Aku mulai berlari mengitari White Rock Shooter, melompat dari satu atap rumah ke atap rumah lain, dari satu (runtuhan) gedung ke gedung lain. Semata-mata mengulur waktu. Super gun (senjata tembak setinggi dua setengah kaki dengan 10 macam peluru, masing-masing berisi tak kurang dari 150 shoots) belum siap digunakan setelah aku meluncurkan 3 tembakan leser turbo (satu-satunya tembakan yang hanya dapat dilakukan 3 kali setelah 1 jam pengisian energy). Satu-satunya senjataku sekarang adalah black blade, pedang silver dengan pegangan dan sarung hitam. Artinya, aku hanya bisa menyerang dalam jarak dekat.
Tepat setelah aku berada di posisi awal sebelum berlari, White Rock Shooter mengarahkan bazooka ke arahku. Detik White Rock Shooter menembak, skypper datang dari arah berlawanan. Membawaku naik setelah ku pijak permukaan ratanya, menghindari tembakan lurus.
DUARR! Tembakan mengenai reruntuhan gedung yang kini menjadi debu dan kerikil bangunanan. Aku bersyukkur skypper datang tepat waktu. Tanpa alat yang mirip papan seluncur ini, mungkin aku sudah menjadi bagian partikel terkecil di dunia ini.
White Rock Shooter berlari kea rah jam 9. Beberapa saat aku tertegun, menebak apa yang sedang direncanakannya.
Beberapa tombol skypper ku injak. Sepasang besi menyerupai tangan keluar dari sisi kiri-kanan, mengambil super gun lalu menyimpannya di bagian bawah. Kemudian aku berdiri tegak, mengunci satu-satunya sasaran, White Rock Shooter. Aku pasti bisa melenyapkan kloninganku itu. Sekuat-kuatnya dia, dia tak akan lebih kuat dariku. Karena aku, Black Rock Shooter terakhir.
.
BLACK ROCK SHOOTER
~ Siapa Aku? ~
A Fan Fiction by
Kohan44
Chapter 1 :
WHITE ROCK SHOOTER
.
TRING! TRING! TRING..!
Detingan baja dan platina beradu keras. Aku berusaha mempertahankan posisi pegangan pedangku agar tak terlepas. Aku tak bisa mengontrol nafas. Tubuhku terasa dingin meski hampir sejam tubuh ini bergerak terus menerus dan lama-lama aku mulai mati rasa.
CTRANG! Pedangku akhirnya melayang juga, entah kemana. Terpaksa aku menghindar dari beberapa tebasan. Berlari ke sisi lain bangunan. Namun gerakanku kalah cepat, White telah berada di sisi yang ku maksud. Tak ada plihan selain bertarung tangan kosong. Ku layangkan kepalan tangan. Meleset. Sekali lagi ku coba, disusul tendangan samping lalu… meleset! Bagaimanapun juga, White 3x lebih lincah dariku.
SRET! White menarik salah satu kunciran rambutku, menarikku sampai aku menabrak dinding. BUG! Tabrakan yang cukup keras sampai tubuhku mengejang kaget. White mengunciku. Dia bersiap-siap mengayunkan pedang ke arahku. Meski begitu, aku yakin ini bukan akhir. Ku tatap lurus mata White yang semu kemerahan.
SLASH! Bunyi pedang menebas udara. Aku tak berkedip melawan tebasan tersebut. White menghentikan pedangnya tepat di atas kepalaku.
"Hahh.. hahh.. hhhaah. Hhaa.." aku bernafas kasar sementara tatapan tajamku menusuk White. "Pulang!" kataku tegas sembari menjulurkan tangan kanan. White tak bergeming.
BRUKK! Aku terjatuh. Kepalaku berdenyut-denyut nyeri tak karuan. Detik itu penglihatanku putih menyilaukan. Beberapa saat kesadaranku hilang. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Aku harap, waktu ini cepat berlalu. Aku ingin cepat-cepat berada di kamar, berbaring nyaman dengan selimut hangat.
