Haikyuu © Furudate Haruichi
Warning ikut chapter sebelumnya
Enjoy
.
.
.
"Kei, darimana saja kau?" Akiteru, Tsukishima yang lain menyambut kedatangan si pirang berkacamata begitu dirinya memasuki rumah.
Bukannya menjawab Kei melangkah ke kamar mengabaikan kehadiran kakaknya, satu-satunya penghuni rumah selain dirinya. Akiteru mendesah, ia tidak ingin berkomentar banyak. Mereka tidak pernah berkelahi, bahkan lebih dari itu jarang bertegur sapa. Akiteru sedang sibuk dengan pekerjaan dan karirnya, Kei remaja penuh keingin tahuan hanya mengabaikan eksistensi kakaknya untuk waktu yang tidak dapat ditentukan.
"Aku akan berbicara dengannya nanti sore." Akiteru melangkah ke luar rumah, pergi bekerja.
Kei merebahkan tubuhnya di ranjang, mengenang kembali malam yang ia habiskan bersama Kuroo.
"Kuroo…" Kei menggumamkan nama pria berambut hitam itu, yang hanya ia ketahui tanpa sengaja ketika salah seorang teman kecilnya memanggil. Segera ia meraih ponsel setelah melirik sekilas ke arah jam. Kei berusaha untuk menelepon seseorang, teman kecilnya.
"Tsukki, dimana kau? Kakakmu semalam ke rumahku, aku tidak bisa berbohong karena orang tuaku yang langsung memberitahu kau tidak di sini."
"Iya, iya aku tidak peduli dengan itu. Sekarang aku sudah di rumah. Tadi aku bertemu Akiteru, dia sudah berangkat kerja sekarang."
"Ya Tuham Tsukki, apa yang sebenarnya terjadi dengamu?"
"Dengar Yamaguchi, kau mungkin tidak akan percaya tapi…percayakah kau dengan cinta pada pandangan pertama? Kurasa aku mengalaminya."
"Tsukki, apa yang kau bicarakan? Kalau kau di rumah kenapa tidak ke sekolah?"
"Berisik, tidak bisakan ka mendengarkan ceritaku?"
"Pergilah ke sekolah, atau…"
"Apa"
"Kita bicara nanti, kelas sudah dimulai."
Sambungan di putus dari pihak seberang. Kei melihat ke arah jam sekali lagi, jam sekolah sudah di mulai ia sadar tapi tak juga beranjak. Kei akan membolos hari itu.
.
Lonceng pintu berbunyi, Kuroo masuk ke sebuah kafe diiringi dengan Yaku di belakangnya.
"Kuroo…" Bokuto si pemilik sekaligus pelayan menyambut pelanggan tetapnya.
"Yaku…" nadanya berubah histeris mengetahui sosok lain ada di samping Kuroo. Tanpa basa –basi lagi pria muda itu merengkuh Yaku dalam pelukannya.
"Bokuto, lepaskan."
"Tunggu sebentar, aku sedang lelah. Manisnya dirimu akan memulihkan kekuatanku."
Yaku berusaha untuk melepaskan diri, tapi Bokuto yang sama besar dengan Kuroo membuatnya pasrah mendapat usapan dari pipi Bokuto di kepalanya.
"Bokuto, layani aku." Suara lantang menghampiri sesaat setelah lonceng pintu berdenting.
"Hiyaa, cabe." Jerit Bokuto.
Rambut Bokuto jadi berantakan, sedikitnya ia jadi harus melepaskan Yaku setelah mendapat jitakan manis di kepala dari Oikawa.
"Silahkan, nikmati waktu kalian. Mau pesan apa?"
Kuroo, Yaku dan Oikawa akhirnya duduk dalam satu meja. Mereka memesan untuk makan siang masing-masing sesuai selera. Bukan suatu kebetulan jika mereka bertiga berkumpul, karena itu terjadi lebih kepada kebiasaan. Kuroo bukan orang yang mudah bergaul, ia adalah eksekutif muda yang sombong, angkuh dan memang memiliki kemampuan yang diakui. Tuan populer ini teratur dan tidak suka diganggu, sementara mereka yang dekat dengannya tidak serta merta dapat menjadi teman begitu saja. Sudah sejak tahunan yang lalu mereka bersahabat, dari semasa sekolah dan sekarang ke-empatnya bersama dengan Bokuto-adalah pria dengan usia hampir 30 tahun.
