Ada Cinta di Komplek Bangtan
Yuuki Azusa present
BTS hanya milik Tuhan semata
Warning : Indo!Setting, typo (s), bahasa non baku, garing. GS! Seokjin, Yoongi, Taehyung, dan Jungkook. Twin!Taehyung.
NamJin, VKook, HopeV, MinYoon
Selamat membaca~
Adzan maghrib sudah berkumandang. Jini bergegas menuju mushollah kecil yang sengaja dibuat di dalam warungnya. Ia akan menunaikan ibadah sholat maghrib disana. Biasanya, Jini akan menutup warung nasgornya sementara dan pergi sholat berjamaah bersama kedua adiknya. Namun, karena Tata sedang tidak boleh sholat—biasa, cewek—dan Mphi sudah capcus sama Jimin untuk sholat berjamaah di masjid depan komplek, mau tidak mau Jini sholat sendirian. Jini menitipkan warung nasgornya sementara waktu pada Tata.
Setelah sholat, Jini segera menata kembali hijab berwarna pink yang ia kenakan tadi dan bergegas keluar dari mushollah. Sekarang malam Minggu. Warung nasgornya pasti akan ramai dikunjungi pelanggan, baik itu para mahasiswa ataupun muda-mudi yang lewat sambil pacaran. Kalau malam Minggu begini, kebanyakan warteg tutup, membuat para mahasiswa kelaparan yang malas masak itu sulit mendapatkan makanan untuk mengisi perut mereka. Jini memanfaatkan peluang ini untuk meraup keuntungan lebih banyak di malam Minggu.
Dan benar saja. Seperti dugaannya, warungnya telah ramai dikunjungi pelanggan. Para mahasiswa atau muda-muda yang lewat setelah sholat maghrib langsung mampir ke warung nasgornya untuk mengisi perut mereka. Tata tampak kewalahan mencatat setiap pesanan pelanggan.
"Teteh udah selesai sholatnya? Cepet kesini Teh, ada banyak pesenan yang harus Teteh buat," ujar Tata. Ia menghampiri Jini yang langsung stand by di depan penggorengan.
"Mphi belum balik juga?" Teh Jini balik bertanya. Ia meraih sebuah penggorengan besar yang selama ini ia gunakan untuk memasak nasi goreng.
"Tau tuh kemana si Aa. Kelayapan dulu kali sama Nchim," gerutu Tata. Ia menyerahkan catatan pesanan pada Jini. "Teh Jini urus makanannya, biar aku yang buat minumannya."
"Ok." Jini segera menerima catatan dari Tata dan mulai membuat pesanan. Ia menyalakan kompor dengan api lumayan besar dan memanaskan penggorengan dengan minyak. Tangannya cekatan memecahkan beberapa telur pada sebuah cangkir dan mengocoknya cepat, lalu memotong sayuran, bakso, sosis, dan ati ampela. Setelah itu, ia menakar nasi yang akan dimasak, lalu menggoreng telur dan menambahkan bumbu. Jini bersyukur dianugrahi tangan yang sangat cekatan dalam hal memasak sehingga ia tidak terlalu kesulitan menghadapi banyaknya pesanan pelangan.
Jini melirik sekilas pada Tata yang sibuk memotong buah, membuat jus, dan meracik teh manis. Ia juga sangat bersyukur adik perempuannya itu juga sangat cekatan. Kalau Mphi ada disini, pekerjaan mereka juga pasti lebih cepat. Mphi memang tidak pandai dalam hal memasak, tapi dia jagonya dalam memotong dan melayani pelanggan. Ia dapat dengan cepat memotong sayuran, sosis, ati ampela, dan bakso yang akan digunakan untuk campuran nasi goreng atau makanan lainnya, juga cekatan memotong buah yang akan di jus. Senyum dan sikap ramahnya juga mampu menyihir pelanggan dan membuat mereka rela menunggu sampai lama demi mendapatkan pesanan mereka.
Sayangnya, pelayan terampil mereka yang satu itu belum juga balik dari masjid. Tata sudah menyiapkan bogeman tangan terbaiknya kalau-kalau si Aa sampai berani kelayapan.
Jini terlalu fokus memasak sampai dia tidak menyadari seorang anak gadis berambut hitam sepunggung itu tengah nyengir lebar di sebelahnya. Sampai tanpa tidak sengaja Jini menyenggolnya, membuat Jini hampir mengeluarkan kebiasaan lattanya.
"Astagfirullahaladzim! Ayam! Ayam! Ayam!" Tuh kan, dia latta. "Kuki, ngagetin Teteh aja deh!"
