Title : It's Wrong | Sequel 1
Genre : Brothership, Bromance, Sad, Hurt/Comfort and others
Cast : Kim Taehyung or V (BTS), Jeon Jeong Guk or Jungkook (BTS), Jung Min Ri (OC), Jung Hoseok or J-Hope (BTS), Park Jimin (BTS)
Length : Oneshoot? Chaptered? I dunno e.e
Rating : PG-13
.
.
.
.
Saat itu malam, sekitar pukul sepuluh dan seorang Jung Hoseok baru saja ingin merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dan niatnya untuk beristirahat dengan terpaksa harus ditunda karena sedetik kemudian, Ia mendengar suara bel apartemennya dibunyikan dan suara ketukan pintu yang beradu. Hoseok terganggu, sangat. Hampir saja Ia mengumpat, tapi diurungkannya niat untuk mengumpat karena saat Ia membuka pintu, Ia melihat sosok yang sangat disayanginya begitu rapuh; menangis dan terisak.
"Hyung… H-Hoseok hyung." Mata bulatnya yang basah menatap Hoseok, seolah meminta pertolongan padanya.
Hoseok terdiam, tak mampu berkata apa-apa. Yang dapat dilakukannya hanya merangkul si empu mata bulat lalu membawanya masuk ke apartemen.
Hoseok masih saja terdiam saat si mata bulat menangis di hadapannya. Isakannya tak main-main, terdengar begitu memilukan. Hoseok bersumpah dalam hati bahwa Ia akan menghabisi orang yang berani-beraninya membuat adik sepupu kesayangannya ini menangis.
"Hoseok hyung.. Aku menjijikkan, ya?" Tanyanya disela isakan yang perlahan mereda.
"Apa maksudmu?" Hoseok mengernyit heran. Sedetik kemudian, rahangnya mengeras; Ia marah. "Jangan bilang ini karena Kim Taehyung?"
Jungkook─si mata bulat─mengangguk pelan. "Ya, ini karena Kim Taehyung."
Hoseok terdiam lagi. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat. Ia marah, sangat marah. Ia masih mengingat dengan pasti, saat dimana adik sepupunya ini repot-repot datang ke kediamannya hanya untuk mengatakan jika Ia mencintai sunbae tampannya yang bernama Kim Taehyung. Tapi saat itu Ia tidak tersenyum, tertawa, malu-malu dan sejenisnya. Ia menangis, Ia meraung, Ia bertanya pada Hoseok, kenapa Ia mencintai yang 'sejenis' dengannya?
Hoseok hanya dapat menenangkannya, berkata bahwa hal ini bukan hal yang salah. Meskipun pada nyatanya Hoseok ingin marah, marah karena adik kesayangannya merasakan hal yang menyimpang. Tapi Ia tak sanggup. Ia tak sanggup memarahi Jungkook yang terlihat begitu rapuh di hadapannya. Tidak, Hoseok tidak boleh begitu. Dan lagipula, tidak mungkin Ia mengatakan secara terang-terangan pada Jungkook jika Ia juga tak setuju dengan hal tadi. Tentu saja itu dapat membuat Jungkook semakin hancur.
Hoseok bisa mengerti Jungkook bahkan dari tatapan matanya. Saat itu, Ia seolah menjadi saksi akan segala rasa cinta yang Jungkook miliki untuk Kim Taehyung. Hoseok tau jika Jungkook mencintai Taehyung, sangat mencintainya. Jadi, untuk apa Ia melarang Jungkook mencintai Taehyung jika hal itu sama saja dengan menghancurkan Jungkook?
Taehyung adalah segalanya untuk Jungkook.
Taehyung adalah alasan yang membuat Jungkook tersenyum.
Taehyung adalah jiwa Jungkook.
Taehyung adalah nafas Jungkook.
Dan Jungkook tidak bisa hidup tanpa Taehyung.
Tapi sayangnya, Taehyung menyakitinya dengan cara yang begitu sempurna; melayangkan hatinya ke langit lalu menghempaskannya secara terang-terangan.
Jungkook hancur; dan semua itu karena Kim Taehyung.
"Apa yang dilakukannya, Jungkook-ah?"
