Sekilas aja, kemarin lupa cerita HAHA. Gakjelas sih sebenernya. Jadi ide cerita ini muncul waktu gue lagi digojek dan pas lagi baca ff rated M -pas banget bagian ehem ehem-. Lagi ena enanya baca, tiba-tiba ada orang dari mobil sebelah nengok trus ngeliatin gitu. Serem kan. Trus tiba-tiba kepikiran gimana kalo ternyata orang itu bisa baca pikiran gue?! Gue masukin hp dan langsung nyanyi-nyanyi dalam hati.

AHAHA KENTANG BANGET.

SELAMAT MENIKMATI.

(sekali lagi semoga bisa dinikmati)

SARAN YA YA YA!

Genap sudah satu bulan Luhan di sekolah barunya. Banyak hal-hal menarik yang membuat Luhan betah sekolah disana. Teman segudang -walaupun tidak semua benar-benar baik-, fasilitas sekolah super duper lengkap, kantin enak (tentusaja), dan kegiatannya di ekskul fotografi. Luhan suka fotografi. Mengabadikan moment yang belum tentu bisa diulang lagi, menurut Luhan itu menyenangkan.

Seperti saat ini. Anak-anak fotografi diberi waktu 15 menit untuk mengambil foto bertema 'Levitation'. Tentu saja itu adalah hal yang cukup mudah bagi Luhan. Ia sudah mempelajari fotografi sejak smp dan itu merupakan teknik dasar. Tapi, Luhan bingung objek apa yang harus Ia ambil dilingkungan sekolah ini. Luhan berkeliling sekolah dengan agak tergesa. Matanya menilik kesana kemari mencari objek yang cocok sambil memegang camera Nikon D70 kesayangannya.

Suara gedebug berulang dari arah sporthall membuatnya penasaran. Setahunya hari ini hanya ada ekskul fotografi. Kakinya melangkah menuju sporthall dan Matanya menemukan Oh Sehun, si pria gangster yang datar. Sehun dengan seragam basket hitam merah almamater sekolahnya sedang mendribble bola basket dengan tangan kirinya. Hanya mendribble. Entah apa yang Ia sedang lakukan.

Wow.

Sehun yang berkeringat adalah hal paling menggoda didunia ini -setelah Christiano Ronaldo tentunya-. Tato di tengkuk belakang Sehun terlihat lebih jelas. Iseng Luhan menjepretnya. Pikiran Luhan sedang kembali mengawang saat Sehun melirik kearahnya. Terkekeh dan melempar bolanya secara asal ke arah ring.

Dang!

Masuk?!

Sehun mengambil bolanya lagi dan kini melakukan lay up dengan sangaaaaaat keren.

Aku tidak tahu basket bisa semenggairahkan itu.

Eh?

Lagi-lagi Luhan mengutuk pikirannya. Buru-buru memotret Sehun yang Lagi-lagi melakukan lay up dan masuk dengan sempurna. Luhan hanya ingin mengabadikan moment seksi Sehun.

"Bukankah tidak sopan mengambil foto seseorang tanpa persetujuannya?" ucapan Sehun menggema diseluruh sporthall, membuat Luhan mendongak dan melihat kearah Sehun sambil mencoba mengerti kata-katanya. Pikirannya masih mengawang dan camera ditangannya menampilkan foto Sehun melompat saat lay up.

"Em.. itu.. Maaf sebelumnya." Ucap Luhan ragu-ragu. Tapi setelah ia melihat hasil jepretannya, ia bergegas berlari kearah Sehun dan menunjukkan hasil fotonya. Itu bagus dan Luhan tidak mau menghapusnya hanya karena tidak dapat izin.

"Bagus kan? Boleh kusimpan kan?" Ucap Luhan lagi. Sekarang nadanya dibuat sangat ceria. Sebenarnya itu triknya saja supaya Sehun mengijinkannya.

Alis Sehun naik setengah melihat reaksi Luhan. "Tidak. "

"Ah, wae?" Luhan merenggut.

"Hapus sekarang juga." nadanya penuh tekanan dan perintah, seharusnya Luhan takut. Tapi sayangnya Luhan sudah kebal dengan nada penuh dominasi Seperti itu.

"Shireo!" Luhan mengangkat tinggi tangannya yang memegang kamera, melupakan fakta bahwa Sehun jauh lebih tinggi dari dirinya. Membuat Sehun tersenyum meremehkan dan meraih tangan Luhan dengan mudah. Sementara Luhan mengutuk lagi dirinya. bodoh.