Kuki yang berdiri di sebelahnya hanya membalas dengan cengiran lebar. "Tetehnya aja sih yang terlalu fokus masak sampai gak sadar Kuki ada disini," keluh Kuki.
"Ya, maaf Kuk. Pesenan lagi banyak banget nih," jawab Jini sambil lanjut masak. "Kuki mau pesen apa?"
Kuki nyengir lagi. "Biasa Teh."
"Nasgor seafood cabenya tiga sendok? Makan sini atau bawa pulang?"
"Sini ajalah, Teh. Di rumah sepi banget. Papa sama Mama lagi tugas ke Jogja. Baru balik Kamis nanti. Jones banget kalo Kuki makan sendirian," Kuki mendadak curhat.
Jini menanggapinya dengan tawaan kecil. "Pasti kalo kesini, Kuki maunya makan ditemenin Mphi kan?" goda Jini. Walau itu hanya sebatas godaan, itu tidak sepenuhnya salah. Jini sudah sangat hapal kebiasaan Kuki. Kalau mampir ke warungnya, Kuki pasti minta Mphi buat nemenin dia makan. Tidak jarang Kuki rela nungguin Mphi selesai ngelayanin pelanggan asalkan ia makan ditemenin Mphi. Duh, dasar bucin.
Kuki tidak menanggapi godaan Jini. Dia cuma senyam-senyum nggak jelas. Tidak mau mengganggu pekerjaan Jini, Kuki memutuskan menghampiri Tata. Siapa tau sahabat yang sudah ia anggap seperti kakaknya itu butuh bantuannya.
"Ta, perlu bantuan gak?" tawar Kuki.
"Wah, boleh Kuk. Kebetulan banget lu disini," Tata berseru senang. Ia menyusun gelas berisi minuman yang sudah dibuatnya di atas nampan. "Tolong anterin ini ke meja 3 dan meja 4 ya," pinta Tata.
"Ok deh," jawab Kuki. Tidak langsung pergi, matanya melirik kanan-kiri, mencari sesuatu. "Aa Mphi kemana Ta?"
Mendengar pertanyaan Kuki yang penuh nada penasaran itu membuat Tata mengulas senyum tidak jelas. "Ciee, nyariin Aa Mphi. Kangen ya?" goda Tata.
Kuki menggeleng cepat. "Ngapain kangen? Tadi pagi sampe sore ketemu mulu," bantah Kuki. "Kuki cuma penasaran aja kok," Kuki ngeles.
"Heleh, dasar bucinnya, Aa Mphi. Gak tau tuh si Aa pergi kemana. Tadi sih ngomongnya mau sholat jamaah di masjid sama Ko Nchim. Tapi belom balik juga," jawab Tata.
Kuki hanya ber-oh ria. Ia menerima nampan yan disodorkan Tata dan membawanya menuju meja yang ditunjukkan.
"Oh ya, Kuk. Kalo lu gak cape, sekalian bantuin Teh Jini anterin pesenannya ya. Kasian dia kewalahan," pinta Tata.
Kuki tersenyum lebar. "Siap. Tenang aja Ta."
Sebuah motor matic berwarna kuning terparkir di depan warung nasi goreng Teh Jini. Dua remaja yang masih mengenakan sarung dan baju kokoh serta peci itu turun dari motor tersebut. Cowok yang tadi duduk dibonceng tampak terburu-buru masuk ke warung. Ia bahkan tidak sadar kalau pecinya miring.
"Eh, Mphi! Belanjaanlu ketinggalan nih!" Nchim menyodorkan kantung plastik besar berisi beberapa botol kecap dan saos serta beberapa susu kental manis kalengan pada Mphi. Mphi berbalik cepat sampai kakinya hampir tersandung sendal jepitnya sendiri.
"Makasih, Nchim," ujar Mphi, lalu berbalik cepat masuk ke dalam warung. Nchim menyusulnya dari belakang sambil berjalan santai.
"Teh, maap Mphi lama. Tadi di warung Bang Hopi ngantri banget. Banyak ibu-ibu belanja. Gak ada yang mau ngalah," curhat Mphi. Ia menyodorkan kantung belanjaannya pada Jini yang malah balik menatapnya bingung.
"Emang siapa yang nyuruh kamu belanja?" tanya Teh Jini heran.
"Tuh, si Eneng," jawab Mphi sambil menunjuk Tata dengan bibir yang dimajukan.
"Napa gak sekalian dah? Kita kehabisan garam sama micin juga," keluh Teh Jini.
Dengan cepat, Mphi melempar tatapan sinis pada Tata. "Napa tadi kagak nyuruh sekalian sih?" keluh Mphi.