"Silahkan dinikmati…"Bokuto datang dengan nampan berisi makanan yang di pesan oleh mereka bertiga.
"Bokuto, kemana kau semalam? Aku benar-benar ditinggalkan oleh mereka berdua." Oikawa menyampaikan keluhannya, tentang semalam dimana Yaku dan Kuroo pergi begitu saa tanpa pamit apalagi mengajaknya.
Bokuto tertawa, "maaf, ku rasa aku sudah menemukan seseorang. Ah malam ini juga, aku sudah ada janji."
"Jadi kau sudah memutuskan untuk mengambil pasangan," kata Yaku ikut dalam percakapan.
"Entahlah, mungkin saja begitu."
"Sebaiknya memang begitu, aku dan kurasa memang sudah seharusnya kita. Tapi lupakan jika itu Kuroo."
Kuroo yang sedari tadi hanya diam menikmati makanannya tersenyum miring,"aku menikmati hidupku kawan. Dan kau Yaku." Kuroo menunjuk tepat di hidung Yaku menggunakan garpu,"akan selalu bersamaku, kan?"
"Jangan bodoh, aku satu-satunya orang yang membencimu di sini."
Kuroo acuh, kembali melanjutkan makannya.
"Silahkan kalian menikmati, aku harus bekerja."
"Bokuto, kau ikut bersama kami malam ini?" Seru Oikawa sebelum Bokuto berlalu jauh."
"Ya, aku akan membawanya juga."
"Keh, sepertinya dia sedang jatuh cinta." Komentar Oikawa.
.
"Jadi kalian melakukannya?" Yamaguchi tengah menyelidik mencari kebenaran dari cerita konyol sahabatnya. Kei hanya menanggapi dengan anggukan pasti.
"Kau gila Tsukki, bagaimana jika kakakmu tahu?"
"Aku menyukainya Yamaguchi, tidak peduli bagaimana orang lain menanggapi."
"Kau juga yakin dia menyukaimu?"
Kei tampak ragu,"kurasa begitu, meski ia mengusirku tadi pagi dan berkata tidak ingin bertemu lagi."
"Ini tidak benar Tsukki, kau bilang jatuh cinta tapi tidak satupun yang kau tahu kecuali namanya. Hanya nama depannya."
"Tak apa, aku tau rumahnya. Malam ini aku akan datang lagi."
.
.
.
Kuroo pulang dengan seseorang yang ia dapat dari klub, seperti malam-malam sebelumnya. Ia menciumi, melakukan sedikit pemanasan di dalam lift dengan lawan mainnya. Moodnya seketika terganggu melihat sosok Kei yang sedang menunggu di depan pintu rumahnya.
"Untuk apa kau datang kemari?" Setengah mengabaikan Kuroo bertanya, membuka pintu kemudian mempersilahkan pemuda yang dibawanya masuk ke dalam rumah."
"Menemuimu. Ku bilang aku ingin bertemu denganmu lagi."
"Bocah, kau harusnya sudah mengerti saat kubilang jangan datang lagi. Aku tidak tidur dengan orang yang sama dua kali, terlebih jika itu anak sekolah."
"Apa maksudmu? Kupikir kau juga menyukaiku, sejak kau melakukannya padaku semalam."
Kuroo meraih dagu Kei, "ini dunia orang dewasa nak, aku tidak bisa bermain cinta monyet sepertimu. Dia, yang akan menjadi teman tidurku malam ini."
Kei menampik tangan Kuroo yang menyentuh dagunya,sedikitnya ia merasa sakit hati. Dengan perasaan dongkol Kei pergi.
Kuroo mengabaikan kepergian Kei, tidak masalah baginya apa yang di rasakan bocah itu. Begitulah jika seorang bocah tidak berhati-hati dalam bergaul. Kei tidak salah dengan persaannya, hanya saja Kei tidak tahu jika Kuroo seorang dewasa yang gemar seks dan menganggap Kei hanya salah satu dari sekian teman tidurnya.
….
A/N : Oke, cukup sampai disini. Ke depannya fic ini bisa di lanjut atau juga di hapus. Tergantung bagaimana idenya muncul. Terima kasih sudah membaca.
