Sehun menghiraukan rengekan Jongin untuk berhenti dan kembali menyatukan bibir mereka. Membawanya pada sebuah pagutan bibir yang terasa menyenangkan dan menggelitik. Tanpa segan ia mengalihkan berat tubuhnya menjadi di atas Jongin dengan kedua tangan sebagai tumpuan. Ia mengigit bibir pemuda dibawahnya hingga sebuah lenguhan terdengar dan lidahnya mendapat akses untuk masuk, dan mengobrak-abrik seluruh isinya. Membuat saliva keduanya bercampur dalam pagutan lidah yang saling bergelut.
Sehun merasa dirinya gila mendengar lenguhan pemuda itu ketika tubuh mereka bergesekkan. Entah apa yang menuntun tangannya dengan tanpa permisi untuk mulai melepas kancing seragam Jongin satu persatu. Tangannya dengan tak bermoral merasakan kesenangan begitu kulit tubuh itu terasa di permukaan jari-jarinya, bersamaan dengan turunnya ciumannya pada ceruk leher Jongin yang bergerak tak nyaman. Tangannya terasa sakit dengan ikatan dasi pada tangannya.
Sehun menyapukan lidahnya pada kulit itu dan menghisapnya.
"S-ehun..."
Ini sudah kelewatan Sehun tahu. Tapi...
Jongin mencoba mendorongnya, "B-berhenti..."
Sehun tidak mau menghentikannya. Ia tidak bisa. Ia membutuhkan lebih. Tangannya dengan nakal beralih pada bagian sensit ―
Jongin menyentakkan tubuh Sehun dengan kasar hingga jatuh, setelah berhasil melepaskan ikatan dasi pada tagannya yang kini berwarna kemerahan. Wajahnya memerah dan nafasnya terputus. Ia memandang Sehun tajam saat kembali memakai seragam asal dan mengambil tasnya tergesa. Dan berlalu dengan bantingan keras di pintu.
"AKU MEMBENCIMU, OH SEHUN!"
.
D I A M
Cast:
HunKai, hint!KaiStal
Warning;
AU, SuperOOC, Crack, Yaoi/BL, Pointless
Dont Like Dont Read.
ENJOY!
.
"Oh-menyebalkan-Sehun," rutuk Jongin begitu sampai di rumah, dan masuk ke kamarnya dengan diiringi suara pintu terbanting. Pemuda itu melempar asal tasnya dengan kesal, tak menghiraukan apapun lagi, menghampiri cermin besar di ruangan itu dan mulai mengamati wajahnya. Bibirnya, yang kini terlihat bengkak dan terutama... lehernya, yang kini terhiasi sebuah sapuan merah keunguan. Jongin menggeram.
Oh, beruntung kedua orang tuanya sudah terlelap saat ia sampai. Entah apa yang akan mereka pikirkan jika melihat anak mereka, pulang selarut ini dalam keadaan mengenaskan begini.
Pandangannya jatuh pada balkonnya yang terbuka. Ia bisa melihat Sehun duduk di kasurnya dari sana. Ditariknya tirai itu hingga tertutup. Jongin menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, menyisakan kakinya yang masih terbalut sepatu, menjuntai di sisi ranjang. Sebelah tangannya terangkat untuk menutupi matanya. "Brengsek..." desisnya begitu sekelebat kejadian tadi kembali memenuhi otaknya. Nafasnya tiba-tiba memburu tanpa sadar. Sebenarnya apa tadi? Apa yang mereka lakukan? Apa yang hampir Sehun lakukan padanya?
Jongin sama sekali tidak mengerti. Apa maksud dari semua itu?
Ia dan Sehun sudah bersama sejak lama. Mungkin terkesan berlebihan, tapi mereka memang sudah saling dikenalkan sejak masih dalam kandungan. Ibunya dan Mrs. Oh, ibu Sehun, adalah partner in crime di masa muda mereka. Tak heran. Selain itu kedunya masuk ke TK, SD, SMP dan kini SMA yang sama―meski tak selalu sekelas. Rumah mereka yang bersebelahanpun seakan menjadi faktor pendukung lain yang membuat keduanya semakin menempel dan tak terpisahkan.
Bagi Jongin, Sehun adalah sahabat terbaiknya. Meski kadang kelakuannya sedingin es di kutub utara, jutek, ketus dan menyebalkan. Ia masih menganggap Sehun sahabat baiknya.