"Yeu, mana Tata tau, A. Kan Tata taunya yang habis itu kecap, saos, sama susu," Tata membela dirinya sendiri.
"Ya udah, ntar Eneng aja yang belanja. Aa mau nanganin pelanggan dulu," ujar Mphi. Ia berbalik cepat, mengambil nampan, dan mulai menyusun nasi goreng serta mie rebus yang siap diantarkan pada pelanggan.
"Dih, maen nyuruh-nyuruh bae. Emang situ sapa?" gerutu Tata kesal. Ia paling tidak suka kalau si Aa sudah sok memerintah.
"Ta, ntar kalo mau ke warung Bang Hopi bareng Kuki ya. Kuki mau beli kertas HVS buat tugas seni besok," ujar Kuki.
Mendengar suara manis Kuki membuat Mphi berhenti melangkah dan berbalik sejenak. "Eh, ada Kuki," sapanya sambil nyengir lebar.
"Hai Aa," Kuki membalas manja.
"Kuki makan disini?" tanya Mphi.
"Iya, Aa Mphi. Soalnya Kuki males banget kalau harus makan sendiri di rumah," keluh Kuki.
Mphi tertawa kecil melihat ekspresi Kuki yang menggemaskan. "Ya udah, ntar Aa Mphi temenin. Tapi, Aa ngelayanin pelanggan dulu ya. Kuki mau nunggu kan?"
Kuki mengangguk mantap. "Tentu saja!"
Tata menatap drama di depan matanya datar. "Heuh, dasar bucin," cibirnya.
"Bro, udah sono layanin pelanggan. Ntar tuh nasgor sama mie rebus keburu dingin," Nchim memperingati Mphi sambil menepuk belakang kepalanya pelan. Mphi mendengus. Acara modus-modusannya dengan Kuki diganggu seenaknya.
Setelah Mphi pergi, Nchim segera menghampiri Teh Jini, bermaksud menyampaikan pesanannya.
"Nchim, makasih udah nganterin Mphi ya," tanpa disangka, Teh Jini malah berterima kasih padanya.
Nchim tersenyum sampai matanya menyipit. "Sama-sama, Teh."
"Nchim mau makan disini atau bawa pulang?"
"Sini aja, Teh. Kayak biasa ya."
"Kwetiau goreng dengan telor ceplok kan?"
"Cakep, Teh Jini emang terbaik. Jangan pedes-pedes ya Teh."
Teh Jini tersenyum. Dia memang sudah hapal pesanan pelanggan tetapnya di luar kepala. Bukan hanya Nchim dan Kuki, pelanggan lain yang sering datang kesini pun Jini hapal pesanan mereka. Walau terkadang mereka berganti-ganti pesanan, ingin mencoba masakan Jini yang lain, katanya.
Sambil menunggu pesanannya dibuat, Nchim berbalik mencari tempat duduk. Semua tempat duduk hampir penuh. Hanya tersisa meja untuk enam orang. Daripada menunggu sambil berdiri, Nchim memutuskan untuk duduk disana. Sebenarnya, Nchim risih juga. Ia masih pakai baju kokoh serta sarung plus peci karena tadi habis sholat berjamaah di masjid. Tapi, Nchim terlalu malas melangkahkan kakinya untuk sekedar pulang ke rumah dan berganti pakaian. Perutnya terlalu lapar sampai ia memutuskan langsung mampir kesini. Pulang pun percuma, sang Mami tidak masak hari ini dan menyuruh Nchim cari makan di luar.
Bosan juga menunggu makanan tanpa melakukan apa-apa, Nchim mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku baju kokohnya dan mulai hanyut bermain Mobile Legend.
"Nchim, gue boleh duduk disini kagak?"
Nchim terperanjat. Suara manis tanpa aksen feminim itu membawanya pada kenyataan. Ponsel yang sedang ia mainkan sejak tadi langsung terabaikan. Kini, seluruh atensinya terpusat pada sosok manis berkulit putih di hadapannya.
"C-C-Ci Ugi?" Nchim terbata, reaksi biasa yang ia berikan setiap kali bertemu pandang dengan sang gebetan.
Suga mengangkat alis kirinya, menatap Nchim bingung.
"Nchim, lo ngapa dah? Kok lu ngeliat gue kek ngeliat setan aja sih?"
"B-b-bukan begitu, Ci Ugi. Nchim cuma kaget, hehehe." Nchim buru-buru konfirmasi, takut Suga salah paham dan tersinggung.
