman kakekku" mereka juga tidak terlalu senang melihat Sehun, terutama setelah mereka menemukan bahwa kakeknya mewariskan seluruh harta benda pada Sehun "aku tidak pernah bertemu lagi dengan Siwon atau siapa pun sejak saat itu"

"Siwon dan Tao bertemu di bar. Mereka bertengkar. Terjadi baku hantam. Tao tewas"

Sehun mengerutkan dahi, tak mampu mengalihkan pandangan dari tatapan Luhan yang berkaca-kaca "aku tidak tahu"

"keluargamu mengatakan itu hanyalah perkelahian biasa, bahwa kematian Tao merupakan kecelakaan. Tapi kakak kakakku tidak memercayai Siwon" ketajaman suara Luhan memberitahu Sehun bukan hanya kakak-kakak Luhan yang percaya Siwon bersalah, ia seolah memberitahu bahwa ia juga sependapat.

Sehun lahir hampir 3 tahun sebelum kedua adik tirinya. Saat berumur lima belas, ia dan ayah tirinya telah mencapai titik nadir hubungan mereka, perkelahian yang menyebabkan mereka berdarah, memar-memar, dan terlalu marah untuk tinggal di bawah satu atap.

Maka pada usia muda lima belas tahun, Sehun mengemas koper, menaruhnya di bagasi mobil favoritnya, dan berangkat ke Seoul, tanah kelahiranya dan juga ayahnya. Ia jarang pulang untuk berkunjung. Kini keluarganya seperti orang asing baginya, dan Sehun terbiasa sendirian. Bahkan, ia sangat menyukainya.

"semua ini tidak ada hubungannya denganku" ia berkata

Luhan memucat, bibirnya terkatup rapat, tidak percaya "Tao tewas. Apa kau tidak memahami itu?"

"bicaralah pada Siwon" ia berkata dengan kasar "ini tidak ada hubungannya denganku"

Luhan meraih lengan Sehun, jarinya menekan kemeja pria itu dengan erat "seseorang membunuh adikku"

Sehun berlama-lama memandang Luhan, memperhatikan ketegangan di sekitar bibir namja mungil itu, serta keletihan di sekeliling matanya. Luhan terlihat kelelahan. Kesadaran itu menimbulkan getar sesuatu dalam dirinya, perasaan samar dari rasa kekhawatiran...dan penyesalan.

"kau keliru menjebakku. Seharusnya kau menangkap Siwon atau Kyuhyun, seseorang selain aku" Sehun menarik tangannya dari Luhan

"bagaimana bisa kau mengatakan itu?" mata Luhan berkilat, dan ia ingin menangis

"aku tidak melibatkan diri dengan keluargaku, begitu pula mereka. Tidak pernah. Kenapa sekarang aku harus mulai melakukannya?" ia masih ingat hari ia meninggalkan rumah. Tegang oleh amarah dan harga diri, ia sungguh berharap salah satu dari mereka-ibu nya, atau ayah tirinya, atau bahkan salah seorang adiknya-akan memintanya tetap tinggal, memohon padanya agar tidak pergi. Sebaliknya, ada suasana kelegaan yang jelas. Dan beberapa bulan setelahnya, ketiadaan komunikasi semakin menguatkan fakta bahwa mereka tidak peduli dan tidak pernah peduli.

Sehun telah memutuskan ia juga tidak peduli. Ia memiliki penghasilan memadai, disediakan oleh Suho, kakak sepupu dari pihak ayahnya, yang tentu saja, sangat menyayangi Sehun. Ia tinggal di apartemen sederhana pada awalnya. Dan dengan sangat mudah ia jatuh dalam kehidupan menggembirakan saat ia memutuskan untuk berjudi, membolos, bermain, menggoda wanita, minum berlebihan, dan belajar menghargai satu-satunya hal yang benar benar dimilikinya: kebebasan.

Saat berumur tujuh belas, ia memiliki reputasi sebagai pria brengsek dan pecandu judi. Ia juga terkenal karena peruntungannya yang luar biasa bagus. Harta, kelihatannya, memang tersenyum pada mereka yang kurang beruntung dalam percintaan. Sampai pada usia 18, dalam satu perjalanan wisata ke negeri tempat dimana masa kecilnya dihabiskan, ia tersesat di padang belukar dan ia bertemu Xi Luhan. Ia tidak ingin terjerat lagi "aku tidak ingin melibatkan diri dalam masalah ini. Cari saja ornag lain"

Luhan mengangkat dagu, matanya menatap Sehun, ia tersenyum "Terlambat"

"aku menolak memercayai bahwa pernikahan kita berlangsung. Dan jika memang ya, aku akan menolaknya"

"kaupikir aku bodoh? Bahwa aku akan bersusah payah demi sesuatu yang dapat dibatalkan dengan mudah? Pernikahan kita akan bertahan, Sehun. Pernikahan ini akan bertahan selamanya"

Sehun menatap Luhan, perutnya terasa teremas. Apakah Luhan benar? Apa tidak ada cara untuk membatalkan pernikahan ini?