Masa bodo dengan White. Aku butuh waktu, semenit atau lima menit saja untuk membaringkan tubuh ini. Aku lelah, sangat lelah…
"..hiks.. hiks.."
Apa itu? Seperti suara.. tangisan? White kah yang menangis? Aku tak tahu.. pemandanganku buram seutuhnya.
.
.
"Aku lahir saat dunia ini masih stabil. Tapi aku tak ingat dunia ini seperti apa sebelumnya. Aku hanya percaya, jika J.J. tak ada, maka dunia ini akan memiliki warna lain, tak ada hitam.. dan tak ada kelabu..."
"ne? Black…"
"hn?"
"Dari mana kau tahu tak akan ada debu dan kelabu?"
"Black Rock Shooter… Black Rock Shooter yang memberitahuku. Mereka mengajariku, seberapa cantik dunia ini. Aku ingin melihatnya, karena aku lupa.."
"BLACK! Cepat kemari!"
"Eh? Ya, professor, sebentar!"
"Ne.. Black.."
"Ayo White! Makan siaaang!"
"Ne.. Black.."
.
.
"Aku ingin melihatnya, karena aku lupa.."
Wajahnya berseri, seakan kalimatnya tanpa resiko.
"BLACK! Cepat kemari!" panggilan Professor menghentikan kalimat lanjutan Black.
"Eh? Ya, professor, sebentar!"
"Ne.. Black.." aku memanggil lemah.
"Ayo White! Makan siaaang!"
Black tak mendengar, lalu aku memanggil kembali. "Ne.. Black!" Namun Black telah berlari pergi. Punggung mungilnya menjauh. Waktu itu, dia terlihat gadis yang tak memiliki beban sedikitpun. Ringan dan bebas. Apakah aku bisa sekuat dia?
Professor menyeritakan banyak hal tentang Black. Cerita yang Professor paparkan kebanyakannya membuatku kagum. Namun aku hanya menunjukkan wajah datar seolah tak mengerti. Aku menahan diriku untuk tidak memberikan banyak respon. Aku akan mengetahui kebenaran cerita Professor saat aku menemui Black langsung, begitu pikirku saat itu.
Black adalah orang kedua yang ku temui selama aku mengenal kehidupan ini. Dia mengajariku banyak hal walaupun awalnya ku pikir Black tak akan bisa berteman baik denganku. Ada sebesit atmosfir tak nyaman di pertemuan pertama kami. Kekagetan Black melihat seseorang yang sama persis dengannya dan mata kebencian setelahnya.
Dia mengajarkanku warna… mengajarkanku irama dan kebebasan. Aku menikmati pelajarannya meski matanya mengatakan "aku ingin membunuhmu." Dia seseorang yang sabar di kala aku berpura-pura bodoh. Aku, White Rock Shooter, mendapatkan kedewasaan berpikir di usia 10 bulan. Percaya atau tidak, ini berkat ilmu pengetahuan.
Aku menjaga diriku tetap berpura-pura bertingkah kekanakan semata-mata menghilangkan rasa curiga Professor. Ini ku lakukan agar aku mengetahui apa yang tidak ku ketahui. Segalanya berubah ketika aku mendapat ingatan Black. Aku memiliki alasan lain kenapa aku harus bertingkah kekanak-kanakan. Ada ketakutan yang tak bisa diungkapkan oleh sepuluh ribu kata.
Ingatan ini diprogram sebagai ingatan milikku, tetapi kecerobohan membuat program tersebut gagal dan tak disadari oleh Black maupun Professor. Ingatan murniku terjaga dengan baik, itulah yang menyebabkan Private Memory Program tak berfungsi, dan membuatku mengerti penderitaan macam apa yang dipikul Black, sang Black Rock Shooter terakhir.
Black… Dia menjaga senyuman saat matanya berkedut ingin menangis. Dia menjaga tetap diam saat dirinya ingin berteriak frustasi. Aku salut, dengan kebencian yang dia pendam padaku, dia masih bisa mengajariku penuh kesabaran. Aku mengaguminya lebih dari siapapun mengaguminya. Karena aku mengerti, karena aku memiliki sebagian ingatan Black.
"White!"
