Maaf baru bisa update sekarang karena baru selesai ujian semester.

Sedikit penjelasan yang saya pakai hanya karakter. Saya tidak menggunakan nama dungeon atau continent di Grand Chase, tetapi nama karangan saya sendiri.

Nah langsung saja ke cerita.

Fortess of Doom

Setelah 10 tahun lamanya, akhirnya Jin kecil sudah tumbuh remaja. Wajahnya yang tampan pun banyak dikagumi oleh para gadis di desa tempat Jin tinggal. Tidak hanya wajahnya yang tampan dan badan yang sixpack, tapi dia mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi hingga ia mendapat beasiswa gratis dari pihak sekolah. Walaupun tinggal di desa, Jin bersekolah di kota Madan, kota yang sangat luas. Jin pergi ke sekolah jalan kaki karena jarak dari desa tempat Jin tinggal sangat dekat dengan kota Madan. Dia tinggal dengan seorang pengasuhnya sejak bayi, Cress. Cress sudah sangat tua, tapi badannya kelihatan sehat karena ia rajin berolahraga. Jin sangat menghormati sang pengasuh ia menganggap Cress sebagai kakeknya sendiri. Setiap pulang sekolah Jin selalu menolong kakeknya, menolong membuat makanan, ataupun pekerjaan. Tapi semua ini akan berubah pagi ini.

"Jin, sudah saatnya ke sekolah!" terdengar teriakan dari sang pengasuh Jin yang bernama Cress.

"Iya aku tau," Jin menjawab dengan malas, karena ia masih mengantuk. Anak berumur 16 tahun itupun segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.

Ia pun dengan cepat memakai seragamnya karena ia terkejut saat melihat ternyata sudah jam 6.45. karena 15 menit lagi masuk sekolah.

"Aku berangkat ya!" Jin berkata pada pengasuhnya dan langsung berlari menuju kesekolahnya.

"Sudah 16 tahun aku merawatnya, tidak terasa ya, apakah aku akan bilang perkataan Guy kepadanya, bahwa Kai adalah kakeknya?" terlihat muka Cress yang bingung.

Flashback:

"GUY! Ternyata kau selamat ya? Mana Kai dan Elena?" Tanya Cress.

"Kami memang sudah mengalahkan Thanatos, tapi Kai dan Elena…." Terlihat muka Guy sedih.

"Mereka terperangkap di istana Thanatos." Jawab Rena.

"Apa? Jadi ayahku?" tiba-tiba seorang laki-laki dewasa berambut merah dan berperawakan tampan,tinggi,dan tubuh yang atletis keluar dengan wajah sedih.

"Ya…" jawab Guy dan Rena.

"Cress.." kata orang laki-laki berambut merah itu.

"Ada apa Gin?" Tanya Cress.

"Kau jaga anakku, Jin, aku akan mencari ayahku!" jawab laki-laki berambut merah itu yang ternyata bernama Gin.

"Eh?" Cress terkejut.

"Sudahlah aku pergi dulu!" Gin pun berlari menjauhi Cress,Guy,dan Rena.

"Cress, sebaiknya kau menjaga Jin," kata Guy.

"Kenapa harus aku?" Tanya Cress.

"Karena kau sudah dipercaya 2 orang temanmu, Kai dan Gin, mereka berdua menitipkan anaknya kepadamu," jawab Guy.

"Eh… ta-tapi…"

"Sudahlah aku juga mau pulang, jaga dia ya Cress, aku juga percaya kepadamu, Rena ayo kita pulang," Guy dan Rena pun meninggalkan Cress dan Jin.

"HUEEEEEKKKK!" terdengar suara tangisan bayi dari rumah Cress.

"Baiklah, ini demi temanku. Aku akan merawatmu Jin, tenang saja…" Cress pun memeluk Jin dengan hangat.

End Flashback.

Kembali ke Jin. Skip Time sesampainya di Sekolah.

Jin yang saat itu baru memasuki kelasnya mendengar pembicaraan teman-temannya.

"Oi tau gak? Nanti ada anak baru loh! Pindahan dari kota sebelah!" seru seorang anak.

"Aku tau tuh, katanya sih dia itu pesulap cilik," anak yang lain pun menjawab.

Tiba-tiba kelas diam saat seseorang memasuki ruangan kelas.

"Selamat pagi anak-anak!" guru pun memasuki kelas.

"Selamat pagi bu!" seru semua murid.