Brengsek, bagaimana ini bisa terjadi? Dan kenapa harus dengan pria yang tidak mampu ditolaknya?

Hanya sekali dalam hidupnya, Sehun membiarkan diri dipengaruhi hatinya. Ia mempertaruhkan semuanya-dan kalah. Ia tergila-gila pada Luhan sejak pertemuan pertama mereka. Dalam seminggu, ia memutuskan bahwa Luhan-lah jodohnya, dan dengan segala hasrat masa muda, ia memohon pada Luhan untuk kabur bersamanya.

Dengan enggan, Luhan setuju. Sehun mengatur segalanya, membeli limosin hitam, menghiasnya, dan menunggu pria mungil itu dilokasi yang telah dijanjikan. Malam semakin larut, tapi Luhan belum datang. Sebagai gantinya, bersama dua dari saudara laki-laki pria itu. Kris dan Chanyeol dengan kasar memberitahu bahwa adik laki-laki mereka berubah pikiran.

Sehun mengira mereka berbohong, karena sedari tadi, Luhan bahkan belum menghubungi ponselnya, sampai mereka memberinya surat yang ditulis oleh Luhan

Sehunie, aku tidak dapat melakukan ini. Pergilah dan jangan mencariku lagi. Perasaanku untukmu, itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku minta maaf jika kau berpikir sebaliknya. Salam, Luhan.

Rahang Sehun menegang mengenang peristiwa itu. Ia ditinggalkan tanpa bisa melakukan apa pun selain memutar badan dan pergi, malu dan marah. Ia tampak konyol dan bodoh.

Brengsek, ia seharusnya lebih tau untuk tidak menaruh kepercayaan pada sesuatu yang serba tidak pasti seperti perasaan dan cinta, tapi ia tidak mampu menolak.

Itu kesalahan yang takkan pernah diulanginya. Perasan hanyalah untuk dicecap dan dinikmati sekejap, seperti sampanye, sebelum rasanya menjadi hambar.

"aku menolak memercayai pernikahan ini akan bertahan"

Rahang Luhan menegang, matanya menyipit "aku sudah memastikan sebaliknya. Dengan kau sebagai anggota keluarga, kakak-kakakku akan berhenti membalaskan dendam mereka"

"aku tahu kakak-kakakmu. Butuh lebih dari sekedar pernikahan untuk menghentikan mereka"

Luhan tiba tiba menurunkan tatapannya "mungkin"

Sehun menegang, matanya menyipit curiga "mungkin?"

Luhan mengangkat bahu dan dengan cepat mulai berbalik.

Namun, belum lama pria mungil itu berbalik, Sehun meraih Luhan dan menariknya berputar menghadapnya kembali "jelaskan maksudmu"

"tidak! Tidak kalau kau memegangiku seperti ini!"

"kau penyihir keparat" Sehun membentak. Dengan dua langkah pendek, ia membuat Luhan terperangkap di antara tubuhnya dan dinding, kehangatan tubuh Luhan langsung menjalar melalui kemeja pria mungil itu. Dan entah mengapa, itu malah membuat Sehun lebih murka "apa pun yang kau lakukan. Aku tidak akan menikah. Tidak sekarang, tidak selamanya!"

Sehun menurunkan wajahnya sampai mata mereka sejajar "aku tidak akan menyerahkan kebebasanku dan aku tidak peduli tentang Tao atau saudaraku atau siapapun"

Terjadi keheningan sesaat. Luhan mungkin berpura-pura berani, tapi Sehun tau dari bibirnya yang gemetar dan dadanya yang naik-turun seiring napasnya yang pendek, namja mungil itu tengah ketakutan

"aku tidak akan membatalkan apa pun" kata Luhan dengan suara rendah "kita sudah menikah. Kita akan tetap seperti itu. Aku minta maaf, tapi tidak ada yang dapat kau lakukan"

Sehun tidka mampu bernapas. Jemarinya semakin erat mencengkram kedua bahu Luhan dengan kejam

"lepaskan aku, Sehun" Luhan tidak mengalihkan pandangan, walaupunn bibirnya memucat

"Tidak"

"lepaskan aku sekarang!"

"Tidak. Tidak sampai kau-"

BRAK

Pintu kamar terbanting membuka dan Kai melangkah masuk. Pria itu tinggi, hampir setinggi Sehun, dan wajahnya memerah. Ia kelihatan seperti malaikat murka yang menuntut pembalasan dendam

"brengsek" Sehun menutup mata. Ia melepaskan Luhan dan berbalik untuk beridiri dihadapan pria itu "Kai. Kejutan yang menyenangkan"

Alis Kai turun saat ia memandang dari Sehun ke Luhan, kemudian kembali "apa yang terjadi di sini?"

