Disclaimer: Naruto adalah milik Masashi Kishimoto.

Aku tidak mengambil keuntungan materiil apapun dalam pembuatan fanfiction ini.

Warning: OOC, western name, implisit sex, AU, spionase world, typo (s)

Batal diikutsertakan untuk Challenge Bad End Festival karena aku kehilangan waktu untuk mencari referensinya.

Genre: Crime/Western/Romance/semi historical fic

Penamaan: Ino (Ino Bochkareva), Tsunade (Tsunade Radonezh), Sakura (Sakura Chizhevskaya), Tenten (Tenten Traversay), Hinata (Hinata Chernyshevskaya), Rin (Rin Rosenthal), Sasori (Sasori Chizhevskaya), Matsuri (Matsuri Pronchishcheva), Shion (Shion Samoylovich) , Anko (Anko Lebedenko), Gaara (Gaara Salomon), Termari (Temari Salomon).

.

…*…

.

Burung layang-layang. Simbol kebahagiaan dan kepolosan.

Namun itu tak berlaku di sini.

Mereka yang menyandang gelarnya adalah mereka yang beruntung sekaligus sial.

Karena, sejak mereka menyandangnya, maka kepolosan, harga diri dan keperawanan mereka adalah milik negara.

Dan dengan kecantikannya, mereka memperdaya.

.

…*…

.

Russia, 24 April 1942

"Ayunkan pisaunya lebih keras lagi! Kalian ini adalah mata-mata, bukan model! Jangan bersikap lemah gemulai macam itu!"

Teriakan bak halilintar seorang Anko Lebedenko sukses membuat puluhan gadis yang tengah berusaha saling melumpuhkan di lapangan itu semakin mempercepat intensitas serangannya.

Ino mendecih kesal saat lawan yang dihadapinya mengangkat kedua tangannya dan mundur teratur ke belakang, tanda jika ia menyerah, padahal baru lima menit mereka bermain. Gadis yang baru saja ia hadapi itu segera mencari lawan baru yang tampak lebih mudah dihadapi agar sang pembimbing berwajah cantik namun sangar itu tak membentaknya.

Sementara itu, Ino hanya mampu terdiam memperhatikannya. Ah, lagi-lagi ia kehilangan pasangannya.

Bagaimana ia mau berlatih ketangkasan jika semua gadis yang melawannya mundur dalam waktu kurang dari tujuh menit.

"Ino, ka-kalau kau tak keberatan, maukah kau menjadi lawanku?" seorang gadis dengan suara lirih terbata bertanya dari balik punggung Ino.

Saat si pirang menoleh, yang dilihatnya hanya seorang gadis bersurai indigo yang tengah memainkan telunjuknya di depan dada. Hinata Chernyshevskaya. Tak memilihi pilihan lain, Ino mengangguk. "Tentu saja."

Masing-masing dari mereka saling berhapan dan mundur dua langkah sembari berusaha mengukur kekuatan sang lawan. Ino memasang kuda-kudanya dan mencibir dalam hati. Tak ada maksud dirinya mau meremehkan Hinata atau apa, tapi kepalan tangan yang lemah dan kuda-kuda yang tak sigap itu tampaknya sudah cukup banyak menggambarkan seperti apa pertarungan yang akan mereka lakukan.

Melihat Hinata terdiam, mau tak mau gadis pirang itu memutuskan untuk maju menyerang lebih dulu. Incarannya adalah bagian pundak Hinata, bagian yang tampak tak terlindungi dengan sempurna oleh sang empunya.

Namun saat pukulan—yang telah ia latih semalaman—ia lancarkan, satu-satunya benda yang ia rasakan menyambut kepalan tangannya hanyalah udara kosong. Hinata berhasil menghindarinya dengan bergerak ke samping, seolah ia sudah dapat membaca pergerakan yang akan dilakukan Ino bahkan sebelum Ino melakukannya.

Satu tendangan kembali ia lancarkan, sayang seribu sayang, bukannya mengenai perut, seperti yang ia rencanakan, tendangan itu hanya mampu mengenai sebuah tangan yang menangkisnya.

Ino menatap Hinata sambil tersenyum. Jangan menilai buku dari sampulnya, Ino, ia mengingatkan dirinya sendiri.