Begitu banyak hal yang telah ia alami bersama Oh muda itu. Mereka bahkan sudah sering melakukan apa yang Sehun sebut, ciuman antar sahabat dekat untuk menunjukkan kekariban mereka. Meski sedikit risih saat melakukannya saat pertama kali, ia sama sekali tak punya prasangka buruk akan hal itu.
...tapi setelah kejadian tadi...
Jongin menggelengkan kepalanya. "Si sialan itu pasti hanya berusaha menggodaku," gumam Jongin kemudian. Ia bangkit dan membawa kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Berharap air dingin bisa menjernihkan pikirannya.
.
.
.
.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!"
Entah sudah berapa banyak bodoh yang meluncur begitu lancar dari bibir Sehun malam itu. Pemuda egois, yang sudah terlampau sering memuji dirinya jenius itu kini tengah merutuki dirinya sendiri dengan kata bodoh berulang kali. Jangan lupakan juga fakta bahwa dirinya yang tak bisa duduk diam seperti biasa dan malah mondar-mandir tidak jelas di kamarnya dengan panik. Tangannya terangkat untuk menjambaki rambut pirang miliknya yang kini sudah tak terbentuk.
Astaga... ia tak menyangka akan menjadi begini hanya karena kejadian beberapa waktu lalu di tempat ini. Apa yang hampir ia lakukan? Ia hampir saja memperkosa sahabatnya sendiri!
"Aku pasti sudah gila...," gumam Sehun. Pandangan Sehun jatuh pada kotak berwarna merah muda yang masih tergeletak di tempat yang sama. Pandangannya menajam. "Ini semua gara-gara coklat sialan itu!" ujarnya menyalahkan. Menendang kotak itu.
Sehun gusar. Memikirkan bagaimana reaksi Jongin besok? Sehun sama sekali belum siap untuk itu.
Seandainya saja ia tak usah cemburu hanya karena cokelat pemberian tak jelas itu. Seandainya ia tak usah iseng mengikat Jongin di ranjang dengan niatan bergurau untuk membuatnya diam. Seandainya ia tak usah menciumnya sejak awal karena itu membuatnya sulit menjaga kewarasannya. Seandainya. Seandainya. Seandainya.
―Yang sama sekali tak berguna dan tak bisa merubah apapun saat ini, frutasi Sehun.
"Tapi... Ah! Ini bukan sepenuhnya salahku! Suruh siapa dia terlihat begitu seksi tadi?" gumamnya mencoba membela diri. Membuat sebuah penyangkalan untuk dijadikan penghibur. Menutupi rasa bersalah yang kini menggelayuti hatinya.
Sehun memang menyukai Jongin sejak lama dan yang ia lakukan selama ini hanyalah diam. Berada di samping pemuda itu dan memanfaatkan semua kesempatan yang ada untuk skinship mengatasnamakan persahabatan mereka. Apa? Kalian mengatakan dirinya pengecut? Kalau begitu kenapa tidak kalian coba berada di posisinya dan merasakan sendiri bagaimana rasanya? Pengakuan itu bahkan tak lebih penting dari persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak lama.
Persahabatan yang sepertinya baru ia hancurkan beberapa saat lalu.
"Hhhh..."
Sehun mendudukan dirinya di lantai. Memainkan kotak coklat yang kini kosong. Tak yakin dirinya bisa tidur nyenyak untuk malam ini.
"..."
Pandangannya menerawang, setengah melamun.
"...Kenapa kau terasa begitu jauh, Kai?"
.
.
.
.
Matahari bersinar begitu cerah pagi ini. Berbanding lurus dengan cerahnya senyum lebar sang bungsu keluarga Park yang dengan santainya melenggang melewati koridor kelas tiga gedung sekolah itu. Ah, musim panas memang sedang berkunjung menyapa kawasan ini, membuat pagi ini terasa hangat. Dan Chanyeol menyukainya. Lihat saja senyumannya yang tak kunjung hilang meski ini sudah lewat hampir setengah jam sejak bel tanda pelajaran pertama berdentang. Ia terlambat dan pemuda kelebihan tinggi itu masih bisa sesantai ini.
Terimakasih pada soulmate tercintanya yang berbaik hati memberinya kabar bahwa Jung sonsaengnim berhalangan hadir, membuatnya tak usah lari kocar-kacir karena bangun telat pagi tadi.