"Dia─" Air matanya menetes lagi. "Sebenarnya ini salahku, hyung. Aku yang salah, aku." Jungkook menangis lagi.
"Aku menyuruhnya untuk melarangku mengikutinya lagi. Aku menyuruhnya untuk melarangku melihatnya lagi. Aku melakukan itu semua agar aku tidak mencintainya lagi, hyung. Aku lelah, aku lelah." Jungkook mengusap air matanya, berhenti menangis.
"Tapi dia bertanya, bertanya apa alasanku untuk melakukannya. Harusnya dia lakukan saja, hyung. Harusnya dia tidak menunjukkan tatapan yang membuatku luluh seketika, yang membuatku mengatakan semuanya." Jungkook terkekeh.
"Semuanya?" Hoseok menatapnya, meminta penjelasan lebih.
"Ya, semuanya. Seorang Jeon Jeong Guk baru saja menyatakan cinta terlarangnya pada sunbae normalnya secara blak-blakan dan, bang! Dia ditolak." Jungkook tertawa keras, menertawakan penderitaannya sendiri.
Hoseok menghela nafas pelan. Ia memandang Jungkook dengan tatapan iba, tak tau harus melakukan apa saat Jungkook seperti ini. Hoseok tau, ini adalah salah satu cara Jungkook untuk terlihat baik-baik saja saat nyatanya Ia tengah hancur. Hoseok tau, Jungkook terlalu polos untuk hal seperti ini. Jungkook tidak pernah mencintai seseorang, sebelum Kim Taehyung datang dan menghancurkan semuanya. Taehyung menghancurkan Jungkook, sepenuhnya menghancurkan Jungkook.
"Hyung, aku harus apa?" Jungkook menatapnya lagi. Mata bulatnya berair, namun Ia tidak menangis.
"Jungkook-ah, jika kau tak sanggup, jangan lakukan. Lupakan saja dia, lupakan si brengsek itu lalu nikmati kehidupanmu. Dia bukan siapa─"
"Namanya Kim Taehyung, Hoseok hyung! Dia bukan brengsek!" Teriak Jungkook tanpa sadar. "Astaga─" Jungkook menatap Hoseok, lalu air matanya menetes. "─Maaf, hyung. Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu, maaf."
"Tak apa. Jangan menangis lagi, Jungkook-ah." Hoseok menepuk pundak Jungkook, seolah meyakinkan jika Ia tidak marah maupun tersinggung. Hoseok dapat memahaminya, setidaknya begitu.
"Maaf, hyung."
"Tidak apa Jungkook-ah.."
"Hyung, bagaimana ini? Bagaimana jika besok aku bertemu Taehyung sunbae? Bagaimana jika aku ingin melihat wajahnya lagi? Hyung, bagaimana ini? Bagaimana?"
"Jungkook-ah, dengarkan aku." Hoseok menatap netra Jungkook dengan serius. "Jangan takut, Jungkook -ah. Semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin, yakin sekali jika Ia akan meminta maaf padamu, jika Ia akan memohon padamu untuk memaafkannya. Tak perlu takut, Jungkook-ah. Kau tidak sendiri, ada aku di sini."
Mata bulat Jungkook mengerjap sekali. Lalu bibirnya mengembangkan senyuman manis. Tangannya terulur untuk menarik Hoseok menuju pelukan super eratnya. "Terima kasih Hoseok hyung. Kau selalu berhasil membuatku tenang. Aku menyayangimu, hyung." Gumam Jungkook sembari mengeratkan pelukannya.
Hoseok terkikik pelan. "Sama-sama, kelinci lucu."
"Aku tidak lucu, hyung! Aku tampaan, tampan!" Pekik Jungkook tak terima sembari memukul lengan Hoseok tanpa ampun.
.
.
.
.
.
Taehyung menghela nafas kasar. Sesekali matanya melirik ke arah mejanya yang kosong, lalu melihat jam dinding yang tergantung rapi di depan kelas. Saat ini Ia berada di kelas dan kebetulan sekali keadaan kelas terlihat sangat sepi. Tentu saja sepi, lagipula siapa yang ingin datang ke sekolah sepagi ini? Oh ya, Taehyung ingin. Buktinya Ia sudah berada disini sejak lima belas menit yang lalu.