"Nah kalian kedatangan murid baru pindahan dari kota Pilaf, nah ayo masuk." Kata sang guru.

"Waah cantiknya!" seru seluruh murid kecuali Jin,ia sepertinya mengambil kesempatan ini untuk mengerjakan PRnya karena kemarin ia tidak sempat karena kemarin malam ia menonton "NNN (Nenek-nenek Narsis)."

"Perkenalkan dirimu dulu kepada teman-temanmu!" seru sang guru.

"Nama saya Amy, saya dari Kota Pilaf, salam kenal, boleh saya duduk?" Tanya gadis itu yang langsung membuat satu kelas menganga kecuali Jin dan guru.

"Duduk disebelah Jin ya, itu ada bangku kosong didekatnya." Jawab guru.

"Yang disebelah laki-laki yang sedang mengerjakan sesuatu itu?" Tanya Amy dan sukses membuat Jin terkejut.

"Mengerjakan sesuatu? Jin apa yang kau kerjakan?" Tanya guru.

"Saya sedang menggambar bu!" jawab Jin dan langsung menutup buku PRnya karena takut ketahuan.

"Sini ibu liat," guru itupun datang ke tempat Jin dan melihat buku PRnya yang padahal tinggal sedikit lagi selesai.

"Jin….. BERDIRI DI DEPAN!" seru guru itu.

"Iya bu.." Jin pun maju dengan lesu ditambah dengan suara tawa teman-temannya.

"Hahahahaha!" Amy pun ikut tertawa.

"Apaan sih? Kamu kenapa memberitau ibu kalau aku sedang mengerjakan PR?" Tanya Jin saat berdiri didepan bersama Amy.

"Hah? Aku bilang kamu mengerjakan PR? Kamu tuli ya? Aku bilang tu 'Yang disebelah laki-laki yang sedang mengerjakan sesuatu itu?' begitu kataku, aku nggak bilang kalau kau mengerjakan PR kok," jawab Amy panjang lebar.

"Argh sudahlah…" Jin pun mengalah, karena walaupun tubuhnya seperti Abang Rai, dia lemah terhadap perempuan.

"Nah Amy silahkan duduk," kata guru itu.

"Baik bu, aku duduk dulu ya, bye," Amy pergi meninggalkan Jin sambil mengedipkan mata kearahnya dan membuat wajah Jin memerah.

SKIP WAKTU.

TENG TONG. Bel tanda pulang pun berbunyi, Jin bersiap-siap pulang kerumah.

"Oi Jin lain kali jangan lupa ngerjakan PR ya, jangan nonton Nenek-Nenek Narsis terus, hahahahaha," tawa seorang temannya yang berambut oranye.

"Hahahaha, kau emangnya nonton, Ryan? Bintang tamunya bagus-bagus loh!" seru Jin.

"Nggak nonton, padahal mau nonton tapi aku ngantuk, jadi aku ketiduran deh emangnya siapa bintang tamunya?," tanya teman Jin berambut oranye, Ryan.

"Itu si Alga Saputri dengan Ivankov Gunawan," jawab Jin.

"Hahahaha, udah dulu ya Jin, aku pulang dulu.." kata Ryan dan meninggalkan Jin sendirian diruangan kelas yang sepi itu.

"Iya," jawab Jin singkat.

Setelah Ryan pergi meninggalkan kelas, tiba-tiba seseorang gadis berambut Merah muda masuk ke ruang kelas itu.

"Jin," kata gadis berambut pink itu.

"Eh! Kenapa Amy? Kau belum pulang?" Tanya Jin.

"Aku belum dijemput oleh ibuku," jawab Amy.

"Ooh, mau kuantar pulang?" Tanya Jin.

"Eh rumah aku dan kau kan berjarak jauh," jawab Amy terkejut.

"Nggak mau aku antar nih?" tanya Jin.

"Gimana kalau aku kerumahmu aja? nanti aku minta jemput disana, rumahmu ada telepon kan?" tanya Amy.

"Iya ada dong, walaupun aku tinggal di desa tapi listrik, air, telepon pun sudah masuk ke desaku," jawab Jin.

"Ok, ayo kita kerumahmu!" seru Amy.


Ketika mereka hampir mau sampai di desa tempat Jin tinggal, banyak terdapat kejanggalan, seperti pohon yang rubuh, tanah yang pecah seperti terjadi gempa, dan hal aneh lainnya.

"Ada yang tidak beres..." kata Jin.

"Ada apa Jin?" tanya Amy.