Cara lain, Lu. berpikir.

Sehun yang hendak mengambil kameranya seketika terhenti saat Luhan berbicara sesuatu.

"Bagaimana kalau kita taruhan?"

"Taruhan?" Sehun mengulangi ucapan Luhan dan mengamati wajahnya lamat-lamat. Tersenyum tipis saat mengetahui yang Luhan maksud.

"Ya. Kalau kau berhasil memasukan bola dari sini, maka fotonya akan kuhapus." Ucap Luhan penuh keyakinan. Tentu saja Ia yakin Sehun tidak akan bisa memasukan bola dari tempatnya sekarang. Ini dipinggir lapangan dan ring ada jauh disana. Curang memang.

"Kalau tidak?" Sehun menaikan alisnya lagi menunggu jawaban Luhan. Hanya ingin dengar suara Luhan, walaupun Ia sudah tau.

"Aku bebas menyimpannya!" ucap Luhan terlampau senang. Membuat Sehun terkekeh lagi karenanya.

"Kau ini fans ku ya?"

"Percaya dirimu, astaga."

"Makanya hapus."

"Bilang saja takut."

"Curang, Kau tahu?" cerca Sehun.

"Kau takut?" tantang Luhan.

"Tidak. Hanya kau yang diuntungkan. Sementara aku hanya tidak dirugikan." ucap Sehun.

"Lalu Kau mau apa?"

"Akan aku ucapkan setelah aku memasukannya. Bersiaplah." Omongan Sehun membuatnya gugup.

Tak mungkin Ia bisa memasukan bolanya kan?

Pasti meleset Lu, tenang saja.

"Yah, semoga berhasil albino."

"Petaruh macam apa Kau ini?" Sehun terheran. Mana ada musuh menyemangati musuhnya.

"Aku sudah pasti menang sih, jadi ya begitulah." Ucap Luhan santai. Sambil menyaksikan Sehun yang mulai fokus membidik ring dengan bola basket ditangannya. Sehun serius dan itu 1000 kali lebih menggairahkan.

Sehun menoleh sekilas dan melemparkan bolanya ke ring. Mata Luhan bergerak mengikuti bola itu terlempar ke arah ring.

Jangan. Jangan. Jangan.

Dang!

Lagi. Bola itu masuk dengan mulus. Mustahil.

Luhan menganga. Malu. Ditambah Sehun Yang kini menatapnya penuh kemenangan. Luhan benci itu.

"Kameramu." ucap Sehun menyodorkan tangannya. Dengan berat hati Luhan memberikannya.

"Seingin itukah?"

"Tidak, hapus saja." Luhan merenggut. LAGI. Kenapa Luhan jadi manja?!

"Kau boleh menyimpannya sih.." Ucap Sehun.

"Benarkah?" Seketika mata Luhan berbinar.

"Tambah satu syarat berarti hm. Jadi aku punya 2 kebebasan kan?" ucap Sehun sok berpikir. padahal di otaknya sudah ada rencana.

"Siapa yang menyetujuinya?" Luhan jadi galak.

"Tentu saja Kau harus." Ucap Sehun.

"Yang pertama, kau harus jadi asisten pribadiku selama 1 minggu."

"HAH?"

"Oh kurang? Baik, 2 minggu."

"YAAAK!" muka Luhan memerah kesal. Apa-apaan pria didepannya ini.

"Tidak. Aku bercanda. 3 hari." Ucap Sehun santai. Tapi tetap saja Luhan kesal walaupun sudah dikurangi.

"Siapa yang mau jadi asistenmu, tuan sok bos." Luhan jadi sinis.

"Tentu saja kau." Ucap Sehun terkekeh. Perisangkanya tentang Sehun salah besar. Ia sama sekali bukan pria datar. TAPI MENYEBALKAN.

"Yang kedua..." Sehun menghentikan ucapannya. membuat Luhan penasaran sekaligus kesal.

"Yang kedua..?" Luhan mengulangi.

"Jadilah pacarku."

TBC UHUY UHUY.

CERITA MACAM APA INI ASTAGA YAHTUHAN.

Sekedar info aja, Phlegmatic itu semacam istilah buat orang yang punya kepribadian suka mengamati sekitarnya, cenderung bicara seadanya, tenang, kalem, tapi menyenangkan. Mereka peka sama lingkungan. Jadi omongannya selalu diperhatikan dan dipikirkan matang-matang. Tapi disini Luhannya jadi kayak out of maksud (?) pas lagi sama Sehun.

HEHE

Review Ya. bantuin!