Merasa kelewat bosan, akhirnya Ia beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar kelas. Kakinya terus melangkah tanpa arah, pikirannya melayang dan bahkan Ia tak sadar jika kakinya membawanya ke sebuah tempat yang seharusnya tak dikunjunginya. Detik ini Ia berada di taman belakang sekolah; tempat dimana Ia membentak 'mantan' junior kesayangannya. Matanya melihat sekeliling, lalu Ia menghela nafasnya.
Entah karena apa, tiba-tiba saja dadanya terasa begitu sesak. Terlebih saat otaknya memutar kembali kejadian kemarin pagi. Saat Ia melihat sang junior menangis tanpa sebab di hadapannya, lalu saat Ia membentak sang junior hanya karena masalah sepele. Demi Tuhan, apa yang dipikirkan Taehyung saat itu?
Sesaat, matanya terpejam. Lalu saat membukanya kembali, matanya berair, berkaca-kaca. Taehyung tidak ingin menangis, tapi sialnya cairan bening bernama air mata itu menetes di pipinya. Taehyung tidak cengeng, Taehyung bukan lelaki yang lemah. Dirinya selalu kuat menghadapi semua masalah yang dihadapinya.
Tapi kenapa?
Kenapa Ia menangis hanya karena mengingat seorang Jeon Jeong Guk?
.
.
.
.
.
"Taehyung oppa!"
Taehyung menoleh, lalu Ia menghela nafas. Rasanya risih saat gadis bermarga Jung itu mendatanginya disaat seperti ini. Meskipun pada nyatanya si gadis adalah kekasihnya, entah mengapa Taehyung masih saja merasa risih. Taehyung ingin sendiri; tapi gadis ini selalu datang dan bersikap manja di hadapannya. Jujur saja, Taehyung tidak suka. Tapi apa boleh buat. Toh, Taehyung bukan tipe yang suka menyia-nyiakan seorang wanita. Toh, wanita ini datang karena Taehyung menyatakan cinta padanya beberapa bulan yang lalu.
"Oppa, dimana temanmu itu?"
Dan lebih merasa risih saat gadis ini bertanya tentang 'temanmu itu'. Taehyung bisa saja membentaknya, menyuruhnya untuk tidak membicarakan tentang 'temanmu itu' atau semacamnya. Tapi dia tidak setega itu untuk membentak seseorang. Ralat, dia tidak setega itu untuk membentak seorang gadis─karena pada nyatanya Ia sudah membentak adik kelasnya beberapa hari yang lalu─. Sungguh, Taehyung sedang tidak ingin mengingat tentang 'temanmu itu'.
"Oppa, kemana dia? Biasanya dia─"
"Berhenti membicarakan anak itu!" Teriak Taehyung tanpa sadar. Setelahnya, Ia meminta maaf dan si gadis dapat menerimanya─meskipun awalnya Ia terkejut juga─.
"Memangnya dia kenapa, oppa?"
"Astaga." Taehyung bergumam pelan─sangat pelan─. Ia paham jika gadisnya memang selalu seperti ini; terlalu ingin tau urusannya. Tapi untuk kali ini, bisakah Taehyung tidak memahami hal itu?
"Oppa?"
"Pergilah." Ucap Taehyung dengan nada kelewat dingin, datar.
"A-Apa?" Min Ri terlihat begitu terkejut. Pasalnya, ini pertama kali Taehyung mengusirnya; meskipun tidak secara kasar.
"Kau tidak tuli, kan?" Taehyung menatapnya sinis─entah sadar atau tidak─. "Pergi."
Air matanya menetes. Bodoh sekali, kenapa Mi Jin menangis hanya karena diperlakukan seperti ini? Sebelum kakinya melangkah lebih jauh, sebuah suara membuatnya berhenti.
"Hey, Jung Min Ri." Itu Taehyung.
Jeda sesaat.
"Ayo akhiri semua ini."
Lalu Min Ri merasa jika detak jantungnya berhenti saat itu juga.
.
.
.
.
.
Taehyung mendecak pelan. Telinganya panas mendengar omelan sahabatnya yang satu ini. Jika saja ini bukan café atau sejenis tempat umum lainnya, mungkin Taehyung sudah menyuruhnya berhenti mengomel dengan intonasi yang ditinggikan. Taehyung tidak suka diomeli, Taehyung tidak suka diatur. Tapi pemuda berwajah manis di hadapannya ini selalu melakukan hal yang tidak disukainya tanpa takut jika Taehyung akan mengamuk.
