Chapter 2 : Sasuke-kun, Siapa Dia?

Special thanks for minna yg bersedia me-review cerita ini..
It is for you guys - JojoAyuni; ; kyucel; chiwichan; hiru nesaan; Devil Macma
Arigatou for support me *bow* ^_^
Just enjoy it!

Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing SASUHINA
Genre :Romance
Rate : M (18+)
Warning : OOC, TYPOS, GaJe, Amatir, etc.
This is only "FanFiction", if you don't like, it's better you don't read.
Only for entertaining!

7 tahun kemudian
Tokyo, 24 Desember 2011

Hinata POV

Untuk sesaat aku kembali teringat dengan sosok pemuda yang kudengar dari ayah kalau dia adalah Sasuke, teman kecilku di Konoha dulu. Setelah pertemuan yang pertama bagiku dengannya di rumah sakit waktu itu. Terlihat jelas kalau dia mengenalku sebelumnya. Ku coba mengingatnya tapi semuanya terasa kosong. Pelukkannya waktu itu masih jelas kurasakan, begitu dalam dan perasaan itu sangat menggangguku sekarang.

Aku Hyuuga Hinata, siswi kelas 2 di SMA K di daerah Tokyo. 1 minggu yang lalu aku mengalami kecelakaan yang cukup parah saat perjalanan pulang. Saksi mata dari kecelakaan itu mengatakan aku seperti orang yang sedang melamun saat menyebrangi penyebrangan yang berada tak jauh dari sekolah.

Normal POV

Saat itu sebuah mobil berwarna hitam waktu itu tak sengaja menabraknya dan mengakibatkan luka dalam pada kepalanya. Orang tuanya sempat cemas akan keadaanya saat itu, namun beruntunglah ia tidak mengalami kondisi yang serius dengan tubuhnya, terutama kepalanya. Ia memang masih sangat jelas mengingat segalanya terkecuali satu orang. Orang yang sangat ingin di temui. Namun seandainya ia tahu bukan hanya orangnya yang ia lupakan, tapi janji mereka. Janji yang selalu di pegang oleh keduanya, suatu saat ia akan memintanya.

Di tengah lamunannya itu, Hinata merasa ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya. Di arahkannya kedua mata lavendernya itu perlahan. Di lihatnya sesosok pemuda ceria dengan rambut kuning menyala dan mata biru saphirnya itu tengah duduk manis di sebelahnya sekarang.

"Naruto-kun", ujar Hinata kaget mendapati sosok pemuda itu tiba-tiba muncul dan telah berada disampingnya.

"Apa yang kau pikirkan? sepertinya serius?", tanya Naruto riang.

"Oh, bukan apa-apa", ucap Hinata ragu.

Dilihatnya sang pemuda yang sekarang tengah tersenyum lebar ini. Pemuda yang dikenalnya sejak kelas 1 SMA ini begitu periang dan perhatian terhadapnya. Ia sadar bahwa hubungan mereka hanyalah "sahabat". Banyak gosip yang mengatakan bahwa Naruto hanya menyukai Sakura, tapi Hinata tetap berharap Naruto akan berpaling padanya.

Naruto sangatlah baik pada siapa pun, tak terkecuali dirinya. Itulah yang membuat Hinata jatuh hati padanya. Perhatiannya bisa membuat setiap gadis salah paham, Ia juga tahu itu. Namun, apa daya ia sudah terjerat akan senyum riang Naruto.

Sejak awal kedatangan Hinata ke rumah sakit sampai sekarang ia telah di perbolehkan pulang, pemuda ini selalu menemani.

"Apa kau sudah makan tuan putri", goda Naruto.

"Sudah, baru saja", ucap Hinata malu-malu.

"Pintar", di usapnya rambut halus Hinata dengan lembut. Seakan ingin memanjakan sang gadis yang terbaring itu.

"Apa kau tidak pergi ke sekolah?"

"Jujur saja sekarang sekolah tak begitu mengasyikkan tanpa sahabatku ini", ucapnya riang seraya mencubit gemas pipi sahabatnya itu.

