Lemonade

x

Wonwoo x Mingyu

x

Age Switch

x

Mature

x

Casts are belong to God, their parents and Pledis

CHAPTER 2

Perkenalan mereka terlalu cepat. Mingyu yang tiba-tiba menarik tangan Wonwoo, mengajak Wonwoo duduk bersama mengendarai mobil honda civic hitam metaliknya, mengatakan ia tertarik pada Wonwoo hingga akhirnya Wonwoo menjadi merasa nyaman berada didekat Mingyu.

Wonwoo bukanlah tipe orang yang mudah bergaul. Sejauh ini temannya hanya Jeonghan dan Jihoon. Ia sudah bersahabat dengan Jihoon sejak masih berada disekolah menengah atas. Ia dan Jihoon hampir memiliki sifat yang sama. Pendiam dan juga sedikit keras kepala. Pernah suatu hari mereka tidak saling bertegur sapa karena Jihoon kesal dengan kekasih Wonwoo saat itu, Kang Daniel. Jihoon dan Daniel saling mengenal sejak kecil dan sejak kecil pula Jihoon mengetahui bahwa Daniel tidak pernah serius dalam menjalani hubungan. Jihoon menasehati Wonwoo namun Wonwoo tidak terima hingga akhirnya mereka bermusuhan sampai Wonwoo benar-benar ditinggal Daniel karena orang lain.

"aku sudah katakan dia tak baik untukmu, keras kepala" ujar Jihoon saat itu.

Wonwoo yang masih sesegukan memandang melas kearah Jihoon, "Sesama pemilik kepala yang keras jangan saling menghina"

Berbeda dengan Jeonghan. Mereka bertemu saat pertama kali masuk kuliah. Perkenalan mereka singkat juga. Wonwoo sedang melihat-lihat selebaran flat yang disewakan hingga tiba-tiba saja Jeonghan yang memperhatikan Wonwoo sedang terlihat bingung mengajaknya untuk menyewa flat bersama.

Jeonghan hanya lebih tua beberapa bulan dari Wonwoo namun Wonwoo selalu merasa terlindungi oleh Jeonghan. Jeonghan adalah pendengar yang baik sedangkan Wonwoo selalu mengidamkan seorang kakak yang melindunginya –karena ia adalah putra sulung—jadi ia memanggil Jeonghan dengan kata 'Hyung' dan Jeonghan tidak keberatan dengan panggilan Wonwoo padanya.

Jeonghan dan Mingyu setipe, pikir Wonwoo. Walaupun Mingyu dengan segala kepopulerannya, Mingyu tetap menjadi laki-laki yang menyenangkan dan juga ramah. Wonwoo merasa nyaman walaupun perkenalan mereka terasa canggung. Mingyu yang tiba-tiba saja menarik dirinya dan mengatakan ketertarikannya pada Wonwoo. Wonwoo tidak pernah merasa senyaman ini pada seseorang diluar keluarganya.

Seminggu setelah hari dimana Mingyu menarik tangan Wonwoo dan menyatakan ketertarikannya pada Wonwoo, mereka menjadi dekat. Yang semula Mingyu tidak pernah menginjak gedung jurusan Wonwoo kini selalu mampir ke gedung Wonwoo berada walaupun hanya sekedar ingin melihat Wonwoo.

• lemonade •

"Kau tidak makan?" Tanya Mingyu pada Wonwoo yang kini sedang sibuk pada buku catatannya.

"Sunbae tidak lihat apa yang pegang sekarang?" Wonwoo bertanya balik sambil mengarahkan tangan sebelah kirinya yang sedang memegang Oatmeal Cookie yang berukuran cukup besar.

"Hanya itu?"

"Ia tidak akan makan kalau tidak dipaksa" Ujar Jeonghan yang baru saja ikut berkumpul dengan Wonwoo dan Mingyu. Jeonghan tidak sendiri. Ia bersama dengan Seungcheol dan juga Soonyoung.

