Mrs. Bangtan Diary

Namaku Bang Tania. Usiaku baru menginjak empat puluh tahun. Namun aku sudah punya tujuh orang anak, dan mereka semua LAKI-LAKI!

Orang-orang bilang aku seperti baju anti peluru. Walaupun diterjang banyak masalah, aku tidak akan pernah tumbang. Itulah kenapa mereka memanggilku Nyonya Bangtan.

Ku beritahu, ya. Mengurus tujuh orang anak laki-laki seorang diri bukanlah hal yang mudah bagiku. Mereka memiliki sifat dan masalah yang berbeda-beda. Tidak mudah mengendalikan mereka untuk berjalan kearah yang aku inginkan. Karena memiliki arah mereka masing-masing. Aku bahkan tidak sempat pergi spa atau hanya sekedar memakai make up karena masalah-masalah yang mereka timbulkan.

Bukannya mengeluh. Aku hanya ingin bercerita tentang kisahku besama ketujuh putraku. Agar kalian semua tahu bagaimana rasanya mengurus tujuh orang anak laki-laki yang memiliki banyak masalah dalam mencari jati diri mereka.

.

Putraku yang kedua bernama Yoongi. Rambutnya berwarna hijau-Ah! Bukan. Adiknya bilang itu warna Mint. Yoongi mempunyai masalah pada pengelihatannya. Pandangannya kabur saat dia tidak memakai kaca mata bulatnya. Dia memiliki tubuh yang lebih mungil ketimbang saudara-saudaranya yang lain dan itu membuatnya nampak sangat menggemaskan. Ah, dia seperti anak kecil berusia lima tahun. Aku ingin memeluknya setiap saat. อบ

Tidak seperti saudaranya yang lain yang suka membuat gaduh di dalam rumah, Yoongi cenderung pendiam. Dia orang yang tertutup. Dia tidak pernah menceritakan apa yang dia inginkan atau apa yang dia rasakan, bahkan kepadaku yang jelas-jelas adalah ibunya.

Saat aku bicara padanya, dia hanya merespon dengan kata 'Ya', 'tidak', dan kadang-kadang 'mungkin'. Dia menjawab tanpa semangat. Suaranya datar dan yaah, begitulah. Yoongi nampak suram untuk anak seusianya yang seharusnya penuh energi dan bergerak lincah.

Kadang aku berpikir jika dia adalah korban bullying di kampusnya. Tapi sepertinya tidak, karena dari hasil pengintaianku selama ini teman-temannya memperlakukannya dengan baik. Seperti teman pada umumnya.-Oke, aku mengaku. Aku memang lumayan sering mengikutinya pergi kuliah. Itu semua karena aku khawatir padanya.

Ada sebuah gosip beredar hingga sampai terdengar olehku dan putra-putraku yang lain. Gosip itu membuatku sedih. Mereka menuduh Yoongi mengikuti sebuah aliran sesat. Tentu saja aku menolak untuk percaya. Yoongiku adalah anak yang baik. Dia tidak akan mungkin mengecewakanku.

Karena gosip itu, dia dijauhi oleh semua saudaranya. Tidak ada yang berani mendekati kamarnya hanya untuk memanggilnya turun untuk makan bersama. Saat makan pun dia duduk di kursi paling ujung. Tidak ada yang mau duduk didekatnya. Mereka bilang mereka takut terkena sihir.

Omong kosong!

Kadang aku jengkel sekali mendengar saudara-saudaranya mengejek dirinya. Tapi Yoongi tidak berusaha melawan. Dia tidak pernah marah dan lebih memilih untuk diam. Untung saja ada seorang anakku yang penyayang yang senantiasa mengibur dan mendapingi Yoongi. Aku beberapa kali melihat Yoongi tersenyum karena dia. Aku senang, setidaknya Yoongi tidak merasa kesepian.

Yoongi-ah, Ibu ada disini untuk membantumu. Kau jangan sungkan untu meminta sesuatu pada Ibu. Kau tahu Ibu menyayangimu, kan?

Saranghae Yoongi-ah

.

Aku selalu berpesan pada semua putraku, bahwa mereka harus bersikap dewasa. Setidaknya bertanggung jawab atas masalah yang mereka timbulkan sendiri. Karena aku tidak selamanya bisa mendampingi mereka.

.

2