Pintu kelasnya yang berlabel XII-1 sudah di depan mata.
"Selamat pagi sem―"
"..."
Sapaan semangatnya yang hendak terlontas seakan tertahan di kerongkongan dan sulit di teruskan saat daun pintu terayun, menampilkan suasana kelas yang sepertinya sedang dihuni oleh alien dan makhluk luar angkasa lain alih-alih kawan-kawannya. Suasana gaduh bak pasar malam yang ia bayangkan akan menyambutnya pagi ini karena jam pelajaran kosong malah terganti dengan suasana awkward yang asing.
Heran. Chanyeol menengok ke papan yang terpajang di pintu. Siapa tahu jika matanya sedang bermasalah tadi atau papan itu telah merubah label dengan sendirinya tanpa ia ketahui sehingga membuatnya salah masuk kelas. Tapi benar kok. Ini XII-1, kelasnya. Dan wajah orang-orang itu seingatnya masih sama. Chanyeol bergidik, merasakan firasat buruk saat ia kembali berjalan masuk. Terlebih saat melihat bangkunya, yang berada di depan pojok kanan ruangan, telah ditempati orang lain. Itukan Kai. Kenapa dia duduk di tempatku? batinnya.
"HE―!" Ia hendak memuntahkan protes, tapi tidak selesai karena Baekhyun―sang kawan sebangku sudah lebih dulu memberinya tatapan tajam mematikan yang membuatnya sulit berkata. Belum lagi tatapan anak lain yang seakan berkata; 'Diam dan duduk saja di tempat yang kosong Park Chanyeol.'
'Pasti ada sesuatu,' pikir Chanyeol dengan wajah cemberut yang bercampur heran sambil menuju satu-satunya bangku kosong di ruangan kelas (kelas ini memang memiliki jumlah bangku sesuai murid), tepat di bangku kedua pojok paling belakang di sebelah kiri ruangan. Bersebelahan dengan, "...Sehun?"
Sosok itu mendongak, menampilkan wajah yang jauh lebih kusut dari baju Chanyeol yang belum sempat disetrika pagi ini. Dengan lingkaran kehitaman yang kontras di sekitar bawah matanya. "Apa?" respon Sehun malas.
Chanyeol menatapinya dalam diam. Sehun membuang muka. "Jika kau akan bertanya tentang apa yang terjadi, lebih baik kau diam."
Chanyeol mengangguk patuh kemudian duduk, tapi dengan bodohnya bertanya, "Kau kenapa, Hun?"
Sehun menggeram. "Aku baik-baik saja." Balasnya santai. Abaikan wajah kusut dan aura suram yang memancar di sekitarnya. Benar 'kan? Apa yang paling ia takutkan benar-benar terjadi. Jongin mendiamkannya. Jongin menjauhinya, Pemuda itu bahkan tidak meyapa Sehun begitu berpapasan di koridor.
Sehun baik-baik saja dengan semua itu. Jadi tidak usah menatapnya dengan iba begitu.
"Kau marahan, Hun? Sama Kai?"
Pertanyaan bodoh yang ingin disangkal Sehun. Tapi kejadiannya memang begitu, mau bagaimana lagi? "Ya."
Ia kenal sahabat baiknya itu―yang selalu sok seksi (dan manis). Mereka mengenal sudah terlalu lama dan ia tahu jika acara marahan ini takkan bisa berlangsung terlalu lama. Meski ia merasa keyakinannya sedikit membohongi dirinya sendiri saat mengetahui Jongin memilih pindah tempat duduk saat melihatnya datang tadi pagi. Ia masih punya cukup rasa percaya diri jika Jongin memang ditakdirkan untuknya, Oh Sehun.
Oh, ia tahu itu terdengar menggelikan.
Semalam saat pergi, Jongin memang sempat berteriak padanya jika ia membenci Sehun. Tapi Sehun awalnya berfikir jika itu tidaklah serius dan mencoba tak peduli (meski ia sangat kepikiran hingga tak tidur semalam―alasan paling logis dari lingkaran kehitaman yang muncul di bawah matanya pagi ini) dan bersikap biasa saja.