"tidak ada urusannya denganmu"

"aku bersumpah melindungi tuanku. Kalau kau mengancamnya lagi, aku akan mengakhiri hidupmu yang menyedihkan"

"apakah kau terlibat dalam pernikahan terkutuk ini?" Sehun meraba kepalanya, meringis ketika ujung jemarinya menyentuh area yang sakit "perasaanku mengatakan kau membantu lebih jauh dari yang dibutuhkan"

"kuharap aku yang memberimu bengkak itu, tapi tidak. Kau menabarak trotoar saat hujan deras dan kepalamu terbentur" Kai mengepalkan tangan, seukuran batu besar "kalau aku yang menyebabkannya, kau tidak akan bangun sekarang"

"Kai-ah" Luhan melangkah memutari Sehun "kumohon, kau tidak perlu ikut campur"

"aku mendengarmu memanggil"

"aku jatuh membentur dinding"

"penipu" Sehun berkata kasar "aku mendorongmu"

Tangan Kai mengepal mendengar itu. Ia berjalan maju. Tapi Sehun juga sudah siap. Ia mengangkat satu kakinya dan menendang sebuah kursi yang langsung mengarah kearah Kai.

Kai menahan dan menghentikan kursi itu, melemparkannya ke samping, tempat kursi itu membentur dinding dan hancur berkeping-keping.

Sehun mengangkat kepalan tangan dan-

Luhan mendorongnya kebelakang, tepi ranjang mengenai belakang lutut Sehun dan membuatnya terjungkal ke kasur. Gemuruh guntur di kejauhan menggema dengan keras

"Cukup!" Luhan membentak, matanya berkilat marah "Kai, tinggalkan kami. Sehun dan aku harus bicara"

"aku tidak akan meninggalkanmu bersama pria seperti Oh Sehun"

"kalau membutuhkanmu, aku akan memanggilmu" kata Luhan tegas, meyakinkan pria tan itu.

Kai tampaknya telihat tidak yakin akan ucapan Luhan "Luhan, aku tidak-"

"Kai" Luhan berkata pelan "pergi"

Sehun menaikkan alis, teralih dari kejengkelannya sendiri mendengar kekuatan teguran pada suara Luhan.

Kai pasti juga mendengarnya, karena mukanya menjadi merah padam dari pada sebelumnya, kemudian ia berbalik kea rah pintu "aku akan menunggu di lorong" ia berhenti untuk memandang Sehun "aku bisa kembali kesini dalam tiga langkah"

Luhan mengganguk "aku mengerti"

Pria itu menggerutukan keridakpercayaannya, tapi ia pergi dengan patuh, menutup pintu di belakangnya

Lagi pula, Luhan telah berubah. Sekarang ada kekuatan dalam dirinya, tekad yang belum pernah dilihat Sehun sebelumnya. Entah mengapa, itu membuat Sehun lebih khawatir daripada harus menghadapi Kai.

Tetap saja, Xi Luhan bertanggung jawab atas kekacauan ini. Sehun tidak pantas dihukum untuk dosa keluarga yang tidak mencintainya. Keparat, ia tidak pantas menerima semua ini. Dengan rahang menegang, ia berdiri menghadap musuhnya "Luhan, aku tidak akan pernah menerima pernikahan ini"

Luhan berusaha mengendalikan diri. Ia tau Sehun akan marah, tapi tidak ada yang menyiapkannya menghadapi kobaran amarah dalam tatapan Sehun. Bahu Luhan masih sakit di bagian yang dicengkram Sehun, dan ia kembali menggigil melihat amarah dingin diwajah Sehun kembali "Sehun, kumohon. Kau harus menerima ini"

"kenapa?"

Perlahan, Luhan meletakkan tangan di atas perutnya "karena aku sudah memberitahu semua orang bahwa aku mengandung bayimu"

Sehun melangkah mundur "kau melakukan apa?"

"aku mengirim kabar pada pada kedua keluarga kita bahwa aku mengandung dan itulah sebabnya kita menikah"

Sehun mengerjab.

"itu satu satunya alasan Pastor Henry setuju menikahkan kita. Dia mengira aku mengandung anakmu"

"kau pelacur sialan"

Luhan meringis. Aku pantas menerimanya,pikirnya.