Hinata mungin tampak seperti gadis lemah yang tak bisa diandalkan, hanya saja Ino lupa jika keluarga Chernyshevskaya adalah keluarga dengan silsilah petarung terbaik di setiap generasinya sejak zaman Uni Soviet masih berupa kerajaan. Hinata pasti pernah melakukan latihan bela diri bersama keluarganya, apalagi ia adalah penerus dari keluarga tersebut.

Tampaknya Ino harus mengubah strategi menyerangnya menjadi bertahan. Hinata jelas memiliki kemampuan menghalau serangan yang jauh di atasnya, tapi ia masih belum melihat bagaimana gaya bertarung gadis itu jika ia dipaksa berada di posisi penyerang. Ino mengambil langkah mundur demi memberikan peluang yang lebih agar Hinata kini balik menyerangnya, tapi gadis indigo itu tetap bergeming.

"Apa yang kau tunggu? Cepat serang aku," katanya sambil mengambil kuda-kuda tangkisan untuk menghalau serangan apapun yang mungkin dilakukan Hinata.

Sang gadis yang lebih pendek beberapa centi dari Ino itu tampak ragu, tapi tatapan tajam dari tepi lapangan—yang tak lain dan tak bukan diberikan oleh Anko Lebedenko—membuatnya maju beberapa langkah.

Dan…

FLAP!

Ino nyaris tak bisa menangkis tendangan berputar yang dilakukan Hinata! Kepalanya pasti sudah memiliki anakan andai saja ia terlambat membentuk tangkisan setengah detik saja. Tapi semuanya tak berakhir dengan semudah itu. Baru saja Ino menarik napas lega, di tangan kanannya, ia merasakan ada sebuah cengkraman lembut dari sepasang tangan mungil dan…

BUAK!

Entah bagaimana caranya, kini ia sudah terbaring dengan posisi terlentang di tanah sembari menatap langit biru. Ia rasakan beberapa bagian tubuhnya—terutama di bagian punggung hingga pinggang—sedikit ngilu dan pegal-pegal.

"Ow, sakit," lirihnya sambil bangkit duduk dan mengusap tulang belakangnya, yakinlah ia jika tulang-tulang itu pastilah mengalami sedikit pergeseran akibat hentakan yang diterimanya.

Sungguh, sebelumnya ia tak pernah bermimpi akan dikalahkan oleh seorang gadis yang secara fisik memiliki tubuh beberapa centi lebih pendek—dan berat beberapa kilo lebih ringan darinya, meski Ino tak mau mengakui—dalam waktu kurang dari tiga menit seperti ini.

Mulai hari ini ia bersumpah agar membuang segala kesombongannya dan tak menganggap remeh orang lain lagi.

"Ma-maaf… apakah sakit?" Hinata mengulurkan tangannya untuk membantu Ino berdiri. Raut cemas yang dirasa hiperbolis tergambar jelas di wajahnya yang manis dan keibuan.

"Hanya sedikit pegal-pegal," jawab Ino. Tak diacuhkannya tangan Hinata yang telah terjulur dan bangkitlah ia dengan kekuatannya sendiri. Bukan bermaksud sombong atau apa, ia hanya ingin berusaha sendiri sebelum menerima bantuan dari orang lain saja. "Aku tak menyangka kau bisa bergerak dengan sebegitu cepatnya."

Hinata mengangguk pelan sembari menarik kembali tangannya yang diabaikan. "Kakakku yang mengajariku semasa aku masih kecil dulu," ia menjawab dengan tenang sembari melemparkan pandangan ke hamparan rumput yang terinjak-injak di bawahnya, seolah rumput liar yang tak berbentuk itu lebih menarik dari wajah seorang Ino Bochkareva yang mengajaknya bicara. Sedikit risih karena bantuannya ditolak, mungkin.

"Oh, tampaknya kakakmu adalah petarung yang cukup hebat juga."

"Begitulah. Dia bilang jika aku tak akan pernah bisa memberikan pukulan ataupun tendangan yang keras, maka aku harus melatih kecepatanku dalam melakukannya."

"Kecepatan?"

"Ya, kecepatan," beo Hinata, permainan jari di depan dada itu kembali ia lakukan—entah secara sadar ataupun tidak—sebagai tanda jika ia tengah merasa gugup sekarang. "Dia pernah berkata padaku, 'Kau akan merasa lebih sakit saat ditabrak oleh sebuah motor dengan kecepatan seratus kilometer per jam dibandingkan jika ditabrak oleh sebuah tank berkecepatan lima kilometer per jam.' Sejak saat itu aku selalu berusaha meningkatkan kecepatanku."