"Oh, ya udeh, maap. Terus, gue sama Momon boleh kagak duduk disini?" Suga mengulang pertanyaan yang sempat ia tanyakan tadi karena Nchim tak kunjung menjawab juga.
"O-oh, boleh kok, Ci Ugi," jawab Nchim masih gugup.
Suga tersenyum kecil, sementara Mas Jun yang berdiri di sebelahnya cuma mesem-mesem gak jelas. Reaksi Nchim tiap kali ketemu Suga emang lucu. Mas Jun seneng aja negliatnya.
"Mon, sini duduk sebelah gue," ujar Suga. Suga sendiri duduk di depan Nchim.
"Jangan panggil gue begitu napa, Ci," jawab Mas Jun sambil duduk.
"Lah, emang ngapa dah? Biasanya juga gue manggil elu begitu."
"Ya, gue gak suka aja."
Tak lama kemudian, Mphi datang dengan sebuah note kecil untuk mencatat pesanan pelanggan.
"Selamat datang di Warung Nasi Goreng Teh Jini. Mau pesan apa?" sambut Mphi sopan.
"Elah, kagak usah pake sambutan begitu napa. Kek sama siapa aja lu, Mphi," Suga berkomentar. Ia tak suka.
"Ya, elu kan pelanggan gue juga, Ci. Gue juga harus nyambut elu dengan sambutan yang biasa gue kasih ke semua pelanggan gue," jawab Mphi nyolot. Mata elang Mphi melirik Mas Jun yang duduk di sebelah kanan Ci Ugi. Kemudian, ia tersenyum miring.
"Cowok baru lu ya, Ci?" pertanyaan Mphi sukses membuat satu hati disana patah. Dasar tidak peka.
"Bukan, dia sodara jauh gue. Emang lu kagak tau?" jawab Suga santai.
"Kagak, baru pertama ngeliat."
"Ya udah," Suga melirik Mas Jun yang malah balik menatap bingung. "Mon, kenalan dulu sono."
"Eh, harus kenalan ya?"
"Udeh, kenalan aja. Kalo lu akrab sama yang punya warung ini, lu bisa sering-sering dapet diskon."
Mendengar penuturan Suga membuat Mas Jun tergiur untuk berkenalan dengan Mphi. Walau sebenernya, dia ngarep dapet diskon doang.
"Nama gue Kim Namjoon. Lu bisa panggil gue Jun. Salam kenal ya," ujar Mas Jun sambil menjulurkan tangannya dan tersenyum ramah.
"Mahasiswa?" bukannya balas mengenalkan diri, Mphi malah balik bertanya. Mas Jun hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Semester?"
"Tiga."
"Oh," Mphi angguk-angguk sok tau. "Kalo gitu, kenalin. Saya Kim Taehyung, tapi orang-orang disini lebih seneng manggil saya Mphi. Saya masih SMA kelas tiga. Salam kenal ya, Mas Jun," ujar Mphi mendadak sopan. Mas Jun sempat melongo melihat perubahan raut muka Mphi, dari yang sebelumnya ramah kemudian berubah songong terus balik lagi ke ramah.
"Cewek yang lagi bikin jus itu adek kembar saya, namanya Tata. Terus yang lagi masak nasi goreng itu kakak saya, namanya Teh Jini." Bahkan ia juga mengenalkan sang kakak plus adeknya.
Mas Jun angguk-angguk aja. Matanya sempet berhenti merhatiin Teh Jini. Mas Jun pun menyimpulkan kalo tiga kakak beradik pemilik warung nasi goreng ini memang berbeda dari yang lain. Buktinya, satu keluarga mereka mukanya cantik plus ganteng semua.
"Jadi, Ci Ugi sama Mas Jun mau pesen apa?" Mphi kembali ke pertanyaan awalnya karena ia juga harus cepat-cepat mencatat pesanan mereka.
"Kek biasa aja lah Mphi, nasi goreng pete," jawab Suga.
Mphi langsung mencatat pesanan kesukaan Suga. "Kalo Mas Jun?"
"Gue mie rebus aja," jawab Mas Jun.
"Ok, minumnya?"
"Es teh manis aja lah. Kantong gue lagi tipis," jawab Suga.
"Mas Jun?"
"Samain aja lah."
"Ok."
Setelah selesai mencatat pesanan Suga dan Mas Jun, Mphi kembali ke dalam warung untuk memberikan pesanan itu pada Teh Jini dan Tata. Dia sendiri kembali sibuk melayani pelanggan yang lain.
Sementara itu, kembali ke meja dimana Nchim, Suga, dan Mas Jun duduk, tampak mereka bertiga duduk diam tanpa bicara sedikitpun. Suga sibuk pada ponselnya, begitu juga Mas Jun. Nchim sendiri diem kayak patung saking canggungnya.