"Astaga, astaga. Kau gila?! Itu Min Ri, bung! Itu Jung Min Ri! Kau berhasil mendapatkan hatinya, lalu dengan mudahnya kau meninggalkannya?! Pemuda macam apa kau ini, Tae?!"
See? Dia mulai lagi.
"Aku masih tidak percaya, ya ampun! Ini mengerikan." Teriaknya histeris, kelewat histeris.
"Astaga, Park Jimin. Kau yang mengerikan." Desis Taehyung penuh penekanan. Ia sudah muak, demi Tuhan.
"Apanya yang mengerikan dariku, heh?!"
Oh, Taehyung lupa jika sahabat cerewetnya ini adalah yang paling sensitif apabila dikomentari sedikit saja.
"Apa yang ada dipikiranmu, Kim Taehyung? Kau memutuskannya dengan begitu mudah saat kau sudah berjuang begitu susah untuk mendapatkannya!"
"Aku tidak berjuang untuk mendapatkannya, pendek." Ujar Taehyung sembari menyesap coffee-lattenya.
"Eh, apa?" Mata sipitnya berkedip beberapa kali, ekspresi khasnya saat kebingungan.
"Dia langsung menerimaku saat aku menyatakan cinta padanya. Dan, asal kau tau, dia itu kelewat manja. Aku tidak suka." Taehyung memutar bola matanya malas. "Dia tidak romantis. Dia hanya meminta perhatian, cintanya tidak murni. Ck, murahan." Dan tak lupa Taehyung memelankan suaranya saat mengucapkan kalimat terakhir.
Jimin─sahabat cerewet Taehyung─mengangguk mengerti. "Aku pikir dia baik, aku pikir dia manis, aku pikir dia… Jual mahal?" Jimin terkekeh pelan.
"Aneh. Tadi kau histeris sekali saat tau aku memutuskannya. Sekarang kau malah ikut mengatainya? Yang benar saja, pendek." Taehyung menghela nafas.
"Aku tidak mengatainya, tuh. Dan, hei! Aku tidak pendek!"
Taehyung terkikik sesaat. Lalu, Ia seperti menyadari sesuatu. "Hei, Park Jimin."
"Apa?" Jawab Jimin dengan nada ketus yang dibuat-buat.
"Kau tau Jeon Jeong Guk?" Taehyung meneguk salivanya setelah lidahnya berhasil mengucapkan nama yang seharusnya tak diucapkannya.
"Uh? Kookie maksudmu? Jungkook?" Jimin mengangguk cepat. "Ada apa?"
"well, yah.. Tidak sih. Bertanya saja." Dalam hati Taehyung merutuk, merutuki kebodohannya akibat menanyakan hal ini. Lalu merutuki Park Jimin yang menyebut nama itu dengan panggilan 'sayang'. Jujur saja, Taehyung merasa terbakar amarah─atau cemburu, lebih tepatnya─saat Jimin menmanggil Jungkook dengan panggilan 'Kookie' tadi.
"Dia anak dance sepertiku, kalau kau ingin tau. Dia manis, dan aku menyukainya." Jimin terkekeh malu setelahnya.
Taehyung terkejut mendengar dua kata terakhir yang diucapkan Jimin. Taehyung marah, Taehyung kesal, Taehyung─ cemburu?
"Hey, kau kenapa? Oh ya, sepertinya kelinci lucu itu sudah memiliki kekasih. Saat latihan dia sering menerima pesan atau telepon lalu aku lihat wajahnya ceria sekali; saat menerima pesan atau mengangkat telepon itu."
Rahang Taehyung mengeras. Sepertinya Ia benar-benar cemburu kali ini.
Dan bersyukurlah karena Jimin tidak memiliki riwayat penyakit jantung atau semacamnya. Pasalnya, beberapa detik kemudian Taehyung menggebrak meja dengan kedua tangannya lalu beranjak meninggalkan Jimin.
.
.
.
.
.