Ino mengangguk mengerti. "Masuk akal juga."

Percakapan canggung itu segera terintrupsi oleh sebuah teriakan keras.

"Kalian semua, hentikan latihan kalian dan segera berkumpul di ruanga makan! Jika sampai hitungan ke dua puluh ada yang belum sampai, maka kalian tak akan mendapatkan makan malam! Satu! Dua!..."

Ino mendengus kesal mendengar perintah sewenang-wenang dari pembimbingnya. Tak lagi memperdulikan Hinata, ia memutuskan untuk berlari secepat yang ia bisa ke tempat yang dikatakan wanita dengan kucir ekor kuda itu. Berlomba-lomba dengan gadis-gadis lain yang mencemaskan makan malam mereka.

"…Tiga! Empat!..."

Ino tertawa sinis menertawai kebodohannya sendiri.

Ia tak sanggup berpikir lagi. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah mematuhi perintah pembimbingnya.

Dan ia mulai merasa jijik pada dirinya sendiri.

Tidakkah ia tampak seperti kerbau yang dicocok hidungnya? Bodoh dan hanya mampu menuruti orang lain.

"…Lima!..."

Namun sisi lain otaknya menepis dengan tajam, Menjadi kerbau yang dicocok hidungnya akan selalu lebih baik dibandingkan kelaparan semalaman, Ino. Jadi berhentilah bersikap manja dan berlarilah! Atau kau akan mati dengan tubuh hanya berlapis kulit!

.

…*…

.

Ruangan itu tampak suram, entah karena letaknya yang memang berada di bawah tanah ataukah karena kesan suram akibat perabotan tua peninggalan dinasti Romanov yang dibiarkan berdebulah yang mendominasi ruangan tersebut.

Di tengah ruangan, hanya diterangi oleh sebuah lampu dengan cahaya temaram, duduklah seorang pria bersurai perak dengan wanita yang mengenakan pakaian serba ketat dan semi transparan berdiri di hadapannya.

"Bagaimana laporanmu, Anko."

Anko mengangguk pelan dan membuka catatannya. "Ada beberapa calon burung layang-layang yang unggul dalam bidang beladiri," ia memulai persentasinya. "Peringkat teratas ada Hinata Chernyshevskaya. Sudah sejak zaman monarki, keluarga Chernyshevskaya menduduki peringkat pertama dalam bidang beladiri. Jadi, tak ada kejutan yang terlalu mencengangkan di sini. Peringkat kedua ada Tenten Traversay, seperti yang telah kita duga, dia memiliki dasar-dasar beladiri China yang cukup memesona.

"Selanjutnya adalah Sakura Chizhevskaya, di luar dugaan, ternyata ia memiliki kekuatan setan yang saya pikir tak akan dapat saya lihat lagi sejak Ghospoza Tsunade Radonezh pensiun beberapa tahun lalu. Di peringkat keempat, Shion Samoylovich. Saya tak bisa memberikan keterangan yang lebih banyak mengenai gadis ini, meski gerakannya dapat dikatakan standar, pembacaan gerak lawan yang ditunjukkannya sangat mengagumkan, seolah ia dapat memprediksi masa depan. Dan di peringkat terakhir lima besar, saya mengabarkan jika…"

"Ino Bochkareva, bukan?" tebak Kakashi.

"Sepertinya kau memiliki ketertarikan khusus pada gadis itu, Kakashi," Anko menjawab sambil terseyum sinis, mengejek dirinya sendiri, mungkin. "Tapi aku tak bisa menyangkalnya. Karena memang itulah kenyataannya."

Kakashi mendengus pelan. "Bukan karena aku memiliki perasaan khusus padanya atau apa. Hanya saja aku merasa jika dia berbeda."

"Berbeda?"

"Dia memiliki suatu motivasi yang besar untuk bergabung dengan KGB, itulah yang kutangkap dari sosoknya saat pertama kali aku menemukannya," gumam Kakashi. "Sangat jelas jika dia memang menunggu-nunggu kesempatan ini dan sudah berlatih segala kemungkinannya. Kau lihat sendiri kan, Anko. Dia bahkan tak bereaksi sama sekali tiap kali kita memberikan tugas baru pada calon burung layang-layang itu."