"Lalu? Kenapa kalian tidak bertengkar?" heran Chanyeol. "Maksudku... pukulan? Teriakan? Adu mulut?" Terakhir kali rekor mereka bertengkar, yang diakibatkan Sehun yang meculik Meonggu―anjing kesayangan Kai, karena alasan terlalu cemburu, memang begitu. Kelas dipenuhi adu mulut panjang dan penganiayaan Kai pada Sehun yang hanya menerima dan sesekali meringis dan mengumpat. Bahkan teman-temannya saja tahu, karena mereka itu sudah terlalu sering bertengkar mesra begitu. Dan seringnya semua pertengkaran mereka adalah gara-gara Sehun yang memang sangat pencemburu jika menyangkut Kai, bahkan pada sesuatu yang bukan manusia sekalipun.
Sehun menghela nafas lalu menggeleng, beralih pandang pada Jongin di depan sana. Dia diam sepertinya, tak menghiraukan ajakan Baekhyun untuk mengobrol. Padahal baru beberapa jam sosok itu tidak bicara padanya tapi Sehun sudah merasa kangen saja. Kekuatan cinta itu luar biasa ya? Memikirkannya saja membuat Sehun mulas. Tsk.
"Kai mendiamkanmu, Hun?"
"Aku rasa."
"...Serius?"
"A-a," angguk Sehun.
"..."
Chanyeol seketika memasang tampang seriusnya untuk menatap Sehun setalah itu, membuat Sehun termangu dalam diam. Jika sang happy virus saja sudah memasang tampang begitu, ini memang akan menjadi masalah serius.
For your information, sahabat kelewat dekatnya itu tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Semarah-marahnya dia, sekesal-kesalnya ia, Jongin―paling―hanya akan memukulnya keras dengan buku atau berteriak-teriak dan mengoceh tak jelas. Mereka akan adu mulut―dalam makna denotatif hingga berjam-jam tak henti hingga membuat orang di sekitarnya bosan dan berakhir dengan membeli bubble tea bersama di kantin sekolah. Dan jika sedang beruntung, mungkin bisa terjadi sesi adu mulut tambahan―yang kali ini dalam makna konotatif. Pertengkaran mesra.
Bukannya saling mendiamkan begini.
Sehun masih baik-baik saja, jika kalian bertanya lagi tentang bagaimana kabarnya saat ini. Setidaknya ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika ia memang merasa begitu.
Dan helaan nafas kembali terdengar, lebih pelan dan sarat akan lelah. "Aku sudah kelewatan...," gumamnya sambil memijit pelipisnya yang berdenyut. Menyesali apa yang ia telah perbuatnya pada Jongin kemarin. Dalam hati Sehun merutuki dirinya yang tidak bisa menahan diri, dan lebih merutuki lagi kenapa Jongin harus terlihat begitu seksi dengan tangan terikat begitu.
Ugh. Seandainya saja waktu bisa diputar, mungkin Sehun tak usah susah-susah untuk merasa sakit kepala seperti sekarang.
.
.
.
.
Bel istirahat berbunyi dan Jongin dengan segera bangkit dari kursinya. Ia punya firasat Sehun akan menghampirinya tak lama lagi maka dari itu dia lebih memilih untuk lari. Ke kantin, ke atap atau mungkin perpustakaan yang tak pernah ia singgahi sekalian untuk menghindar.
"Tunggu, Kai―"
Jongin membatu begitu mendengar suara familiar itu, bersamaan dengan sensi tarikan pada sebelah tangannya. Ia sadar, ia terlambat. Meski begitu ia enggan berbalik dan menatapnya. Tangannya menghempas kasar hingga pegangan itu terlepas.
"Jangan begini."
"..."
"Aku sudah kelewatan kemarin. Itu semua karena kau tampak begitu sek―"
"..." Sehun menutup mulutnya saat Jongin menatapnya tajam tanpa berucap.
"...Kai, ayo kita lupakan semuanya dan anggap tak pernah terjadi."
"..."
"Kai, bicaralah..."
Tapi Kai tak menanggapinya dan berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan Sehun yang terdiam.
Jongin tak peduli, meski ia merasa jantungnya berpacu terlalu cepat di dalam sana saat ingatan kemarin kembali terbersit.
.
.
.
.
Suasana kantin sepulang sekolah saat itu nampak cukup sepi pengunjung. Mengingat ini sudah dua jam sejak bel pulang berbunyi. Hanya beberapa anak yang terlihat duduk-duduk di kursi dan berlalu lalang di sekitar. Tapi Jongin juga tak terlalu peduli. Ia masih asik menyeruput bubble tea miliknya yang kini tinggal separuh dengan kelewat santai. Ia memang sengaja memperlambat pulang, setidaknya untuk menghindari Sehun yang kebetulan bertempat tinggal tepat di samping rumahnya. Dengan balkon yang saling berhadapan pula.