Jungkook terdiam lagi. Mata bulatnya mengerjap lucu, bibir mungilnya membentuk vokal 'o' yang terlihat menggemaskan. Di hadapannya, seorang Jung Hoseok tengah mempraktekkan dance yang mau tak mau harus dipelajari oleh anak didik sekaligus adik sepupunya ini. Jungkook cepat memahami setiap gerakan yang dipraktekkan Hoseok. Tapi entah mengapa kali ini Ia merasa bingung. Pikirannya melayang kemana-mana, Ia tidak fokus lagi.
"Ung, hyung.." Jungkook menggigiti bibir bawahnya sebentar, lalu melanjutkan, "Mm, ulang sekali lagi, ya?" Ucapnya dengan nada dan ekspresi sepolos mungkin. (Ini satu-satunya cara untuk mendapatkan belas kasihan dari Hoseok saat berada di ruang latihan)
"Ya Tuhan, ini sudah yang kedua kalinya kau berkata seperti itu." Hoseok mendecak kesal. Diusapnya peluh yang menetes di pelipis, lalu Ia menatap Jungkook dengan tatapan menginterogasi. "Ada apa denganmu, Jungkook-ah? Ini gerakan mudah, seharusnya kau memahaminya dengan cepat."
"M-Maaf, hyung. Hanya saja, aku─" Jungkook menunduk.
"Kau kenapa, hm?" Tanya Hoseok sembari mendudukkan dirinya di sebelah Jungkook.
"A-Aku baik, hyung. Hanya saja.. Aku sedang banyak pikiran."
"Kim Taehyung lagi?"
Mata bulatnya membelalak lucu. "Tidak!" Elaknya cepat sembari menggelengkan kepala.
"Lalu?"
"Entahlah, hyung. Aku─"
"Kookieee! Aku kembaliiii"
Jungkook menoleh ke sumber suara, setelah itu bibirnya mengerucut. Itu Park Jimin, seniornya yang kekurangan kalsium, tapi jangan ragukan kemampuan dancenya. Kemampuannyakurang lebih dari milikHoseok, senior tertinggi disini, anggap saja pelatih. Dan Jungkook kurang menyukainya. Salahkan tingkah lakunya saat bertemu Jungkook yang tak berbeda dari seorang anak berumur 7 tahun yang baru saja menemukan ibunya. Terlalu excited, berlebihan.
"Apa, sih?" Ketus Jungkook tatkala Jimin bergelanyut manja di tangan kirinya. Demi apa, Park Jimin itu senior atau juniornya, sih? Kenapa kelakuannya seperti anak kecil begini?
Jimin menunjukkan cengirannya, lalu Ia membenarkan posisi duduknya saat Hoseok menatapnya dengan sinis.
"Jangan berlebihan, Park Jimin. Kau mau kuhukum lagi, huh?"
"Eh, eh. Jangan! Jangan hukum aku, Hoseok hyung, pelatih Jung. Jangan hukum aku!" Teriak Jimin histeris. Lagi-lagi, berlebihan.
"Astaga." Hoseok menghela nafas kasar. Juniornya yang satu ini benar-benar berlebihan.
"Ada urusan apa sih, datang ke sini? Kau kan tidak ada jadwal." Ketus Jungkook tidak sopan. Ini sudah menjadi kebiasaannya saat berbicara dengan Jimin. Tidak ada embel-embel 'sunbae' atau 'sunbaenim', apalagi 'hyung'.
"Aku meridukanmu…" Ujar Jimin dengan aksen manja yang lagi-lagi ber-le-bih-an.
"Hey!" Itu Hoseok.
"Bercanda. Hanya ingin bertanya sesuatu, kok."
Jungkook mengerutkan kening. Tumben sekali, seniornya ini mau bertanya. Biasanya dia selalu memutuskan atau menyebarkan sesuatu tanpa bertanya.
"Kau kenal Kim Taehyung tidak?"
Jungkook dan Hoseok, keduanya terdiam. Saling memandang satu sama lain, lalu salah satunya menunduk. Dalam hati Jungkook ingin sekali menampar Jimin yang sudah menyebutkan nama yang tak ingin diingatnya lagi. Demi Tuhan, Jungkook hampir saja berhasil melupakan si Kim Taehyung itu jika saja Jimin tidak menyebutkan namanya secara spontan. Oke, Jimin memang tidak tau permasalahan diantara dirinya dan Taehyung. Tapi tetap saja, seharusnya Jimin tidak mengatakannya.