Anko mengangguk mengerti. Ya, dia ingat jika Ino Bochkareva adalah satu dari sedikit gadis yang masih dapat berekspresi tenang saat ia menyuruh mereka untuk menonton blue film beberapa hari lalu. Dan dia hanyalah satu-satunya gadis yang bisa tersenyum senang saat Kurenai menceritakan detail pekerjaan mereka kedepannya sebagai seorang burung layang-layang tempo hari.

Mungkin yang dikatakan Kakashi ada benarnya juga. Apalagi terbukti jika insting pria itu tak pernah salah dalam mendeteksi sesuatu.

"Apakah perlu saya memberi pelatihan khusus padanya?" Anko menawarkan.

Kakashi menggeleng. "Tidak, begaimanapun juga ia hanyalah seorang calon burung layang-layang biasa. Kita lihat perkembangannya. Jika dalam beberapa minggu ia menunjukkan kemampuan yang signifikan, maka aku akan merekomendasikan dia untuk mengikuti misi spionase khusus ke Jerman dua bulan lagi."

"Mi-misi itu?" tanya Anko tak percaya. "Bukankah itu misi tingkat tinggi yang tak pantas dilakukan oleh orang baru?"

"Maka dari itu aku mengatakan, 'Jika ia menunjukkan kemampuan yang signifikan' bukan?" balas Kakashi sambil membuka beberapa dokumen rahasia yang dikirimkan pusat KGB padanya. "Lagipula dia sangat cocok untuk misi itu. Dia memiliki fisik yang sempurna sebagai mata-mata khusus di sana."

Anko terdiam, tak dapat membantah lagi kata-kata pimpinannya.

"Kalau tak ada keperluan lagi, kau boleh pergi."

Anko menarik napas panjang. Mungkin yang dikatakan Kurenai ada benarnya juga. Hatake Kakashi bukanlah seseorang yang akan menjalin hubungan dengan bawahannya. Lebih baik jika ia menyerah saja. Namun apa daya, perasaan itu sudah telanjur tumbuh di hatinya, ia akan terus mengejar sosok itu apapun yang terjadi.

"Baik!"

.

…*…

.

Jerman, 24 April 1942

Surai merah menyala itu tampak mencolok di antara lautan kepala berhiaskan mahkota pirang. Matanya yang berwarna hijau zambrut itupun tak luput menjadi bahan gunjingan para petinggi bermata biru lainnya.

"Aku masih tak mengerti mengapa Führer tetap saja berkeras untuk mempekerjakan dia. Padahal sudah jelas jika dia bukanlah ras Arya."

"Diamlah! Kau akan kehilangan lehermu jika sampai Führer mendengarnya. Dia itu adalah salah satu anak kebanggannya! Salah bertingkah dengannya saja dapat membuatmu kehilangan beberapa jarimu!"

"Tapi tidakkah kau menganggapnya menjijikkan? Dia bisa mencapai posisinya sekarang pasti karena kakak perempuannya adalah kekasih gelap Führer bukan? Jika tidak, tentulah namanya sudah ada dalam daftar korban kita."

"Jangan bicara sembarangan. Kau pikir siapa orang yang telah mensukseskan penyerangan kita ke Belgia beberapa tahun lalu? Dia orangnya! Dialah yang membuat strategi sehingga kita bisa pulang tanpa leher terpenggal dan menjadikan Jerman sebagai negara yang paling ditakuti di dunia seperti sekarang ini!"

Sang pemuda bersurai merah menyala itu hanya mendengus mendengar kasak-kusuk yang dilakukan oleh para prajurit Nazi lainnya. Ia tak lagi ambil pusing dengan segala hal yang mereka bicarakan, terutama jika itu tentang dirinya. Ia anggap saja suara mereka sebagai angin lalu. Baginya, mereka hanyalah anjing-anjing bodoh yang menggonggongi kesuksesannya, mengirikan segala yang ia miliki saat ini.

"Tak biasanya kau keluar dari gedungmu, Gaara," suara dingin itu keluar dari bibir tipis seorang pemuda bersurai hitam gelap, Sasuke Uchiha.

Gaara mendengus pelan melihat pemuda yang merupakan 'hadiah' dari negara Jepang untuk Jerman itu. "Hanya mencari udara segar saja. Tapi ternyata gonggongan anjing justru membuatku muak."