Mengingat Sehun membuat Jongin memberengut.
Jongin tidak suka dipermainkan. Dan wajar bukan sekarang ia merasa marah pada Sehun? Baginya sahabat itu sudah terlalu kelewatan. Setelah dengan perasaan tak berdosa memakan semua cokelat (yang ia anggap) pemberian Krystal untuknya, lalu mengikatnya diranjang untuk―eum, begitulah (Itu terlalu memalukan untuk dibicarakan. Jangan paksa dirinya bicara sekarang karena ia takkan mau) Sehun tidak meminta maaf dan menganggap semua biasa saja. Ia bahkan tidak berkomentar apapun saat ia bilang dengan lantang dan jelas jika ia membenci Sehun.
"Sehun sialan...," kesalnya begitu merasa wajahnya mulai kembali berubah warna karena darah yang terkumpul di area itu, saat mengingat kilasan balik kejadian kemarin malam. Dan Jongin tidak suka. Tidak suka dengan sikapnya yang begini ini. Ia merasa dirinya terlalu girly. Ditepuknya pipinya dengan kedua tangan. Menyadarkan dirinya dari pikiran yang sejak semalam menghantuinya. Kenapa tak bisa lupa?
"Kai?"
Jongin cukup tersentak dengan sapaan itu. Tubuhnya bahkan menegang sesaat sebelum kembali melemas saat berbalik melihat siapa yang datang. "Krystal, kau mengagetkanku," meski begitu Jongin tersenyum sumringah begitu gadis itu duduk di kursi sampingnya. Matanya berbinar-binar menatap Krystal yang kini memangku dagu dengan tangannya. Rambut lurus panjangnya tergerak-gerak oleh angin.
"Sedang apa? Belum pulang?"
Jongin menggeleng dan mengangkat cup bubble tea-nya yang tinggal sedikit. Mengulas senyum ramah. "Aku sedang tidak ingin pulang," balasnya sambil menatap lekat bubble tea-nya, yang mengingatkan ia pada sang pecinta bubble tea nomor satu, Oh Sehun. Ha? Apa? Lupakan. Ia 'kan sedang marah pada orang itu. "Kau sendiri, Krys? Tidak pulang?" tanya Jongin perhatian. Berusaha mengulas senyum terbaik miliknya untuk gadis yang ia taksir.
Gadis itu menggeleng pelan. "Aku sedang menunggu seseorang menjemput."
"Oh!" Jongin tiba-tiba saja bersemangat. Menegakkan tubuhnya. "Jika jemputanmu belum datang, aku bisa mengantarmu," tawarnya dengan senang hati.
Krystal menggeleng sambil terkekeh, "Tidak usah." Jongin berusaha menyembunyikan rasa kecewanya mendengar itu saat mengangguk, "Omong-omong, kemana Sehun? Kau tidak bersamanya?" tanyanya kemudian.
Jongin refleks merubah ekspresinya menjadi kesal saat nama sakral itu disebut. "Aku tidak kenal dia," sinisnya sambil mendengus, membut Krystal tertawa. "Kenapa kau menanyakannya?" sidik Jongin sambil meminum bubble tea-nya lagi. Jangan bilang kau menyukainya, tambah Jongin dalam hati. Ia sama sekali tak berharap kisah cintanya pupus bahkan sebelum ia menyatakannya hanya karena Krystal menyukai sahabatnya sendiri sehingga persahabatan dirinya dan Sehun hancur karena wanita. Tunggu―kenapa terdengar mirip sekali dengan jalan cerita dalam drama-drama?
Krystal mengangkat bahunya. "Aneh saja melihatmu tanpa dia. Kalian 'kan pasangan paling romantis di sekolah ini―"
"UHUK!" Jongin tersedak, terlalu syok dengan penuturan itu.
Krystal nampak khawatir. "Kau tidak apa-ap―?"
"APA? Apa maksudmu pasangan?" potong Jongin cepat. Beberapa orang yang berada di sekitar mereka terlihat cukup kaget dengan itu. Tapi Jongin sama sekal tidak peduli.