"Hey, Jungkook-ah?"
Jungkook menarik nafas, lalu menghembuskannya secara perlahan. "Tidak." Dadanya terasa sesak. "Aku tidak mengenalnya, sama sekali tidak."
.
.
.
.
.
"Aku masih ingat saat kau menanyakan tentang Jungkook. Dan aku tau kau pasti memiliki… em, suatu hal atau masalah, mungkin, terhadap anak itu. Jadi, aku harap kau ingin membagi ceritamu kepadaku."
Hampir saja Taehyung tersedak minuman dinginnya tatkala Jimin menyelesaikan kalimat sok bijaknya. Keningnya mengkerut, lalu Ia menatap Jimin dengan tatapan seolah Ia tidak mempercayai bahwa di hadapannya ada sesosok mahkluk bertubuh pendek ini.
"Astaga, Kim Taehyung." Jimin mendecak pelan. "Aku serius. Kita sudah bersahabat selama 3 tahun dan aku juga serius jika aku mengenalmu luar-dalam. Oh, ayolah. Dari tatapan matamu saja aku tau jika kau memiliki masalah yang─"
"Kau ingat, junior yang selalu menjadi topik pembicaraan kita beberapa bulan sebelum aku menyatakan cinta pada Min Ri?" Potong Taehyung cepat. Telinganya panas mendengar ocehan Jimin, demi apa.
"Iya, tentu saja aku ingat. Dia kan─" Tiba-tiba saja mata sipitnya melebar. "Jangan bilang kalau─"
"Ya, dia Jungkook." Taehyung menghela nafas pelan. Ia menjilat bibirnya yang kering sebelum melanjutkan, "Dan apa kau tau? Aku belum menceritakan ini kepada siapapun, lebih tepatnya tidak ingin menceritakan ini. Aku harap kau bisa menjaga rahasia ini, Park Ji─"
"Ya ya ya, tentu saja aku bisa menjaga rahasia. Tidak usah bertele-tele begitu, Tae-ah. Cepat katakan. Apa itu?" Kata Jimin tak sabaran sembari membenarkan posisi duduknya di sofa apartement milik Kim Taehyung ini.
"Jungkook, dia─" Taehyung menarik nafasnya, menahannya sebentar lalu menghembuskannya. "─menyukaiku. Ah, tidak. Dia mencintaiku, Jimin-ah."
Jimin terdiam. Mata sipitnya memandang Taehyung dengan tatapan tak percaya. "Kau se─"
"Aku serius. Dan aku mencacinya saat itu. Aku mengatakan jika dia brengsek, gay menjijikkan. Padahal─" Taehyung menarik nafas lagi, lalu menghembuskannya. Demi apa, dadanya terasa sangat sesak saat ini. "─aku juga merasakan hal yang sama, Jimin-ah."
"T-Tae─" Jimin tercengang. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat mengetahui semua kebenaran ini. Tidak, ini bukan soal Jungkook yang ternyata gay dan Taehyung yang tiba-tiba mencintai Jungkook. Jimin tercengang, karena di hadapannya kini, Taehyung menangis. Taehyung menangis dan terlihat sangat rapuh di hadapannya, untuk yang pertama kalinya.
.
.
.
.
.
"Jungkook-ah.."
"Pergilah, hyung. Aku ingin sendiri."
"Kau belum makan sejak tadi malam."
"Aku tidak lapar."
"Setidaknya keluarlah untuk menghirup udara segar. Kau belajar terlalu keras selama seminggu ini."
"Hyung─" "─Aku. Ingin. Sendiri."
"Baiklah. Keluarlah jika merasa lebih baik."
Pintu tertutup.
Hoseok menghela nafas pelan. Matanya menerawang ke depan, mengingat masa dimana Jungkook senang sekali menunjukkan senyuman gigi kelincinya. Hoseok merindukan senyuman itu, sungguh.
Jika saja Kim Taehyung tidak datang ke kehidupan Jungkook, mungkin Hoseok masih dapat melihat senyum dan tingkah laku manisnya. Jika saja Taehyung tidak menghancurkan Jungkook dengan cara semudah itu, mungkin Hoseok masih dapat mendengar tawa Jungkook. Jika saja Jungkook tidak secinta itu dengan Taehyung, mungkin Taehyung sudah mati di tangan Hoseok.