Sasuke Uchiha tak menimpali kata-kata perancang strategi Nazi yang paling ternama—sekaligus musisi yang cukup berbakat—itu. Sebagai orang yang penampilannya juga begitu berbeda dengan orang lain di markas pusat Nazi, tempat para petinggi berkumpul, ia sendiri cukup mengerti perasaan Gaara Salomon.

"Muak juga mendengar kata-kata mereka yang tak berdasar. Ingin rasanya aku menjadikan mereka sebagai umpan untuk tentara Inggris di perang berikutnya," kata Gaara lagi sambil mengambil sebuah buku catatan dan menuliskan sesuatu di atasnya. Berdoa saja itu bukanlah nama prajurit yang akan diumpakannya kelak.

"Kau hanya menghabiskan waktu saja jika meladeni mereka, Gaara," timpal Sasuke santai. "Tak usah kau pikirkan orang-orang bodoh yang tak memiliki kemampuan itu. Bukankah Führer sudah memberikan titah agar kau memfokuskan diri pada rencana kerja sama dengan Italia untuk menghadapi tentara Inggris?"

Gaara mendengus malas mendengarnya. Sejujurnya, ia telah menyelesaikan proposal untuk itu sejak seminggu yang lalu. Namun ia memiliki pertimbangan lain. Jika ia memberikannya sekarang, tentunya ia akan segera diberikan tugas baru yang tak memungkinkannya untuk beristirahat. Jadi ia memutuskan untuk menyerahkannya sesuai tenggat waktu saja.

"Kusarankan kau segera mencari wanita untuk dirimu sendiri, Gaara. Bukan hal yang buruk jika kau memutuskan untuk berbagi ranjang dengan seorang wanita. Setidaknya wanita itu akan membuat kantung matamu sedikit lebih berarti. Bukan hanya tanda jika kau selalu memaksakan diri dalam pekerjaan."

"Tak ada wanita yang cukup baik untukku."

"Huh, selalu saja alasan bodoh itu yang kau gunakan," dengus Sasuke. "Führer telah berbaik hati menawarkan banyak gadis cantik untuk kau tiduri, tapi kau selalu saja mengelak dengan alasan itu. Memangnya wanita seperti apa yang kau harap dapat menjadi kekasihmu itu, hah?"

"Tak ada kriteria khusus. Aku hanya membenci para wanita yang menjual tubuhnya demi uang itu saja."

"Jadi, kau menginginkan seorang gadis polos dan suci yang masih perawan maksudmu?"

"Aku tak pernah berkata demikian. Aku hanya menginginkan seseorang yang cerdas dan bukannya wanita murahan seperti yang selalu kutemui saat ini," jawab Gaara sembari bangkit berdiri dan merapikan dokumen-dokumen yang dibawanya. "Aku tak peduli jika dia adalah seorang janda ataupun seorang pelacur. Aku juga tak menuntut dia untuk mencintaiku. Asal aku menemukan sosok yang bagiku tepat, aku akan mengikatnya. Mengikatnya dan tak akan pernah lagi melepaskan dirinya sampai kapanpun."

Ia berjalan pergi.

Sasuke terdiam sembari menatap sosok bersurai merah itu meninggalkannya. "Benar-benar orang yang merepotkan," gumamnya pelan sembari bangkit berdiri. "Sepertinya kehidupan cintanya akan jauh lebih menarik dibandingkan karir militernya yang statis."

.

…*…

.

Russia, 24 April 1942

Ino mematut dirinya di kaca. Pandangan matanya memindai tubuhnya yang telanjang bulat sembari sesekali menggerutu pelan.

Mulai saat ini, itulah penampilan yang akan selalu digunakannya di dalam gedung pelatihan, dan ia tak cukup percaya diri dengan lemak yang bertumpuk di sekitar perut dan pahanya. Menggerutu lebih banyak, ia menyesali keputusannya untuk menghentikan progam diet yang dilakoninya sebulan lalu. Jika dia berkeras melakukannya, tentunya kini ia pasti memiliki tubuh yang lebih enak untuk dilihat.

Jangan tanyakan mengapa ia harus melakukan hal semacam itu dalam pelatihan ini. Setelah para calon burung layang-layang dapat membiasakan diri dengan film-film porno yang menjadi asupan mereka, kini mereka harus bisa melenyapkan rasa malu mereka. Dan bertelanjang badan adalah salah satu cara paling ampuh.