"Wonwoo-ya, apa sahabatmu yang satu itu tidak akan bergabung dengan kita hari ini?" Tanya Soonyoung pada Wonwoo. Yang Soonyoung tanyakan adalah Jihoon. Soonyoung sebenarnya sudah tertarik pada Jihoon saat Jihoon baru masuk kuliah. Namun Jihoon bukanlah tipe orang yang mudah bergaul dengan orang –seperti halnya Wonwoo— namun Jihoon memiliki sifat sedikit jutek ketimbang Wonwoo sehingga membuat Soonyoung sedikit takut untuk melakukan pendekatan dengan Jihoon. Syukurlah sahabatnya, Mingyu, saat ini sedang melakukan pendekatan dengan Wonwoo yang notabene adalah teman Jihoon. Ia jadi bisa sedikit mengorek mengenai Jihoon melalui Wonwoo.

"Di kampus kami akan jarang bertemu karena kami berbeda jurusan jadi tolong simpan harapanmu, Soonyoung sunbae"

Jeonghan dan Seungcheol tertawa. Baru saling mengenal beberapa hari lalu, Wonwoo dan Soonyoung sudah seperti kucing dan anjing. Oh bukan, kata Mingyu mereka seperti rubah dan hamster.

Mingyu diam-diam memperhatikan Wonwoo yang sibuk dengan biscuit di tangan kirinya dan juga bolpoin di tangan kanannya. Wonwoo tentu saja tidak sadar dengan perhatian yang Mingyu berikan padanya. Namun tidak pada yang lain hingga membuat Seungcheol terkekeh melihat sisi Mingyu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

"Bola matamu seperti akan keluar, Mingyunie. Wonwoo tidak akan hilang jika kau mengharapkan itu"

Wonwoo mengarahkan pandangannya pada Seungcheol lalu pada Mingyu. Mingyu masih memperhatikan Wonwoo walaupun saat ini ia tertangkap basah oleh Wonwoo karena telah memandangnya. "Kau kenapa, sunbae?"

"Kau cantik"

Soonyoung yang baru saja akan mengesap minumannya langsung tersedak sedangkan Wonwoo hanya membulatkan matanya tak percaya. Mingyu mungkin memang sering memberikan gombalan murah padanya namun ia tidak pernah ingin Mingyu mengatakan hal menggelikan itu dikampus.

"Kau tidak ingat ini kampus, Sunbae?"

"Aku tidak peduli" Ujar Mingyu sambil mengedikkan bahunya.

"Aku tampan"

"Ya, kau manis"

Wonwoo terkekeh, "ternyata kau tuli"

Jeonghan dan Seungcheol tertawa mendengarkan obrolan dua orang didepan mereka namun berbeda dengan Soonyoung yang hanya bisa menghela nafas berkali-kali, "Huft… harusnya aku ke gedung hukum saja" Ujar Soonyoung sebal lalu berlalu meninggalkan dua pasangan kekasih tersebut. Oh mungkin tidak karena hingga saat ini status Wonwoo dan Mingyu tidak lebih dari teman.

• lemonade •

Jeonghan berteriak begitu ia baru saja berhasil masuk kedalam flatnya bersama Wonwoo. Bagaimana tidak? Flat mereka yang mereka tinggal rapi hari ini berubah menjadi sebuah tempat yang bahkan tidak bisa mereka kenali. Jeonghan dan Wonwoo melihat beberapa pakaian mereka tercecer. Bahkan laptop yang Jeonghan yakini ia letakan di sofa tidak terlihat sama sekali.

Wonwoo langsung menelpon Seungcheol saat Jeonghan tiba-tiba saja terduduk lemas dekat sofa. Beberapa tetangga merekapun juga datang setelah mendengar teriakan Jeonghan tadi. Pemilik flat pun langsung menghubungi polisi sesaat ia melihat kondisi flat yang Jeonghan dan Wonwoo sewa.