Sejak Jungkook mengatakan jika Ia mencintai Taehyung, Hoseok tidak pernah mendengar tawanya lagi. Jungkook hanya tersenyum, dia tidak tertawa meskipun Hoseok sudah melontarkan candaan yang menurutnya paling lucu.
Sejak Jungkook mengatakan jika Taehyung memiliki kekasih, Hoseok tidak pernah melihat senyuman manisnya lagi. Jungkook tersenyum, tapi tipis sekali, bahkan sampai tidak terlihat.
Sejak Jungkook mengatakan jika Taehyung membentaknya, Hoseok tidak pernah melihat tawa dan senyumnya. Jungkook hancur, dan ini semua karena Kim Taehyung.
Dan sejak Jimin bertanya tentang Taehyung saat Jungkook sudah mulai melupakannya, Hoseok jarang sekali melihat anak itu berada di luar kamarnya. Beberapa hari setelah 'dihancurkan' Taehyung, Jungkook memilih pindah ke sini. Orang tuanya menyetujui saja, dan dengan senang hati Hoseok menerima kedatangan adik sepupunya ini.
Awalnya Hoseok berharap jika dengan ini Jungkook dapat melupakan Kim Taehyung. Hoseok hanya berharap, dan sayangnya harapannya tak terkabul. Hoseok sering sekali mendengar Jungkook memanggil nama Taehyung tanpa sadar. Menangisi Taehyung saat Ia tertidur─Jungkook mengigau saat itu─. Hoseok membenci Taehyung, tapi tidak bisa. Tidak bisa karena Ia tau, Taehyung adalah segalanya untuk Jungkook.
Saat ponselnya tiba-tiba berdering, Hoseok hampir terlonjak dari duduknya. Salahkan lamunannya yang membuatnya tak menyadari hal yang terjadi beberapa menit yang lalu. Hoseok bersyukur tidak ada orang disini─kecuali Jungkook yang berada di kamar pribadinya─.
"Ada apa, Jimin-ah?" Ucapnya setelah menggeser tombol hijau di layar touch-screen ponselnya.
'Hyung, Jungkook ada di sana?'
"Memangnya kenapa?"
'Taehyung ingin bicara. Katanya─'
Hoseok mematikan sambungan teleponnya.
.
.
.
"Sudah kubilang jangan sebut namaku, dasar bodoh!"
"Aku lupa. Dan, hey! Aku tidak bodoh!"
"Kau bodoh! Jika saja kau tidak menyebut namaku mungkin aku bisa berbicara dengannya!"
"Aku tidak bodoh! Kalau kau mau berbicara dengannya, telepon saja sendiri! Aku malas membantumu lagi, dasar alien kurang ajar."
Taehyung menghela nafas kasar tatkala Jimin beranjak dari duduknya, lalu melenggang pergi dari hadapannya. Demi apa, dua jam yang lalu Jimin bilang Ia akan mentraktir Taehyung di café langganan mereka, tapi kenyataannya? Pemuda bertubuh pendek itu malah meninggalkannya sendiri di sini bersama beberapa porsi makanan dan minuman di hadapannya. Mengenaskan sekali. Taehyung bersyukur, Ia tidak lupa membawa dompetnya. Jika lupa, bisa-bisa Ia disuruh mencuci piring oleh pemilik café ini. Tidak mungkin, itu memalukan.
Ia menatap layar ponselnya ragu. Dalam hati, Ia ingin sekali menelepon Jungkook. Menanyakan kabarnya, membicarakan hal tidak penting, tertawa bersama, sama seperti sembilan bulan yang lalu. Andai saja Taehyung tidak menyatakan cintanya pada Min Ri, mungkin Ia masih dapat berhubungan baik dengan Jungkook. Andai saja Taehyung tidak membentak Jungkook pada saat─
Oh astaga, Taehyung lupa.
Seharusnya Ia tidak mengingat Jungkook lagi. Seharusnya Ia mencoba untuk melupakan anak menyimpang itu. Oh, lihat. Bahkan Taehyung mengatainya lagi saat ini.