"Ayo kita harus cepat perasaan aku tidak enak!" seru Jin sambil menarik tangan Amy untuk berlari ke arah desa Jin, hal itu membuat wajah Amy memerah.


Sesampainya di desa memang benar, desa itu telah hancur, banyak mayat di tanah, seperti ada bekas perang.

"Jin, kenapa desamu?" tanya Amy dengan wajah takut.

"Cress!" Seru Jin yang langsung menuju rumahnya.

"Jin tunggu," Amy pun mengejarnya.

Sesampai dirumah Jin, ia melihat Cress dengan wajah yang penuh darah dan bajunya sobek-sobek.

"Cress! Apa yang terjadi barusan?" tanya Jin.

"Uggghh, Jin? kaukah itu?" tanya Cress dengan nada pelan.

"Iya! Cress apa yang terjadi?" tanya Jin.

"Dia kembali! Thanatos, si Raja Iblis, uhuk uhuk, Jin, lebih baik kau meninggalkan desa ini, cepat! kau pergi ke Kota Fasha, disana ada keluargaku, bilang saja kalau kau mengenal aku, mereka pasti percaya," jawab Cress.

"Tha-Thana...tos? bukannya ia telah dikalahkan oleh Kai dan teman-temannya?" tanya Jin.

"Dia bangkit kembali, uhuk uhuk, dia menginginkanmu Jin, karena kau adalah Anak dari Gin dan cucu dari Kai, kau adalah keturunan prajurit hebat, oh iya satu lagi... uhuk uhuk kau harus menemui Guy sahabat lamaku, ia tinggal di pondok kecil dekat Goa Arachinda, dia bisa bercerita lebih banyak lagi, uhuk uhuk," Cress pun batuk darah.

"Cress!" seru Jin.

"Jin, ada yang mau kutanyakan." kata Cress.

"Apa itu? akan kujawab Cress!" seru Jin.

"Apa aku pengasuh yang uhuk uhuk, baik?" tanya Cress yang suaranya mulai berat.

"Ya, Cress! kumohon jangan mati dulu!" Seru Jin dengan air mata yang terus berjatuhan, Amy pun terlihat sedih melihatnya.

"Terima kasih Jin, lebih baik kau cepat ke Kota Fasha, temui keluargaku disitu," kata Cress menyuruh Jin cepat pergi.

"Ba-baik Cress, aku juga mau berterima kasih karena telah merawatku selama 16 tahun ini, jasamu tak akan kulupakan Cress," kata Jin sambil mengusap air matanya.

"Sama-sama Jin, selamat tinggal..." Cress pun menutup matanya untuk yang terakhir kali.

"CRESSSS! THANATOS AKU AKAN MEMBUNUHMU!" seru Jin dengan aura merah disekitar tubuhnya, Amy pun terlihat ketakutan.

"Jin ayo kita pergi!" seru Amy.

"Iya," Jin dan Amy pun pergi meninggalkan desa itu setelah mereka menguburkan mayat-mayat yang tergeletak tak berdaya di tanah.

"Amy," kata Jin.

"Ada apa?" tanya Amy.

"Lebih baik kuantar kau pulang," jawab Jin.

"Eh, aku ikut denganmu saja," kata Amy.

"Nanti ibumu khawatir," kata Jin.

"Ah nggak kok, boleh ya aku ikut denganmu?" tanya Amy.

"Huh baiklah," Jin dan Amy pun pergi bersama ke Kota Fasha untuk menemukan keluarga Cress. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

Bersambung.


"Dia menculik anakku!"

"Maafkan aku Cress, anak asuhanmu ini harus dibunuh,"

"Am...bil...ka...lung...i...tu...terus...dekatkan...ke...tembok.."

"Kau melihat ibuku? dia ada di sebelah penjaramu"

"Sekarang kita adalah Tim Grand Chase, tujuan selanjutnya, Rumah Guy."

Kalimat diatas merupakan bocoran untuk Chapter Selanjutnya.


Ahh gimana nih cerita saya? pendek ya? ntar deh Chap3 aku panjangin kalau bisa sampe 8k words _

Cerita saya Update setiap Kamis Malam, (khusus misal Hari Kamis adalah hari libur, akan Update Pagi).

Maaf karena cuma bisa Update 1x dalam seminggu.

Saya tidak peduli dengan Review yang pedas-pedas, saya hanya senang jika Fic saya ini dibaca oleh banyak orang, terima kasih.