"Sehun, aku tidak akan melibatkanmu jika aku punya pilihan. Permusuhan itu-"

"permusuhan itu tidak lebih dari pertengkaran mengenai garis batas wilayah dan persaingan perusahaan"

"tidak, sekarang itu berbeda. Tao tewas. Kalau tidak diambil tindakan, dengan cepat, tak seorang pun dari kita akan mengalami masa-masa damai dalam hidup kita. Kita juga akan terlalu sibuk mengurusi makam hingga tak bisa menikmati apa pun. Kita hanya akan memikirkan pembalasan dendam"

Sehun mengumpat. Ia berputar, melangkah cepat menuju dinding, kemudian berhenti. Ia berbalik untuk menatap Luhan dengan matanya yang dingin "kau benar benar yakin saudaramu akan melakukan tindakan seperti itu? Membunuh?"

Luhan mengingat ekspresi saudara laki-lakinya ketika terakhir kali bertemu mereka-kebencian dan amarah. "Ya" ia berkata, suaranya nyaris tak kedengaran "mereka akan membalas dendam. Dan mereka akan berhasil. Kemudian tindakan mereka akan di balas. Kalau bukan oleh ayahmu, maka adikmu atau skeutumu. Kau tau bagaimana itu dilakukan"

"hm, aku sangat tau" Sehun menyisir rambut dengan jemari, meringis saat ia menyentuh titik dikepalanya yang sakit "dan dari situlah mulanya" ia berjalan kejendela "apakah ayahku tau tentang semua ini? Tentang saudara mu yang menuntut bals dendam?"

"aku menulis surat dengan cap resmiku padanya dan memberitahukan segalanya"

Sehun berbalik "kau memberitahunya bahwa kau berencana menagkapku? Untuk memaksaku menikahimu?"

Luhan menggigit bibirnya "bagian itu tidak"

"tentu saja tidak"

Luhan membuang napas lelah, lututnya sedikit lemas. Minggu ini sangat melelahkan, di penuhi kesedihan dan emosi "aku memberitahu saudara saudaraku hal yang sama: bahwa aku hamil dank kau ayahnya"

Sehun menyilangkan lengan didepan dada bidangnya "siapa ayahnya, Luhan? Aku harus tau, seandainya keparat itu datang membalas"

"tidak ada anak. Maksudku, belum. Aku belum berhubungan dengan siapapun sejak kau dan aku-" ia menggigit bibirnya. Sialan, ia tidak bermaksud memberitahukan hal itu pada Sehun

Ekspresi Sehun tak terbaca "aku tidak memercayaimu"

"tidak penting apa yang kau percayai. Yang penting adalah-" Luhan maju beberapa langkah yang memisahkan mereka "Sehun, apa yang kau katakana sebelumnya memang benar; menikah saja takkan menghentikan perseturuan ini"

Sehun merengut, mata hitam nya menatap lekat mata Luhan "kalau begitu apa yang bisa?" Sehun berkata polos

Ya Tuhan, Sehun memaksa Luhan mengatakannya "untuk mengakhiri perseturuan ini selamanya, kita juga harus memiliki anak"

"…"

"Secepatnya"

.

.

.

PENYAKIT YANG MENYERANG SISTEM PERNAFASAN

-TBC-

(3,437)

Annyeong readernim

Q : Hunhan dulunya punya hubungan khusus?

A : Ya. Tepatnya sepuluh tahun yang lalu. Ai saksinya XD

Q : Kenapa keluarga Xi punya kutukan bisa mengendalikan cuaca kenapa mereka berseteru terus apa keluarga Oh juga punya kekuatan?

A : untuk ff ini, yang memiliki kutukan hanya keluarga Xi. Pengecualian untuk Luhan, karena dia punya dua kutukan. Pada umumnya setiap satu generasi ada satu orang yang memiliki dua kutukan. Nah, disini Luhan yang punya dua kutukan itu. Cuaca dan Rahim. Kenapa harus cuaca dan bagaimana mereka bisa dapat kutukan itu? Itu semua akan dijelaskan seiring berjalannya ff ini, dan itu juga peran Zhang Yixing Kepada Dua Orang Anak yang Masih Kecil Pada Suatu Malam yang Dingin

Errrr….mungkin dua pertanyaan udah cukup untuk bikin rasa penasaran readernim soal ff ini. Ai harap kalian rajin review. Dan yang penasaran sama kakak Luhan, itu udah nongol dua orang. Hehe

Ai sangat berterima kasih karena sudah mengingatkan tentang penulisan Ai yang mungkin sedikit rumit dan susah untuk di mengerti. Ai sangat menyukai hal itu, karena itu berarti kalian sangat jeli dan teliti dalam membaca ff ga jelas ini. Gomawo~~ *BIG HUG*

Berikanlah suatu hal yang dapat motivasi serta masukkan yang berharga di kotak review. Ai sangat mengahargai itu. Sangat.

"Harapan sederhana pengarang, adalah bahwa ini adalah cerita yang akan kau kadang-kadang teringat" -48 hours

Untuk reader yang baru baca ff Ai dan mungkin mengenal Ai. Please review and Welcome to the dark side~

.

.

*bow*