Merasa tidak enak dengan suasana sekaligus kasian dengan Nchim yang didiemin terus, Mas Jun pun berinisiatif membuka obrolan.
"Ko Nchim, lu kelas tiga kan ya sekarang? Satu sekolah kagak sama Mphi?" tanya Mas Jun.
Nchim sedikit tersentak. Mas Jun ini jarang banget ngajak dia ngobrol sampe Nchim mikir kalo Mas Jun ini sama judesnya kayak Suga.
"Iya, Mas. Nchim sama Mphi satu sekolah terus dari SD. Bahkan kami gak pernah beda kelas. Nchim sampe bosen ketemu Mphi terus," jawab Nchim, sedikit dengan curhatan. Mas Jun tertawa.
"Keknya lu sama Mphi jodoh deh Nchim. Makanya barengan terus," celetuk Suga. Mata sipitnya masih terfokus pada ponsel.
Nchim mengerucutkan bibirnya lucu, pura-pura merajuk. "Ih, kagak mao lah, Ci Ugi. Masa sih jodoh Nchim cowo? Si Mphi lagi. Idih, ogah amat," ujar Nchim dengan muka geli najisnya.
"Eum… mungkin aja lu jodohnya ama Tata?"
"Kagak lah, Ci Ugi. Tata mah udah kayak adek Nchim sendiri," jawab Nchim.
"Jahahaha, kena kakak-adek zone nih ceritanya?" Suga belum puas menggoda Nchim. Ponsel yang tadi ia mainkan sudah terlepas dari tangannya.
"Ih, Ci Ugi mah…" Nchim kesel. Suga ini kagak peka banget. Padahal Nchim kan sukanya sama dia, tapi dia malah ngeledekin Nchim sama yang lain. Udah gitu, kayaknya Suga salah paham dan mengartikan ekspresi ngambek Nchim yang sekarang adalah ekspresi malu-malu karena Nchim yang gak mau ngakuin perasaannya buat Tata. Padahal mah Nchim kagak pernah naksir sama Tata.
"Atau jangan-jangan, jodoh lu si Kuki? Tuh anak kan nempel mulu sama elu."
Nchim bodo amat. Dia diem aja, males nanggepin Suga. Sementara Mas Jun kini kebingungan.
"Kuki? Siapa lagi tuh, Ci?"
Pucuk dicinta, Kuki pun tiba. Saat dirinya tengah dibicarakan, itu anak nongol sambil lompat di sebelah Nchim. Dia nyengir sambil mamerin dua gigi kelincinya.
"Nah, itu Kuki," jawab Suga sambil menunjuk Kuki dengan dagunya.
Merasa terpanggil, Kuki langsung nengok. "Kenapa Ci?"
"Nih, ada yang mau kenalan sama lu."
Mas Jun menatap kesal pada Suga yang seenaknya ngomong kalo dia mau kenalan sama Kuki. Walau gak sepenuhnya salah sih.
"Oh, lu yang namanya Kuki?" tanya Mas Jun. Kuki cuma ngangguk.
"Pacarnya Nchim?"
Kuki menggeleng cepat. "Bukan. Kuki bukan pacarnya Nchim. Mas sendiri siapa? Pacarnya Ci Ugi?"
Kini Mas Jun yang menggeleng. "Bukan, siapa juga yang mau pacaran sama cewek kek dia."
Suga membalas ucapan Mas Jun dengan tatapan tajam. Mas Jun sendiri gak peduli, udah biasa.
"Gue Jun, sepupu jauhnya Ci Ugi," ujar Mas Jun memperkenalkan diri.
"Oh, sepupu jauhnya, toh. Kuki kira Mas pacarnya Ci Ugi."
"Gue kira juga lu pacarnya Nchim."
Nchim mendengus. "Kuki udah punya pacar dan pacarnya itu bukan Nchim."
"Terus sapa? Mphi?" Suga menebak sambil tertawa.
"Iya," Nchim menjawab asal. Kuki langsung gelagapan.
"Ih, apaan sih? Kuki bukan pacarnya Aa Mphi!"
"Emang bukan. Lebih tepatnya belum."
Kuki kicep. Mukanya langsung memerah. "Ih, Ko Nchim mah…"
Suga dan Mas Jun yang melihatnya langsung menyadari kalau Kuki memang naksir si Mphi.
Tak lama kemudian, Mphi datang bersama Tata. Mphi membawa tiga piring makanan, sedangkan Tata membawa lima gelas minuman. Mphi meletakkan ketiga piring makanan itu diatas meja, begitu juga dengan Tata. Nampan yang tadi dibawa Mphi seenaknya ia berikan pada Tata.