"Suatu saat nanti, kalian akan menjadi mata-mata paling diandalkan di Uni Soviet. Kalian lah yang akan menjadi pasukan di garis depan kami! Kalian lah yang akan mencari informasi demi para pejuang yang pergi berperang! Hilangkan rasa malu kalian. Apapun caranya, kalian harus dapat menutaskan misi kalian, mengerti?"

Ceramah singkat yang diberikan oleh Anko sukses menjadi arang bagi api-api kecil yang mulai padam di hati para calon anggota burung layang-layang itu—atau dalam istilah Ino 'Pelacur Negara'.

Sakura keluar dari kamar mandi sambil menggerutu pelan. Kemaluannya sudah bersih dari bulu-bulu halus yang seharusnya tumbuh di sana. Teriakan kemarahan Anko tampaknya sudah berhasil membuat gadis merah muda itu mencukur habis bulu di bagian pribadinya.

Namun bukan kebersihan tubuh Sakura yang menarik perhatian Ino. Melalui sudut matanya, dia mulai membandingkan tubuh sang gadis merah muda dengan tubuhnya sendiri. Pinggul yang lebih ramping, pinggang yang lebih sempit, sudut-sudut tajam tubuhnya. Malas dia mengakui, tapi Sakura memang memiliki proporsi tubuh yang bagus.

Minus di bagian dada.

"Besarkan dadamu, Sakura. Aku rasa kelak kau akan benar-benar membutuhkan itu."

Sang gadis merah muda otomatis menutupi dadanya dengan lengan, menghalau pandangan menjilat kawannya yang dilemparkan lewat cermin. "Kau juga harus mengecilkan bagian pinggangmu itu. Tak ada laki-laki yang mau menyentuh tubuh wanita yang lebih mirip dengan babi."

Ino tertawa mencemooh sebagai jawabannya. Namun tetap diremasnya bagian pinggang. Mencicipi daging tebal yang bercokol di sana. Mungkin olah raga ekstra dapat mengatasinya dalam beberapa hari.

"Mana Matsuri dan Shion?"

"Sejak kapan kau sudah memasuki zona intim dengan mereka hingga berani memanggil nama depan?" Tatapan memutar Sakura memaksa Ino untuk menjawab pertanyaan sang gadis merah muda. Ino mendengus kecil. "Belum keluar dari kamar mandi. Kesulitan dengan vaginanya mungkin."

Sakura tertawa sinis sebelum merasakan nyeri di selangkangannya. Sedikit lecet saat mengeroknya tadi. Baginya, menggunakan pisau bedah untuk mengeluarkan organ dalam manusia jauh lebih mudah dibandingkan menggunakan pisau cukur untuk membabat habis hutan pribadimu. Tambahkan juga 'tidak bisa melihatnya' sebagai salah satu faktor utama adanya luka kecil itu.

"Jadi, mulai sekarang kita akan bertelanjang bulat selama mengikuti pelatihan?" tanya Sakura. Tangannya bergerak lincah merapikan surai merah muda pendeknya. "Aku yakin Hinata pasti akan menangis saat mendengarnya."

Ino berjalan menuju salah satu dari dua kamar mandi yang ada di kamar itu, tempat Shion dan Matsuri menyelesaikan masalahnya. "Tak akan ada pria yang melihatnya sampai beberapa hari. Dia sudah kehilangan rasa malunya saat itu terjadi."

"Kau yakin si rambut perak itu tak akan mengintip?" cemooh Sakura.

"Tidak secara langsung. Aku yakin dia punya satu atau dua tempat persembunyian di mana dia bisa mengamati kita tanpa terlihat." Gadis itu menggedor pintu kamar mandi sebagai isyarat untuk meringkas waktu. "Dan kau tak perlu khawatir. Dia tampaknya bukan orang yang mudah tergoda dengan wanita yang telanjang."

Sakura tertawa sinis. "Dada dan paha pasti makanannya sehari-hari."

"Sialnya aku setuju denganmu."

Seorang gadis pirang keluar kamar mandi dengan raut wajah bosan. Dikibaskannya rambut pirang panjangnya ke wajah Ino sebelum melenggang keluar dari kamar dengan santainya. Seolah tak memperdulikan tubuh telanjangnya yang kini terekspos ke mana-mana.