"Tentu saja maksudku kau dan Sehun, Kai. Kalian adalah pasangan kekasih yang paling fenomenal di sekolah ini. Tidak ada murid yang tidak tahu."
Jongin melotot dengan mulut menganga.
"Kudengar kalian sudah bersama sejak sekolah dasar," sebuah sunggingan senyum jahil tercetak di wajah bungsu Jung itu, "Kalian pasti sangat dekat. Itu keren sekali kau tahu. Menjalin hubungan selama i―"
Sraaaak
Jongin berdiri cepat, menggeser kursinya hingga menimbulkan suara memekakkan telinga. Nampak panik. "TIDAK, KRYS! TUNGGU!" Krystal terlonjak begitu mendapati ucapan bernada seperti itu secara tiba-tiba. "Kau salah paham! Dengar... aku tidak ada hubungan semacam itu dengan Sehun, oke? Dia sahabatku. Kami memang dekat tapi dia adalah sahabatku. Jadi jangan anggap kami begitu. Aku benar-benar tak ada hubungan romatis dengannya!"
"Whoa... santai, Kai. Ada apa denganmu? Kalaupun kalian berhubungan romantispun aku tidak masalah karena kalian―"
"TIDAK! DENGAR AKU DULU!"
Jongin menepis kasar tangan Krystal yang hendak menariknya kembali duduk. Membuat gadis itu termenung menatapnya. "Aku tidak ingin kau salah paham. Aku, dan Sehun, tidak ada apa-apa kecuali sahabat."
"..."
"Kau jangan salah paham. Aku belum punya pacar. Karena―"
Jongin mengatur nafasnya dan meneguk ludahnya.
Haruskah ia mengatakan itu sekarang?
"..."
"...Kai?"
"...?"
"Itu karena aku... eum... karena... A-aku menyukaimu, Krys," ujar Jongin sungguh-sungguh. Tatapannya melembut. "Aku menyukaimu sejak kelas satu."
"A-apa?" Mata Krystal melotot tak percaya.
.
.
.
.
Sehun tidak tahu apa yang ia mimpikan semalam, karena ia bahkan tak tidur, hingga ia dijadikan tempat Jongin bercerita tentang hal-apapun-yang-tak-penting-ini. Ini seperti dejavu. Melihat Jongin kembali berada di kamarnya dan berteriak-teriak seperti orang gila. Bedanya, jika kemarin ia menjerit kesenangan maka sekarang ia tengah menggalau karena patah hati.
"Dia... Krystal dia..."
.
.
"Aku sudah dengan Amber, Kai. Sejak kita kelas dua. Kukira kau sudah, tahu. Maaf tapi... aku sama sekali tak menyangka jika kau menyukaiku."
.
.
"Krystal... dan... Amber... mereka... mereka..."
Sehun meringis dan mengangguk. Tak tega sebenarnya. "Ya, mereka pacaran."
Sehun begitu senang pada awalnya begitu tahu Jongin kembali berkunjung, ia kira Jongin sudah mau memaafkannya dan melupakan kejadian kemarin. Tapi begitu datang, Jongin malah langsung menenggelamkan wajahnya pada bantal Sehun.
Sehun yang melihatnya menjadi sedikit prihatin dan berjalan mendekat. Duduk di samping ranjang dan menepuk bahunya tanda bersimpati. "Sudah, Kai―"
Jongin mengangkat wajahnya dan menatap Sehun tajam. Matanya memerah. "Kau tahu 'kan? Semua ini sudah kau tahu 'kan sejak awal? KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU? dan membuatku tampak begitu bodoh!"
Sehun meringis.
.
.
"Untuk cokelat yang aku berikan padamu kemarin, itu juga adalah pemberian Sulli―bukan dariku. Maafkan aku tidak mengatakannya sebelum ini. Aku... tidak ingin kau salah paham, Kai."
.
.
"Lalu coklat itu? Kau juga tahu bahwa itu dari Sulli dan bukan dari Krystal. Iya 'kan?"
Sehun kembali meringis. Tapi mengangguk kali ini.
Jongin memandang Sehun dengan tatapan terkhianati dan kembali menenggelamkan wajahnya pada bantal. "...Aku benci padamu," desis Jongin.
"..."
Sehun tertegun dalam diam.
Pun saat sosok Jongin hendak bangkit dan berlalu meninggalkannya―
BRUK!