"Nih Ta, bawa balik. Aa mau makan dulu," ujar Mphi lalu duduk di sebelah Kuki.
"Ih, dasar," keluh Tata kesal. Namun, ia kembali tersenyum ramah sambil menatap Suga dan Mas Jun.
"Makanannya nanti nyusul ya, Ci Ugi. Nanti dianterin sama Teteh," ujar Tata.
"Ok Ta," jawab Suga.
Setelah Tata pergi, perhatian Suga kembali teralihkan pada Mphi yang makan di sebelah Kuki. Nchim sendiri juga sudah makan duluan dan sempat menawarinya dengan ramah.
"Kok lu disini sih Mphi?" tanya Suga. Bukannya gak suka, Suga cuma risih aja kalo ada tuh anak.
"Kagak boleh emang? Nih bangku kan punya gue juga," jawab Mphi nyolot.
"Yeu, dasar nih anak," Suga kesel. Mphi kalo ngomong sama dia bawaannya selalu ngegas. Selalu bikin Suga naik darah. "Bukannya bantuin Teteh lu lagi sono."
"Gue laper, Ci. Belom makan malem. Lagian juga kan Kuki kalo makan maunya ditemenin sama gue."
"Yeu, dasar bucin," cibir Suga. Ya, inilah yang membuat Suga risih. Dimanapun dan kapanpun, Mphi sam Kuki demen banget nempel sambil sok romantisan segala. Padahal pacaran mah kagak.
"Bacot lu, Ci. Bilang aja lu iri," Mphi balik mencibir. Hampir saja Suga melemparnya dengan segelas es teh manis di hadapannya kalau saja Mas Jun dan Nchim tidak mencegahnya.
Mphi sama Kuki sendiri kagak peduli. Mereka lanjut makan sambil sesekali suap-suapan.
"Dasar anak jaman now," Mas Jun mengelus dada dalam hati.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pesenan Suga dan Mas Jun datang juga. Teh Jini sendiri yang langsung mengantarkannya.
"Maaf ya nunggu lama, selamat menikmati," ujar Teh Jini sambil tersenyum manis sekali. Mas Jun sampe gak kedip selama beberapa detik karena terpesona.
"Gila, nih cewek cakep bener. Kayak bidadari," batin Mas Jun alay.
"Gak papa, The. Makasih loh ya," jawab Suga sambil senyum juga.
Teh Jini sendiri kini memperhatikan Mas Jun karena merasa asing dengan wajahnya.
"Kamu pelanggan baru ya?" tanya Teh Jini. Teh Jini ini hapal banget sama semua muka pelanggannya, sekalipun ia gak hapal nama mereka. Karena itu, Teh Jini bakal tau kalau ada pelanggan baru yang datang ke warung nasgornya.
"Ya, begitulah Teh," jawab Mas Jun malu-malu. Suga sendiri jijik ngeliat muka Mas Jun yang malu-malu najis begitu.
"Oh, mahasiswa Bangtan juga?" tanya Teh Jini lagi.
"Iya, Teh. Semester tiga jurusan ilmu pemerintahan," jawab Mas Jun.
"Kalo gitu, kenalin. Saya Seokjin. Panggil aja Teh Jini. Saya juga mahasiswa Bangtan jurusan bisnis semester tujuh," ujar teh Jini sambil tersenyum ramah.
"Wah, udah masa sibuk-sibuknya dong Teh."
"Ah, gak juga. Kamu sendiri namanya siapa?"
Mas Jun menepuk jidatnya menyadari kebodohannya karena belum menyebutkan namanya.
"Saya Kim Namjoon, Teh. Panggil aja Jun."
"Panggil Momon juga boleh, Teh," Suga menyeletuk disela-sela kegiatan makannya. Mas Jun dengan cepat menginjak kaki Suga karena kesal.
"Kamu ngekos atau pulang pergi?" tanya Teh Jini lagi.
"Ngekos, Teh. Di kosannya Ko Nchim. Tapi baru seminggu."
Teh Jini angguk-angguk. "Oh begitu."
"Si Jun ini sepupu saya Teh. Katanya dia capek pulang pergi mulu makanya minta ngekos deket saya," Suga ikutan nimbrung.
"Oh, pantes kalian rada mirip," ujar Teh Jini.
"Mirip apanya, Teh? Jauh banget malah," Suga tertawa.
"Ci Ugi bilang makanan disini enak, makanya saya mau coba Teh," ujar Mas Jun.