"Dia menyebalkan," Ino mendesis tak suka.

Sakura mengikuti arah perginya Shion dengan sudut matanya. "Oh ya? Bagiku dia tampak tak terlalu berbeda dengan dirimu. Sombong dan dipenuhi rasa percaya diri."

"Aku tak suka dia." Decakan kesal menggema di seluruh kamar saat Ino memutuskan untuk masuk ke kamar mandi dan mengecek bagaimana keberadaan satu teman sekamar mereka yang lainnya.

Sakura mengangkat bahu tak peduli. Jarinya sibuk ia larikan ke arah rambut untuk menata serabut-serabut kasar yang mencuat ke segala arah. Berkesan seksi seperti wanita yang baru saja terbangun dari tidur setelah pergulatan ranjang memang, tapi dia tak menyukainya. Membuatnya tampak seperti pelacur murahan.

Ingat kembali apa yang dikatakan para pembimbingnya di sini. Mereka harus selalu tampil cantik, cerdas dan menggoda untuk mendapatkan info-info dari para petinggi busuk di luar sana. Dan Sakura yakin, tak ada satupun babi jual mahal itu yang sudi menyentuh tubuh wanita—yang bahkan hanya terlihat seperti—pelacur yang mudah ditemui di sela-sela gang gelap di sudut kota berbau busuk dengan aroma vodka murahan.

Ino keluar dari kamar mandi sambil memijat keningnya, wajahnya tampak sama pucatnya seperti patung marmer yang dipajang di dekat pintu utama kamp pelatihan. Sakura mengernyit melihat raut wajah jijik yang ditampilkan gadis itu.

"Ada apa?"

"Matsuri…. Dia…"

Belum sempat mendengar kelanjutan kata-kata Ino, gadis merah muda itu segera merangsek ke dalam bilik kamar mandi. Dilihatnya tubuh Matsuri yang tergeletak lemas di sudut ruangan dengan darah mengucur dari kemaluannya.

"MATSURI!"

.

…*…

.

Jerman, 24 April 1942

Gaara berdecak kesal sambil membentangkan peta rute penyerangan yang akan dilakukan. Dia tak mau ambil resiko lagi. Andai saja penyerangan terhadap negara adi kuasa, Uni Soviet, dalam Operasi Barbarossa kemarin berhasil, tentunya sekarang dia tak akan kerepotan seperti ini.

Stalingrad sekarang adalah satu-satunya pertaruhan kemenangan Jerman. Namun akan sulit untuk memenangkannya dengan jumlah pasukan yang semakin menipis ini.

Persetan dengan obsesi Führer. Jenderal musim dingin Uni Soviet terlalu kuat untuk ditakhlukkan. Memangnya dia pikir seberapa banyak lagi pasukan yang harus dikorbankan untuk memenangkan Jerman? Jika mereka mencoba maju lebih jauh lagi, sudah pasti hanya kekalahan pait saja yang akan menjemput mereka.

"Masih berkutat dengan strategimu, Gaara?" suara seorang wanita membuat Gaara mendecih tak suka.

"Keluar kau dari sini, Temari. Setrum atau siksa saja para tawananmu itu. Apapun. Asal jangan ganggu aku."

Gadis itu tertawa sinis mendengarnya. Didekatinya sang pemuda berambut merah darah itu dengan langkah anggun nan menawan. "Begitukan sikapmu pada kakakmu sendiri, Gaara?" Tangannya ia letakkan di bahu sang pemuda.

Gaara menepis kasar. "Sudah lama sejak terakhir kali aku menganggapmu sebagai kakak, Temari. Bagiku, sekarang kau hanyalah salah satu budak pemuas nafsu saja. Sampah. Tak beda dengan para pelacur itu…"

"Tak beda dengan Ibu juga."

Gaara mendesis tak suka. "Jangan kau samakan Ibu dengan wanita murahan seperti dirimu." Pemuda itu membanting penanya dan menatap nyalang mata kakaknya. "Pergilah. Sebelum aku bernafsu membunuhmu."

Sang gadis pirang hanya tertawa lebar mendengar ancaman itu. "Kau akan berhadapan dengan Führer jika sampai berani melakukannya, adikku yang manis." Menghindari sebuah pena bulu berujung lancip yang dilemparkan Gaara tepat ke tengah jidatnya. Temari tertawa riang. "Baiklah, aku akan pergi sebelum moncong senapanmu itu terangkat. Aku tak yakin dapat menghindarinya."