Setibanya Seungcheol, Seungcheol langsung menemui Jeonghan yang terlihat sangat buruk. Jeonghan harusnya mengikuti perintah Wonwoo untuk membawa laptopnya bersamanya tadi pagi namun urung dibawa karena alasan merepotkan. Sekarang tugas-tugas Jeonghan lenyap begitu saja bersama dengan laptopnya.

Wonwoo menelusuri flatnya yang sangat berantakan. Ingin mencari tahu apa yang hilang selain laptop Jeonghan. Ia mengernyitkan dahinya saat merasakan ada yang aneh. Namun tiba-tiba seseorang merangkul bahunya, "Kau kehilangan sesuatu?" Itu Mingyu. Ia sebenarnya bersama dengan Seungcheol namun memutuskan mengobrol dengan beberapa tetangga Wonwoo sebelum akhirnya naik kelantai dimana flat Wonwoo berada.

"Aku rasa sepatuku juga hilang. Aku ingat meletakkannya dibelakang pintu tapi tidak ada. Aku akan mencari lagi. Sepatu itu cukup mahal. Adikku yang membelikannya" Ujar Wonwoo sembari memperhatikan pakaian-pakaiannya dan Jeonghan yang tercecer dilantai, "Bentar, aku rasa bukan hanya sepatu."

Kini Mingyu yang mengerutkan dahinya, "apa?"

"Jeonghan Hyung… apa kau sudah mencuci pakaian dalammu?" Tanya Wonwoo tanpa menghiraukan Mingyu yang sebelumnya bertanya padanya.

Beberapa orang yang berada disekitar Wonwoo menatap Wonwoo bingung, "Ada apa?" Tanya Jeonghan didalam pelukan Seungcheol.

"Pakaian dalamku hilang" kata Wonwoo membuat beberapa orang didepan flat Wonwoo saling menatap horror tak terkecuali Mingyu.

"Apa?!!" Mingyu berteriak tepat disamping Wonwoo hingga membuat Wonwoo harus menutup telinganya.

"Aku belum mencucinya. Apa milikku juga hilang?" Jeonghan beranjak dari sofa lalu menghampiri Wonwoo yang sedang berdiri disamping mesin cuci mereka. "Oh sialan. Mereka mencuri pakaian dalam kotor kita" Jeonghan dan Wonwoo saling bertatap dan meneguk ludah.

• lemonade •

Sebelum Mingyu masuk kedalam flat Wonwoo, Mingyu sempat berbicara dengan seseorang yang diketahui adalah anak pemilik flat tersebut. Mingyu tahu betul bahwa kawasan flat tersebut adalah kawasan berbahaya. Banyak preman berada di kawasan tersebut. Menurut info yang Mingyu dapat dari anak pemilik flat, beberapa hari lalu ia mendengar keluhan dari tetangganya bahwa anak-anak mereka dilecehkan. Mungkin tidak sampai terjadi pemerkosaan. Tapi banyak kasus yang mengatakan banyak anak gadis yang dipukul bokongnya dan juga dipegang dadanya. Bahkan ada anak laki-laki menjadi korbannya. Ada yang diraba-raba hingga membuat si anak laki-laki tersebut cukup trauma.

Mingyu tidak habis pikir mengapa Wonwoo dan Jeonghan bisa tinggal ditempat serawan ini. Memang, biaya sewa rumah dan flat disekitar kawasan ini cukup murah mengingat karena kawasan ini cukup jarang disentuh orang karena sudah terlanjur takut dengan gossip yang ada. Namun mereka tinggal berdua, membayar flat bersama, kenapa tidak tinggal ditempat yang lebih layak?

Saat ini Mingyu tanpa permisi masuk kedalam kamar Jeonghan dan Wonwoo. Flat ini bahkan hanya memiliki 1 kamar tidur. Melihat ini membuat Mingyu geram. "Apa yang kau lakukan, Tuan aneh?"

"Membereskan pakaianmu"

"Apa?"