"Oh gitu? Semoga kamu suka masakan saya ya."
"Udah saya cobain kok Teh mie rebusnya tadi. Muantap banget dah," ujar Mas Jun dengan sedikit dilebih-lebihkan. Teh Jini hanya tertawa.
"Ya udah, selamat makan ya. Saya mau bikin pesenan pelanggan yang lain lagi," ujar Teh Jini.
Setelah itu, Teh Jini kembali ke balik penggorengan dan kembali memasak. Mas Jun sendiri masih belum melepas pandangannya dari Teh Jini sambil masih tersenyum lebar.
"Kayaknya si tukang modus naksir sama Teh Jini nih," Suga mulai lagi dengan kebiasaan nyinyirnya. Mas Jun hanya meliriknya sinis.
"Mphi, mulai sekarang lu harus jaga Teteh lu lebih ketat. Jangan sampe dia jadi korban modusnya si Momon ya," bisik Suga.
"Siap 86, Ci Ugi!" ujar Mphi sambil menunjukkan jempolnya.
Mas Jun mendengus, sedangkan Nchim dan Kuki hanya tertawa.
"Ta, mau jalan kaki atau naik motor?"
Tata yang baru selesai mencuci gelas menoleh pada Kuki yang sudah berdiri di sebelahnya.
"Ke warung Bang Hopi doang sih, deket banget. Nagapain pake motor," jawab Tata.
"Ya, kali aja lu capek dan gak mau jalan."
Tata diam sebentar sambil terus menatap Kuki. "Emang lu sendiri bawa motor?"
Kuki nyengir. "Kagak."
"Yeu, semprul."
Teh Jini muncul dengan sebuah kertas kecil berisi list belanjaan yang harus Tata beli plus kantong plastik hitam berisi sebungkus nasi goreng dan jus stroberi.
"Nih, sekalian anterin pesenannya Bang Hopi. Jangan lupa minta duitnya," ujar Teh Jini.
Emang sih, warung Teh Jini juga nerima delivery. Tapi gak setiap hari juga. Cuma orang-orang tertentu juga yang bisa pesen. Soalnya mereka kekurangan pegawai. Biasanya sih yang bagian delivery itu si Mphi, kadang-kadang dibantuin juga sama Nchim.
Tata segera mengambil list belanjaan beserta bungkusan yang Teh Jini berikan. Setelah itu, ia bergegas menuju warung Bang Hopi bersama Kuki.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke warung Bang Hopi. Untung saja warung sedang sepi saat mereka sampai disana, sehingga mereka tidak perlu lama mengantri membeli barang yang mereka perlukan. Kebetulan juga, Bang Hopi udah stay di depan warung, lagi nonton youtube.
"Bang Hopi! Tata mau beli dong!" Tata berteriak kencang, kebiasaan yang sering ia lakukan setiap kali ke warung Bang Hopi. Padahal mah, Bang Hopinya ada di depan mata. Kuki sendiri sampe tutup telingan saking kencengnya suara si Tata.
"Eneng gak usah teriak bisa kan? Bang Hopi gak budeg kok, Neng. Bisa denger suara merdu Eneng dengan jelas," keluh Bang Hopi yang diselipkan dengan sedikit gombalan.
"Yah, maap sih, Bang. Udah kebiasaan," jawab Tata sambil nyengir.
Bang Hopi tersenyum kecil. "Ya udah, tapi jangan diseringin ya. Kamu kan cewek. Cakep lagi. Gak pantes teriakan kayak gitu," ujar Bang Hopi.
Si Tata malah senyum-senyum gak jelas. "Iya deh, Bang," jawabnya nurut.
"Ya udah, Eneng Tata mau beli apa?"
Tata melirik Kuki yang diem di sebelahnya. "Kuki duluan."
Bang Hopi baru sadar kalau si Kuki juga ikut. "Kuki mau beli apa?"
Kuki diam sebentar, mengingat apa yang harus ia beli. "Kertas HVS, Bang. Beli serebu aja. Sama pensilnya satu."
Bang Hopi segera berbalik untuk mengambil pesenan Kuki. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sepuluh lembar kertas HVS plus sebuah pensil.
"Jadi berapa Bang?"
"Empat ribu, Kuk."
Kuki segera membayar. Kini, giliran Tata belanja.
"Ini list barang pesenan Teh Jini, Bang. Tapi yang mau diambil sekarang itu garam, micin, gelas plastik, sama kertas nasi," ujar Tata.
"Ok, Neng. Bentar ya, Abang siapin dulu."
