Disclaimer: Gundam Seed/Destiny sepenuhny milik Sunrise, Bandai dan kawan-kawan
Dearka X Miriallia: I'm so sorry
Dearka menatap kamera dengan harga sebanding dengan tiga tahun gaji kerta part time-nya, dia ingin memberikan kamera itu sebagai kado ulang tahun bagi kekasihnya, Miriallia. Atau lebih tepat mantan kekasihnya. Hubungan keduanya sedang tidak baik, dan Dearka tidak tahu harus bagaimana lagi untuk memperbaiki hubungannya dengan Miriallia.
Sebetulnya itu hanya salah paham saja, tapi Dearka tidak begitu cepat untuk menjelaskan. Sehingga Miriallia tidak tahu cerita yang sesungguhnya. Dia sudah mengirim bunga, memberikan cokelat. Cagalli hanya tertawa saat mendengar keluh kesal Dearka. Dengan wajah santai, Cagalli memberikan saran.
"Miriallia tidak seperti perempuan yang lain, dia tidak peduli dengan bunga, cokelat atau perhiasan. Apa yang dicintai Miriallia?"
Begitu mengetahui jawabannya, Dearka langsung berteriak bahagia dan memeluk Cagalli.
Dan sekarang dia berdiri di depan toko perlengkapan kamera. Lensa tersebut masih menatapnya, seolah menantang Dearka untuk membelinya. Sambil menghela napas panjang, Dearka masuk ke dalam toko.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Apa kau gila, Dearka Elsman?! Apa kau tidak tahu berapa harga kamera itu?!"
"Uh, tiga tahun gajiku?" tanya Dearka sambil menjepit smartphone di antara pipi dan bahunya. Tangannya sibuk mengetik.
Tawa sinis Miriallia menggema. "Aku benar-benar tidak mengerti dirimu, kau pikir aku bisa memaafkan begitu saja? Aku tidak akan termakan dengan kamera itu! Aku bukan wanita yang bisa kau beli dengan barang dan uang!"
Dearka mengela napas. "Astaga, Miriallia! Aku tidak pernah melihatmu seperti itu. Kenapa kau..."
"Aku sudah meminta Cagalli untuk mengembalikan kamera itu kepadamu. Sebelum kau mengakui kalau kau tidak punya hubungan apa-apa dengan Meer, aku tidak mau memaafkanmu."
"Bagaimana aku bisa menjelaskan jika teleponku tidak pernah kau angkat, pesanku tidak kau balas, e-mailku juga. Bahkan kau memblokir semua akun media sosialku! Apa-apaan, Miriallia?" Dearka sudah berhenti mengetik. Ketika Dearka ingin melanjutkan omelannya, Miriallia sudah memutuskan telepon.
Dearka hanya bisa melempar teleponnya ke dinding kamar.