Mingyu membuka pintu lemari yang bertuliskan nama Wonwoo disitu dan mengeluarkan isinya dari situ, "Kau akan tinggal bersamaku mulai malam ini"

Wonwoo membulatkan mata rubahnya tak percaya, "apa yang kau lakukan, Tuan aneh? Aku tidak akan tinggal bersamamu, jika kau mau tahu"

Mingyu dan Wonwoo mungkin sudah merasa nyaman satu sama lain walaupun status mereka saat ini hanyalah teman tapi itu tidak membuat Wonwoo luluh secepat itu pada Mingyu. Ia butuh waktu untuk bisa menerima bahkan tinggal bersamanya. Tinggal bersama Mingyu tidak ada didalam rencana Wonwoo dalam waktu dekat.

"Aku harus membawamu keluar dari tempat ini. Kau harusnya tau bahwa kawasan ini mengerikan" ujar Mingyu tak peduli dengan Wonwoo yang berkacak pinggang.

"Hanya ini flat murah yang dekat dengan kampus"

"Apa kau ingin menjadi korban pelecehan?"

"Aku laki-laki jika kau ingin aku ingatkan lagi. Aku bisa menjaga—"

Belum selesai Wonwoo berbicara tiba-tiba saja Jeonghan masuk kedalam kamar, "maaf mengganggu kalian tapi apa yang Mingyu katakan benar, Wonwoo-ya. Kau tidak bisa tinggal ditempat ini. Bulan depan masa kontrak kita di flat ini habis, Seungcheol Sunbae juga menawarkan diri untuk menampungku. Aku akan senang jika kau tinggal bersama Mingyu, kau akan lebih aman disana"

"Hyung—"

"Jangan membantah. Aku tidak ingin kau terus-terusan diperhatikan oleh preman-preman brengsek itu"

"Apa?" Mingyu jelas kaget dengan apa yang Jeonghan katakan, "Apa maksudnya kau diperhatikan oleh preman-preman itu?"

Wonwoo kini terlihat kikuk. Ia bingung harus menjawab apa. Selama ini ia memang selalu diperhatikan oleh preman-preman yang suka berkeliaran dikawasan ini, namun tidak sampai berhubungan fisik. "Setidaknya mereka tidak menyentuhku"

Mingyu lalu menghampiri Wonwoo yang saat ini tertunduk. Wonwoo yang seperti ini membuat Mingyu ingin melindungi Wonwoo. "Tinggallah bersamaku. Aku mohon."

Butuh beberapa saat sampai akhirnya Wonwoo mengangguk menjawab permintaan Mingyu. Ia harusnya menolak keinginan Mingyu. Namun Lagi-lagi ada ego yang mengatakan untuk patuh pada Mingyu, seperti halnya pertama kali mereka bertemu, semua tubuhnya tak berfungsi sebagaimana mestinya. Entah mengapa tiba-tiba Wonwoo merasa mulas memikirkan bagaimana ia akan tinggal bersama Mingyu untuk jangka waktu yang tidak ia ketahui.

• lemonade •

"Foxy…"

Mingyu sudah beberapa kali memanggil Wonwoo namun Wonwoo masih saja membisu sembari memandang kearah jalan raya. Saat ini mereka dalam perjalanan menuju apartemen Mingyu dikawasan Gangnam.

"Kau seharusnya tidak perlu repot menampungku" Ujar Wonwoo dan ia masih enggan memandang Mingyu.

"Aku hanya khawatir padamu" Kata Mingyu sambil ngusak rambut coklat tua milik Wonwoo.

Wonwoo menghela nafas. Ia harusnya tidak menerima tawaran Mingyu. Mingyu mungkin memiliki sifat yang ramah dan easy going layaknya Jeonghan tapi Mingyu dan Jeonghan adalah individu yang berbeda. Ia menganggap Jeonghan adalah kakaknya sedangkan Mingyu? Ia sama sekali tidak tahu harus menganggap Mingyu apa.