Gaara mengamati sosok itu melenggak-lenggok keluar dari ruangannya. Hal terakhir yang dia lihat dari wanita yang lahir dari rahim yang sama dengannya itu adalah sebuah lirikan mata tajam dari sela pintu.

"Gaara, aku hanya datang untuk menyampaikan pesan saja," katanya sebelum pintu menutup penuh. "Führer berharap kau melakukan yang terbaik kali ini. Stalingrad adalah satu-satunya harapan untuk kita mencapai dunia yang diidamkan Führer. Dan…"

"…jangan memaksakan diri, Gaara. Aku menyayangimu."

BLAM.

Gaara menendang mejanya. Memporak porandakan alat tulis dan peta yang ada di atasnya. Tangannya terkepal. Meninju dinding beton yang keras. Darah segar mengalir dari buku-buku jarinya. Menguarkan aroma anyir yang melingkupi udara.

"Brengsek kau, Temari! Brengsek! Brengsek! BRENGSEK!"

.

…*…

.

Sasuke masuk ke dalam ruangan yang menjadi kamarnya dan menarik napas panjang.

"Kau tampak lelah hari ini."

Suara nyaring terdengar dari sosok yang tengah duduk di tepi ranjang. Rambut pirang panjangnya terurai hingga terkulai di atas kasur berlapis satin putih. Tangannya yang berjari lentik tengah menggenggam sebuah sisir bergagang untuk menghaluskan helaian bak sutera itu. Mata biru dalamnya menatap sayu dari balik poni panjangnya, menampilkan aura seduktif yang tak dapat dihindari.

"Hanya rapat bodoh saja. Mereka sama sekali tak mau mendengarkanku." Pemuda Asia itu mendekat ke sosok bertubuh semampai di atas ranjang. Tangannya mengambil sebagian rambut pirang itu dan mengecupnya lembut. "Kau sendiri, apa yang kau lakukan hari ini?"

"Menunggumu pulang," tawa riang dikumandangkan saat kulit eksotisnya ia lingkarkan di leher Sasuke yang masih berbalut seragam. Jari-jarinya membelai nakal anakan rambut di dekat leher. Sebuah senyum lebar tipis dia sunggingkan sebagai bentuk godaan. "Aku kesepian sekali hari ini."

Sang pemuda Asia melarikan jarinya ke leher si pirang, membelai kelembutannya yang berpadu dengan keringat. "Memangnya kapan kau tak kesepian, hm?"

"Saat bersamamu." Dieratkannya pelukan pada leher Sasuke hingga kedua tubuh saling menempel sempurna, bergetar pelan tatkala merasakan kehangatan tubuh yang tertutup fabrik. Bibirnya menempel di telinga Sasuke, meninggalkan jejak kemerahan di sana. "Mau bermain denganku malam ini, Sasuke?"

Pria berwajah pucat itu mendesis. "Pelacur." Namun tetap dibenamkannya hidungnya pada leher jenjang si pirang dan dihirupnya aroma rempah-rempah yang menguar di sana. Tangannya menjambak rambut pirang pasangannya hingga semakin banyak onggokan rambut di atas ranjang. Jari-jarinya meremas kasar pada bagian pinggang, merambat hingga dada dan pundak. Melorotkan gaun putih tipis yang menyelimuti tubuh si pirang.

.

…TBC…

.

Sekedar info:

Sebenarnya, KGB baru dibentuk tahun 1954, tapi sebelum itu sudah ada badan intelijen USSR. Tapi anggaplah di tahun 1942 sudah dibentuk ya. Ini kesalahanku yang salah membaca tahun romawi 1954 jadi 1904. ( _ _ )

Penyerangan Stalingrad dimulai bulan Agustus 1942 dan berakhir di tahun berikutnya.

A/N:

Terima kasih sudah baca ya. Maaf lama banget updatenya karena aku baru melalui masa-masa padat dan tak sempat mencari informasi soal setting kisah ini, bahkan sampai ada hole segede itu. Dan aku mau minta maaf buat Elpiji, aku batal mengikutkannya di Bad End ya. Tapi alur tetap mengikuti alur awal yang sudah ditentukan dengan endingnya kok.

Mohon kritik dan sarannya ya.

Wonoobo, 3 Agustus 2014.