Black melambai riang ke arahku, mengajakku makan siang bersama Professor. Sekali lagi, dia bertindak seolah tak memiliki beban dan ketakutan. Bahkan mungkin Black jauh lebih hebat dalam hal memasang wajah polos ketimbang aku.
Aku menengadah, menyipitkan mata, menghindari cahaya matahari yang menyilaukan. Angin berhembus kencang. Hari ini tak hujan, jarang ada hujan, tetapi langit setiap hari mendung. Begitu yang Black katakan. Bagiku, langit selalu cerah, karena aku tak tahu langit yang cerah seperti apa yang pernah Black lihat.
Aku ingin bertarung sekuat Black, melawan musuh terbesar di dunia ini; ketakutanku sendiri. Mungkin dengan begitu, aku bisa melihat langit yang dikatakan Black. Faktanya, aku baru berusia 3 tahun dan mentalku masih lemah! Aku tak sanggup. Meski ini egois, namun aku merasa jauh lebih bebas saat kaki ini berlari menjauh dari markas besar. Meninggalkan Black, Professor dan seribu orang yang menaruh harapan padaku.
Ketahuilah, aku hanya bocah biasa… tanpa bahan kimia yang mungkin dapat membunuhku, aku hanya batita… aku dilahirkan sebagai alat pembunuh. Harusnya aku tak mengharapkan impian pribadi. Benar. Tetapi aku adalah manusia, bukan robot. Jika mereka menginginkan alat pembunuh, seharusnya mereka menciptakan White Robot Shooter.
Aku memeluk kedua lututku, menggigit bibir bawah dalam usaha menahan isak. Meski begitu, suara tangis tetap terdengar. Aku tak kuasa. Tuhan, apakah hidupku hanya untuk penderitaan? Agar orang di sekelilingku lebih menghargai kehidupan. Kenapa harus aku yang Engkau pilih? Aku lebih memilih tak pernah diciptakan jika hidup pun penuh duka.
Aku lahir di dunia perang…
PUK! Sesuatu yang dingin menyentuh pahaku. Perlahan-lahan mataku meraihnya, sebuah tangan pucat kurus dengan luka-luka kering dan basah. Mataku menjelajah ke pangkal tangan, menyapu pemandangan yang begitu menyedihkan; coat hitam-putih khas Black Rock Shooter dengan gambar bintang putih yang ujung-ujungnya sobek, berlumpur dan terbakar. Sebelah kunciran rambutnya terlepas dan aku baru menyadari ada begitu banyak luka di sekujur tubuhnya, terutama perut dan kaki. Tanpa sadar, aku berkata dalam hati; Tuhan, dan untuk apa pula Engkau ciptakan orang ini? Untuk Engkau siksa kah?
Hidupku hanya untuk perang?
"..phu.. lang.." katanya lemah dan tersendat. Rasanya aku tak mampu menolak. Lagi pula, ini permintaan kecil. Apakah aku begitu tega dan jahat untuk menolak permintaan macam itu?
Aku takut…
Mungkin, Black tak ingat seberapa dia merasa ketakutan oleh tugas yang dia emban. Karena semua tekanan dan frustasinya kini bersarang dalam otakku. Aku yang memikul segalanya. Aku adalah rasa takutnya.
Kenapa harus aku?
"demi langit biru, apapun akan ku lakukan…" begitu katanya. Masih terekam jelas bagaimana wajahnya hari itu. Wajah yang tak ku sangka kini meratap sedih di bawah kakiku.
Langit biru… seperti apa itu?
.
.
To be continued..
.
.
Hehehe asalnya ini di fandom Black Rock Shooter. Mungkin ini fict BRS pertama yang berbahasa Indonesia. Tetapi karena pembacanya sedikit, jadi aku pindahkan ke fandom vocaloid^^
Aku butuh pendapat, lebih baik ini di taruh di fandom BRS atau vocaloid? Atau di crossover BRSxVOCALOID?
Dan bila diizinkan, aku ingin mengganti judul ff ini menjadi "Tragic". Karena ceritaku mulai melenceng dari tujuan semula. Mohon izinnya m(_ _)m