Tak lama kemudian Wonwoo merasakan ponselnya bergetar digenggamannya dan menampilkan nama Jihoon disana.

"Eo, Jihoon-a"

"Aku dengar kau pindah dengan Tuan Aneh itu" ujar Jihoon dari seberang sana.

Wonwoo melirik Mingyu sebentar, "Ya begitulah"

"Sebaiknya kau hati-hati. Laki-laki popular selalu berbahaya." Jihoon tetaplah Jihoon, sahabat yang selalu khawatir berlebihan terhadap urusan percintaan Wonwoo. Ya, Jihoon tidak ingin Wonwoo terpuruk lagi seperti beberapa tahun lalu.

"Kau berlebihan, Jihoon-a"

"Kau harus ingat betapa populernya Daniel dulu hingga kau dengan mudahnya terperangkap pada hati busuknya"

Wonwoo menunduk, ia ingat betul. "Tolong berhenti membicarakannya"

Terjadi kebisuan di antara mereka sesaat sebelum akhirnya Jihoon memecahkan keheningan "Maafkan aku" Ujar Jihoon dengan nada sedikit bersalah. "Aku tidak bermaksud, Won"

"Tidak… Tidak apa." Kata Wonwoo.

Sambungan telpon Wonwoo dan Jihoon masih bersambung saat mobil Mingyu memasuki basemant apartemen yang Wonwoo yakini disinilah Mingyu tinggal.

"Jihoon-a… aku sudah sampai di apartemen Mingyu sunbae. Kita akan lanjutkan nanti"

"Ya… kau istirahatlah. Kita bertemu besok, okay?"

"Baiklah"

Wonwoo mematikan sambungan telponnya saat Mingyu baru saja mematikan mobilnya. Mingyu sebenarnya bisa mendengar percakapan Wonwoo dan Jihoon walaupun sedikit samar. Namun ia bisa mendengar jelas nama seseorang yang disebut Jihoon ditelpon tersebut.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Mingyu sedikit khawatir. Ia bisa melihat perubahan wajah Wonwoo sesaat setelah Jihoon menyebut nama laki-laki yang Mingyu tidak kenal tersebut.

"Aku tidak apa-apa, sunbae"

"Panggil aku Mingyu atau Hyung atau Tuan Aneh seperti julukan yang kau berikan padaku. Aku tidak ingin mendengar kau memanggilku dengan kata sunbae itu" Ujar Mingyu sembari bergerak menyamping agar bisa berhadapan dengan Wonwoo, "mulai sekarang tolong katakan apa saja yang mengganggu pikiranmu, Foxy. Kita memang baru mengenal seminggu ini tapi aku mohon jangan terlalu canggung padaku. Aku tidak apa-apa dengan status pertemanan, saat ini. Tapi setidaknya jangan terlalu suka memendam apapun sendirian"

Wonwoo mengerutkan dahinya, bagaimana Mingyu tahu kalau ia lebih suka memendam sesuatu sendirian. "mengapa kau berbicara seperti itu?"

"Aku hanya ingin menjadi orang pertama yang tahu apa yang terjadi padamu. Sekarang Jeonghan tidak bisa selalu bersamamu seperti biasa. Sekarang giliran aku yang melindungimu"

Wonwoo membisu. Ia bisa membaca ketulusan dalam raut wajah Mingyu. Ia tidak pernah merasa seistimewa ini walaupun saat bersama Daniel dulu. Wonwoo bisa saja memecahkan tangisannya saat ini juga namun ia terlalu sungkan untuk mengeluarkan air matanya saat ini. Tapi ada satu kata yang ia ingin ucapkan ke Mingyu saat ini, "Terima kasih, Mingyu" Ujar Wonwoo disambut senyuman oleh Mingyu.

TBC

Fely's note :

maaf jika ada kekurangan dalam ff ini dan terima kasih telah review, follow maupun favorite story ini. much love

Fely

February 27th, 2018