Sehun menarik sosok itu dan membantingnya ke kasur dan menciumnya dengan paksa. Ciuman kasar yang menuntut. Mengabaikan pemberontakan Jongin yang ia terima, Sehun mencengkram dagunya dengan sebelah tangan dan menekannya keras. Membuat Jongin terpaksa membuka mulutnya dan membiarkan lidah Sehun menyapa miliknya.
"Kau membuatku gila...," gumam Sehun begitu melepas ciuman itu. "Kau menyalahkanku? Harusnya kau menyalahkan dirimu yang tidak peka, Kai." Sebuah senyum miris tersungging di bibir pucat Sehun, "Kau bahkan tidak menyadari perasaanku padamu 'kan? Padahal semua orang bisa dengan jelas melihatnya! Bisakah kau tidak mengatakannya. Mengatakan bahwa kau membenciku dengan begitu mudah?!"
Sehun merasa dirinya kehilangan kontrol lagi.
Jongin terpaku.
"...Kau, menyukaiku, Hun?"
Sehun enggan menjawab. Ia sudah menyamankan dirinya di kursi belajar dengan sebuah komik terbuka di depan wajahnya. Terlihat tenang, meski sesungguhnya jantungnya berdebar-debar tak karuan saat sadar Jongin tengah menatapnya intens. Oh sialan, apa yang baru saja aku katakan tadi? Batin Sehun bermonolog.
"Benar? Kau menyukaiku?"
"..."
"Sejak kapan?"
Jongin bangkit dari ranjang itu dan menatap Sehun.
"Sehun..."
Sehun meneguk ludahnya sebelum menjawab tenang dengan nada cueknya. "Jauh lebih lama dari waktu yang kau gunakan untuk menyukai Krystal."
Jongin melotot tak percaya. Astaga. "...Selama itu?" Jongin tertawa, tapi sama sekali tak terdengar seperti tertawa. Ini semua begitu lucu dan tak terduga. "Aku tidak menyangka aku punya sasaeng fans di dekatku selama ini. Jadi semua skinship itu? Itu Cuma akal-akalanmu? Wah, Bodoh sekali aku..."
Sehun menatapnya tajam. Ia hendak bersuara
"...!"
Chu~
Tapi Jongin sudah lebih dulu menyela dengan menempelkan dan menyatukan bibir mereka.
"...kenapa tidak pernah bilang? Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku? Kenapa kau diam saja dan lagi-lagi membuatku nampak lebih bodoh dari sebelumnya! Oh-menyebalkan-Sehun!" keluh Jongin dengan senyuman lebar.
Duk.
Jongin melempar bantal dengan begitu tega ke arah Sehun.
"HEEEEI―"
"Kau tahu? Aku pikir hanya aku yang menyukaimu! Kupikir selama ini aku yang gila sendiri untuk melupakanmu hingga menyukai Krystal!"
Kali ini gilran Sehun yang termangu mendengar pengakuan itu. "...kau...menyukaiku?"
Jongin mengangguk semangat, melupakan yang lain dan meloncat untuk memeluk Sehun, yang masih syok, lebih erat. "Sejak kita SMP, kau bodoh!"
.
.
.
.
Sehun mendorong tubuh itu ke dinding dengan begitu kasar. Ia sedang frustasi dan berlaku lembut akan menjadi pilihan terakhirnya saat ini. Secepat kilat ia kembali menyatukan bibir mereka dalam gulatan lidah panas. Mereka membagi nafas, bertukar saliva dan menggesekkan bagian tubuh mereka dengan harmoni.
―dan kali ini, tanpa ketakutan yang berarti saat melakukannya.
"Kita pacaran 'kan sekarang?"
Sehun sama sekali belum bisa menerima kenyataan ini. Rasanya seperti mimpi.
"Kau menanyakan hal bodoh itu lagi, akan kupukul kau! Cepat lakukan saja~ Ahngg~"
Sehun menyeringai. Miranda Kerr, sepertinya kau harus kehilangan satu fans setiamu mulai hari ini. Lihatlah pemuda di depannya itu, terlihat begitu kepayahan dengan nafasnya sendiri. Tampilan begitu berantakan, tentu saja yang mana menjadi ulahnya beberapa menit berlalu setelah mereka jadian. "Dengan senang hati nyonya OH."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan lagi, mari kita tinggalkan saja mereka.
F I N ~
(Adakah yang berbaik mau menuliskan surat izin sekolah mereka besok?) ^^