Sebelum Bang Hopi berbalik, Tata kembali memanggilnya. "Oh ya Bang, ini pesenan nasi goreng sama jus stroberinya," ujar Tata.
Bang Hopi menerima pesenannya dengan senang. "Wah, makasih Neng. Gratis kan ya?"
"Ih, kagak lah Bang. Nunggu Eneng kaya baru Eneng kasih gratis."
"Dih, dasar dah. Ya udah, Abang doain Eneng cepet kaya dah," ujar Bang Hopi.
"Aamiin," jawab Tata.
"Iya, biar Eneng cepet-cepet bisa nikah sama Bang Hopi," gombal Bang Hopi sambil ketawa.
"Ih, gak lah. Kalo Eneng kaya, yang ada Eneng yang biayain. Eneng gak mau lah. Kalo Bang Hopi mau nikah sama Eneng, Bang Hopi harus kaya dulu, biar kita nanti hidupnya kagak melarat," ujar Tata.
Bang Hopi sedikit melongo. Padahal niatnya mah cuma gombal, tapi dia gak nyangka kalo si Tata bakal nanggepin. Gak tau sih tanggepannya itu serius atau cuma bercandaan. Soalnya si Tata ini polos banget. Jalan pikirannya susah ditebak.
"Hehehe, ya udah. Tata mah doain aja Abang cepet-cepet sukses. Biar Abang bisa daftar trainee dan jadi artis di Korea. Nanti Abang bakal bawa Eneng ke Korea juga kok. Kita bisa tinggal disana."
Tata tertawa. "Makanya, Abang banyak latihan biar Abang bisa ngalahin dancernya BTS, si J-Hope itu."
"Ah, J-Hope doang mah gak ada apa-apanya buat Abang," Bang Hopi mulai songong.
Sementara dua orang itu mengobrol mesra, Kuki kicep sendiri menonton opera sabun di depannya. Kuki tau kalau Bang Hopi ini demen godain cewek. Hampir semua cewek yang datang ke warungnya digodain sama dia. Tapi beda ceritanya kalo yang datang si Tata. Kalo udah ada Tata, semua cewek di mata Bang Hopi gak ada bedanya sama kentang. Bakal dia kacangin selama kecengannya ada disana. Toh, udah banyak yang tau kok kalo Bang Hopi ini naksir sama Tata. Si Tatanya juga keliatannya sih. Cuma karena gak peka aja jadi mereka sampe sekarang belum jadian juga.
Kuki sebenernya bosen juga. Walau udah biasa jadi obat nyamuk setiap kali nemenin Tata ke warung Bang Hopi, tapi rasanya gak enak juga lama-lama disana. Kuki pengen cabut, tapi dia gak enak kalo ninggalin Tata sendirian.
"Ngomong-ngomong, Eneng cakep banget deh pake baju pink gini," ujar Bang Hopi tiba-tiba.
Tata melongo. Ia menatap baju yang dipakainya. Warna hitam, bukan pink. Ia melirik baju Kuki. Warna ungu.
"Bang Hopi ngomong paan dah? Kan Eneng pake baju item, bukan pink," jawab Tata bingung.
"Oh, ternyata bener ya."
Lagi-lagi Tata dibuat bengong oleh ocehan Bang Hopi yang gak jelas. Kuki sendiri punya firasat kalau Bang Hopi mau macem-macem.
"Apanya yang bener Bang?" Tata memastikan saat Bang Hopi tak kunjung bicara.
"Ternyata bener kalau cinta itu bisa bikin buta," ujar Bang Hopi. Ngegombal.
Kuki memutar matanya. "Mulai lagi kan."
Sayangnya, gombalan Bang Hopi gak nyampe ke Tata.
"Apaan sih? Punya mata normal malah minta buta. Udah deh Bang, jangan macem-macem. Cepet ambilin pesenan Eneng. Eneng pengen cepet pulang, pengen tidur."
Yang ada Bang Hopi malah kena omelan. Bang Hopi cemberut, gombalannya gak ditanggepin. Ia berbalik mengambil pesenan tanpa ngomong sedikitpun.
Sementara Kuki ketawa puas.
"Lain kali, peka dikit dong, Ta," ujar Kuki disela tawanya. "Kasian juga Bang Hopinya," lanjutnya dalam hati.
Seperti inilah malam minggu yang dijalanin anak-anak Bangtan. Kalian sendiri gimana?
Author's note :
Niatnya pengen bikin pendek dan dipost malem minggu. Cuma gak sempet nulis dan hasilnya malah sepanjang ini. Maap kalo garing.
Makasih buat yang udah review dan baca. Balasan reviewnya lewat PM aja, mohon ditunggu!