Tapi kenapa. Kenapa Ia tidak bisa melupakan Jungkook? Kenapa Ia tidak bisa menghilangkan nama 'Jeon Jeong Guk' dari pikirannya?
Memikirkannya membuat Taehyung pusing setengah mati, astaga. Jadi begini rasanya rindu, pikirnya. Rasanya begitu menyiksa; yang dirindukan selalu berada dipikiran, selalu tergambar dengan jelas di depan matanya, selalu terdengar suara tawanya yang semu. Bagaimana Taehyung tidak menjadi gila jika rasa rindu yang berlebihan ini terus menumpuk setiap detiknya?
Jika saja Taehyung tidak meninggalkan Jungkook─oh, dia mulai lagi─, mungkin Jungkook masih ingin beranggapan jika Ia mengenal Taehyung. Oh ya, Jimin sudah bercerita perihal 'Jungkook tidak mengenal Taehyung', dan itu sukses membuat Taehyung terperangah tak percaya. Apa ini karma dari Tuhan? Bagus sekali. Tuhan benar-benar berhasil membuat Taehyung tersiksa.
Lamunannya tentang seorang 'Jeon Jeong Guk' membuyar seketika tatkala ponselnya yang terletak di atas meja berdering singkat. Tanpa melihat pun Taehyung tau jika ada sebuah pesan yang terkirim ke ponselnya. Tapi, dari siapa? Tanpa babibu, Ia segera membuka lockscreen ponselnya lalu membaca isi pesan tersebut. Isi pesan yang membuatnya terdiam, membeku. Tolong, jika ini mimpi, jangan bangunkan Taehyung.
From : Kookie
Sunbae, ini aku. Ayo bertemu di taman. Aku menunggumu.
Tapi kenapa─
Sunbae?
.
.
.
To Be Continued
Haai, ketemu lagi sama aku e.e
Berharap banget masih ada yang nunggu sequel ini :"D Kalau gaada, yaudah lah, takdir :")
Dan bagi yang bingung kenapa ini sequel masih Tubikontinu aja, alasannya itu… Aku gamau bikin kalian nunggu lebih lama lagi :" Jadi aku pisah aja deh :" Maafkan ya T.T
Aku tau ini ga memuaskan sama sekali tapi tolong, tinggalkan jejak sesudah membaca. Itu bikin udah bikin aku seneng banget, sumpah :"D
Mohon maaf kalau banyak Typo di sini :") Terapkanlah prinsip, 'Typo is seni' (?) xD
Alur gaje? I know it :")
And guys, makasih banget buat semua reviewnya :D Jujur, aku senyum-senyum sendiri baca reviews dari kalian :" Kalian sukses bikin aku seneng ga ketulungan, aaa
Oh ya, ini balesan reviews yang lainnya e.e
Bunny Huwaa, makasih udah baca FF abal-abal ini :") Penantian kamu ada hasilnya yaa, aku udah bikinin sequel ini xD
Guest Aku sebenernya juga gak terima Jungkook disakitin sama Tae. Tapi kalau dipikir-pikir lagi pasti seru bikin Jungkook tersakiti e.e /dibunuh Ini sequelnya yaa~
vkook Aku udah buat sequeel e.e Apa ini udah masuk dalam kategori 'buat Taehyung nyesel udah gitu Jungkook'? Aku harap udahh :3 Makasih ya^^
akmy Haai :3 Aku speechless deh baca ripiu kamu e.e Iya ini jungkook udah mupon kok, tapi kayaknya dia gagal mupon gara-gara V tampil menggoda di LIVE Run /digebukin xD
Kim Vanny Ayo bareng-bareng lempar Taehyung ke sungai *^* Mumpung musim hujan/? :v Ini lanjutannya yaa :3
butlerkook Sayangnya aku ga bisa munculin Yoon Gi disini T.T Dia lagi asik tidur di kamar /apasih :'3
Done :3
Bagi yang reviewnya belum dibalas di sini atau di PM, maafkan diriku :"( Dan maaf juga kalau sequel ini malah bikin kecewa T.T
Again, makasih buat semua ripiu kalian dan buat semua yang udah baca FF ga jelas ini :"(
Love you!
See you at next sequel *3*