"Kau ini", ujar Hinata pelan sambil menyembunyikan semburat merah samar di wajahnya itu.

Namun tanpa diduga, tiba-tiba Naruto memeluk Hinata erat

"Kau tahu, aku sangat merindukkanmu"

"Naruto-kun"

Hinata begitu kaget atas kelakuan mendadak Naruto ini, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dan dengan sukses membuat wajah putihnya bersemu merah. Di bayangkannya pelukan ini yang akan ia terima setiap harinya jika ia menikah dengan Naruto nanti. Namun tak lama kemudian Naruto melepas pelukkannya dan membuyarkan lamunan singkat Hinata.

"Kau tahu gadis berambut pink dari kelas sebelah?", Naruto memulai ceritanya.

"Sakura-chan kan maksudmu?"

"Iya dia, dia ternyata menyukai kakakmu Neji", ungkapnya penuh semangat.

"Benarkah?, tapi dia kan mantanmu dulu?", dengan ragu Hinata mencoba menayakan tentang gosip yang sering di dengarnya itu.

"Apa? Itu tidak benar", ucap Naruto malu-malu.

"Tapi seluruh sekolah juga tahu itu. Dan aku juga pernah melihatmu berduaan. Sepertinya itu bukan hubungan yang sekedar teman"

"Ah itu.. aku.. sudahlah lupakan"

Tiba-tiba suasana jadi begitu hening.

"Kau sendiri apa kau tetap akan menunggu cinta pertamamu itu?"

Pertanyaan apa ini?, ujar Hinata dalam hati. "Cinta pertamaku?", tanyanya lagi pada Naruto.

"Iya, bukankah kau sendiri yang bilang tidak bisa melupakannya?"

"Ah? Melupakan siapa? Bukankah cinta pertamanya naruto? Sebenarnya siapa yang naruto bicarakan sekarang?", pikirnya dalam hati.

"Aku"

Belum sempat Hinata menjelaskan tentang cinta pertama yang di tanyakan Naruto, sang pemuda tiba-tiba memutuskan untuk pergi.

"Ah, sudah jam segini. Maafkan aku tuan putri, tapi sepertinya aku harus kembali ke sekolah sebelum pelajaran Sunade sensei di mulai"

"Oh, baiklah. Hati-hati Naruto-kun"

Diambilnya tas selempang berwarna hitam. Pemuda itu begitu menyilaukan di mata Hinata. Ingin rasanya menghentikan langkah sang pemuda yang akan pergi itu. Namun, rasa gugup dan tak percaya dirilah yang menghentikan keinginannya itu.

"Ja, Hinata-chan", ucap Naruto riang sambil segera melangkah meninggalkan ruangan yang serba putih itu. Namun belum jauh ia melangkah, tiba-tiba pemuda itu berbalik.

Entah perasaan apa yang kini Hinata rasakan. Antara ragu, senang dan gugup. Ia berpikir bahwa mungkin sang pemuda mengetahui perasaannya. Tanpa ia sadari, Hinata menegang dan hampir melupakan cara untuk bernafas.

"Nandesuka, Naruto-kun?", tanya Hinata ragu.

"Aku ingat, kemarin aku bertemu dengan pemuda yang bernama Sasuke-kun itu. Bukankah dia cinta pertama yang sering kau sebut", ungkap Naruto antusias.

"Sasuke-kun?"

"Gomen ne, sepertinya aku sudah telat. Bye"

Naruto berlalu tanpa menjelaskan siapa itu Sasuke-kun. Cinta pertama? Apa pemuda itu nyata? Tapi kenapa ia bisa melupakan orang sepenting itu. Sekarang banyak sekali pertanyaan yang ada di benak gadis manis ini.

"Siapa Dia?"

- TBC -

This is it the chapter twooo ~yeeaaah~

Ada sedikit modifikasi di beberapa bagian,, semoga bisa lebih dinikmati ya minna-san..

- Gomen ya minna,, klo garing jadinya :P

see you on the next chapter (insya ALLAH)